selasar-loader

Bagaimana peran ayah dalam mendidik anak?

Last Updated Nov 29, 2017

1 answer

Sort by Date | Votes
Komunitas Anak Pintar
Akun resmi Anak Pintar, tempat berkumpulnya anak-anak indonesia

nI3kOiZWRpXrSy-XCXdc7Fgz_FLEMs7H.jpeg

 

Saat ini di Indonesia, sejak beberapa tahun lalu, belum lama, muncul ada kesadaran untuk adanya gerakan pelibatan laki-laki. Hal ini terkait dengan lesson-learned teman-teman aktivis terutama di jaringan penanganan perempuan korban kekerasan dan perlindungan anak yang menemukan kalau dalam banyak kasus, katakanlah KDRT, cukup banyak istri/pasangan yang kemudian memilih untuk rujuk kembali dengan suami (yang NB pelaku kekerasan), kemudian lesson-learned kalau selama ini upaya penanganan kasus - kasus seperti diatas lebih banyak fokus kepada pendampingan korban (yang NB kebanyakan perempuan).

DI UU PKDRT pun diamanatkan adanya konseling pelaku. selama ini pelaku dan laki - laki sangat sedikit digarap. Padahal dari riset psikologis yang dilakukan (internasional) dan pengalaman praktik saya berhadapan dengan klien laki - laki, pelaku ditemukan kalau laki - laki pun memiliki masalah psikologis yang perlu untuk diperhatikan dan ditangani. Jadi saat ini ada program Men Care yang disponsori oleh UNFPA yang pilotnya ada di 4 negara, termasuk Indonesia. Mitra di INdonesia adalah Yayasan Pulih (www.yayasanpulih.or.id) di Jakarta, Riefka Annisa di Yogyakarta, WCC Bengkulu dan satu lagi saya lupa.

Kembali ke topik tentang peran ayah, di slide ke-2 saya, saya cuplik gambar cover majalah TIME (basis di Amerika). Terbitan Juni, 1993, judulnya sangat relevan dengan topik diskusi ini: FATHERHOOD (the guilt, the joy, the fear, the fun that come with a changing role), kalau diterjemahkan dalam bahasa kira - kira: PERAN AYAH (perasaan bersalah, kegembiraan, ketakutan, keseruan (fun) yang muncul akibat adanya peran). Jadi kira - kira di dunia 'barat'dalam hal ini AMerika baru dibahas dan disadari secara terbuka, sekitar 24 tahun yang lalu, konteks saat itu adalah: mulai banyak ibu masuk ke dunia kerja. Yang menarik adalah: subjudulnya, tentang beragam perasaan yang muncul dan diakui dan dikaji di artikel tersebut mengenai menjadi ayah yang terlibat mengasuh anak (ada istilah: 'stay at home'dad), yaitu: perasaan bersalah, gembira, takut, seru dll).

Mengapa beragam perasaan ini muncul? Tentunya kembali lagi kepada bagaimana masyarakat (terutama masyarakat patriarkhat - yang lebih menempatkan laki - laki diatas perempuan) mendefinisikan seorang laki - laki menjadi ayah. Ketika ayah terlibat dalam pengasuhan, DULU dianggap atau umumnya dianggap sebagai ayah yang 'kurang OK', ayah yang tidak keren, dll. Urusan anak adalah urusan ibu. Itu anggapan yang ada dulu, termasuk di Indonesia bahkan di dunia barat sekalipun. Sehingga tahun 1993, TIMES mengangkat isu ini. Namun, apakah demikian? Singkatnya, Tentunya TIDAK. Urusan anak adalah urusan ibu saja, itu konsep usang. konsep yang tidak lagi relevan dalam konteks saat ini.

Nah, ketika kita sudah sepakat, maka PR berikutnya adalah bagaimana membantu para laki - laki untuk menjadi ayah yang terlibat, membantu para laki - laki untuk mengatasi rasa bersalahnya, menghadapi ketakutannya dan bisa lebih fun, santai menghadapi keterlibatannya yang lebih mendalam dengan anak.

Riset menunjukkan hal positif dari keterlibatan ayah dalam pengasuhan: figur ayah yang aktif (active father figure) meminimalkan resiko (peluang/kemungkinan) terjadinya masalah perilaku dan psikologis pada anak. Catatannya adalah: dalam hal ini jika figur ayah menunjukkan minat terhadap anak (peduli ttg sekolah anak, hobi anak, kegemaran anak), membuat anak merasa spesial (jemput anak ke sekolah, hadir saat anak pertunjukan di sekolah), menampilkan cinta tanpa syarat (tidak mengatakan dan mempraktikkan, misalnya kalau dapat nilai bagus baru boleh main sama ayah), memberi rasa aman dan nyaman (hindari misalnya ayah pulang dari kantor, anak langsung lari/menghindar). Temuan tersebut didukung oleh tidak hanya 1 riset tapi banyak riset di berbagai negara.

