selasar-loader

Bagaimana mengoptimalisasi perkembangan anak?

Last Updated Nov 29, 2017

1 answer

Sort by Date | Votes
Komunitas Anak Pintar
Akun resmi Anak Pintar, tempat berkumpulnya anak-anak indonesia

“Kita mungkin tidak dapat berbuat banyak untuk mengubah apa yang terjadi sebelum bayi dilahirkan, tetapi kita dapat mengubah apa yang terjadi ketika bayi sudah dilahirkan” – Dr. Harri Chugani, Ahli Neurology dan Pediatry dari Universitas Detroit Wayal State

Banyak orang mengatakan bahwa bayi ibarat kertas putih yang masih kosong. Dia siap ditulis atau digambar apapun sekehendak penulisnya. Kekosongan itu terletak pada bagian otak atau memori bayi yang berupa neuron atau sel syaraf. Ini berarti kesempatan emas bagi orang tua sebagai ‘penulis’ untuk mengoptimalkan kekosongan memorinya dengan kecerdasan. Karena tahun pertama kelahiran bayi merupakan revolusi belajar, yang kini sering disebut dengan masa golden ages atau tahun keemasan.

Menurut riset, pada saat kelahiran bayi mengandung 100 milyar neuron (sel syaraf) yang dikira-kira sebanyak bintang dalam galaksi Bima Sakti. Pada sebelum kelahirannya, sebenarnya otak bayi telah membentuk sirkuit menurut perkiraan yang paling baik mengenai apa yang akan diperlukan bagi penglihatan, pendengaran, bahasa dan lainnya. Namun setelah kelahirannya, neuron lah yang berperan dalam dioptimalkan ‘keperluan’ tersebut. Dan neuron-neuron itulah yang diibaratkan pada kertas putih kosong di atas. Dalam kerjanya neuron-neuron itu tidak spontan lagi saling tersambung (seperti saat dalam kandungan), melainkan harus distimulasi atau dirangsang oleh pengalaman panca indranya, seperti penglihatan, pendengaran, peraba, penciuman dan pengecap (rasa).

Dan tahukah anda para Ayah-Bunda? Bahwa hanya dengan satu buah saja kita dapat menstimulasi kecerdasan bayi? Ya, kita ambil contoh mengenalkan jeruk secara utuh pada bayi. Catatan, saat anda menyebutkan bendanya dan kata sifatnya, suara harus agak ditekan dan lambat, ini upaya mempermudah perekaman pada memori bayi. Dan anda dapat memulai dengan mengatakan, 
“Sayang, ini namanya J-E-R-U-K (satu neuron tersambung lewat pendengaran), warnanya O-R-A-NY-E (jeruk didekatkan, satu neuron tesambung lewat penglihatan), kulinya K-A-S-A-R (jeruk disentuhkan, satu neuron tersambung lewat peraba), baunya H-A-R-U-M (jeruk dikupas, satu neuron tersambung lewat penciuman), rasanya M-A-N-I-S (air jeruk diteteskan ke lidah bayi, satu neuron tersambung lewat pengecap)”. Dan secara otomatis bayi utuh merekam benda buah bernama JERUK. Ayah Bunda dapat melakukan hal serupa dengan cara menggunakan benda-benda lainnya.
Jadi semakin banyak orang tua menstimulasi balitanya, maka neuron-neuron yang kosong tadi tidak akan terbuang begitu saja. Melalui suatu proses semacam persaingan, otak akan memusnahkan sambungan neuron (sinapsis) yang jarang digunakan atau tidak pernah digunakan. Nah, sayang bukan?

Ada cara mudah lainnya untuk merangsang otak anak adalah dengan membacakan cerita dengan tehnik read aloud. Aktivitas read aloud ini bagi anak mempunyai manfaat intelektual, emosional dan psikis yang dapat meningkatkan perkembangannya. Kegiatan read Aloud dengan anak bisa kita lakukan kapan saja dan dimana saja (seperti di halaman rumah, taman bermain, ruang tunggu, di toko buku atau diwaktu terbaik sebelum tidur), asalkan tersedia buku cerita untuk dibacakan. Beberapa tehnik read aloud sederhana:
- Bacakan buku dengan penuh ekspresi, ceritanya dibuat dramatis, gunakan dialek dan intonasi yang tepat, jika perlu gunakan juga gerak tubuh. Gaya bercerita seperti ini sangat disukai anak-anak, dan juga membantu mereka turut menghayati isi cerita.
- Tunjuk setiap kata / kalimat yang tertulis dan ajak anak turut melafalkannya, terutama pada kata yang unik atau baru dikenalnya. Bagi balita ini sangat membantu menambah pembendaharaan kosa kata dan bahasa.
- Minta anak menceritakan ulang. Meski mungkin ceritanya tidak sempurna sesuai isi buku, namun cara ini bisa menstimulasi kemampuan linguistik daya konsentrasi anak.

Demikian beberapa cara sederhana menstimulasi balita kita agar optimal. Mari kita manfaatkan masa-masa golden age nya, karena masa itu tidak akan terulang lagi. Seperti dikatakan oleh Frank Neuman, Presiden Komisi Pendidikan AS, "Ada skala waktu bagi perkembangan otak anak. Dan tahun yang paling penting adalah tahun pertama". Wallahu'alam..

Answered Jan 10, 2018

Question Overview


2 Followers
414 Views
Last Asked 2 years ago

Related Questions


Bagaimana cara mengatasi anak yang manja?

Pada usia berapakah anak akan mampu menyerap pendidikan seks usia dini dengan baik?

Benarkah anak yang suka tantrum memiliki kecerdasan di atas rata-rata?

Bagaimana cara yang tepat membuat anak yang pemalu menjadi aktif di kelas?

Benarkah anak yang 'fatherless' berpotensi menjadi kemayu? Mengapa?

Bagaimana cara mengatasi anak yang memiliki rasa ingin tahu berlebih?

Mengapa anak lebih baik tidur di kamar sendiri alias terpisah dari orangtuanya?

Bagaimana cara mendidik anak yang terpisah jauh dari orangtuanya?

Seberapa signifikan pengaruh pendidikan orangtua terhadap tumbuh kembang anak?

Bolehkah orangtua memaksakan mimpinya yang tertunda kepada anaknya? Mengapa?

Sejauh apakah The Return of Superman mempengaruhi cara didik orangtua kepada anaknya di Korea juga Indonesia?

Bagaimana biasanya kondisi mental anak-anak yang dibesarkan dalam lingkungan broken home?

Bagaimana cara membuat anak tertarik membaca?

Bagaimana menghadapi anak yang melakukan pelecehan seksual?

Keluarga apa yang menurut anda ideal?

Apa pertanyaan tersulit yang pernah ditanyakan oleh anak Anda dan apa jawaban Anda ketika itu?

Apakah Kamu Menghadiri Kelas Animasi 3D Komunitas Anak Pintar

Bagaimana membujuk anak yang tidak mau sekolah agar kembali sekolah?

Bagaimana memotivasi anak untuk belajar dengan mandiri?

Bagaimana mengatasi masalah belajar pada anak?

Apa saja yang perlu diperhatikan tentang tumbuh kembang anak usia sekolah?

Faktor apa saja yang mempengaruhi perkembangan pada anak?

Seberapa penting penerapan aturan bagi anak di keluarga?

Bagaimana mengelola stress sebagai orang tua?

Bagaimana cara menghadapi depresi?