selasar-loader

Apa pengalaman terbaik, value yang didapat, dan cerita seru serta unik yang kamu dapatkan selama menjadi bagian dari keluarga besar Palabs-Carvedium?

Last Updated Oct 23, 2017

9 answers

Sort by Date | Votes
Ma Isa Lombu
Pendiri selasar.com | Alumnus Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia

etiWkLS8oa0WAGxjj-6elzYbxOSq-NaF.jpg

"Anak gunung keren!"

Itulah motivasi dan kesan awal saya terkait anak gunung atau yang kita kenal dengan anak pecinta alam.

Seperti cerita lalu yang saya jawab di Selasar tentang alasan utama saya suka mendaki gunung (jawaban lihat di sini), bayangan tentang keseruan mendaki gunung terus membayang-bayangi pikiran saya sejak SMP. Sampai akhirnya sebuah organisasi yang bernama Palabs (Pencinta Alam Labschool/SMUN 81 Jakarta) mengakomodasi keinginan tersebut dengan memfasilitasi para siswa baru untuk mendaftarkan diri.

Saya ingat betul, waktu itu hari sabtu pagi di pekan-pekan awal sekolah. Kala itu, saya masih kurus dan planga- plongo layaknya lulusan SMP lain. Saya bersama kawan-kawan kelas satu lainnya dikumpulkan oleh para senior Palabs untuk menghadiri briefing pascapendaftaran ekskul.

Kesan pertama kali yang saya dapatkan ketika bersinggungan dengan organisasi ini (ataupun para seniornya) adalah bahwa benar menjadi anggota pecinta alam itu keren, juga membanggakan.

9jGGj9SBlUsh0cGHgdf046IoHFqyLVMZ.jpg

Make a long story short, akhirnya saya bersama 7 orang kawan lain mengikuti program Latihan Dasar Pecinta Alam SMUN 81. Ketujuh orang tersebut adalah Yudi Prihatin, Citra Puspita, Rizky H. Tajudin, Riza Ramadan, Rendy Indraprana, Harris Agustian, dan Benjamin Mario Djaroh. 

Perlu diketahui bahwa masa-masa pendidikan kami adalah masa yang penuh dinamika bagi organisasi. 

Meski Masih jadi CaPa (Calon anggota Palabs) kala itu, kami sering dilibatkan oleh para senior untuk ikut mempersiapkan rapat ataupun terlibat dalam agenda kultural untuk mengubah nama dan bentuk organisasi. Prosesnya panjang dan cukup kompleks. Bahkan kompleksitas ini belum berhenti hingga 5 tahun setelahnya. 

Akhirnya, dengan segala plus-minusnya, organisasi Pencinta Alam SMUN 81 Jakarta bertransformasi dari Palabs menjadi Carvedium.

Change or die! 

Pepatah asing ini ada benarnya. Dengan keadaan yang terus berubah, keberadaan nama baru pecinta Alam SMUN 81 menjadi relevan untuk diusahakan. 

Kala itu, saya melihat bahwa perbedaan yang amat tegas dari Palabs menuju Carvedium adalah pola pendidikannya. Jika mungkin Palabs berwarna ke-Wanadri-an, saya melihat Carvedium cenderung ke-Mapala UI-an. Dua organisasi pecinta alam tertua di Indonesia mempengaruhi warna organisasi kami...

...which is great, saya pikir. 

Gaya Mapala UI yang lebih khas masyarakat sipil, urban, dan educated lebih pas untuk merespon perubahan zaman dibandingkan Gaya Wanadri yang militeristik. Ada beberapa orang yang menjadi tokoh utama perubahan ini, namun Rudi "Aghe" Haerudin (P.14) lah yang menjadi tokoh utama lahirnya organisasi "baru tapi lama" ini.

Anyway, kebahagiaan menjadi bagian dan berada dalam organisasi yang diimpikan sejak kecil tentu sulit dilukiskan. Mungkin rasanya seperti kawan-kawan Partai Rakyat Demokratik (PRD) yang tiba-tiba bertemu Wiji Tukhul ketika mereka sedang makan di warung Padang, setelah sang demonstran tersebut dikabarkan hilang dan tewas diculik pasukan mawar belasan tahun silam. 

Tidak lama setelah dilantik, pada liburan caturwulan, saya dan Rizki Tajudin akhirnya memberanikan diri untuk naik gunung. Gunung pertama yang kami daki sampai puncak, Gunung Gede Pangrango. 

