selasar-loader

Kontribusi apa yang bisa kamu berikan kepada Bangsa dan Negara ini? (sekarang dan yang akan datang)

Last Updated Jan 5, 2018

SELEKSI BEASISWA AKTIVIS NUSANTARA (BAKTI NUSA)

s8Z9vEMU5ujJBuyy5jK_WsoLgm8tpyLT.jpg

Ketentuan:

- Hanya untuk pendaftar Seleksi BAKTI NUSA 2018

- Jawab dengan minimal 500 kata

- disertai gambar (di atas text jawaban) yang dapat menggambarkan gagasan/ide/pemikiran yang kamu miliki. Maksimal lebar gambar 1000px dan tidak boleh pecah.

- Setelah men-submit jawaban, klik button "edit bio topic". Isi dengan NAMA LENGKAP_FAKULTAS_UNIVERSITAS_CALON PENDAFTAR SELEKSI BAKTI NUSA

- Lengkapi profil akun selasar-mu dengan menambahkan foto profil dan biodata singkat

485 answers

Sort by Date | Votes
Muhammad Ridho Yusuf
MUHAMMAD RIDHO YUSUF_FKIP_UNSRI_CALON PENDAFTAR SELEKSI BAKTI NUSA

Pendidikan Karakter Untuk Anak Pelosok Negeri

OBQDvmlDIr5NDbfuN6npIWJsHzmJ-tPP.jpg

"Bangunlah suatu dunia dimana semua bangsa hidup dalam damai dan persaudaraan (Sang Putra Fajar, Bung Karno)”. 

Sebuah quotes sederhana sebagai pengantar tulisan yang ingin mencoba menumbuhkan semangat dan gelora untuk terus menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain. 

Indonesia berada di tengah-tengah dunia yang baru, dunia terbuka sehingga orang bebas membandingkan kehidupan dengan negara lain. Semakin berkembangnya ilmu teknologi yang tinggi, semakin jatuhnya pendidikan bagi anak-anak yang hidup di daerah terpencil. 

Berbicara tentang pendidikan karakter, adalah sebuah upaya menjadikan generasi muda menjadi penerus bangsa yang cerdas dan berakhlak mulia sesuai dengan tuntunan agama. Namun hal ini belumlah sepenuhnya terealisasikan sesuai dengan harapan yang telah dicanangkan selama ini. Belum lagi, tantangan dan hambatan yang terjadi membuat pendidikan karakter sulit untuk diaplikasikan secara cepat dan maksimal apalagi untuk daerah-daerah terpencil karena kebiasaan anak beradaptasi dengan lingkungan sosial tempat tinggal mereka sehingga ini bisa menjadi pemicu susahnya mengembangkan pendidikan karakter yang dimulai dari dalam diri seseorang.

Dusun Sumpal adalah daerah yang pernah saya jejaki, yang merupakan dusun terpencil dari Desa Tampang Baru Kecamatan Bayung Lencir Kabupaten Musi Banyuasin Sumatera Selatan. Jarak Dusun Sumpal dengan Desa Tampang Baru sekitar ±30 km termasuk dengan Kecamatan Bayung Lencir berjarak sekitar 50-an km dengan kondisi jalan masih tanah liat dan pasir. Ditambah lagi Dusun Sumpal ini belum mendapatkan fasilitas listrik dari pemerintah jadi hanya mengandalkan jenset sehingga sangat kurang pengetahuannya terhadap perkembangan teknologi karena listrik saja belum terfasilitasi.

Masyarakat Dusun Sumpal memiliki tingkat pendidikan yang rendah, sebagian besar masyarakatnya hanya sampai pendidikan SMP dan SMA di kalangan pemudanya, untuk orang tua kebanyakan sampai tingkat SD bahkan juga yang tidak lulus SD. Lulusan sarjana hanya sedikit sekali yang ada di dusun ini bahkan bisa dihitung jari. Pendidikan yang ada disini pun masih jauh dari sempurna karena hanya ada SD kelas jauh Simpang Bondon saja. Sementara untuk melanjutkan ke jenjang berikutnya harus sekolah keluar dusun dengan jarak tempuh sekitar ±30 km. Bagi masyarakat yang memiliki sanak saudara atau kerabat yang diluar dusun mungkin dapat melanjutkan ke jenjang berikutnya tetapi bagi mereka yang tidak punya sangat berat untuk melanjutkan pendidikan setelahnya. Selain SD di dalam dusun juga terdapat TPA yang terdiri dari 2 tempat, yakni KM 36 dan Simpang Bondon yang masing-masing guru ngajinya lulusan pesantren.

Berbicara tentang kontribusi, ada banyak hal kecil yang telah saya lakukan selama di Dusun Sumpal ini, yaitu menjadi Relawan Pembina Seleksi Beasiswa Harapan SMP Bulan Juni Tahun 2017 silam dari PKPU Human Initiative (Program Peduli Pendidikan Dusun Sumpal). Program berjalan kurang lebih selama 1 bulan dan tidak digaji karena niatnya dari awal memang untuk membantu Dusun Sumpal ini bersama 3 orang teman saya. Dengan latar belakang kuliah di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sriwijaya yang nantinya akan di tempa menjadi seorang guru saya juga masih belajar disini, belajar bagaimana mendidik dan mengajarkan siswa/i SD Kelas 6 Simpang Bondon untuk persiapan masuk SMP dan diberi tunjangan pendidikan berupa beasiswa. Disini, saya sering mengajar mata pelajaran SD seperti Mate-matika, Bahasa Indonesia, Kewarganegaraan, Agama Islam dan Olahraga. Selain itu, pada saat Bulan Ramadhan tiba, pagi dan siang hari saya sering mengisi tausiyah agama dan mengajarkan materi tentang tata cara sholat, puasa dan kisah tauladan seorang rasul yang saya dapatkan selama mentoring dan ikut organisasi Lembaga Dakwah Fakultas (LDF) dikampus kepada anak-anak SD Simpang Bondon Dusun Sumpal ini di kelas, berharap agar nilai-nilai agama serta akhlak dapat menjadi pembelajaran yang baik bagi mereka untuk menumbuhkan karakter seorang anak didik. Dan pada malam harinya setelah selesai sholat terawih di masjid saya sering mengajarkan guru SD tentang cara mengoperasikan Microsoft Office Word, Exel dan Power Point agar tenaga pengajar dusun ini tidak terlalu tertinggal akan zaman yang serba teknologi. Tak hanya itu saja, setiap sore menjelang sholat magrib saya dan 3 orang teman saya mempunyai jadwal harian rutin tiap minggunya untuk mengajar ngaji di TPA, para ustadz dan ustazah disana yang meminta. Anak-anak dan warga begitu baik memperlakukan saya, tak heran hampir tiap hari mereka selalu memberikan makanan dan takjil untuk berbuka puasa.

Kurang lebih hampir satu bulan berlalu, tiba saatnya pergi dari Dusun Sumpal ini, sebuah desa yang memberikan sejuta pengalaman yang sangat berarti bagi saya. Warga disana mengucapkan salam perpisahan untuk saya dan teman saya, mereka mengucapkan banyak terima kasih dan sangat mengharapkan kembali kedatangan kami ke Dusun Sumpal. Tak luput semua siswa/i SD Simpang Bondon yang pernah saya ajari bahkan menangis pilu atas kepergian saya, entah itu kejadian aneh atau suatu kebetulan, baru kali ini sosok seperti saya yang hanya mahasiswa biasa dan berkecimpung di organisasi LDF serta Keilmiahan dikampus bisa dijadikan peran penting untuk desa ini. Melihat mereka menangis saya pun turut sedih dan akhirnya air mata tak mampu dibendung lagi. Sungguh pengalaman langka itu pasti akan saya ingat.

Memang, pendidikan yang berkarakter sangat dibutuhkan dalam penanaman moral pada anak. Banyak hal yang bisa dilakukan sejalan dengan cita-cita dan harapan kedepan yaitu menjadi seorang pendidik dan sosok guru yang berkharakter dalam menjadi tauladan anak, seperti penanaman pemahaman agama sejak dini yang menjadi tanggung jawab seorang guru selain orang tua di sekolah mempunyai peran yang sangat penting dalam penanaman dan pendidikan akhlakul karimah sejak dini. Hal ini bisa dilakukan salah satunya dalam kegiatan pembelajaran dikelas melalui...(more)

Answered Jan 5, 2018
Novita Sari
NOVITA SARI_EKONOMI DAN MANAJEMEN_IPB_CALON PENDAFTAR SELEKSI BAKTI NUSA

2KbX4ypDlk2w-hW89s_lQ2WiAwCBeU6m.jpg

Membumikan Islam dan Membangun Indonesia Melalui Pendidikan dan Cita Rasa.

Bismillah, kata awal dalam sebuah tulisan yang nantinya In Sha Allah akan terlihat jelas, sejelas aslinya. Puji dan syukur selalu dilimpahkan kepada Allah swt dan shalawat atas Rasulullah saw yang membawa kita ke jalan yang penuh penerangan. Tidak ada hal yang lebih penting dari Iman, tidak ada kata yang lebih indah dari Islam, dan tidak ada perjuangan yang lebih bermakna selain Jihad fi Sabilillah.

Saya Islam, dan saya bersyukur akan nikmat tersebut. Dalam firmanNya mengatakan, "tolong menolonglah kamu dalam berbuat kebajikan dan taqwa, dan janganlah kamu tolong menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan". Allah telah memberi banyak nikmat kepada hambaNya, jadi bukankah kita perlu menjadi hamba Allah yang bersyukur? bersyukur berarti memaknai setiap pemberianNya dengan suka cita, dan tentunya tidak ingin merasakan nikmat islam itu nafsi nafsi, tetapi membagikan kebahagiaan dan nikmat islam itu kepada yang lainnya, ya, dengan membumikannya.  tak ada yang salah dalam islam, bahkan ia yang menjadi pembenar utama dalam kehidupan dunia dan akhirat. jadi, pilihan tepatlah untuk membumikan nilai nilai islam itu kepada masyarakat luas. Dari saya pribadi, salah satu kontribusi yang akan saya lakukan adalah dengan membangun Rumah Quran di wilayah tempat tinggal saya, di Pekanbaru, Riau dan In shaa Allah akan di buka di beberapa wilayah sekitarnya. Alhamduillah saat ini, saya sedang mendalami ilmu agama dan Alquran di Rumah Quran 1 IPB. manis rasanya berbagi kebaikan di setiap waktunya. saya ingin mengaplikasikan hal yang sama di wilayah saya. 

Bukan hanya itu, saya, Novita Sari, bertekad kuat lilahi ta'ala untuk membangun sekolah bagi anak jalanan, terutama di wilayah saya. semua orang memiliki hak yang sama dalam pendidikan. saya ingin menjadikan mimpi mereka nyata dan melukiskan senyum indah di wajah mereka dan tentunya wajah Indonesia. saya akan bekerja sama dengan sahabat sahabat yang memiliki satu visi misi untuk membangun sekolah penuh cinta ini. gambarannya, saya ingin membangun sekolah gratis untuk anak jalanan, disediakan fasilitas lainnya seperti makan, asrama, ekstrakulikuler/pelajaran diluar kelas dan pembekalan agama. dari pembangunan sekolah gratis ini, saya tidak menuntut apa apa dari mereka terhadap saya, tapi saya hanya menjadikan syarat bagi mereka sebelum masuk ke sekolah tersebut bahwa setelah tamat nantinya, mereka harus menjadi seseorang yang bermanfaat bagi umat. ya, bagi Indonesia. mereka dapat bersaing di dunia pekerjaan atau menciptakan pekerjaan sendiri, sehingga dapat meminimalisasi pengangguran di Indonesia.

Selanjutnya, kontribusi yang saya mimpikan sejak dulu dan in sha Allah akan nyata di hari kemudian adalah keinginan saya untuk memiliki restoran dengan makanan 33 provinsi. saya ingin membuat restoran seperti ini diantaranya karena saya melihat makanan yang memiliki cita rasa tinggi telah banyak dilupakan dan tergantikan oleh makanan siap saji dari negara luar. tidak mustahil kalau 10 tahun kemudian anak cucu kita tidak tahu makanan asli Indonesia itu sendiri. Naudzubillah. saya ingin memiliki restoran 33 provinsi agar masyarakat bangga dengan makanannya dan mempertahankan makanan itu tentuya. selain itu, saya ingin menunjukkan dan memperkenalkan kepada dunia bahwa Indonesia memiliki cita rasa yang khas dan terjamin nikmatnya dalam setiap masakannya. saya ingin makanan Indonesia yang menjadi trend di masyarakat bahkan global. in sha Allah, dalam restoran ini, saya juga akan membangunnya dengan interior khas Indonesia, seperti gamelan, batik, rotan, ukiran, dan lain sebagainya. sekali lagi, karena Allah untuk memperkenalkan budaya dan cita rasa Indonesia ke anak cucu serta dunia. 

