selasar-loader

Bagaimana cara terbaik melupakan kesalahan orang lain setelah kita memaafkannya?

Last Updated Dec 6, 2016

 

 

5 answers

Sort by Date | Votes
Amril Taufik Gobel
Suka mendengarkan nasihat yg baik

PcoaeS56e_mGlPTsZIqTdF71F8egzq_h.jpg

 “Rela Memaafkan Adalah Jalan Terpendek Menuju Tuhan”(Gerard G.Jampolsky dalam bukunya “Forgiveness, The Greatest Healer of All”)

Saya mengelus pipi dengan rasa geram luar biasa.

Bahkan oleh ayah sendiri sekalipun, saya tidak pernah merasakan ditampar seperti ini. Sakitnya terasa sampai ke tulang sum-sum. Harga diri saya seakan dicabik-cabik.Kemarahan berkecamuk dalam dada, namun saya tak kuasa melampiaskannya. Saya tak berdaya. Pasrah.

Saya ketika itu hanyalah satu diantara sekitar 200-an junior-junior lelaki mahasiswa baru berkepala plontos yang sedang menjalani OPSPEK Fakultas Teknik 20 tahun lalu yang memang terkenal keras gemblengannya. Memang bukan hanya saya kena tampar Senior yang galak itu tapi juga kawan-kawan saya yang lain. Tapi saya menandainya. Saya mengingat wajah dan namanya. Kelak, janji saya dalam hati, saya akan membalasnya, yang membuatnya lebih menderita dan menyesal telah melakukan kekejian seperti ini pada saya.
 

Begitulah, saya memendam dendam itu dalam-dalam. Berkobar menyala dalam hati, dari waktu ke waktu. Kian membara. Setiap kali berpapasan di kampus, saya selalu membuang muka. Bahkan melihat wajahnya pun saya sangat muak. Sampai dua tahun kemudian, saat itu tiba.

Karena memiliki prestasi akademik yang lumayan bagus, saya diangkat sebagai asisten dosen di salah satu laboratorium di jurusan Teknik Mesin. Saat saya melihat daftar peserta praktikum, sebuah nama yang sudah saya “incar” tertera disana. Sang Senior itu memang tipikal mahasiswa yang malas kuliah dan sering bolos, sehingga saya–yang dua tahun lebih muda usia angkatannya–justru mampu melampaui mata kuliah yang seharusnya sudah dilaluinya..

Saya tersenyum. Berbagai rencana jahat meraja dalam fikiran saya untuk membuat sang senior sadis itu menderita. Termasuk kemungkinan untuk tidak akan meluluskannya dalam sesi praktikum yang berada dibawah tanggung jawab saya setelah sebelumnya “menyiksa”-nya dengan bolak-balik melakukan asistensi. Lebih “sadis” lagi, saya merancang akan membuatnya kian “menderita” dengan pontang-panting pulang pergi Makassar-Maros (rumah kediaman saya yang berjarak 40 km) untuk menemui saya. Dia mesti mendapat balasan yang setimpal atas apa yang sudah dilakukannya.

Adzan Sholat Jum’at telah tiba. Saya bersama beberapa kawan bergegas menuju lokasi Jum’atan di mesjid kampus.

Uraian khatib di mimbar yang membahas tentang Pentingnya Memaafkan membuat saya terpana. Sang Khatib memberikan sebuah teladan menarik dari Rasulullah Muhammad SAW yang memiliki akhlak mulia dan hati seluas samudera dalam menyikapi persoalan. Ketika beliau berhasil menaklukkan Kota Mekkah, tak sedikitpun beliau melakukan tindakan-tindakan balas dendam pada penduduk kota yang sebelumnya pernah memboikot, memusuhi, membenci, mengusir bahkan mengancam akan membunuh keluarga beliau,

Abu Sofyan bin Harb, sang pemimpin kejahatan kaum Quraisyi tidak menjadi sasaran pembalasan dendam Rasul, Malah saat penaklukan tersebut Rasulullah dengan tegas menyatakan dan menjamin “Siapa saja yang masuk rumah Abu Sofyan Bin Harb akan selamat!”. Perlakuan serupa dilakukan oleh Rasul pada istri Abu Sofyan, Hindun Bin ‘Uthbah yang pernah menghina Paman kesayangan beliau Hamzah bin Abdul Mutthalib, dengan mengunyah jantungnya saat perang Uhud.

Pribadi Rasul yang pemaaf ini mencerminkan teladan yang sangat berharga. Memaafkan sesungguhnya bukanlah sebuah pekerjaan mudah, apalagi terhadap seseorang yang telah melecehkan, melukai dan menginjak-injak harga diri. Sebagai pihak yang telah dirugikan atau disakiti, kita akan senantiasa memiliki kecenderungan untuk ingin membalas. Dan ini manusiawi.

Persoalannya kemudian adalah, seringkali tindak pembalasan seringkali melebihi apa yang telah dilakukan pada kita. Ada tambahan “bonus” didalamnya. Contoh : Seorang kawan mencela kita, “Kamu Bodoh!”. Kita lalu membalasnya dengan lebih “kejam” : “Masih mending begitu, dibanding kamu, yang tidak hanya bodoh, juga jelek tak karuan!”. Bisa dibayangkan apa yang terjadi bila pola komunikasi konyol seperti ini berlangsung.

Memaafkan tentu jauh lebih mulia. 

