selasar-loader

Apa yang harus dilakukan orang tua ketika anak menghadapi bullying?

Last Updated Nov 29, 2017

1 answer

Sort by Date | Votes
Komunitas Anak Pintar
Akun resmi Anak Pintar, tempat berkumpulnya anak-anak indonesia

Qr5hvbcb9DGT25o4Gslc1Mwykalu48FM.png

 

 

1. Tumbuhkan rasa percaya diri pada anak
Adanya perasaan kompeten (“aku bisa”) dan rasa berharga (“aku layak untuk bahagia”) dapat menghindarkan anak dari perasaan lemah dan tidak berdaya, yang membuat anak cenderung menjadi penakut. Ajarkan anak untuk bisa melakukan sejumlah hal secara mandiri, sehingga kepercayaan dirinya pun meningkat. Ia juga perlu diberi kesempatan untuk menyampaikan pendapat dan perasaannya, dan merasa didengarkan dengan baik.

2. Latih kemampuan sosial anak
Kemampuan sosial yang dimaksud di sini adalah kemampuan anak untuk dapat menyesuaikan diri di lingkungan, dan melakukan interaksi positif dengan orang-orang yang ditemuinya. Kemampuan ini tidak hanya dibutuhkan untuk mencegah bullying, tetapi juga baik untuk perkembangan psikososialnya. Semakin banyak anak mendapatkan kesempatan untuk berinteraksi dengan anak-anak lain, misalnya bermain dengan saudara (kakak, adik, sepupu), tetangga, atau teman-teman di daycare/playgroup/TK, ia akan semakin banyak belajar tentang cara berkomunikasi, berbagi, menyampaikan pendapat, dan banyak keterampilan sosial lainnya.

3. Latih anak untuk menyelesaikan masalah sendiri
Kemampuan anak untuk dapat menyelesaikan masalah (problem solving skills) dapat mengembangkan kemandirian dan kepercayaan dirinya. Ia lebih mungkin untuk terhindar dari pikiran bahwa ia lemah dan tidak bisa berbuat apa-apa. Jadi, selalu membantu anak juga kurang baik. Apalagi kalau masalah yang dihadapi anak sudah terjadi berkali-kali dan anak selalu minta bantuan. Dorong anak untuk mencoba mencari jalan keluarnya sendiri, sambil tetap diawasi oleh orangtua. Misalnya, mainan anak sering direbut oleh kakaknya dan ia selalu hanya bisa menangis dan mengadu kepada orangtua. Orangtua perlu menegur si kakak, tetapi perlu juga mendorong si adik untuk bisa bicara kepada kakaknya, “Ini mainan aku, jangan rebut” atau “gantian mainnya”.

4. Kembangkan sikap asertif pada anak
Ajarkan anak untuk berani berkata “tidak” dan “jangan” bila ada orang yang melakukan hal tidak menyenangkan kepadanya, misalnya memukul, mengejek, mengambil barangnya dengan paksa. Caranya bisa dengan roleplay tadi, misalnya orangtua pura-pura jadi anak yang membully dan anak didorong untuk berani menolak. Anak juga perlu diajarkan untuk dapat mencari bantuan bila mengalami atau menyaksikan bullying. Ia perlu diberitahu siapa saja yang dapat didatangi untuk mendapatkan bantuan, dan sikap seperti apa yang perlu ia tunjukkan kepada orang yang mem-bully. 
Contohnya, ada salah seorang murid yang sangat peduli pada teman-temannya. Ketika ada anak yang merebut mainan anak lain, ia langsung menegur anak tersebut, “Jangan rebut! Mainnya gantian.” (sikap asertif dan berani terlihat). Ketika anak tersebut mengulanginya, anak yang menegurnya tadi kembali melarang, lalu melaporkannya kepada guru agar hal tersebut tidak terjadi lagi. Adapun anak yang merebut mainan tadi, memang anak yang biasa mendapatkan apa saja yang ia inginkan. Oleh karena itu, justru ia sangat butuh untuk diingatkan oleh orang lain bahwa cara yang ia gunakan (merebut) itu tidak baik dan membuat orang lain tidak nyaman.

Sebagai penutup, untuk topik bullying ini saya mau merekomendasikan film “Pasukan Kapiten” (2012) dan The Mighty (1998). Kedua film ini bercerita tentang anak-anak yang di-bully karena kekurangan mereka. Tetapi ada anak-anak lain yang mau berteman dengan mereka dan melawan tindakan bullying tersebut. Semoga kita pun berani untuk berkata tidak kepada bullying.

Answered Jan 10, 2018

Question Overview


3 Followers
395 Views
Last Asked 2 years ago

Related Questions


Apa pertanyaan tersulit yang pernah ditanyakan oleh anak Anda dan apa jawaban Anda ketika itu?

Apakah Kamu Menghadiri Kelas Animasi 3D Komunitas Anak Pintar

Bagaimana membujuk anak yang tidak mau sekolah agar kembali sekolah?

Bagaimana memotivasi anak untuk belajar dengan mandiri?

Bagaimana mengatasi masalah belajar pada anak?

Apa saja yang perlu diperhatikan tentang tumbuh kembang anak usia sekolah?

Faktor apa saja yang mempengaruhi perkembangan pada anak?

Seberapa penting penerapan aturan bagi anak di keluarga?

Bagaimana mengelola stress sebagai orang tua?

Bagaimana cara menghadapi depresi?

Mengapa mengenali dan memahami diri penting sebagai bekal pengasuhan? Apa yang perlu kita ketahui tentang diri kita?

Apakah empati itu dan mengapa penting? Bagaimana cara untuk menumbuhkan empati pada anak?

Bagaimana Anda menghadapi/melawan bullying waktu di sekolah?

Apa pendapat Anda tentang bullying?

Bagaimana cara menangani trauma karena bullying?

Mengapa orang Indonesia mengejek orang yang menggantung diri?

Mengapa di Indonesia banyak sekali terjadi kekerasan di sekolah?

Mengapa bullying masih saja terjadi? Bagaimana cara menghentikannya?

Apakah perlu ada koordinasi antara Kementerian Sosial dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam mencegah terjadinya kembali bullying di lingkungan pendidikan?

Apa yang harus dilakukan ketika terjadi cyber bullying di Selasar?

Apakah pendidikan agama mampu mengatasi maraknya aksi bullying?

Apa yang sebaiknya dilakukan ketika melihat anak kita di-bully anak lain?

Bagaimana cara mengatasi anak yang manja?

Pada usia berapakah anak akan mampu menyerap pendidikan seks usia dini dengan baik?

Benarkah anak yang suka tantrum memiliki kecerdasan di atas rata-rata?

Bagaimana cara yang tepat membuat anak yang pemalu menjadi aktif di kelas?

Benarkah anak yang 'fatherless' berpotensi menjadi kemayu? Mengapa?

Bagaimana cara mengatasi anak yang memiliki rasa ingin tahu berlebih?

Mengapa anak lebih baik tidur di kamar sendiri alias terpisah dari orangtuanya?

Bagaimana cara mendidik anak yang terpisah jauh dari orangtuanya?

Seberapa signifikan pengaruh pendidikan orangtua terhadap tumbuh kembang anak?

Bolehkah orangtua memaksakan mimpinya yang tertunda kepada anaknya? Mengapa?