Saya percaya bahwa Allah mengetahui segala isi hati manusia. Allah mengetahui yang terbaik dari hambaNya dan pasti akan selalu memberikan yag terbaik bagi hambaNya. saya, mahasiswa yag memiliki seribu mimpi dan harapan untuk agama, nusa dan bangsa akan terus berjuang sebagaimana jihad nya para sahabat terdahulu. saya akan terus membumikan isam dan berdakwah dengan sahabat sahabat lainnya, mengajak yang ma'ruf dn mencegah dari yang munkar. semoga apa yang kita lakukan, diberkahi oleh Allah swt.

Jangan takut bermimpi besar. karena memang tak ada mimpi yang terlalu besar, hanya usaha kita saja yang terlalu kecil.

Saya Novita Sari, mengikuti Bakti Nusa ini karena percaya in sha Allah akan mendapat banyak ilmu dan pembelajaran berharga, bertemu sahabat sahabat yang luar biasa, serta lebih rendah hati, open mind, prestatif dan objective . Dari gambar diatas sebagai ilustrasi saya yang merupakan peta Indonesia yang terlukis dari biji-biji kopi dari salah satu wilayah Indonesia, yakni Kopi Arabika Flores Bajawa yang melambangkan cita rasa khas Indonesia yang harus berkembang dan mendominan. Lalu, dengan dasar putih pada peta yang melambangkan kesucian Islam dan memang ia menjadi dasar dalam segi kehidupan di seluruh pelosok negeri.

Ini langkah awal saya dalam menghidupkan sebuah mimpi. Yakin, Usaha, Doa, sampai. In sha Allah. Semoga Allah meridhoiNya. 

Allahumma aamiin.

Answered Jan 5, 2018
Anonymous

 

Saya memiliki yang saya namakan the impossible list, sebuah daftar pencapaian yang harus saya peroleh selama hidup. Dengan ini, saya dapat memastikan bahwa saya sedang berada didalam jalur untuk mencapai kebahagiaan pribadi dan memberikan kontribusi terbaik untuk masyarakat

Answered Jan 5, 2018
Nanda Laily
NANDA LAILY NURLATIFAH_FIB_UNPAD_CALON PENDAFTAR SELEKSI BAKTI NUSA

QczB8TZYeNEVtNDqdi7AvxpGfyTBmsXu.jpg

Aku untuk Indonesia

“…Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial…”

Paragraf di atas adalah sebuah potongan dari pembukaan Undang-undang Dasar 1945 yang telah menjadi hukum dasar di Indonesia. Ada sebuah kalimat dalam potongan pembukaan UUD 1945 tersebut yang berhasil menyita perhatian saya lebih banyak, yaitu kalimat “…mencerdaskan kehidupan bangsa…” saya merasa memiliki tanggung jawab yang sama dengan tanggung jawab pemerintah Indonesia. Mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia tidak bisa terlaksana jika hanya menjadi tanggung jawab pemerintah saja, akan tetapi jika seluruh masyarakat Indonesia bahu membahu untuk membantu pemerintah demi mewujudkan Bangsa Indonesia yang cerdas, maka hal tersebut akan lebih mudah diraih.

Saya menuliskan dalam essay ini tentang apa yang akan saya lakukan sebagai kontribusi untuk Indonesia. Telah saya singgung sedikit tentang apa yang menjadi fokus saya pada paragraf sebelumnya. Dunia pendidikan rasanya paling tepat untuk saya selami demi terwujudnya bangsa Indonesia yang cerdas. Sebagai seorang muslim, saya juga memiliki kewajiban untuk peduli terhadap lingkungan sekitar. Syaikh Muhammad Husain Isa Ali Manshur dalam bukunya yang berjudul Syarah 10 Muwashafat menyebutkan bahwa karakter muslim sejati adalah bermanfaat bagi orang lain dan memiliki wawasan yang luas, dua hal tersebut merupakan karakter ideal seorang muslim dan masih ada delapan karakter muslim ideal lainnya. Akan tetapi, saya hanya mengambil dua karakter ini untuk kemudian saya wujudkan dalam upaya saya mencerdaskan kehidupan Bangsa Indonesia.

Menjadi fasilitator yang dipilih oleh dosen untuk mata kuliah OKK (Olah raga, Kreatifitas, dan Kesenian) membuat saya melihat ada sebuah ironi di sekitar kampus saya. Saya melihat fakta yang dituturkan langsung oleh ketua RW desa setempat, bahwa betapa sulitnya warga sekitar untuk mengenyam pendidikan hingga ke perguruan tinggi, terutama Perguruan Tinggi Negeri, bahkan sedikit sekali warga lokal yang berhasil lolos menjadi mahasiswa PTN yang berada di daerahnya sendiri, padahal anak-anak negeri dari berbagai penjuru di Indonesia banyak yang berhasil mengenyam pendidikan di PTN Jatinangor ini. Hal ini disebabkan oleh minimnya informasi yang mereka ketahui seputar melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

Sebuah protes atau rasa empati tidak cukup untuk memperbaiki keadaan yang ada. Maka dari itu, saya bertekad untuk membuat sebuah gerakan yang bernama Padjadjaran Bisa. Sebuah projek sosial yang akan saya dirikan untuk mengayomi anak-anak desa sekitar untuk membantu mereka mengetahui info-info seputar dunia kampus. Apa saja persiapannya, beasiswa apa saja yang tersedia, bahkan bimbingan untuk mengahadapi soal-soal SBMPTN yang sulit didapat oleh mereka. Tentu saja saya tidak bisa menjalankan ini sendiri. Saya akan merekrut teman-teman sekitar saya untuk bergabung mengabdi pada masyarakat.

Saya menyadari banyaknya warga Indonesia yang juga memiliki kesadaran yang sama dengan saya. Mereka juga ingin berkontribusi mewujudkan Bangsa Indonesia yang cerdas, bahkan bisa jadi aksi mereka di lapangan sudah lebih konkret dan lebih besar dari apa yang sudah saya lakukan. Meskipun begitu, hal tersebut tidak meluruhkan niat saya untuk tetap berada pada apa yang sudah saya fokuskan dari awal. Saya mungkin baru bisa berkontribusi di lingkungan sekitar saya dan tidak terlalu luas, sebisa mungkin saya akan terus melakukannya hingga orang-orang yang berada di sekitar saya merasakan keberadaan dan kebermanfaatan saya, tentunya dengan mereka merasa lebih teredukasi. Saya pun memiliki cita-cita untuk mendirikan sekolah saya sendiri. Di sekolah saya nanti, pendidikan karakter akan saya prioritaskan terlebih dahulu sebelum mulai memasuki pendidikan berkurikulum, karena sebelum kita mulai belajar suatu pelajaran, kita harus memerhatikan adab-adab seorang pembelajar. Dengan begitu, saya harap Indonesia akan menjadi bangsa yang cerdas dan berkualitas.

Answered Jan 5, 2018
Diah Pangestika
DIAH RIZQI PANGESTIKA_FIP_UNY_CALON PENDAFTAR SELEKSI BAKTI NUSA

Hanya dengan menjadi guru, saya akan benar-benar berusaha mendidik putra putri generasi pelurus bangsa agar semakin berkarakter dan berjiwa wirausaha.

Answered Jan 5, 2018
Anonymous

Perkenalkan nama saya Febrizal Saputra Mahasiswa fakultas mipa universitas sriwijaya jurusan matematika.

Jika kita berbicara masalah kontribusi maka hal yang pertama kali terlintas dibenak saya adalah totalitas penuh perjuangan. Apalagi yang dibicarakan adalah tentang kontribusi kita kepada bangsa dan negara ini sekarang dan yang akan datang. Untuk sekarang kontribusi yang bisa saya berikan tentu sebatas belajar untuk menyiapkan diri menjadi lebih baik dan menyiapkan diri menjadi pemimpin bangsa ini dimasa yang akan datang. Dan kontribusi untuk bangsa yang akan saya berikan dimasa yang akan datang tentu dalam bidang matematika dan keilmuan. Hal itu lah yang bisa membuat kita berkontribusi maksimal untuk bangsa ini berdasarkan apa yang kita geluti saat ini.

Answered Jan 5, 2018
chairunnisa rizal
PM BA 8 unsri. Kabid keputrian PW PII Sumsel

Aku, Sang Millenial Pemegang Estafet Kepemimpinan Indonesia 2020

6ngqz55WsE6EIRlmvlyaITyOWaGsCbPp.jpg

Generasi Millenial adalah generasi yang juga dikenal dengan sebutan generasi Y, Generasi Millenial adalah manusia atau masyarakat yang berada pada usia emas dan produktif untuk meneruskan kehidupan dan penghidupan dengan baik dan benar. Orang-orang atau manusia yang masuk kedalam kategori generasi Millenial adalah orang-orang yang berada pada usia 14 – 34 tahun. Tepatnya orang-orang yang lahir dan hadir didunia sejak tahun 1980-2000.

Manusia yang masuk kedalam kategori generasi millenial atau generasi Y adalah manusia yang hidup dizaman modern, teknologi komunikasi sudah berkembang pesat. Gadget, internet, PC, dan perangkat serta media menjadi teman wajib kehidupannya. Alat – alat canggih inilah yang menjadi teman keseharian para generasi milllenial dalam menjalankan kehidupan dan penghidupannya di dunia.

Keberadaan alat-alat tersebut memberikan dampak positif yang amat membantu para millenial dalam perjalanan kehidupan dan penghidupan kesehariannya. Mulai dari berkerja dikantor, memasak, belajar, fashion, dan lain sebagainya. Namun, dibalik kebaikan yang hadir. Muncul pula dampak-dampak negatifnya. Ciri-ciri generasi millenial saat ini ialah

1.      Para millenial setiap proses komunikasi harus ada timbal balik yang dapat memuaskan maksud dan tujuan mereka. Karena kenapa, seorang generasi millenial adalah generasi yang terdidik dan terbiasa dengan pola hidup kritis dan dinamis. Sikap kritis yang hadir didalam setiap diri para generasi millenial dilatar belakangi dengan adanya media yang sangat luas untuk mereka mendapat informasi yang banyak tanpa harus mengikuti proses dan formalitas yang merepotkan dan lagi rasa ingin tahu mereka yang tinggi membuat manusia lain harus berhati-hati didalam menghadapi para generasi ini.

Kesalahan sedikit saja dalam menyampaikan dan menyebarluaskan informasi kepada mereka, maka akan berakibat fatal. Hal-hal yang terjadi tentu akan diluar dugaan. Tidak akan ada kepercayaan lagi didiri mereka, mudahnya mengatakan dan mengkategorikan itu sebuah kesalahan, dan mereka tidak membuka ruang lagi untuk proses check dan re-check dalam masalah itu.

2.      Media sosial sebagai bentuk eksistensi diri para generasi millenial pada hakikatnya adalah hal yang lumrah terjadi. Media sosial sebagai wahana didalam melakukan proses komunikasi dengan dibantu oleh internet membuat semua orang dari seluruh penjuru dunia dapat berkomunikasi satu sama lain tanpa terkecuali. Bertukar informasi mengenai kejadian yang sedang berlangsung dan akan berlangsung dimasing-masing penjuru dunia sudah menjadi kewajiban dalam proses pertukaran informasinya. Saling mengenal satu sama lain, bertukar informasi, dan kesempatan untuk memperkenalkan diri kepada banyak orang terbuka lebar didalam media sosial.

