selasar-loader

Mengapa pemuda harus berpikir kritis dan punya hobi baca dan tulis?

Last Updated Jan 3, 2018

Membaca merupakan kebutuhan bagi setiap orang. Dengan membaca kita dapat mengetahui hal-hal yang sebelumnya belum diketahui.  Membaca merupakan gudang ilmu dan gudang pengetahuan, seseorang yang cerdas dan mengetahui banyak hal adalah seseorang yang mempunyai kebiasaan dalam membaca. Membaca merupakan suatu bagian dari proses pendidikan. Pendidikan yang baik dan berintelektual dilihat dari seberapa banyak siswa dan pemuda yang rajin membaca. Presiden jokowi menegaskan bahwa melalui pendidikan, masa depan suatu bangsa dipertaruhkan akan menjadi seperti apa. Budaya membaca adalah bagian dari tanggung jawab pendidikan. Artinya, sistem pendidikan mulai dari tingkat dasar sudah harus mampu menumbuhkan iklim bagi tumbuhnya budaya membaca. Melalui budaya membaca kita bisa menumbuhkan wawasan kultural dan kesadaran budaya masyarakat dengan cara sederhana. Belajar adalah jendela ilmu, jendela ilmu yaitu dengan membaca dan belajar mengajar, menulis dan berpikir kritis yang dikemas menjadi satu bernama Pendidikan.

 

Pendidikan bagi saya adalah segalanya, tanpa Pendidikan negara tidak akan maju, tanpa Pendidikan negara akan bodoh, tanpa Pendidikan negara akan miskin. Membangun dan mengembangkan Pendidikan sangat penting sekali, terutama di daerah. Berkembangnya sebuah negara tentunya dibangun dari generasi muda saat ini, anak-anak, remaja dan pemuda merupakan penerus estafet negara untuk menjadi negara yang maju dan dapat bersaing dikancah internasional. Pendidikan sebagai upaya untuk memajukan budi pekerti, pikiran serta jasmani seseorang, agar dapat memajukan kesempurnaan hidup dan menghidupkan manusia yang selaras dengan alam dan masyarakatnya1.

 

 

 

 

 
  

 

 

 

 

1Ki Hajar Dewantara. Definisi Pendidikan.

 

 

 

Pendidikan umumnya berarti daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intellect). Belajar dan mengajar adalah suatu proses kegiatan yang saling berkaitan dengan Pendidikan, dengan kita mengajarkan kepada anak-anak ataupun masyarakat yang masih minim dan terpelosok, ilmu yang didapat akan bermanfaat dan hidup akan menjadi lebih berkah.

 

Berdasarkan penelitian programme for international student assesment (PISA) 2012, indonesia ada diperingkat 60 dengan skor 396 dari total 65 peserta negara untuk kategori membaca. Sementara skor rata-rata internasional yang ditetapkan PISA adalah 500. Rendahnya membaca tak lepas dari masih tingginya angka buta huruf indonesia. Berdasarkan data pusat dan statistik kemendikbud 2015, angka buta huruf indonesia mencapai 5.984.075 orang. Angka buta huruf ini tersebar di 6 provinsi meliputi jawa barat (604.683 orang), jawa tengah (943.683 orang), jawa timur (1.258.184 orang), nusa tenggara barat (315.258 orang), sulawesi selatan (375.221 orang), dan papua (584.441).

 

Membaca akan meningkatkan kemampuan memahami kata dan meningkatkan kemampuan berpikir, meningkatkan kreatifitas dan juga berkenalan dengan gagasan-gagasan baru. Membaca adalah sebuah kegiatan yang ringan dan sederhana karena dengan membaca akan memiliki banyak manfaat. Membaca merupakan suatu proses komunikasi antara pembaca dan menulis dengan bahasa tulis. Hakekat membaca ada tiga hal, yakni afektif, kognitif, dan bahasa. Perilaku afektif mengacu pada perasaan, perilaku kognitif mengacu pada pikiran, dan perilaku bahasa mengacu pada bahasa anak.  Membaca merupakan rangkaian respon yang kompleks, di antaranya mencakup respon kognitif, sikap dan manipulatif. Membaca dapat dibagi menjadi beberapa sub keterampilan, yang meliputi: sensori, persepsi, sekuensi, pengalaman, berpikir, belajar, asosiasi, afektif, dan konstruktif. Aktivitas membaca dapat terjadi jika beberapa sub keterampilam tersebut dilakukan secara bersama-sama dalam suatu keseluruhan yang terpadu. Membaca pada hakekatnya adalah suatu proses yang bersifat fisik atau yang disebut proses mekanis, beberapa psikologis yang berupa kegiatan berpikir dalam mengolah informasi.

