selasar-loader

Siapa Miftah Sabri, pendiri dan CEO Selasar?

Last Updated Dec 14, 2016

19 answers

Sort by Date | Votes
Arfi Bambani
Cofounder dan Chief Content Officer (CCO) Selasar

bvFD5byHhQFGGYAw3lY9iRUnlZDbnScq.jpg

Saya bersama Miftah Sabri (Dokumen Pribadi)

Ada beberapa pertanyaan mengenai siapa Chief Executive Officer Selasar Miftah Sabri ketika saya memutuskan bergabung ke start up Selasar ini. Ada yang menemukan link Linkedin profil Miftah Sabri, namun tentu tidak cukup memuaskan. Mereka penasaran siapa gerangan Miftah ini. Tentu mereka lebih penasaran lagi tentang bagaimana saya bisa terkoneksi dengan Miftah Sabri ini.

Terus terang, saya bertemu Miftah pertama kali di dunia maya, di Twitter. Saya menggunakan akun @arfibambani, sementara Miftah menggunakan @mangkudun, nama yang belakangan saya ketahui diambil dari "gelar adat" Minangkabau yang biasa diperoleh seorang laki-laki ketika menikah. Miftah Sabri Sutan Mangkudun, lengkapnya.

@mangkudun menyebut dirinya sebagai "paman" dan memanggil akun-akun lain yang berinteraksi dengannya sebagai "keponakan". Saya mengamini saja memanggilnya "paman", tanpa pernah tahu apakah benar-benar @mangkudun ini pantas saya panggil "Paman".

Ketika "kopi darat" pertama kali, saya baru tahu bahwa @mangkudun lebih muda beberapa tahun dari saya. Saya baru tahu bahwa Miftah seorang jebolan Ilmu Politik Universitas Indonesia, kerap melakukan survei politik dan memiliki jaringan pertemanan di kalangan politisi. Namun, yang paling menarik dari Miftah adalah kemampuan persuasinya, baru kenal namun bisa terasa sudah saling mengenal bertahun-tahun. 

Namun, tak lama berinteraksi di sekitar tahun 2013 dan 2014 itu, @mangkudun tiba-tiba menghilang dari hiruk-pikuk Twitter. Mungkin ada dua tahun @mangkudun menghilang dan belakangan saya ketahui ternyata sibuk dengan berbagai proyek pribadi termasuk menggarap film "Republik Twitter" bersama penulis ES Ito.

Awal 2016 ini, @mangkudun muncul lagi dan mengajak saya mengopi bersama lagi. "Saya perlu bertemu dengan Angku," kata Miftah.

Kami kemudian bertemu di sebuah kedai kopi di selatan Jakarta. Rupanya Miftah kali ini datang dengan tawaran serius buat saya. Miftah menantang saya membantunya menangani konten start up Selasar yang ternyata turut didirikannya. Butuh berbulan-bulan bagi saya untuk menerima tawarannya.

Dan akhirnya menjelang akhir tahun 2016, saya berani menerima tantangannya (lebih lengkapnya soal alasan saya bergabung, baca Mengapa Selasar?).

Dan di sinilah saya sekarang, bahu-membahu bersama Miftah Sabri Sutan Mangkudun membesarkan Selasar, Tempat Berbagi Pengetahuan, Pengalaman, dan Wawasan.

Vivat Selasares!

Answered Dec 14, 2016
Pepih Nugraha
Jurnalis Politik, menulis politik, tapi tidak berpolitik

anj4GsAC8rCGwMfv4ymE3Vynl17YcO-E.jpg

Saya tahu ada orang yang bernama Miftah Sabri baru beberapa bulan lalu, tetapi rasanya sudah kenal sekian lama. Apa resep orang ini bisa mengesankan begitu rupa?, saya membatin. Telisik punya selidik, ternyata justru sikapnya yang meledak-ledak, meletup-letup bagai ketel uap James Watt saat ia mengekspresikan gagasannya itu yang membuat sosok ini mudah dikenal.

Bernama lengkap Miftah Sabri Sutan Mangkudun, ia adalah CEO Selasar, sebuah platform/aplikasi untuk "sharing knowledge, experience, and insight" yang telah berusia dua tahun. Dengan 5.000 anggota (penulis expert) dari tiga perguruan tinggi ternama, di akhir tahun ini Selasar berubah menjadi Q/A (Questian and Answer) platform yang mengasyikkan. Di platform ini, setiap orang bisa menjadi pakar atau profesional dengan menjawab topik-topik tertentu yang disampaikan penanya.

Ketika saya yang sedang enak-enak bekerja sebagai jurnalis di Harian Kompas dan sedang dipercaya mengembangkan blog sosial Kompasiana, yang menantang saya pertama kali untuk bergabung membuat sebuah platform yang unik di Selasar adalah bos BukaLapak, Ahmad Zaky. Dia tidak langsung menghubungi saya, tetapi melalui Budi Putra, tokoh blogger yang saya hormati di mana saya berguru kepadanya tentang blog sejak 2005-2006. Atas upaya Budi Putra sebagai laison inilah saya bertemu Zaky dua kali plus seorang calon investor. Dengan Miftah, saya bertemu dalam pertemuan ketiga.

Baru saya tahu bahwa dialah bersama Zaky merupakan founder Selasar. Keduanya menyatakan minatnya "meminang" saya (padahal saya laki-laki tulen dan sudah punya anak-istri pula) untuk bergabung menjadi co-founder Selasar. Nah, dalam pertemuan ketiga yang diakhiri santap malam nasi padang di sebuah restoran itu apa dan siapa tentang Miftah sedikit tersibak. Ya, minimal cara dia berbicara yang penuh antusiasme dan kesukaannya akan masakan padang.

Belakangan dari hasil bicara dengan Miftah, saya mengetahui bahwa pekerjaan sebelumnya sambil mengurus Selasar yang berkantor di Depok itu adalah melakukan survei politik. Artinya, Miftah matang dalam dunia riset dan penelitian. Karena domainnya politik, maka relasinya menjadi sangat luas. Ia mengenal sejumlah pejabat teras yang sedang naik daun yang kerap menghiasi media selama ini. Ia juga punya proyek offline berupa Bincang Selasar yang dalam beberapa sesi langsung dipandu olehnya.

Pengamatan tentang politiknya tentu saja tajam, sebab bukan sekadar analisis dan menduga-duga, tetapi Mfftah boleh jadi sudah mendapat "bocoran" penting dari sumber A1 yang belum terberitakan di media yang kalau dibicarakan ala warung kopi, sangat sedap dan mengasyikkan untuk didengar.

Miftah berusia 32 tahun dan terpaut lebih senior 20 tahun dengan saya saat saya menyatakan bergabung untuk sama-sama membesarkan perusahaan ini. Saya bilang kepadanya, "Apalah angka, Mas Miftah, saya nggak mikir soal usia." Dia tertawa saja dan bilang tidak menyangka kalau usia saya terpaut 20 tahun dengannya.

Sebagai CEO, dia berharap secepatnya membawa Selasar ke ruang publik, dinikmati publik dan menjadi milik publik. Saya sepakat dengan caranya memacu Selasar lebih kencang lagi dengan menempatkannya di jalur balap, tetapi kadang dia lupa akan kesehatannya sendiri. Workalholic itu baik saat memicu produk pertama agar lebih dikenal luas secepatnya, tetapi kesehatan tetaplah harus dinomorsatukan, sebab perjalanan masih sangat panjang.

Antusiasmenya dalam bercerita, berbicara, dan memaparkan gagasannya tentu saja memicu koleganya di Selasar, yang juga didominasi anak-anak muda, untuk mengimbangi keinginan dan harapannya. Semua karyawan dipatok dengan KPI "day to day" dan diawali Stand-up Meeting setiap pagi mulai pukul 09.00 WIB. Rapat ini tidak lama, paling lama 30 menit, tetapi itulah langkah pertama pekerjaan seluruh karyawan dimulai. Hari ini mengerjakan apa dan saat pulang telah mengerjakan apa. Sebuah disiplin awal yang baik bagi sebuah usaha rintisan semacam Selasar.

Saat tantangan untuk menjawab pertanyaan "Siapa Miftah Sabri" ini disampaikan dan saya terima, Miftah tidak bisa hadir ke kantor karena kelelahan. Ia jatuh sakit dan harus ditangani dokter dan harus diinfus pula, bahkan mungkin harus istirahat untuk sementara waktu, padahal tanggal 15 Desember 2016 merupakan peluncuran Selasar tampilan baru versi "beta" awal.

Besar dugaan sakitnya itu sebagai akumulasi dari semangat kerja yang meletup-letup bagai ketel uap dalam membangun Selasar. Kadang ia abai dengan kesehatannya, dengan waktunya makan dan istirahat, sehingga tubuh pun ada batasnya dalam menerima gempuran aktivitas. Namun demikian, kerja keras dan semangat Miftah inilah yang menular dan menurun kepada koleganya. Resepnya sederhana, pekerjaan apa pun memang harus dikerjakan dengan penuh antusiasme, semangat, dan suka-cita.

Miftah Sabri telah menyontohkannya. Semoga lekas sembuh, Bro. Selasar siap menanti.

 

Answered Dec 14, 2016
Ma Isa Lombu
Pendiri dan Chief Business Development Officer Selasar

ouUWLi35tTY3ek5Jz-Azf7wbPA1CHqGA.jpg

Disclaimer: jawaban ini subjektif!

Saya mengenalnya sudah lama, mungkin belum terlalu lama. Miftah adalah senior saya di Universitas Indonesia, beda fakultas. Dia dulu kuliah di FISIP UI, mengambil jurusan politik. Sedangkan saya kuliah di Fakultas Ekonomi. Tetangga sebelah. 

Dalam karier kemahasiswaannya, Miftah pernah menjadi Ketua Senat Mahasiswa FISIP UI sedangkan saya Ketua Senat Mahasiswa FE UI. Meski berbeda tahun kepengurusan dan jarang bersinggungan kepentingan di kampus, rasa-rasanya kami sudah saling amat-mengamati sedari dulu. 

Yang jelas, bagi kawan-kawan yang cukup “melek” poltik kampus di UI, menjabatnya Miftah sebagai Sekretaris Umum FSI (Rohis) FISIP adalah sebuah strategi politik yang sangat apik sehingga satu tahun setelahnya ia dengan mulus menjabat sebagai ketua Senat FISIP UI. Sebuah manuver politik yang sangat fenomenal dan penuh perhitungan yang matang. Sebagian dari kami mengakui langkahnya kala itu sangat terukur dan memiliki tingkat efektivitas yang sangat baik. Terbukti, ia terpilih menjadi mahasiswa nomor satu di FISIP UI kala itu. 

Bagaimana track record kepemimpinannya di FISIP, hanya ia, anak FISIP, dan Tuhan yang tahu.

Sebelum bersama-sama mendirikan Selasar, Miftah yang saya kenal adalah seorang politikus mahasiswa yang akhirnya menceburkan diri di dalam dunia penelitian dan survey politik di masa pascakampusnya. Miftah yang biasa saya panggil dengan sebutan Mif, Bang, atau Bro ini, juga dikenal sebagai teman dari Es Ito, seorang sastrawan yang sudah tidak jadi sastrawan. 

