selasar-loader

Bagaimana cara meningkatkan performa (kinerja) perusahaan di era persaingan usaha yang makin kompetitif ini?

Last Updated Dec 14, 2016

1 answer

Sort by Date | Votes
Ma Isa Lombu
Pendiri dan Chief Business Development Officer Selasar

jUOLQIJnFa1UaFlvbh85_XQruJ5edA_b.jpg

Nokia, perusahaan telekomunikasi raksasa dari Finlandia, sakit secara tiba-tiba. Ia berusaha bangkit untuk tidak mati. Setidaknya tidak mati seluruhnya. Dengan keputusan yang pahit, sang CEO kala itu, Jorma Ollila mengatakan, “We didn’t do anything wrong, but somehow, we lost”.

Di tempat lain, Michael Schrage, seorang research fellow di Massachusetts Institute of Technology (MIT), seperti diungkapkan lewat Harvard Business Review mengungkapkan penyebab utama hancurnya bisnis smartphone Nokia dengan gaya bahasa yang cukup sakrastis. Ia mengatakan bahwa kesalahan utama atas hancurnya bisnis smartphone Nokia bukan disebabkan oleh lemahnya kemampuan insinyur dan designer perusahaan tersebut dalam berinovasi, tetapi ada persoalan lain yang lebih strategis dibandingkan sekadar kelemahan internal.

Jorma Ollila mungkin benar, tidak ada yang salah atas kinerja Nokia. Nokia memang tidak melakukan kesalahan, ia hanya salah tempat bersaing. Selama ini Nokia memang sempat menguasai pasar Eropa dan Asia, tapi selama belum “menaklukkan” pasar Amerika yang begitu cepat dan kompetitif, sebuah perusahaan jelas belum terbukti ketangguhannya.

Dengan bersaing di tempat yang salah, Nokia secara tidak langsung luput dari ancaman eksternal Apple dan Goolgle. Melalui inovasi dan penetrasi pasar super cepatnya, Apple dengan iPhone dan Google dengan android-nya, secara tiba-tiba mereka menyalip Nokia dari belakang serta langsung menguasai pasar smartphone seluruh dunia. Seketika itu divisi smartphone Nokia lumpuh, harus diamputasi!

Organisasi dan Tubuh Manusia

Dalam bukunya yang berjudul Corporate Turn Around, Nursing a Sick Company Back to Health, Dr. Michael Teng membuat analogi yang cukup menarik. Praktisi dan akademisi Turnaround Management asal Singapura ini menganalogikan dengan sangat baik kondisi kesehatan perusahaan dengan kondisi kesehatan pada manusia. Ia memberikan sejumlah persamaan atas terminologi yang biasa dipergunakan dalam bisnis dan organisasi, dan dikiaskan dengan istilah-istilah kedokteran yang biasanya hanya di gunakan untuk kepentingan medis.

Bahwa ternyata terdapat banyak persamaan antara terminologi yang digunakan perusahaan dan perkembangan manusia. Seperti layaknya manusia, perusahaan lahir dari dicetuskannya ide dan dalam waktu tertentu. Konsep yang sudah matang kemudian bermetaforfosis menjadi bayi perusahaan baru dengan segala potensi dan kelemahannya. Seiring berjalannya waktu, bayi perusahaan itu terus bertumbuh dan mulai menghadapi berbagai tantangan dari dalam dan luar. Selama DNA dan kondisi perusahaan baik (terutama cash flow yang diasosiasikan dengan darahnya perusahaan), berbagai macam penyakit dan virus yang menerjang akan dapat diatasi.

Dalam kondisi tertentu, perusahaan bisa saja sakit. Sakitnya perusahaan dapat disembuhkan oleh sistem kekebalan perusahaan itu sendiri, atau meminta bantuan dokter yang dalam hal ini direpresentasikan oleh CEO atau manajer turn around. Jika memang diperlukan, proses pembedahan dapat dilakukan. Meskipun menyakitkan, pembedahan adalah jalan terbaik untuk membuat perusahaan kembali sehat, apalagi ketika perusahaan terkena kanker atau tumor. Pembedahan dan dibuangnya penyakit tersebut menjadi hal wajib yang harus dilakukan.

Selayaknya manusia, perusahaan juga tidak menginginkan kematian dini, ketersedian “rumah sakit” dan “dokter perusahaan” menjadi penting agar kasus kematian dini dapat dihindari. Setelah tumor, kanker atau penyakit lain dibuang dari tubuh perusahaan, maka perawatan dan pemulihan kembali menjadi langkah selanjutnya yang harus ditempuh. Membuat serangkaian program penyadaran perusahaan harus dilakukan secermat mungkin sehingga perusahaan dapat pulih (turned around) seperti sedia kala. Dalam waktu yang sesingkat-singkatnya, dengan biaya yang semurah-murahnya.

Sigmoid Curve dan Change Management

Kadang di beberapa kondisi tertentu, para pemilik dan pengelola perusahaan terlambat menyadari bahwa perusahaan yang ia miliki ternyata sudah sekarat  dan hampir mati karena serangan virus atau penyakit lain. Dengan tergesa, si pemilik dan pengelola tersebut akhirnya membawa perusahaan yang sakit itu ke “dokter organisasi”. Dikarenakan terlambat diberi tindakan, maka tidak jarang para CEO atau manager turnaround yang berperan sebagai dokter organisasi (terpaksa) harus mengambil keputusan yang berat (yang sering menimbulkan kontroversi) untuk menyelamatkan nyawa perusahaan. Seperti yang dilakukan Jack Welch ketika merumahkan ratusan ribu pegawai GE (General Electric) dan menutup unit bisnis yang tidak cukup menghasilkan, untuk perusahaan tersebut untuk membuat kondisi perusahaan kembali sehat.

Idealnya, baik pemegang saham ataupun para eksekutif yang memiliki dan menjalankan perusahaan memiliki sistem informasi yang baik dan akurat untuk mengetahui kondisi perusahaan secara menyeluruh, sehingga semua pihak dapat melakukan tindakan preventif untuk mencegah collapse-nya perusahaan. Dengan adanya sistem informasi, ketersediaan data, dan eksekutif yang baik, maka kebijakan untuk merumahkan karyawan, yang tentunya juga berdampak terhadap kondisi ekonomi makro, dapat dihindari.

Dalam bukunya Change, Rhenald Kasali seorang profesor manajemen dari Fakultas Ekonomi UI dengan apik-nya menghubungkan salah satu model matematik yang dikenal dengan sigmoid curve(biasa disebut dengan kurva S) dengan strategi manajemen perubahan yang dapat diaplikasikan dalam perusahaan.

e9jgCfvGTA207-jv2rdxQL1bjqRQG04z.jpg

Melalui sigmoid curve ini, tentunya disertai dengan dukungan data perusahaan yang memadai, para pengambil kebijakan dapat memetakan keberadaan perusahaan. Sumbu x merefleksikan waktu dan sumbu y merefleksikan kondisi/performa/kesuksesan perusahaan. Dalam perjalanannya, perusahaan bisa saja berada di titik A ataupun titik B. Layaknya termometer untuk mengukur suhu tubuh, sigmoid curve juga dapat memperlihatkan di mana dan bagaimana kondisi perusahaan saat ini. Dengan adanya informasi yang valid tentang keadaan perusahaan, para eksekutif...(more)

Answered Dec 14, 2016