Sejak saat itu, saya terlibat kembali dalam beberapa project pendakian lain bersama kawan-kawan Palabs-Carve, seperti Pendakian Gunung Salak, Gunung Slamet, Gunung Semeru, dan Gunung Rinjani. 

NBDA5RmIWyHsaVuw7TOJNL6JMHvumugt.jpg

Dari semua project pendakian tersebut, mungkin Pendakian Gunung Gede-Pangrango dan Gunung Salak/Bunder adalah yang memiliki frekuensi paling tinggi. Alasannya sangat sederhana; selain karena berlokasi paling dekat dengan Jakarta, pendakian kedua gunung tersebut memerlukan waktu yang relatif sebentar. Cocok dengan keadaan saya sebagai pelajar yang juga dibebani dengan target-target akademis kala itu.

Sampai jawaban ini dibuat, terhitung sudah 18 tahun saya mengenal dan berinteraksi dengan organisasi ini. Pahit-manis kami lakukan bersama. Bahkan hingga Carvedium 10, saya (sepertinya) masih terlibat cukup intens di sana.

Ada beberapa value dan insight berharga yang saya dapatkan selama menjadi bagian dari keluarga besar Palabs-Carvedium, di antaranya adalah sebagai berikut.

A. Mengenal Tuhan

7uWOA9vX5eO8pXn4dKE_fOzECVFcD7zP.jpg

Berinteraksi bersama Palabs-Carvedium artinya berinteraksi pula dengan alam dan segala ciptaan Sang Maha Pencipta. 

Naik gunung, turun lembah, masuk gua, berenang ke kedalaman, memanjat tebing curam sampai berkemah di savana luas pada ketinggian, jelas memaksa seluruh indera kita menyaksikan seluruh kenindahan dan kompleksitas ciptaan-Nya yang begitu megah dan menakjubkan.

Coba kita bayangkan. Apabila dalam sebuah perjalanan, kita menemukan tiga buah batu yang terusun rapih, lalu kita rusak susunannya dengan cara menyebarkan ketiga batu tersebut secara acak. Secara common sense, kita pasti yakin bahwa ketiga batu tersebut tidak mungkin dapat terusun kembali (dengan sendirinya) secara kebetulan, kecuali jika ia diintervensi (dipindahkan) oleh pihak lain.

Begitu pula dunia ini bekerja. 

Ketika kita lihat gugusan bintang yang tersebar indah di Padang Suryakencana di malam hari, tumbuh teraturnya bunga-bunga edelweiss yang hanya terjadi di waktu-waktu tertentu, hingga kemampuan tubuh manusia untuk sembuh dengan sendirinya akibat mountain sicknesses dengan treatment tertentu, semakin membuktikan bahwa ada yang Maha Besar dan Kuat yang menciptakan semua itu dengan algoritmanya masing-masing. 

Algoritma buatan Sang Pencipta yang akhirnya membuat dunia ini bekerja dalam sebuah "The Law of Universe", tidak mungkin terjadi secara kebetulan, seperti yang para materialis dengung-dengungkan. 

Pun, ketika ada yang bilang bahwa alam ini dapat berkerja secara autopilot, maka pertanyaan kritis selanjutnya yang harus ditanyakan adalah siapa yang mendesain dan membuat alam yang luar biasa ini akhirnya bisa bekerja secara autopilot? 

Jawabannya adalah karena ada intervensi dari Sang Pencipta.

Saya adalah seorang muslim yang suka berkegiatan alam bebas. Maka dengan bukti-bukti akan kompleksitas alam semesta ini, sudah seharusnya saya mengakui...(more)

Answered Oct 23, 2017
Annisa M
Salah seorang pelajar yang teredukasi dari segelintir pengalamannya

bRqq-lTsypmKPX4HxE3LjrqbjZtpZqYR.jpg

Hai, saya dari Carvedium 16. Saya ikut Carve dari kelas 10 yang mana dulu angkatan saya Carve-nya baru "reborn" lah, istilahnya. Dan saat itu, belum ada pelatih. Kami hanya ditemani latihan fisik dengan kakak-kakak Carve centurion dan hector, biasanya Kak Adi dan Kak Ilham dan terkadang Kak Nana juga hadir.

Sebenernya banyak sekali value yang gue dapatkan selama di Carve. Banyak banget! Singkat cerita, saya bisa dibilang paling lemah di Carve (wkwkwk) karena kalau lari pasti selalu ketinggalan, dan teman-teman gak pernah meninggalkan saya meski saya melihat wajah-wajah mereka yang, menurut analisis saya, sebal menunggu saya yang sangat lama berlari (maafkan, guys, wkwkwk). Karena saya ingat kata salah satu kakak yang disebutkan di atas tadi mengatakan, "No one left behind!

