selasar-loader

Apa isi piagam Jakarta?

Last Updated Mar 14, 2018

tfInCmaYF5sL8N-YQWDzJGk5aJ5qxpr5.jpg

3 answers

Sort by Date | Votes
Duljahari Wilakamar
Orang tua yang senang belajar apa saja

Piagam Jakarta adalah bukti sejarah sekaligus saksi bisu atas kebesaran hati golongan Islam dalam mengawal proses kemerdekaan Indonesia yang ditakdirkan terjadi dua bulan kemudian. Masyarakat Indonesia yang kini terpecah belah oleh isu agama dan politik identitas perlu melihat kembali Piagam Jakarta dengan arif sebagai warisan kebesaran hati para bapak bangsa untuk mengesampingkan segenap ego yang dipunya.

Kehadiran Piagam Jakarta tidak terlepas dari diskusi panjang para anggota Dokuritsu Junbi Cosakai (Badan Penyelidik Usaha-usaha Kemerdekaan Indonesia/BPUPKI) yang keanggotaannya semakin ramping dalam Dokuritsu Junbi Inkai(Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia/PPKI). BPUPKI dibentuk pada 29 April 1945 sebagai realisasi janji Jepang untuk memberi kemerdekaan pada Indonesia. Anggotanya dilantik 28 Mei 1945. Persidangan pertama dilakukan keesokan harinya, 29 Mei 1945, sampai dengan 1 Juni 1945.

Kala itu, Republik Indonesia sedang dipersiapkan kelahirannya. Berbagai ideologi golongan dituang dan diolah sedemikian rupa demi membentuk dasar negara yang dapat diterima semua suku bangsa dan golongan. Para pendiri bangsa ini menyadari, Indonesia adalah sebuah bangsa yang dihasilkan bukan melalui kesamaan budaya, melainkan melalui perasaan senasib sepenanggungan akibat penjajahan. Karena itu, diperlukan sebuah dasar negara yang mampu merangkul semua pihak. Tugas itu diserahkan kepada sekelompok kecil orang yang tergabung ke dalam Panitia Sembilan. Anggotanya antara lain adalah Ir. Soekarno, Mohammad Hatta, A.A. Maramis, Abikoesno Tjokrosoejoso, Abdul Kahar Muzakir, H.A. Salim, Achmad Subardjo, K. H. Wahid Hasjim, dan Muhammad Yamin.

Panitia Sembilan menyusun naskah yang semula dimaksudkan sebagai teks proklamasi kemerdekaan, namun akhirnya dijadikan Pembukaan atau Mukadimah dalam UUD 1945 melalui sidang kedua BPUPKI. Naskah inilah yang disebut Piagam Jakarta.

Piagam Jakarta berisi garis-garis pemberontakan melawan imperialisme-kapitalisme dan fasisme, serta memulai dasar pembentukan Negara Republik Indonesia. Yang membanggakan adalah Piagam Jakarta berusia lebih tua dari Piagam Perdamaian San Francisco (26 Juni 1945) dan Kapitulasi Tokyo (15 Agustus 1945) sekaligus menjadi sumber berdaulat yang memancarkan Proklamasi Kemerdekaan dan Konstitusi Republik Indonesia.

Setelah melalui proses olah pemikiran yang luar biasa, lahirlah Piagam Jakarta yang butir-butirnya menjadi teks pembukaan UUD 1945 hingga saat ini.

