selasar-loader

Apa mungkin menafsirkan ayat Alquran menggunakan teori dari Barat?

Last Updated Dec 13, 2016

2 answers

Sort by Date | Votes
Pramudya Oktavinanda
A devoted disciple of Law and Economics, UChicago Style!

Hasil gambar untuk menafsirkan alquran

Sebelum menjawab pertanyaan ini, saya harus menjelaskan terlebih dulu soal dua kubu besar dalam dunia tafsir Quran. Yang pertama berpendapat bahwa ada teknik ajeg dasar yang harus dimiliki oleh setiap penafsir di mana tanpa adanya teknik tersebut, penafsiran tidak dimungkinkan atau tidak dapat diterima. Yang kedua berpendapat dan menimbang bahwa kitab suci sudah sedemikian aksesibel kepada semua orang, seharusnya semua orang bisa membaca sendiri dan mencoba memahami apa esensi dari kitab suci itu, termasuk Quran.

Pihak pertama biasanya dianggap elitis, sementara pihak kedua dianggap omong kosong karena sebenarnya tidak punya kemampuan untuk menafsir. Tapi dalam prakteknya, pendekatannya tidak konsisten dan cenderung tergantung pada kepentingan. Saya sudah sering kali menemui kasus di mana pihak pertama meminta orang lebih bebas dan rileks dalam membaca Quran karena dirasa tidak sesuai dengan apa yang mereka yakini dan di lain waktu, meminta orang lain berhenti berkomentar karena takut kebablasan atau lagi-lagi tidak sesuai dengan apa yang diyakini. Demikian pula sebaliknya dengan pihak yang kedua.

Kenyataannya, orang tidak bisa dilarang dari membaca dan menafsir Quran sendiri-sendiri. Dan yang namanya pemikiran itu tidak bisa dipenjara, sekali keluar, susah untuk dibendung, kecuali secara natural terlupakan dan tidak dianggap lagi. Demikian juga dengan tafsir Quran. Debat antara kedua kubu ini menurut saya kontraproduktif karena tidak substantif. Padahal, ada banyak isu yang penting untuk dikaji dan keilmuan masa kini semakin multidisipliner. Dan ini membawa kita ke inti pertanyaan di atas. Saya tidak setuju dengan penggunaan istilah teori dari Barat. Teori itu berguna kalau dia fungsional, dari mana pun asalnya, dan teori yang fungsional bisa digunakan untuk mengembangkan lebih jauh tafsir atas ayat-ayat Quran dalam menghadapi dunia yang semakin kompleks.  

Seandainya saya dulu berpikir dengan kotak yang sempit dan terbatas itu, saya tidak akan tahu kalau teori istislah dalam Ushul Fiqh punya padanan dalam bentuk Law & Economics, saya juga tidak akan tahu kalau pendekatan penafsiran teks hukum dalam Quran dan hadis pun mempunyai padanannya semua dalam teori hukum di Amerika Serikat. Literalism mirip dengan Zhahiriyah, Ahl Hadits mirip dengan originalism, penafsiran ayat dengan ayat mirip dengan intratextualism, dan sebagainya. Teori-teori ini bisa saling mengisi dan berkontribusi positif bagi perkembangan pemikiran Islam. Kalau kita ingin Islam tetap relevan sampai akhir zaman, harus jelas apa yang bisa dikontribusikan dari Islam itu sendiri. Jadi, Islam tidak bisa ketinggalan dari pendekatan interdisipliner yang kini semakin canggih itu. Ilmu ekonomi, matematika, statistik, sains data, dan sebagainya, akan sangat membantu dalam menafsirkan kembali ketentuan-ketentuan hukum yang ada dalam hukum Islam. Ingat, klaim sempurna itu mudah, membuktikannya sulit, mempertahankannya apa lagi.  

