selasar-loader

Apa pengaruh krisis moneter/politik 1997-1998 pada angkatan 1993 Institut Teknologi Bandung?

Last Updated Dec 13, 2017

Sejak masuk kuliah di tahun 1993 sampai menjelang kelulusan di awal 1997, kami melihat bahwa alumni dari angkatan-angkatan sebelumnya relatif mudah mencari pekerjaan setelah lulus. Mungkin semacam tertanam di dalam benak kami asalkan nilai kuliah oke setelah lulus  karir akan berjalan dengan mulus. Kebanyakan berangan-angan segera setelah lulus bekerja di perusahaan besar nasional atau multinasional, dengan gaji yang cukup besar sekaligus meniti karir menuju posisi manajerial atau eksekutif.

Pada kenyataannya, menjelang kelulusan, alumni 93 justru dihadapkan pada kondisi politik dan ekonomi yang sama sekali tidak kondusif. Akhir tahun 1997 ketika kebanyakan alumi 93 lulus dan diwisuda, demonstrasi dari berbagai kalangan (terutama mahasiswa) sedang marak-maraknya, menyusul krisis moneter dan kekurangan bahan pangan sehingga otomatis berdampak terhadap sulitnya mencari lowongan pekerjaan. Banyak perusahaan yang mengalami kesulitan dan terpaksa memecat sebagian pegawainya. Proses rekrutmen dari perusahaan-perusahaan nasional swasta maupun pemerintah apalagi perusahaan multinasional praktis dihentikan.

Dari pengalaman tahun-tahun sebelumnya, tak lama setelah wisuda banyak alumni yang lulus pada tahun tersebut kembali mengunjungi kampus sambil membawa kabar mengenai pekerjaan atau perusahaan barunya. Namun yang terjadi di akhir 1997 dan awal 1998, tidak sedikit alumni 93 yang ”luntang-luntung” di kampus karena belum juga mendapat pekerjaan. Beberapa alumni mengisi waktu dengan ikut berdemonstrasi sementara yang lain mencoba berbisnis (mulai dari agrobisnis, agen & distributor berbagai produk, dll). Berbeda dengan angkatan-angkatan sebelumnya yang cenderung bisa memilih-milih pekerjaan, mulai dari jenis pekerjaan, perusahaan nasional atau multinasional, swasta atau pemerintah, lokasi dan banyak hal lain yang menjadi pertimbangan, tidak sedikit diantara alumni 93 yang bersedia bekerja dimana saja apa saja asalkan halal dan tidak menganggur.  

Apakah hal ini selamanya berdampak negatif? Tentu tidak, karena apa yang terjadi pasti mengandung hikmah yang (seringkali) diketahui belakangan. Krisis ekonomi dan politik membuat alumni 93 lebih adaptif. Banyak yang kemudian menerima kenyataan bahwa Indonesia sudah berubah, dan itu membuat mereka lebih kreatif menggali banyak ide, membangun mimpi dan yang terpenting adalah keberanian untuk mencoba mengimplementasikan mimpi tersebut. “A dream is just a dream. A goal is a dream with a plan and a deadline (Harvey Mackay)”.  Beberapa merasa bahwa ini adalah waktu yang tepat untuk mengejar passion mereka sehingga kemudian mencari beasiswa untuk melanjutkan sekolah lebih tinggi sekaligus mengembara ke luar negeri untuk mencari pengalaman baru termasuk fokus di bidang penelitian dan pengembangan keteknikan dan sains –bidang yang praktis jarang ditekuni di Indonesia, beberapa mencoba membangun bisnis dari awal, bahkan tak sedikit yang mengambil kesempatan ini untuk beralih ke bidang pekerjaan baru yang sebelumnya jarang ditekuni oleh alumni ITB.

