selasar-loader

Setujukah Skripsi diganti dengan Inovasi Project Social ? Atau Membuat StartUp Mungkin

Last Updated Feb 16, 2018

Setujukah jika tugas akhir mahasiswa/i Strata 1 ini diganti dengan mahasiswa harus membuat Project Social ? Atau Startup ? 

11 answers

Sort by Date | Votes
Novia Nurist Naini
Creative Writer. UGM. Turns scientific research into popular feature

Percayalah, pertanyaan ini bukan hanya pertanyaan jika kamu saat ini menjadi mahasiswa FISIPOL UGM! 

Jadi, skripsi ku awalnya tentang ini 

jIKQG9snkqs1EHek2Q3xlgCOEsK_e62W.jpg

setelah terbit aturan SKRIPSI KARYA, jadinya gini 

QkKVrWqT7jz-4rXnAUj1rzUywc5Fjr4L.png

 

bedanya ada pada satu kata. SKRIPSI KARYA atau SKRIPSI KONVENSIONAL. Skripsi konvensional saya diatas dibuatnya lama banget men. Hiks. Belum kebentur sama izin birokrasi, dst. Nah skripsi ku yang karya magang ini, ya analisis yang aku dapetin pas aku magang di Bank Indonesia. Yups di BI aku magang sebagai analis kebijakan, jadi menghasilkan "product"nya analisis kebijakan. Temenku ada juga yang magang di CSR Semen Gresik dan skripsi karya nya dia ya bahas tentang pengalamannya membuat dan mengawal program CSR.

Di FISIPOL UGM, skripsi konvensional itu ya penelitian konvensional. Ajuin proposal dulu, terus seminar proposal, terus ambil data, analisis data, ribet deh suer. 

Sejak ada SKRIPSI KARYA, mahasiswa itu dibebasin buat lulus dengan caranya masing-masing. Pergilah ke web ini 

http://akademik.fisipol.ugm.ac.id/akademik/?q=node/735 

kamu akan ketemu ini 

axr5jikoEmGiT2u_19RKUB7Q2UeHorhU.png

Di tempatku belajar, kamu bisa milih 7 jalur buat lulus! 

1. Pertama. Skripsi normal. Hehe penelitian konvensional. 

2. Artikel Jurnal. Ini maksimal 15 lembar men. Syaratnya, tulisanmu masuk jurnal akademik dulu. Kakak kelasku di departemen tulisannya diterbitkan di Jurnal Sosial Politik dan Taylor Francis (hiks) dan sidangnya bukan sidang "normal" di ruang sidang. Sidangnya di Digilib Cafe FISIPOL sambil minum latte. 

Image result for digilib cafe fisipol

Image result for digilib cafe fisipol

http://fisipol.ugm.ac.id/news/adaptasi-perkembangan-teknologi-digital-fisipol-ugm-buka-digilib-cafe/id/ 

 

3. Policy Paper. Ini buat kamu yang suka ngide bikin aja policy paper. 

4. Naskah Akademik. Nah, ini sebenernya naskah yang isinya inovasi project sosial. Tapi tetep ditulis pake bahasa yang ilmiah. Disini temen2ku juga banyak lulus gegara lomba Sociopreneur gitu. Skripsi kaka tingkatku yang founder-nya es krim difabel juga pake model ini dan high-appreciated! 

5. FILM! Sejarah mencatat bahwa naskah film "Cintaku Di Kampus Biru" adalah skripsinya Ashadi Siregar, pakar komunikasi Indonesia. Jadi biar nggak bosen aja yakalik dari dulu sampe sekarang bentuk skripsi gitu-gitu mulu. 

Image result for film cintaku di kampus biru

6. Magang atau Laporan Magang! Ini skripsi aku wqwq. 

 

Skripsi Project Sosial Memangkas Akademik? Hem ... karena di fakultas ku kamu bebas memilih skripsi model apa, jadi frase diatas amat subjektif yah haha. 