Tak jarang para generasi millenial yang semuanya memiliki media sosial tak terkecuali facebook, twitter, whatsaap, instagram atau yang lainnya menjadikan media sosial sebagai tempat mereka dalam menunjukkan keberadaan mereka kepada dunia. Tingkah laku yang dilakukan didalam media sosialpun beraneka ragam. Mulai dari berbentuk video, sajak, meme, tulisan, dan masih banyak lagi. Tapi sangat disayangkan, para generasi millenial yang menunjukkan keberadaannya lewat hal-hal yang diatas tidak selalu bisa diberi nilai positif. Salah satunya dengan kehadiran “mimi peri”, “awkarin”, dan masih banyak lagi tokoh idola para generasi millenial yang memilih media sosial sebagai bentuk eksistensi diri namun menyebarkan hal-hal yang cenderung tidak bermoral dan membuat diri sendiri menjadi bodoh. Hal ini yang sangat disayangkan.

3.      Generasi millenial selalu memilih hal yang instan didalam proses kehidupan dan penghidupannya. Seperti halnya dalam mencari tugas kuliah dan sekolah. Plagiarisme, copy + paste , sudah menjadi hal yang biasa didalam proses pembelajaran mereka. Instan memudahkan perkerjaannya tanpa berfikir panjang output yang dihasilkan akan menjadi seperti apa dan menghasilkan apa. Itu luput dari proses pemikirannya. Sungguh sangat disayangkan, karena hal-hal semacam ini dapat mengakibatkan hal-hal yang buruk terjadi. Memang instan membuat semua menjadi mudah namun lama kelamaan dapat menimbulkan krisis identitas, anak-anak generasi millenial tidak visioner, dan hanya melakukan pengikutan dengan perkembangan zaman. Khususnya para millenial Indonesia.

4.      Para millenial Indonesia rata-rata hanya mampu berwacana, tanpa ada tindakan konkrit yang dapat dilakukan dalam mengentaskan sebuah permasalahan. Seperti halnya, dapat menghiasi laman-laman media sosialnya dengan editan foto dan mendeklarasikan “aku Indonesia aku pancasila” salah satunya. Begitu di kroscek, apa benar mereka memahami apa makna dari deklarasi itu, dan dijawab “saya hanya ikut ikutan”. Hal – hal ini yang menimbulkan krisis identitas bagi para millenial bangsa indonesia. Disaat para millenial bagian dunia yang lain sibuk dengan menjadikan dirinya sebagai pemimpi hebat, memimpikan hal-hal hebat yang dapat dilakukannya. Sibuk dengan hal-hal yang besar yang dapat direalisasikannya demi menyiapkan diri sendiri untuk memegang estafet kepemimpinan dimasa yang akan datang. Namun yang terjadi di diri para millenial bangsa ini sibuk dengan eksistensi diri, comot informasi dari sana sini, dan mimpi besar dianggap sebuah angan-angan dan bualan semata untuk dapat direalisasikan.

Ini merupakan sebuah masalah bagi bangsa ini, dalam rangka menyambut Bonus demografi Indonesia pada tahun 2020 yang akan datang. Bonus demografi adalah sebuah kondisi dimana masyarakat yang berada pada usia produktif 15 – 64 tahun mengalami pembludakan jumlah yang sangat besar, hampr 70% dari semua jumlah masyarakat Indonesia. Kebanyakan dari 70% tersebut itu termasuk kedalam kategori para millenial bangsa. Tentu dapat dibayangkan bukan jika para pemegang estafet kepemimpinan di tahun 2020 nanti adalah orang-orang yang memiliki ciri diatas, akan seperti apa...(more)

Answered Jan 6, 2018
Anonymous

Imawan imamsyah

fakultas ekonomi

universitas sriwijaya

calon pendaftar seleksi bakti nusa

Saya adalah generasi muda yang ingin membangun negara ini dengan semampu dan sepemikiran saya. Agar bisa maju dengan baik dan terlaksana. Kemudian saya akan menciptakan generasi bangsa yang pintar akan ke dunia luar, agar tidak ketinggalan dengan orang lain.

Answered Jan 6, 2018
Abdurrahman WS
MUHAMMAD ABDURRAHMAN WIDODO SUPENO_FKM_UI_CALON PENDAFTAR SELEKSI BAKTI NUSA

4UoyjyTYYPZuf02VstKieBAH-OoDMGqB.jpeg

“ONE FAMILY ONE FARM”

INDONESIA BERDAYA MELALUI KELUARGA BERDAYA

Perkenalkan nama saya Muhammad Abdurrahman WS, biasa dipanggil abdur atau ws. Anak pertama dari 6 orang bersaudara. Saat ini saya sedang menempuh pendidikan di Universitas Indonesia jurusan Keselamatan Kesehatan Kerja semester 5, di luar perkuliahan saya juga sedang mencoba merintis bisnis, mencoba menjadi penulis novel paruh waktu, serta berpartisipasi dalam beragam kegiatan-kegiatan volunteer seputar permasalahan sosial dan kebetulan saat ini saya juga diamanahkan menjadi kepala departemen sosial politik pada sebuah organisasi lembaga dakwah di FKM UI. Visi besar hidup saya adalah saya ingin bermanfaat bagi sebanyak-banyaknya manusia. Saya ingin memberdayakan Indonesia melalui keluarga-keluarga yang berdaya.

Saya ingin mengembangkan keilmuan saya yang masih berkaitan dengan jurusan saya di K3, saya ingin mengembangkan keilmuan ergonomi hewan dengan membuat Safety Sunnah Farm Corporation, dengan kelinci sebagai hewan yang akan dikembangkan oleh Safety Sunnah Farm. Usaha ini berawal dari hobby saya memelihara hewan piaraan yang punya banyak sekali manfaat.

Safety Sunnah Farm berada dibawah induk perusahaan Safety Sunnah Corporation. Kelinci merupakan hewan peliharaan sekaligus hewan ternak potensial yang dalam beberapa tahun mendatang berpeluang menjadi komoditas utama daging Indonesia, dikarenakan kandungan gizi kelinci yang merupakan hewan kaya protein namun rendah kolesterol dibandingkan daging-daging hewan-hewan lainnya.

wS75x3cnKSPtz3jaucLpGVQX5Om_qBdb.png

Sebelum memilih usaha ini saya melakukan riset pasar di daerah Bandung, Jakarta, dan Bogor, terdapat fakta yang mencengangkan bahwa semua peternak kelinci di Indonesia memiliki masalah yang sama yaitu kewalahan dalam memenuhi pertumbuhan permintaan pasar untuk daging kelinci, trend kuliner kelinci yang mulai banyak digemari masyarakat ternyata memiliki dampak berupa peluang dibutuhkannya para peternak kelinci baru untuk dapat menyeimbangi pertumbuhan permintaan daging kelinci di pasaran. Solusi dari masalah ini saya coba kemas dengan menyediakan wadah yang dapat menghadirkan para peternak kelinci baru, yaitu menghadirkan usaha waralaba berbasis peternakan kelinci beserta output olahan produk peternakannya bagi keluarga-keluarga di Indonesia. 

Tidak hanya dagingnya yang dapat dikonsumsi, kelinci juga dapat menghasilkan komoditas lainnya berupa bulu-bulunya yang dapat diolah menjadi beragam kerajinan, Mulai dari casing handphone, gantungan kunci, dan syal. Saya juga berencana mengembangkan produk olahan bulu kelinci menjadi sajadah, dan sweater.

KYXv0WUhpPdG1vU7l82aOKfGV5J1WFoE.jpg 

Selain itu terdapat juga komoditas lainnya yaitu kotorannya yang terdiri dari urine dan feses yang mengandung unsur hara yang dapat dimanfaatkan oleh tanaman sebagai sumber nutrisi tanaman. Satu ekor kelinci dewasa dengan usia lebih dari 60 hari dan berat badan sekitar 1 Kg dapat menghasilkan kotoran sebanyak 28 gram sehari, kandungan dari kotoran kelinci dan menemukan 2,20% Nitrogen, 87% Fosfor , 2,30% Potassium, 36 Sulfur%, 1,26% Kalsium, 40% Magnesium pada kotoran kelinci.

Kelinci juga mempunyai potensi biologis yang tinggi, yaitu kemampuan reproduksi yang tinggi, cepat berkembang biak, interval kelahiran yang pendek, prolifikasi yang sangat tinggi, mudah pemeliharan dan tidak membutuhkan lahan yang luas. Keuntungan lainnya yaitu pertumbuhan yang cepat, sehingga cocok untuk diternakkan sebagai penghasil daging komersial. Dalam jangka waktu 2 bulan sekali induk kelinci dapat melahirkan 4-12 ekor, umur 4 bulan kelinci sudah dapat dikawinkan, berdasarkan fakta-fakta tersebut kelinci adalah hewan paling potensial untuk diternakkan menjadi komoditas daging masa depan.

FCy8WA2eHpfT0lxroqhfW0PgNPrW8Nuo.jpg

Oleh karena itu dengan banyaknya manfaat yang bisa didapatkan dari seekor kelinci, maka saya berniat ke depannya membuat sebuah wadah usaha universal yang mudah untuk dioperasikan bahkan dari rumah sendiri, saya memiliki mimpi bahwa setiap keluarga di Indonesia dapat memiliki pabriknya sendiri di rumahnya masing-masing melalui kegiatan beternak kelinci, karena selain bisa menjadi alternatif tambahan finansial bagi keluarga tersebut, safety sunnah farm dapat menjadi solusi bagi kemandirian pangan di keluarga tersebut.

Saat ini saya sedang membuat prototype gerakan one family one farm, melalui gerakan one orpahanage one farm, satu panti asuhan satu peternakan, saat ini safety sunnah farm bekerja sama dengan panti asuhan yayasan pazki di depok, dan ke depannya kami ingin mengintegrasikannya dengan panti asuhan-panti asuhan lainnya di Indonesia. 

Saya mempunyai visi menjadikan Indonesia sebagai negara yang dapat berdaya di negeri sendiri, melalui keluarga-keluarga yang berdaya dengan membudayakan “One Family One Farm.”

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni). Sebagai penutup saya ingin sekali bisa mengamalkan hadist ini dengan konkrit, Semoga hingga akhir hayat, saya dapat berikhtiar berlomba-lomba menjadi manusia terbaik di mata Allah SWT dan bermanfaat bagi agama, bangsa, dan negara ini.

Answered Jan 6, 2018
Dhan Abdi
To be strong leadership for my future

sy6D0PWvEmmxqpt44COQbhx5lLPjsDiH.jpg

EDUCATION FOR ALL TO LONG LIFE EDUCATION

Perkenalkan nama lengkap Saya Sri Kurnia Abdi Pradhana, dipanggil Dhanang. Putra dari seorang Ibu Tangguh yang selalu berjuang demi anaknya. Anak pertama dari tiga Putra Pendekar yang dilahirkannya. Kesibukan sekarang kuliah di Universitas Negeri Surabaya (UNESA), bisa juga disebut kampus Guru Bangsa. Dunia organisasi pun saya geluti di dalam maupun luar Kampus. Jurusan saya Manajemen Pendidikan di Fakultas Ilmu Pendidikan. Sudah terlihat dari bidangnya yaitu Pendidikan, maka saat ini saya bergelut disana.

Pendidikan adalah suatu ajaran apapun yang diberikan dengan tujuan untuk menambah pengetahuan dan wawasan di suatu bidang. Pendidikan adalah senjata paling tajam untuk mengubah dunia. Ketika saya mendengar kalimat seperti itu, maka saya sadar bahwa saya harus memanfaatkannya dengan sebaik mungkin. Menjadi pakar pendidikan adalah target saya, namun tidak menutup kemungkinan bahwa saya akan menguasai beberapa bidang. Pergerakan Sosial bidang pendidikan di kampus pun mulai  sering saya  cetus dan tingkatkan sampai menuju ruang lingkup yang lebih luas. Saya mempunyai harapan dan impian bahwa kelak saya akan sukses dan bisa membahagiakan orang tua terutama Ibu saya yang telah melahirkan dan mendidik saya sampai saat dewasa ini. Mulai dari mahasiswa saya pun mempunyai prinsip bahwa apapun yang diperjuangkan harus diyakini dengan hati, diusahakan dengan jiwa, disampaikan dengan do'a. 

