selasar-loader

Bisnis dan Etika? Bagaimana seharusnya?

Last Updated Jan 26, 2019

Sebagaimana yang kita tau, sering kali proses sebuah bisnis tidak berjalan sesuai dengan etika bisnis yang seharusnya. Sesungguhnya etika seperti apa yang seharusnya dimiliki oleh seorang pebisnis dan bagaimana aplikasinya? Dijawab dengan analisa contoh kasus tentu akan semakin baik. Terima kasih!:)

1 answer

Sort by Date | Votes
Anne Amalia Rahmanita
PM BAKTI NUSA 9 | Sekolah Bisnis IPB 2015

Sebagai seorang yang beragama (saya seorang muslim), lillaahi ta'aala harus selalu menjadi landasan kita. Adapun memandang dan menjalankan seluruh sisi kehidupan harus didasari dasar yang jelas, Qur'an dan Hadist. Berikut salah satu makalah yang pernah saya tulis dalam pemenuhan tugas matakuliah yang diampu oleh bapak kebanggaan, bapak Yudha Heryawan Asnawi.

 

ANALISIS KASUS KETIDAKSESUAIAN UPAH DAN JAM KERJA PEKERJA PERUSAHAAN NIKE DENGAN ETIKA BISNIS DALAM PERSPEKTIF ISLAM.

Nike. Inc[1] merupakan perusahaan multinasional terkemuka yang menghasilkan produk sepatu dan perlengkapan olah raga ternama di dunia. Perusahaan ini menyerahkan semua pengerjaan produksinya ke pihak ketiga termasuk Indonesia. Hal ini dimulai pada akhir 1980-an dengan adanya pergolakan buruh di Korea Selatan. Nike lantas memindahkan operasi mereka ke Thailand Selatan dan Indonesia, dalam mencari tenaga kerja lebih murah dan tidak merepotkan. Upah di kedua negara tersebut disebut-sebut sebagai salah satu yang murah karena hanya memakai seperempat tarif dari yang dibayarkan di Korea Selatan.

            Adapun dua dari beberapa kasus Nike berasal dari PT Hardaya Aneka Shoes Industri (HASI) dan PT Naga Sakti Paramashoes (NASA) yang adalah dua pabrik yang selama ini memproduksi sepatu Nike yang tiba-tiba diputuskan kontraknya tanpa alasan. Sejumlah 14.000 orang pegawai merekapun gelisah karena terancam PHK yang tiba-tiba berakhir setengah tahun pasca surat pemutusan kontrak. CEO HASI, Ibu Hartati beranggapan Nike hanya mengada-ada tentang pemutusan kontrak karena HASI termasuk 15 besar pabrik Nike dengan performa terbaik yang bahkan return produknya hanya 2% tidak sebesar pabrik Nike lain (11-12%).

            Semua tuntutan Nike terhadap kinerja HASI dan NASA tidak masuk akal. Setelah masalah pemutusan kontrak secara sepihak, keluhan tentang manajemen Nike juga terjadi di Sukabumi, Jawa Barat. Pou Chen Group, perusahaan asal Taiwan yang memproduksi Converse karena telah diambil Nike ini sangat tidak memperhatikan hak-hak pekerja. Pekerja sering ditendang oleh supervisor saat salah memotong sol sepatu. Hal ini menjadi dilema karena jika diam mereka terus disiksa, namun jika membawa berita ini keluar, mereka akan dipecat dengan tidak hormat.

            Pabrik ini memiliki 10.000 orang pekerja yang didominasi oleh perempuan. Mereka menerima bayaran 50 sen per jam, makanan, dan barak untuk menginap. Pada Maret dan April lalu pekerja dipukul hingga lengannya terluka, bahkan sampai berdarah. Ketika pekerja mengeluhkan tindakan tersebut, tanpa pertimbangan apapun akan langsung dipecat. Hampir di seluruh pabrik Nike di Indonesia melakukan pelanggaran jam kerja dan lain-lain, fakta di lapangan menunjukkan bahwa:

a. 50% hingga 100% buruh Nike, jam kerja melebihi yang ditentukan oleh Code of Conduct.

b. 25% hingga 50% pabrik Nike, buruh bekerja selama 7 hari dalam seminggu.

c. 25% hingga 50% pabrik Nike, jam kerja buruh melebihi jam kerja yang diatur secara hukum.

d. 25% pabrik Nike, pekerja dihukum ketika menolak bekerja lembur.

            Fakta lain yang mengejutkan adalah mengenai upah para buruh yang tidak sebanding dengan harga sepasang sepatu yang dibandrol oleh Nike. Gaji sebulan dari buruh pabrik HASI (tidak termasuk lembur) yang sudah bekerja selama 10 tahun sebesar Rp 900.000,- atau sama dengan $97,8 (dengan kurs Rp 9.200/ $1) yang berarti mereka hanya mendapatkan RP 30.000,-/harinya atau setara dengan $ 3,3. Dengan pendapatan harian sebesar $3,3 terebut mereka bisa membuat sejumlah sepatu Nike yang dijual oleh pabrik ke Nike di kisaran $11-$20. Sedangkan untuk satu pasang sepatu Nike bisa dijual seharga $60 (Rp 552.000,-). Berdasarkan gambaran tersebut, Nike sudah dipastikan tidak menghargai buruh dengan sepantasnya. Mengingat dengan gaji Rp 900.000,-/bulan bagi buruh pabrik yang tinggal di Tangerang adalah jauh dari cukup karena harga kebutuhan maupun ongkos transportasi semakin meningkat.