Sebagai sesama orang Minang, dengan gaya primordial khas minangnya, mereka berdua tampak akrab. Akrab dalam kebaikan dan kemudaratan. Saya banyak mendengar cerita bahwa mereka cukup sering melakukan aktivitas bisnis dan pergerakan bersama, baik yang bersifat politik murni atau sekadar senang-senang. Es Ito cukup banyak diperbincangkan di kalangan mahasiswa FE UI kala itu, sama seperti Miftah di FISIP UI, Es Ito juga cukup terkenal bagi mahasiswa tahun 2000an karena memang dia adalah mahasiswa FE UI, meski dengan segala pertimbangannya Es Ito memutuskan untuk tidak menuntaskan jalur pendidikan formalnya di FEUI. Karena Es Ito diperbincangkan, Miftah pun terbawa-bawa. 

Untuk mahasiswa kebanyakan, Miftah sangatlah misterius. Meskipun masih menjadi mahasiswa, level pergaulannya sudah dapat disamakan dengan politisi papan menengah atas. Ia memang jarang terlihat di kampus, tapi dapat dipastikan ia selalu muncul di event-event penting strategis tingkat tinggi yang sejatinya bukan untuk orang dengan umur semuda dirinya. 

Pernah suatu kali saya mewakili FE UI diundang presiden SBY untuk hadir dalam sebuah acara kenegaraan. Saya pikir saya adalah mahasiswa terkeren saat itu. Maklum hadir dalam sebuah acara yang diundang langsung oleh presiden bukan hal yang main-main untuk mahasiswa seperti saya. Namun saya salah, tidak disangka saya menjumpai Miftah di sana. Ajaibnya, ia tidak hadir sebagai peserta. 

Saya tidak tau dia punya peran apa dalam acara tersebut, yang jelas dengan “muka tua"-nya, dia sedang sibuk mondar-mandir, ngobrol ngalor ngidul (mungkin serius, mungkin tidak) dengan bapak-bapak politisi yang saya hanya bisa saya jumpai di stasiun televisi nasional. Seketika luluh lantaklah kebanggaan premature saya itu. Sejak saat itu, Miftah kembali hilang dalam radar. Entah pergerakan apalagi yang tengah ia lakukan.

***

Sebetulnya perkenalan saya dan Miftah secara intens baru terjadi sejak beberapa kawan lama mengajak saya untuk mendirikan Selasar. Kala itu, bersama teman saya yang sudah terlebih dahulu menjadi seorang pengusaha digital, kami cukup PD (Percaya Diri) dapat mengembangkan bisnis ini bersama Miftah dan yang lain. 

Tidak lama setelah kumpul para founders tersebut, forum memutuskan agar saya mengemban amanah sebagai CEO dalam fase inkubasi ini. Sebuah fase yang ternyata cukup krusial dalam menentukan hidup atau matinya sebuah startup. Mengingat 9 dari 10 perusahaan startup “gugur” dalam fase berdarah ini.

Beberapa kali Selasar melakukan pivot dan berganti bisnis model. Waktu itu, Miftah hanya mengamati dari luar, tidak masuk ke dalam sebagai manajemen. Konsolidasi untuk membuat Selasar yang lebih progresif berlangsung di akhir tahun kedua. Dengan berbagai macam pertimbangan strategis, para founders akhirnya memutuskan untuk menarik (kembali) Miftah ke dalam. Lebih terlibat. Lebih mengikat.

Bekerja bersama Miftah bukan perkara mudah. Dia sering bilang bahwa dia adalah seniman yang dipaksa untuk menjadi seorang scientist. Yang jelas, saya menilainya dengan pasti ia adalah seorang “otak kanan” sejati. 

Dengan segala kelebihan dan kekurangannya, seorang seniman memang susah ditebak. Pemikirannya loncat-loncat, random, dan sulit untuk dimengerti. Kadang begitu jauh melampaui pemikiran orang-orang sekitarnya. Kadang begitu abstrak sehingga susah dicerna orang lain. Kadang juga terlalu ideal sehingga orang di sekitarnya bingung bagaimana mewujudkannya. Karena hal itulah, maka (sekali lagi) bekerja bersama Miftah bukanlah hal yang mudah. Ingat, bekerja, bukan bermain!

Bekerja bersama seorang seniman juga butuh pendekatan seni tersendiri yang kadang menurut saya juga tidak kalah kompleks. Pernah ada seorang kawan yang sampai-sampai disarankan minum obat dari psikiater karena “stres” bekerja bersama Miftah. Semoga kejadian ini bukan trend, hanya devian. Karena karakternya yang “genuine” tersebut, Miftah sering bilang pada saya, “Palingan sampai tua, temen gue ya lu lagi.. lu lagi..”, sambil menunjuk kepada saya dan beberapa kawan lain, “Gue ga bakat punya kawan baru”.

Meskipun demikian, dengan segala keunikannya, Miftah memiliki leadership skill yang menurut saya baik. Mengapa saya katakan baik, karena dia visioner, rela berkorban untuk kepentingan kelompok, memiliki tingkat percaya diri di atas rata-rata dan berani pasang badan kala ada kendala menghadang tim yang dipimpinnya. Kualifikasi yang tidak semua orang memilikinya. Belum lagi ketika kita bicara...(more)

Answered Dec 14, 2016
teguh usis
televisi | broadcaster | jurnalis | sedikit mau juga bahas politik

lR4LtxYnwYDEzO3UOjBl-JqVqt-XnChe.jpg

Adakah orang belagu, bergaya sok tahu, acap kali lebay, menyebalkan, idenya banyak tapi susah mengimplementasikannya, yang Anda kenal dekat? Saya ada satu. Namanya Miftah Sabti Sutan Mangkudun. Lho, kok bisa? Pasti amat bisa. 

Ketika pada 2007 silam, saya disodori oleh Indra J. Piliang sebuah novel bacaan berkelas berjudul Rahasia Meede, saya pun mengiyakannya. Saya beli, lalu saya baca. Wah, tak salah pilih memang. Penulisnya, Es Ito, urang awak yang novel sebelumnya berjudul Negara Kelima juga sudah saya lahap habis. Lalu, sepekan setelah Rahasia Meede saya tamatkan, saya pun menuliskan resensinya. Saya kirim ke koran Tempo. Dimuatlah pada edisi Minggu koran Tempo.

Tapi, kisah saya ini bukan tentang Es Ito. Pasti lain waktu akan saya muliakan juga ihwal alumni Taruna Nusantara adik kelasnya AHY ini. Hehe...

Tak lama berselang, seseorang mengontak saya ke ponsel saya. Dia kenalkan namanya. Lalu setengah memaksa mengajak saya ketemu. Dia bilang akan datang bersama Es Ito, sang novelis. Okelah, kata saya. Maka, bertemulah kami di sebuah kafe di kantor saya. Dia mengenalkan diri sebagai Miftah.

Jujur, semula saya jengkel dengan anak satu ini. Ngomongnya panjang lebar. Sementara, Es Ito bergaya kalem. Nah, untuk mencairkan suasana, lalu saya katakan kepada mereka sebaiknya kita bicara menggunakan bahasa Minang saja. Olalala... Terkejutlah mereka karena sama sekali tidak mengira bahwa saya juga orang Minang.

Saya kira akan berkurang kebelaguan Miftah setelah dia tahu saya juga orang Minang. Eh, perkiraan yang amat keliru. Malah, makin syur aja kawan itu mengoceh.

Mungkin, Miftah hendak meninggalkan kesan kepada saya pada pertemuan pertama itu. Begonya saya, dia berhasil. Tak gampang saya melupakan persuaan itu. Maka, bergulirlah jumpa-jumpa berikutnya dengan Miftah dan segerombolan anak muda Minang yang kalau itu masih kere-kere. Saking kerenya, tak sampai hati saya untuk tidak mengeluarkan uang ketika mereka bilang pengen pulang naik taksi.

Lalu, pada jumpa selanjutnya di kantor saya (alasan mereka mau lihat artis-artis bening dan kinclong macam Luna Maya), berkisahlah mereka mengenai uang receh bakal ongkos taksi yang saya berikan. Uang itu ternyata tak mampir di saku supir taksi, melainkan singgah ke kocek tukang rokok di depan kantor saya. Geblek!

Waktu pun terus bergulir. Lama juga saya tak jumpa Kudun. Sampailah di suatu saat pada 2009, dia mengontak saya, mengajak ketemu di sebuah kafe di Kemang. Wah, sudah makmur kawan ini, batin saya. Dan ternyata betul. Dia bawa satu asisten. Tapi tidak diperkenankan duduk semeja dengan kami. Entah untuk maksud melacak atau apa, dia letakkan ponselnya di meja. Cuiii.... Blackberry kawan pakai. Top!

Ngobrol ngalor-ngidul, tetiba ponsel saya berdering. Saya keluarkan dari saku baju (minder untuk ditarok di meja berdampingan dengan BB si Kudun). Tapi, usai menutup telepon, saya lupa menaruhnya di meja juga. Eh, kurang ajar betul komentar si Kudun. Begini dia bilang dalam bahasa Minang, "Ondeh... Kuno bana hape Uda ko mah...". Saya pun cuma bisa mesem-mesem. 

Lalu, apa yang terjadi? Dipanggilnya asistennya yang sedang asyik merokok tak jauh dari meja kami. Sebuah perintah tegas meluncur dari mulutnya, "Besok, kamu belikan BB baru buat Uda Teguh. Antarkan langsung ke kantornya di Tendean." Alamak, saya jadi bingung. Tak menjawab apa-apa. Cuma dalam hati berbisik, "Ah si Kudun ini cuma mau show off saja di depan asistennya."

Esok harinya, telepon saya berdering. Di seberang ada suara yang mengatakan sudah di lobi kantor saya membawa titipan dari Miftah. Sableng! Ternyata benar, sebuah BB baru, lengkap dengan simcard-nya dibelikan Kudun untuk saya. Saya katakan ke asistennya, kalau tahu tadi malam itu Kudun memang serius mau membelikan saya BB, mendingan saya minta mentahnya saja.

Kegendengan berikutnya yang saya tak pernah lupa dari seorang Miftah terjadi pada 2010. Ketika itu, dia jadi timses seorang anak muda yang maju bertarung memperebutkan kursi ketua umum sebuah parpol. Walau tak direstui sang pendiri parpol, anak muda ini--yang saya kenal lebih dulu ketimbang Miftah mengenalnya--akhirnya terpilih menjadi ketum. 

Anak muda ini lalu meminta saya untuk bisa beraudiensi dengan pemilik kantor saya. Alhamdulillah dikabulkan. Bertemulah si anak muda dan beberapa orang pasukannya ini dengan sang Taipan. Saya dipaksa ikut oleh si pemilik kantor. Eh, bujubune.... Si Kudun tanpa peduli ikut banyak nyerocos dalam pertemuan di sebuah ruangan makan mewah tersebut. Untunglah bos saya tak banyak cakap melihat kelakuan si Kudun.

