selasar-loader

Alexis ditutup. Apa konsekuensi dari pembuktian janji kampanye Anies ini?

Last Updated Oct 30, 2017

89oWygNiwO9SNdsPWlZ7FWDSiL0Y3Ka0.png

Berdasarkan laporan CNN tanggal 27 Oktober 2017, Hotel Alexis resmi ditutup karena izinnya tidak diperpanjang oleh Pemprov DKI. Hal ini sesuai dengan janji kampanye Anies Sandi.

"Jangan coba-coba, kalau Anda coba-coba, maka kami akan tindak dengan tegas. Siapa pun, di mana pun, siapa pun pemiliknya, berapa lama pun usahanya, bila melakukan ini praktik-praktik amoral, apalagi menyangkut prostitusi, kami tidak akan biarkan," kata Anies.

Bagaimana konsekuensi dari penutupan Alexis ini? Akankah Alexis berganti wajah untuk meneruskan bisnisnya?

Jawablah pertanyaan ini dengan menuliskan pendapat Anda. Selasar akan membantu Anda dengan memfasilitasi pendapat yang ada sehingga bisa tersalurkan kepada pihak yang bersangkutan.

Selamat menjawab!

1 answer

Sort by Date | Votes

lc7ZkabV0EKkq0tkmFtGk3GeYthYzeZ2.jpg

Belajar dari Gang Dolly, Bisakah?

Alexis, sebuah bisnis esek - esek berbalut "pariwisata" akhirnya ditutup oleh Anies "sang gubernur kemarin sore" DKI Jakarta. Hal ini tentu mengundang pro-kontra dari pelbagai pihak yang tak perlu lagi diperdebatkan dalam ulasan ini. Saya lebih suka menatap penutupan Alexis ini dari perspektif pascakebijakan. Sebagai pemuda yang besar di Surabaya, ada salah satu pelajaran yang ingin saya bagi kepada kawan-kawan yang ada di Jakarta terkait ditutupnya sebuah wilayah lokalisasi. Ya, Mak Risma sudah mendahului jauh tahun kebijakan Anies dengan menutup Gang Dolly sebagai lokalisasi prostitusi.

Saya menyadari bahwa Alexis dan Dolly tidak bisa disamakan secara vis a vis; apple to apple. Hal ini disebabkan Dolly merupakan lokalisasi prostitusi yang dikelola secara komunal oleh mayoritas kelas menengah bahkan menengah ke bawah, dengan hasil pemasukkan yang "disetorkan" kepada kelompok elitis. Dengan kata lain, organisasi industri ini lebih banyak digerakkan oleh intervensi kelas menengah dibanding kaum elite pemodal. Jika lokalisasi ditutup, masyarakat yang tinggal di sana pasti terdampak mengingat usaha mereka juga beririsan dengan bisnis prostitusi tersebut, sebagai contoh tukang parkir yang mendapat fee dari kendaraan, tukang laundry yang juga berkurang pemasukannya karena tak ada lagi "sprei" atau pakaian kotor yang dicuci, kost-kost yang tutup karena wanita tuna susila "dipulangkan", hingga warung makan dan warung kopi yang pasti berkurang pelanggannya. Efek penutupan gang Dolly tidak hanya berhenti pada urusan penerimaan pajak, tetapi juga berlanjut pada kesejahteraan sistemik dari masyarakat kelas menengah ke bawah di sana dan ya, nominal jiwa yang hidup di sana lebih dari ribuan mulai dari anak kecil hingga orang tua.

Berbeda dengan Dolly, Alexis sejak awalnya memang bisnis perhotelan yang dilengkapi dengan "service plus plus" yang kemudian dinilai menjadi rahasia umum, yakni prostitusi. Hal ini mengindikasikan bahwa hotel ini dianggap menjadi root cause dari bisnis selangkangan tersebut. Ada hal yang menjadi perbedaan antara Alexis dan Dolly; Alexis dijalankan oleh pemilik modal sedangkan masyarakat kelas menengah hanya sebagai penjalan kebijakan manajemen saja. Artinya, jika ditutup, yang terdampak langsung dengan kebijakan ini adalah pekerja tuna susila-nya semata mengingat core bussiness masih berjalan, hotel.