Saya melihat satu hal dari model skripsi karya ini, yaitu usaha yang dilakukan Dekanat FISIPOL untuk tidak menyeragamkan manusia, untuk tidak membuat ikan terbang atau membuat harimau berenang. Pada akhirnya, harus ada pertimbangan bahwa orang masuk kuliah itu bukan berarti bercita-cita menjadi researcher semuanya. Ada juga yang jadi praktisi. Tapi kalo logika riset dimasukin ke logika praktis, seringkali yang terjadi adalah patah hati akademik wqwq. Ada banyak teori yang nggak sinkron di lapangan. So, menurutku, cara FISIPOL UGM membiarkan mahasiswanya memilih model skripsinya untuk lulus, itu menurutku pendidikan yang manusiawi. 

So, menurutmu gimana? 

 

Answered Feb 19, 2018
Muhammad Andika Widiansyah Putra
Agribisnis IPB 2014 | Pegiat FLP Bogor | Peserta Rumah Kepemimpinan Bogor

Sejauh ini, apabila skripsi dihilangkan sepenuhnya, saya merasa sangat tidak sepakat. Skripsi, menurut saya, sebenarnya merupakan ruang bagi mahasiswa untuk menuangkan gagasan-gagasan yang dimiliki sekaligus menggabungkannya dengan apa yang pernah diperoleh selama masa perkuliahan. Selama proses pengerjaan skripsi yang saya lakukan, pada faktanya, saya justru mendapatkan pengalaman-pengalaman baru dalam aspek penerapan ilmu yang telah dimiliki, terlebih dengan status saya sebagai mahasiswa Agribisnis yang secara langsung terjun dan harus terlibat di dalam aktivitas perekonomian di sektor pertanian.

Bagi saya, penggantian skripsi bukan merupakan solusi atas 'keluhan' banyak mahasiswa yang merasa terganggu (atau merasa kurang berdampak kepada masyarakat) dengan adanya tugas akhir seperti ini. Penambahan alternatif tugas akhir bisa saja dilakukan, namun kembali, tergantung pada jurusan yang menerapkan kebijakan tersebut.

Tentu rasanya tidak logis apabila mahasiswa di jurusan Matematika atau Biologi yang lebih identik dengan ilmu-ilmu murni kemudian diminta untuk membuat proyek inovasi di bidang sosial yang jelas-jelas tidak memiliki relevansi dengan bidang keilmuan yang sudah didalami (apalagi ke arah start-up yang kental dengan nuansa teknologi dan pemrograman).

Answered Feb 21, 2018
Yusup Ridwansyah
Calon Peneliti, Peserta Rumah Kepemimpinan Regional 1 Jakarta

Saya setuju jika skripsi DIGABUNGKAN dengan inovasi proyek sosial bukan menghilangkannya. Poin penting dari skripsi dan proyek sosial menurut saya adalah sesuatu yang menghasilkan produk secara nyata dan dapat dipublikasikan dalam bentuk tulisan ilmiah atau hasil penelitian. Kenapa begitu? Skripsi yang biasanya hanya dalam bentuk laporan ilmiah yang diperoleh dengan proses survey atau wawancara, mungkin akan lebih memiliki signifikansi yang kuat jika dikombinasikan dengan proyek sosial. Jadi topik yang dipilih dalam membuat proposal skripsi yaitu applied inovative topic. Artinya topik tersebut tidak hanya berada di level abstrak saja, tetapi juga dapat diaplikasikan yang nantinya menjadi data untuk laporan akhir. 

Answered Feb 28, 2018
Ainna Fisabilla
Seorang pendongeng dan menekuni bidang sanitasi

Couldnt be more agree! Tapi menurut saya, project sosial bisa saja jadi bahan skripsi yang ditaungkan ke dalam bahasa yang lebih ilmiah! Namun tentu berdasarkan core competence yang kita miliki dan dosennya, yaa..

Answered Feb 28, 2018
M. Iqbal Harefa
Rumah Kepemimpinan Regional Medan

Fenomena!! skripsi hanya menjadi tumpukan di lemari-lemari perpustakaan, Dipakai dan dibaca hanya sebatas untuk refrensi membuat skripsi juga, belum pernah saya temui setiap pengambilan kebijakan atau pengambilan keputusan jajaran penguasa dengan mempertimbangkan hasil riset pada skripsi-skripsi mahasiswa itu sendiri, yang ada hanya skripsi menjadi ritual seorang sarjana, sangat miris! Saya sangat setuju jika skripsi di ganti dengan projek sosial yang langsung konkrit dan berdampak pada lingkungan. Jangan kebanyakan TEORI!!

