selasar-loader

Gus Dur : Merajut Kembali Merah Putih

Last Updated Nov 23, 2018

Bhineka Tunggal Ika merupakan semboyan bangsa Indonesia yang tersurat pada Lambang Negara Indonesia, Garuda Pancasila. Bhineka Tunggal Ika mempunyai arti yaitu “berbeda-beda tetapi tetap satu”. Hal ini dapat dimaknai bahwa meskipun Bangsa Indonesia beranekaragam budaya, bahasa daerah, suku, ras, golongan, agama, dan kepercayaan namun pada hakikatnya tetap satu kesatuan. Sejarah telah membuktikan, berbagai peristiwa yang dimotori oleh segenap kalangan tertentu telah berusaha menggoyah keutuhan bangsa ini agar bangsa ini bercerai-berai. Namun usaha tersebut dapat dipatahkan oleh para tokoh bangsa melalui berbagai upaya startegis agar persatuan dan kesatuan bangsa agar tetap terjaga.

            Dr. (H.C) K.H Abdurrahman Wahid atau yang sering akrab disapa Gus Dur merupakan salah satu tokoh muslim Indonesia dan pemimpin politik yang peduli persatuan dan kesatuan bangsa. Gus Dur lahir di Jombang pada tanggal 7 September 1940, beliau merupakan Presiden Republik Indonesia Ke-4 yang menjabat pada tanggal 20 Oktober 1999 sampai 23 Juli 2001. Selama berkarir sebagai Presiden Republik Indonesia, beliau memegang peranan penting dalam menjaga keutuhan bangsa. Melalui ide pluralisme yang didasarkan pada nilai-nilai Islam rahmatan lil alamin, beliau mampu menjembatani berbagai perbedaan diantara bangsa Indonesia. Alhasil keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tetap terjaga, sehingga Merah Putih dapat terajut kembali. Oleh sebab itu, Gus Dur pernah di beri julukan “Bapak Pluralisme”. Hal ini karena kontribusi ide, gagasan, dan pikirannya yang berhasil merawat persatuan dan kesatuan dalam hidup berkeragaman.

Sebagai “Bapak Pluralisme”, Gus Dur juga berhasil menorehkan tiga pesan penting yang bersifat kontekstual yang sesuai dengan situasi kebangsaan yang terjadi, baik pada ranah nasional maupun internasional. Pemikiran pluralisme yang di iringi implementasi praktis dalam kehidupan secara total, menjadikan suasana kedamaian dalam kehidupan yang  majemuk. Kehadiran Gus Dur dimanapun berada juga selalu membawa kesejukan dan keteduhan sehingga menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi siapapun yang berharap perlindungan.

Pertama, merawat persaudaraan lintas etnis dan agama. Gus Dur pada saat menjadi presiden maupun sebelum dan sesudahnya, beliau selalu konsisten dalam merawat persaudaraan lintas etnis dan agama. Beliau selalu menjaga hubungan baik dengan tokoh-tokoh lintas etnis dan agama. Beliau juga pernah memberikan kebebasan ruang gerak bagi Etnis Tionghoa sebagai bagian dari Bangsa Indonesia yang merdeka. Hal ini dilakukan melalui kebijakan dengan mencabut Intruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 yang mengatur agama, kepercayaan, dan adat istiadat keturunan Tionghoa. Pada masa Pemerintahan Orde Baru, Intruksi Presiden tersebut digunakan untuk menetapkan kebijakan asimilasi guna mencari solusi dalam mengatasi masalah Tionghoa. Masyarakat Keturunan Tionghoa di Indonesia dianjurkan agar membaur dengan masyarakat lokal. Kebijakan tersebut didukung dengan kebijakan lainnya yaitu pelarangan sekolah dan penerbitan bahasa Tionghoa; penggantian nama; dan lain-lain. Adapun isi Intruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 mengenai hal ini yang tertuang pada Lampiran C adalah sebagai berikut:

Tanpa mengurangi jaminan keleluasaan memeluk agama dan menunaikan ibadatnya, tata cara ibadat Tionghoa yang memiliki aspek afinitas kultural pada negeri leluhur, pelaksanaannya harus dilakukan secara intern dalam hubungan keluarga atau perorangan.

