selasar-loader

Lima Sebab Yang Mendatangkan Cinta Menurut Perspektif Al-Qur’an

Last Updated Dec 24, 2018

Oleh : Xaka Noor H. A. (Mahasiswi Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)

 

Selagi masih hidup di dunia, pernahkah kita renungkan, lebih banyak mana waktu yang kita habiskan, untuk akhirat atau dunia? Selagi masih ada waktu, sudahkan meniatkan setiap aktivitas kita sebagai ibadah kepada-Nya? manusia pencinta dunia lupa akan tujuan sejati penciptaan-Nya. Tak lagi mengingat bahwa pengambarannya di dunia tak lain berbekal amal. 
Dunia dengan segala kelezatannya, yang seharusnya menjadi jalan mendekatan diri kepada-Nya, justru menjadi sumber petaka. Maka perlulah langkah-langkah konkret untuk bisa bergaya hidup di akhirat oriented, menjadikan Allah Subhanahu wa ta’ala sebagai puncak tujuan dan pencapaian hidup, mencintai Allah Subhanahu wa ta’ala lebih dari apapun. Mengajak kita untuk menyadari bahwa dunia yang sesaat ini menentukan nasib kita selamanya di akhirat.
Sering kali manusia terperangkap dengan cintanya, sehingga menjadikan kecintaan itu sebagai prioritas yang paling utama. Secara tidak disadari, manusia telah terbuai kenikmatan sesaat. Sehingga tidak sedikit dari manusia, karena kecintaannya telah meresap dalam sanubarinya, menempuh segala cara untuk mendapatkan keinginan itu. Ironisnya, ada yang menghalalkan berbagai cara. Pertanyaannya, bagaimana agar manusia tidak terperangkap kecintaan duniawi, sehingga fitrah yang diberikan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala itu tidak menjadi bomerang baginya di akhirat kelak, tetapi sebaliknya menjadi sebuah nikmat yang halal dan ridha-Nya?
Untuk menjawab hal itu, kita harus kembali kepada Al-Qur’an dan nasehat Rasulullah. kita harus mendahulukan cinta kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya dari segala apa pun. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman : ”Katakanlah, ’Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai dari pada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusan-Nya’. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik”.(Q.S At-Taubah : 24).
Cinta akan menghinggapi siapa saja, tidak mengenal status sosial dan usia, bahkan orang yang sudah tua renta sekalipun dapat merasakan kehadiran cinta. Demikianlah, mencintai dan dicintai adalah sesuatu yang sangat manusiawi. Ia merupakan anugerah yang diberikan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala kepada setiap manusia.
Sebagai seorang hamba kita pasti ingin disukai, dicintai, dan disayangi oleh Allah Subhanahu wa ta’ala. Sebab, orang yang disukai, dicintai, dan disayangi oleh Allah Subhanahu wa ta’ala adalah orang yang akan selamat, sejahtera, dan bahagia tidak hanya di dunia namun juga di akhirat kelak.
Siapakah orang yang disukai, dicintai, dan disayangi oleh Allah Subhanahu wa ta’ala?
Pertama, adalah orang yang bertaqwa kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman : ”(Bukan demikian), sebenarnya siapa yang menepati janji (yang dibuat) nya dan bertaqwa, maka sesungguhnya Allah Subhanahu wa ta’ala menyukai orang-orang yang bertaqwa”. (Q.S Ali Imran : 76). 
Menurut ahli hakikat, selain takut kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, taqwa berarti pula takut kepada azab (siksaan) dan ancaman, karena itu hamba-hamba Allah Subhanahu wa ta’ala yang bertaqwa (al-muttaqin) adalah orang-orang yang secara konsisten menjalankan segala perinta-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Tidaklah mengherankan jika mereka termasuk golongan orang-orang yang dicintai oleh Allah Subhanahu wa ta’ala.
Kedua, orang yang dicintai oleh Allah Subhanahu wa ta’ala adalah orang-orang yang bertaubat kepada-Nya (at-tawwabin). Bertaubat berarti menyadari seluruh dosa dan kesalahan yang pernah diperbuat dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi, serta memperbanyak amaliah kebajikan untuk menutupi kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan. 
Orang yang bertaubat akan dimasukan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala ke dalam golongan hamba yang dicintai-Nya. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman : ”Mereka bertanya kepadamu tentang haid, katakanlah (wahai Muhammad) : Haid itu adalah suatu kotoran. Oleh sebab itu, hendaklah kamu menjauhkan diri dari perempuan (istri) di waktu haid, dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah Subhanahu wa ta’ala kepadamu. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa ta’ala menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri”. (Q.S.Al- Baqarah : 222).
Pada ayat tersebut dijelaskan bahwa manusia biasa tidak bisa luput dari perbuatan dosa atau kesalahan, kita pun menyadari bahwa di dunia ini tidak ada manusia yang sempurna dalam arti bersih dari kesalahan, dosa, kekhilafan. Solusi yang baik, segera memoho ampunan kepada-Nya atas kesalahan atau dosa yang sudah diperbuatnya baik dengan segaja atau tidak disengaja.
Ketiga, orang yang dicintai Allah Subhanahu wa ta’ala adalah orang-orang yang suka mensucikan dirinya. Mereka disebut dengan golongan (al-mutathahhirin), yaitu orang-orang yang membersihkan sekaligus mensucikan dirinya dari kotoran jasmaniah maupun rohaniah. Agama Islam sangat menjunjung tinggi nilai dan konsep kebersihan, bahkan Islam menganggap kebersihan sebagian dari iman. Hal ini disinggung oleh Rasulullah dalam hadits shahih : 
الْإِيمَانِ شَطْرُ الطُّهُورُ
” Kebersihan itu separuh iman”. (H.R. Muslim)
Pada hadits tersebut dijelaskan agar kita menjaga kebersihan berarti membentengi diri dari terserang penyakit, maka penting hidup secara bersih dan sehat. Karena bekal kesehatan itulah yang membuat seseorang lebih mudah dalam menjalankan ibadah.
Keempat, orang yang dicintai oleh  Allah Subhanahu wa ta’ala adalah orang-orang yang bersabar (as-shabirin), hal ini dapat dilihat di Al-Qur’an. ”Dan berapa banyaknya Nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut(nya) yang bertaqwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka dijalan Allah Subhanahu wa ta’ala, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah Subhanahu wa ta’ala mencintai orang-orang yang sabar”. (Q.S Ali-Imran : 146).
Pada ayat tersebut dijelaskan bahwa sifat sabar termasuk budi pekerti yang luhur (al-akhlaq al-karimah) orang yang bersabar adalah orang-orang yang dapat menerima aneka macam cobaan dan ujian dari Allah Subhanahu wa ta’ala dengan sikap berlapang dada. Sifat sabar sangatlah penting bagi seseorang dalam kehidupannya.
Kelima, orang yang dicintai oleh Allah Subhanahu wa ta’ala adalah orang-orang yang bertawakal. Bertawakal artinya berserah diri kepada qadha (ketetapan) dan qadar (takdir) Allah Subhanahu wa ta’ala, setelah berusaha sekuat tenaga sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Tawakal adalah langkah terakhir setelah berikhtiar, bersabar dan berdo’a.
Mengapa Allah Subhanahu wa ta’ala mencintai orang-orang yang bertawakal? karena orang yang bertawakal (al-mutawakkil) tidak merasa sombong (takabur), selalu bersikap tawaduk (rendah hati), tidak angkuh, terutama di hadapan Allah Subhanahu wa ta’ala. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman : ” Kemudian apabila membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa ta’ala menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya”. (Q.S Ali-Imran : 159).
Pada ayat tersebut dijelaskan bahwa ada beberapa persyaratan agar seseorang menjadi hamba-hamba yang disukai, dicintai dan disayangi oleh Allah Subhanahu wa ta’ala, sehingga kita mampu memenuhi persyaratan tersebut agar kita termasuk golongan orang-orang yang mendapat keselamatan, ketenangan dari kebahagian di dunia maupun di akhirat nanti.  Amin.

