selasar-loader

Bagaimanakah Pendidikan yang paling baik?

Last Updated Jan 4, 2018

Menurut saya pendidikan yang paling baik adalah rasa penasaran dari siswanya sehingga mereka ingin tau dan paham. bukan mengikuti kurikulum negara lain. bukan juga mengikuti sistem pembelajaran menurut para ahli. karena dasar pendidikan itu sendiri adalah menciptakan siswa mampu mengerti dan paham serta dapat menyampaikannya secara umum. itu kunci pendidikan yang paling baik. pendidikan di indonesia menganjurkan kita untuk menghafal bukan memahami padahal yang namanya ilmu pengetahuan akan selalu berkembang seiring waktu dan jamannya. pemuda adalah generasi yang berapi - api yang selalu menciptakan karya. tuntutlah untuk para siswa dan mahasiswa untuk menciptakan sebuah karya. itu bisa dikatakan pendidikan berhasil menciptakan generasi yang mau berkarya. dengan membantu menemukan bakat dari para pemuda maka akan menciptakan generasi yang berhasil dalam pendidikannya tersebut. (Aulia Rahman Wahyu Hidayat)

4 answers

Sort by Date | Votes
Anonymous

Membaca Suatu Kebiasaan yang baik

Indonesia akan menjadi Negara Maju, itu adalah tekad kuat dari seluruh masyarakat Indonesia saat ini, khususnya Kaum Muda. Oleh karena itu sangat dibutuhkan kerja keras dan kegigihan serta keuletan dari seluruh rakyat untuk mewujudkan Misi Indonesia Negara Maju. Bukan tidak mungkin hal tersebut terwujud, bila kita sepakat bersama bekerja dan berbuat kebaikan untuk Negeri ini. Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas yang mampu dan unggul dalam berbagai sector kehidupan sangat dibutuhkan dalam rangka mewujudkan Visi Indonesia seperti yang tertuang dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 serta dalam Butir-Butir Sila Pancasila.

Dalam isi Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, pada Alinea ke-4 jelas dikatakan bahwa Tujuan dari terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah: “Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, Memajukan Kesejahteraan Umum, Mencerdaskan Kehidupan Bangsa, dan Ikut Melaksanakan Ketertiban Dunia yang Berdasarkan Kemerdekaan, Perdamaian Abadi dan Keadilan Sosial”. Begitu juga dengan isi lima butir yang terdapat dalam Sila Pancasila, yaitu: “Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, serta Mewujudkan suatu Keadilan Sosial Bagi Rakyat Indonesia”, yang kesemuanya itu kita ucapkan saat Upacara Pengibaran Bendera yang dilaksanakan setiap hari Senin, baik di Sekolah-Sekolah dari tingkat TK, SD, SMP dan SMA Negeri maupun Swasta di tanah air kita ini, maupun di Instansi-Instansi Pemerintah tidak luput untuk mengucapkan Isi Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 dan Pancasila, sehingga butir-butir tersebut telah terpatri dalam jiwa dan raga seluruh warga Negara Indonesia.

Mewujudkan Sumber Daya Manusia Indonesia yang Seutuhnya

Pendidikan, adalah kata kunci yang perlu kita terapkan untuk mewujudkan Sumber Daya Manusia Indonesia yang seutuhnya, yang mampu menjawab perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi yang semakin deras dan menggerus Kehidupan Berbangsa dan Bernegara Generasi Muda Kita. Pendidikan yang baik dan bermutu, tentunya impian seluruh masyarakat Indonesia dewasa ini. Tuntutan untuk selalu memperbaharui Sistem Pendidikan sehingga melahirkan putera-puteri terbaik bangsa yang memiliki potensi, kreatif, inovatif, skill, kemampuan, bakat-bakat yang tumbuh dan berkembang dalam segala bidang kehidupan, mental serta fisik yang kuat. Memang untuk mencapai Standard Pendidikan Nasional yang bermutu dan mampu mengikuti serta menguasai Perkembangan Jaman, bukan hal yang mudah, tidak segampang membalikkan telapak tangan, dibutuhkan Kebijakan yang mampu memajukan Pendidikan Nasional.

Pendidikan adalahUsaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara. Proses Pendidikan bagaikan eksperimen ataupun percobaan yang tidak pernah selesai, akan berubah sampai kapanpun sesuai dengan Kompetensi yang dibutuhkan oleh peradaban manusia. Begitu juga dengan Pendidikan Indonesia yang merupakan bagian dari kebudayaan dan peradaban akan terus berkompetisi untuk mewujudkan warga Negara Indonesia yang seutuhnya.