Karena membalas sakit hati justru berpotensi menghasilkan sakit hati lagi dan tak akan berkesudahan. Ada sebuah mitos yang berkembang dan menyatakan bahwa upaya memaafkan sesungguhnya adalah untuk kepentingan orang yang kita maafkan. Kondisi ini kemudian membuat kita berfikir, kita menjadi rugi dua kali. Yang pertama karena kita telah disakiti dan yang kedua kita mesti memberi maaf kepada orang yang telah menyakiti kita. Fatalnya, ada yang memelihara “luka” itu sepanjang hidupnya dengan berjanji dalam hati tidak akan memaafkan orang yang menyakitnya itu sampai mati.

Memaafkan sejatinya adalah untuk kepentingan kita sendiri. Memaafkan akan membuat hati kita menjadi damai. Kita akan melepaskan diri dari pengaruh orang yang telah menyakiti kita. Ketidakmauan memaafkan justru akan menggerogoti kebahagiaan kita. Sebuah penelitian pernah menyebutkan ketidakrelaan memaafkan memiliki dampak dashyat pada tubuh kita : mempengaruhi sirkulasi darah dan sistem kekebalan, menciptakan ketegangan dan meningkatkan tekanan pada jantung serta otak. Rasa marah yang terpendam dapat menyebabkan depresi berat, pusing, susah tidur,cemas, ketakutan dan tentu tidak bahagia. Jadi sebenarnya, orang yang kita maafkan itu tidak mendapat apa-apa dengan kita memaafkannya, justru kita sendiri yang mendapat keuntungan serta manfaat memaafkan orang itu.

Musuh kita sesungguhnya bukanlah orang yang membenci kita, tapi justru orang yang kita benci. Kunci kebahagiaan itu berada pada bagaimana cara pandang kita. Ketika kita meletakkan “bahagia” itu didalam hati dan tidak dipengaruhi faktor-faktor external, kita akan menemukan sebuah kedamaian hakiki. Tidak perlu memusingkan perilaku orang lain, yang penting belajarlah memaafkan.

Memberi maaf sebenarnya tidak harus melalui sebuah proses meminta maaf terlebih dahulu. Ini bisa berlangsung satu arah. Tak perlu menunggu seseorang datang kepada kita...(more)

Answered Jan 15, 2017

Move on.

taruh dia ditempat dimana seharusnya dia berada di pikiran mu.

Dipojok? Boleh.

 

Answered Jan 17, 2017
nus gamar
women .. foodenthusiasts .. travelers .. bookworm ..

Menikmati kehidupan dan menjalani kesibukan. Beres, deh....

OmXZgJ5agpCckpmty5qGv0J6c3HRSB4C.jpg

via pixabay.com

Answered Feb 27, 2017

lamukiS3X6bjXvGyO46HXW7xjLKSh3PN.jpg

Nggak usah dipikirin. Sibukkan saja diri Anda sendiri.

Answered Mar 17, 2017
Venusgazer E P
A man who loves reading, writing, and sharing

2cX_A279F_1dtdy9r7XNEkuqTc24Ts1H.jpg

Memaafkan adalah memaafkan. Apakah jika kita tidak bisa melupakan kesalahan orang lain, bukankah berarti kita tidak memaafkannya? 

Memaafkan itu meniadakan dan melepaskan segala dendam dan amarah terhadap orang yang berbuat salah. Tidak ada keinginan untuk menyakiti dia, baik lewat perkataan maupun perbuatan. 

Sesuatu yang menyakitkan hati tidak mungkin bisa dilupakan begitu saja. Saya rasa, itu sangat manusiawi sekali. Semakin kita ingin melupakan, semakin kuat menancap dalam hati dan pikiran kita.

 

Answered Mar 18, 2017

Question Overview


7 Followers
1337 Views
Last Asked 3 years ago

Related Questions


Apa nasihat terbaik yang pernah Anda dapatkan?

Bagaimana menjelaskan bahwa ada kemungkinan kehidupan lain selain di Bumi ini?

Apa motto hidup paling keren?

Apakah seseorang mempunyai karakter bawaan yang tidak bisa diubah?

Apa ketakutan terbesar dalam hidupmu? Mengapa?

Siapakah cinta pertama Anda?

Seberapa pentingkah olahraga bagi Anda ?

Apa yang Anda lakukan ketika mengalami kesulitan dalam menentukan pilihan?

Apa pengalaman paling bermakna dalam kehidupan Anda?

Siapakah orang yang paling berpengaruh dalam kehidupan Anda?

Apa sepatah kata/nasihat yang Anda berikan kepada generasi muda berusia 15-20 tahun?

Apa tips/trik yang bisa dilakukan dalam 5 menit dan bisa mengubah hidup kita di masa depan?

Bagaimana cara terbaik untuk memaafkan diri sendiri?

Apa nasihat Anda untuk remaja SMA sebagai bekal menghadapi masa depannya?

Apa nasihat Anda untuk remaja kuliahan sebagai bekal menghadapi masa depannya?

Apa itu makna Sura Dira Jayaningrat Lebur Dening Pangastuti?

Bagaimana cara terbaik menjawab pertanyaan "Kapan nikah?"?

Benarkah kebangkitan umat Islam akan hadir dari Indonesia?

Apakah merek parfum yang paling cocok untuk wanita?

Apakah perbedaan antara parfum dan cologne?

Apa yang membuat harga parfum begitu mahal?

Apakah wanita mengenakan parfum untuk menarik perhatian pria atau ada alasan lainnya?

Apa tujuan laki-laki memakai parfum?

Bagaimana cara memakai parfum yang benar?

Bagaimana cara memakai cologne yang benar?

Apakah parfum yang aromanya paling maskulin?

Apakah parfum yang aromanya paling feminin?

Parfum pria apa yang aromanya bisa diterima oleh semua orang?