Dan ketika naik gunung ataupun jalan-jalan bareng anak-anak Carve, saya belajar satu hal yang penting bahwa sebenarnya, yang terpenting adalah dengan siapa kamu pergi! Karena gak penting tujuan itu. Kalau kamu bareng sama temen-temen kamu semua, perjalanan jadi indah.

Kalau disuruh memilih pengalaman terbaik, well, pergi bersama teman-teman Carveku selalu menjadi pengalaman terbaik :"). 

Setiap perjalanan ada cerita, dan yang seru banyak! Tapi mungkin yang paling berkesan adalah ketika saya mendaki Papandayan. Jadi saya itu ke Papandayan beli makanan banyak banget, dan entah kenapa saya beli banyak banget waktu itu. Sampai ketika Abiel melihat tas saya, dia langsung komen, "Buset, sampe benjol-benjol itu tas!" 

Singkat cerita, saya mendaki, dan tas itu terasa sangat berat karena banyak makanan tadi, bahkan teman-teman saya yang lain komen, "Eh, lu bawa apaan sih, Nis, sampai berat begitu?" Dan teruslah saya gendong tas yang berat itu hingga pos yang saya lupa namanya tapi sudah cukup jauh dari pos awal. Dan yang saya lihat pertama kali adalah....

ada kios makanan di atas gunung.

Perasaan saya sudah campur aduk; menyesal dan kesal karena setelah membeli terlalu banyak makanan untuk bekal di atas gunung, malah ada yang jual makanan. Dan pas saya duduk di kursi depan kios itu, ibu penjual nawarin, "Neng, gorengan 1000 satu, Neng." Ya Allah, itu terjadi karena saya minim pengetahuan bahwa Papandayan sudah jadi obyek wisata dan banyak yang berjualan makanan meski di atas gunung. Sebelumnya, saya memang mendaki Ciremai yang memang benar-benar hutan dan sumber air minim gitu, kan. Jadi, yaa... bisa disimpulkan sendiri ya, mengapa saya sangat prepare makanan untuk pendakian kedua saya. :")

 

Ilustrasi via saifulmuhajir.web.id

Answered Oct 23, 2017

oQ-U0NoMaWTcgcbFMVd-uEN2NxUldtU4.jpg

Carvedium SMA 81 bagi saya bukan sekedar organisasi pecinta alam, melainkan sudah menjadi organisasi yang membuat hubungan pertemanan menjadi lebih bersifat kekeluargaan.

Jika diingat kembali, naik gunung kala SMA dengan risiko yang tidak kecil bukanlah hal yang mudah. Saat itu, kita harus bertanggung jawab bukan hanya kepada orang tua, melainkan juga terhadap sekolah. Ini jelas karena status kita yang masih seorang pelajar.

Namun, walaupun tidak lama menjadi Anak Carve, alhamdulillah, pengalaman bertualang ke alam bebas yang dilakukan bersama kawan-kawan dapat jadi modal bagi saya sekarang ini untuk dapat berkeliling Indonesia dengan tenang karena tuntutan profesi menjadi dokter kandungan yang sedang dijalani. Ketenangan itu salah satunya didapatkan berkat ilmu dasar "kepecintaalaman" yang saya dapat dari Carvedium.

Saya amat menantikan bisa kembali naik gunung bersama teman-teman Carve dan Palabs.

 

Ilustrasi via pixabay

Answered Oct 24, 2017
Harris Agustian
Anggota Carvedium 1

Gabung keluarga Palabs-Carvedium sebenarnya lebih ke karena ikut-ikutan, mencoba menantang diri untuk jadi lebih aktif dan atletik (dari sisi kegiatan fisik) dan memang ingin lebih bersosialisasi lebih luas. 

Tak terlelakkan juga, ada motivasi untuk dapat terasosiasi dengan salah satu organisasi terkeren di SMAN 81, serta mengubah citra diri yang lembek ini jadi lebih gahar, hahaha.. 

Tapi di luar itu, saya memang mencintai alam, mempunyai perhatian terhadap kebersihan udara, air dan kebersihannya dari sampah yang dibuat oleh tangan-tangan yang entah polos atau tak bertanggung-jawab. Pada dasarnya saya orang yang pendiam, anak rumahan dan gak sporty, jadi saya pikir ayolah dicoba, biar lebih sehat juga. 