Kemampuan orang bisa diukur dengan hasil yang telah dicapai, banyak sekali saya mengalami kegagalan, jatuh bangun dalam hal memperjuangkan sesuatu. Namun, itu saya jadikan pelajaran berharga bagi saya, bahwa saya harus selalu meningkatkan harskill dan softskill saya. Organisasi pemuda saat ini sebagai generasi milineal yang harus berkontribusi besar dalam negeri, demi nusa dan bangsa yang lebih baik. Saya adalah tipe orang yang mempunyai optimistis yang tinggi dalam melakukan sebuah kegiatan, sehingga saya pernah dijuluki mahasiswa yang “bondo wani” saja. Beberapa saya mengalami keberhasilan dan beberapa juga mengalami kegagalan. Hikmah dari hal tersebut adalah saya harus menjadi orang realistis, meskipun juga harus berfikir optimis. Kontibusi ketika saya menjadi seorang pemimpin atau sekelompok dengan pemimpin-pemimpin yang luar biasa di masa depan adalah saya akan membagikan apa yang saya punya dan akan menjadi kemanfaatan umat.

Mahasiswa adalah siswa yang mendapatkan gelar “maha” yang berarti tertinggi dalam status belajar pendidikan.  Oleh karena itu, seringkali mahasiswa disebut sebagai agen of change, social control, iron stock, yang berarti mahasiswa dituntut  menjadi  kaum yang harus bisa membawa perubahan, memperhatikan masyarakat, dan dihandalkan negara untuk mempertahankan nama harum bangsa. Bakti Nusa merupakan ikhtiar dari Dompet Dhuafa, khususnya divisi Yayasan Pendidikan Dompet Dhuafa untuk melahirkan pemimpin dengan karakter unggul ala Rasulullah. Ini adalah salah satu jembatan bagi saya untuk berproses ke jenjang yang lebih luas dan tinggi, maka dari itu saya harus bisa dan wajib membuktikan bahwa saya bisa berkontribusi dengan kawan – kawan hebat di Bakti Nusa se- Indonesia.

Eduaction For All To Long Life Education, alasan saya mengambil tema itu adalah agar tahu bahwa saya akan berkontribusi dan memanfaatkan keilmuan pendidikan yang telah saya capai selama di perguruan tinggi. Program – program realistis yang akan saya usulkan di Bakti Nusa berdasarkan kemampuan yang saya miliki adalah sebagai berikut :

1.     Gathering Aktivis Surabaya: Education Issue,  kegiatan tersebut bertujuan untuk mengumpulkan semua elemen aktivis mahasiswa di Surabaya yang dikoordinatori oleh aktivis nusantara untuk membahas isu pendidikan dan mencapai output gerakan peduli pendidikan. Dengan mendatangkan pakar pendidikan nasional.

2.     Social Party, kegiatan ini adalah bertujuan untuk ajang eksistensi aktivis nusantara dalam menyikapi hal – hal sosial yang ada di indonesia. Contoh kecil adalah tanggap bencana, sehingga para aktivis bisa turut membantu dan terjun ke wilayah.

3.     Team of Regeneration, kegiatan ini bertujuan untuk menyediakan Leadership Training kepada masyarakat terutama mahasiswa se - Surabaya dan mencapai output training yaitu mencetak pemimpin kampus atau masyarakat yang baik.

4.     Sholawatan bersama, aktivis nusantara dikhususkan untuk mahasiswa beragama islam, maka dari itu sholawatan adalah salah satu bentuk dedikasi terhadap agama bagi aktivis untuk masyarakat.

Kutipan yang pernah saya dengar dari panutan saya yaitu :

“Anak muda memang minim pengalaman, karena itu ia tak tawarkan masa lalu. Anak muda akan menawarkan masa depan !” (Anies Baswedan)

Kalimat di atas adalah pengingat saya bahwa harus berkontibusi untuk masa depan demi bangsa dan negara. Semoga bermanfaat.

-It always seems impossible until it’s done-

Answered Jan 6, 2018
nurainul fitri
NUR AINUL FITRI_FIK_UNY_CALON PENDAFTAR SELEKSI BAKTI NUSA

 

BTAjFrHQ9KKR3y3IXOsULkBCJdzL1yf6.jpg

 

BANGGA BEROLAHRAGA DAN BERPRESTASI

Kemajuan suatu bangsa dilihat dari salah satunya seberapa besar kontibusi Negaranya untuk ikut berpartisipasi dalam meningkatkan sumber daya manusianya.

Dengan demikian upaya peningkatan kualitas manusia Indonesia baik sebagai sasaran maupun sebagai tujuan haruslah diusahakan melalui kegiatan olahraga. Olahraga merupakan salah satu ajang untuk menunjukkan kepada dunia bahwa suatu Negara mampu bersaing dalam segi non-akademik

Berbagai Negara sedang mempersiapkan untuk memajukan olahraga. Terutama di Indonesia dan saya sebagai calon Sarjana Olahraga sangat berperan penting untuk memajukan olahraga Indonesia dengan ilmu yang nantinya saya dapatkan.

Saat ini kontribusi yang mampu saya berikan kepada olahraga adalah selalu memberikan hasil yang terbaik dalam sebuah target dan prestasi. Mebangkitkan semangat untuk terus berolahraga yang bertujuan untuk kesehatan dan prestasi. Karena saat ini sangat banyak masyarakat yang enggan untuk melakukan kegiatan olahraga karena kesibukan pekerjaan atau hal lainnya.

Hal ini lah yang menjadikan PR untuk kami para calon Sarjana Olahraga dimana kami harus memberikan motivasi dan memberikan semangat pantang menyerah. Pada masyarakat umum ataupun Athlete keduanya memiliki tujuan yang berbeda dalam berolahraga.

masyarakat umum berolahraga karena dituntut untuk kesehatan dan mengurangi tingkat kematian di Indonesia karena jarang nya berolahraga. Berbeda dengan athlet, Athlete merupakan profesi yang dituntut untuk berprestasi dan dituntut untuk selalu membela tanah air Indonesia dan juga meberikan kehidupan yang layak untuk para pensiun athlete karena mereka merupakan para pahlawan yang mampu Mengibarkan bendera merah putih di Negara lain

Melalui Beasiswa Aktivis Nusantara (BAKTI NUSA) 2018 ini saya berharap dan bertekad untuk membantu memberikan kontribusi yang terbaik dan mewujudkan segala harapan tujuan dan cita-cita rakyat Indonesia agar mampu bersaing pada dunia. Serta menciptakan sumber daya manusia unggul untuk bersaing secara sportifitas pada event nasional dan internasional.

 

 

 

 

 

Answered Jan 6, 2018
Nurulita Ipmawati
Mahasiswa Universitas Airlangga

Pemuda dan Pengabdian Masyarakat

Nurulita Ipmawati

UNIVERSITAS AIRLANGGA

Hjv138pCrwnzC6xkuLHIUJu39YQlLVHO.jpg

Generasi muda adalah aset bangsa. Aktor perubahan ini diperlukan untuk pembangunan bangsa di masa depan. Didasari atau tidak, aktor perubahan yang dapat disebut pemuda disini adalah sejatinya memiliki peran dan fungsi yang strategis dalam akselerasi pembangunan termasuk pula dalam proses kehidupan berbangsa dan bernegara.  Pemuda merupakan aktor dalam pembangunan.

Baik buruknya suatu negara dilihat dari kualitas pemudanya, karena aktor perubahan adalah penerus dan pewaris bangsa dan negara. Karena itu, ia harus mempunyai karakter yang kuat untuk membangun bangsa dan negaranya, memiliki kepribadian tinggi, semangat nasionalisme, berjiwa saing, mampu memahami pengetahuan dan teknologi untuk bersaing secara global.  Pemuda juga berfungsi sebagai Agent of Change, Moral Force dan social kontrol sehingga fungsi tersebut dapat berguna bagi masyarakat.

Pemuda berfungsi sebagai social kontrol dapat diwujudkan dengan mengendalikan permasalahan-permasalahan yang kini hadir di tengah masyarakat sekarang. Permasalahan tersebut yakni banyaknya agama di Indonesia. Sehingga  mengakibatkan  pandangan dari agama tertentu yang beranggapan bahwa agama yang dianutnyalah yang paling benar dan umat agama lain dipandang lebih rendah. Oleh karena itu dibutuhkan perdamaian. Damai dalam arti ini tidak ada kerusuhan, tidak ada permusuhan, dan tidak ada saling membunuh. Kekerasan dan kerusuhan merupakan fenomena yang sering terjadi saat ini dalam berbagai media massa dapat terlihat berbagai kerusuhan di belahan bumi Indonesia.

Agama dalam pandangan masyarakat kini hanya sebatas status yang ada dalam Kartu Tanda Penduduk atau disingkat KTP. Namun status tersebut tidak dibuktikan dalam pengimplementasian di kehidupan sehari-hari mereka. Sehingga mereka mengabaikan sikap dan nilai yang terkandung dalam setiap tindakan yang dilakukannya. Tindakan tanpa nilai yang terkandung mengakibatkan mudahnya masyarakat dalam pelanggaran tatanan hukum, ekonomi dan lain sebagainya. Menurut berita online Kompasiana, bahwa salah satu penyebab terjadinya korupsi karena faktor internal meliputi moral yang kurang kuat. Moral itu dibentuk dari ajaran-ajaran agama. Ajaran agama didapatkan melalui mempelajari ilmunya. Sehingga tanpa ilmu, maka dapat berakibat pada pola hidup korupsi, pencurian dan tindakan yang dapat berakibat pada pengadilan.

Selama masa kuliah, saya mengikuti beberapa organisasi yang membuat saya mulai tergerak dalam bidang pengabdian masyarakat. Organisasi tersebut seperti YANSOS (Pelayanan Sosial) UKMKI UNAIR. Di organisasi tersebut saya mendapat banyak pelajaran seperti pentingnya menjadi volunteer bagi masyarakat, Tentunya menjadi volunteer kita tidak mendapat biaya sedikitpun dari mereka, namun apa yang kita diberikan kepada mereka merupakan suatu hal yang sangat bernilai dan berharga daripada uang yang harus kita terima. Dengan memberikan pengajaran berupa ilmu materi kepada mereka, maka akan memperbaiki kualitas diri sehingga dapat menumbuhkembangkan Indonesia yang lebih baik.

Kita sebagai aktor perubahan sudah sepantasnya memberikan suatu perubahan untuk kehidupan yang lebih baik. Salah satu cara  agar dapat bekerja bersama-sama adalah perlu membentuk komunitas yang memiliki tujuan bersama. Komunitas di Indonesia beberapa tahun terakhir memang berkembang pesat. Tidak hanya yang punya nama besar, tapi banyak komunitas-komunitas kecil yang ada di sekolah atau kampus. Kalau disebutkan jumlah komunitas di Indonesia mungkin bisa mencapai ribuan.

Dengan melihat fungsi besar dalam komunitas tersebut, maka selain mengikuti organisasi, saya juga mengikuti komunitas di Surabaya yang terdiri dari beberapa mahasiswa Perguruan Tinggi Negeri. Komunitas itu disebut UCC (Urban Care Community). Komunitas ini terletak di Kalijagir Wonokromo. Pemikiran mereka yang masih kolot, buta aksara, rendahnya tingkat pendidikan membuat para pelajar dan mahasiswa harus berkecimpung diantara mereka. Segala upaya yang dilakukan para pelajar dan mahasiswa.

Di komunitas ini, saya mendapat pembelajaran bagi saya sendiri bahwa saya patut bersyukur dapat bersekolah hingga kuliah di Universitas Airlangga ini. Karena saya dapat menimba ilmu dan dapat menikmati fasilitas yang ada di kampus. Dan dengan mudahnya mendapat ilmu agama yang bisa didapat di organisasi Islam kampus. Dan sangat terbalik jauh kini masyarakat di Kali Jagir Wonokromo Surabaya yang tempat tinggalnya jauh dari peradaban agama.

Salah satu permasalahan yang ada dibenak mereka ialah salah dalam pola pikir. Mereka berfikir bahwa tanpa sekolah mereka juga tetap mendapatkan penghasilan dari mengamen di traffic light sekitar Darmo Trade Center (DTC). Anak-anak yang seharusnya duduk di bangku sekolah dasar harus mengikuti perintah orangtuanya dengan menarik kricikan uang dari botol air minum ke pengemudi jalan raya sebagai makanan pokok sehari-hari mereka.

Tanpa beribadahpun mereka telah merasakan hidup dengan baik tetapi  sebagian dari mereka memiliki banyak permasalahan hidup. Permasalahan hidup itu diantaranya disebabkan karena pergaulan  bebas bagi para remaja. Pergaulan bebas adalah  salah satu bentuk perilaku menyimpang yang melewati batas kewajiban, tuntutan,aturan, syarat,dan perasaan malu. Beberapa sebab remaja melakukan perilaku menyimpang ini yaitu sikap mental yang tidak sehat, pelampiasan rasa kecewa, kegagalan remaja menyerap norma agama dan norma Pancasila.