            Hal ini sangat miris mengingat pekerja juga memiliki hak yang seharusnya dipenuhi oleh pihak perusahaan. Upah dan jam kerja saja sudah tidak sesuai dengan keseharusan dan aturan di CoC (Code of Conduct) itu sendiri. Ditambah pula dengan kekerasan supervisor pada pekerja hanya karena mereka mencoba menyuarakan hak-haknya. Laknatullah. Sesuai dengan prinsip yang mendasari etika Islami, seharusnya tidak seperti ini pemuliaan Nike terhadap pekerjanya.

            Adapun menurut Ketua STEI Yogyakarta[2] terdapat empat prinsip ketenagakerjaan dalam Islam. Bagian keempat, yakni kelayakan upah pekerja menjadi batasan kuat yang krusial dan menjadi kewajiban bagi yang mempekerjakan. Sebegitu pentingnya masalah upah pekerja ini, Islam memberi pedoman kepada para pihak yang mempekerjakan orang lain bahwa prinsip pemberian upah harus mencakup dua hal, yaitu adil dan mencukupi.

            Prinsip tersebut terangkum dalam sebuah hadist Nabi yang diriwayatkan Imam Al-Baihaqi, “Berikanlah gaji kepada pekerja sebelum kering keringatnya, dan beritahukan ketentuan gajinya, terhadap apa yang dikerjakan”. Seorang pekerja berhak menerima upahnya ketika sudah mengerjakan tugas-tugasnya, maka jika terjadi penunggakan gaji pekerja, hal tersebut selain melanggar kontrak kerja juga bertentangan dengan prinsip keadilan dalam Islam. Selain ketepatan pengupahan, keadilan juga dilihat dari ‘proporsionalnya tingkat pekerjaan dengan jumlah upah yang diterimanya’.

            Di masa sekarang, proporsionalitas tersebut terbahasakan dengan sistem UMR (Upah Minimum Regional). Lebih dari itu, Islam juga mengajarkan agar pihak yang mempekerjakan orang lain mengindahkan akad atau kesepakatan mengenai sistem kerja dan sistem pengupahan, antara majikan dengan pekerja. Jika adil dimaknai sebagai kejelasan serta proporsionalitas, maka kelayakan berbicara besaran upah yang diterima haruslah cukup dari segi kebutuhan pokok manusia, yaitu pangan, sandang serta...(more)

Answered Jan 26, 2019

Question Overview


1 Followers
229 Views
Last Asked 10 months ago

Related Questions


Apa beda antara startup dan perusahaan lainnya? Mengapa istilah startup begitu naik daun?

Bagaimana cara membangun tim awal startup/perusahaan?

Apa yang menyebabkan sebuah startup digital mengalami kegagalan pada tahun pertamanya?

Apakah nama perusahaan startup terbaik di Indonesia?

Apa yang menyebabkan jumlah venture capital di Indonesia tidak sebanyak di Amerika?

Apa rahasia membangun sebuah startup digital yang sukses?

Apa yang dimaksud dengan design thinking?

Apa yang dimaksud dengan design sprint?

Mengapa design sprint digunakan untuk membuat produk digital?

Apa yang membuat Steve Jobs sukses membangun Apple?

Setujukah Anda dengan Euthanasia di mana orang meminta untuk dibunuh karena alasan tertentu?

Apa alasan orang menutup mulutnya dengan tangan ketika membersihkan gigi menggunakan tusuk gigi?

Apakah itu eutanasia dan dapatkah Anda menjelaskan sejarah serta perkembangannya?

Apa alasan Anda setuju atau tidak setuju Eutanasia, yaitu permintaan seseorang untuk dibunuh?

Apa saja jenis-jenis Euthanasia?

Apa itu rasis?

Apa tanggapan Anda tentang jual beli organ tubuh manusia?

Bagaimana penjelasan tentang seseorang yang pintar ilmu agama tetapi bodoh dalam hal adab dan tata krama?

Mengapa Tuhan membuat surga, padahal insentif tertinggi umat Islam adalah ridha Allah?

Apabila poligami adalah ibadah, mengapa banyak perempuan muslim yang tidak mau melakukannya?

Bagaimana cara mengakhiri konflik antara Sunni dan Syiah?

Apakah Syiah bukan Islam?

Mengapa Nabi Muhammad tidak mengizinkan Ali mempoligami Fatimah?

Apa yang dimaksud dengan bid'ah?

Apa yang dimaksud dengan munafik?

Apa yang dimaksud dengan halal?

Apa yang dimaksud dengan haram?

Apa yang dimaksud dengan mubah?