 

 

 

 

 

Penerapan budaya membaca dapat menciptakan generasi penerus yang intelektual dan cerdas. Pemuda sangat baik untuk banyak membaca dan menulis. Membaca merupakan jendela dunia, tanpa membaca tidak akan dapat memperoleh informasi. Membaca sangat erat kaitannya dengan menulis. Tanpa menulis, sehebat dan secerdas apapun seseorang tidak akan dikenang ketika ia wafat kelak. Menulis merupakan salah satu cara seorang pemuda untuk berkarya. Dengan menulis pemuda akan lebih memahami ilmu pengetahuan yang sebelumnya belum pernah ia dapatkan. Menulis dapat menghindari kebodohan, dengan menulis pemuda dapat berkreasi, berprestasi sehingga akan membuat pemuda memiliki pengetahuan yang luas. Dalam membaca dan menulis seorang pemuda harus  memiliki sikap berpikir kritis,

 

Berpikir Kritis merupakan salah satu cara untuk menganalisa suatu gagasan atau permasalahan, pemuda diidentikkan dengan berpikir kritis karena seorang pemuda adalah pengubah dunia, penerus estafet perjuangan bangsa Indonesia.  Bung karno dalam pidatonya mengatakan bahwa “Berikan Aku 10 Orang Pemuda Maka Akan Kuguncangkan Dunia”. Seorang pemuda ialah yang mempunyai jiwa kepekaan sosial yang tinggi dan sikapnya yang selalu berpkir kritis pada suatu permasalahan. Pemuda identik dengan mahasiswa, Mahasiswa adalah pemuda yang mempunyai jiwa-jiwa semangat, baik buruknya suatu negara dapat dilihat dari seberapa banyak mahasiswa yang peduli dengan sosial dan memiliki segudang prestasi1.

 

Wijaya (Ibrahim,2007) menyatakan bahwa berpikir kritis mengarah pada kegiatan menganalisa gagasan ke arah yang lebih spesifik, membedakan sesuatu hal secara tajam, memilih, mengidentifikasi, mengkaji, dan mengembangkan ke arah yang lebih sempurna. Selanjutnya, John Chaffee (Ibrahim, 2007) mengartikan berpikir kritis sebagai berpikir yang digunakan untuk menyelidiki secara sistematis proses berpikir seseorang dalam menggunakan bukti dan logika pada proses berpikir tersebut2. Berpikir kritis bagi seorang pemuda ialah keharusan, apabila seorang pemuda mempunyai sikap yang bijaksana, berfikir kritis pada suatu permasalahan, Indonesia akan menjadi bangsa yang maju, kemajuan suatu bangsa dipengaruhi oleh seorang pemuda.

 

 

 

 

 
  

 

 

 

 

2Ibrahim (2007). Pengembangan Kemampuan Berpikir Kritis dan Kreatif

 

Saat ini, banyak sekali isu-isu hoax di media sosial baik mengenai agama, politik, ekonomi, Pendidikan dan lain sebagainya. Sebagai seorang pemuda sejatinya harus bisa menyikapi permasalahan yang ada dalam kehidupan sehari-hari. Baru ini, didapati permasalahan dunia bahwa presiden amerika serikat, Donal Trump mengklaim secara sepihak bahwa yerussalem merupakan ibukota Israel.

 

Sebagai seorang pemuda, sudah seharusnya menyikapi berita-berita ataupun konflik sosial dan politik yang tidak adil seperti berita yang tersebut diatas. Bukan seperti pemuda yang memiliki kebiasan mengkritik tanpa mencari informasi dan berita yang benar, bukan pemuda yang asyik jalan kesana kemari tanpa prestasi, bukan pemuda yang selalu disanjung tanpa kontribusi. Pemuda adalah penerus estafet perjuangan bangsa, apabila pemuda di Indonesia ini memiliki pemikiran yang bijak, berpikir kritis dan mempunyai segudang prestasi, Indonesia akan maju dan dapat bersaing di kancah globalisasi dan bersaing menghadapi bonus demografi tahun 2030.

