selasar-loader

Mengapa Jokowi berubah sikap soal kebijakan reklamasi?

Last Updated Nov 3, 2017

1 answer

Sort by Date | Votes
Miftah Sabri
Pendiri dan CEO Selasar

F9FjTRzJZzwRLF79kZ5OdWYGtoOul5j0.jpg

Agak mengejutkan, memang, pekan ini. Tidak pernah bicara soal reklamasi, tiba-tiba Presiden Jokowi atau Pak Dhe kesayangan kita semua bicara terkait hal ini. Pak Dhe berujar tidak pernah menandatangani apapun terkait izin reklamasi laut utara Jakarta. "Saya sampaikan, saya sebagai Presiden tidak pernah mengeluarkan izin untuk reklamasi. Sebagai gubernur, saya juga tidak pernah mengeluarkan izin untuk reklamasi," kata Pak Dhe.

Terkait pergub yang sudah dia keluarkan seputar reklamasi, beliau menjawab, "Kalau yang itu, pergub itu kan pergub yang acuan petunjuk dalam rangka kalau kamu minta izin. Gitu lho. Jangan di, bukan (izin) reklamasinya. Kalau kamu minta izin, aturannya seperti apa," 

"Bukan kamu saya beri izin, kamu saya beri izin reklamasi, bukan itu," jelas Pak Dhe.

Pak Dhe menegaskan, pergub tersebut bukan untuk memberi izin reklamasi. 

-----------------------------------------------------------------------------------

Dalam dunia startup dan bermain basket, ada istilah "pivot". Di dunia startup, pivot adalah mengganti bisnis model atau produk ketika keduanya ternyata tidak diterima oleh market. Dalam main basket, pivot ya menukar sudut gerakan untuk melempar bola. Dari statement Pak Dhe, terlihat sekali Pak Dhe akhirnya Pivot. Beliau melakukan political pivot. Namun ya sebagaimana sudah saya tulis dalam jawaban sebelumnya, Pak Dhe semakin lihai dan ulung. Ini adalah pivot politik yang cerdas. 

Meskipun Pak Dhe selama ini tidak pernah bicara langsung tapi dalam politik, kan itu ga bisa diartikan mentah begitu saja. Jamak publik menangkap, ini adalah irama yang sempurna sejak Pak Dhe manjadi gubernur, digantikan Kakak Ahok, lanjut Mas Djarot sebagai satu kesatuan. Lantas, pencopotan Bang Rizal Ramli sebagai menteri koordinator kelautan dan kemaritiman yang mengeluarkan surat moratorium reklamasi pantai utara Jakarta lantas diganti dengan Opung Luhut Binsar Panjaitan yang sangat vokal di publik mendukung ide reklamasi dan mencabut surat moratorium yang dikeluarkan Rizal Ramli.

Aroma persekutuan Taipan pengembang dan Pemerintahnya cukup kuat dalam case ini. Lantas pro-kontra muncul. 

8mE4E4Ezdpw2RvmCzzRWwFCRsaNDt4Pw.jpeg

Kenapa Jokowi Pivot?  

Saya coba tanyakan kepada pihak yang terkait. Mulai jawaban terang nampak. Sepertinya pemerintah pusat dan pemerintah baru provinsi Jakarta mulai bertempur politik menggunakan data. Dari melihat data, mereka menemukan titik tengah.

Lho? Apa hubungannya? Gubernur baru Mas Anies tampaknya tidak bergeming dari janji kampanyenya. Dia tidak akan bernegosiasi dengan pengembang untuk proyek reklamasi, bahkan saya menilai bahwa pada batasan tertentu, ia akan memelihara ekskalasi issues ini untuk menjaga sentimen kepemimpinannya sehingga yang bersangkutan bisa memelihara basis pendukung loyal pemerintahannya. Jika meningkat tajam, ekskalasi ini akan bisa ia ciptakan untuk menciptakan dirinya sebagai "hero" baru yang tidak mau benegosiasi dengan kepentingan pemodal namun lebih mendengarkan apa yang diinginkan masyarakat. Toh dari data data yang berseliweran, tampaknya di tingkat masyarakat umum, reklamasi bukan issues yang dekat dengan keseharian mereka dan mereka menganggap itu memang perihal yang tidak relevan. 

Pak Dhe pun melihat data yang sama, bersikeras dan berpolemik dengan provinsi DKI Jakarta soal reklamasi akan berdampak buruk pada citra positif pemerintahannya yang sudah susah dia bangun. Tahun politik di depan mata. Ia belajar pada kejadian yang sudah-sudah untuk tidak membiarkan sesuatu yang terlihat sepele karena tiba-tiba bisa menggulung sekaligus memukul pemerintahan yang sudah bagus ia jalankan selama lima tahun. Ia tak mau menjadikan reklamasi ini sebagai batu sandungan untuk pemilihannya mendatang. 

Ketimbang Mas Anies membangun narasi reklamasi versinya, Pak Dhe memilih untuk mendahuluinya. Dalam pemerintahan provinsi yang belum sebulan ini pun Mas Anies sadar dan mengambil titik tengah. Tidak akan ada lanjutan reklamasi lainnya. Untuk yang sudah terlanjur membangun, mungkin mereka akan melokalisir di wilayah sana. Akankah mereka diijinkan membangun properti kepada pengembang tersebut atau jangan jangan-jangan disuruh buat Disney Land saja di tempat yang sudah terlanjur dibangun, tidak untuk tempat yang lain? Tunggu gubernur baru kalau mau melanjutkan ambisi bisnisnya. 

Answered Nov 3, 2017

Question Overview


2 Followers
663 Views
Last Asked 2 years ago

Related Questions


Mengapa Hillary Clinton yang mendapatkan popular votes terbanyak tidak terpilih sebagai Presiden?

Apakah terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat akan mengubah wajah dunia?

Mengapa seseorang bisa tertarik bergabung dengan ISIS?

Mengapa seluruh periset di lembaga survei dan media Amerika Serikat gagal dalam memprediksi Hillary Clinton sebagai Presiden?

Beranikah Donald Trump mewujudkan janji-janji kampanyenya dengan mengusir imigran ilegal, mencegah Muslim masuk, dan memproteksi produksi AS dari gempuran barang komoditas Tiongkok?

Bagaimana cara Bareskrim Polri bekerja saat menentukan status kasus yang menjerat Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok?

Bagaimana sebenarnya hubungan Jokowi dengan Ahok?

Apakah aksi damai 411 ditunggangi kepentingan politik tertentu?

Seperti apa karakter pemimpin ideal yang pantas memimpin Jakarta?

Apa yang menyebabkan perilaku koruptif seperti tidak dapat dihilangkan di Indonesia?

Adakah keterlibatan Indonesia pada Perang Dunia II?

Pernahkah Anda bertemu Presiden Joko Widodo?

Hal-hal apa sajakah yang harus dipenuhi agar Indonesia menjadi pemimpin budaya populer dunia?

Foto apa saja yang bisa mengubah cara pandang kita tentang Indonesia?

Apa yang Anda banggakan dari Indonesia saat bertemu masyarakat internasional?

Masakan/makanan Indonesia apa yang menurut Anda paling mungkin go international?

Mengapa bangsa Indonesia dapat sebegitu lamanya dijajah oleh Belanda?

Makanan/masakan Indonesia apa yang paling memiliki nilai sejarah tinggi?

Apa yang membuat beberapa suku di Indonesia masih tetap bertahan dengan gaya hidup tradisionalnya, misalnya Suku Badui?