selasar-loader

Siapa Willy Aditya?

Last Updated Nov 4, 2017

5 answers

Sort by Date | Votes

Willy Aditya adalah teman sekolah saya, tepatnya ketika kami satu sekolahan di SMP. Tidak hanya itu, ayah Willy Aditya pun teman baik ayah saya. Seiring berjalannya waktu, Willy pun menjadi teman baik kakak saya ketika mereka (Willy dan kakak saya) sama-sama merantau ke daerah Yogyakarta dalam rangka meneruskan pendidikan. 

Di SMP, Willy adalah salah satu anak yang pintar (karena waktu itu di sekolah saya jarang lho laki-laki yang pintar secara akademis, namun Willy masuk dalam kategori pintar), dan tak suka huru-hara. Setelah lulus SMP, Willy melanjutkan bersekolah ke INS, Kayu Tanam. Kurun waktu tersebut, saya jarang mendengar kabar Willy sampai akhirnya Willy bertemu dengan kakak saya (almarhum) di Yogyakarta. Kami pun menjadi teman. 

Lama tak saya dengar kabar Willy, sampai kemudian bertemu kami lagi di Jakarta. Ya, akhirnya kami sama-sama jadi anak perantauan di Jakarta. Ketika itu, Willy bekerja di Astra. Tak lama, nama Willy pun menggaung di kancah politik. Wah! Amazing! Willy membuat kejutan bagi kami, teman-teman sekolahnya. 

Saya mendengar cerita Willy saat berorganisasi; ia banyak memperjuangkan hak-hak yang memang semestinya diperjuangkan. Dalam usia mudanya, Willy dapat menangkap nilai-nilai sebuah perjuangan, keterbangunan dalam setiap gerakannya, pada usia dimana kebanyakan kami malah belum berpikir sampai ke sana. Bagaimana tidak, kebanyakan di usia itu kami masih berpikir soal karier, mencari uang, dan rumah tangga, namun Willy sudah berbeda. Dia sudah mampu berpikir besar, berani, dan bergerak untuk membuat perubahan. Ah, Willy beruntung, selesai dengan dirinya di usia muda sehingga selanjutnya yang saya dengar adalah Willy dengan pergerakan demokratis politiknya dan karya tulisnya. 

Tak lama kemudian, Willy muncul di televisi. Hebat! Itu menurut saya dan teman-teman lainnya. Beberapa kali, kami pun berbicara. Absolutely right! Seorang Willy Aditya mampu memahami banyak hal dengan sudut pandang yang berbeda-beda. Luwes! Saya juga tergila-gila dengan perpustakaan pribadinya. Dengan melihat isi pustaka itu, saya sudah membayangkan apa saja yang dimuat di otak seorang Willy Aditya. Belum lagi sepak terjangnya yang tidak perlu saya sebutkan satu persatu di sini. Karena bisa di-browsing!

Tapi satu hal yang saya salut, Willy tak pernah kehilangan siapa dirinya walau sudah menjabat ini-itu. Tetap, tetap seorang Willy kawan satu sekolahan saya dulu. Tidak dengan gaya bicara dibuat-buat. Apa adanya. He is Willy who I ever known....

 

Answered Nov 4, 2017

Saya banyak mendengar namanya dari para aktivis senior. Saya sendiri mulai berinteraksi pasca-founding congress Front Mahasiswa Nasional di Balai Rakyat Utan Kayu, Jakarta, tahun 2003.

Willy Aditya saya kenal sebagai aktivis pemuda mahasiswa, aktivis untuk kaum tani, mengorganisir buruh di pabrik-pabrik. Ide dan gagasannya terkadang melampui usianya saat itu. Movement yang dibangunnya dari Yogyakarta menuju Jakarta telah mampu membawa satu kebaruan atas kekeringan dunia pergerakan mahasiswa di zamannya sampai kemudian dia mampu dan dengan gigih berdiri pada keyakinannya bahwa mahasiswa harus mampu hadir sebagi penyokong perubahan di garda terdepan.

Sampai hari ini, sekalipun berlabuh di Partai Nasdem, ide dan gagasannya tentang perubahan sosial dan kemajuan untuk bangsa Indonesia masih terus dia gelorakan. Maka, jelaslah bahwa Willy Aditnya adalah salah satu anak bangsa dan anak zaman yang cemerlang.

Demikian.

Answered Nov 4, 2017

Willy Aditya lahir pada 12 April 1978 di Solok, Sumatera Barat. Ia menempuh pendidikan dasar dan menengah di Sumatera Barat, kemudian menjadi mahasiswa undangan di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta pada tahun 1997. Tahun 2005, Willy mendapat beasiswa untuk program magister di Institut Teknologi Bandung (ITB) yang bekerja sama dengan Cranfield University, Inggris, untuk program double degree.

