selasar-loader

Bagaimana mengatasi masalah kemacetan di Jakarta?

Last Updated Jan 5, 2018

Ketentuan:

- hanya untuk Penerima Manfaat BAKTI NUSA 7

- minimal 200 kata

- jawab sesuai latar belakang akademik kamu

- setelah submit jawaban, klik button "edit bio Topic" dan isi Nama lengkap_fakultas_universitas_Penerima Manfaat BAKTI NUSA

3 answers

Sort by Date | Votes
Shafira Aulia Rosyida Irawan
Sekretaris Eksekutif BEM ITS 2016/2018 | Awardee Beasiswa Aktivis Nusantara 7

Mau dikatakan dengan perumpamaan apapun, kemacetan sejatinya adalah kondisi terhentinya lalu lintas karena suatu hambatan. Lalu lintas sendiri pun tergantung pada kapasitas jalan. Banyak kendaraan yang ingin bergerak tetapi jika kapasitas jalannya tidak bisa menampung maka lalu lintas yang ada akan terhambat juga (Sinulingga, 1999).

Banyak sekali yang menjadi penyebab kemacetan, terutama di Jakarta. Peningkatan jumlah kendaraan yang tidak diimbangi dengan peningkatan pembangunan jalan, rasio kendaraan pribadi dan umum yang timpang, dan paradigma masyarakat yang belum menjadikan transportasi publik sebagai suatu alternatif penyelesaian. Bayangkan, idealnya rasio antara kendaraan pribadi dan umum adalah 35:65, namun faktanya di Jakarta rasio itu timpang menjadi 98:2.

Ada beberapa solusi yang bisa ditawarkan.

  1. Sistem transportasi yang terintegrasi. Sistem di sini memiliki konteks yang menyeluruh, baik itu integrasi sistem pembayaran, ticketing, jadwal, hingga rute yang tersambung antar moda. Jarak antara terminal dan stasiun penghubung pun harus dipertimbangkan.
  2. Peningkatan pelayanan transportasi umum. Salah satu faktor yang membuat masyarakat enggan menggunakan transportasi umum adalah kualitas pelayanannya. Hal ini harus menjadi sorotan bagi pemerintah penyedia jasa. Ketepatan waktu pun harus diperhitungkan pula, selain dari kualitas fisik moda itu sendiri. Satu hal lagi yang perlu diperhatikan adalah moda transportasi sebenarnya bukannya perlu ditambah, tapi ditingkatkan kualitasnya. Moda yang paling efektif memang bukan moda berbasis jalan aspal karena jika moda tersebut yang ditambah maka sama saja akan menambah volume kendaraan yang melintas. MRT, LRT, trem, atau bus dengan jalur khusus bisa menjadi alternative yang paling efektif.
  3. Aturan yang mengikat bagi kendaraan pribadi. Di beberapa negara di dunia, aturan yang mengikat soal kendaraan pribadi sudah diterapkan dan membawa dampak yang cukup besar. Ada yang menerapkan pajak tinggi bagi pemilik kendaraan pribadi, ada yang mewajibkan aturan car pooling, ada yang menggunakan electronic road pricing (ERP) di pusat-pusat kotanya, bahkan ada yang menerapkan parkir progresif yang harganya benar-benar membuat pemilik kendaraan pribadi berpikir berulang-ulang untuk membawa kendaraannya. Intinya adalah bagaimana agar masyarakat “dipaksa” untuk mengurangi penggunaan kendaran pribadi.
  4. Sosialisasi kepada masyarakat. Satu hal penting yang sering terlupa dari suatu pembangunan adalah masyarakat itu sendiri. Pembangunan dan peremajaan sistem transportasi sudah dilakukan, namun akan kurang optimal bila masyarakat sendiri belum terudaki dengan baik soal pentingnya menggunakan moda umum. Sosialisasi ini juga tidak hanya berlaku bagi masyarakat yang tinggal di Jakarta, tapi juga masyarakat suburban yang notabene selalu melakukan commuting ke Jakarta. Mengubah perilaku masyarakat seperti itu memang tidak bisa instan. Sosialisasi secara menyeluruh pun harus dilakukan.

Intinya, mengurangi kemacetan di Jakarta berarti meningkatkan upaya untuk mengubah perilaku pengguna kendaraan pribadi menjadi pengguna transportasi umum. Tinggal bagaimana pemerintah bisa menyediakan pilihan moda transportasi umum yang aman, nyaman dan ekonomis kepada masyarakat. Di samping itu juga harus ada sosialisasi kepada masyarakat dan sistem yang menyeluruh sehingga pelayanan transportasi publik bisa berjalan dengan optimal

Answered Jan 13, 2018
Sugih Satrio Wibowo
Penerima Manfaat Baktinusa 7|Penikmat Perjalanan|Program Officer @aksiberbagi

Sebenarnya saya malas berbicara masalah Jakarta, mengapa ? karena berita di Jakarta tidak selalu untuk Indonesia. Namun apa daya, berita di Jakarta lebih menarik untuk ditayangkan dan dibicarakan dengan dalih sebagai ibukota. Masuk dalam topik.

Selama kita masih menggunakan kendaraan pribadi dan selama kendaraan umum dengan segala fasilitas penunjangnya seperti integrasi trayek, perbaikan kendaraan, dan ketepatan waktu belum juga berubah maka lebih baik jangan berbicara tentang penyelesaian kemacetan. 

Berbenah. 