Atas dasar Intruksi Presiden tersebut masyarakat Keturunan Tionghoa di Indonesia dilarang mempertontonkan adat istiadatnya di depan umum, akibatnya mereka mereka tidak bebas untuk melestarikan budaya leluhur. Kebijakan asimilasi tersebut  mengakibatkan pengikisan bahasa dan kebudayaan Tionghoa, pembubaran organisasi Tionghoa, dan penutupan sekolah-sekolah Tionghoa. Kebijakan asimilasi tersebut merupakan kebijakan yang paling radikal. Hal itu karena kebijakan tersebut telah menghilangkan tiga pilar penyangga keberadaan masyarakat dan identitas kultural Keturunan Tionghoa yaitu sekolah, media massa, dan asosiasi Keturunan Tionghoa. Gus Dur menganggap bahwa sebuah masalah yang serius, oleh sebab itu kemudian beliau pada masa pemerintahannya menindaklanjuti dengan menerbitkan Keputusan Presiden Nomor 19 Tahun 2001. Keputusan Presiden tersebut diterbitkan pada tanggal 9 April 2001 dengan sebuah kebijakan yaitu meresmikan Imlek sebagai hari libur fakultatif. Hal itu sebagai wujud bahwa masyarakat Tionghoa telah terbebas dari kebijakan yang ada dalam Intruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967.

            Disamping itu, Gus Dur juga menjadi sosok pahlawan bagi masyarakat Papua. Ada empat langkah yang dicapai Gus Dur untuk membela hak masyarakat Papua, diantaranya yaitu mendukung tokoh masyarakat Papua untuk menggelar Kongres Nasional Rakyat Papua; mengganti nama Irian Jaya menjadi Papua; memberi motivasi hingga warga Papua meneteskan air mata; serta Gus Dur rela dilengserkan karena Freeport dan masa depan Papua. Gus Dur mengizinkan dan memberikan bantuan kepada tokoh Papua untuk menggelar Konres Rakyat Papua II. Kongres yang dihadiri oleh lebih dari 5.000 peserta dari seluruh penjuru kawasan Papua tersebut menjadi sebuah sejarah penting. Kongres tersebut diperdengarkan melalui siaran radio dan didengar oleh ratusan ribu orang. Kongres tersebut membahas tentang aspirasi warga, penuntasan pemutarbalikan sejarah Papua, dan pentingnya penyelesaian berbagai kasus pelanggaran HAM di Papua serta pengabaian hak-hak dasar warga Papua terutama dalam bidang ekonomi sosial dan budaya. Gus Dur bersedia memperjuangkan hasil-hasil kongres tersebut, dengan harapan tidak akan melepaskan diri dari NKRI. Pada tanggal 1 Januari 2000 Gus Dur mengganti nama Irian Jaya menjadi Papua, hal ini agar mereka merasa nyaman dengan sebutan papua sesua dengan akar budaya mereka karena pada masa sebelumnya kata “Papua” merupakan kata yang tabu diucapkan dan sering diidentikkan dengan gerakan sparatisme Organisasi Papua Merdeka (OPM). Gus Dur juga berhasil memberikan motivasi dan mengembalikan harga diri warga Papua sebagai bagian utuh dari NKRI. Gus Dur juga rela di lengserkan karena Freeport dan masa depan Papua. Gus Dur akan mengeluarkan kebijakan guna meninjau kembali kontrak karya yang pernah dibuat pada masa orde baru agar menguntungkan warga papua. Gus Dur  memberikan teladan bagi persaudaraan lintas etnis dan agama, sesuatu yang sekarang ini menjadi krisis serta tantangan bagi para pemimpin bangsa.

            Kedua, membangun jembatan agama dan nasionalisme. Gus Dur walaupun berasal dari kalangan yang berlatar belakang agama Islam sangat kuat namun sifat kebangsaan dan nasionalismenya sangat tinggi. Beliau mempunyai sikap toleransi antar umat beragama yang sangat baik. Baginya Islam dan nasionalisme tidak dapat dipisahkan dan tidak dapat berdiri sendiri-sendiri di negeri ini. Keduanya secara totalitas merupakan satu kesatuan yang tidak dapt terpisahkan satu dengan yang lain. Di tengah sengitnya pertentangan terhadap sikap nasionalisme kebangsaan dan diskusi tentang pancasila dan agama, beliau telah menyumbangkan gagasan dan teladan bagi bangsa melalui kibrahnya di kancah nasional.

            Ketiga, manuver politik dalam isu Pelestina-Israel. Manuver politik luar negerinya sangat bagus. Beliau berusaha menjalin hungan baik dengan kedua negara, malaupun sering memperoleh pro kontra dari berbagai kalangan. Beliau mengingginkan tidak adanya agresi peperangan diantara keduannya. Baginya keamanan dan kedamaian dunia itu sangat penting untuk diperjuangkan.

            Sederet gagasan dan perbuatan teleh beliau torehkan dalam sejarah perjalanan bangsa. Terntu saja hal ini masih terdapat kelebihan dan kekurangan. Sebagai kaum milineal, kita sudah sepantasnya meneladani dan mengamalkan keteladanan beliau dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini agar merah putih tetap terajut dengan kuat.

 

 

No answers yet