 

Pada dasarnya sikap berpikir kritis merupakan suatu sikap yang dimiliki oleh pribadi itu sendiri, namun budaya berpikir kritis dapat diterapkan oleh seorang pemuda, dengan cara mencari informasi dan berita yang aktual, benar dan sesuai dengan pernyataan aslinya. Sikap berpikir kritis dapat diterapkan oleh seorang mahasiswa dengan banyak membaca dan menulis, membaca adalah Gudang ilmu, jendela ilmu, dan mengatasi kebodohan. Pemuda yang rajin membaca, mencari referensi dan berita yang akurat, akan menjadikan pemuda tersebut mempunyai sikap berpikir kritis dan peka terhadap permasalahan sosial baik permasalahan dalam negara Indonesia maupun permasalahan Global (Dunia).

 

Berpikir kritis sangat erat kaitanyya dengan membaca dan menulis. Dalam membaca sebuah berita, sebagai seorang pemuda harus berpikir kritis terhadap tulisan yang dibaca, dan ketika menulis baik opini, karya tulis, essay ataupun artikel yang membahas bidang sosial, ekonomi, Pendidikan ataupun politik, harus mencari sumber berita dan referensi yang orisinil. Dalam artian bahwa seorang pemuda harus memilki sikap berpikir kritis pada semua aspek kehidupan. Dengan berpikir krtitis seorang pemuda akan mempunyai kepribadian yang baik dan berkualitas, sehingga pemuda yang berkualitas dapat menjadi penerus bangsa Indonesia selanjutnya dan menjadi pengubah dunia menjadi lebih baik dan maju.

 

Penerapan budaya baca tulis dan berpikir kritis seorang pemuda dapat diterapkan melalui sebuah organisasi mahasiswa (ormawa). Pada dasarnya, Organisasi Mahasiswa adalah sebuah wadah berkumpulnya mahasiswa demi mencapai tujuan bersama, namun harus tetap sesuai dengan koridor AD/ART yang disetujui oleh semua anggota dan pengurus organisasi tersebut. Di zaman yang serba modern, media sosial banyak digunakan sebagai wadah untuk diskusi, berbagi artikel, maupun berbagi informasi. Organisasi mahasiswa dalam perguruan tinggi seperti BEM, DPM, UKM, LDK,  dan lain sebagainya. Organisasi Mahasiswa tidak boleh keluar dari rambu-rambu utama tugas dan fungsi perguruan tinggi yaitu tri darma perguruan tinggi, tanpa kehilangan daya kritis dan tetap berjuang atas nama mahasiswa, bukan pribadi atau golongan. Sejarah nasional bangsa kita menggambarkan bagaimana pentingnya peran dan fungsi dari mahasiswa dalam proses kehidupan bangsa, mahasiswa mengawali setiap perubahan– perubahan dengan tujuan adanya kehidupan yang lebih baik.

 

Badai krisis ekonomi terjadi pada tahun 1997. Mahasiswa menemukan momentumnya seiring dengan krisis ekonomi yang terjadi tersebut. Dalam kurun waktu awal Februari sampai Mei 1998, secara kuantitatif dan kualitatif gerakan mahasiswa naik secara drastis, dari tuntutan yang sudah politis dan metode yang radikal. Pelaku gerakan pada masa ini bukan hanya organisasi-organisasi gerakan yang sudah lama bergerak sejak tahun 80an melainkan juga kalangan aktivis kampus dari organisasi-organisasi seperti Senat Mahasiswa, BEM, dan senat-senat fakultas. Saat inilah merupakan awal dari gerakan mahasiswa. Ormawa (organisasi mahasiswa) tentunya banyak mempunyai visi dan misi dan berbagai macam prestasi. Saat ini, media sosial dimanfaatkan sebagai wadah untuk memperkenalkan organisasi, wadah untuk diskusi dan berbagi, serta berbagi informasi-informasi terbaru seperti informasi beasiswa, lomba, diskusi politik kampus, diskusi pengadaan pengabdian kepada masyarakat dan sebagai sumber informasi lainnya.

 

Budaya baca tulis dan berpikir kritis dapat diterapkan melalui sebuah media sosial, saat ini media sosial sangat berkembang. Dari kota pun sampai ke pelosok negeri, sudah banyak kaum pemuda yang menggunakan media sosial sebagai sumber informasi. Media sosial dapat dijadikan sebagai wadah untuk diskusi, diskusi tersebut dinaungi oleh sebuah organisasi mahasiswa. Dalam sebuah organisasi, tentunya banyak sekali kegiatan diskusi yang dilakukan baik diskusi online pun offline. Sebagai mahasiswa dan pemuda yang hobby diskusi tentunya banyak membaca sumber informasi baik dari bukun ataupun media sosial, membaca harus didasari berpikir kritis agar yang dibaca dapat bermanfaat dan informasi yang dibaca aktual. Sebagai pemuda harus mempunyai potensi membaca, menulis dan berpikir kritis. Ketiga hal tersebut sangat mempengaruhi dari pemikiran seorang pemuda itu sendiri.