Usai dari dijamu, sang anak muda ketum baru ini diajak berdiskusi dengan awak redaksi. Saya tak mau lama-lama ikut dalam diskusi dan lebih memilih untuk ngobrol dengan beberapa orang rombongan si ketum di kafe kantor. Eh, si Kudun pun ikutan menyusul. Lagi-lagi, dengan ciri khas gaya bicara berapi-apinya, Kudun tak peduli siapa lawan bicara yang sedang dia hadapi, padahal di meja kami itu ada CEO kantor saya.

Tak sampai kelar kami ikut nimbrung karena CEO mengajak saya masuk ke kantor. Eh, CEO malah nanya, "Siapa sih teman lu yang belagu itu, Guh?". Duh, mati saya! Ya saya jawablah apa adanya. Tak tahunya, CEO saya malah bilang bahwa pada awalnya dia malas betul lihat gaya Kudun. Tapi, lama kelamaan dia merasa beda. "Hebat anak itu," katanya. Wow... untung dia tak bilang langsung di depan Kudun. Bisa teriak kedengaran sampai Gatsu suaranya. Hehe.

Masih banyak kisah saya dengan si Kudun. Bosan nanti membaca kesaksian saya ini jika semua saya nukilkan. Yang jelas, Miftah ini orang langka. Punya gagasan-gagasan besar, tapi sayang kurang fokus.

Kini, Selasar.com ada di genggamannya. Jika Kudun sudah sadar akan kekurangannya, niscaya Selasar.com akan jadi sebuah start up yang oke punya. Ketika Selasa malam lalu saya beranjang sana ke kantor Kudun dan berjumpa anak-anak muda dengan sejuta harapan besar, satu hal yang saya ingatkan kepada mereka, "Tolong Miftah dihela. Saya percaya orang-orang seperti Arfi Bambani dan Kang Pepih Nugraha (sayang...(more)

Answered Jan 5, 2017
Robby Syahrial
Tempat Anda memperluas jaringan pengetahuan.

xYCUaci5L61icCW77GSZXd5slzToNHHK.png

Siapa Miftah Sabri? 

Saya tahu beliau ketika pertengahan tahun 2016. Saya menganggapnya dia salah satu orang misterius di Selasar di balik Akew dan Shofwan. Mungkin dia salah satu investor, mungkin dia salah satu petinggi atau orang penting di Selasar. Kalau diibaratkan sebuah poster, dia merupakan poster yang masih tidak ada gambarnya di antara para orang-orang penting Selasar.  

Kemudian, saya mengetahui kalau dia adalah salah satu pendiri Selasar. Selidik punya selidik, ternyata dia lebih dari sekadar orang penting di Selasar. Dia adalah bos besar (meskipun orangnya kecil), CEO Selasar, otak dari Selasar. Oke, orangnya cukup menarik dan unik. 

Bang Miftah, begitulah saya memanggilnya. Pertama kali saya berinteraksi dengannya, saya menilai dia adalah orang yang agak sombong, memandang orang dari statusnya (apalagi saya cuma sekadar karyawan biasa). Ya, itu adalah pendapat pribadi saya. Namun, pada akhirnya pendapat saya salah setelah saya mengenalnya lebih dekat. (Bukan sedekat orang pacaran atau pdkt). 

Apa yang saya suka dari dia? Dia orangnya pintar, cerdas, lucu, asyik, mengasyikkan, mudah bergaul, suka bercanda. Saya suka dengan pemikirannya kreatifnya yang di luar pemikiran orang. Setiap kali dia bercerita, saya selalu antusias untuk mendengarkannya. Bukan karena saya naksir, tetapi pembawaan dia berbicara membuat saya tertartik untuk mendengarkannya dan tentunya apa yang di bicaranya memberi pengetahuan baru bagi saya. Dia adalah bos yang menyenangkan untuk saat ini. Semoga juga untuk ke depannya. Maju terus Bos Bro.

Vivat Selasares! 

 

Sumber gambar via penulis

Answered Jan 5, 2017
Habibi Yusuf
PNS di Kementerian Perindustrian

Hasil gambar untuk miftah sabri

Kalau ini mah singkat saja. Miftah itu orangnya ajaib. Energinya seakan tidak pernah habis.

Kami mengenalnya sejak di Asrama UI. Kawan ini mengawali kiprahnya dengan status PGT (Penghuni Gelap Tetap) sebelum menjadi warga resmi. Lalu, di bloknya di ujung sana, dia dan kawan-kawan di sana sering mengadakan diskusi anak-anak lintas fakultas. Saya sendiri yang dari blok depan pernah sesekali berkunjung dan terlibat dalam diskusi (dan debat) kusir khas mahasiswa-mahasiswa aktivis kampus.

Miftah orang yang cerdas. Saya akui itu. Ditambah kemampuannya dalam bercakap bisa membuat orang larut dalam pikirannya yang menerawang ke mana-mana, seakan diajak berkelana tanpa tahu ujungnya. Saya ingat, pernah dalam suatu acara mabit di masjid UI, kami diskusi berdua berjam-jam mulai dari A sampai Z, bahkan ketika para peserta sudah tidur lelap dan akan bangun untuk qiyamullail, semua masih berdiskusi dengan semangat yang tak menurun meski alam sudah memanggil.

Kemampuan Miftah dalam bertutur bisa melenakan banyak orang, mulai soal remeh-temeh, bisnis, politik, apalah lagi asmara. Kemampuannya ini tentu saja bisa jadi pedang bermata dua, namun Miftah pandai mengelolanya supaya menghasilkan keuntungan maksimal. Saya pernah menyebutnya sebagai "pragmatis religius" karena meski tindakannya terlihat cukup pragmatis, ia tetap sosok yang tak lupa dengan agama.

Dan seperti yang sudah diduga, Miftah pasti juga pandai merayu wanita. Rupanya sudah terbukti sekarang, hahaha!

Namun selain itu, selayaknya petualang macam Miftah ini, pastilah ada kontroversi juga. Kadang saya tidak sependapat dengan pemikiran dan gagasannya, dan berhadap-hadapan secara terbuka. Meski kemudian ada jalan tengah untuk menemukan titik persamaan yang bersifat kompromistis. Itu terbukti salah satunya dalam momen Musyawarah IKM UI (Musma) di awal tahun 2016 di mana kami berada pada pendapat yang berbeda, namun sekaligus menjadi jembatan untuk menemukan solusi bersama.

Masih banyak lagi petualangan-petualangan Miftah. Ada yang saya sempat ikuti perkembangannya, dan tentunya banyak yang tidak. Dan dari banyak petualangan tersebut, saya sudah menduga bahwa Miftah pasti merapat ke panggung politik nasional. Sudah terlihat bakatnya, hehehe. Dan benar saja, setidaknya itu terbukti di Pemilu 2014.

Ketika mendengar bahwa Miftah terlibat di Selasar, saya tidak kaget. Bisnis semacam ini pastilah dekat-dekat dengan orang seperti Miftah. Saya bahkan sempat menduga bahwa Miftah sengaja "mengkudeta" Akew karena punya ambisi pribadi di balik aksi ini. Lalu, Selasar dibawa dengan gaya "meledak-ledak" khas Miftah yang agak beda dengan nahkoda sebelumnya.

Dari satu tipe meledak-ledak menuju satu tipe meledak-ledak yang lain. Namun kali ini saya memperkirakan bahwa daya jangkau Selasar bakal lebih luas lagi, terutama ke aspek politik. Miftah pasti memanfaatkan jejaring politik dan sosialitanya untuk dikapitalisasi secara maksimal dalam membesarkan Selasar. Dan tentunya juga, mengkapitalisasi Selasar untuk petualangan-petualangannya yang lain.

Miftah adalah sang petualang dan jago bertutur; dua karakter yang akan mengangkat Miftah ke berbagai panggung besar. Namun, semakin besar panggung yang didekati, ia mesti siap dengan segala risikonya juga yang tidak mungkin tidak diperhitungkan oleh Miftah.

 

Ilustrasi via wikimedia.org

Answered Jan 6, 2017
Arie Putra
Peneliti Komunikasi Politik MediaCitra dan Analis Kebijakan KEIN

3OqJLBOApLqOX87vFrGGLEiaUDWSqdn5.jpg

Miftah Nur Sabri (MNS) atau Sutan Mangkudun adalah ayahanda dari Mata Hati Sabri (Maha) dan Dara Jingga Sabri.

Dia menyelundupkan denyut dari inti metafor puitik yang terdalam pada putri-putrinya. Apa jadinya jika tak ada lagi Mata Hati? Akal akan menjadi panglima untuk semua persoalan kita. Nalar ajar terusan budi hanya akan jadi tagline CSIS belaka. Beban dunia pasti terasa semakin berat dan penuh kebencian.

Dara Jingga, sang putri bungsu, tak kalah puitik. Dara adalah simbol kelembutan. Sementara itu, Jingga merepresentasikan senja yang memadamkan emosi. Orang-orang kembali ke rumah di mana mereka merasa nyaman untuk hidup.

Jadi, MNS tanpa puisi seperti kata yang terpisah dari makna, pantai yang terpisah dari laut, dan AHY yang terpisah dari SBY. Puisi adalah alasan MNS untuk terus tetap hidup. Ya, puisi itu sudah dititipkannya pada Maha dan Jingga.

Saya sendiri kerab memanggil Ayah Maha dan Jingga ini dengan panggilan Da Mif, Da Kudun, atau Gaek (Tua). Tiga panggilan itu pun masih terasa kurang. Belum cukup menjelaskan siapa dia sepenuhnya.

Profesinya terlalu banyak, mulai dari data analis, konsultan politik, CEO Digital Company, dan dia lakukan semuanya. Hobinya bisa dibilang lebih banyak lagi. (kecuali sepak bola, yang membuat saya berpikir Beliau tidak hebat-hebat betul). 

Da Mif memang suka menerobos batas atau memang tidak percaya bahwa adanya batas dalam kreativitas. Dia seperti seorang sufi yang terus mencinta, tanpa tahu untuk apa dan bagaimana.

Answered Jan 7, 2017

0jlf73oZ4DxHugfG74cOrsYziBmoLIlQ.jpg

Miftah Nur Sabri. Merugi lah orang yang tak kenal beliau. Mungkin ini kalimat pengantar yang dianggap berlebihan, tapi memang itu yang saya rasakan. Saya bersyukur bisa kenal dengan beliau dan bisa berguru dengan sosok Miftah Nur Sabri.


Saya kenal nama beliau, saat awal saya masuk kuliah di Fakultas Hukum UI. Beliau mantan Ketua IMAMI (Ikatan Mahasiswa Minang) UI dan pada saat saya kenal beliau sedang menjalankan amanah sebagai orang nomor satu di FISIP UI. Menjadi Ketua Senat Mahasiswa yang dipilih melalui pemilu langsung one student one vote oleh mahasiswa FISIP pada masanya. Sepertinya dia anak SMA 1 Padangpanjang pertama yang menjadi ketua senat di Universitas Indonesia.

