selasar-loader

Bila kamu diberikan kehidupan kedua sebagai mahasiswa, apa yang akan kamu lakukan?

Last Updated Dec 2, 2016

6 answers

Sort by Date | Votes

Memperbaiki nilai, tentu saja. Berkomitmen merealisasikan janji "akan mencatat materi perkuliahan" yang selama ini selalu menjadi wacana pengawal semester baru. Mengikuti lebih banyak kompetisi. Produktif dalam menulis. 

Answered Jan 18, 2017
Heidy O Rachman
Mahasiswi Arsitektur FTUI

Akan lebih semangat menjalani semuanya :'D 

Answered Jan 31, 2017
Anonymous

phYdMW8yNgHszdzhQUCRY8niPSRgqUSM.jpg

Menjadi mahasiswa adalah pengalaman berharga yang unik dan mengesankan. Ada peralihan fase yang harus dijalani ketika menginjak bangku kuliah, yaitu fase remaja yang serba ingin tahu dan mencoba hal-hal baru menuju fase dewasa yang mulai mengerti arti tanggung jawab dan skala prioritas.

Menjadi mahasiswa berarti menjadi kaum intelek yang mampu memberikan edukasi bagi masyarakat dan juga mengawasi kinerja penguasa negara. Namun, tantangan yang menanti di depan adalah nilai, relasi, dan soft skill. Benarkah semua ini mampu dijalankan? Belum tentu, jawabnya. Maka saya akan melakukan hal berikut jika diberikan kehidupan kedua sebagai mahasiswa.

Pertama, saya akan menetapkan skala prioritas agar nilai akademik menjadi baik. Mungkin ada yang berpikir, nilai belum tentu memberikan pekerjaan. Tapi perlu diketahui, nilai yang baik akan mengantarkan kita pada sesi wawancara.

Kedua, memulai kebiasaan membaca sejak awal kuliah. Saya sendiri merasa bodoh dalam menulis karena kurangnya perbendaraan kata. Maka, ini menjadi perhatian saya.

Ketiga, aktif berorganisasi sebagai sarana memperbanyak relasi dan mengasah pikiran kritis. Meski sekarang aktif di organisasi, tapi sayangnya, fokus saya terbagi-bagi. Dalam organisasi juga ada pelatihan dinamika kelompok, pemecahan masalah, belajar bicara di depan umum, dan sebagainya.

Answered Mar 7, 2017
Reza Firmansyah
Mathematician. Writer. Futurist. Trying to leave good marks as my legacy.

Ux_Z88urhYLRHwQ1MIM9-PVKFaX4urmg.jpg

via blogspot.com (FR)

Mengumpulkan kertas-kertas bekas yang saya miliki untuk saya jadikan bahan coret-coretan agar lebih semangat belajar dan latihan soal.

Ya, hal itulah yang membedakan prestasi saya saat pra-kuliah dengan saat kuliah.

Pada awalnya, saya sulit belajar rutin di luar mengerjakan tugas akibat jauhnya jarak rumah dengan kampus.

Namun ketika sudah mulai pindah rumah ke tempat yang lebih dekat dengan kampus, saya mulai kesulitan mengejar ketertinggalan nilai saya.

Seandainya saya punya mesin waktu, saya akan memberi tahu diri saya di dunia parallel agar melakukan hal tersebut, atau membelikannya banyak kertas kosong agar dia semangat belajar, apapun keadaan yang dia hadapi.

Answered Apr 12, 2017
Resti Rachmawati
Art-gazer || Nature-fonder || Womanpreneur

Hasil gambar untuk mahasiswa

via si-pedia.com (SUM)

Mengikuti banyak organisasi di Kampus dibandingkan mati-matian mengerjakan tugas dari dosen-dosen. 

Seimbangkan aktif berorganisasi dan belajar.

Answered Apr 12, 2017
Adrian Benn
Master's Student in Interactive Media Technology, KTH, Sweden.

fC_or3P9s1giMaFRThaAUIybzukC-WOY.jpg

Foto: dokumentasi pribadi

Saat ini bisa dibilang saya sedang menjalani kesempatan kedua saya sebagai mahasiswa. Sebelumnya saat S1, saya merasa tidak mengikuti kuliah dengan sungguh-sungguh, lebih banyak aktif di berbagai kegiatan dan banyak main. Lulus pun hanya sekadar lulus, dengan hasil yang pas-pasan. Ada penyesalan dalam hati. Meski demikian, saya bersyukur mendapatkan banyak pengalaman berharga dan teman-teman dekat dari masa kuliah tersebut.

Setelah mencoba bekerja, bahkan mencoba merintis usaha sendiri, saya menyadari betapa saya haus akan pengetahuan dan merindukan proses belajar. Terlebih, rasa penyesalan tadi tidak hilang juga. Setelah beberapa tahun menyusun rencana studi dan mencari dukungan beasiswa, akhirnya saya mendapatkan kesempatan kedua ini.

Kehidupan kedua sebagai mahasiswa ini bisa dibilang kebalikan dari sebelumnya. Fokus kali ini ada pada studi. Meski demikian, bukan berarti saya tidak bersosialisasi. Kegiatan ekstra kurikuler tetap saya ikuti, waktu untuk refreshing pun ada. Yang pasti, studi tidak boleh dinomorduakan.

Answered Apr 12, 2017