selasar-loader

3 Hal tersembunyi di balik Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, apa saja?

Last Updated Mar 12, 2018

Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck menjadi novel yang melegenda dan kembali dikenal masyarakat Indonesia berkat diangkat di layar lebar pada tahun 2013. Namun adakah hal tersembunyi di baliknya yang belum kita ketahui?

1 answer

Sort by Date | Votes
Andara Geofani
Suka membaca, Engineer, Hobi Makan

Novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck adalah salah satu novel legendaris Indonesia karya Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau yang lebih dikenal sebagai Buya Hamka, yang juga salah seorang ulama masyhur asal Minangkabau. Novel ini beberapa waktu lalu sempat kembali booming pada tahun 2013 karena diangkat ke layar lebar oleh sutradara Sunil Suraya dan diproduseri Ram Soraya.

Novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck ini sendiri pertama kali terbit pada tahun 1938 dan telah berkali-kali mengalami cetak ulang, tidak hanya di Indonesia juga di Malaysia. Karya Hamka ini menjadi salah satu karya fenomenal dan menjadi pembahasan banyak sastrawan di dunia.

Novel ini berkisah mengenai kisah dua orang manusia, Zainuddin dan Hayati yang memadu kasih, tetapi terhalang perbedaan latar belakang sosial dan hukum adat yang saat itu berlaku di Minangkabau. Keluarga Hayati tidak merestui kisah kasih antara Hayati dan Zainuddin. Zainuddin dianggap sebagai seorang laki-laki yang tidak lagi memiliki pertalian darah dengan Minang karena ayahnya orang Minang menikah dengan ibunya yang merupakan orang Bugis, sehingga Zainuddin dianggap tak bersuku. Sedangkan Hayati merupakan perempuan Minang keturunan bangsawan sehingga Zainuddin dianggap tidak pantas meminangnya. Penolakan inilah yang membawa mereka berdua pada konflik hati yang berkepanjangan hingga akhirnya Hayati menemui ajalnya saat menumpang Kapal Vander Wijck saat perjalanan pulang menuju Batipuh.

Novel ini awalnya adalah cerita bersambung yang ditayangkan di suatu surat kabar. Namun karena animo masyarakat yang begitu tinggi terhadap kisah ini, Hamka memutuskan untuk menjadikan cerita bersambung ini sebagai novel.

Meski begitu, banyak kritikus yang menuduh bahwa novel karya Hamka ini adalah plagiat dari novel berjudul Sous les Tilleus karya Jean Baptiste Alphonse Kaar. Namun kabar tersebut segera dibantah oleh Hamka. Bahkan banyak kritikus sastra dan sastrawan dunia yang membela Hamka serta mengatakan bahwa novel tersebut jauh dari unsur plagiat karena merujuk langsung pada permasalahan sosial dan hukum adat yang hanyak berlaku di Minangkabau, Indonesia.

Ternyata ada beberapa hal yang belum banyak diketahui oleh pembaca novel tersebut mengenai Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Berikut adalah hal yang perlu Anda ketahui mengenai novel tersebut:

1.     Kapal Van Der Wijck benar-benar tenggelam

6_qwydX1p9REQKLcZLZB-FzPzXBMC2MI.jpg

Hamka menjadikan Kapal Van Der Wijck sebagai salah satu latar tempat dalam novel tersebut. Tenggelamnya kapal tersebut juga menjadi klimaks dalam alur novel ini. Namun ternyata, Hamka menjadikan kapal tersebut sebagai latar bukan karena asal pilih. Kapal Van Der Wijck milik maskapai pelayaran Belanda ini benar-benar ada.

Kapan ini diluncurkan sebagai kapal penumpang yang mampu mengangkut hingga 1.000 orang. Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir pun pernah menaiki kapal ini dalam suatu pelayaran.

Kapal ini mengalami kecelakaan dan tenggelam pada 20 Oktober 1936 saat akan berlayar dari Surabaya menuju Tanjung Priok. Kapal ini tenggelam di kawasan Westgat, selat di antara Pulau Madura dan Surabaya, sekitar 22 mil di sebelah laut Surabaya.

Kapal ini berusia kira-kira 15 tahun saat kecelakaan itu terjadi. Kala itu, Kapal Van Der Wijck mengangkut kira-kira 250 orang saat melepas jangkar dari Surabaya. Korban yang selamat saat kecelakaan tersebut adalah 153 orang, sementara 70 orang lainnya, baik kru kapal maupun penumpang dilaporkan hilang.

Berdasarkan kisah nyata itulah, tiga tahun kemudian Hamka membuat novel dengan menjadikan Kapal Van Der Wijck sebagai bagian dari cerita dalam karyanya tersebut.

2.     Penolakan terhadap Hamka atas pembuatan novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wick

AX7p195aPsP5jZ1ym9QUvQFcM-eELS40.jpg

Hamka dikenal sebagai seorang ulama. Hingga akhir hayatnya ia bahkan mampu menghasilkan tafsir Al Quran yang dikenal dengan tafsir Al Ahzar. Hamka dikenal sebagai tokoh Muhammadiyah. Tentu posisinya sebagai ulama saat itu dan menerbitkan novel adalah suatu hal yang tak lazim, bahkan hingga kini.

