selasar-loader

ia shalih? ia shalihah? kamu?

Last Updated Jan 26, 2019

1 answer

Sort by Date | Votes
Anne Amalia Rahmanita
PM BAKTI NUSA 9 | Sekolah Bisnis IPB 2015

Aku cemburu.

Iya, aku cemburu pada mereka yang konsisten mengedepankan Allah dalam hidupnya.

AllahSementara aku di sini masih bingung dan setengah-setengah menjalani segala sesuatu. Sering berdalih mengalasankan Allah atas seluruhnya namun masih jauh dalam pelaksanaannya.

Adapun kak Zahra dan kak Fahmi, penulis cerita-cerita inspiratif di balik fahmizahranotes.com. Sempat Allah tempatkan belajar melalui titikbalik.id dengan beliau berdua, namun saat itu belum sepenuhnya aku tertarik pada kisah mereka berdua.

Adalah wara’,

Wara’ yang syar’i adalah meninggalkan hal-hal yang dapat membahayakan nasib kita di akhirat, termasuk di dalamnya adalah meninggalkan hal-hal yang haram dan syubhat karena perkara syubhat itu terkadang merupakan hal membahayakan nasib seseorang di akhirat.

 

kata yang membuatku tersangkut lama pada salah satu judul bacaan yang kubaca mulai dari postingan pertama pada pilihan kategori ‘our story‘.

Di sana tertulis,

“Apalagi ada satu sikap hidup Fahmi yang, dalam bahasa Charles Duhigg, menjadi kebiasaan kunci. Yakni adalah sikap wara’-nya.”

“Fahmi sangat berhati-hati dalam hampir semua hal. Fahmi takut sekali Allaah tidak ridho dengan apa yang ia lakukan, dalam hal sederhana apapun. Sikapnya inilah yang saya kira membuat hidup Fahmi diliputi berbagai kehokian dan keberkahan.”

Nyess…..

Langsung mikir, selama ini masih belum utuh dalam menghindari sesuatu yang belum pasti kehalalannya (tidak/belum ada label halal dalam kemasan), masih menggunakan akun salah satu bank konvensional juga dengan pembenaran masih berlaku sebagai ktm, selama ini juga masih sering lupa niatin apapun karena Allah. Pas udah selesai baru keinget dan ngucap. Masih sering lalai. Padahal udah jelas Allah Maha Besar. Yang lain berarti kecil, Allahlah yang harus selalu didahulukan.

Dunia, dunia, dunia. Berdalihnya dikerjakan atas perintah-Nya. Tapi tak semua pengambilan keputusan didasarkan atas mengingat Allah. Adanya nanggunglah, alasan lingkungan yang belum fahamlah, inilah, itulah. Wallaahi, jauhnya dirimu dari ilahi, ta..

Belum habis shubuh tidur lagi. Lagi-lagi ber-excuse sama Allah karena baru tidur setengah tiga. Padahal udah berkahnya hilang, meski dengan alasan-alasan tadi masih tidak mengapa (baca: https://rumaysho.com/10435-hukum-tidur-pagi-setelah-shubuh.html).

YaaAllah, ampuni hambamu ini. Berikan ia rasa cemburu yang banyak terhadap yang haq, hingga akhirnya ia terus mengikis kebathilan dalam hidupnya sembari semakin dekat pada waktu Engkau ambil dirinya..

Answered Jan 26, 2019