Answered Mar 1, 2018
Habibie Satrio Nugroho
Computer Science, University of Sumatera Utara | Rumah Kepemimpinan R6 Medan

Tugas akhir atau familiar words nya itu skripsi. Sering juga dikatakan sebagai hantu bagi anak-anak semester akhir perkuliahaan, tetapi tidak semua menganggap nya hantu. Skripsi merupakan hal yang lumrah (wajib) dikerjakan bagi mereka yang berkuliah, dalam hal ini skripsi itu merupakan modal sebagaimana rangkuman apa yang telah mahasiswa lakukan selama proses kurang lebih 4 tahun berkuliah, dan skripsi pula bisa menjadi tolak ukur sebagaimana wawasan mahasiswa tersebut dalam berproses selama berkuliah.

Lalu apakah skripsi bisa diganti dengan project social atau membuat startup ?

Project social memiliki definisi tersendiri dibandingkan dengan skripsi, serta startup juga memiliki definisi nya tersendiri. lalu bagaimana andaikan skripsi digantikan dengan 2 hal tersebut atau dipilih salah satu dari apa yang ada di antara keduanya ?

Project social merupakan pengabdian masyarakat, ataupun startup juga merupakan pembangunan awal dari sebuah perusahaan yang berbasis social/technoloy/dll...

Saya berpandang bahwasanya skripsi sangat tidak tepat kalau digantikan dengan project social ataupun startup, karena tujuan dari ketiga hal tersebut berbeda-beda. Tetapi kalau kita berpandang pada beberapa universitas di dunia ada yang memberikan ijazah kelulusan tanpa harus membuat skripsi, tetapi keharusan mereka harus memiliki suatu gagasan di bidang nya masing-masing (ex: Technology). Lalu dengan hal itu kita dapat memberikan kesimpulan bahwasanya perkuliahaan (proses) yang dijalani tidak hanya sekedar berjalan, tetapi terbangun pula pola pikir untuk membangun sebuah ide baru untuk memberikan sebuah solusi dari permasalahan yang ada.

Kalau skripsi hampir rata-rata larinya akan ke jurnal sebagaimana modal untuk setiap orang yang ingin melanjutkan Strata-2 nya (Magister) yang Research.

Answered Mar 2, 2018
Herman Palani
Economics student of UGM | RK 8 Yogyakarta

Skipsi adalah salah satu proses akademik yang tujuannya adalah untuk mengajarkan dan melatih mahasiswa untuk berpikir ilmiah. Tata cara berpikir ilmiah sangat penting jikalau  universitas dapat memberikan arahannya  untuk berpikir seperti itu dengan  baik. Memang tidak semua univeritas atau perguruan tinggi mampu  mentransfer cara berpikir ilmiah dengan baik. Namun, idealnya universitas mampu untuk melakukan itu. Dan itu diwujudkan dengan skrispi. Oleh karenanya menurut saya skripsi masih penting dan layak dipertahankan. Sementara social project atau membuat start up sebenarnya bisa dilakukan  di luar kegiatan akademik. Banyak waktu bagi mahasiswa baik di organisasi atau pun komunitas  untuk  bisa melakukan itu. Lagipula banyak sekali proyek sosial yang abal abal dan amatir serta tidak berkelanjutan. Oleh karenanya kalau ditanya apakah skripsi bboleh diganti? Untuk saat ini saya belum bisa mengatakan boleh. 

Answered Mar 2, 2018
Ade Rainaldo
Beswan Rumah Kepemimpinan Regional 2 Bandung || Penulis Buku Resonansi 2017

wah wacana darimana ini sepertinay menarik

yang selalu saya rasakan sistem terbaik adalah "bottom up"

termasuk dalam sistem untuk kelulusan seorang mahasiswa dari S1 jika konteknya adalah skripsi.