Tokoh alumni 1993 yang kemudian berhasil? Banyak. Selain tokoh-tokoh yang tetap fokus di bidang teknik dan sains hingga meraih pencapaian tingkat dunia, banyak tokoh-tokoh alumni 93 banyak yang mencetak keberhasilan di berbagai bidang karir di luar dunia engineering yang notabene merupakan mayoritas karir alumni dari angkatan-angkatan lain.  Benang merahnya satu: adaptif. Menerima kenyataan situasi yang berubah;  kreatif mencari ide-ide baru, merubahnya menjadi tujuan dan rencana; fokus pada implementasinya (apa tujuan kita, apa kriteria kesuksesan kita, mind your own business); selanjutnya pasrah dan berdoa.

Tahun 2018 adalah "tahun reuni perak" bagi mereka yang mulai menginjak bangku kuliah 25 tahun sebelumnya di 1993. Kebanyakan dari mereka - angkatan 1993 - ini lulus kuliah tepat pada saat Indonesia mengalami krisis moneter dan politik 1997-1998, yang kemudian sangat terpengaruh oleh krisis tersebut. Tidak terkecuali bagi angkatan 1993 Institut Teknologi Bandung. 
 

Silahkan bagi kisah Anda di sini!

Pengantar ditulis oleh "Muhamad Reza, Ketua Reuni Perak ITB Angkatan 1993"

2 answers

Sort by Date | Votes
Muhamad Reza, PhD
Expert in Energy Technology & Business Development

Tahun 1993 saya memulai kuliah di jurusan Teknik Elektro ITB. Mungkin karena lahir dari pasangan orang tua yang dua-duanya dosen, bapak dosen Biologi di ITB dan ibu dosen Pertanian di UNPAD, sejak awal kuliah saya sudah bercita-cita untuk menjadi dosen di ITB. Saya sendiri ikut kegiatan pramuka di ITB dari sejak kelas 1 Sekolah Dasar sampai dengan kelas 2 SMA, yang tiap hari minggu ikut kegiatan pramuka di ITB, ditambah terkadang ada hari-hari saya nongkrong di laboratorium – isinya hewan-hewan yang diawetkan –  bapak  sambil menunggu bapak mengajar, ketika sehabis dijemput dari sekolah tidak bisa langsung diantar bapak ke rumah. Oh ya, saya juga tinggal di kompleks dosen ITB di Kanayakan Bandung, sehingga banyak dari dosen-dosen saya yang juga tetangga saya. Kadang suka lucu juga kalau di kelas, saya panggilnya ”Bapak” atau ”Ibu” sebagai dosen, tapi kalau tidak sedang di kelas, atau tidak di depan teman-teman yang lain saya panggil ”Om” atau ”Tante”, sebagai tetangga.

Sekali lagi, karena mungkin berasal dari lingkungan keluarga dosen, sejak kecil, saya terbiasa untuk rutin belajar dan kalau belajar itu terprogram, plus karena ketika kuliah saya juga masih tinggal dengan orang tua, tidak musti in de kost, saya bisa lebih fokus juga ke kuliah dan kegiatan kemahasiswaan yang lain. Sehingga alhamdulillah secara akademis saya juga bisa menjaga prestasi agar masuk kualifikasi untuk menjadi dosen. Termasuk ketika saya mendapatkan penghargaan ”Ganesha Prize” sebagai mahasiswa dan lulusan terbaik ITB dari angkatan 1993.

Setelah saya wisuda di Bulan Oktober 1997, situasi krisis ekonomi dan politik di Indonesia menggawat. Saya ingat berita yang dominan ketika itu di media masssa adalah demonstrasi terhadap rezim Orde Baru dan Presiden saat itu Suharto dan kesulitan ekonomi dimana-mana. Ironis, karena Agustus 2017 saya di Jakarta dan bersalaman dengan Presiden saat itu Suharto ketika mendapat penghargaan sebagai Juara Pertama Mahasiswa Teladan Tingkat Nasional se-Indonesia. Dua bulan setelahnya, krisis moneter dan politik memanas, termasuk di Bandung, beberapa kebutuhan pokok habis diborong orang. Gentar juga saya, apa jadinya dengan proses perekrutan dosen di ITB di tengah ketidakpastian ekonomi dan politik seperti ini? Sempat saya melamar pekerjaan ke berbagai perusahaan di Indonesia namun mengalami nasib yang sama yang sama dengan banyak teman-teman seangkatan yang lain, ditolak atau tidak ada kabar.