Pendidikan dari Rumah adalah kunci awal suksesnya Sumber Daya Manusia yang baik dan bermutu, orang tua berperanan penting dalam mendidik anak semenjak dini, sejak dikandungan, Ibu harus mampu memberikan pendidikan yang baik. Setelah lahir, beranjak usia 2 tahun hingga akan mengecap Pendidikan Formal, orang tua berperanan penting dalam mendidik, menyertai dan membina si anak untuk bersiap menjadi bagian dari masyarakat luas. Orang tua yang baik adalah orang tua yang mampu memberikan pendidikan, mengetahui kebutuhan anak serta mampu menunjukkan mana perilaku yang baik, mana yang buruk, mana yang bagus untuk dilakukan mana yang tidak. Orang tua menjadi kunci sukses anak untuk memiliki Iman dan Taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa (Imtaq) dan Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek) yang semakin cepat. Dengan orang tua rajin mengajarkan Ibadah sejak dini kepada anak, rajin mengajarkan hal-hal yang baik, memberitahukan akibat negative dari suatu perbuatan yang negative, maka si anak akan mampu mengerti dan mengetahui mana perkembangan ilmu pentahuan dan teknologi itu yang tidak pantas ditiru.

Answered Jan 4, 2018
A. Khalil Gibran Basir
Founder Komunitas Satu Atap | FIM 19 | Rumah Kepemimpinan Regional 7 Makassar

Pendidikan paling baik dalam perspektif saya adalah pendidikan yang dibangun dari sistem yang tepat, adil, merata, mencakup semua golongan, tidak menjadi sebuah beban bagi siswa namun lebih kepada tantangan untuk mengembangkan segala potensinya sesuai dengan spesialisasinya, berfokus pada tujuan, serta mampu secara signifikan memberi kebermanfaatan kepada masyarakat dari segala lini (sektor). Pendidikan yang baik dalam hal ini juga  menyangkut inovasi-inovasi dalam pembelajaran, memperhatikan aspek psikologis siswa didik, membangun karakter anak bangsa yang bermoril, bukan hanya semata-mata sebagai alat dalam menuntaskan kebodohan secara intelegensi, namun secara emosional dan spiritual juga tertuntaskan. Berkaca pada sistem pendidikan yang dianut atau diberlakukan di dunia, Finlandia merupakan salah satu yang terbaik. Ada beberapa poin yang saya tangkap setelah membaca beberapa literatur terkait hal ini. Pertama bahwa sistem pendidikan di Finlandia betul-betul mengerti bagaimana aspek psikologis bekerja dalam menyukseskan pendidikan seorang anak. Finlandia sendiri tidak memperbolehkan anak yang berumur dibawah tujuh tahun untuk mengenyam pendidikan dengan alasan bahwa otak dari anak-anak usia di bawah tujuh tahun belum optimal untuk dibebankan sistem pendidikan, hal ini mungkin yang sedikit berbeda dengan sistem pendidikan di Indonesia yang meskipun memiliki aturan khusus dalam pelaksanaannya namun masih ada saja kelonggaran sistem yang memperbolehkan anak usia di bawah tujuh tahun untuk mengenyam pendidikan. Mungkin ada beberapa sedikit pertimbangan dari pihak pemerintah terkait hal ini. Ataupun mungkin di Indonesia, perlakuan yang diberikan harus sedikit 'berbeda' mengingat karakteristik penduduk ataupun budaya yang berbeda dengan finlandia. Kedua, pendidikan finlandia tidak menekankan pada nilai tertulis kepada siswa didiknya setidaknya pada enam tahun pertama pembelajarannya sehingga nilai tertulis bukan menjadi sebuah patron yang betul-betul wajib diburu. Hal ini mungkin yang sedikit berbeda dengan sistem pendidikan di Indonesia yang pada enam tahun pertama pembelajarannya, nilai sudah menjadi patron yang wajib diburu. Sehingga hal ini yang kemudian menjadi fokus utama dari sang anak dan menimbulkan pandangan-pandangan sendiri kepada siswa didik bahwa ketika ia gagal mendapatkan nilai ini maka dirinya terjustifikasi sebagai orang yang bodoh. Berbagai macam hal pun dilakukan untuk mendapatkan nilai ini, termasuk dengan berbuat curang dalam setiap ujian ataupun tugas, Sadar atau tidak, pendidikan kita sudah terjebak dengan pola-pola seperti ini. Untuk penilaian  siswa didik di Finlandia sendiri, memiliki cara yang berbeda dan sistem yang khusus, bukan menekankan pada nilai ujian ataupun pekerjaan rumah (setidaknya ini diberlakukan sampai mereka menginjak usia remaja). Ketiga, dari segi kuantitas dan pembelajaran di kelas untuk kelas sains sendiri hanya boleh diisi sekitar 16 orang siswa dengan pertimbangan agar penelitian-penelitian dan pembelajaran sains yang dilakukan dapat lebih terfokus. Pembelajaran di kelas pun tidak membeda-bedakan siswa pintar maupun bodoh sehingga tidak ada kelas-kelas yang mengeksklusifkan diri seperti kelas reguler, internasional dan lain-lain. Semua pembelajaran dilakukan di kelas yang sama tanpa membeda-bedakan.  