Jujur, tak mampu menuliskan dengan kata-kata ketika harus mendefinisikan siapa Miftah Nur Sabri Gelar Sutan Mangkudun ini ,karena saya bisa berada di posisi saya saat ini adalah atas bimbingan beliau. Beliau senang membukakan jalan bagi junior juniornya dan tidak segan segan mengenalkan kita pada tokoh tokoh yang dia kenal sambil di tengah galanggang rami memuji kelebihan kita dan menjelaskan siapa kita. Banyak petinggi kepolisian yang mengenal saya tiba tiba bilang, o ini Afdhal yang diceritakan Mas Miftah saya suka terbegong bengong. Berarti dia di belakang kita suka mempromosikan kita pada orang yang mungkin akan bersinggungan dengan kita.

Beliau seorang creator handal,pemikir yang luar biasa dan eksekutor yang mumpuni. Contoh ide beliau yang sampai saat ini berjalan dengan baik adalah KGTK alias "Kampus Goes To Kampuang",yang beliau inisiasi pada tahun 2003,dan memberikan manfaat bagi siswa-siswi SMA di Sumatera Barat. Banyak lagi ide-ide gila beliau yang bagi sebagian orang dianggap tak mungkin dilakukan,tapi beliau bisa melakukan itu. Bayangkan baru pertama mengadakan KGTK langsung dia buat di Hotel Berbintang Novotel Bukittinggi. Nama KGTK adalah hasil imajenasi kreatifnya. Suatu saat dia bilang pada saya untuk terus memelihara Imajenasi. Jangan terjebak pada rutinitas kestaf ahlian di komisi hukum DPR. "Apa imajenasi hukum masa depan kita Afdhal" katanya suatu waktu. Apa pula itu "imajenasi hukum"? Dia ingatkan saya soal kutipan Einstein yang saya lupa persisnya tapi kira kira begini, menurut buku yang Ia baca, Imajenasi itu "beyond" science. 

Bagi saya beliau seorang tokoh muda yang pemikirannya puluhan tahun melebihi orang seusia nya,maka nya wajar kalau jaringan nya sudah level nasional,dan tokoh-tokoh nasional yang bagi orang seperti saya hanya bisa dilihat dari layar kaca, kok tiba tiba bertemu saya dan bilang, o kamu adeknya Miftah. Saya suka kaget, darimana pula Uda ini mengenal otang ini.

Saya beberapa kali berdiskusi sama beliau hingga dini hari mendengarkan ide-ide gila beliau,dan dalam hati saya selalu berucap,ini orang memang gila yaa,kalo sudah muncul ide dalam kepala nya bahkan berhari-hari bisa nggak tidur. Beliau saat ini sedang sibuk membangun sebuah platform digital yang bernama Selasar. Selasar adalah salah satu bentuk ide gila dan wujud creative thinking nya dia. Sekarang mulai menunjukkan perannya sebagai platform untuk berbagi pengetahuan pengalaman dan wawasan. Ketika saya tanya kenapa namanya Selasar, jawabannya menarik: "kita bertemu kan di selasar rumah, bertemulah ide dari mana saja, informasi, pengetahuan, nasehat dan bahkan rahasia rahasia keluarga". "Di selasar rumah juga kalau empunya rumah punya lukisan indah memajangnya. Pemikiran terindah letakkan lah di Selasar. Lukisan buruk diletakkan di dapur belakang. Emosi negatif dan Hoax biar di tempat lain. Ada ada saja caranya menjawab kalau ditanya. Dan biasanya itu memang langsung spontan saja.

Semoga di tahun 2017 Selasar bisa menjadi "The Next Big Thing in Tech Industry di Indonesia after Bukalapak, Gojek, dan Traveloka". Dengan diapit Ma Isa Lombu dan Pepih Nugraha saya rasa Selasar tetap bisa membiarkan fikiran dan imajenasi Mifttah Nur Sabri menari nari,dan saya yakin ini akan jadi ide tergila untuk kebaikan Indonesia kedepan. Sebagai penutup, pesan saya jangan lupa jaga kesehatan bang,dan tetap lah jadi orang yang rendah hati...Salam Takzim...

Answered Jan 7, 2017
Eddri Sumitra
saat saya ngaku bernama e.s. ito maka saya adalah fake historian

4nKvzPYIlPl-MkUg-ROh_vQfFNV65Zns.jpeg

 

Tidak banyak manusia yang mampu menjaga hasrat kanak-kanaknya hingga tumbuh dewasa, Miftah adalah pengecualian. Usia boleh bertambah tetapi hasrat dan gairahnya terus meletup layaknya kanak-kanak yang baru mengenal dunia. Itu sebabnya dia melihat dunia tidak ubahnya padang datar tempat berguru sekaligus berburu. Sekolah menyumbangkan banyak hal untuknya tetapi alam dan pengalaman memberikannya lebih. Inilah yang membuat Miftah berbeda dengan kebanyakan dari kita, dia tidak kenal batas cita-cita. Dia terus mengejar bahkan terkadang sampai lupa seperti apa cita-cita awalnya.

Hampir 15 tahun mengenal Miftah dalam intensitas yang nyaris tidak pernah merenggang, saya mengerti dia masih lapar dan haus dalam pencarian. Setiap hal baru yang dia teruka (dan terabas) senantiasa mengantarkan orang lain ke puncak harapan. Saya sering menyindir Miftah mengumpamakan dirinya roket. Suka meluncurkan orang tetapi kemudian di batas horizon melemparkan diri kembali ke bawah. Orang sampai di atas, dia balik ke padang datar.

Soal kualitas personal kita tidak perlu meragukan Miftah. Dia juara puisi ketika masih SMP di Riau. Juara Matematika Di Sumatera Barat ketika SMA di Padang Panjang. Ketua Senat Mahasiswa FISIP UI. Melepaskan peluang beasiswa ke Amerika. Mengantarkan begitu banyak orang yang tidak perlu disebut namanya sampai ke puncak cita-cita mereka. Banyak relasi terbuka karena Miftah, banyak pintu rezeki orang terbantu karena aksi-aksi sporadisnya. Dan setiap kali bicara berdua saya selalu bertanya pada Miftah, "urang juo lai. ang bilo?"

Saya berharap Selasar jadi tempat tetirah yang produktif untuk Miftah. Tidak perlu jadi ujung cita-cita, cukup jadi rumah yang terus dirawatnya bersama sahabat-sahabat tim Selasar. Sehingga Miftah tidak perlu lagi menemukan jejak kesuksesannya pada orang lain sebab kesuksesan itu adalah dirinya sendiri. 

*satu-satunya kegagalan Miftah adalah masuk SMA Taruna Nusantara :)

 

Answered Jan 7, 2017
Muhammad Danu Winata
Kopral yang tertarik isu-isu kontemporer

Senior, Rekan, dan Inspirator

rTkp3yMwFh744Ou7cAwoPmZlA6znQ4mX.jpg

Penguni kamar 206 Mess Unhan (Niko, Bang Mif, dan saya)

Sebelumnya, saya tidak pernah mengenal siapa sosok ini. Saya pun tak pernah menyangka bisa mengenal orang yang ternyata memiliki influence yang cukup besar bagi orang-orang besar. Sebenarnya kedekatan diawal saya berkenalan dengannya, saya tak memiliki interest untuk dengannya. Namun sikap SKSDnya itulah yang membuat saya tertarik bak magnet untuk dekat dengan beliau dan ingin sekali banyak belajar berbagai hal dari seorang pria asal Padang Panjang bernama Miftah Nur Sabri St Mangkudun

***

Perkenalan saya dengan sosok ini berawal ketika kami masuk Universitas Pertahanan (UNHAN), sebuah kampus yang terletak di kawasan Sentul, Jawa Barat. Jujur, pada awalnya saya merasa asing di kampus tersebut. Ya, saya bukanlah orang yang berpikir akan melanjutkan di kampus baru di bawah Kementerian Pertahanan. Hal ini dikarenakan saya adalah sarjana sosial dari FISIP UI, jurusan Ilmu Komunikasi. Di Unhan, saya masuk ke program studi Peperangan Asimetris, jurusan yang saya yakini terdengar asing bagi banyak orang.

Ketika matrikulasi, sekitar bulan Agustus (kalau tidak salah), tepatnya jam makan siang, saya satu meja makan dengan pria mengenakan safari putih (ala ala kader Gerindra), kaca mata agak besar, dan fokus ke handphone-nya. Ketika beliau menyudahi fokusnya ke handphone, orang ini langsung melihat saya sambil berkata,

"Woy, dari mana lo? Enak ga nih makanan?"

Saya kaget, orang yang penampilannya formal ini memanggil saya dengan sebutan "lo". Saya pun menjawab

"Dari FISIP UI bang. Enaklah bang, wong gratis"

Dia pun langsung menatap saya dengan rautan muka yang antusias dan bertanya dengan nada yang agak tinggi

"SERIUS LO? Jurusan Apa lo? Angkatan berapa?"

Berhubung dia memanggil saya dengan "Lo" terus, saya pun menggunakan kata "gue"

"Gue dari Komunikasi UI bang, angkatan 2011"

Dia pun merespon jawaban saya,"Wahhh lu adik gue dong, gue Politik 2002 bos !!! Btw muke lo tua juga ye, sama kaya gue HAHAHAHA"

Saya pun tertawa ketika melihat dia berkata demikian. Setelah percakapan tersebut, barulah kami berkenalan. "Gue Miftah, lu siapa?" Saya pun menjawab dan mencoba bertanya ke Bang Miftah "Gue Danu bang, btw lu kerja dmana bang". Dia dengan gaya bicara yang khasnya menjawab,

"Biasalah gue, cuma wartawan wartawan aja, jadi gue harus banyak belajarlah dari anak kom"

Sehabis itu dia makan dengan cepat, apalagi menunya Rendang. Lahap sekali. Ibarat Lagu tanpa intro dan brigde,  langsung Reff . Sehabis makan, kami pun kembali masuk ke ruang Auditorium Unhan.

