selasar-loader

Apakah masih perlu hukuman penjara untuk menekan angka kriminalitas?

Last Updated Dec 13, 2016

2 answers

Sort by Date | Votes
Rion Aja
Alumnus Kriminologi | Petugas Penjara

hSdXJf8ybBgOnwXgQNI8-KezQM8xL30D.png

Penjara adalah bentuk paling primitif dari model penghukuman. Kini masyarakat global telah mendorong upaya keadilan restoratif yang cenderung pada upaya pemulihan diantara pelaku, korban, dan masyarakat.

Indonesia kini mulai berjalan kearah itu dengan melakukan "latihan" pada penanganan hukum terhadap Anak melalui Undang-undang No. 11 Tahun 2012 ttg Sistem Peradilan Pidana Anak (UU SPPA). Meskipun masih sangat hijau dalam pelaksanaan keadilan restoratif, namun UU SPPA cukup baik guna mengembalikan khittah masyarakat Indonesia yang mengedepankan musyawarah untuk mencapai mufakat dalam menyelesaikan permasalahan yang ada.

 

sumber gambar: nusakini.com

Answered Dec 15, 2016
Iqrak Sulhin
Ketua Departemen Kriminologi FISIP UI

Saat ini mungkin sulit untuk membayangkan negara tanpa penjara. Penjara, setidaknya sampai saat ini, dinilai sebagai bentuk penghukuman paling rasional di dalam mencegah kejahatan. Ada dua argumentasi yang diajukan mengenai bagaimana penjara dapat mencegah kejahatan. Pertama, penjara melakukan inkapasitasi, menahan seseorang, membuatnya jauh dari masyarakat sehingga tidak lagi membahayakan. Kedua, penjara dinilai mampu melakukan rehabilitasi, sehingga penjahat tidak lagi memiliki kecenderungan mengulangi kejahatan.

Ide penjara yang muncul abad ke-18 dipengaruhi oleh perkembangan ilmu pengetahuan tentang manusia. Di dalam Discipline and Punish (1979) Foucault menjelaskan bagaimana ilmu tentang manusia telah mempengaruhi munculnya penjara sebagai bentuk penghukuman yang rasional. Ilmu yang berkembang saat itu menjelaskan bahwa perilaku manusia dapat dimodifikasi, melalui pendisiplinan. Strategi pendisiplinan yang dinilai efektif adalah melalui regularitas kegiatan yang dilakukan di dalam penjara. Sebagaimana masih diterapkan sampai saat ini, di dalam penjara diterapkan time table, yang mengatur seluruh kegiatan narapidana dari bangun hingga tidur kembali. Regularitas kegiatan ini merupakan upaya normalisasi, menjadikan tubuh-tubuh yang patuh.

Tapi pertanyaannya, apakah penjara menjerakan? Atau apakah penjara mampu menekan angka kejahatan? Pertanyaan ini telah muncul lama, dan jawabannya akan berbeda, tergantung perspektifnya. Bila dilihat dari sisi ilmu tentang manusia yang menganggap perilaku manusia dapat dimodifikasi, maka jawabannya penjara mampu menekan kejahatan. Namun bila dilihat secara empiris dari sisi output, banyak yang meragukan bahwa penjara itu menjerakan. Hingga saat ini, pengukuran mengenai efektifitas pemenjaraan masih belum mengkonfirmasi secara meyakinkan bahwa penjara mampu menekan kejahatan. Hal mana tidak termasuk kenyataan bahwa penjara memang mengurung penjahat sehingga dalam waktu tertentu masyarakat akan aman.

Pada tahun 1974, penelitian-penelitian mengenai efektifitas penjara (khususnya Robert Martinson) bahkan sampai menyimpulkan bahwa nothing works, penjara tidak ada gunanya sama sekali. Bahkan penjara menyebabkan kondisi seseorang menjadi lebih buruk. Dalam disertasi Sulhin (2014), dikatakan penjara adalah praktek penghukuman yang destruktif. Sebuah praktek yang paradoks dengan ide rehabilitatif bahkan reintegrasi sosial. Gresham M Sykes, dalam the pain of imprisonment, telah menjelaskan bahwa pemenjaraan hanya mengakibatkan penderitaan. Demikian pula yang dijelaskan oleh Erving Goffman dalam Assylum.

Khusus di Indonesia, belum ada penelitian yang benar-benar mengkonfirmasi bahwa pemenjaraan dapat mencegah residivisme. Kecuali hanya klaim subjektif dari pemerintah, dalam hal ini Direktorat Jenderal Pemasyarakatan. Bahwa Ditjenpas telah berusaha keras melakukan pembinaan, namun belum ada fakta empiris yang membuktikan bahwa pembinaan tersebut efektif. Dalam banyak kasus, para pelaku kejahatan adalah mereka yang berstatus karir kriminal, di mana sebelumnya mereka sudah pernah dipenjara. Kasus residivisme narapidana teroris adalah contoh lain.