Bahwa sesoenggoehnja kemerdekaan itoe ialah hak segala bangsa, dan oleh sebab itoe maka pendjadjahan di atas doenia haroes dihapoeskan, karena tidak sesoeai dengan peri-kemanoesiaan dan peri-keadilan. Dan perdjoeangan pergerakan Kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat jang berbahagia dengan selamat sentosa mengantarkan Rakjat Indonesia ke-depan pintoe-gerbang Negara Indonesia, jang merdeka, bersatoe, berdaulat, adil dan makmoer. Atas berkat Rahmat Allah Jang Maha Koeasa, dan dengan didorongkan oleh keinginan jang loehoer, soepaja berkehidoepan kebangsaan jang bebas, maka Rakjat Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaannja. Kemoedian daripada itoe, oentoek membentoek soeatoe Pemerintah Negara Indonesia jang melindoengi segenap Bangsa Indonesia dan seloeroeh toempah darah Indonesia, dan oentoek memadjoekan kesedjahteraan oemoem, mentjerdaskan kehidoepan bangsa, dan ikoet melaksanakan ketertiban doenia jang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disoesoenlah kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itoe dalam suatu Hoekoem Dasar Negara Indonesia, jang terbentoek dalam soeatoe soesoenan negara Repoeblik Indonesia jang berkedaaulatan Rakjat, dengan berdasar kepada:

  1. Ketoehanan, dengan kewajiban mendjalankan sjariat Islam bagi pemeloek-pemeloeknja
  2. Kemanoesiaan jang adil dan beradab
  3. Persatoean Indonesia
  4. Kerakjatan jang dipimpin oleh hikmat, kebidjaksanaan dalam permoesjawaratan/perwakilan
  5. Keadilan sosial bagi seloeroeh Rakjat Indonesia.

Djakarta, 22-6-1945

***

Hari Kemerdekaan Indonesia akhirnya jatuh pad 17 Agustus 1945. Ir.Soekarno dan Drs.Mohammad Hatta mewakili rakyat Indonesia untuk melakukan proklamasi kemerdekaan. Sehari kemudian, Undang-undang Dasar 1945 disahkan. Kata “Muqaddimah” diganti menjadi “Pembukaan” oleh PPKI.

Tidak hanya kata itu yang diubah. Butir pertama yang berisi kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya turut diganti menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa oleh Drs. M. Hatta. Ada cerita di balik hal ini.

Perubahan ini dilakukan atas usul A.A. Maramis. Untuk menjaga integrasi bangsa yang baru diproklamasikan, Bung Karno segera menghubungi Bung Hatta. Mereka berdua menemui wakil-wakil golongan Islam demi membicarakan masalah ini. Semula, wakil golongan Islam, di antaranya Teuku Moh Hasan, Mr. Kasman Singodimedjo, dan Ki Bagus Hadikusumo keberatan dengan usul penghapusan itu. Setelah diadakan konsultasi mendalam, akhirnya mereka menyetujui penggantian rumusan “Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” dengan rumusan “Ketuhanan Yang Maha Esa” demi keutuhan Indonesia. Pagi harinya, tanggal 18 Agustus 1945, usul penghilangan rumusan “dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” dikemukakan dalam rapat pleno PPKI.

Pada akhirnya, Piagam Jakarta menjadi dokumen historis berupa kompromi antara pihak Islam dan pihak kebangsaan dalam Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) untuk menjembatani perbedaan dalam agama dan negara. Piagam Jakarta adalah cara kita mengatur hubungan agama dan negara. Menurut saya, Piagam Jakarta adalah jalan tengah untuk menjadi nasionalis sekaligus religius, berbeda dengan dasar negara Perancis yang begitu memisahkan nasionalisme dan religiusitas.

 

Answered Mar 14, 2018
Andara Geofani
Suka membaca, Engineer, Hobi Makan

Berikut merupakan naskah lengkap yang berisi Piagam Jakarta. 

Bahwa sesoenggoehnja kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu maka pendjadjahan di atas doenia haroes dihapoeskan, karena tidak sesoeai dengan peri-kemanoesiaan dan peri-keadilan.

Dan perdjoeangan pergerakan Kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat jang berbahagia dengan selamat sentosa mengantarkan Rakjat Indonesia ke-depan pintoe-gerbang Negara Indonesia, jang merdeka, bersatoe, berdaoelat, adil dan makmoer.