Pada saat kelas 1 SMA, saya sekelas dengan Rendy (salah satu anggota Carvedium 1 juga), yang duduknya dekat dengan saya. Ketiga itu, sambil ngobrol2, kita akhirnya sepakat untuk daftar jadi anggota.

Long story short, saya ikut pelantikan sebagai calon Carvedium #1, bersama 7 teman saya yang lain: Akew, Yudi, Riza, Ben, Cici (Rizkhi), Rendy & Citra (the only girl in our squad!). 

Pengalaman yang begitu mengesankan, sangat menguras energi fisik dan emosi, tapi juga bersyukur karena saya berhasil melewatinya dan tergabung ber-8 dengan teman-teman saya dalam keluarga Palabs-Carvedium. 

Benerapa Hal yang saya ingat dari pelantikan itu :

1. Perjalanan sangat melelahkan dan kurang tidur (sekarang takjub, dulu saya bisa juga ya), saking lelahnya saya bisa tertidur ayam sambil jalan dan di tengah hujan lebat, dengan batre senter yang sudah habis dan harus share cahaya dengan yang lain, sambil ngebayangin "sepertinya tinggal dikit lagi nih sampe" dan seperti melihat cahaya di ujung jalan (sedikit halusinasi ya).

2. Digigit pacet! Waktu pelantikan di gunung pangrango, kondisinya lembab dan sering hujan. Pacetnya bisa masuk sampe area-area tersembunyi, bahkan Ben panik pacetnya masuk ke area bokong, haha.. Kocak!

3. Melewati sungai yang sangat deras, pada saat hujan, dengan menggunakan tali. Ngeri-ngeri seru!

4. Di perjalanan, seringkali saya menjadi orang yang paling tertinggal di belakang, haha. Untung senior dan teman-teman saya rela menunggu saya sambil istirahat. Terima kasih ya! Solidarity forever (eh ini mah slogannya anak UI ya? hehe)

5. Disuruh makan cacing yang gemuk dan kaya protein. Mengais-ngais dari tanah sambil terkantuk-kantuk, lalu dimasak bersama dengan indomie. Untung makannya bareng indomie, haha

6. Merasakan segarnya air sungai. Lagi capek, aus, persediaan air abis. Ternyata segar dan bersih juga air sungainya

7. Pelantikan di area sungai, yang diakhiri dengan mandi di sungai dengan hanya memakai celana dalam saja!

Ngebayangin dulu Citra geli banget kali ya ngeliat kelakuan teman-teman cowoknya gak tau malu dan riang banget. Riang banget karena udah berhari-hari gak mandi dan air sungainya deras dan bersih banget. 

Mudah-mudahan elo masih bisa menikmati momen itu ya Cit, hahaha...

Di luar pelantikan, saya juga berkesempatan untuk join perjalanan ke Semeru, yang nggak kalah menarik, menantang dan seru (lihat cerita Akew ya). Gak nyangka dulu ikut trip menantang ini, tak terlupakan.

Sampai dengan saat ini, kami berdelapan berteman baik (paling Ben nih yang gak ketahuan kabarnya lama), serta menemukan teman-teman yang unik, gila, tapi pada dasarnya baik hati. Sangat memperkaya pengalaman saya, membuat saya lebih adventurous dan gak ragu untuk mencoba hal baru yang menantang.

Gak banyak foto yang saya simpan dari pengalaman saya di Palabs-Carvedium (sayang dulu saya belum doyan foto-foto dan gak punya kamera yang ok), tapi mungkin ini sedikit foto kebersamaan kami dari dulu sampai yang terkini yang saya simpan:

1. Ini foto paling legendaris yang saya punya, sayang gak ada Ben. Berharap ada foto lain ya (kew kew ada gak?). 

_Cs78WUrJxsWgthrqVkweAr-SFniYRlc.jpg

2. Nikahannya Ncit, denga Carve 1 yang dateng

qz6juHtiLa6-NXVXa7alW6SH0O8VLhJh.jpg

3. Nikahan Ncit, tapi bareng rombongan keluarga Palabscarve

N1qM9FtGlhtCbTnhX7i24KnLAK0iz0X6.jpg

4. Bersama Carve 1 ikut pelantikan salah satu Carve berapa entah dimana saya lupa

TYG9tExikvhA43QmLWbknTUoHE-crNZL.jpg

 

See u soon!

Harris, Carve 1

Answered Oct 28, 2017

Sejak sebelum SMA, sebetulnya gw udah sangat tertarik dengan kegiatan kegiatan yang berbau alam. 