Saya ingin orang lain mendapatkan hak mereka untuk mengenyam pendidikan yang layak dan mengejar masa depan mereka yang lebih baik. Sebagai makhluk sosial, saya yakin kepedulian semacam ini dapat meningkatkan keilmuannya. Di dalam Al-Quran dijelaskan bahwa sebaik-baiknya ilmu adalah ilmu yang bermanfaat dan orang yang berbudi pekerti adalah orang yang sadar untuk saling tolong-menolong.

k3ysO74IwkhozecFFu9tuzMlGCrqaRMv.jpg

Dapat disimpulkan bahwa dengan pengabdian kepada masyarakat adalah serangkaian kegiatan yang meningkatkan kualitas kehidupan pada masyarakat, Banyak aspek yang harus...(more)

Answered Jan 7, 2018
Masagus Muhammad Aziz
Mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sriwijaya

“Rafflesia Youth Circle Motivation and Human Development(RYCM-HD) : Wadah Bakti Untuk Bumi Pertiwi”

kNCaT5idvTXZ51iDBwbZWpXauNraCvKy.jpg

            “Barangsiapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka dia termasuk orang yang beruntung. Barangsiapa yang hari ini sama (dengan kemarin) maka dia telah lalai (merugi),.barangsiapa yang hari ini lebih buruk dari kemarin maka dia telah terlaknat (binasa)”

            Sebuah hadits yang digolongkan sebagai hadits maudhu’ oleh para ulama ini, telah lama menjadi motivator sekaligus pengingat manusia untuk menjadi lebih baik lagi dan terus mengevaluasi diri. Pada dasarnya, manusia hidup dan berkembang dengan caranya masing-masing. Dari bayi yang hanya bisa menangis hingga menjadi manusia yang kuat dan gagah berani. Faktanya, tak satupun di dunia ini yang menginginkan kegagalan, baik itu individu, kelompok, suku, bangsa, maupun Negara sekalipun, semuanya mengejar keberhasilan dan kesuksesan dengan terus mengevaluasi diri menjadi lebih baik lagi

           Begitu pula dengan Indonesia, negeri 1.340 suku bangsa, yang merupakan salah satu negara berkembang di Asia Tenggara ini, masih perlu banyak melakukan evaluasi. Berdasarkan Human Development Index (HDI), indeks pemberdayaan sumber daya  manusia di Indonesia masuk pada golongan yang sangat rendah, yakni peringkat ke-111 dari  182 negara di dunia. Sedangkan di ASEAN, Negara kita meraih peringkat ke-enam dari sepuluh negara yang ada. Mengacu pada data tersebut, menunjukkan bahwa tingkat pemberdayaan sumber daya manusia di dalam maupun luar negeri masih sangatlah rendah. Hal inilah yang menjadikan sumber daya manusia di Indonesia masih kalah saing dalam dunia Internasional. Alhasil, sumber daya manusia kita hanya menjadi kuli, asisten rumah tangga, Office boy, dan pekerja yang biasa-biasa saja.  

           Evaluasi juga perlu difokuskan pada proses optimalisasi pengembangan generasi muda. Pada tahun 2012 silam dimana Deputi KSPK BKKBN Sudibyo Alimoesa  berkunjung ke provinsi Riau pada tanggal 4 sampai 6 November mengatakan bahwa dalam kurun waktu 6 bulan saja tercatat sebanyak 9.883 kasus HIV dan 2.224 kasus AIDS, dan 45 persen yang terjangkit ialah generasi muda. Padahal, menurut data yang beliau sampaikan, jumlah generasi muda Indonesia mencapai 74 juta jiwa yang juga merupakan program bonus demografi pada tahun 2012. Bonus demografi yang merupakan peluang bagi Indonesia untuk berkembang beberapa tahun lalu telah sirna, hal ini harusnya menjadi catatan hitam bagi pemerintah pusat maupun daerah dan harus dievalusi sebagai upaya pencegahan agar peluang ini tak disia-siakan kembali pada bonus demografi di masa yang akan datang. Salah satu pencegahan tersebut ialah dengan mengoptimalisasi pengawasan dan pengembangan sumber daya manusia terkhusus bagi para generasi muda yang mana merupakan benih tumbuh kembang suatu bangsa.

           Bak kata pepatah, tuntutlah ilmu sampai ke negeri China.. Indonesia yang merupakan Negara dengan jumlah penduduk terbanyak ke-4 menurut CIA World Factbook di tahun 2018, yakni mencapai jumlah kurang lebih 238 juta jiwa, dan diperkirakan akan meningkat hingga 305 juta jiwa di tahun 2035. Menurut data ini, diprediksikan akan memberikan bonus demografi kembali untuk negeri Pancasila ini pada tahun 2020 hingga 2030 mendatang. Kesempatan ini tak boleh disia-siakan begitu saja, layaknya negeri Tirai Bambu yang memanfaatkan besarnya jumlah penduduk dengan mengembangkan potensi dan kemampuan sumber daya manusianya, bangsa kita juga harus siap memanfaatkan peluang yang hanya muncul selama sepuluh tahun ini. Sudah cukup bagi kita menyia-nyiakan setiap peluang yang datang dan pergi tanpa hasil yang memuaskan, saatnya kita berbenah untuk membawa bangsa ini maju bersama sumber daya manusia yang berkualitas. Untuk mewujudkan hal itu, pemerintah harus  memaksimalkan tugasnya  sebagai Agent of Development dalam mengembangkan sumber daya manusia terkhususnya bagi para generasi muda

           Satu titik hitam tak akan mengubah kertas putih menjadi kelam. Masing-masing pemerintah provinsi maupun daerah tentunya telah memiliki analisis SWOT masing-masing, yang mana dari hasil analisis tersebut dapat diturunkan menjadi kerja-kerja konkret untuk pengembangan dan kemajuan daerah masing-masing, salah satunya untuk pengembangan sumber daya manusia. Bengkulu misalnya, kota pesisir pantai yang merupakan salah satu provinsi yang memiliki potensi besar dari segi sumber daya manusia. Menurut data yang dikeluarkan oleh dinas Pemuda dan Olahraga provinsi Bengkulu tahun 2017, generasi muda Bengkulu berhasil memperoleh juara satu bidang Pendidikan, terbaik tiga bidang Sosial, Budaya dan Pariwisata, dan juga terbaik satu bidang Inovasi Teknologi serta banyak lagi prestasi para generasi muda yang ditransformasikan menjadi project social dan juga komunitas-komunitas hobi. Ini menjadi bukti disamping besarnya jumlah pengidap HIV/AIDS dari golongan pemuda, masih terdapat banyak pemuda yang memiliki ide-ide positif dan inspiratif dalam menyalurkan kreatifitas mereka dalam bentuk sebuah karya untuk bangsa dan negara kita.

            Pemuda adalah harapan, tonggak peradaban, serta pilar utama kebangkitan bangsa. Sejak zaman Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam, kebanyakan para Mujahid ialah para generasi muda. Dikutip dari Sirah Nabawiyah, pada saat perang Khandaq, Amr bin Abdu Wuud yang diceritakan oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam apabila ia duduk disebuah karpet yang ditarik oleh 40 orang, maka ia tak bergeming dari posisi duduknya. Ketika itu, ia menantang para mujahidin untuk berduel satu lawan satu. Akan tetapi, banyak mujahidin yang merasa tak mampu dan takut untuk melawannya, hingga akhirnya salah seorang pemuda dari mereka maju untuk melawan dengan semangat dan tekad yang kuat, ia adalah Ali bin Abi Thalib, yang kala itu umurnya masih kurang dari 20 tahun. Sosok yang dikenal sangat kuat itupun takluk dan tunduk dibawah pedang seorang Mujahidin...(more)

Answered Jan 7, 2018
Aldi Herbanu
ALDI HERBANU_FMIPA_UNSRI_CALON PENDAFTAR SELEKSI BAKTI NUSA

                                                                           TWU7SBArtiKQq9wTcXy_7j0N9hYRIdpz.jpg

                             "Tonggak Pemersatu Bangsa"

          Bangsa Indonesia mayoritas penduduknya merupakan umat islam, yang mana islam merupakan agama Allah SWT sekaligus agama yang terakhir yang disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW melalui malaikat jibril dengan tujuan untuk mengubah akhlak manusia ke arah yang lebih baik di sisi Allah SWT. Islam bukanlah suatu ilmu yang harus dipertandingnya dengan tulisan atau dengan ceramah belaka tanpa diterapkan dalam kehidupan sehari- hari. Karena islam sangat identik dengan sifat, pemikiran, tingkah laku, dan perbuatan manusia dalam kehidupan sehari- hari untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan tujuan mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Islam bukanlah semata agama namun juga merupakan sistem politik, Islam lebih dari sekedar agama. Islam mencerminkan teori-teori perundang-undangan dan politik. Islam merupakan  sistem peradaban yang lengkap, yang mencakup agama dan Negara secara bersamaan (M. Dhiaduddin Rais, 2001:5).

          Salah satu contohnya yakni Nabi Muhammad SAW adalah seorang politikus yang bijaksana. Di Madinah beliau membangun Negara Islam yang pertama dan meletakkan prinsip-prinsip utama undang-undang Islam. Nabi Muhammad pada waktu yang sama menjadi kepala agama dan kepala Negara dengan menerapkan prinsip musyawarah, konsensus, dan ijtihad yang merupakan konsep-konsep yang sangat penting bagi artikulasi demokrasi islam dalam kerangka keesaan tuhan dan kewajiban-kewajiban manusia sebagai khalifah-nya.

          Menurut Jan Materson dari Komisi Hak Asasi Manusia PBB, Hak Asasi Manusia itu adalah hak-hak yang melekat pada manusia, yang tanpa dengannya manusia mustahil dapat hidup sebagai manusia. Manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Kuasa secara kodrati diberi hak dasar yang disebut hak asasi, tanpa perbedaan antara yang satu dengan lainnya. Dengan hak asasi tersebut, manusia dapat mengembangkan diri pribadi, peranan dan sumbangannya bagi kesejahteraan hidup manusia. Ada perbedaan prinsip antara hak-hak asasi manusia dilihat dari sudut pandangan Barat dan Islam. Hak asasi manusia menurut pandangan Barat semata-mata bersifat antroposentris, artinya segala sesuatu berpusat pada manusia. Sedangkan hak asasi manusia menurut pandangan Islam bersifat teosentris, artinya segala sesuatu berpusat kepada Tuhan.

          Mencermati peta perpolitikan di Indonesia, nilai nilai kemanusiaan, etika moral, sering terabaikan. Dan, umat Islam (penyandang predikat khalifah di muka bumi) sangat tidak layak untuk berdiam diri menyaksikan wajah perpolitikan di negeri ini berlangsung corat marut. Harus ada rasa tergugah untuk melakukan perubahan konstruktif salah satunya yang terkandung dalam surah berikut ini:

  • Yunus 40-41

وَ مِنۡهُمۡ مَّنۡ يُّؤۡمِنُ بِهٖ وَمِنۡهُمۡ مَّنۡ لَّا يُؤۡمِنُ بِهٖ‌ؕ وَرَبُّكَ اَعۡلَمُ بِالۡمُفۡسِدِيۡنَ. وَاِنۡ كَذَّبُوۡكَ فَقُلْ لِّىۡ عَمَلِىۡ وَلَـكُمۡ عَمَلُكُمۡ‌ۚ اَنۡـتُمۡ بَرِيۡٓــُٔوۡنَ مِمَّاۤ اَعۡمَلُ وَاَنَا بَرِىۡٓءٌ مِّمَّا تَعۡمَلُوۡنَ‏
Artinya: Dan di antara mereka ada orang-orang yang beriman kepada Al Qur’an, dan di antaranya ada (pula) orang-orang yang tidak beriman kepadanya. Tuhanmu lebih mengetahui tentang orang-orang yang berbuat kerusakan. Jika mereka mendustakan kamu, Maka Katakanlah: “Bagiku pekerjaanku dan bagimu pekerjaanmu. Kamu berlepas diri terhadap apa yang Aku kerjakan dan akupun berlepas diri terhadap apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. Yunus: 40-41). Bentuk toleransi yang ada pada ayat ini adalah jika mendapati orang-orang yang mendustakan agama Islam, maka umat Islam tidak perlu marah, namun katakan kepadanya “Atamu amalmu dan atasku amalku karena setiap amal akan dipertanggungjawabkan.