No answers yet

Question Overview


2 Followers
55 Views
Last Asked 3 months ago

Related Questions


Bagaimana cara mendidik anak sehingga menjadi anak yang saleh dan salehah?

Bagaimanakah cara yang tepat untuk menanggulangi kenakalan remaja?

Apa keistimewaan pesantren Gontor dibanding pesantren-pesantren lain di Indonesia?

Apa anda pikirkan tentang sejarah keagamaan yang di Indonesia?

Apakah keadilan di bumi pertiwi sudah benar ditegakkan? Apa ciri - cirinya?

Kalau sulit istikamah dalam beribadah, apa solusinya?

Apa itu gaudeamus igitur?

Apa sajakah fakta yang menarik tentang keberagaman agama di Indonesia?

Bolehkah orang muslim mempelajari ajaran dari agama lain?

Mengapa Alquran hanya menyebutkan 25 nabi?

Bagaimana sistem pendidikan di Jerman berlangsung selama Perang Dunia II?

Adakah kajian ilmiah tentang parfum?

Bagaimana cara yang tepat untuk menanggulangi kenakalan remaja, khususnya seks bebas?

Apa saja faktor yang menginspirasi bagi remaja untuk melakukan kenakalannya?

Apakah rehabilitasi sudah cukup untuk menghentikan pengguna narkoba yang sudah terjerumus?

Apa yang mempengaruhi kaum remaja untuk melakukan seks bebas?

Apakah bisa kita menghilangkan seks bebas di kalangan remaja?

Apa itu sistem pendidikan anak Montessori?

Pada usia berapakah anak akan mampu menyerap pendidikan seks usia dini dengan baik?

Mengapa Tuhan membuat surga, padahal insentif tertinggi umat Islam adalah ridha Allah?

Apabila poligami adalah ibadah, mengapa banyak perempuan muslim yang tidak mau melakukannya?

Bagaimana cara mengakhiri konflik antara Sunni dan Syiah?

Apakah Syiah bukan Islam?

Mengapa Nabi Muhammad tidak mengizinkan Ali mempoligami Fatimah?

Apa yang dimaksud dengan bid'ah?

Apa yang dimaksud dengan munafik?

Apa yang dimaksud dengan halal?

Apa yang dimaksud dengan haram?

Apa yang dimaksud dengan mubah?