***

Ternyata, saya dan Bang Mif berada dalam satu program studi, Peperangan Asimetris. Bang Mif dari awal perkuliahan dekat dengan kawan sekelas lainnya, Niko Efriza, aktivis HMI dan pernah menjadi ketua BEM fakultas di UNJ. Mereka selalu berdua. Pembicaraannya pun serius. Di kelas, di kantin, dan dimana pun mereka berada selalu membicarakan perkembangan politik dalam negeri maupun luar negeri. Bang Mif pun berlangganan koran di Unhan dan selalu menenteng koran kemana pun dia pergi. Saya pun mengira mereka berdua berbeda frekuensi pembicaraan dengan saya dan sempat berpikir  "saya tidak bisa terlalu dekat dengan mereka, mengingat selama di kuliah, saya hanya aktif di lingkup himpunan mahasiswa, aktif bermusik, bercengkrama hal-hal yang tidak serius"

Unhan merupakan kampus yang menyediakan fasilitas mesa terhadap mahasiswanya. Ketika pembagian kamar mess, saya dipilih satu flat bersama dengan Bang Mif dan Niko di ruang 206. Dalam hati saya "Aduh, sulit nih gabung sama mereka". Namun spekulasi saya meleset tajam. Mereka justru menerima saya dan memasukan saya sebagai circle mereka yang kelak dinamai Mandara, nama yang maknanya tidak bisa diceritakan disini

***
Selama kami berkumpul, Bang Mif pun menunjukan identitas aslinya ke depan saya. Ternyata, Dia pernah menjabat Ketua Senat Mahasiswa FISIP UI. Dia pun bercerita tentang Takor dan BEM dengan fasih. Kemudian jawaban dia yang berprofesi sebagai wartawan hanya sebagai guyonan semata. Beliau lebih dari sekedar wartawan. Beliau adalah seorang asymmetrical thinker yang sama sekali tak terduga. Analisa analisanya bila diberi kesempatan oleh dosen selalu berbobot. Berpikiran startegis adalah salah satu keahliannya. Wajar bila ia pernah cuti satu semester karena membantu Bapak Ryamizard (Menhan RI) dalam hal hal sifatnya strategis pula. Kemudian, Bang Mif juga bukan tipe orang yang suka meremehkan pendapat orang. Bila terdapat orang yang berbicara yang sekedar common sense, dia pun sangat mengapresiasi hal tersebut. Bang Mif pun selalu menanyakan pendapat kepada saya terhadap suatu isu ,"menurut lo gimana dan?" Saya pun menjawab dengan ala kadarnya. Namun bukan Miftah Sabri kalau tidak supportif. Bang Mif-lah yang membuat saya percaya diri kalau suatu saat saya bisa menjadi orang yang luar biasa.

***
Disamping pekerjaan dan jalur akademiknya, ada hal yang membuat saya tertarik dari beliau. Ternyata Bang Mif dan Nico adalah seorang seniman sejati. Bang Mif suka sekali karya sastra dan musik. Kami suka bernyanyi lagu Dewa 19, Roman Picisan, bila ada gitar . Begitu pula dengan Nico yang juga sangat suka musik, dimana kita pernah menyanyikan lagu Fatwa Pujangga di acara pernikahan kawan. Sehingga kamar 206 juga disebut dengan Kamarnya Para Pujangga.

Kemudian, yang menjadi ciri dari seorang Miftah adalah Family man. Dia sangat sayang sama istrinya dan sangat perhatian terhadap anak-anaknya. Beliau jarang tidur di mess Unhan bukanlah tanpa alasan. Bang Mif harus mengantarkan anaknya ke sekolah. Orang menilai Miftah Sabri dengan sebutan Slonong Boy, namun itu lebih baik dari pada dia tidak sama sekali memberikan atensi terhadap dua putrinya.

Rasanya ingin sekali menulis siapa Miftah Nur Sabri lebih banyak lagi. Namun tak bisa dirangkum dalam satu lembar pena atau beribu karakter kata. Dua hal yang mampu menjadikan seorang Miftah sebagai pemberi inspirasi. Dia sangat sayang terhadap keluarga kecilnya dan selalu fokus dan total...(more)

Answered Jan 7, 2017

ifD44X47b2N7x9S7NJ_FyQ5b9n0ntz66.jpg

Saya adalah teman SMA padun (singkatan dari pak kudun), begitu saya memanggilnya.

Saya, suami saya hafiz yunadi dan padun bersekolah di sebuah sekolah asrama peninggalan Belanda di lembah bukit tui, padang panjang selama 3 tahun.

Pertama kali berkenalan saya terkesan dengan energinya yang luar biasa. Badannya seperti memiliki charger alami yang membuatnya tak pernah kekurangan energi untuk bergerak dan tetua bergerak. Jangan pernah berharap padun duduk manis di bangkunya. Dia akan sibuk kesana kemari, menginterupsi guru, sambil sesekali menggoda teman teman perempuan yg pemalu di kelas kami.

Sempat terjadi persaingan antara saya dan padun setelah pembagian rapor caturwulan 1. Padun mendapat juara 1 dan saya juara 2. Bukannya sombong, ini adalah pertama kalinya saya mendapat juara 2 sepanjang hidup saya semenjak SD. Rontok oleh Padun di SMA...hehehe.Tapi persaingan ini tak berlangsung lama. Padun orang yang easy going, lama lama kami jadi tim yang cukup solid. Kami sering ikut lomba mata pelajaran ke padang atau bukittinggi. Bahkan sempat mendapat juara cerdas cermat kimia bersama denok waktu itu.

Semakin lama saya makin mengetahui cerita masa kecilnya dan saya berkesimpulan bahwa dia anak yang kuat. 

Banyak kegilaan yang dilakukannya karena energi berlebihnya. Entah dapat ilham dari mana, suatu ketika padun mengusulkan agar dilakukan persidangan untuk menindak para pelanggar peraturan di asrama. Pelanggaran ringan yang semestinya cukup mendapat teguran guru pengawas saja didramatisirnya menjadi persidangan yang mencekam, lengkap dengan hakim, pengacara, jaksa penuntut dan terdakwa. Gilanya hal ini diamini oleh semua warga asrama dan diikuti dengan khidmat. Jadilah kami semua masuk ke dalam alam "imajenasi Padun" tentang apa yang Ia sebut "Mahkamah Asrama". Sekarang Mahkamah itu sepertinya masih ada. Dialah creatornya.

Sekarang Padun sudah menjadi orang hebat. Energinya sudah mendapat penyalurannya. Tapi dari kaca mata saya sebagai seorang dokter, energinya masih sangat banyak luar biasa. Beruntung Padun punya Whinda, controller pribadinya. Whinda adalah Psikolog Sosial Dosen di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Whinda adalah adik kelas kami di SMA 1 Padangpanjang. Saat kami kelas tiga, Whinda kelas satu. Sudah diintai Padun rupanya. Padun juga memiliki duo puteri Maha dan Jingga yang sangat disayanginya.

Mengenai Maha, Saya ingat Padun pernah betkunjung ke rumah kami membawa Maha. Waktu itu Whinda masih di Inggris, sedang sekolah mengambil Master di Universitas Exeter .

Padun menjadi Ayah sekaligus Ibu buat Maha dan Maha kecil terlihat sangat nyaman waktu itu.

O iya, 1 lagi. Kalau saat ini ada guru atau Junior yang menanyakan kami angkatan berapa, ga usah repot-repot menjawabnya.

Jawab aja "angkatannya Miftah". Mereka pasti paham. Abis perkara. hehe

Answered Jan 7, 2017
Sheena Angelia
Doctor, Clinical Nutrition Student, Peer Educator

UJGFG6Tgw-WqMEQWtx6k1QRsF7Byqy2q.jpg

Siapa orang yang pernah mengalahkan Miftah dibidang akademis? Saya! Hahaha! 

Saya memang warga baru di Selasar, tapi saya pasti orang yang paling duluan mengenal Miftah. Karena kami sudah berkenalan sejak tahun 1992.
Berawal dari masuknya seorang murid baru di sekolah dasar "setengah negeri" milik perusahaan minyak negara di Riau. 
Miftah kecil yang termasuk seorang anak yang sangat percaya diri untuk ukuran murid baru, tiba2 mengejutkan para murid peraih juara (yang orang nya 4 L, lo lagi lo lagi), karena ia langsung meraih juara kelas dan kalau tidak salah ingat sekaligus menduduki posisi juara umum (peringkat paling tinggi). Si murid baru ini langsung aktif di segala kegiatan, mencuri perhatian sekolah, dan hampir tak terkalahkan, kecuali di bidang olahraga ;)

Tiga tahun di SD dengan persaingan yang seru, lalu kami masuk ke SMP yang sama, dan selalu sekelas selama 3 tahun!! Selama itu juga persaingan tanpa henti terjadi. Miftah tetap bersinar menjadi bintang kelas, ketua OSIS selama 2 periode, dan juara dalam tiap perlombaan. Ia juga seorang anak yang selalu taat peraturan, dan setau saya taat beragama. 
Miftah tidak terkalahkan sampai kelas 3 SMP, hingga tiba hari pengumuman Nilai Ebtanas Murni (NEM) ternyata bukan nama Miftah yang dipanggil. Saya rasa semua murid terkejut pada saat itu, saya juga tidak dapat membayangkan betapa kecewanya Miftah saat itu. 

Kisah sedih bagi Miftah di penghujung masa SMP bukan hanya itu. Saat duduk di kelas 3, suatu hari kami mendapatkan kunjungan dari alumni SMP yang sedang menempuh pendidikan di SMA Taruna Nusantara. Semua terperangah saat seorang siswa SMA TN berbadan tegap dan berseragam biru masuk ke dalam kelas dan memberikan informasi tentang SMA TN, berakibat hampir seisi kelas tertarik dan mendaftar ke SMA TN. Singkat cerita, kami mengikuti semua rangkaian tes dan lulus terus hingga tingkat provinsi. 
Tak disangka, Miftah gagal di tingkat provinsi, saya tidak tau pasti apa penyebab kegagalan nya, tapi saya rasa Miftah sudah tau alasannya.

Selepas masa SMP, saya tidak mengetahui lagi informasi tentang Miftah. Tetapi ia menghubungi saya menjelang hari pernikahannya. Saya pun berangkat dari Bandung menuju Jakarta untuk menghadiri pernikahannya, tetapi tidak sampai ke gedung pernikahan karena terjebak macet luar biasa di perjalanan. Setelah itu kembali tidak berkabar.

Setahun yang lalu, tiba-tiba saya diundang masuk ke grup WA dan ternyata ada Miftah disana. Si murid baru ternyata tidak berubah, jiwa masa kecil yang saya kenal dulu masih ada disana. Berapi-api dan selalu ingin menjadi pusat perhatian. Ia bercerita tentang karir dan usahanya merintis Selasar, mimpi (atau obsesi?) yang masih ingin ia kejar, serta pandangan tentang agama, ilmu dan kehidupan. Saya rasa otaknya tidak pernah berhenti berpikir dan dipenuhi dengan dialog-dialog yang sulit untuk didiamkan, yang membuat ia merasa sayang waktunya dihabiskan untuk tidur, karena 24 jam tidak cukup untuk ide-ide yang selalu meluap-luap, dan luapannya persis seperti cara ia berbicara. Hahaha

Sahabat kecil ku Miftah, semoga energi tubuh mu tidak ada habisnya, sehingga bisa mengimbangi energi otak mu. Dan jangan lupa minum obat. Hahaha! 

Answered Jan 7, 2017
Ronny P
Pengamat Ekonomi Politik. Penyeruput Kopi. Dan Urang Bagak Baladiang

s-EiqBf070noFpt7MIEcgnH55Okn-3bu.jpg

Bagi saya, pertanyaan di atas adalah pertanyaan yang sangat menggoda karena baru kali ini orang seunik Miftah Sabri ramai dibahas dan ditestimonikan oleh orang-orang yang mengenalnya langsung. 