 

Kemajuan bangsa indonesia ini, dilihat dari kegigihan, kecerdasan dan kepekaan sosial seorang pemuda. Apabila pemuda memiliki sikap ketiga hal yang disebutkan diatas, Indonesia akan maju pun walau banyak sekali konflik yang terjadi dalam negara. Tetapi dengan semangat seorang pemuda, Indonesia akan maju dan jasa seperti yang di cita-citakan oleh negara kesatuan republic Indonesia.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

 

Fajriah. 2017. Berpikir Kritis. prosidingfkip.or.id/index.php/prosiding/article/view/179

 

            Diakses pada tanggal 20  desember 2017.

 

 

 

Ibrahim (2007). Pengembangan Kemampuan Berpikir Kritis dan Kreatif . Tesis Sekolah

 

Pasca Sarjana UPI. Bandung: Tidak dipublikasikan.

 

 

 

Kamus Besar Bahasa Indonesia. Definisi Mahasiswa.

 

 

 

www.presidenri.go.id diakses pada tanggal 20 Desember 2017

 

 

 

https://heruwibowo90.wordpress.com/pentingnya-budaya-membaca/ diakses pada

 

tanggal 20 Desember 2017

 

14 answers

Sort by Date | Votes
Muhammad Auzan Haq
Duta GenRe Indonesia | Peserta Rumah Kepemimpinan Makassar | The Next President

Pemuda harus menjadi para pelaku zaman, bukan penonton yang siap dibawa arus perkembangan zaman. Pemuda harus berpikir kritis sebagai upaya untuk memahami berbagai problematika yang terjadi tidak hanya yang terlihat di permukaan tetapi memberikan solusi sampai akar permasalahan. sedangkan pemuda harus mempunyai hobi membaca sebagai input untuk meningkatkan kapasitas diri dalam menambah khasanah pengetahuan dan pengalaman, tidak hanya sekedar teori tetapi juga diimplementasikan dalam aksi nyata yang bermanfaat bagi lingkungan sekitar. Setelah memahami dan memperoleh berbagai wawasan yang luas, maka selanjutnya pemuda harus memiliki hobi dalam menulis, agar pengetahuan yang dimiliki dapat memberikan kebermanfaatan bagi kehidupan masyarakat. Sehingga pemuda yang ideal dapat kita temukan dalam keseharian yaitu pemuda yang mampu berpikir kritis terhadap informasi yang diperoleh, cerdas dengan bacaan yang mereka miliki serta berkontribusi melalui tulisan-tulisan yang bermanfaat.

Answered Jan 5, 2018
Khaidir Van Demma
Mahasiswa Fakultas Hukum UNHAS, Awardee Rumah Kepemimpinan Makassar

Apakah literasi hanya sekedar kegiatan yang berkaitan  baca dan tulis semata? Pada mulanya memang demikian.  Tetapi seiring perkembangan kebutuhan dan kepandaian manusia maka cakupannya melebar bahwa literasi juga mencakup bagaimana seseorang berkomunikasi dalam masyarakat. Literasi juga bermakna praktik dan hubungan sosial yang terkait dengan pengetahuan, bahasa, dan budaya (UNESCO, 2003).  Karena itu, seyogyanya kebiasaan membaca itu harus dimulai dari keluarga. Karena kehidupan masyarakat itu bermula dari keluarga. Sehingga semua dimulai dari keluarga.

Bahkan dalam deklarasi UNESCO (2003) itu menyebutkan pula bahwa literasi informasi terkait pula dengan kemampuan untuk mengidentifikasi, menentukan, menemukan, mengevaluasi, menciptakan secara efektif dan terorganisasi, menggunakan, dan mengomunikasikan informasi untuk mengatasi berbagai persoalan. Karena begitu pentingnya literasi dalam kehidupan manusia terlebih di zaman informasi sekarang ini, maka begitu mendesaknya program  literasi untuk segera dimasyarakatkan.  Sasaran utama dan pertama literasi ini kaum muda Indonesia, khsususnya para siswa (dari tingkat sekolah dasar sampai akhir) dan mahasiswa. Hal ini dikarenakan kaum akan segera mewarisi negara ini. Kemajuan dan perkembangan begitu juga kemunduran dan keterpurukan bangsa ini selanjutnya terletak pada kebijakan kaum muda jika kelak menjadi pimpinan.