Jika mahasiswa menginginkan skripsi, maka mari kita laksanakan skripsi

Tapi pada zaman sekarang sepertinya skripsi bukan algi menjadi hal utama yang begruna bagi mahasiswa

Skripsi hanya menjadi standar kewajiban untuk mahasiswa aga rbisa lulus dari kampusnya. Dampak yang didapatkan tidak begitu besar bagi mahasiswa, dosen, kampus, dan negara ini. "Value" yang didapat kurang dapat dan mengena. 

Jika social project atau start up dijaadikan sebagao standar untuk kelulusan boleh-boleh saja karena lagi zamannya. 

Lagi dan lagi jika itu terjadi secara "bottom up"

Answered Mar 28, 2018
Nararya Ahmad Dharmika
Industrial Engineer UGM |Rumah Kepemimpinan Yogyakarta| Indonesian Young Leaders

Bertanya dulu "Kenapa?"

Sebelum saya menjawab pertanyaan yang saya rasa menjadi pertanyaan jutaan mahasiswa Indonesia, mari kita cari tahu dulu kenapa wacana itu bisa muncul. Menurut saya sendiri ada beberapa alasan :

1. Manfaat pelaksanaan skripsi mulai terdisrupsi oleh perkembangan zaman

Sudah hampir 1000 tahun sejak berdirinya universitas pertama di dunia, University of Bologna. Kalau kita bandingkan kebutuhan dan teknologi yang ada pada 1000 tahun lalu versus keadaan saat ini, sudah bukan pengetahuan umum lagi kalau perbedaannya hampir seperti bumi dan langit. Perkembangan zaman saat ini semakin memulti-tafsirkan arti dari scholars atau orang-orang pintar. Zaman dahulu, mungkin kebutuhan akan scholars yang ahli dalam spesifik ilmu pengetahuan sangat tinggi. Sehingga pendidikan akan mendorong para pelajarnya untuk membuat terobosan di bidang ilmu pengetahuan spesifik. Yaitu, menjadi peneliti yang membuat penemuan baru,

Akan tetapi, keadaan hampir 1000 tahun setelahnya tidak begitu, zaman sekarang pekerjaan sudah terbagi dengan sama pentingnya baik menjadi peneliti maupun praktisi. Bahkan, popularitas dan gaji dari praktisi justru lebih tinggi dibandingkan peneliti itu sendiri, Oleh karena itu wajar saja kalau banyak orang yang sebenarnya sedang mempersiapkan diri untuk masuk ke dunia profesial korporat akan merasa gerah kalau harus menghabiskan sebagian waktunya untuk duduk di depan komputer sambil melakukan analisis yang dia rasa mungkin tidak akan dipakai dalam dunia kerja.

2. Don't judge the fish by how it flies

Semua orang berbeda. That is a truth. Oleh karena itu, perlakuan yang harus kita berikan juga harus berbeda. Sesuai prinsip tersebut, kebijakan skripsi juga perlu dipertanyakan. Ada orang yang menyukai penelitian, tapi tidak terkecuali ada juga yang ingin lebih pandai dalam ilmu humanis, ilmu praktis, atau bahkan ilmu yang tidak ada kaitannya dengan penulisan sama sekali. Wacana penggantian skripsi dengan project atau inovasi saya rasa menjadi tepat munculnya untuk menghargai prinsip bahwa semua orang tidak sama, sehingga kontribusi yang dapat dia berikan juga bisa jadi harus dipertanyakan jiga harus disamakan.

Like, we are judging every animals of how it can fly. That's stupid.

Terus?

Lewat penjabaran alasan tadi, urgensi pertanyaan ini menjadi jelas. Oleh karena itu, saya setuju dengan wacana ini dan saya rasa akan menjadi tantangan bagaimana universitas mampu menstandarisasikan sesuatu yang bersifat riil seperti ini dalam penilaiannya. Jika suatu saat semua universitas sudah menganut sistem ini, saya rasa saya akan tertarik untuk berkuliah lagi :)

Menurut kalian bagaimana?