Mungkin ada yang beranggapan itu khan di Barat, bukan di Indonesia. Saya pernah melakukan riset di tahun 2013, saya bekerja dengan anak remaja penghuni lapas di Tangerang, yang divonis bersalah sebagai pelaku kekerasan (pengeroyokan, pembunuhan, penganiayaan) dan pelaku kekerasan seksual (pemerkosaan, pencabulan).

Temuannya adalah .........
Sikapnya terhadap ibu positif. Umumnya mereka mencintai dan sayang kepada ibunya. Ibu dianggap tetap menerima dirinya. Namun ketika ditanya tentang ayah, bagaimana hubungannya dengan ayah mereka, ditemukan bahwa anak remaja di Lapas tersebut punya sikap yang negatif terhadap ayahnya: 'saya tidak suka ayah saya', 'ayah saya kurang ajar, punya wanita lain', 'ayah saya kayak bang Toyib' dst. Mayoritas anak remaja di Lapas mempersepsikan (menganggap) orangtuanya, terutama ayah tidak hangat, dan juga tidak bisa menegakkan kontrol (displin) terhadap dirinya.

Seperti yang diketahui, peran orangtua secara umum (baik ibu dan ayah) adalah dapat menegakkan kontrol dan menampilkan kehangatan (warmth). Kontrol: ada standar perilaku dari orangtua ke anak, ada pengawasan, ada disiplin. Tapi juga ada kehangatan. Keduanya harus ada, jika timpang salah satu, misalnya orangtua sangat hangat tapi tidak ada kontrol: baik hati, ramah ke anak, apapun yang anak mau langsung diberikan dst dst maka akan ada dampaknegatif, demikian juga jika hanya kontrol, anak akan 'lari'dari rumah, tidak nyaman. Jadi Poin 1, sejauh ini adalah: Peran ayah penting. Ayah perlu terlibat dan harus diberikan kesempatan untuk terlibat.

Ketika kita sudah sepakat tentang pelibatan ayah, saya masuk apa yang bisa dilakukan oleh ayah (laki - laki). Secara umum sebagai orangtua (termasuk ibu), penting bekerjasama, bahu - membahu menciptakan lingkungan pengasuhan yang suportif. Lingkungan pengasuhan yang suportif intinya ada 3 hal: ada cinta kasih, ada model positif (termasuk: bagaimana relasi orangtua dengan Yang Maha Kuasa, oranglain) dan dukungan terhadap kemandirian anak. Riset saya di tahun 2012, menunjukan anak remaja pelaku kriminal berasal dari lingkungan pengasuhan yang tidak suportif, ketiga aspek tersebut tidak/kurang dirasakan oleh anak.

Lalu secara khusus tentang peran...(more)

Answered Jan 10, 2018

Question Overview


2 Followers
435 Views
Last Asked 2 years ago

Related Questions


Pada usia berapakah anak akan mampu menyerap pendidikan seks usia dini dengan baik?

Benarkah anak yang suka tantrum memiliki kecerdasan di atas rata-rata?

Bagaimana cara yang tepat membuat anak yang pemalu menjadi aktif di kelas?

Bagaimana cara mendidik anak yang terpisah jauh dari orangtuanya?

Bolehkah orangtua memaksakan mimpinya yang tertunda kepada anaknya? Mengapa?

Sejauh apakah The Return of Superman mempengaruhi cara didik orangtua kepada anaknya di Korea juga Indonesia?

Bagaimana biasanya kondisi mental anak-anak yang dibesarkan dalam lingkungan broken home?

Bagaimana cara membuat anak tertarik membaca?

Bagaimana menghadapi anak yang melakukan pelecehan seksual?

Keluarga apa yang menurut anda ideal?

Bagaimana cara mengatasi anak yang manja?

Benarkah anak yang 'fatherless' berpotensi menjadi kemayu? Mengapa?

Bagaimana cara mengatasi anak yang memiliki rasa ingin tahu berlebih?

Mengapa anak lebih baik tidur di kamar sendiri alias terpisah dari orangtuanya?

Seberapa signifikan pengaruh pendidikan orangtua terhadap tumbuh kembang anak?

Apa pertanyaan tersulit yang pernah ditanyakan oleh anak Anda dan apa jawaban Anda ketika itu?

Apakah Kamu Menghadiri Kelas Animasi 3D Komunitas Anak Pintar

Bagaimana membujuk anak yang tidak mau sekolah agar kembali sekolah?

Bagaimana memotivasi anak untuk belajar dengan mandiri?

Bagaimana mengatasi masalah belajar pada anak?

Apa saja yang perlu diperhatikan tentang tumbuh kembang anak usia sekolah?

Faktor apa saja yang mempengaruhi perkembangan pada anak?

Seberapa penting penerapan aturan bagi anak di keluarga?

Bagaimana mengelola stress sebagai orang tua?

Bagaimana cara menghadapi depresi?