Willy dikenal sebagai aktivis dan intelektual muda yang sarat pengalaman lapangan dan organisasi. Tahun 1999, ia dipercaya menjadi Ketua Dewan Mahasiswa UGM. Pada tahun 2003, ia menjadi pendiri sekaligus Ketua Umum pertama Front Mahasiswa Nasional (FMN). Ia juga mendirikan Perhimpunan Rakyat Pekerja (PRP) dan menjabat sebagai Sekretaris Jenderal di tahun 2004. Tahun 2007, ia mendirikan Sekolah Demokrasi Tangerang. 

Setelah malang melintang dalam berbagai dunia aktivis pergerakan, mulai dari dunia pergerakan mahasiswa, pemuda, hingga buruh, partai politik adalah ruang aktualnya saat ini. Selain dipercaya sebagai Ketua Bidang Media dan Komunikasi Publik Dewan Pimpinan Pusat Partai Nasdem, saat ini ia juga dipercaya sebagai Sekretaris Badan Pemenangan Pemilu Partai Nasdem.

Selain itu, ia juga menjabat sebagai Direktur Eksekutif Populis Institute. Lembaga ini merupakan lembaga kajian politik dan kebijakan publik yang didirikan pada tahun 2010. Ia juga aktif menulis opini di harian nasional. Sampai saat ini, ia sudah menerbitkan tiga buku yang berjudul Mari Bung Rebut Kembali (kumpulan pidato Surya Paloh) di tahun 2012, Indonesia di Jalan Restorasi (Pemikiran Politik Surya Paloh) di tahun 2013, dan Moralitas Republikan di tahun 2016. Pemikiran dan aktivitasnya dapat dilihat di situs pribadinya

Sumber: Situs Partai Nasdem

 

Answered Nov 4, 2017
Jakfar Fauvis
Pejalan kaki, pengagum gambar, penyuka Cerita, Pendengar Musik, Penonton Bolau

Saya mengenal Willy dari seorang senior di tempat kuliah sekitar tahun 2000 atau 2001. Saat itu, Willy Aditya masih seorang aktivis mahasiswa yang datang ke kota tempat saya kuliah dalam rangka melakukan konsolidasi organisasi mahasiswa menuju kongres pendirian FMN.

Selanjutnya, saya sering bertemu jika ada konsolidasi atau workshop organisasi pada tingkat nasional. Namun, jika ingin mengenal lebih jelas sosok Willy Aditya, ada baiknya Anda bertemu langsung agar terasa kesederhanaan dan kedekatan interaksi dengannya. Kemudian, Anda bisa berdiskusi tentang politik, filsafat, film, serta ide-ide tentang perubahan sosial dengannya, bahkan sepak bola. Willy Aditya adalah seorang penggemar berat Liverpool yang, menurutku, berkaitan dengan latar belakang klub dari kota pelabuhan tersebut.

Apa yang dituliskan oleh situs web partai NasDem dan keterangan yang ada di video Youtube di bawah ini, menurutku, sudah cukup menggambarkan secara komplit tentang sosok Willy Aditya.

***

Willy Aditya, Matang Bersama Rakyat

Seperti anak-anak desa pada umumnya, Willy Aditya kecil ikut mandi berhujan-hujanan, belajar mengaji, dan bermain bola.

Willy lahir di Solok, 12 April 1978, di sebuah desa kecil di Sumatera Barat. Ia tumbuh dalam suasana pedesaan yang asri dan harmonis.

Willy menempuh pendidikan dasar dan menengah di Sumatera Barat, kemudian menjadi mahasiswa undangan untuk melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta tahun 1997. 

Tahun 2005, Willy mendapat beasiswa untuk mengecap pendidikan di tanah Parahyangan, program magister di Institut Teknologi Bandung (ITB) yang bekerja sama dengan Cranfield University, Inggris untuk program double degree-nya.

Willy dikenal sebagai seorang aktivis dan intelektual muda yang sarat pengalaman lapangan dan organisasi. Ia merupakan sosok yang telah hidup dan belajar bersama rakyat serta mampu berkiprah dengan gagasan bernas di panggung politik.

Anak dari pasangan Syamsuddin Lubis dan Asna Hasan ini sudah padat pengalaman dalam memperjuangkan hak petani, buruh, kaum marjinal urban, dan mahasiswa. 

Tahun 1998, sebagai pemimpin aktivis mahasiswa, Willy menjadi bagian terdepan barisan mahasiswa menggelorakan reformasi di Indonesia. Ia pun dipercaya sebagai Ketua Dewan Mahasiswa UGM tahun 1999. 