Atas berkat Rahmat Allah Jang Maha Koeasa, dan dengan didorongkan oleh keinginan jang loehoer, soepaja berkehidoepan kebangsaan jang bebas, maka Rakjat Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaannja.

Kemudian daripada itoe, oentoek membentoek suatoe Pemerintah Negara Indonesia jang melindoengi segenap Bangsa Indonesia dan seloeroeh toempah darah Indonesia, dan untuk memadjoekan kesedjahteraan oemoem, mentjerdaskan kehidoepan bangsa, dan ikoet melaksanakan ketertiban doenia jang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disoesoenlah kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itoe dalam suatu Hoekoem Dasar Negara Indonesia, jang terbentoek dalam suatu susunan negara Repoeblik Indonesia jang berkedaoelatan Rakjat, dengan berdasar kepada:

  1. Ketoehanan, dengan kewadjiban mendjalankan sjari'at Islam bagi pemeloek2-nja*
  2. Kemanoesiaan jang adil dan beradab
  3. Persatoean Indonesia
  4. Kerakjatan jang dipimpin oleh hikmat, kebidjaksanaan dalam permoesjarawaratan/perwakilan
  5. Keadilan sosial bagi seloeroeh Rakjat Indonesia.

Djakarta, 22-6-2605

Panitia Sembilan

Ir. Soekarno
Mohammad Hatta
Sir A.A. Maramis
Abikusno Tjokrosujoso
Abdul Kahar Muzakir
H. Agus Salim
Sir Achmad Subardjo
Wahid Hasyim
Sir Muhammad Yamin.

Pada saat penyusunan UUD pada Sidang Kedua BPUPKI, Piagam Jakarta dijadikan Mukadimah (preambule) dalam Pembukaan UUD 1945 Negara Republik Indonesia.

Lalu pada pengesahan UUD 45 18 Agustus 1945 oleh PPKI, istilah Mukadimah diubah menjadi Pembukaan UUD setelah butir pertama diganti menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa. Perubahan butir pertama dilakukan oleh Drs. M. Hatta atas usul A.A. Maramis setelah berkonsultasi dengan Teuku Muhammad Hassan, Kasman Singodimedjo, dan Ki Bagus Hadikusumo.

Naskah Piagam ini ditulis dengan menggunakan ejaan Republik dan ditandatangani oleh Ir. Soekarno, Mohammad Hatta, A.A. Maramis, Abikoesno Tjokrosoejoso, Abdul Kahar Muzakir, H.A. Salim, Achmad Subardjo, Wahid Hasjim, dan Muhammad Yamin.

Rumusan awal Pancasila selama ini dianggap oleh masyarakat Indonesia dikemukakan pertama kali oleh Soekarno sewaktu berpidato dalam sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada 1 Juni 1945.

Ternyata Pancasila yang dikenal sebagai dasar negara saat ini mengalami sejumlah proses perubahan dari rumusan awal oleh Soekarno.

Berikut merupakan urutan Pancasila dalam rumusan yang dibuat Soekarno pada 1 Juni 1945 adalah:

  1. Kebangsaan Indonesia
  2. Internasionalisme atau perikemanusiaan
  3. Mufakat atau demokrasi
  4. Kesejahteraan sosial
  5. Ketuhanan yang Maha Esa

Menurut Soekarno pada saat itu, lima asas itu merupakan weltanschauung atau pandangan mendasar, filsafat, juga hal fundamental yang digali dari jati diri bangsa Indonesia. Dalam pidatonya satat itu, Soekarno memang mempertanyakan dasar yang akan digunakan jika Indonesia merdeka. Pertanyaan itu yang menjadi pemicu untuk merumuskan dasar negara Indonesia.

Namun BPUPKI kemudian membentuk tim yang terdiri dari sembilan orang untuk merumuskan kembali Pancasila yang dicetuskan Soekarno.

y2cPnrxAPNDMUf52WKyG213CLyExEp6q.jpg

Sembilan orang itu, yang disebut sebagai Panitia Sembilan, kemudian mengubah susunan Pancasila versi Soekarno.