Kebijakan yang cepat dan tepat akan sangat tergantung tingkat pemahaman terhadap literasi.  Semakin tinggi tingkat pemahaman literasi suatu bangsa maka kebijakan itu lebih rasional.  Sehingga ini membawa kemakmuran suatu bangsa secara keseluruhan. Gerakan Literasi Sekolah merupakan merupakan suatu usaha atau kegiatan yang bersifat partisipatif dengan melibatkan warga sekolah (peserta didik, guru, kepala sekolah, tenaga kependidikan, pengawas sekolah, Komite Sekolah, orang tua/wali murid peserta didik), akademisi, penerbit, media massa, masyarakat (tokoh masyarakat yang dapat merepresentasikan keteladanan, dunia usaha, dll.), dan pemangku kepentingan di bawah koordinasi Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Usaha ini dimaksudkan untuk membawa warga sekolah lebih cerdas dalam menyambut kedatangan zaman yang semakin informatif. Hal ini didasarkan pada pentingnya peranan literasi yang bisa mempengaruhi peradaban manusia untuk mempersiapkan insan intelektual, terutama usia sekolah untuk memenangkan persaingan global. Membaca akan membuka wawasan berfikir dan bisa mengetahui budaya orang lain. Dengan demikian, manusia satu dengan lainnya saling menghargai, tidak merasa paling benar sendiri, dan kelak terciptalah kedamaian dunia.

Answered Jan 5, 2018
Muh Alwi
Rumah Kepemimpinan regional 7 Makassar

Diera digital akan banyakhan yang akan terjadi termasuk dari segi persaingan usaha, politik dan lain sebagainya.  Pemuda sebagai agen penerus dan agen perubahan merupakan kunci dalam meningkatkan kestabilan tersebut dimana nantinya pemuda ini akan menjadi pemimpin-pemimpin disetiap penggerak bangsa. Maka dari itu penting untuk memupuk pemikiran-pemikiran kritis sejak dini dimana harapan nantinya akan meningkatkan kesejatraan dan kenyamanan bersama. Melalui kegiatan membaca merupahan hal pokok dalam melatih pemikiran tersebut dimana nantinya bacaan tersebut akan membuat pemikiran menganalisa masalah-masalah yang ada disekitar, bukan hanya dalam hal tersebut melalui kegiatan membaca ini akan membuat suatu inovasi baru dari hasil analisa bacaan. Selain kegiatan membaca menulis juga sangat penting dimana semua gagasan akan tersalurkan oleh pembaca sehingga perbaikan atau pengalaman pahit yang kita alami sebelumnya bisa dihindarkan oleh pembaca.

Answered Jan 5, 2018
Rendra Saputra
Mahasiswa S1 Ilmu Politik UI, Koordinator FLAC Regional Jakarta 2017

..

Answered Jan 31, 2018
Sucia Ramadhani
Penulis 24 Buku

"Jika kalian ingin menjadi Pemimpin besar, menulislah seperti wartawan dan bicaralah seperti orator." -HOS Tjokroaminoto. 

Sebuah kutipan yang selalu saya ingat, berawal dari perkataan seseorang, bahwa seorang pemimpin harus menulis seperti wartawan dan berbicara seperti orator. Akan tetapi, sayangnya belum banyak pemuda-pemuda di Indonesia yang tergila-gila membaca. Lebih banyak disibukkan dengan kegiatan yang mengasah kemampuan leadership, dibandingkan disibukkan dengan membaca buku. Buku menjadi prioritas sekian untuk dilakukan, padahal membaca buku adalah kunci dalam mengasah kemampuan berargumen atau berpikir kritis. 

Hal yang perlu diingat adalah tidak hanya membaca satu buku dalam dua minggu atau satu bulan membuat seseorang akan langsung berpikir kritis. Akan tetapi, perlu penanaman yang terus-menerus hingga akhirnya pemikiran kritis akan perlahan hadir di dalam pendapat atau pikiran seseorang. Pemikiran kritis akan hadir tidak hanya dari pengalaman berorganisasi atau leadership yang kuat. Dari buku yang dibaca dan kemampuan menulis membuat otak seseorang akan bekerja terus-menerus untuk mencari solusi atau mencari sudut pandang dalam berpendapat. Pemikiran kritis tidak hanya berdasarkan asumsi seseorang yang berdasarkan perasaan atau pengalaman. Akan tetapi, bisa dari buku yang ditulis oleh seseorang. 