Jakarta memang sudah sedikit berbenah dalam setiap proyek pembangunan angkutan massanya. Tinggal menungu saja sampai MRT Jakarta, dan bahkan LRT Jabodetabek telah terbangun. Jika dengan transportasi yang nyaman, murah dan cepat itu ternyata perpindahan orang dari kendaraan pribadi ke kendaraan umum tidak signifikan, berarti ada yang salah dalan sistem yang dibangun. Bisa saja karena trayek yang tidak mendukung ke pusat aktivitas warga atau bisa jadi karena kita sudah terbiasa menyalip kendaraan orang lain dengan kendaraan kita untuk sampai lebih dahulu. Lambat dikit, klakson. Begitulah slogannya.

Maka jangan salahkan jika pengguna kendaraan umum hanya sedikit, sudah tidak nyaman, boros waktu pula. Terkadang lama diperjalanan membuat aktivitas dalam satu hari menjadi kurang produktif. Kita lihat saja, toh OkOce Trip sebagai layanan integrasi trayek dan kemudahan pembayaran sudah mulai diuji cobakan di beberapa wilayah Jakarta. Bayangkan saja dengan kartu multifungsi itu kita hanya membayar sebesar Rp 5000 untuk setiap perjalanan kita selama 3 jam dengan pemotongan biaya saat check in. 

Menarik yah. 

 

 

Answered Jan 17, 2018
Lobelia Asmaul Husna
Mahasiswa |Pendidikan Sejarah| UNJ | Guru | BaktiNusa7 | Perantara Kebaikan

pertanyaan ini membuat saya kembali ke awal tahun 70'an kurang lebih ketika peristiwa malari terjadi. gerakan mahasiswa yang menolak masuknya modal asing jika kita lihat dari kondisi indonesia khususnya jakarta hari ini adalah suatu hal yang patut diapresiasi. bahkan sebenarnya adalah suatu hal yang perlu didukung. karena, jika aksi mahasiswa berhasil menolak masuknya modal asing terutama jepang dengan industri otomotifnya, maka kemacetan Indonesia setidaknya cukup bisa untuk diatasi.

sejak awal kepemimpinan presiden Soeharto, Indonesia seperti dijadikan negara pembelanja, padahal pendapatan warga Indonesia belum bisa dikatakan sejahtera secara keseluruhan. tapi, usaha untuk menjadikan warga Indonesia sebagai warga pembelanja tidak juga berhenti. berbagai proyek yang kemudian menghasilkan mobil murah, mobil ramah lingkungan dengan harga ramah kantong seperti angin segar bagi warga yang pendapatannya belum seberapa. 

jika nasi sudah menjadi bubur seperti ini, maka apa yang harus dilakukan?

kita tidak mungkin mengulang peristiwa malari, tapi kita bisa sama-sama mencari solusi. saya pernah menjadi bagian dari komunitas nebengers. komunitas tersebut bergerak dalam bidang tebeng-menebeng. untuk kamu yang searah dengan orang yang sedang buka rute nebeng, maka bisa nebeng. atau kamu yang ingin memberikan tebengan, bisa menginfokan ke account nebengers. ini salah satu solusi yang bagus, karena berbagi tebengan ini mampu membuat orang-orang yang seharusnya membawa mobil sendiri menjadi nebeng ke mobil orang lain dan tidak membawa kendaraan sendiri. satu mobil, teratasi. bagaimana kalau ada ratusan atau ribuan orang yang saling tebeng menebeng? saya rasa masalah kemacetan sedikit bisa teratasi.

selain nebengers, usaha pemerintah untuk mengatasi kemacetan sudah cukup baik. namun, membangun jalan yang banyak bukan solusi yang tepat. karena semakin banyak jalanan yang dibangun, justru mengundang semakin banyak kendaraan. tapi, its ok. ketika sesuatu sudah menjadi bubur, tugas kita adalah bagaimana caranya agar bubur tersebut bisa dijadikan bubur ayam yang enak.

kendaraan umum di Jakarta seperti transjakarta dan commuter line saya rasa sudah cukup solutif. sebagai seseorang yang pernah bekerja di ibukota, kendaraan umum seperti ini cukup menjadi solusi karena harganya yang murah dan aksesnya ke berbagai tujuan sangat mudah. namun masalahnya adalah ketika transjakarta dan commuter line ini mengalami keterlambatan atau ketika memasuki jam berangkat dan pulang kerja, maka sensasinya seperti cendol tanpa air dan es. sangat berdesak-desakan!

saya berusaha menghindari jawaban perbaiki kesadaran warga jakarta dan orang-orang yang kerja di jakarta untuk tidak menaiki kendaraan pribadi di jakarta. karena saya berusaha meminta tolong pada pemerintah agar mampu memperbaiki dan membuat fasilitas di jakarta semakin nyaman agar orang-orang mau pindah ke angkutan umum. tapi ternyata, lagi-lagi berharap hanya pada pemerintah memperbaiki fasilitas ini dengan cepat dan nyaman, seperti berharap BaktiNusa 7 FLC untuk kedua kalinya. seperti tidak mungkin, ya kan?

maka, dengan segala kerendahan hati dan juga sebagai warga Jakarta yang menggunakan kendaraan pribadi kemana-mana, yuk kita niatkan dan praktekan untuk naik kendaraan umum di jakarta. saya paham ini sulit, belum lagi ketika diburu waktu, tapi demi jakarta yang lebih baik, bukankah ini sebuah solusi?

Answered Jan 19, 2018