Cap Barat atau Timur menurut saya ujung-ujungnya cuma menimbulkan kecurigaan yang tak perlu. Ilmu dianalisis untuk kompetisi semu, alih-alih menggunakan ilmu untuk membawa kemajuan, ujung-ujungnya malah asyik saling menjelekkan. Sedikit-sedikit perang pemikiran, walaupun saya bingung apa yang akan diraih dari "perang" ini dan apa kontribusi aktualnya nanti untuk hukum dan kebijakan publik yang lebih baik bagi masyarakat. Jadi, sebaiknya kita sudahi perdebatan Barat vs Timur vs Utara vs Selatan. Tidak relevan. Cari yang fungsional, karena ini era kolaborasi!

Ilustrasi via blogspot.com

Answered Dec 13, 2016
Mhd Fadly
KPI Fak. Agama Islam UMSU, Alumni Pon-pes Ibadurrahman Stabat

ggiTHi2Yz34yJG9pr9-JVfR2NY5bd-1F.jpg

Menjawab pertanyaan ini, saya teringat akan penjelasan tentang sejarah pola berpikir dalam menafsirkan Al-Qur'an dari seorang sahabat saya sekaligus guru saya, ustad Reza Prima, dan akan saya coba mengulas kembali di sini.

Di masa Rasulullah, jika ada permasalahan yang terjadi di kalangan para sahabat, maka Rasulullah adalah tempat satu-satunya untuk bertanya terkait masalah sistem Islam dan ketauhidan. Setelah Rasulullah wafat, para sahabat menjadi tempat bertanya dan selalu menisbatkan hukum pada pengalaman mereka dalam menjalankan sunnah bersama Rasulullah. Akan tetapi, pada masa itu, ekspansi pengembangan dakwah belum terlalu melebar, pola berpikir hanya seputar suku Arab dan permasalahannya juga tidak begitu kompleks.

Setelah Islam berkembang luas dan akhirnya dapat menguasai Roma dan Persia yang notabenenya bangsa Roma dan bangsa Persia sudah mendahului peradaban maju mereka dan sudah mempunyai ilmu filsafat (kontruksi berpikir) lebih dahulu dari pada Islam. Maka, bagi daerah-daerah yang dulunya dikuasai oleh bangsa Roma dan mereka sudah masuk ke dalam Islam, mereka mempunyai pertanyaan-pertanyaan yang menggelitik cara berpikir mereka tentang Islam itu sendiri. Mereka membaca Al-Qur'an dan mencoba memahami Al-Qur'an dengan kontruksi berpikir yang mereka dapatkan dan mereka mulai mempertanyakannya.

Pada masa itu, sahabat mengimani Al-Qur'an hanya sekedar sami'na wa atho'na. Hal tersebut berarti, apa kata Rasulullah itu adalah sebuah kebenaran. Pada masa itu, Rasulullah masih hidup sehingga tidak ada pertentangan akan hal tersebut. Namun, pada masa Imam Hanafi kecil, di mana ia tidak bertemu Rasulullah dan Islam sudah berkembang luas mengakibatkan ia menemukan banyaknya orang-orang yang membicarakan Islam dan banyak pendapat akan Islam itu sendiri, terutama daerah yang jauh dari Makkah dan Madinah, seperti daerah Roma dan Persia. 

Maka dimulailah pada Zaman Imam Abu Hanifah, Islam, Al-qur'an, dan Hadits ditafsirkan dengan membangun kontruksi berfikir yang jelas walaupun pada saat itu belum dibuat secara tertulis. Keluarlah metodologi Imam Abu Hanifah yang diikuti Metodologi Imam Malik dan pada akhirnya kontruksi berfikir Islam pertama sekali ditulis oleh Imam Syafi'i dengan buku Ushul Fiqh. Buku tersebut mengandung kaidah-kaidah (aturan-aturan) bagaimana metodologi Imam Syafi'i mengeluarkan hukum.

Dari sejarah ini, saya menyimpulkan untuk menjawab pertanyaan ini bahwa menafsirkan Al-Qur'an mungkin saja dengan menggunakan teori dari barat, tetapi saya memberi batasan teori tersebut adalah aturan-aturan atau kaidah-kaidahnya dan harus disertakan dengan pendukung-pendukung lainnya.

 

sumber gambar: muslim.or.id

Answered May 30, 2017