Soekarno Hatta, Hatta, Natsir, HOS Tjokrominoto, dan para pejuang bangsa lainnya tidak hanya memiliki kemampuan kepemimpinan yang luar biasa hebatnya. Namun, mereka memiliki keingintahuan yang tinggi dengan ilmu pengetahuan, gila membaca, dan senang berdiskusi. Diskusi-diskusi hadir dari olah pikiran berdasarkan buku-buku yang dibaca. Tidak hanya satu atau dua buku yang dibaca dalam kurun waktu satu bulan, tetapi berbagai macam buku menjadi makanan sehari-hari yang dapat meningkatkan daya kritis seseorang. 

Sayangnya di Indonesia, tidak ada satu siswa pun di Indonesia yang meraih nilai literasi ditingkat kelima, hanya 0,4 persen siswa yang memiliki kemampuan literasi tingkat empat. Selebihnya di bawah tingkat tiga, bahkan di bawah tingkat satu. Pemahaman terhadap sesuatu yang dibaca sangatlah rendah, seseorang memiliki kemampuan untuk membaca, namun tidak diiringi dengan pemahaman terhadap sesuatu yang dibaca. 

Seorang pemuda harus memiliki kemampuan membaca yang baik, memahami dengan baik buku yang dibaca. Ketika sudah memiliki bekal buku yang sudah dibaca, maka kemampuan menulis akan beriringan. Kemampuan berpendapat pun akan beriringan. Karena, seseorang yang berpendapat lebih baik berdasarkan data atau buku yang sudah dibaca, tidak berdasarkan dari asumsi atau pendapat yang masih diragukan kebenarannya. Pemuda harus kritis, sikap kritis ini dilatih dengan kemampuan membaca dan menulis, dengan membaca seseorang akan berpendapat atau beropini dengan sudut pandang yang bermacam-macam. Dengan menulis kita akan memiliki kemampuan yang lebih dalam public speaking. Seseorang akan baik berpendapat, jika memiliki bekal yang banyak dalam buku-buku yang dibaca. 

Pemuda Indonesia harus kritis dan memperbanyak membaca, dengan begitu akan terlahir generasi-generasi yang memiliki kemampuan dalam berpikir kritis berlandaskan buku dan kemampuan menulis. 

Answered Feb 1, 2018
Fajar Cahyono
Mahasiswa Ilmu Filsafat UGM, Peserta Rumah Kepemimpinan Reg. Yogyakarta

Mengapa pemuda harus berpikir kritis dan punya hobi baca dan tulis?

Merujuk pada pertanyaan diatas, ada kritik yang ingin disampaikan. pertama, ekslusifitas terminologi pemuda. Pengelompokan pemuda dan tidak pemuda akan menjadi hal yang niscaya pada pertanyaan di atas. Kelanjutan yang menggunakan kata harus seakan-akan hanya pemuda yang harus kritis sekaligus punya hobi membaca dan menulis. Kedua, kritis, membaca, dan menulis ttanggung jawab bersama. Pola pikir ini jelas harus ditanamkan pada bangsa yang ingin maju. Penitikberatan pada satu titik akan membentuk penindasan pada titik lainnya. Jadi menurut saya bukan hanya pemuda yang harus kritis sekaligus hobi membaca dan menulis melainkan seluruh kalangan umur.

Answered Feb 2, 2018
Ikhbal Zamzammi
Penerima Beasiswa Rumah Kepemimpinan Angkatan 8 Bandung

Membaca dan menulis sejati bukan secara khusus ditujukan hanya untuk pemuda saja, setiap manusia berkewajiban untuk itu. Kenapa wajib? Dengan membaca kita kan tahu dan mengerti. Sehingga proses berpikir akan bekerja. Otak sebagai organ perpikir akan bekerja. Ini yang membedakan dengan makhluk lain. Kita diberi akal yang bisa dikembangkan jauh dari apa yang kita kira. Namun sistem otak kita terkadang tidak bisa mengingat secara sempurna maka itu perlu kemampuan menulis. Pepatah pernah berkata. "Dengan membaca maka kamu dapat membuka dunia" dan "ilmu itu licin maka ikatlah dengan menulis". Menulis pun juga sebagai karya yang mana akan bisa diturunkan ke generasi selanjutnya, tanpa ada hadir kita. 

Jadi, menurut saya membaca dan menulis adalah kebutuhan pokok setiap manusia, jika manusia mau berpikir.  

