selasar-loader

Ketika menyadari bahwa Anda salah jurusan, apa yang Anda lakukan?

Last Updated Dec 2, 2016

3 answers

Sort by Date | Votes

Hasil gambar untuk kuliah

Mengajukan pindah jurusan atau secepatnya lulus dari jurusan yang sekarang dijalani.

Gambar via fahrybany.files.wordpress.com

Answered Dec 11, 2016

3beZMvDKAZt0c5ezMr-ZiQ-NoU64PwZE.jpg

Ini adalah pengalaman pribadi bagi saya. Jurusan saya ketika kelas 3 SMU adalah IPA. Beberapa kali ketika SMU, saya mewakili sekolah untuk perlombaan Fisika, Kimia, dan Matematika. Penjurusan di SMU semata-mata dilakukan karena ranking rapor di sekolah. Saya baru menyadari ketika mengisi formulir Penjaringan Bibit Unggul Daerah (PBUD) untuk perguruan tinggi. 

Kecenderungan saya ialah pada ilmu-ilmu sosial humaniora. Hal itu terjadi karena saya berinteraksi dengan beberapa orang sastrawan, seperti AA Navis, Wisran Hadi, Irman Syah, Adriyetti Amir, Yusril, dll. Selain itu, saya memang hobi membaca buku sosial, filsafat, sejarah, apalagi politik. 

Ketika mau mengisi formulir PBUD, saya terkendala untuk mengambil program studi yang tergolong dalam rumpun IPS, padahal niat saya ialah mengambil ilmu sosial humaniora, khususnya hubungan internasional di Universitas Gadjah Mada. Karena harus mengambil jurusan yang sesuai dengan rumpun IPA, saya mencari yang "rada-rada dekat bunyinya" dengan ilmu sosial, yakni Manajemen Hutan.

Pada medio 1997, saya mendapat panggilan sebagai mahasiswa UGM melalui jalur PBUD (Penjaringan Bibit Unggul Daerah). Saya berangkat ke Yogyakarta untuk berkuliah di Universitas Gadjah Mada sebagai mahasiswa Fakultas Kehutanan Jurusan Manajemen Hutan.

Tentu, sebagai orang kampung, saya bangga bisa kuliah, apalagi kuliah di UGM, tetapi saya tidak pernah membayangkan akan berkuliah di Fakultas Kehutanan. Sejak SMU, saya sudah produktif menulis di beberapa kolom budaya di harian Singgalang dan Haluan. Bahkan, saya sudah menjadi penulis langganan di KMS (Koran Masuk Sekolah), suplemen koran Singgalang. Tema-tema tulisan saya adalah budaya, khususnya sastra dan perkara sosial politik.

Ketika sampai di Yogyakarta, saya masih menulis beberapa liputan tentang FKY (Festifal Kesenian Yogya), event tahunan atau yang akrab disebut Sekatenan. Waktu itu, perkuliahan belum dimulai secara resmi. Saya tidak mengikuti program matrikulasi (penyetaraan) karena sudah lolos tes matrikulasi. Jadi, hampir dua bulan saya bebas untuk beraktivitas apa saja. Alih-alih pulang ke kampung, karena ongkos mahal, saya memanfaatkan betul waktu untuk mengikuti hampir semua seminar yang diadakan di kompleks UGM. 

Momen yang menjadikan saya sangat keranjingan menulis budaya adalah momen pamitnya Pak Umar Khayam dari UGM sekitar Juni 1997. Saya sangat terkesima bertemu para legenda yang selama ini hanya saya baca di media dan buku-buku. Ada WS Rendra, Ignas Kleden, Dhaniel Dakhidae, Kunto Wijoyo, Laele S Khudori, Nirwan Dewanto, Faruk HT, dll. Sebagai orang kampung yang haus ilmu dan informasi, saya ajak mereka mengobrol. Kala itu, saya memperkenalkan diri sebagai siswa INS Kayutanam besutan AA Navis.

Saya mengirim tulisan saya ke harian Singgalang dan Haluan hasil dari perbincangan dengan mereka, serta saya berkirim surat ke Pak AA Navis dan sahabat-sahabat saya di INS Kayutanam bagaimana dialektika yang sedang saya gulati. Tidak ada sama sekali pikiran tentang kuliah sebagai seorang Rimbawan!!!

Ketika mulai perkuliahan, saya di-"ospek" oleh senior-senior yang luar biasa, yang membuat saya teringat statement guru-guru di Kayutanam: Bulaksumur itu sarangnya demonstran. Saya seperti menemukan jatidiri saya ketika diajari berdemo, apalagi diberikan kesempatan berorasi. Sebagai seorang yang pernah belajar teater dan membaca pamflet-pamflet Bung Karno dari SD, saya langsung berorasi dengan lantang, "Darah saya Merah, dan akan saya Merahkan Indonesia!!!" Senior-senior pada memegang saya dan mengatakan, "Jangan keras-keras orasimu, dab!

Begitupun ketika masa penataran P4. Saya dengan serius menggarap makalah saya. Saya pergi ke shopping center (kompleks toko-toko buku di Yogyakarta) untuk membeli buku kumpulan karangan Roeslan Abdul Gani tentang Pancasila. Yang paling luar biasa adalah Pidato 1 Juni Bung Karno tentang Pancasila. Presentasi saya sempat dihentikan oleh dosen pembimbing karena saya secara tegas mengkritisi pemikiran Pancasila Orde Baru dan harus kembali ke ajaran Pancasila sejati Bung Karno. 

Pada 1997, terjadi bencana kebakaran hutan besar-besaran di beberapa kawasan Indonesia. Ini adalah satu-satunya kesempatan yang mengidentikkan saya sebagai mahasiswa Kehutanan karena menulis tentang kebakaran hutan. Itupun terjadi setelah saya berdiskusi dengan Prof.Setioyo, dosen mata kuliah Pengantar Ilmu Kehutanan. 

Selebihnya, sama sekali saya tidak paham tentang kehutanan. Saya kuliah 4 tahun di Fakultas Kehutanan. Selama 4 semester, IPK saya 0.0. Untunglah 4 semester sebelumnya terbantu oleh banyaknya MKDU yang sama dengan pelajaran ketika SMU. Selama kuliah di Fakultas Kehutanan, saya tidak pernah membayangkan akan jadi sarjana hutan seperti Pak Jokowi.

Selain eksistensi saya sebagai aktivis yang menggugat sistem pendidikan kita yang complicated, saya secara sadar merasakan bahwa saya salah jurusan.

(to be continued)

Answered Mar 10, 2017

Jalani,  hadapi, berusaha dan berharap bisa mengikuti. 

Septiani DY

240110170025

Answered Aug 29, 2017