Miftah Sabri, di mata saya, selain seorang manusia energik, unik  dan creative, juga seorang yang penuh dengan kejutan dan manusia yang super ekspresif dalam melontarkan ide-ide. Saat tertawa, hentakan kakinya ke lantai bisa berbarengan dengan irama tawa yang melompat di antara sela-sela giginya. Beliau adalah manusia yang nampaknya hanya terlahir satu di antara ratusan, bahkan jutaan manusia lainya, manusia yang hanya satu diturunkan dalam satu musim dan zaman. 

Dari sisi pergaulan, dibanding Miftah Sabri, tentu saya ini apalah, hanya sekulit kuaci. Wara-wiri di dunia keuangan dan pasar modal, ya sebatas itulah pergaulan saya. Mungkin kawan-kawan ngopi beberapa di antaranya berjabatan Direktur Utama atau Executive Vice President di perusahaan-perusahaan keuangan, tapi ya cuma sebatas dunia keuangan. Jika sudah bergeser ke ranah politik dan pemerintahan, ranah jejaring intelektual, ranah lobby-melobby, apalagi ranah pergaulan para penggila digital, entahlah saya ini siapa. 

Itulah pembeda yang sangat kentara antara saya dengan Miftah Sabri Sutan Mangkudun. Di umur yang tergolong sangat muda, pergaulan politiknya sudah menyamudera di Indonesia. Apalagi pergaulan intelektual, bisnis, budaya, dan pergaulan dalam jejaring penggila teknologi. Tak perlu disebutkan satu-satu tokoh mana saja yang jadi temannya, hanya membuat tangan saya capek mengetik nama. Begitulah bedanya dengan saya. Tapi memang aneh, tampangnya ya seperti saya saja. Jika saya tampil biasa-biasa saja memang karena saya orang biasa. Bagi Kudun, panggilan akrab beliau, tampilan slebor memang tak bersua dengan tingkat pergaulannya. 

Sehari-sehari ya slengek-an saja. Jika tertawa tak punya rem dan tak punya tombol volume. Tak peduli di mana, di Soto Padang Bang Karto Tanah Abang atau Di Simpang Raya Blok M, atau di coffeeshop kelas atas dan lounge hotel bintang lima, sama saja bagi dia. Tertawa, ya, yang begitu itu, terbahak tanpa basa-basi. Dan aturan umum biasanya agak-agak kurang berlaku baginya. Bayangkan saja, hanya Sutan Mangkudun yang berani minta tambah kuah sate di Restoran Padang Peranakan China, Marco, di mal kelas premium depan Bursa Efek Jakarta. Permintaan tambah kuah sudah bukan lagi melalui teriakan semisal "bang tambah kuahnya", tapi nyelonong langsung ke benteng pertahanan koki dan minta kuah di sana. Sepanjang sejarah, cuma dia yang berani melakukannya.

Lain lagi soal kendaraan. Beberapa waktu belakangan, beliau membiasakan diri naik Innova. Satu buat istri, satu buat dia. Konon beberapa waktu sebelumnya, merek-merek mobil kelas premium pernah parkir di garasinya. Boleh jadi jiwa populisnya lagi kambuh dan gak sembuh-sembuh sampai sekarang, maka beliau mulai membiasakan diri dengan mobil bapak-bapak pejabat sekelas kepala dinas di daerah. Bahkan belakangan beliau malah gemar naik ojek dan rental mobil online. Banyak kemudahan yang didapat, katanya. Tinggal klik, lalu duduk manis menunggu, dan duduk manis di belakang supir, ucapnya pada saya suatu waktu.

Meski awalnya saya sempat tak menyangka kalau dia bisa naik kereta dan ojek, tapi akhirnya saya percaya bahwa dia bisa naik kereta dan ojek jika kepepet. Satu ketika saat janjian makan soto di Tanah Abang, pas saya sudah menghenyakkan pantat di bangku Soto Bang Karto, beliau masih siap-siap keluar kelas di Universitas Pertahanan Sentul. Bisa dibayangkan jauhnya. Tak ada cara lain, dia naik kereta dan berlanjut dengan tukang ojek sampai ke TKP. Dan janji makan soto tetap terpenuhi, walau akhirnya saya harus mengantarkan beliau kembali ke bilangan Kemang, markas Achmad Zaky, sang legenda dari bukalapak dot com, di mana beliau juga terlibat cukup aktif dalam mengembangkan bisnis.

Miftah berbeda dengan saya yang mungkin tak terbiasa dengan kereta, tapi dengan ojek tak perlu dibahas lagi. Bahkan menyerobot motor ojek pun pernah saya lakukan demi mengejar jadwal meeting. Tak ada supir di kantor, maka ojek selalu jadi sasaran saya. Maklum, untuk mengurai macetnya ibu kota, ojek adalah solusi ampuh. Taksi boleh jadi juga salah satu jalan, tapi saya anggap sebagai opsi saat hujan saja. 

Miftah Sabri, alumni Ilmu Politik UI, mantan ketua senat FISIP UI, yang kalau pulang kampung selalu menyambangi dua provinsi, Sumbar dan Riau, adalah manusia yang belum ada padanannya dalam hidup saya. Boleh jadi, oleh karena itu pula Tuhan mempertemukan kami, agar ada manusia semacam beliau yang ikut mewarnai dan meluarbiasakan hari-hari saya yang biasa-biasa saja.  

Ide briliannya suka melompat bak katak kaget. Muncrat begitu saja saat suatu topik sedang dibicarakan. Yang terakhir saya masih ingat ketika di Hotel Mercure, Padang. Istilah "MinangPride" sebenarnya muncul dari mulut beliau. Sebelumnya, cerita hanya berkisar pada masalah-masalah sisi-sisi negatif pergaulan orang Minang yang cenderung kurang produktif karena cimeeh nan gigantis sehingga citra negatif pun kerap kali menyelimuti topik yang berbau budaya Minang. 

Lalu berlanjut pada niatan untuk menguranginya dan mengganti dengan spirit saling support, saling membantu, saling membesarkan hati masing-masing, dan saling memberi respon positif. Kesemuanya tidak berarti harus membela dan mendukung di jalan yang salah, seperti membabi buta membela koruptor, membela penguasa yang omdo, atau menghilangkan kritik yang baik. Kesemuanya dirangkum dalam semangat "bangga menjadi orang Minang". Dan Sutan Mangkudun lah yang mengkhatamkannya ke dalam istilah "MinangPride" yang kita kenal hari ini.

Terkait saya dan Sutan Mangkudun, walau belum terlalu lama, belum masuk hitungan puluhan tahun saling mengenal, rasanya justru sebaliknya. Kami justru sudah seperti kenal jauh lebih lama dari yang sebenarnya. Dan testimoni saya pendek saja saat seorang kawan bertanya "siapa sih Miftah Sabri Sutan Mangkudun?". Jawaban saya, "dia orang gila, manusia yang...(more)

Answered Jan 7, 2017
Roby Muhamad
Scientist-entrepreneur.

cTT_lg8Kz6NEV8RRHt8MX4FZdNrV6S7h.png

Miftah adalah fenomena alam. Tepatnya, Miftah adalah laut. Kekuatan laut bersifat universal, tidak pandang bulu. Bagi sebagian kekuatannya memunculkan harapan, bagi sebagian lain kekuatannya mengintimidasi. Bagi yang tahu rahasianya, laut adalah sumber kehidupan dan menyimpan banyak harta dan hikmah.

Cara terbaik menyikapi fenomena alam secara umum berlaku juga untuk mengerti dan memaknai Miftah: hormatilah dan percaya bahwa dalam kegelapan laut dalam tergeletak kerang dengan cangkang yang bergurat-gurat. Dan di balik cangkang itu -jika beruntung- ada sebuah mutiara yang bulat, halus, dan mulus. Semakin besar tantangan di laut, semakin besar mutiaranya. Semoga Selasar adalah laut yang penuh tantangan dan Miftah akan serap dan saring sehingga hatinya semakin murni. Sesuatu yang berharga tidak pernah diobral murah. Yang berharga selalu jarang dan sulit ditemukan. Itulah Miftah dan Selasarnya.

foto via dokumen pribadi

Answered Jan 8, 2017
Dade Kusuma
Analis Anggaran Kemenkeu

Saya bisa menjawab siapa Miftah dengan satu "huruf" saja yaitu "?" (question mark-baca). Karena bagi saya, pertanyaan siapa itu Miftah merupakan sesuatu yang definitif. Hampir 20 tahun saya mengenal Miftah, tanda tanya saya semakin membesar, siapa Miftah Nur Sabri ini?

Dulu saya coba definisikan Miftah dengan Denny JA atau Saiful Mujani? Kapasitas, kecenderungan dan backgound pendidikan menjadi alasan saya untuk itu. Terlebih lagi, buah karyanya juga telah banyak tersebar. Beberapa "pasiennya" telah menjadi pemegang kekuasaan penting di beberapa daerah. Hal tersebut menjadi bukti tangan dingin Miftah beserta tim di dunia survei dan opini publik. Akan tetapi, definisi saya keliru. Karena bila itu benar, Miftah tidak mungkin menolak beasiswa ke US yang sudah di depan mata dan berkorelasi positif dengan jalan karirnya tersebut. Artinya, Denny JA maupun Saiful Mujani bukan deskripsi yang pas untuk Miftah.

Rasa penasaran saya semakin membesar. Kali ini saya coba asosiasikan Miftah dengan Setya Novanto. Kemampuan argumentasi dan lobby-nya sudah sama-sama level akut. Namun ketika saya konfirmsi, Miftah justru bilang, "dia bukan role model saya".

Akhirnya, saya berhenti untuk melakukan redefinisi. Menurut saya, jebakan logika pada proses defining moment adalah profesi. Saya justru lebih senang menikmati aksi Miftah dibandingkan mendefinisikannya.

Salah satu aksi miftah yang sangat saya kenang adalah ketika dia memperkenalkan internet dan persaingan di SMA 1 Padang Panjang. Perlu diketahui, SMA 1 Padang Panjang merupakan SMA di kota terkecil di Indonesia yang kala itu terlanjur diproyekan menjadi SMA unggulan tanpa modal dan prestasi yang mumpuni.

Miftah dengan gemilangnya memperkenalkan internet ke anak SMA yang nota bene masih belajar DOS dan Lotus. Sedangkan sekolah lain telah “gape” dengan microsoft office. Miftah kala itu dengan semangatnya mengungkapkan tentang kehebatan internet. Kita bisa berselancar kemana saja tanpa terbatas ruang dan waktu. Bagi anak sekarang penjelasan tersebut bukan barang mewah. Tapi bagi kami, generasi yang lekat dengan disket dan floppy disk, penjelasan tersebut merupakan sebuah pencerahan.

Miftah juga memaparkan dengan sempurna tentang mindset persaingan. Bagi anak SMA yang mayoritas siswanya belum pernah ke Jakarta, konsep persaingan hanya terbatas ke teman satu SMA dan wilayah Sumbar saja. Miftah justru menjelaskan bahwa saingan sesungguhnya adalah teman-teman di SMA unggulan Jakarta, Bandung dan wilayah pulau Jawa lainnya.