Answered Mar 1, 2018
Haekal Akbar
Head of HIMATEKPAL FTK-ITS 2016/2017 | Rumah Kepemimpinan Surabaya

Secara sederhana urgensi berpikir kritis di kalangan anak muda adalah untuk menangkal pikiran-pikiran praktis yang berseliweran di kehidupan sehari-hari. Apalagi dengan agenda penggiringan opini, pembentukan budaya, juga peperangan pemikiran yang hadir melalui media. Masyarakat pada umumnya yang tidak terlalu berpikir tentang agenda besar dibalik kejadian yang ada akan dengan mudahnya terbawa oleh wacana-wacana yang dibangun melalui media. Terlebih lagi wacana tentang pergeseran budaya ketimuran menuju budaya praktis tapi nihil substansi yang sengaja dibangun untuk mengerdilkan pola pikir masyarakat kita. Pemuda sebagai lahan basah dalam menentukan arah kehidupan bangsa harus bisa berpikir secara kritis, bahkan kalau bisa cenderung skeptis. Gunanya Apa? hal tersebut berguna untuk bisa memilah dan mendalami fenomena sosial yang terjadi di masyarakat kita. Setir masa depan yang akan berpindah ke tangan pemuda harus dipindahkan pada tangan-tangan terampil yang mampu memilah mana yang baik dan mana yang tidak baik.

 

Hobi Literasi berguna untuk mengisi wawasan dan pandangan juga melatih diri untuk bisa menawarkan gagasan kepada khalayak luas. Selain itu pengabadian pemikiran dalam bentuk tulisan akan menjadi sebuah catatan sejarah yang baik bila dipelajari oleh generasi selanjutnya. Fase-fase perkembangan pemikiran pemuda akan menjadi tolok ukur bagaimana sebuah generasi bangsa hidup berkembang.

Answered Mar 2, 2018
Fikri Mauli Utomo
Mahasiswa Agribisnis IPB 2014 l Rumah Kepemimpinan Angkatan 8

Pemuda adalah aset yang begitu berharga bagi suatu bangsa. Karena maju atau berkembangnya bangsa di masa mendatang bergantung pada pemudanya saat ini. Budaya berfikir kritis memang perlu dimiliki oleh setiap pemuda. Berfikir kritis menjadi senjata bagi pemuda untuk menanggapi situasi yang sedang berada di negeri ini maupun luar negeri. Dengan berfikir kritis akan membentuk pola pikir yang terbuka sehingga akan menerima perkembangan zaman namun tetap mempertahankan nilai-nilai budaya dan ideologi yang diyakini. Selain itu, pemuda yang memiliki semangat juang tinggi dan umumnya lebih mengutamakan aksi dibandingkan basa-basi perlu berifikiran kritis karena pemuda harus terus menjadi evaluator bagi pemerintah dan masyarakat bangsa ini.

Berfikir kritis tidak serta merta dapat langsung dilakukan. Tetapi perlu adanya wawasan yang luas dan keahlian membaca situasi yang harus dimiliki oleh pemuda. Untuk memperoleh semua itu, pemuda harus hobi dan senang untuk membaca. Membaca adalah jendela dunia, dengan membaca kita bisa mengetahui situasi dunia dan menambah pengetahuan kita. 
Selain itu, pemuda juga harus pandai menulis karena menulis adalah senjata bagi pemuda untuk mengutarakan aspirasinya. Selain itu, dengan menulis pemuda juga dapat memberikan informasi dan ilmu yang dimiliki ke banyak orang. Sehingga, orang-orang yang tadinya belum tau menjadi tau, yang belum paham menjadi paham. Oleh sebab itu, pemuda harus hobi dan menyukai menulis. Memang berat pada awalnya, tetapi asalkan kita mau pasti kita bisa!  

Answered Mar 3, 2018
Heri Kurniawan
Peserta Rumah Kepemimpinan Regional 7 Makassar

Sudah sejak kecil kita diperkenalkan dengan kata-kata buku adalah gudangnya ilmu, dan dengan membacanyalah kita dapat memahami ilmu tersebut. Membaca menjadi kebutuhan utama seorang penuntut ilmu dengan membaca informasi terkait banyak hal dapat diperoleh, termasuk sifat kritis. Bacaan akan menampilkan serangkaian fakta dan data yang dapat dimanfaatkan untuk menguatkan argumen dalam suatu pandangan. Hal menarik lain dari seseorang yang rajin membaca adalah kemampuan untuk berbicara dengan kosa kata yang beragam, sehingga lebih menarik dan tegas dalam berpendapat.