          Dilihat dari keseluruhan penjelasan diatas, maka dengan itu kontribusi yang akan saya berikan terhadap agama, negara dan berbangsa berupa dengan menyampaikan, memperdalami dan mengajarkan secara aktif tentang Pendidikan Islam yang merupakan sebagai salah satu aspek dari ajaran Islam yang didasarkan pada Al-Qur’an dan Hadist Nabi Muhammad saw. Karena pendidikan (formal, nonformal dan informal) termasuk amalan yang nyata dan harus dilakukan, maka pendidikan tercakup dalam bidang syariah. Bila diklasifikasikan lebih lanjut, termasuk dalam sub bidang muamalah. Pengklasifikaksian ini tidak terlepas dari adanya tanggung jawab yang wajib bahwa pendidikan merupakan sebuah kebutuhan yang nantinya akan menyangkut kebutuhan orang banyak (social masyarakat). Dengan demikian maka jelaslah bahwa sebaik-baik orang adalah dia yang mampu memberikan kontribusi pada masyarakat sekitanya. Dan perintah ajarkanlah ilmu walau satu ayat yang terkandung didalam beberapa surah berikut ini:

  • Surah al-Kahf ayat 66 (Tentang Pendidik)           

Yang artinya: ”Musa berkata kepada Khidhr “Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu” (QS. 18: 66)”.

Dari ayat ini dapat diambil beberapa pokok pemikiran sebagai berikut:Kaitan ayat ini dengan aspek pendidikan bahwa seorang pendidik hendaknya:

  1. Menuntun anak didiknya. Dalam hal ini menerangkan bahwa peran seorang guru adalah sebagai fasilitator, tutor, tentor, pendamping dan yang lainnya. Peran tersebut dilakukan agar anak didiknya sesuai dengan yang diharapkan oleh bangsa neraga dan agamanya.
  2. Memberi tahu kesulitan-kesulitan yang akan dihadapi dalam menuntut ilmu. Hal ini perlu, karena zaman akan selalu berubah seiring berjalananya waktu. Dan kalau kita tidak mengikutinya, maka akan menjadikan anak yang tertinggal.
  3. Mengarahkannya untuk tidak mempelajari sesuatu jika sang pendidik mengetahui bahwa...(more)

Answered Jan 7, 2018
Romanna Friska
Muslimah - Ideologic Marine Surveyor - Muslimah Negarawan - Intelektual Lillah

ROMANNA FRISKA PRICILIA MANURUNG_FPIK_UNIVERSITAS PADJADJARAN_CALON PENDAFTAR SELEKSI BAKTI NUSA

                                                          "Islam Punya Solusi"


Zm1JZk0inaA8G2UxzqrErFN88L-WsjEi.jpg

Hari ini dunia carut marut. Dunia tidak baik - baik saja. Tidak bagi kaum muslimin maupun kaum non muslim di seluruh dunia. Kaum muslim jelas menjadi golongan paling terpuruk. Terpuruk pendidikan, ekonomi, politik, sosial, militer dan keterpurukan di bidang lainnya. Lain hal dengan kaum muslim, warga non – muslim pun hidup dalam kebahagiaan semu atau bisa disebut kebahagiaan palsu. Berkiblat pada peradaban di Eropa dan Amerika yang digadang – gadangkan merupakan peradaban maju era millenial, dapat terlihat jelas keterpurukan hakiki mereka apabila ditelisik lebih jauh. Kemajuan teknologi, pendidikan dan perkembangan ekonomi mereka sekilas memberikan informasi bahwa mereka telah meninggalkan peradaban lainnya di dunia. Padahal bila dibongkar, mereka rusak di segala arah. Hutang negara yang tidak kalah fantastisnya dengan hutang mayoritas negara muslim, ketidakharmonisan rumah tangga, kesetaraan gender pembunuh identitas wanita sebagai tonggak pembangun peradaban, kesenjangan sosial antara kaum konglomerat dan konglomelarat, pergaulan bebas yang mendorong penyakit mematikan, LGBT yang mendorong pemusnahan lahirnya generasi baru, hedonisme tiada henti, industri pendidikan pencetak buruh berdasi, pelaku pemesanan Undang – Undang sesuai kepentingan pemilik modal, sebagai pelaku neo -  imperialisme  atas sumberdaya negara lain, dan sekian banyak keboborokan belakang layar lainnya. Frasa – frasa berisi kebobrokan ‘peradaban maju’ ini dapat dicari kebenarannya di berbagai sumber jika memang masih ada yang tidak sepaham dan dengan lantang menyatakan dunia hari ini baik – baik saja. Sekali lagi dunia hari ini tidak baik – baik saja.

 

Sebagai muslim, jelas yang menjadi akar permasalahan hari ini adalah keingkaran manusia terhadap Allah.  Mencampakkan aturan paripurna dariNya. Maka yang saya lakukan adalah mengambil keikutsertaan dalam mengajak manusia umumnya dan mahasiswa sebagai iron stock khususnya untuk berbpikir kembali atas akar permasalahan hari ini dan solusi hakiki atasnya.

 

Konkritnya, saya berusaha aktif mengajak mahasiswa kembali menjadi identitasnya. Menjadi mahasiswa. Bukan sembarang mahasiswa. Mahasiswa yang menjadi kontributor terbesar dalam mengkritisi dan memberikan solusi terbaik bagi problematika hari ini. Saya bersama teman – teman ikut serta mendorong kembali budaya diskusi hadir di kalangan intelektual. Tidak melulu diskusi akbar melainkan ikut menanamkan diskusi kecil – kecilan dengan teman – teman setingkat, kakak tingkat ataupun adik tingkat. Diskusi dengan topik yang umum atau khusus kemaritiman (karena background pendidikan saya ilmu kelautan). Bukan diskusi yang ramai dengan kritikan tapi kosong solusi melainkan mendorong untuk berpikir apa solusi terbaik hari ini? Saya mencoba mempelajari bagaimana islam sukses menjadi pondasi utama dalam penyelesaian solusi terbaik di berbagai bidang. Simpe sekali ya? Tapi saya yakin, upaya ini bukan hal sia – sia. Karena setidaknya dua identitas mahasiswa kembali tumbuh dalam jiwa kami, sebagai intelektual dan iron stock pembangun peradaban.

 

Itu saja? Jelas solusi bukan butuh sekedar teori melainkan implementasi.Untuk skala pribadi saya memfokuskan diri untuk mempelajari bidang saya. Saya mulai belajar untuk mengikuti LKTI bukan untuk kepuasan intelektual semata melainkan melatih diri dalam berpikir sistematis dan melakukan pendekatan teknis atas masalah kelautan.  Khususnya bagi wilayah kepulauan seperti Indonesia, kebutuhan akan pembangunan dan pengembangan zona maritim ke depannya akan sangat tinggi. Atas dasar itu saya memilih untuk terus memaksimalkan pendidikan di keilmuan yang saya geluti hari ini. Dengan berbagai latar belakang keilmuan lain, akademisi wajib menjadi ahli di bidangnya masing – masing mengingat apabila suatu masalah tidak ditangani oleh ahlinya maka, tunggulah kehancurannya. Jelas, akademisi terutama mahasiswa hari ini harus terlebih dahulu memiliki ilmu yang mumpuni sebelum memberi solusi yang siap diimplementasi.

 

Apa yang saya lakukan mungkin sama dengan yang dilakukan semut saat nabi ibrahim dibakar oleh raja dzalim saat itu. Jelas perbuatan saya tidak aka membawa perubahan signifikan bagi dunia. Bahkan jika dianggap hanya saya saja pelaku perbaikan ini jelas saya seperti “Omdo” alias Omongan Doang. Tapi hal kecil yang saya lakukan ini membuktikan dipihak mana saya berdiri, menjadi andil saya dalam turut serta memperbaiki kehidupan yang penuh kekacauan ini. Tapi bukankah semut itu kuat karena bersama? Apalagi dalam menjemput Pertolongan Allah. Bukankah lebih indah dan baik jika kita semua bergerak serentak?

 

Answered Jan 7, 2018
elmia hidayati
Elmia Hidayati_FMIPA_UNIVERSITAS BRAWIJAYA_CALON PENDAFTAR SELEKSI BAKTI NUSA

g9XQx-r4HCj-YppwHsoxhXLQqrh1dpTU.jpg

Norwegia, Selandia Baru, dan Finlandia adalah 3 negara termakmur di dunia. Hal itu sesuai dengan Laporan tahunan dari Global Prosperity Index yang dikeluarkan oleh lembaga riset The Legatum Institute. Tahukah kenapa bukan Amerika atau Uni Emirat Arab? Meskipun kedua negara tersebut adalah negara adikuasa dengan pendapatan perkapita yang sangat tinggi, negaranya belum bisa dikatakan sebagai negara makmur. Seorang Sosiolog bernama David McClelland berpendapat,”Suatu negara bisa menjadi makmur bila ada entrepreneur (pengusaha) sedikitnya 2% dari jumlah penduduknya”. Hal itu menunjukkan bahwa untuk menjadi negara yang makmur, ada banyak poin yang harus dipenuhi, bukan hanya tentang tingginya pendapatan setiap warganya, tetapi lebih dari itu yaitu tentang apakah warganya sudah merasakan kepuasan terhadap kinerja pemerintah, apakah warga sudah memiliki rasa saling menghormati dan menghargai antar sesama, apakah setiap warga sudah merasakan aman di negaranya sendiri, apakah warga sudah mampu menghidupi kehidupannya dengan baik dan layak, serta lebih jauh lagi apakah warganya sudah melakukan dan mendapatkan kewajiban serta haknya sebagai seorang warga, pun dengan pemerintah atau aparat. Apakah mereka sudah melakukan hak dan kewajibannya sebagai bagian dari pemimpin negaranya?

Itu adalah PR besar untuk Indonesia. Jika melihat lingkungan terdekat kita misal, maka sudah pasti kita akan merasa yang namanya “kenapa ya, seperti ini?”. Bullying yang saat ini sedang tren, diskriminasi terhadap ras yang masih banyak terjadi, SARA yang menjadi tema lelucon, toleransi yang masih sering dipertanyakan, perbedaan pendapat yang masih sangat sering menjadi ancaman suatu perpecahan, narkoba yang saat ini menjadi gaya hidup, hingga korupsi yang belum juga tuntas. Banyak sekali hal di sekitar kita yang jika kita membiarkan mata dan telinga ini terbuka maka mungkin setiap kata yang keluar dari mulut adalah bentuk keluhan. Maka, apakah kita hanya akan membiarkan mata dan telinga kita terus tertutup agar kita tidak mengeluh? Atau apakah kita hanya akan mengeluh saja sedangkan sudah jelas dikatakan di dalam ayat-Nya QS Al-Imron ayat 139, bahwa janganlah mengeluh dan merasa lemah. Sehingga solusi dari segala macam bentuk pekikan hati yang mungkin tidak hanya satu dua orang yang merasakan adalah, mari kita mulai membuka mata dan telinga secara perlahan, dan menjadi pribadi yang lebih peduli. Satu kata itu sedikit banyak akan mampu merubah kita, lingkungan kita, dan Indonesia. Satu orang peduli kepada yg lainnya, akhirnya dua orang peduli, tiga, empat, ratusan, ribuan, dan akhirnya seluruh warga Indonesia adalah masyarakat yang peduli. Maka sangat memungkinkan dalam jangka waktu 5 tahun Indonesia menjadi negara makmur yang akan menyaingi Norwegia.

Indonesia adalah negara yang kaya, sangat amat kaya akan sumber daya alam, Indonesia memiliki jutaan pemuda yang cerdas otaknya, yang brilian idenya. Namun hanya satu, kepeduliannya yang masih kurang. Sehingga saya bisa berkata, ketika kepedulian masyarakat Indonesia sudah meningkat maka mudah saja bagi Indonesia untuk menjadi negara makmur.

Itulah tugas terbesar kita sebagai mahasiswa. Mulai mengkampanyekan tentang peduli. Dari diri kita sendiri, orang terdekat kita, hingga komunitas  besar kita. Ketika ada bullying, ada ketidak-adilan, ketidak-benaran terjadi di sekitar kita, maka wajib bagi kita untuk berteriak dan melangkahkan kaki menghentikan semua itu. Maka semoga, dengan kepedulian yang kita lakukan sedikit banyak bisa menular kepada teman terdekat kita hingga akhirnya seluruh warga Indonesia.