#Jawabanku Maret 2018

Answered Apr 2, 2018
Alfian Rahman
Mahasiswa Teknik Geofisika ITB | Penerima Beasiswa Rumah Kepemimpinan

Jawabannya, tergantung bidang/jurusan kuliahnya. Setuju dengan syarat berlaku untuk kuliah manajemen/bisnis. Hal ini dengan catatan hasil invovasi sosial atau startup tersebut dituliskan dalam bentuk makalah juga. Namun untuk jurusan lain apakah masih relevan? misalnya kamu kuliah sastra apakah relevan jika skripsinya berupa inovasi atau project sosial? 

Answered May 4, 2018
Andre Basrija
Accounting Student of UNPAD | Awardee Rumah Kepemimpinan Bandung

Saya kurang setuju karena pertanyaan ini menggunakan kata "diganti", yang artinya tidak akan ada lagi (benar-benar ditiadakan) penelitian teoritis yang tertuang dalam karya bernama skripsi. Akan tetapi, jika kata "diganti" diubah menjadi "ditawarkan berbentuk" sehingga pertanyaannya akan menjadi "Setujukah skripsi ditawarkan berbentuk inovasi projek sosial? Atau membuat Startup Mungkin?" Dan jawaban saya akan langsung "Yes!!". Mengapa??

Karena jika skripsi diganti menjadi suatu projek sosial atau startup maka hal ini sesungguhnya menggeneralisasi seluruh disiplin ilmu secara paksa. Meskipun tujuan akhir dari setiap keilmuan di dunia perkuliahan adalah untuk pengabdian kepada masyarakat sosial, tapi setiap mahasiswa di berbagai disiplin ilmu tetaplah harus melahirkan suatu penelitian teoritis yang bermanfaat bagi ilmu pengetahuan dan penelitian selanjutnya di kemudian hari, mengingat betapa dinamisnya suatu ilmu mengikutinya perkembangan zaman.

Projek sosial sangat identik dengan disiplin ilmu sosial sedangkan startup sangat identik dengan disiplin ilmu ekonomi sehingga akan sangat kurang relevan jika disiplin ilmu lain dipaksakan untuk menciptakan suatau projek sosial ataupun startup. Tapi tidak menutup kemungkinan jika para mahasiswa mampu menciptakan projek sosial ataupun startup yang sesuai dengan keilmuannya masing-masing. 

Sesungguhnya juga karya-karya berbentuk projek sosial ataupun startup sudah dikemas oleh Kemenristekdikti dalam suatu ajang kompetisi bergengsi antar mahasiswa se-Indonesia yang kita kenal dengan nama "Program Kreativitas Mahasiswa". Jadi tujuan direct impact dari mahasiswa kepada masyarakat juga sudah bisa dicapai dari sini. 

Jadi, kembalikanlah keputusan kepada para mahasiswa yang melakukannya, apakah mereka lebih memilih membuat skripsi yang umumnya teoritis, atau justru memilih mendesain suatu projek sosial atau startup dengan syarat tetap mempertahankan atau mengandung unsur keilmuannya. Karena apa pun yang dihasilkan dari keilmuan mereka akan memberi dampak bagi masyarakat sosial baik secara langsung maupun tidak langsung.

Answered May 5, 2018

Question Overview


18 Followers
688 Views
Last Asked 1 year ago

Related Questions


Apa yang dimaksud dengan growth hacker?

Apakah kehadiran seorang growth hacker penting dalam sebuah startup digital?

Apa fungsi utama seorang growth hacker?

Apa yang dimaksud dengan growth hacking?

Siapakah menurut Anda yang akan memenangkan kompetisi di Indonesia; Go-Jek, Uber, atau Grab?

Bagaimana cara melakukan usability testing untuk sebuah produk digital?

Seberapa penting usability testing dalam proses pembuatan sebuah produk digital?

Apa yang dimaksud dengan usability testing?

Apa perusahaan teknologi terbaik di Indonesia?

Mengapa banyak orang India menjadi CEO perusahaan digital internasional?

Bagaimana sistem pendidikan di Jerman berlangsung selama Perang Dunia II?

Adakah kajian ilmiah tentang parfum?

Bagaimanakah cara yang tepat untuk menanggulangi kenakalan remaja?