Semakin tinggi pendidikan seseorang makan semakin banyak pula lah buku yang harus dibaca, ilmu terus berkembang tidak cukup memiliki satu referensi karena ada ratusan hingga ribuan data dari penelitian yang dihasilkan. Buku adalah gudangnya ilmu buku menjadi sarana menguasa banyak hal, banyak tokoh-tokoh dunia yang besar karena penguasaan akan literasi.

Berpikir kritis adalah muara dari upaya penyampaian gagasan akan sesuatu hal yang dipahami dam mendapatkan masalah yang seharusnya dapat dipecahkan dan diatasi. Kritis menjadi upaya untuk menilai dan mempertimbangkan akan suatu peristiwa tertentu. Sikap Kritis dapat dimiliki dengan mengevaluasi banyak hal termasuk kemampuan mencari informasi.

Answered Mar 6, 2018
Bagus Dwi Kurniawan
Specialist in Geology, Engineering, and Petroleum Industry ITB

Pemuda harus berpikir kritis dan punya hobi baca dan tulis karena jendela ilmu ada pada kedua metode tersebut. Ilmu adalah kunci awal seseorang untuk menggerakkan roda putaran dunia ini. Jika negara ini ingin tetap maju dan bermartabat, pemuda-pemudinya dari sekarang harus dipupuk untuk menuntut ilmu yang banyak dengan cara mmembaca dan menulis sehingga memiliki pemikiran kritis dan tindakan yang realistis dan efektif. 

Answered Mar 11, 2018
Dian Fhaatma Thaib
Core Lead Team Psychological First Aid (PFA) F. Psikologi Universitas Indonesia

[Karena cuap-cuap opini cupang dalam air tak akan pernah terdengar]

ILV0BRwvxrl4QEE2OJLOQXcyjcmN3lqB.png

"Dimana kita sekarang?"
"Apa ini, lampu? Alat sirkulasi udara? Miniatur jembatan lucu?"
"Mengapa dia memindahkan kita?"
Begitu kira-kira ucap cupang, melihat rumah baru nya.

Begitulah cupang, berespon terhadap perubahan. Ya, mungkin tidak dengan bahasa, namun gerakan lincah dan keinginan untuk berenang ke penjuru rumah baru tentu tak dapat berdusta.

Begitulah cupang, begitu pula lah kita,

Perubahan-demi perubahan telah mengantarkan kita pada pikiran-pikiran yang menganga. Menunggu di suarakan, dimana saja yang memungkinkan. Beberapa berakhir di buku diari, beberapa di blog pribadi, beberapa lagi sampai di koran yang dibaca seantero negeri.

Perubahan dan suara pikiran kita yang tertuang, tulisan dan persiapan untuk dunia yang lebih mapan.
Seperti cerita ikan di akuarium baru. Manusia pun bercerita pada tataran yang lebih sempurna, tulisan dan gagasan yang teruji

Begitulah kata pak Sapto, kenapa kita harus menulis? Karena cuap-cuap opini cupang dalam air tak akan pernah terdengar, maka menulislah. Agar cuap cuap pikiran kita terkenang, menembus batas perubahan, dan dengannya membangun peradaban.

Tulislah, tulislah apa saja,
KS Training Kepenulisan 6 Oktober 2017 (dari caption postingan instagram Dian Fhaatma 9 Oktober 2017)

Answered May 8, 2018
Sandy Anugerah
Love Indonesia

Berpikir kritis dapat mengajak otak untuk menyelesaikan solusi dari suatu masalah. Maka dari itu, pemuda harus terus mengasah otaknya untuk berpikir kritis demi menyelesaikan masalah-masalah di negeri ini.

Sama halnya dengan membaca dan menulis. Dengan membaca, seseorang akan semakin bertambah pengetahuannya. Pengetahuan yang banyak tersebut wajib disalurkan kepada orang lain. Dengan cara apa? Tentunya dengan menulis. Contohnya seperti kita yang menulis di selasar. Berpikir kritis, menulis, dan membaca merupakan cara meningkatkan IQ yang sudah terbukti dalam penelitian. Maka dari itu, Indonesia yang krisis dengan sumber daya manusia, harus dipacu untuk saling berbagi ilmu pengetahuan.

Answered Aug 21, 2018
Reza Firmansyah
Mathematician. Writer. Futurist. Trying to leave good marks as my legacy.

Membaca itu penting, karena dapat membantu kita mengetahui apa yang benar dan salah.

Menulis itu juga penting, agar kita dapat mengabadikan ide-ide baik kita untuk manfaat orang lain yang membacanya.

Answered Feb 7, 2019