Dari saat gw kecil, gw paling excited kalo diajak pergi jalan jalan ke air terjun, kebun teh di puncak, atau sekedar jalan-jalan nyusuri kebun di dekat rumah. Hal itu terus gw bawa sampe gw SMP. 

Saat SMP, gw masuk ke dalam regu inti. Kesempatan itu g gw lewatin gt aja. Dari situ passion gw sama alam jadi semakin besar berkat sering nya ikut camping camping pada event pramuka.

Hal itu lah yang membuat saat gw keterima di SMAN 81. Saat melihat demo ekskul, tidak ada pilihan lain yg pingin gw ambil selain Carve. Ga tau saat itu hati kecil gw bener-bener yakin kalo pilihan gw itu akan membawa gw ke kehidupan selanjutnya yang penuh dengan kenangan.

Masa-masa awal gw ikut carve diawali dengan ikut pendakian pendek ke Curug Seribu. Di situ mulai lah gw kenal bener-bener elemen-elemen yang ada di carve. Ga habis di situ, belum genap gw menjadi anggota carve, gw memutuskan untuk ikut pendakin ke G.Gede. Saat itu yang ada di kepala gw adalah bagaimana caranya gw harus bs sampe puncak salah satu gunung.

Setelah saat itu, hampir semua kegiatan gw di SMA ga jauh-jauh dari yang namanya carve. Saat gw dapet kesempatan untuk menjadi salah satu caketum OSIS saat itu, anak-anak carve lah yang ngedukung gw dan terus support gw untuk maju. 

Buat gw, masuk carve saat itu bener-bener membangun pondasi gw di setiap langkah yang gw ambil.

Kenangan yang paling berkesan buat gw adalah pada tahun 2005. Gw hampir ga percaya kalo carve telah membawa gw mencapai titik tertinggi di Jawa dan nusa Tenggara. Ya,saat itu gw bersama tim carve lainnya berhasil mencapai puncak G.Rinjani. Tidak dengan mudah, kami semua berhasil menggapai ouncak tersebut dengan segala macam hambatan di perjalanan. 

Namun satu hal yang harus diingat. Kembali ke tujuan utama saat naik gunung yaitu bukan mencapai puncak,tapi tujuan utama saat naik gunung adalah kembali ke rumah dengan selamat. Alhamdulillah setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, kami dapat kembali ke rumah masing-masing dengan selamat.

Buat gw carve bukan sekedar kegiatan ekstrakurikuler semata, melainkan sudah menjadi sebuah keluarga buat gw. 

Carve telah memberikan banyak hal yang penting dalam hidup gw. Leadership, management, kebersamaan, pantang menyerah, fokus kepada target, dan masih banyak lagi. Satu hal yang g akan gw lupain, mungkin tanpa segala pengalaman yang telah gw dapetin di carve, mungkin gw g akan sampe bisa Ketrima di Fakultas Kedokteran UGM dan bs menjadi seorang dokter seperti sekarang ini.

Terima kasih Carve!

Answered Oct 28, 2017

Saya Nurina, Carvedium 10.

Alasan pertama saya join Carvedium ialah karena diajak (re: dipaksa) oleh teman satu SMP, Akrima (yang juga jadi Carvedium 10). Saya pada awalnya berpikir mau join ekskul yang mengasah skill seperti English Debate, tapi karena sedikit dipaksa Akrima, akhirnya mau ikut masuk ekskul pecinta alam ini.

Kesan selanjutnya, gak disangka, saya merasa sangat nyaman disini. Padahal, saya termasuk orang yang males-malesan untuk menempa badan dengan jogging dan latihan fisik lainnya. Kalau dipikir sekarang, kok saya dulu tahan ya? Tapi selama sekitar setahun jadi caang (calon anggota) dan setahun berikutnya jadi pengurus, ternyata saya sangat having fun dan hal tersebut memorable sampai sekarang. Deep down in my heart, I realized, ternyata Carvedium bukan sekedar ekstrakulikuler yang didatangi hanya tiap Sabtu, bla bla bla, dapat nilai, lalu pulang. It's more intimate than that.  

oI6uAIw5k0Qua1DVgdW2mIoiyaYXR6zE.jpg

o6Xe1gC3nww2HMYLzxVetlijPOYAHufF.jpg
(Beberapa anggota Carvedium 10, atas: waktu Outcast ke Pulau Semadaun, Kep. Seribu, bawah: waktu perpisahan Hana C10 yang ingin kuliah jauh ke Surabaya)

Kalau ditanya, emang apa sih yang bikin betah? Jawabannya adalah... sense of belonging dan kekeluargaan yang dikasih sama sesama anggota Carvedium lah yang bikin saya betah. Saya merasa punya abang, kakak, adik dan teman main yang banyaaaak!! Di antara semua kesibukan belajar, organisasi, dan masalah-masalah ala anak SMA mainstream lainnya, tempat pelarian saya, ya, ke lapangan takraw, ketemu anak Carve, curcol, nangis, ketawa sampai hari gelap dan kita diusir sama satpam sekolah. 