  1. "Ketuhanan Yang Maha Esa" ditempatkan menjadi sila pertama.
  2. Sila kedua yang dinyatakan Soekarno sebagai "Internasionalisme atau perikemanusiaan" diganti menjadi "Perikemanusiaan yang adil dan beradab".
  3. Adapun sila "Persatuan Indonesia" digunakan untuk menggantikan "Kebangsaan Indonesia.
  4. Sedangkan pada sila keempat, digunakan kata "Kerakyatan".
  5. Sedangkan terakhir, digunakan sila "Kesejahteraan Sosial".

Menurut Hatta, pada 22 Juni 1945 rumusan hasil Panitia Sembilan itu diserahkan ke BPUPKI dan diberi nama Piagam Jakarta.

Namun, ada sejumlah perubahan mendasar yang diubah pada sila pertama pada Piagam Jakarta. Adapun sila pertama yang tercantum adalah "Ketuhanan Yang Maha Esa dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya".

Hamka Haq, seorang sejarawan, menulis bahwa sila itu menjadi hasil kompromi antara ideologi Islam dan ideologi kebangsaan yang mencuat selama rapat BPUPKI berlangsung. Sejumlah pembicara dalam sidang BPUPKI juga ada yang berasal dari kalangan Islam, seperti Ki Bagoes Hadikoesoemo. Ia keberatan dengan dihapuskannya tujuh kata pada poin pertama Piagam Jakarta. Ia menilai bahwa kemerdekaan Indonesia diraih juga berkat perjuangan umat Islam.

Namun ternyata argumen itu kemudian disanggah karena ia dinilai hanya melihat bangsa Indonesia berdasarkan demografis dan mayoritas penduduk saat itu. Umat Islam di Indonesia memang mencapai angka 90 persen. Namun jika melihat kondisi geografis, khususnya di Indonesia timur, komposisinya akan berbeda sehingga pencantuman Ketoehanan, dengan kewadjiban mendjalankan sjari'at Islam bagi pemeloek2-nja dianggap tidak relevan dengan kondisi kebangsaan.

Pertimbangan lainnya adalah bahwa bangsa Indonesia merupakan sebuah gugusan kepulauan dari Sabang sampai Merauke sehingga terdapat usulan agar dasar negara tidak berdasarkan agama tertentu.

vE9FLvc_yu_xeHgSM_RV8VtvIkNbUSRR.jpg

Oleh karena itu, dalam rapat Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia pada 18 Agustus 1945, diputuskan untuk melakukan perubahan pada sila pertama dari yang ditulis pada Piagam ini.

Tujuh kata itu, "dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya", kemudian dihapus.

Hingga kemudian, rumusan Pancasila versi 18 Agustus 1945 itu menjadi seperti yang dikenal saat ini, yaitu:

  1. Ketuhanan yang Maha Esa
  2. Kemanusiaan yang Adil dan Beradab
  3. Persatuan Indonesia
  4. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan
  5. Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat...(more)

    Answered Mar 19, 2018
Zulfian Prasetyo
Penikmat sejarah

Menarik memang melihat perdebatan yang mewarnai sejarah Piagam Jakarta ini. Piagam Jakarta seakan-akan memberi ramalan pada kita bahwa nantinya, ujian terbesar bagi bangsa Indonesia adalah kompetisi antara negara dan agama. Sentimen ini benar-benar saya rasakan pada pemilihan gubernur DKI Jakarta tahun 2017 lalu.

Mengerikan sekali perdebatan-perdebatan yang dilakukan oleh masyarakat kita, seakan-akan mereka lupa sejarah Piagam Jakarta, lupa pula bahwa esensi dari pemilihan gubernur adalah untuk Jakarta yang lebih baik. Karena Jakarta adalah miniatur Indonesia, secara tidak langsung pemilihan Gubernur ini seharusnya ditujukan untuk Indonesia yang lebih baik pula.