Hamka sebagai ulama sekaligus pengarang roman sempat kebingungan menghadapi keadaan. Sejumlah pembaca muslim ada yang menolak Novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karena menurut mereka, seorang ulama tak pantas menulis roman percintaan. Bahkan karena karyanya itu, Hamka pun pernah dijuluki kiai cabul.

Hamka akhirnya berusaha membela diri lewat tulisan di Pedoman Masyarakat No. 4 bertarikh 1938. Ia menyatakan bahwa banyak cerita roman yang berpengaruh positif terhadap pembacanya. Ketua Majelis Ulama Indonesia pertama ini juga merujuk pada roman 1920-an dan 1930-an yang mengupas adat kolot, pergaulan bebas, kawin paksa, poligami, dan bahaya pembedaan kelas.

Namun karyanya memang fenomenal, meski banyak yang menolak karyanya karena alasan yang tak masuk akal, begitu banyak juga orang yang menerima karyanya dan menjadikan karyanya sebagai salah satu bahan bacaan yang ditunggu-tunggu kala itu.

3.     Ada Monumen Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck

UoWkPGgS8pTQPCe28CM-KldVqBmaf3dl.jpg

Monumen untuk memperingati tenggelamnya Kapal Van Der Wijck ini berada di Lamongan. Monumen ini dibangun pada tahun 1936 di Pelabuhan Brondong, Lamongan. Pada monument itu terdapat prasasti yang bertuliskan ucapan terima kasih kepada para penyelamat yang telah berusaha menyelamatkan korban tenggelamnya Kapal Van Der Wijck ini.

gahnMgYxLDrUgh4RMYeOZfrFIWYzG4CT.jpg

Monumen Kapal Van Der Wijck juga disebut dengan nama De Meeuw atau The Seagull, yang dalam bahasa Indonesia berati “Burung Camar”, sangat cocok untuk menggambarkan keanggunan kapal. Monumen ini berbentuk persegi panjang yang menjulang ke atas ini merupakan salah satu dari monumen bersejarah di Indonesia.

Monumen yang tigginya hanya sekitar 4 meter ini tidak begitu menonjol, bahkan lebih rendah dari sebuah menara yang berada tepat di sebelahnya. Saat pertama kali kita melihatnya, tidak terkesan bahwa monumen tersebut memiliki cerita yang melegenda. Padahal jika dilihat dari sudut pandang sejarah yang ada, monumen ini bisa dijadikan ikon tersendiri bagi masyarakat Brondong selain Tempat Pelelangan Ikan (TPI).

Monumen ini terlihat sepi dari pengunjung,...(more)

Answered Mar 12, 2018

Question Overview


1 Followers
354 Views
Last Asked 11 months ago

Related Questions


Dari mana cara termudah memulai mencari ide untuk menulis novel?

Bagaimana cara paling efektif untuk mengembangkan alur dalam menulis novel?

Siapakah menurut Anda yang patut disamakan kualitas penulisannya dengan Pramoedya Ananta Toer?

Bagaimana proses kreatif saat pertama kali menulis novel?

Apa karya sastra/novel yang paling berkesan bagi Anda?

Mungkinkah Tereliye melakukan plagiasi dalam beberapa karya atau novelnya?

Novel apa yang paling menginspirasi dalam hidup Anda hingga mengubah hidup Anda?

Mengapa Helvy Tiana Rosa tidak lagi menerbitkan novel?

Di antara novel-novel Haruki Murakami, yang manakah yang paling Anda sukai?

Apakah kutipan Haruki Murakami yang paling berkesan bagi Anda?

Bagaimana kaitan antara genre film favorit dan budaya setiap negara?

Apa itu Mazhab Frankfurt?

Bagaimana perkembangan Mazhab Frankfurt dalam konteks budaya populer?

Apa yang dimaksud dengan Teori Fetisisme Komoditas?

Apa perbedaan antara budaya massa dan masyarakat massa?

Apakah kaitan antara budaya massa dan amerikanisasi?

Apa pendapat Anda tentang amerikanisasi dan kritik atas Teori Budaya Massa?

Bagaimana pengaruh industri budaya terhadap musik pop?

Apakah kaitan antara James Bond dan strukturalisme?

Bagaimanakah konsep hegemoni Gramsci?

Apa buku yang paling menginspirasi yang pernah Anda baca?

Siapakah pengarang buku yang paling berbakat yang pernah ada?

Apa buku yang paling mengubah dunia?

Apa buku yang wajib dibaca oleh remaja?

Mengapa buku dari pengarang Jepang selalu memberikan unsur seks yang vulgar?

Mengapa buku Jostein Gaarder yang lain tidak ada yang sefenomenal Dunia Sophie?

Siapa pengarang Indonesia yang paling berpengaruh? Mengapa?

Manakah yang lebih baik, membaca buku fiksi atau nonfiksi?

Apakah buku yang paling berpengaruh dalam hidup Anda?

Novel apa yang paling mengesankan hati dan pikiran Anda?