Ide-ide miftah inilah yang membangkitkan semangat sebagian kami untuk bermimpi.  Mimpi yang nota bene merupakan barang mahal di negeri minang karena terlindas “cimeeh” dan doktrin dagang. Sekarang Miftah telah punya mimpinya sendiri begitu juga kami. Semoga Miftah telah memantapkan hatinya, fokus, dengan Selasar sebagai industri utamanya. Jaya selalu Miftah dan Selasar!!!!

Answered Jan 9, 2017
Arief Mizan
Suka politik terutama komunikasi politik

nzOZa4KVUylerxWWTdO1JcZ0GjyYsdky.jpg

Rumah kami hanya berjarak 200 meter.

Jadi secara geografis, saya adalah temannya yang paling dekat.

Jika banyak orang yang hanya melihat jayanya seorang Miftah, saya termasuk di antara orang-orang yang melihat tragedi demi tragedi dalam hidupnya. Ini orang sudah ditempa suka dan duka berjuta kali.

Saya mengenal Miftah sejak 2003, namun baru intens berkomunikasi saat menjadi tim suksesnya sebagai calon Ketua Senat Mahasiswa FISIP UI 2005-2006 dan akhirnya memenangkannya. Dia tahunya saya itu adalah mahasiswa jurusan komunikasi dan bisa desain grafis. Saat itu, kami punya mimpi yang sama untuk mendirikan lembaga pers pertama di FISIP UI. Dan kemudian lahirlah FISIPERS di mana saya menjadi Pemimpin Umum pertama media yang baru lahir itu. Hingga saat ini, FISIPERS masih tegak berdiri di FISIP UI.

hR2ETR_ZhLeyhHymZa1gC-g-0U_QmdGx.png

Meskipun sebaya, tapi rasanya Miftah sudah jauh melampaui kami saat itu, dan gap itu terasa sangat lebar. Di saat yang lain masih sibuk mencari jati diri dan terjebak pada hobi bersenang-senang, Miftah justru menemukan kebahagiaan saat bertemu tokoh-tokoh intelektual, politik, budaya, bisnis, dan lain-lain. Dan bukan sekadar mengobrol basa-basi saja, orang-orang top ini kemudian menjelma menjadi teman dekatnya. Kemampuan komunikasi interpersonalnya memang bikin kami geleng-geleng kepala. Dan saya lihat, Miftah tidak terlihat berusaha keras untuk melakukannya. Itu adalah bakat alami.

Saya kemudian baru mengerti setelah melakukan perjalanan bersama Miftah dan Fauzan Zidni, kini Ketua Asosiasi Produser Film Indonesia, ke kampung halamannya di Padang Panjang dan Bukittinggi. Ketiga dari kami punya misi masing-masing saat itu. Miftah pulang kampung dan menjadi pembicara di Kampus Goes To Kampuang, Zidni ingin memotret keindahan Danau Maninjau dan saya sedang PDKT dengan gadis yang kelak menjadi istri saya, mutiara dari ranah Minang.

Kembali ke kenapa saya bisa mengerti tentang Miftah adalah saat saya mengunjungi rumahnya di tepian Ngarai Sianok yang terkenal indah itu. Tempat itu kemudian saya ketahui bernama Panorama. Miftah lalu bercerita tentang masa kecilnya, pengalamannya sebagai tour guide, masa sekolah, tentang ibu, bunda, kakek dan paman-pamannya. Sesekali, dia pamer kebolehannya memandu wisata dengan menjelaskan tentang Lubang Jepang yang ada di komplek wisata tersebut. Di situlah saya mengerti apa yang membentuk manusia ini.

F5-LUuOEwrwm_9nkDvKf3spAj3bEiFI2.jpg

 

Man With Idea, Passion & Network

Saat Pilkada DKI 2007, Miftah yang saat itu masih bekerja sebagai peneliti di Puskapol UI pimpinan Mbak Sri Budi Eko Wardani membuat gebrakan dengan menyelenggarakan quick count bekerja sama dengan JakTV. Saat itulah saya melihat ganasnya dynamic duo Miftah dan Hasan Nasbi, koleganya di Puskapol UI, serta dibantu oleh Achmad Zaky, mahasiswa ITB, untuk urusan IT, dalam mewujudkan suatu hal yang nyaris mustahil menjadi terwujud dan sukses. Dua nama terakhir kini tentu tidak asing lagi di telinga kita. Uda Hasan kini memimpin konsultan politik nomor wahid di Indonesia bernama Cyrus Network dan Zaky adalah CEO Bukalapak.com, situs belanja online terbaik negeri ini.

Saat kami bersama-sama terlibat dalam tim sukses salah satu calon Gubernur Sumatera Utara tahun 2008, Miftah bicara dengan mantan Bupati itu layaknya seorang teman. Satu kalimat yang saya ingat keluar dari kandidat itu adalah, “Ko ni macam Intel (kamu ini seperti intel)”, karena gerakannya yang licin seperti kisah-kisah agen CIA atau Frank Abagnale Jr. dalam film Catch Me If You Can. Ia bisa menjadi konsultan yang cerdas, guru yang baik, sekaligus juga bisa menjadi manipulator yang handal. Awalnya saya terkaget-kaget, tapi kemudian menjadi terbiasa dengan deretan tokoh yang ada dalam jaringannya.

Saya banyak belajar dari gayanya memikat lawan bicara. Terutama dari intonasi bicaranya yang naik-turun saat bercerita tentang sesuatu. Namun obat yang paling manjur sebenarnya terletak pada wawasan dan semangat. Perpaduan otak dan otot memang ampuh dalam membangun jaringan. Oleh karenanya, saya jadi membaca lebih banyak buku dan menambah wawasan. Semata-mata agar ketika datang masanya Miftah memperkenalkan saya pada jaringannya, saya bisa memanfaatkannya dengan maksimal. 

 

Sebagai Orang Sakti, Teman, Pecinta dan Junkie

Dia orang sakti. Belasan testimoni di bawah ini sudah cukuplah untuk menegaskan kesaktiannya. Bicaralah sejenak dengannya dan Anda akan mengerti kenapa Miftah ini dikisahkan dengan rasa takjub. Ya, dia ajaib. Buat Miftah, tidak ada kata mentok atau buntu. Semua pasti bisa asal mau putar otak. Agility ini yang sulit ditemukan pada kebanyakan orang. Tapi, bukan berarti dia tidak pernah jatuh dan hancur. Mereka yang ingin sukses haruslah mengecap pahitnya kegagalan. 

Miftah adalah teman yang baik dan peduli. Namun tidak mudah menjadi temannya. Ia memiliki semangat yang meledak-ledak sehingga seringkali membuat teman-temannya sendiri merasa terintimidasi dan kadang tersinggung. Ya, memang terkadang tingkahnya menyebalkan. Banyak yang bertahan tapi ada juga yang memilih menjauh dan memilih jalan sendiri. Namun belakangan, Miftah sudah sangat asik, kalem, dan bijaksana. Bisa jadi karena teman-teman seusianya kini sudah mulai berkembang secara intelektual dan pengalaman, tapi yang pasti Miftah sekarang lebih bisa menahan kesaktiannya.

Miftah juga adalah seorang pecinta yang ulung. Ia mencintai istri dan kedua anaknya dengan sangat. Dan itu terucap dan dilakukannya. Terlebih dari itu, dia adalah orang yang bertanggung jawab. Banyak dari kita mungkin yang sudah cukup repot memikirkan diri sendiri, tapi dia memilih menanggung hidup banyak orang di sekelilingnya. Baik yang sedarah maupun yang baru dikenal.

Miftah itu junkie. Pecandu. Ia kecanduan buku. Di rumahnya, ribuan buku tersusun di rak-rak buku. Ini orang selalu dekat dengan buku. Yang paling dia suka adalah buku biografi, namun semua buku dilahap. Saat mau masuk bisnis kuliner, entah berapa buku yang dia baca. Mau coba bisnis batu bara, berpuluh buku dibaca. Bagi Miftah, belum ada yang mampu menggantikan buku sebagai sumber ilmu....(more)

Answered Jan 10, 2017
Arifki Chaniago
Pengamat Politik/Political Commentator

oJmfJhxm7jeeWSUtUFBKJHonTzXmlyaw.jpg

 

Perkenalan saya dengan Uda Miftah Sabri tidak terlepas dari tangan dingin bang Ronny P. Sasmita, pengamat ekonomi politik nasional. Ia pertemukan saya  di salah satu hotel di Kota Padang, Sumatera Barat pada tahun 2016.
Saya datang dengan  Delly Ferdian (sahabat saya), malam itu begitu berharga bagi saya. Selain orang-orang hebat sumatera barat berkumpul, yang merantau secara badan pulang kampung secara pikiran dan yang dikampung badannya telah merantau secara pikiran. Dialetika yang pantas dicatat sejarah, serta di malam itu juga gerakan #Minangpride dipopulerkan. 


Saya dengan Delly rasanya menjadi anak muda yang paling beruntung saat itu. Selain kami lah yang paling muda, kesempatan itu tidak datang satu atau dua kali untuk kedepannya. Saya penasaran dengan tokoh yang menginisiasi ide itu, terciumlah lah nama uda Miftah Sabri sebagai dalang ide berlian ini.


Saya penasaran dengan tokoh ini, Bang Ronny beberapa kali menyebutnya kepada kami.  Malam itu orang-orang hebat di pertemuaan itu memangilnya “ Kudun”—tepatnya Sutan Mangkudun. Semakin penasaran saya dengan nama itu, besok harinya saya cari namanya di media sosial Facebook.


Bahagia saya melebihi tertimpa duit satu koper, Uda Miftah balas chat saya di FB, begitu ramahnya ia balas—saya padahal bukan siapa-siapa—tak sempat berdiskusi secara pribadi di Hotel satu hari yang lalu—saya hanya bisa mengangumi dari kejahuan. Saya terharu, selain chat FB saya dibalas pertemanan saya di dunia semakin dekat denganya. 


Saya selain hobi menulis opini di media massa cetak, saya setiap harinya tak lupa pula meluangkan waktu untuk berkata-kata didinding FB. Ternyata, Uda Miftah mengamati saya menganalisa fenomena Pilkada DKI Jakarta, yang jaraknya  sangat jauh antara Jakarta dan Padang. 


Tulisan saya di FB selalu dimintanya untuk diselasarkan, saya pun semakin aktif menulis di Selasar, tempat orang-orang hebat berkumpul di segala bidang. Setelah Selasar melakukan pembaharuan dengan media sosial berbagi pengalaman dan pengetahuan, saya selalu lemparkan pertanyaan dan jawab tentang isu-isu politik,  disanalah keahlian saya.
Rumah Pakan Kamih


Saya kembali dapatkan kebahagian  akhir Desember 2016, Uda Miftah Sabri mengajak saya diskusi di Rumah Pakan Kamih, Bukittinggi, yang membahas tentang local genius, saya yang dipercaya menjadi moderator membahas isi pikiran 3 pembicara: Mifta Sabri, Ronny P. Sasmita dan Sari Lenggogeni.