Lantas apakah penjara menjadi tidak lagi relevan? Menurut saya, penjara setidaknya menahan orang-orang yang berbahaya sementara waktu. Termasuk menahan mereka yang berstatus pelaku kejahatan sangat serius seperti terorisme, katakanlah seumur hidup. Terlepas dari persoalan biaya, dalam hal menahan mereka yang masuk kategori tersebut penjara masih bisa dinilai rasional.

Satu hal penting lainnya, sistem peradilan pidana, semestinya tidak memandang adalah penting memenjarakan sebanyak mungkin kriminal. Sejatinya tidak semua yang dipenjara adalah mereka yang memang seharusnya dipenjara. Seperti mereka yang murni pengguna narkoba. Memenjarakan pelanggar hukum kategori ringan bahkan berarti memasukkan mereka ke dalam sekolah tinggi kejahatan. Karena mereka yang masuk penjara dapat belajar menjadi penjahat yang lebih profesional.

Answered Jan 19, 2017

Question Overview


3 Followers
1120 Views
Last Asked 3 years ago

Related Questions


Apa itu Kriminologi?

Apa itu yang "victim provocation theory"?

Apa yang terbayangkan pertama sekali ketika mendengar kata 'kejahatan'?

Bagaimana cara mencegah upaya penculikan anak?

Apa hukuman yang layak bagi pelaku pembunuhan Italia Chandra Kirana yang menyerahkan diri ke polisi?

Apakah penjara adalah bentuk hukuman yang tepat untuk terpidana kasus white collar crime?

Apa makna simbolik di balik status tersangka Ahok dan Buni Yani?

Apakah sanksi hukum terbaik yang menimbulkan efek jera bagi seorang mata-mata? Mengapa?

Apa yang membuat danau-danau UI dijadikan lokasi pembuangan mayat korban mutilasi?

Penjara apa yang paling menyeramkan di Indonesia?

Mengapa banyak koruptor kelas kakap mendapatkan remisi hukuman?

Seseorang menodongkan senjatanya di kepalamu, menanyakan apa agamamu. Apa jawabanmu?

Mungkinkah kita bisa mencegah potensi kejahatan yang ada di dalam diri manusia/kita?

Apakah saya orangtua yang baik, saya membawa anak saya ke polisi karena mengkonsumsi narkoba?

Apa pendapat anda mengenai peristiwa perampokan dan pembunuhan yang terjadi di Pulomas?

Mengapa kejahatan atau tindakan kriminal sering terjadi di daerah perkotaan?

Apakah ulama harus selalu dibela walaupun mereka jelas melanggar hukum?

Mengapa Lampung terkenal sebagai provinsi yang tinggi tingkat kriminalitasnya?

Profesi apakah Pembimbing Kemasyarakatan itu?

Menurut anda, apakah Anas Urbaningrum akan keluar dari penjara untuk melawan SBY?

Apakah yang harus dilakukan bila ditahan polisi, tetapi tidak memiliki akses dan uang untuk jasa pengacara?

Mengapa tahanan di lapas bisa kabur? Bagaimana pengawasannya?

Mengapa Hillary Clinton yang mendapatkan popular votes terbanyak tidak terpilih sebagai Presiden?

Apakah terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat akan mengubah wajah dunia?

Mengapa seseorang bisa tertarik bergabung dengan ISIS?

Mengapa seluruh periset di lembaga survei dan media Amerika Serikat gagal dalam memprediksi Hillary Clinton sebagai Presiden?

Beranikah Donald Trump mewujudkan janji-janji kampanyenya dengan mengusir imigran ilegal, mencegah Muslim masuk, dan memproteksi produksi AS dari gempuran barang komoditas Tiongkok?

Bagaimana cara Bareskrim Polri bekerja saat menentukan status kasus yang menjerat Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok?

Bagaimana sebenarnya hubungan Jokowi dengan Ahok?

Apakah aksi damai 411 ditunggangi kepentingan politik tertentu?

Seperti apa karakter pemimpin ideal yang pantas memimpin Jakarta?

Apa yang menyebabkan perilaku koruptif seperti tidak dapat dihilangkan di Indonesia?

Kinerja ketua KPK siapa yang paling baik; T. Ruki, Antasari Azhar, Busyro Muqoddas, Abraham Samad, atau Agus Rahardjo?

Mengapa selama ini kaum pria lebih banyak tersangkut kasus korupsi dibandingkan perempuan?

Apakah hukuman yang paling memberikan efek jera untuk koruptor laki-laki?

Apakah hukuman yang paling memberikan efek jera untuk koruptor perempuan?

Apakah Anda setuju hukuman mati untuk para koruptor?

Mengapa sosok Presiden RI secara otomatis juga menjabat sebagai panglima militer tertinggi di negeri ini?

Apakah keluarnya surat perintah penyidikan juga berarti ada tersangka?

Bagaimana negara seharusnya melindungi HAM atas saksi kasus korupsi?