 

Di samping melihat dari aspek psikologis, Pemerintah Finlandia sendiri menanggapi isu pendidikan sebagai sebuah hal yang sangat mendasar dan penting sehingga kesejahteraan dari tenaga pengajar dan aksesibilitas bagi siswa didik terutama dari aspek keterjangkauan biaya juga menjadi fokus utama pemerintah. Guru adalah pekerjaan bergengsi di Finlandia setara prestisiusnya dengan dokter maupun pengacara dan memiliki penghasilan yang begitu besar. Rata-rata menurut data, seorang guru dapat berpenghasilan awal sekitar 29 ribu dollar AS atau sekitar 390 juta rupiah. Demikian yang juga Pemerintah Finlandia berikan kepada siswa didiknya, 100 persen biaya sekolah didanai oleh negara. 

 

Memang betul kita sendiri tidak bisa menelan mentah-mentah bagaimana sebenarnya sistem pendidikan Finlandia ini berjalan, sebab mungkin ada beberapa nilai yang memiliki perbedaan dengan kultur dan kondisi karakter bangsa Indonesia saat ini. Namun, mungkin pemerintah Indonesia sendiri dapat berkaca atas beberapa fenomena yang cukup mengkhawatirkan terkait dengan kondisi pendidikan Indonesia saat ini.

Answered Feb 3, 2018
Romli Amrullah
RK7 Makassar | Founder ODTePs Community | Interested in Sharia Banking

4fjBggpdm5Jaw6qIihDXsSkbiSDbQUbl.png

"Menurut saya pendidikan yang paling baik adalah rasa penasaran dari siswanya sehingga mereka ingin tau dan paham". 

Itu adalah sebuah pernyataan yang lucu buat saya. Tidak ada yang salah memang dengan pendapat, tapi izinkan saya mengkritik pernyataan yang saudara berikan.

Tugas sekolah atau lembaga pendidikan adalah mengarahkan, bukan menuruti apa maunya siswa. Siswa adalah gelas kosong yang belum terisi apa-apa. Dengan naiknya tingkat pendidikan maka seharusnya kualitas dan kuantitas pengisian juga harus ditingkatkan. Layaknya gelas kosong, siswa pada tahap awal adalah manusia-manusia yang minim akan pengetahuan dan pengalaman. Siswa belum tau dunia ini seperti apa, belum tau permasalahan dan tantangan yang dunia ini berikan dan harus dihadapi nantinya. Oleh karena itu saya katakan, tugas sekolah atau lembaga pendidikan adalah mencari tahu permasalahan dan tantangan yang ada, lalu kemudian mengarahkan dan membekali siswa agar nantinya mampu menjadi pelopor dalam menyelesaikan permasalahan yang ada seta menjawab segala tantangan yang diperhadapkan.

Setiap anak memiliki kemampuan dan minat yang berbeda-beda. Memiliki sejuta pertanyaan di dalam kepala mereka. Tapi tugas sekolah bukan sebatas menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, melainkan memberikan arahan agar minat dan rasa penasaran yang dimiliki oleh siswa dapat dikembangkan secara optimal.

Apa yang salah  dengan pendidikan kita saat ini?. Banyak kemudian ilmuan dan para pemikir, politikus serta orator handal yang dilahirkan dari sistem pendidikan yang ada. Namun kemudian yang salah adalah bahwa pendidikan saat ini masih sangat mendominasi mereka yang mengarahkan siswanya untuk berfikir dan bertindak materialistis. Sehingga kecerdasan dan karya yang dihasilkan adalah semata-mata untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya saja.