Answered Jan 8, 2018
Muhammad Ainurrohman
AINURROHMAN_FIK_UNIVERSITAS NEGERI MALANG_CALON PENDAFTAR SELEKSI BAKTI NUSA

Perilaku Hidup Bersih dan Sehat: Kunci Murahnya Kesehatan di Indoensia

h4kOX72uBel0_OxrGKxtbFVX37Yi-a6w.jpeg

Kesehatan mahal harganya, sebagai calon insan kesehatan saya mengakui bahwa kesehatan memang mahal harganya karena kesehatan sendiri tidak dapat dibeli dengan uang seberapun harganya. Hal ini yang kurang banyak dipahami masayarakat kita saat ini, skema pragmatis yang masih melekat yaitu konsep paradigma sakit. Masih terlintas dibenak kita “Orang miskin dilarang sakit”, betapa banyak orang tersinggung atas ungkapan setahun yang lalu dikeluarkan ketika seret-nya pencairan dana kesehatan dari BPJS Kesehatan.

Ketersinggungan ini seharusnya kita manfaatkan untuk mawas diri, “orang miskin dilarang sakit” bukan sekedar opini publik untuk menyindir salah satu institusi independen pemerintah tersebut. Tanpa menafikkan segala aspek manusiawi bidang kesehatan tentunya memerlukan dana yang cukup besar. Bayangkan saja BPJS dikonsepkan menanggung seluruh pembiayaan kesehatan diseluruh Indonensia dengan skema Universal Health Coverage (UHC), pernahkah kita terlintas bagaimana beli alat kesehatannya? Bagaimana obatnya? Bagaimana distribusinya? Pernah saya mendengar suatu perkataan dari dr. Gamal Albinsaid “Kesehatan adalah suatu bidang dimana kita meletakkan bidang ekonomi (budgedting) dengan aspek-aspek sosial (kemanusiaan)” ketika berdiskusi dengan presiden Russia Valdmir Putin.

Manusia Indonesia tersinggung? Mereka benar- benar tersinggung, dalam observasi lapangan dan juga berita yang disiarkan di TV nasional yang saya lakukan, pernyataan  tersebut sangat memicu polemik hingga beberapa bulan. Tapi bukan itu yang ingin saya bahas, masalahnya adalah “jika kita benar-benar tersinggung” mengapa kebiasaan yang dapat memicu turunnya kesehatan masih tidak bisa kita kurangi dan masih kita lakukan setiap hari. Contohnya saja merokok, siapa yang merokok? Kebanyakaan mereka kaum yang berada dibawah garis kemiskinan, padahal kita tahu bahwa rokok dapat memicu banyak gejala kesehatan. Menurut data statistik saja mereka yang merokok adalah 66.7% dari 73% keluarga di Indonesia yang masuk kategori pra-sejahtera (miskin). Data diatas juga sangat relevan data kesehatan dimana penyakit ISPA dan Pneumonia merupakan penyakit tertinggi di Indonesia hingga mencapai prevalensi 25%, angka ini menjadikan ISPA sebagai penyakit menular tertinggi dialami oleh masyarakat Indonesia.

Jika memang “orang miskin dilarang sakit” kenapa kita mayoritas orang miskin di Indonesia tidak memilih untuk sehat? Ini adalah opini terberat yang pernah saya keluarkan. Memang kesehatan mahal harganya, tapi tidak untuk berperilaku hidup bersih dan sehat dalam artian menjaga kesehatan. Bukankah kesehatan ini juga anugerah dari Tuhan YME, sebagai Manusia Indonesia yang religius tentunya kita juga harus bertanggung jawab untuk memelihara kesehatan ini karena “kebersihan sebagian dari Iman” hal ini juga berhubungan dengan ritual-ritual keagamaan, lantas bagaimana kita menjalankan ritual dengan baik jika kita sendiri tidak dalam kondisi yang sehat dan berpenyakitan. Jangan asal tersinggung, itulah kuncinya.

Sebenarnya pemerintah sudah menyetandarkan segala aspek agar manusia inonesia menjadi Insan yang unggul, untuk itu kesehatan adalah pondasi utama seseorang agar dapat beraktifitas seperti belajar, bekerja, serta berkarya. Perilaku hidup bersih dan sehat atau sering kita mendengar sebagai PHBS di masyarakat sebenarnya sudah terlalu sering dilaksanakan sosialisasinya baik oleh institusi kesehatan sendiri ataupun badan lain yang bergerak dalam bidan kesehatan dan kemanusiaan. PHBS sendiri merupakan langkah-langkah untuk menjaga dan menjamin kebersihan dan kesehatan dengan memutus rantai vector penyakit dan juga mengurangi faktor resiko.

Kegiatan sederhana dalam PHBS ini sebenernya mudah sekali untuk dilakukan tapi memang diperlukan kebiasaan atau konsistensi untuk menjaganya seperti mencuci tangan sebelum dan sesudah makan, tidak merokok, memakai jamban ketika BAB, makan sesuai porsi dan menganut prinsip gizi seimbang, pemberian asi eksklusif selama enam bulan, dan berolaharaga teratur. Untuk itu budaya dalam menggalakkan PHBS harus dilakukan.

Ini yang manjadi tantangan generasi muda khususnya mahasiswa kesehatan bagaimana untuk menerapkan ini semua? Saya rasa kuncinya adalah Inspiring People dengan membuat sebuah desa percontohan. Sebut saja Kampung PHBS, selama ini belum ada yang membuat model kampung seperti ini. Kampung PHBS adalah sebuah model kampong dimana masyarakatnya sangat mendukung dalam menerapkan program-program PHBS, sehingga kampong seperti ini dapat menginisiasi kampung-kampung lain untuk melakukan program yang sama.

Answered Jan 8, 2018
Arizaldi
ARIZALDI_FASILKOM_UNSRI_CALON PENDAFTAR SELEKSI BAKTI NUSA

gaYSHmRyv-fMl9riaJ1J6ggZqjJKfV4r.png

Kultur Media sebagai Pengubah Pola Pikir Kekinian

Berbicara mengenai kontribusi, tentu menjadi hal yang sangat menarik sebagai pokok bahasan. Pada dasarnya, kontribusi adalah sumbangsih atau bagaimana sesuatu hal yang dikerjakan atau dicanangkan bisa bermanfaat untuk orang lain maupun lingkungan. Terlepas dari kepada siapa kontribusi itu ditujukan, kebebasan pribadi dalam penyampaiannya. Membahas tentang kontribusi, tak akan ada habis bahasannya, selalu ada hal menarik untuk direncanakan dan akan dilaksanakan. Ya, hal yang lumrah bila manusia ingin memberikan manfaat untuk orang lain, membawa perubahan, mengantar kepada kesuksesan, dan membawa hawa positif untuk kebahagiaan orang lain. Lalu kontribusi apa yang bisa diberikan untuk agama, bangsa, dan negara ?

Pemuda

                Dari masa ke masa, pemuda dikenal sebagai sosok yang mampu membawa perubahan untuk kejayaan Agama dan Bangsanya. Juga menjadi tameng dan patokan sukses atau terpuruknya agama atau suatu bangsa. Semangat yang menggelora, mencari jati diri, dan mencari hal baru sebagai pengalaman, inilah jiwa pemuda. Jika semangat dan harapannya sudah tidak dikejarnya lagi, inilah tanda akan habisnya jiwa mudanya. Dalam sosok pemudalah, harapan dan cita-cita agama dan bangsa dipercayakan padanya. Ide-ide cemerlang untuk kemajuan dan kemaslahatan lahir dari pikiran segar para pemuda, khususnya mahasiswa pada zaman sekarang. Dari ide-ide pemudalah banyak membawa perubahan dan kemajuan pembangunan bangsa. Memiliki mimpi dan harapan yang jauh kedepan, menjadi salah dua hal yang akan selalu memotivasi untuk terus berusaha mencapainya. Anies Baswedan pernah mengatakan “Memang baik meraih suatu mimpi, tetapi lebih baik lagi ketika kau mampu melebihi mimpi tersebut”. Yang tak pernah luntur dari mereka adalah mimpi dan harapannya. Selama mereka punya senjata itu, gebrakan besar masih akan terus terjadi. Semangat inilah yang harus terus dijaga sampai sekarang dan seterusnya, serta ditularkan pada bahu pemuda selanjutnya. “Pemuda saat ini adalah pemimpin di masa depan. Karenanya jika ingin mengetahui bagaimana suatu negara dimasa yang akan datang, maka lihatlah pemudanya di zaman sekarang”.

Kontribusiku untuk agama

                Melihat kondisi di zaman sekarang, banyak para pemuda maupun pemudi yang terjerumus pada hal-hal yang sangat bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Banyak contoh buruk dari media sosial maupun tontonan yang semakin hari semakin jauh dari kesan mendidik. Para pelaku media lebih mementingkan reputasi dan rating, tanpa mempertimbangkan pelaku yang akan menikmati media tersebut, tanpa pertimbangan “kelayakan” konsumsi publik yang didalamnya terdapat para insan muda yang masih labil dan mudah terpengaruh, terutama dengan hal-hal negatif. Kebanyakan hiburan media yang sekarang menjadi tidak mendidik dan malah menurukan moral serta mental para pemuda. Kalau tidak dikendalikan, maka akan terjadi efek negatif yang membuat para pemuda mencari jalan instan dalam menjalani hidupnya, jauh dari agamanya dan tidak mempunyai mimpi besar untuk kemajuan agama dan bangsanya. Tentu ini menjadi tantangan mengingat di tangan pemudalah cita-cita agama dan bangsa dipertaruhkan.

                Mempertimbangkan dari kondisi tersebut, didapatkan bahwa para pemuda zaman now lebih menggiati gadget umumnya, dan media sosial khususnya. Kalau diibaratkan, pemuda dan gawai ibarat perangko dan surat yang selalu melekat tak terpisahkan. Tak lengkap rasanya hari tersebut jika tak ada gawai di tangan. Dari hal tersebutlah, saya memimpikan untuk penyebaran dakwah melalui pamflet dan poster yang disebarkan di media sosial serta website yang akan saya kembangkan sesuai dengan disiplin ilmu yang sedang saya pelajari sekarang yang nantinya akan diisi galeri pamflet maupun poster, serta tulisan yang akan disampaikan. Solusi ini saya rasa cukup efektif jika pamflet dan poster dibuat semenarik mungkin, tidak “menjatuhkan”, dan memuat tulisan yang menyesuaikan dengan zaman sekarang tanpa berpaling dari syariat Islam. Bukan bertujuan untuk membuat para pemuda untuk menjadi candu gawai, tetapi lebih kepada pendekatan aktivitas sehari-hari mereka yang tak terlepas dari gawai.

                Melalui jalan inilah, diharapkan para pemuda yang ingin kekinian tanpa meninggalkan Islam, tetapi lebih menambah ilmu agama dan menyadarkan bahwa hijrah dan istiqomah adalah kekinian yang sebenarnya. Pemuda Islam harus menunjukkan semangat dan pengorbanannya untuk Islam dan membuktikan bahwa Islam itu bukan membatasi kekinian, tapi gaya hidup Islamlah kekinian yang sebenarnya, Islamlah jalan hidup. Dan juga nanti, saya punya rencana untuk membuat satu hari tanpa gawai dimana para pemuda dituntut untuk lebih banyak membaca buku, memperbanyak hapalan, bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya, bertualang, maupun hal bermanfaat lainnya yang mereka rasa bisa membuat mereka nyaman serta lepas dan jauh dari gawai. Tujuannya adalah membangkitkan kembali rasa peduli dan semangat untuk memimpikan masa depan yang jauh lebih baik, serta membawa semangat untuk perubahan. Menggunakan potensi diri yang dimiliki dengan maksimal untuk memperjuangkan Islam. Nantinya, ditangan merekalah Roma akan ditaklukkan Insyaallah.