Jadi fokusnya ke sana, bukan berusaha mengalahkan calon lain yang tidak sesuai pilihan kita. Kalau fokusnya tidak jauh-jauh dari urusan menang dan kalah, wah bisa-bisa bangsa ini tinggal menghitung hari saja seperti kata Mbak KD.

Saya sendiri berpikir seperti ini. Sebaiknya, kita memang sering-sering membaca lembaran sejarah, termasuk Piagam Jakarta ini. Lembaran sejarah yang dimaksud tidak hanya sejarah yang ditulis bangsa sendiri, melainkan juga sejarah yang ditulis oleh orang luar.

Mengapa demikian? Karena ini membuat kita bisa lebih bijak dan terlatih untuk berpikir dari sudut pandang orang lain, tidak hanya sudut pandang diri sendiri yang sangat mungkin menimbulkan bias akibat subjektivitas kita sebagai manusia biasa.

Saya ingat bahwa saya pernah membaca tulisan Anis Matta entah di mana. Yang jelas, waktu itu dia sempat membicarakan soal hubungan antara agama, demokrasi, pengetahuan, dan kesejahteraan.

Kira-kira begini katanya:

Pertama, agama itu membentuk karakter bangsa.

Kedua, pengetahuan itu membentuk kapasitas manusia.

Karena manusia adalah unsur terkecil dari organisasi sebesar negara, ya negara akan ikutan maju saat manusianya maju juga, baik oleh agama maupun oleh ilmu pengetahuan.

Demokrasi menciptakan keseimbangan sosial antara kebebasan dan keteraturan. Ini sepertinya berfungsi sebagai titik temu antara kebebasan dan keteraturan, karena yang terlalu bebas biasanya tidak teratur dan yang terlalu teratur biasanya tidak bebas. Coba kita ingat-ingat lagi zaman Pak Harto dengan zaman Pak Habibie itu.

Terakhir, kesejahteraan adalah output dalam bentuk standar kehidupan yang lebih berkualitas. Yah, sederhananya sih air susu lebih berkualitas dan bergizi untuk diminum alih-alih air tajin.

Membaca sejarah tentang Piagam Jakarta ini seperti membaca sesuatu yang menjadi cambuk bagi diri saya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara (asyik...). Begitu luar biasanya golongan Islam yang tentu memiliki andil yang tidak kecil (saat itu mereka adalah salah satu golongan yang sangat berpengaruh) dalam mewujudkan kemerdekaan Indonesia.

Rasa tidak puas tentu ada, namun sisi persatuan sekaligus keengganan untuk dijajah kembali tampaknya lebih besar daripada kepentingan golongan. Ini yang akhirnya membuat mereka legowo untuk menghilangkan tujuh kata yang menimbulkan polemik persatuan itu.

Tujuh kata itu, "dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya", pada akhirnya dihapus.

Diam-diam, saya bertanya dalam hati, apa yang akan mereka lakukan jika melihat kehidupan negara yang mereka dirikan dengan susah payah saat ini?

Saya meyakini  dalam hati, mereka mungkin akan sedih bercampur marah kalau sikap legowo yang telah mereka lakukan ini malah kembali menjadi perdebatan. Yang seharusnya bangsa Indonesia zaman sekarang berpikir tentang bagaimana menjadi leading country in Asia, atau bahkan di dunia, justru masih saja berkutat pada perdebatan yang seharusnya sudah selesai lebih dari enam puluh tahun lalu.

Kita bukan hanya stagnan, melainkan juga mundur.

Apalagi jika pihak-pihak yang melakukan perdebatan itu adalah netizen yang maha benar tanpa harus banyak-banyak membaca buku sejarah, hanya mengandalkan bacaan di koran-koran (itu pun kalau mereka masih mau membaca) dan mengisi umurnya dengan memperbanyak bermain mobile legends...