Bagaimana cara yang tepat untuk menanggulangi kenakalan remaja, khususnya seks bebas?

Apa saja faktor yang menginspirasi bagi remaja untuk melakukan kenakalannya?

Apakah rehabilitasi sudah cukup untuk menghentikan pengguna narkoba yang sudah terjerumus?

Apa yang mempengaruhi kaum remaja untuk melakukan seks bebas?

Apakah bisa kita menghilangkan seks bebas di kalangan remaja?

Apa itu sistem pendidikan anak Montessori?

Pada usia berapakah anak akan mampu menyerap pendidikan seks usia dini dengan baik?

Apakah warna jaket almamater Universitas Gadjah Mada (UGM)?

Lebih penting mana, IPK atau organisasi?

Mengapa kita harus kuliah?

Bisakah kesuksesan diraih tanpa harus kuliah?

Apa motivasi terbaik Anda untuk seseorang yang mulai jenuh kuliah?

Apa strategi terbaik untuk mendapatkan IPK tinggi tapi tetap santai dalam kuliah?

Bolehkah ikut BEM meskipun sebenarnya tidak tertarik dengan dunia pergerakan mahasiswa?

Ketika menyadari bahwa Anda salah jurusan, apa yang Anda lakukan?

Pernahkah Anda di-drop out (DO) ketika kuliah?

Apa peristiwa paling menyebalkan ketika sedang mengerjakan skripsi?

Adakah keterlibatan Indonesia pada Perang Dunia II?

Bagaimana sebenarnya hubungan Jokowi dengan Ahok?

Pernahkah Anda bertemu Presiden Joko Widodo?

Hal-hal apa sajakah yang harus dipenuhi agar Indonesia menjadi pemimpin budaya populer dunia?

Foto apa saja yang bisa mengubah cara pandang kita tentang Indonesia?

Apa yang Anda banggakan dari Indonesia saat bertemu masyarakat internasional?

Masakan/makanan Indonesia apa yang menurut Anda paling mungkin go international?

Mengapa bangsa Indonesia dapat sebegitu lamanya dijajah oleh Belanda?

Makanan/masakan Indonesia apa yang paling memiliki nilai sejarah tinggi?

Apa yang membuat beberapa suku di Indonesia masih tetap bertahan dengan gaya hidup tradisionalnya, misalnya Suku Badui?

Apa perbedaan menulis esai dengan menulis gagasan?

Apa yang menjadi alasan mengapa suatu negara menerapkan bebas visa terhadap negara lain?

Mengapa Indonesia sebagai negara maritim harus mengimpor garam?

Apa kelebihan kuliah di jurusan Teknik Metalurgi?

Apa perbedaan antara sosiologi ekonomi dan ilmu ekonomi?

Apa yang menyebabkan manusia selalu menilai dari apa yang dia lihat?

Bagaimana efek otonomi daerah terhadap pengontrolan mutu di Indonesia?

Kabupaten apa yang mengalami inflasi paling tinggi pada tahun 2017?

Mengapa seseorang bisa tertarik bergabung dengan ISIS?

Apa yang dimaksud dengan haram?

Mengapa perkembangan teknologi di Indonesia sangat buruk?

Bagaimana menumbuhkan keberanian anak untuk bermimpi?

Pemimpin Indonesia yang ideal di mata anak muda?

Apakah pemimpin itu berasal dari karakter yang sifatnya introvert?

Apa menurut kamu studi banding ke luar negeri ke beberapa negara maju untuk guru itu perlu dilakukan?

Mending orang Jawa atau Sunda?

Pilih mana, menjadi mahasiswa pengabdi IPK atau pengabdi organisasi mahasiswa?

Bagaimana pengalaman pertama mendongeng di depan anak-anak?

Apa nama kafe dengan konsep paling unik di Indonesia?

Bagaimana sistem pendidikan di Indonesia sekarang? Sudah benarkah?

Bagaimana cara masuk UI (Universitas Indonesia)?

Mengapa atlet olahraga Universitas Indonesia tidak memiliki prestasi yang membanggakan sebagaimana universitas besar di luar negeri pada umumnya?