Carve juga bikin saya punya pengalaman naik gunung yang sebelumnya ga kepikir bahwa seorang Nunu bakal bisa naik gunung, bahkan dua kali! Gunung Gede dan Gunung Salak. Saya  juga bersyukur (pernah) punya badan bagus nan bugar, stamina yang oke, dan keberanian serta kepemimpinan yang bisa saya bawa dan terapkan sampai sekarang.

Gak pernah terpikir juga bahwa di antara momen-momen Pra LD-LD yang bikin kita semua semaput, ada aja bahan cerita waktu nongkrong bareng Carve 10 yang sukses bikin kita ngakak terpingkal-pingkal (walau udah diceritain beberapa kali juga). Dari cerita yang bego, kocak, sampai sedih. Cerita cinta ala Carve juga ada. :)

S8wqpG8c5yUrALEj1mRd-spyzCFh_c5j.jpg

 (Ini Takraw, Basecamp nya Carvedium. Buat tempat nongkrong, curhat, ngegosip, sampe rapat. In Pic : C9 dan C10)

At the end, saya sangat bersyukur punya keluarga kedua sekeren Carvedium ini. Semoga Carvedium tetap eksis di 81, tetep solid, dan juga tetep memberikan bumbu-bumbu seru dalam hidup anggotanya. :) All hail Carve!

vuULmWOoHqn09ibsMpBojD5pG5w7-aLM.jpg
(Foto diedit oleh Mila Aprilisa C10)

 

Answered Oct 28, 2017

JIxIqnNrHERlQmRdpgLIAc2ELd62uKQU.jpg

Halo. Saya Akrima, Carvedium 10

Hmm.. sebelum menjawab pertanyaan ini saya harus membuka album foto di Facebook dulu, untuk membantu saya mengingat kembali momen-momen kala masih jadi anggota aktif pecinta alam SMA 81 ini. Maklum sudah sekitar 7 tahun yang lalu.

Jika diingat kembali motivasi saya dulu kenapa mendaftarkan diri jadi anggota. Hmm. Lebih karena tertantang sih, apalagi setelah liat kakak kelas melakukan aksi gelantungan di tali di ketinggian (dari lantai 3 gedung sekolahan). Keren aja. Selain itu kegiatan Carve ini beda dengan aneka jenis ekstrakulikuler lainnya. Namun di satu sisi teman satu SMP saya (Nurina, Carve10 juga haha) mencoba memberi pengertian dengan memilih ekskul yang mampu mengasah skill (Dia ngajak saya ikutan English Debate). Dikarenakan siswa baru diwajibkan memilih 2 ekskul, Nurina sudah akan memilih English Debate (Mantap bgt nih doi, maklum emang bisa menunjang cita-citanya jadi Diplomat) dan Tari Saman. Waktu itu emang saya lagi cupu-cupunya sih, apa-apa sama Nunu jadi saya memutuskan untuk ikut pilihan ekskulnya dia. Saat melihat Tari Saman tampil beraksi demo ekskul saat itu, saya mencoba merayu Nunu untuk beralih ke ekskul lain yaitu Carve.

"Disini nari saman nya ga dikasih duit nu, itu juga ga cakep bajunya, ga dandan juga kayak kita kemaren" ujar saya. Haha. Berhasil ! Nunu terbujuk rayu dari saya. Akhirnya gambling-lah kita kala itu. Jadi saya akan nemenin dia ikut English Debate, dan dia jadi harus nemenin saya ikut Carve. Wakaka cupu abis kalo diinget-inget, padahal sendiri-sendiri juga ga masalah sebetulnya. Ya ga Nu?

oSp6ntaaVMisXwZry9IFCFkmSMbYw14y.jpg

(Ini namanya Nurina - alias Nunu Carvedium 10 jugaaaa. Haha yang waktu pelantikan jalannya kayak nenek-nenek)