Kembali pada efek pascakebijakan penutupan lokalisasi. Setidaknya, ada beberapa poin yang bisa dilakukan oleh masyarakat Jakarta, khususnya pemuda yang hendak turun tangan membantu kebijakan gubernur barunya (agar beliau tidak sendirian di-bully) sebagaimana "kekata" Ridwan Kamil, "Jadilah generasi pemberi solusi, bukan generasi pencaci maki." Berikut ini adalah pemaparannya.

1. Lakukan pemetaan masyarakat terdampak langsung

Hal ini penting sebagai bahan dan amunisi bagi pemuda, khususnya gerakan-gerakan serta komunitas progresif yang concern di sektor kesejahteraan sosial-ekonomi. Keberhasilan Mak Risma dalam meredam pihak kontra penutupan Dolly didukung oleh inisiatif pemuda-pemuda Surabaya yang tergabung dalam aliansi dan forum, baik formal seperti BEM hingga yayasan sosial seperti Gerakan Melukis Harapan dalam partisipasi aktif mereka. Para aktivis ini mencoba mencari ruang yang bisa mereka jadikan ranah untuk diberdayakan, baik sebagai upaya pencegahan (seperti pendidikan dan pembinaan adik-adik di sana) maupun program solutif bagi masyarakat yang terdampak (seperti ibu-ibu mantan pemilik laundry) dengan mengajak dan menemani mereka untuk berwirausaha.

Ya, solusi yang ditawarkan pemuda-pemuda ini memang bukan solusi yang instan, namun setidaknya mereka tahu kepada siapa mereka akan memberi solusi dan ini berawal dari inisiatif untuk memetakan masyarakat yang membutuhkan bantuan.

2. Lakukan program yang realistis, progresif, dan sustainable.

Di antara hal menarik yang bisa saya ambil pelajaran dari penutupan Gang Dolly adalah adanya "stigma skeptis" masyarakat wilayah tersebut kepada gerakan, yayasan, bahkan mahasiswa yang akan melakukan program bersama mereka. Hal ini masuk akal disebabkan masyarakat seringkali dikecewakan oleh "pemuda" ini gegara programnya yang "pragmatis, oportunis, dan instan" sehingga hanya menguntungkan satu pihak dan yang pasti bukan masyarakat. Artinya, masyarakat terdampak di Gang Dolly hanya menjadi "sapi perahan" dari lintah berbaju gerakan, yayasan, dan lembaga untuk mendapat profit atau popularitas.

Hal tersebut ternyata berbeda jika pendekatan dan program yang ditawarkan oleh gerakan tersebut dilakukan dengan lingkup program yang realistis; dibicarakan bersama dengan masyarakat sejak awal, melibatkan rakyat sebagai subyek, bukan obyek. Kemudian, program yang progresif yang berfokus pada kegiatan yang terus menerus meningkat, meski sedikit. Lalu, makna sustainable ialah agar program ini bisa terus menerus dikerjakan bersama dan lembaga/yayasan/organisasi yang menjalankannya mendapatkan kepercayaan sebagai gerakan yang serius menemani masyarakat untuk berkembang.

Hal inilah yang perlu dipersiapkan oleh kawan-kawan pemuda yang hendak turun tangan dalam membantu masyarakat yang terdampak oleh penutupan lokalisasi melalui program yang serius, bukan sekedar "ala-ala" alias hanya mengejar uang program kewirausahaan sosial maupun shooting kamera.

3. Kolaborasi dan determinasi yang tinggi

Pada akhirnya, setelah fase persiapan dan pelaksanaan yang membutuhkan cucuran keringat, modal energi-waktu, serta bensin gerakan, kawan-kawan harus memiliki napas yang panjang dan serius dalam membantu masyarakat terdampak lokalisasi. Hal inilah yang bisa didapatkan salah satunya dari kolaborasi banyak pihak, baik sesama aktivis maupun dengan pemerintah agar optimisme tetap terjaga.

Bonus: bagi mereka yang terbatasi ruang dan waktu dalam memberi solusi, maka kawan-kawan bisa membantu campaign mereka yang berpartisipasi aktif dalam membantu masyarakat terdampak pascapenutupan lokalisasi. Berbagi kegiatan mereka ke media...(more)

Answered Oct 31, 2017