Pada tahun 2003, ia menjadi pendiri Front Mahasiswa Nasional (FMN) dan menjadi Ketua Umum FMN pertama. Organisasi mahasiswa ini memperjuangkan pendidikan berkualitas yang mampu dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat.

Tak hanya di barisan perjuangan mahasiswa, Willy Aditya juga ikut bersama petani melakukan advokasi dan pendampingan, bahkan menyuarakan aspirasi bersama petani. Semasa masih mahasiswa di tahun 1998, ia bersama Romo Mangunwijaya dan 1.500 orang petani se-Jateng dan Yogyakarta menyerukan penolakan terhadap pestisida karena merusak tanah pertanian dan mendukung pertanian organik.

Di tahun 1999-2002 ia juga aktif melakukan pendampingan petani dan hidup bersama petani Wonosobo, Magelang, Prambanan, dan Pagilaran. Willy juga tak gentar memimpin aksi petani Kulonprogo yang berkonflik tanah dengan Kodim Kulonprogo di tahun 2000. 

Aktivitasnya di Serikat Petani Pasundan (SPP), Bina Desa, Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA), dan banyak kelompok serikat tani lainnya, membawanya juga memimpin aksi 20.000 petani di Bundaran HI tahun 2003 yang tergabung dalam AGRA (Aliansi Gerakan Reforma Agraria).

Willy tak menanggalkan semangat dan gagasan demi perbaikan dan pengembangan praktik berbangsa dan berpolitik yang selalu ia perjuangkan. Hal ini pula yang mendorongnya mendirikan Sekolah Demokrasi Tangerang di tahun 2007. Sebuah sekolah yang ditujukan untuk kalangan praktisi politik, mahasiswa, hingga pegawai negeri agar bisa berperan dalam proses demokrasi di Indonesia dan mampu mengawasi pemerintah dalam hal kebijakan dan anggaran.

Fokus perjuangan Willy tidak hanya berhenti di situ. Setelah lulus sebagai sarjana filsafat, Willy mendirikan Perhimpunan Rakyat Pekerja (PRP) dan menjabat sebagai Sekretaris Jenderal di tahun 2004. Organisasi ini menghimpun buruh, petani, pemuda, dan mahasiswa dari berbagai daerah sebagai sebuah kekuatan rakyat yang tetap terlupakan, pun setelah reformasi bergulir.

Selama tahun 2005 hingga 2006, Willy tinggal di permukiman buruh di Tangerang dan aktif mengorganisasi dan mengadvokasi buruh. Selain itu, ia juga aktif dalam ABM (Aliansi Buruh Menggugat), pendiri KASBI (Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia) di tahun 2004, dan banyak terlibat dalam aktivitas advokasi bagi buruh di Jawa.

Konsistensi dan kegigihannya dalam berjuang bersama petani, buruh, dan mahasiswa, serta kepiawaiannya dalam berkomunikasi dengan gagasan yang bernas membuatnya dipercaya oleh Surya Paloh sebagai salah satu konseptor dan deklarator Ormas Nasional Demokrat. Tak hanya itu, Willy juga menjabat sebagai Ketua Umum Liga Mahasiswa Nasdem dan saat ini menjabat sebagai Ketua DPP Partai Nasdem Bidang Media dan Komunikasi Publik.

Selain mendirikan Sekolah Demokrasi Tangerang, kecintaannya akan dunia akademis dan kepeduliannya terhadap kualitas demokrasi di Indonesia ia wujudkan dengan mendirikan lembaga Populis Institute di tahun 2010. Lembaga ini merupakan lembaga kajian politik dan kebijakan publik. Hingga kini, ia menjabat sebagai Direktur Eksekutif.

Willy juga aktif menulis opini di berbagai harian nasional semenjak masih kuliah hingga kini. Bahkan sudah menerbitkan dua buku yang berjudul Mari Bung Rebut Kembali (kumpulan pidato Surya Paloh) tahun 2012, dan Indonesia di Jalan Restorasi (Pemikiran Politik Surya Paloh) di tahun 2013.

Sumber: Partai Nasdem

 

 

Answered Nov 5, 2017

Willy aditya salah seorang politikus dari Partai NasDem, pengagas Ormas Nasional Demokrat. Ormas ini dideklarasikan oleh 45 tokoh nasional di Istora Senayan, Jakarta, pada 1 Februari 2010.

“Para mahasiswa yang berunjuk rasa tak henti-henti meneriakkan yel-yel anti-Howard. Poster-poster yang mereka usung juga berisi kalimat yang menyindir-sindir Howard. Di antaranya  kata-kata Caution, Howard The Imperialist Agent.” Ini diucapkan saat kedatangan Howard. Willy Aditya yang memimpin aksi ini di UGM. 

Answered Nov 5, 2017