Sebagai pemenang ”Ganesha Prize” saya mendapat hadiah berkunjung ke Belanda yang saya manfaatkan untuk melakukan kunjungan ke Universitas Teknik Delft (Technishce Universitet Delft atau TU Delft) selama tiga bulan – sekalian karena memang belum bekerja juga, jadi Maret- April-Mei saya di Delft, yang sekalian saya manfaatkan untuk mendapatkan beasiswa meneruskan program studi Master (S-2) di TU Delft, Alhamdulillah dapat.

Kembali ke Indonesia di Bulan Mei 1998, dengan menggenggam beasiswa program Master di TU Delft, mulai di Bulan Juni 1998, saya tidak ragu-ragu untuk mengirimkan surat lamaran untuk menjadi dosen di ITB. Di bulan yang sama Suharto mengundurkan diri sebagai Presiden, saya sudah akan menuruskan S-2 selama dua tahun, saya pikir ini sudah satu langkah menuju cita-cita menjadi dosen plus saya situasi akan membaik dalam dua tahun, sekembalinya saya dari program S-2 di Belanda.

First fast forward ke Agustus 2000, saya lulus dari TU Delft, lulusan terbaik, dan segera kembali ke Indonesia, melepas beberapa peluang pekerjaan sebagai engineer di Belanda yang waktu itu sedang banyak membutuhkan engineer, termasuk kesempatan untuk langsung meneruskan S-3 di Belanda. Pikiran saya waktu itu sederhana, ”Selesaikan dulu proses menjadi dosen ITB, nanti lanjutkan S-3 kemudian”.

Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, bertepatan dengan kembalinya saya ke Indonesia ada perubahan kebijakan nasional yang ketika itu disebut bahwa beberapa perguruan tinggi negeri di Indonesia, termasuk ITB, berubah bentuk menjadi Badan Hukum Milik Negara. Saya tidak terlalu faham bagaimana detailnya, yang jelas ketika itu tidak ada proses pengangkatan dosen baru sebagai pegawai negeri sipil. Mungkin kalau di industri umum istilahnya ”hiring freeze” perekrutan dosen baru. Bingung saya, ketika itu saya juga sudah berkeluarga – saya menikah di tahun kedua ketika saya studi S-2 di Belanda. Saya ingat setelah beberapa bulan dalam ketidakpastian saya, bersama teman-teman yang juga sedang dalam proses melamar menjadi dosen, diberi informasi yang jelas mengenai ”hiring freeze” ini, kita dianjurkan untuk mencari cara melanjutkan sekolah ke S-2 atau S-3 (bagi yang sudah S-2) atau mencari pekerjaan lain. Yang saya ingat ketika itu saya mengirim email ke profesor S-2 saya di Delft, untuk menanyakan apakah posisi S-3 yang pernah ditawarkan masih ada? Paralel dengan itu kembali saya mengirim (banyak) lamaran-lamaran ke berbagai perusahaan di Indonesia dan di luar Indonesia, dengan hasil ditolak atau tidak ada kabar. Deja vu!