Wuaahhh udah deh dari situ malah saya dan Nunu sama-sama merasa nyaman di Carve ini, hingga akhirnya secara tetap meninggalkan Ekskul English Debate. Banyak banget perjalanan yang saya dan teman-teman saya lakukan selama jadi Caang (Calon Anggota) maupun ketika sudah menjadi pengurus. Mungkin foto-foto dibawah ini bisa lebih menjelaskan :

 

S7nWNSpxb1OClSyYdZlJAFhGdaYUks9N.jpg

1. Ini perjalanan pertama jaman masih calon anggota. Ketemu air terjun udah girang bukan main. Ga kebayang nanti setelah jadi anggota bisa main ke banyak tempat yang lebih seru lagi. Masih belum mengenal kerasnya alam dan alumni #eaaaaaaa

 

kBJS48oMhlIpsWvn25cMQKg-HxvBhwcG.jpg

2. Ini dia 10 dari 13 total anggota Carvedium angkatan ke-10. Keren kan? Iyalah. Angkatan saya termasuk angkatan dengan jumlah anggota terbanyak saat itu *sombong dikit. Ajaibnya angkatan saya sedikit menjungjung tinggi pluralisme, soalnya semua jenis manusia ada disini dari yang Ketua Osis paling ganteng sampe manusia ikan ada. Lengkap kan. Pengalaman jalan ke gunung, pantai, sampai hangout ke mall yang bareng mereka-mereka ini tetep bikin ngakak kalo diceritakan kembali sekarang. Well, everything happend in the wood, stays in the wood. Gabisa saya ceritakan semuanya disini. 

 

vKt3l3F6Up859mFVyjGHMdGffHquMB0o.jpg

3. Walaupun akhirnya ga melanjutkan ekskul yang mengasah skill macam English Debate, Carvedium justru jauh memberikan peningkatan skill yang lebih beragam. Banyak, skill survival di alam, skill manajemen perjalanan, skill navigasi, serta skill medis dan rescue. Kalo buat saya ikut Carvedium jadi lahan saya buat mengasah bakat naturalis saya sebagai chef. Jangan salah sebagai pecinta alam yang hidupnya serba keterbatasan, bukan berarti kita hanya mengkonsumsi makanan-makanan instan saja. Justru dengan kondisi aktivitas yang tinggi seperti naik gunung, tubuh kita lebih banyak membutuhkan asupan nutrisi supaya mampu mengimbangi proses self-recovery dengan cepat setiap harinya.

"Naik gunung itu buat seneng-seneng, gimana bisa seneng kalo makan nya sama kayak yang dimakan anak kosan di kota". Salah satu ucapan senior saya yang masih saya ingat, entah siapa orangnya saya lupa.

 

4FvM5yEDSuwNXvlR6s86cnmL3u2lduJG.jpg

4. Karena ikut Carvedium, jujur pengalaman spiritual saya jadi meningkat. Bukaaaan, bukan karena ketemu setan di hutan. Nyari setan mah di kota juga banyak, cuma suka pake kedok manusia aja jadi susah dibedain. Tapi, karena saya jadi merasa dekat dengan Allah swt melalui tafakur pada alam semesta yang saya lihat sepanjang perjalanan. Takjub banget sih. Bagaimana bisa semua unsur yang ada pada alam raya ini, terutama Indonesia sih, bisa sedemikian runut dan sistematis berjalan teratur setiap detiknya. Justru beribadah di alam seperti pada di gambar di atas bisa memberikan pengalaman spiritual tersendiri dan bertafakur menyadari bahwa kita sebagai manusia adalah bagian paling kecil dari seluruh sistem yang Tuhan ciptakan. Siapa bilang anak pecinta alam ga pernah sholat?

 