Yang kurang dari pendidikan kita saat ini adalah bagaimana mereka mampu melahirkan siswa-siswa yang berkarakter. Siswa yang memiliki sifat, sikap dan pemikiran yang tidak materialistis. Sehingga segala tindakan yang nanti dilakukan tidak semata-mata untuk memenuhi kepuasan pribadi dan kelompoknya, namun demi kebermanfaatan bagi semua orang.

Itulah tugas sekolah, mengarahkan, bukan sekedar memenuhi rasa penasaran siswanya.

Answered Mar 1, 2018
Herman Palani
Economics student of UGM | RK 8 Yogyakarta

Pendidikan didesain untuk memanusiakan manusia.  Menjadikan manusia menjadi pribadi yang lebih baik dari  sebelu ia mengenal pendidikan. Kata kuncinya adalah menjadi lebih baik,  dengan apa? Dengan cara  memberikan nilai-nilai dasar yang dibutuhkan dalam menjalankan kehidupan, tidak hanya di dunia  tetapi juga kehidupan setelah dunia.  Ketika nilai-nilai dasar telah terpenuhi, barulah kita beranjak pada yang namanya  pengembangan diri.  Anak yang berbakat di seni didorongkan ke arah seni, anak yang suka dengan penelitian, didukung penuh dalam bidang tersebut, dan lain sebagainya.  Oleh karenanya pendidikan bukan wadah untuk menghasilkan output yang siap dipekerjakan, itu salah besar. Pendidikan, sucinya adalah melahirkan generasi yang mereka bangga dengan apa yang ia miliki. Tolak ukurnya bukan material. Terimakasih....

Answered Apr 2, 2018

Question Overview


7 Followers
577 Views
Last Asked 2 years ago

Related Questions


Bagaimana sistem pendidikan di Jerman berlangsung selama Perang Dunia II?

Adakah kajian ilmiah tentang parfum?

Bagaimanakah cara yang tepat untuk menanggulangi kenakalan remaja?

Bagaimana cara yang tepat untuk menanggulangi kenakalan remaja, khususnya seks bebas?

Apa saja faktor yang menginspirasi bagi remaja untuk melakukan kenakalannya?

Apakah rehabilitasi sudah cukup untuk menghentikan pengguna narkoba yang sudah terjerumus?

Apa yang mempengaruhi kaum remaja untuk melakukan seks bebas?

Apakah bisa kita menghilangkan seks bebas di kalangan remaja?

Apa itu sistem pendidikan anak Montessori?

Pada usia berapakah anak akan mampu menyerap pendidikan seks usia dini dengan baik?

Apa itu Rumah Kepemimpinan? Apa saja program dan kegiatannya?

Kenapa Selasar akhir-akhir ini mengunggah tulisan para peserta Rumah Kepemimpinan?

Mengapa anda memilih Rumah Kepemimpinan sebagai tempat menimba ilmu, berproses, dan menginfakkan diri dalam lingkaran yang disebut keluarga?

Bagaimana Anda memaknai tujuan kehidupan?

Siapa orang yang selalu menyemangati hidup Anda?

Apa saja hukum-hukum fisika yang penting tapi tidak banyak diketahui orang lain?

Bagaimana cara yang masih dapat dilakukan manusia untuk memanfaatkan energi yang dikeluarkan oleh matahari?

Siapa Drs. Musholli, pendiri Nurul Fikri?

Bagaimana cara kamu mengatasi kesedihan?

Apa kelebihan kuliah di jurusan Psikologi?

Apa yang membedakan pengusaha sukses dengan yang tidak?

Apa itu Business Model Canvas? apa kelebihannya dibanding pemodelan yang lain?

Kenapa rumah harus ada pintu dan jendela?

Menurut Anda, adakah ganda campuran yang pantas menggantikan Owi-Butet?

Apa arti "kesembuhan" bagi anda?

Apakah skill atau keahlian paling utama yang harus dimiliki seorang guru taman kanak-kanak?

Apa kabar mahasiswa masa kini?

Apa ketakutan terbesarmu?

Apa yang pertama kali harus dilakukan oleh orang tua manakala diketahui anaknya menonton video porno?

Jika Milea adalah istrimu sekarang, apakah kamu tidak cemburu dengan kisahnya bersama Dilan?

Tempat nongkrong apa yang paling asyik di Surabaya?