selasar-loader

Apa faktor-faktor yang mempengaruhi fungsi jantung pada lansia?

Last Updated Jan 1, 2018

Faktor risiko dari penyakit jantung adalah aktivitas fisik yang kurang, merokok, diet makanan, obesitas, hipertensi, psikologi, keturunan, dan stastus ekonomi yang akan dipaparkan sebagai berikut:

a.       Aktivitas fisik

Aktivitas fisik yang kurang dapat menjadi faktor risiko penyakit kardiovaskuler dan menurunkan tingkat fungsi kardiovaskuler lebih cepat pada lansia. Normalnya dalam satu hari, setidaknya 30 menit aktivitas lansia diisi dengan olahraga ringan (Miller, 2012). Olahraga ringan yang dapat dilakukan lansia adalah berjalan karena dapat menjaga kesehatan jantung (Wallace, 2008).Jika sejak usia muda tidak pernah berolahraga, maka penurunan fungsi jantung ketika lansia akan menjadi lebih cepat daripada seharusnya. Hal tersebut terjadi karena tonus otot akan diubah menjadi lemak yang dapat menjadi risiko timbulnya penyakit jantung.

 

b.      Merokok

Menurut penelitian Surinach pada tahun 2009, orang yang merokok akan meninggal 13 tahun lebih cepat dari orang yang tidak merokok. Sehingga, orang yang merokok akan berisiko 25% - 30% mengidap penyakit jantung (Miller, 2012). Hal tersebut terjadi akibat adanya kandungan nikotin dan zat adikitif pada rokok yang dapat meningkatkan risiko terjadinya aterosklerosis, hipertensi, kolestrol jahat (LDL) tinggi, dan kolestrol baik (HDL) rendah. Kandungan zat adiktif pada rokok dapat mengikat hemoglobin dalam tubuh sehingga menyebabkan kadar oksigen di dalam tubuh sebagai sumber energi menjadi berkurang dan juga merusak dinding arteri (Syah, 2015).Hal tersebut tentu dapat menyebabkan fungsi jantung pada lansia menjadi lebih cepat menurun dan berisiko besar mengalami penyakit jantung.

 

c.       Diet makanan

Menurut Miller (2012), terdapat beberapa diet makanan untuk lansia terkait dengan penyakit jantung yang dipaparkan sebagai berikut:

a.       Mengkonsumsi 2% kalori dari lemak trans (lemak jahat) dapat meningkatkan risiko mengidap jantung koroner sebesar 23%.

b.      Buah-buahan dan sayuran jika dikonsumsi dapat menurunkan risiko mengidap jantung koroner sebanyak 4% dan mengidap stroke sebesar 5%.

c.       Apabila mengkonsumsi 2,5 porsi harian biji-bijian dapat menurunkan 21% risiko mengidap penyakit kardiovaskuler.

d.      Mengkonsumsi low-sodium dapat menurunkan risiko mengidap penyakit jantung sebesar 25%.

 

d.      Obesitas

Indeks massa tubuh (BMI) normal adalah berkisar 17,5-24,9 dan dikatakan obesitas jika BMI >30 akibat kerusakan fungsi hormon leptin (Limanan & Prijanti, 2013). Menurut penelitian Nurses Health Study menyatakan bahwa jika seseorang mengalami obesitas akan berisiko besar mengalami kematian akibat penyakit jantung akibat kadar lemak yang berlebihan di dalam tubuh (Miller, 2012).Selain itu, obesitas biasanya berkaitan erat dengan diabetes melitus tipe II. Diabetes dapat menyebabkan HDL kurang dari 40mg/dl, trigleserida lebih dari 150mg/dl, dan tentunya kadar gula darah yang tinggi. Pada lansia yang obesitas dan diabetes, olahraga ringan yang dapat dilakukan untuk menurunkan berat badan dan menjaga rentang kadar gula dapat dilakukan dengan cara berjalan. Berjalan merupakan olahraga yang mudah dan tidak membutuhkan banyak peralatan sehingga dapat dilakukan oleh lansia.

 

e.       Hipertensi

Nilai normal tekanan darah adalah 120/80 mmHg, dan dikatakan hipetensi jika sudah mencapai lebih dari 140/90 mmHg. Hipertensi  dapat menyebabkan kerusakan ventrikel kiri, hipertrofi jantung dan gagal jantung yang tentu sangat berbahaya bagi lansia (Arenson, 2009). Hal tersebut terjadi akibat tekanan darah yang tinggi dapat membebani kerja jantung dan arteri koroner sehingga dapat mempercepat penyumbatan di arteri (Syah, 2015). Cara untuk mengindari hipertensi dapat dilakukan dengan membatasi konsumsi natrium atau garam pada lansia.

 

f.       Psikologi

Rasa stres dan depresi sangat rentan dialami lansia akibat beberapa hal seperti ditinggal oleh pasangan, menurunnya pendapatan, dan meningkatnya kebutuhan. Stres yang terus menerus dialami oleh lansia dapat menimbulkan tekanan darah tinggi (Miller, 2012). Jika tidak ditangani dengan baik maka hipertensi dapat meningkatkan risiko terjadinya penyakit jantung.

 

g.      Keturunan

Menurut penelitian dari Lloyd Jones pada tahun 2009 menyatakan bahwa terdapat faktor genetik pada penyakit kardiovaskuler (Miller, 2012). Faktor genetik dari orangtua memang tidak dapat diubah. Namun, hal tersebut dapat dijadikan semangat dalam memodifikasi faktor resiko dalam kegiatan hidup sehari-hari agar tidak mengalami penyakit jantung.

 

h.      Status ekonomi

Status ekonomi yang rendah dapat meningkatkan faktor resiko penyakit jantung (Miller, 2012). Hal tersebut terjadi akibat biaya kebutuhan hidup yang tinggi namun tidak diimbangi dengan pendapatan maka dapat menimbulkan stres. Apalagi, pengeluaran pada lansia akan meningkat untuk kebutuhan pengobatan dan lainnya.

 

Referensi


Arenson, C., et al. (2009). Reichel’s care of the Elderly. (6th Ed). United States: Cambridge: University Press

Miller, C. A. (2012). Nursing for wellness in older adults: Theory and practice. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins

 

1 answer

Sort by Date | Votes
Indra Doli Nasution
Rumah Kepemimpinan Regional 6 Medan

Pada umumnya usia tua penuh dengan berbagai gangguan kesehatan. Hal itu terjadi bukan hanya karena keteledoran orang untuk menjaga kesehatan sejak masa muda tetapi masa tua memang ditandai dengan berbagai kemunduran fungsi tubuh. Kemunduran itu bersifat fisiologis dan berjalan secara alamiah.
adapun faktor yang mampu mempengaruhi fungsi jantung pada lansia adalah
1. Faktor Keturunan
2. Faktor Penyakit Diabetes
3. Faktor Gaya Hidup dan Kurang Olah Raga
4. Faktor Kegemukan atau obesitas
5. Faktor Stres

Answered Feb 1, 2018