Ada beberapa bulan saya menganggur, mungkin sekitar 6-7 bulanan, setengah tahun, ketika di bulan April 2001 kemudian saya mendapat surat dari profesor saya di Belanda yang mengabarkan saya mendapatkan beasiswa untuk program S-3 yang baru, yang akan dimulai awal 2002. Di situ saya tenang dan sudah tidak terlalu ngoyo untuk mencari pekerjaan ”normal” mengingat dalam hitungan bulan saya akan ke Belanda meneruskan S-3. Dari situ saya diajak mengerjakan beberapa projek konsultan terkait bidang saya teknik ketenagalistrikan oleh dosen saya di ITB. Istri sedang hamil saat itu, jadi mungkin ini juga rejeki bayi. Saya jadi dapat dua keuntungan: pertama  secara financial dan kedua secara pengalaman terkait bidang ketenagalistrikan sebagai persiapan meneruskan S-3.

Februari 2002 saya kembali ke Belanda meneruskan S-3, dengan istri dan anak menyusul  10 bulan kemudian. Second fast forward, S-3 saya tidak semulus S-1 dan S-2 saya, kondisi saya dan istri yang sama-sama...(more)

Answered Dec 19, 2017

Krisis lapangan kerja akibat krisis ekonomi 1997-1998 berdampak langsung pada Angkatan 93, dimana gelombang wisudawan pertamanya lulus bulan Oktober 1997. Meski menyelesaikan TA di semester 8, kondisi lapangan pekerjaan memaksa saya menunda sidang dan kelulusan sampai April 2018, setelah seorang dosen menyuruh saya segera lulus dan meninggalkan dunia "mimpi" sebagai mahasiswa.

Yang saya amati, sebagai dampak krisis tersebut,

1. bidang-bidang pekerjaan yang terimbas langsung atau tidak langsung karena kebijakan pemerintah dalam mengatasi krisis menunjukkan tingkat employment rate lulusan dengan bidang yang bersesuaian yang hampir nol. Penerbangan 93 misalnya tidak ada yang bekerja di IPTN atau airlines, karena sektor penerbangan hancur lebur. Fenomena serupa juga terlihat di BUMN-S lainnya.

2. seiring dengan zero recruitment, jumlah sarjana ITB 93 yang dipersiapkan dan kemudian menjadi dosen ITB tidak sebanyak angkatan lain. Di banyak jurusan, jumlah dosen dari Angkatan 93 malah nol.

3. Angkatan 93 cenderung menerima pekerjaan apa saja meski jauh dari bidang keahliannya. Dalam satu on-site recruitment oleh Air Liquide di Sabuga ITB, ratusan mahasiswa ITB mengantri kesempatan untuk mengajukan lamaran hanya untuk satu posisi lowong di perusahaan tersebut.

Meski demikian, reaksi lulusan ITB 93 terhadap krisis lapangan pekerjaan sangat mengagumkan:

1. minat untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang S2 sangat tinggi, baik di dalam dan luar negeri. Meskipun dengan kurs dollar yang tinggi, sekolah di luar negeri menjadi pilihan dan rebutan karena, salah satunya, banyak tawaran beasiswa dari luar negeri sebagai bagian dari program  yang "meringankan dampak krisis". Melanjutkan studi saat itu dianggap sebagai jalan untuk tetap mempertahankan daya saing di pasar kerja, terutama saat krisis diharapkan mulai terlewati dalam dua atau tiga tahun berikut, dimana mereka harus bersaing dengan Angkatan 94, 95, dan 96 yang relatif lebih "fresh".

2. minat untuk "self-employed" tumbuh sebagai alternatif dari "being employed". Saat barangkali terminologi "start-up" belum popular, banyak lulusan Angkatan 93 yang memulai "start-up". Di dunia penerbangan, Penerbangan 93 adalah peristis industri Unmanned Aerial Vehichle dan komersialisasinya di Indonesia.

3. Banyaknya lulusan Angkatan 93 yang bekerja di luar bidang yang digelutinya selama kuliah menunjukkan kualitas lulusan ITB yang mampu beradaptasi dengan cepat dan belajar dunia baru, serta tekun untuk menjadi profesional yang diakui di bidang tersebut. 

Answered Jan 15, 2018