FgFGc0EncgckMm0qGX873kCUXdRvBgDU.jpg steemit.com

dan bersedekah minum kopi di kafe-kafe yang mengambil tempat di mal-mal atas nama menggalakkan kegiatan leisure economics sebagai kewajiban baru millenials.

Miris.

Answered Mar 19, 2018

Question Overview


4 Followers
816 Views
Last Asked 1 year ago

Related Questions


Apa sajakah pengaruh D-Day bagi Sekutu pada Perang Dunia II?

Bagaimana dampak D-Day bagi Jerman pada Perang Dunia II?

Apakah kesalahan fatal Hitler yang membuat Jerman kalah pada Perang Dunia II?

Mengapa Perang Dunia II terasa lebih populer daripada Perang Dunia I?

Pesawat paling canggih apa yang tercipta saat Perang Dunia II?

Berapa banyak korban pada Perang Dunia II?

Mengapa tentara Rumania dan Italia gagal menahan serangan Soviet di Stalingrad?

Pesawat tempur apa yang paling ditakuti saat Perang Dunia II?

Pesawat bom apa yang paling berbahaya saat Perang Dunia II?

Pesawat buatan Amerika Serikat atau Jerman yang lebih canggih pada Perang Dunia II?

Apakah jenis parfum wanita yang paling tahan lama untuk dipakai di Jakarta?

Apa nama restoran Jepang terbaik di Jakarta dan sebutkan alasannya?

Apa yang Anda lakukan ketika sedang terjebak dalam kemacetan Jakarta?

Mengapa orang Jakarta suka menghabiskan waktu di mal?

Apa saja hal yang membuat Jakarta lebih bagus dari kota lain?

Apa lokasi wisata terbaik di Jakarta? Mengapa?

Bagaimana cara terbaik dan paling efektif untuk menghindari kemacetan di Jakarta?

Mengapa banyak sekali orang Jawa di Jakarta?

Adakah keterlibatan Indonesia pada Perang Dunia II?

Bagaimana sebenarnya hubungan Jokowi dengan Ahok?

Pernahkah Anda bertemu Presiden Joko Widodo?

Hal-hal apa sajakah yang harus dipenuhi agar Indonesia menjadi pemimpin budaya populer dunia?

Foto apa saja yang bisa mengubah cara pandang kita tentang Indonesia?

Apa yang Anda banggakan dari Indonesia saat bertemu masyarakat internasional?

Masakan/makanan Indonesia apa yang menurut Anda paling mungkin go international?

Mengapa bangsa Indonesia dapat sebegitu lamanya dijajah oleh Belanda?

Makanan/masakan Indonesia apa yang paling memiliki nilai sejarah tinggi?

Apa yang membuat beberapa suku di Indonesia masih tetap bertahan dengan gaya hidup tradisionalnya, misalnya Suku Badui?

Apa fakta sejarah Indonesia yang penting namun belum banyak diketahui masyarakat Indonesia sendiri?

Kenapa Islam begitu mudah dan cepat diterima di sebagian besar wilayah Indonesia?

Siapa manusia/bangsa pertama di Indonesia?

Siapa pejuang/pahlawan Indonesia yang paling Anda hormati?

Bagaimana nama Indonesia tercipta?

Apa yang kita bisa pelajari dari Perang Diponegoro yang sangat legendaris itu?

Mengapa Snouck Hurgonje mampu melakukan infiltrasi sedemikian dalam terhadap tubuh umat Islam Indonesia?

Mengapa penyebaran agama Islam di Indonesia mampu dilakukan tanpa jalur peperangan?

Apakah benar Pattimura beragama Islam dan apa bukti yang melandasinya?

Apakah benar Sisimangaraja XII beragama Islam dan apa bukti yang melandasinya?