1ZpVa4-BWLST-qSM5nJIY3E6FXS3u9Fl.jpg


Kesempatan yang langka bagi saya, apalagi berjumpa dengan orang-orang hebat begitu mudahnya. Ini lah hadiah tahun baru 2017 yang diberikan uda Miftah untuk saya. Selain itu, tidak saya sangka-sangka saya bertemu dengan “senior moyang” saya di Ilmu Politik Unand, Uda Ilham Zikri. Uda Miftah yang bertemu secara dadakan dengan senior moyang saya itu, ia ajak untuk bertemu dan berkenalan dengan saya dan teman-teman lainnya yang juga satu kandang di ilmu politik.

j13tduX8IoWHYsI_vfYQhe8zPqUy29EX.jpg
Bang Ronny P. Sasmita mengabadikan pertemuaan yang langka dan berharga bagi saya dengan orang-orang hebat itu. Bagi saya awal tahun 2017 adalah kebahagian yang sudah saya dapatnya sebelumnya aplikasi resolusi saya tuliskan. Uda Miftah boleh kah saya ungkapkan kebahagian ini?, sekali lagi saya bahagia (sanang bana). 


 

Answered Jan 19, 2017
Iwan Setyawan
CEO Provetic dan Penulis

WmxzlINzkuVDAYG0p6TnW6Iob4O0Rxst.jpg
Saya berada di persimpangan jalan ketika bertemu dengan Miftah Sabri pertama kalinya. Gusar di antara dua pilihan. Apakah saya akan menerima tawaran kerja di Singapura atau kembali menetap di Indonesia, setelah melalang buana selama sepuluh tahun di New York City?

Miftah Sabri, anak muda yang obrolannya meledak-ledak dengan mata yang berbinar-binar, menyarankan saya untuk berkarya di Indonesia, menulis buku tentang perjalanan hidup saya. Entah ada angin dari mana, akhirnya saya mendengar dan mengikuti saran Miftah Sabri yang energinya seperti tak pernah habis ini. Enam bulan kemudian, saya kelar menuliskan buku semi autobiografi “9 Summers 10 Autumns” yang saya tuliskan khusus untuk keponakan-keponakan saya. Agar mereka tak terputus dengan sejarah keluarga dan menghargai perjuangan orang tua mereka.

Sampai saat ini,  buku tersebut telah dicetak ulang sebanyak 16 kali. Tanpa dorongan Miftah Sabri, saya mungkin tidak akan pernah menuliskan buku ini.

Dibandingkan dengan rekan sebayanya, Miftah Sabri terlihat lebih tua. Bukan saja fisik tapi juga pikirannya. Pikiran Miftah Sabri selalu menari-nari, kadang elok, kadang liar mencengangkan, kadang juga lembut penuh sastra. Miftah bisa bercerita tentang sejarah, politik dan budaya, dengan sangat cair dan mengalir. Memorinya kuat, bisa bercerita dengan lengkap dari ujung ke ujung, begitu terstruktur. Lebih dari itu, Miftah sanggup menarik benang merah moral dan nilai dari ceritanya, dengan cemerlang, sering juga menyentuh hati! Kalau di ilmu statistik, Miftah Sabri bukan rata-rata. Miftah Sabri ini outlier!

Miftah melahap banyak buku-buku penting, bergaul luas (sangat luas), dan dalam tubuhnya mengalir hawa Bukit Tinggi.  Suatu malam, dia datang ke kantor saya, dan saya tanya, apa yang dibawa Miftah Sabri dalam tasnya? Dengan gesitnya Miftah mengeluarkan buku autobiografi Mohammad Hatta. Malam itu, Miftah bercerita tentang Bung Hatta, seperti berdendang, menghidupkan riwayat hidup salah satu orang yang saya kagumi.

Saya percaya benar Miftah Sabri adalah salah satu jenius yang pernah saya temui, salah satu bintang yang akan bersinar di langit Indonesia. Tidak hanya pemikirannya yang dalam, hatinya pun demikian.

Ketika film saya “9 Summers 10 Autumns” diputar di bioskop, Miftah Sabri membawa rombongan tetangganya. Ada pedagang gorengan, sopir angkot, tukang ojek, dan lainnya . Saat itu, saya menyadari, Miftah Sabri ini penuh cinta juga. 

Answered Apr 25, 2017

bCXrwzC6xhtraS1YfTBaAkp2FkDdqXqs.jpg
Miftah Sabri, adalah sosok anak muda cerdas, jenius, spontan, pergaulan luas, yang sudah saya anggap saudara sendiri. "Kudun" begitulah request panggilan akrabnya ketika saya memanggil mas Miftah pertama kali mengenalnya, nama yang unik, namun setelah ditelusuri nick name ini berasal dari gelar Sutan Mangkudun yang dianugrahkan kepadanya. Siapa Miftah Sabri a.k.a Sutan Mangkudun? 

Saya yakin semua yang baru mengenalnya bisa menilai kecerdasan anak ini. Berfikir selalu out of the box, ide nya liar, tapi sense of logicnya kuat. Analytical thinking nya tajam, walaupun "output" dari argumentasinya kadang terkesan inconsistent, tergantung moodnya yang meledak ledak. Pyschologically, saya coba memahami, orang cerdas biasanya punya issue dengan swing mood, dan motivasinya dalam mencapai sesuatu tinggi.

Kecerdasan Miftah tentu juga dipengaruhi dari knowledge yang dia miliki, saya salut dengan kedisiplinannya menamatkan seluruh buku buku referensi favoritnya, selain itu passion of knowledgenya sangat tinggi. Social value nya kuat, namun berteman dengan Miftah harus siap2 mental, sebab Miftah sangat outspoken. Ia direct mengekpresikan apa yang ada di pikirannya, ya kadang ga pake filter, jadi kalau ketemu orang yang sensitive ya tamat lah ceritanya. Selain sense of humornya kuat, satu hal lagi yang membuat banyak orang suka berteman Miftah punya sifat penolong, dan motivator yang baik kepada siapapun. Sukses slalu untuk Miftah a.k.a Kudun dan keluarga!

Cheers, Riery

Answered Apr 25, 2017

Question Overview


and 7 more
25 Followers
10475 Views
Last Asked 2 years ago

Related Questions


Mengapa Hillary Clinton yang mendapatkan popular votes terbanyak tidak terpilih sebagai Presiden?

Apakah terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat akan mengubah wajah dunia?

Mengapa seseorang bisa tertarik bergabung dengan ISIS?

Mengapa seluruh periset di lembaga survei dan media Amerika Serikat gagal dalam memprediksi Hillary Clinton sebagai Presiden?

Beranikah Donald Trump mewujudkan janji-janji kampanyenya dengan mengusir imigran ilegal, mencegah Muslim masuk, dan memproteksi produksi AS dari gempuran barang komoditas Tiongkok?

Bagaimana cara Bareskrim Polri bekerja saat menentukan status kasus yang menjerat Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok?

Bagaimana sebenarnya hubungan Jokowi dengan Ahok?

Apakah aksi damai 411 ditunggangi kepentingan politik tertentu?

Seperti apa karakter pemimpin ideal yang pantas memimpin Jakarta?

Apa yang menyebabkan perilaku koruptif seperti tidak dapat dihilangkan di Indonesia?

Apa yang dimaksud dengan growth hacker?

Apakah kehadiran seorang growth hacker penting dalam sebuah startup digital?

Apa fungsi utama seorang growth hacker?

Apa yang dimaksud dengan growth hacking?

Siapakah menurut Anda yang akan memenangkan kompetisi di Indonesia; Go-Jek, Uber, atau Grab?

Bagaimana cara melakukan usability testing untuk sebuah produk digital?

Seberapa penting usability testing dalam proses pembuatan sebuah produk digital?

Apa yang dimaksud dengan usability testing?

Apa perusahaan teknologi terbaik di Indonesia?

Mengapa banyak orang India menjadi CEO perusahaan digital internasional?

Apa beda antara startup dan perusahaan lainnya? Mengapa istilah startup begitu naik daun?

Bagaimana cara membangun tim awal startup/perusahaan?

Bagaimana proses mendirikan Bukalapak?

Siapa pengusaha paling top di Indonesia menurut Anda?

Apa yang menyebabkan sebuah startup digital mengalami kegagalan pada tahun pertamanya?

Apakah nama perusahaan startup terbaik di Indonesia?

Apa yang menyebabkan jumlah venture capital di Indonesia tidak sebanyak di Amerika?

Apa rahasia membangun sebuah startup digital yang sukses?

Apa yang dimaksud dengan design thinking?

Apa yang dimaksud dengan design sprint?

Apa yang membuat Larry Page (pendiri Google) berbeda dengan kebanyakan orang?

Apa yang membuat Sergey Brin (pendiri Google) spesial dibandingkan dengan kebanyakan orang?

Apa yang membuat Steve Jobs (pendiri Apple) spesial dibandingkan dengan kebanyakan orang?

Apa yang membuat Steve Wozniak (pendiri Apple) spesial dibandingkan dengan kebanyakan orang?

Apa yang membuat Elon Musk (pendiri Tesla Motors dan SpaceX) spesial dibandingkan dengan kebanyakan orang?

Mengapa menteri ekonomi di Indonesia banyak yang berasal dari FE Universitas Indonesia?

Siapa lebih baik: Karen Agustiawan (Mantan CEO Pertamina) atau Sri Mulyani (Menteri Keuangan)?

Siapa Jakob Oetama dalam dunia jurnalistik dan media Indonesia?

Bagaimana peran orang-orang terdekat di balik kesuksesan seorang tokoh?

Siapakah orang yang paling berpengaruh dalam hidup Anda?

Siapa Ma Isa Lombu, Pendiri dan CBDO Selasar?

Siapa Arief Munandar?

Siapa Es Ito?

Siapa Afdhal Mahatta, alumnus FHUI?

Siapa Anies Rasyid Baswedan?

Siapa Fauzi Bowo?

Siapa Sandiaga Uno?

Siapa Sutiyoso?

Apa yang harus saya lakukan apabila terdapat "bugs" atau fitur yang tidak bekerja pada Selasar?

Apakah Selasar mengikuti Quora?

Bagaimana cara mendaftar masuk Selasar?

Mengapa Selasar menggunakan pertanyaan dan jawaban berbahasa Indonesia?

Jenis pertanyaan dan jawaban seperti apa sajakah yang dilarang di Selasar?

Bagaimana cara mengganti profil dan memunculkan short bio di Selasar?

Mengapa Selasar bisa sangat berpengaruh positif untuk perkembangan ilmu pengetahuan dan peradaban?

Jawaban dan pertanyaan seperti apa yang pantas tampil di Selasar?

Apakah Selasar dapat mengakomodasi keinginan seorang ahli untuk meningkatkan personal branding?

Apa yang paling membedakan Selasar dengan media sosial/platform lainnya?