Kontribusi untuk bangsa

                Beragam suku bangsa menopang terbentuknya Indonesia, dari Sabang sampai Merauke, berjejer begitu banyak suku bangsa, mulai dari suku bangsa besar sampai suku kecil di pedalaman. Dengan begitu banyaknya keanekaragaman, membuat piha-pihak luar yang tidak senang dengan persatuan mulai memecah belah bangsa Indonesia dengan hal-hal yang terkadang tidak masuk akal. Terutama di media sosial, begitu banyak media sekuler yang menebar fitnah dan kebencian, menyebarkan isu-isu kecil yang dibesar-besarkan dan mengalihkan pemberitaan kelompok mereka yang terkena masalah besar. Semua orang yang bertentangan dengan mereka akan di “bumi hanguskan”, dicari aib-aibnya,...(more)

Answered Jan 8, 2018
Siti Sonia Aseka
Mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Sriwijaya


T3PJAP_s8_H9UheqbGFVawPWT4p3Ll0n.jpg

Bismillah~

Hindari Penyakitnya, Rangkul Penderitanya

(Menjadi Obat bagi Mereka yang Lupa Tentang Hakikat Hidup dan Kehidupan)

Siti Sonia Aseka

 

"Ketika sesama mulai lupa kisah bagaimana ia bisa lahir ke dunia

Ketika kanan kiri mulai sibuk menuruti hawa nafsunya saja

Ketika sekitar mulai tak peduli pada kekeliruan yang dibuat di depan matanya

Tidakkah kita tergerak untuk mulai menjadi terang dalam gelap?"

 

LGBT merupakan kependekan dari fenomena Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender. Istilah ini digunakan kepada mereka yang memiliki orientasi seksual menyimpang; penyuka sesama jenis (Lesbian dan Gay), orang yang tertarik kepada laki-laki dan perempuan (Biseksual) dan mereka yang mengubah kelamin secara terang-terangan dan bukan lagi mauk dalam kategori menyerupai saja (Transgender). LGBT telah ada sejak zaman dahulu, seperti dikutip dari kisah Nabi Luth AS. yang diberi ujian menghadapi kaum Sodom; kaum dengan orientasi seksual penyuka sesama jenis. Hingga hari ini, terhitung 10 negara yang telah melegalkan pernikahan sesama jenis, yaitu Jerman, Amerika Serikat, Skotlandia, Brazil, Perancis, Selandia Baru, Denmark, Spanyol, Kanada, dan Belanda. Hal ini membuktikan bahwa keberadaan kaum LGBT udah mulai diakui dan diterima dunia. Terbukti, beberapa negara telah mulai memperhitungkan untuk ikut melegalkan pernikahan sesama jenis, dengan alasan Hak Asasi Manusia.

Indonesia sendiri mulai bergolak ketika pengajuan Undang-Undang untuk mengkategorikan LGBT dan hubungan diluar nikah sebagai tindakan kriminal dan dapat dikenai sanksi hukum ditolak oleh Mahkamah Konstitusi. Sungguh Ironi. Ditengah upaya pemerintah mengeluarkan percobaan pemberlakukan Kurikulum 2013 di kalangan siswa sekolah dasar hingga menengah, yang menjunjung tinggi nilai moral dan kejujuran, Undang-Undang pengatur kehidupan sosial yang amat penting karena mempengaruhi generasi muda bangsa dalam hal ini LGBT ditolak setelah segala upaya yang dilakukan.

Mengutip data Kementerian Kesehatan, jumlah gay di tahun 2012 saja ada 1 juta orang.

"Itu data Kemenkes. Gay di Indonesia setelah tahun 2012 ada 1 juta orang. Bahkan ada prediksi data di permukaan, jumlah gay itu ada 3 persen penduduk Indonesia. Itu baru prediksi ya, belum lagi yang tidak ketahuan," ungkap Moammar. 

Data itu naik dari tahun ke tahun. Peningkatan jumlah semakin terlihat setelah tahun 2006. Sejak saat itu, peningkatan jumlahnya bisa mencapai 400 ribu orang. 

"Waria saja ada 28 ribu. Data ini kemudian naik terus," tegasnya.

 

Tak jauh berbeda dengan kondisi Indonesia, menilik pada lingkup terkecil, Universitas Sriwijaya juga mengalami hal yang sama. Pada akhir tahun 2017, Keluarga Mahasiswa Universitas Sriwijaya dibuat gempar dengan keberadaan grup facebook Gay Unsri dengan jumlah anggota mencapai ratusan orang. Data yang didapat, grup dibuat sejak sekitar tahun 2014-2015. Filter yang dilakukan untuk masuk ke dlam grup juga tidak sembarangan, sehingga sulit bagi mahasiswa lain untuk memata-matai pergerakan dalam grup sebab privasi grup adalah tertutup. Tidak bisa dipungkiri bahwa fenomena ini tidak lagi dapat dianggap sepele. Karenanya, seluruh Fakultas di Universitas Sriwijaya, mulai bergerak menyerukan aksi #TolakLGBT melalui tulisan-tulisan dan pencerdasan kepada masyarakat terkhusus Mahasiswa Universitas Sriwijaya.

Hal ini diharapkan agar Universitas Sriwijaya kembali bersih dari penyakit LGBT. Universitas Sriwijaya adalah wadah pembinaan penerus bangsa, yang tidak seharusnya dicemari oleh hal-hal yang meruak moral. Seluruh Keluarga Mahasiswa Universitas Sriwjaya diharapkan ikut serta dalam menyerukan aksi pencerdasan ini.

 

Answered Jan 8, 2018
Waris Okus
WARISAN_PERTANIAN_UNSRI_CALON PENDAFTAR SELEKSI BEASISWA BAKTINUSA

48xAyEZvqJGOtgerv5ftSzdkmbJ2b2V7.jpg

 

Home Education Untuk Pesisir Indonesia (Masyarakat Nelayan) Sebagai Wujud Baktiku Kepada Bangsa Dan Negara

Oleh

Warisan (05051181419008)

Program Studi Budidaya Perairan, Fakultas Pertanian, Universitas Sriwijaya

Berbicara tentang indonesia tentu  kita tidak akan pernah kehabisan bahan untuk membahasnya, keunikan yang disajikan secara tertata seakan selalu memberikan sesuatu yang menarik untuk dibahas. Begitupun jika kita berbicara tentang permasalahan yang sedang melanda negara tercinta ini, permasalahan-permasalahan muncul dari setiap sektor yang ada. Semua sektor memunculkan permasalahan-permasalahan yang membutuhkan pemecahan atas kehadiranya, membutuhkan pemikiran-pemikiran kreatif yang akan menjadi penawar dan jalan keluarnya. Namun sebelum berbicara jauh tentang permasalahan yang ada saya akan membahas dahulu terkait dengan defenisi  kontribusi itu sendiri,  kontribusi merupakan tindakan nyata yang akan dilakukan untuk membawa sebuah perubahan atau dengan kata lain bahwa kontribusi adalah sesuatu yang dilakukan untuk membantu menghasilkan atau  menggapai sesuatu bersama-sama dengan orang lain. Jika ditanya tentang kontribusi apa yang akan saya berikan bagi bangsa dan negara Indonesia untuk saat ini dan masa yang akan datang tentunya hal yang terlintas dibenaku adalah menjadikan indonesia negara yang perkasa, negara yang memiliki fasilitas pendidikan yang baik, negara yang memiliki tingkat kesejahtaraan yang sangat luar biasa, dan negara indonesia yang memiliki pemuda-pemuda yang luar biasa.

Dengan status saya saat ini sebagai seorang mahasiswa tentunya hal yang bisa saya lakukan untuk dapat berkontribusi bagi bangsa dan negara adalah belajar dengan giat, karena dengan inilah saya akan mampu mewujudkan konntribusi nyata saya yang lain untuk indonesia lebih baik di masa yang akan datang. Berbicara tentang sebuah kontribusi saat ini, maka saya akan sedikit menyinggung  terkait dengan Tri Dharma dari perguruan tinggi itu sendiri. Ada 3 pilar utama yang mengggambarkan tentang mahsiswa, dalam Tri Dharma itu sudah jelas batasan apa yang akan dan dapat dilakukan untuk mampu berkontribusi dalam segala aspek.  Adapun poin-poin terkait dengan Tri Dharma perguruan tinggi yang pertama adalah tentang pendidikan dan pengajaran, kemudian yang kedua adalah tentang penelitian dan pengembangan, dan selanjutnya dalaha tentang pengabdian kepada masyarakat. Wujud baktiku kepada bangsa dan negara saat ini dapat dimulai dari ketiga poin diatas. Terkait dengan pendidikan dan pengajaran hal nyata yang dapat saya lakukan untuk dapat berkontribusi adalah belajar dengan giat terkait dengan disiplin ilmu yang saya tekuni.

Melakukan penelitian adalah sesuatu yang wajib bagi seorang mahasiswa, melalui penelitian yang dilakukan dengan bersungguh-sungguh maka ini merupakan bukti konkrit yang dapat dikatakan sebagai kontribusi kepada bangsa dan negara, melalui penelitian yang dilakukan kita dapat memberikan solusi terhadap permasalahan-permasalahan yang sedang dihadapi oleh negara tercinta ini. Masuk kedalam pemabahasan terkait dengan pengabdian masyarakat, ini adalah poin penting tentang hal konkrit dari sebuah kontribusi, mengkolaborasi anatara poin pertama dan kedua dari Tri Dharma akan memeberikan bukti nyata kepada masyarakat. Dengan adanya poin-poin Tri Dharma perguruan tingggi tersebut maka hal yang akan saya lakukan sebagai wujud kontribusi kepada bangsa dan negara adalah mewujudkan ketiga poin tersebut dan mewujudkan fungsi utama dari mahasiswa itu sendiri. Sebagaimana yang kita ketahhui bahwa mahsiswa memliki 3 peranan utama yaitu sebagai agen of change, socisal control, dan iron stock dengan mewujudkan semua hal yang tertera di dalam poin-poin Tri Dharma dan juga fungsi utama mahasisiwa merupakan langkah nyata kontribusiku bangi bangsa dan negara saat ini. Sebagai agen of change saya akan menggunakan disiplin ilmu yang saya miliki untuk dapat membantu dan sekaligus berkontribusi bagi bangsa dan negara melalui kegiatan pembinaan di sektor perikanan terhadap masyarakat luas. Langkah yang saya ambil adalah melakukan penyuluhan sektor perikanan kepada masyrakat dan menjadi tenaga sukarelawan sektor perikanan, bagi saya ini adalah sebuah wujud nyata kontribusi kepada bangsa dan negara melalui disiplin ilmu sebagai seorang mahasiswa.

 Jika ditanya tentang kointribusi apa yang akan saya berikan di masa yang akan datang maka yang akan saya lakukan adalah perbaikan terkait dengan pendidikan dan juga taraf hidup bagi masyarakat di Indonesia khususnya bagi anak pesisir indonesia. Saya akan berusaha untuk mewujudkan poin ke 5 pancasila yaitu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Saya akan wujudkan hak-hak  pendidkan anak-anak pesisir, untuk mewujudkan semua mimpi-mimpi maka yang  dimasa yang akan datang saya mencanangkan untuk dibuatnya sebuah rumah pendidikan bagi anak pesisir. Rumah yang akan menanungi keinginan mereka untuk belajar banyak tentang ilmu pengetahuan, rumah belajar yang sekaligus akan menjadi tempat bermain bagi mereka. Rumah pendidikan ini nantinya akan menjadi sebagaio wadah pendidikan non formal  bagi masyarakat pesisir (mayarakat nelayan.. Pesisir merupakan daerah pertemuan antara darat dan laut, sedangkan defenisi dari masyarakat pesisir itu sendiri adalah masyarakat yang tinggal dan melakukan kegiatan sosial ekonomi yang berkaitan dengan sumber daya wilayah pesisir dan lautan atau dengan kata lain masyarakat pesisir adalah sekumpulan masyarakat yang terdiri dari nelayan, pembudidaya ikan, pedagang ikan dan lain-lain yang hidup bersama mendiami wilayah pesisir. Masyarakat pesisir termasuk masyarakat yang masih terbelakang dan marginal, dan jika dilihat dari segi pendidikan masih tergolong rendah, hampir setiap tahunya jumlah anak yang putus sekolah diseluruh wilayah pesisir Indonesia terus mengalami peningkatan. Bagi sebagian besar keluarga masyrakat pesisir (nelayan), pendidikan merupakan hal yang dianggap tidak terlalu penting, ini merupakan paradigam yang selalu ada dalam...(more)

Answered Jan 9, 2018

Question Overview


and 537 more
555 Followers
44327 Views
Last Asked 8 months ago