AH8WDEXW5AzILvQIUuO56fGVRrtcspim.jpg

5. Tujuan manusia ialah supaya bisa bermanfaat buat sesamanya. Satu bentuk pengabdian masyarakat yang pertama kali saya lakukan adalah ketika di Carvedium, itu pun tanpa pernah saya dan teman-teman saya sadari akan terjadi. Kala itu saya dan teman-teman saya sebagai pengurus Carve bekerjasama dengan pengurus Osis untuk mengadakan kegiatan jalan-jalan ke alam terbuka untuk seluruh siswa di SMA saya. Outcast namanya. Di tahun saya kala itu, outcast diadakan di Pulau Semak Daun, Kepulauan Seribu DKI Jakarta. Pulau ini merupakan pulau yang kecil yang cukup ramai dikunjungi oleh wisatawan untuk kunjungan sehari atau spot snorkeling. Namun sangat disayangkan fasilitas di Pulau ini kala itu belum ada kamar mandi untuk umum. Hanya ada sumur air terbuka, itu pun air payau. Penjaga pulau ini memiliki rumah disini, namun hanya memiliki satu kamar mandi pribadi yang kadang dibuka untuk pengunjung yang hendak buang air besar saja. Karena rencana outcast kala itu akan mendatangkan siswa hingga nyaris 100 orang, maka terwujudlah ide kami membuat kamar mandi bilik menggunakan bambu dan spanduk-spanduk acara untuk memenuhi keperluan mandi dan bilas selepas main di pantai. Walaupun sumber air yang digunakan masih berupa air payau. Gambar seperti pada gambar diatas.

Yang membuat kagum adalah ternyata kamar mandi bilik kami ini bertahan cukup lama di Pulau ini (menurut info dari penjaga pulau saat saya datang berkunjung setelah kurang lebih 2 tahun dari acara outcast...(more)

Answered Nov 2, 2017

EfkymKIsJE74ErNhhVr7-Z2Ak3fnz0mF.jpg

Aku (kiri) dan Tania (kanan), 2 orang yang berhasil menuntaskan kegiatan diksar (LD) Carvedium ke 30 (Credit: Firda C9)

Hai, aku Trihapsoro dari Carve 12, sebelum memulai tulisan ini izinkan saya memohon maaf kepada seluruh anggota Carvedium atas kinerja yang sangat kurang baik selama masa kepengurusan yang sudah lama berlalu.

Carvedium 12, angkatan carve yang kalau boleh dibilang waktu itu hmm.. yah... cukup berada pada titik kritisnya. Kalau bisa diceritakan saat itu Carvedium banyak mengalami kemunduran akibat beragam persoalan yang mungkin kalau diceritain semuanya bakalan ampe berhalaman halaman dan rasanya juga kurang etis hahaha... Terlepas dari banyak hal negatif lainnya selama masa kepengurusan C-12, gak bisa dipungkiri bahwa carvedium membawakan pengalaman dan banyak pembelajaran bagi anggotanya terkhusus aku pribadi.

Berawal dari pendidikan dasar hingga LD, pembelajaranku tentang berkegiatan di alam bebas bermula. Banyak hal yang aku pelajari tentang bagaimana persiapan perjalanan, teknik hidup di alam bebas, serta hal-hal terkait mountaineering. Awalnya aku mengira semua akan cukup mudah, akan tetapi semua menjadi nampak berbeda ketika aku naik gunung untuk pertama kalinya, yaitu saat LD di gunung gede, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Medan yang ternyata diluar ekspektasi, ketrampilan lapang yang belum mumpuni, "latihan" mental dari alumni, serta konflik antar anggota (saat itu hanya aku dan adik kelasku, Tania yang mengikuti LD) mewarnai perjalanan. Lelah, penat, dan terkadang amarah mencapai titik tertingginya, tapi disaat itu aku belajar bahwa dengan tetap bekerja sama, sabar, dan menerima kekurangan dari teman seperjalanan membuat sesuatu yang sangat berat menjadi lebih ringan, sehingga meningkatkan keberhasilan dari sebuah perjalanan. Semua rasa lelah dan penat pun terbayar begitu kami tiba di puncak gunung. Saat itulah untuk pertama kalinya dalam hidupku aku melihat pemandangan yang begitu indaah... membuatku benar-benar takjub dan bersyukur akan indahnya ciptaan tuhan, membuatku berpikir bahwa benar memang alam ini harus kita jaga. Dari titik inilah aku mengawali petualangan-petualangan lainnya di masa depan nantinya, tapi disaat itu aku pun berkata pada diriku: welcome to the jungle little baby

Uipx6BtovaGqQjL94Pbx8e7Y7A4f8Vcj.jpg

Momen setelah pelantikan anggota saat LD XXX(30) Carvedium 12 @Puncak gunung gede, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, 1 Juli 2012. (Dari kiri ke kanan): Tania C12, Windie C8, Fandi C9, Pak Jun, Adit C9, Alya C11, Rio C10, Jody C7, Nabila C11, Satryo C9, Rambo C10, Mine C11, Trihapsoro C12 (penulis), Joy C5, Rury C8, Dyanti C10 (Credit: Firda C9)

Setelah pendidikan aku dan tania dilantik menjadi pengurus untuk menjalankan Carvedium selama setahun kedepan. Pada awalnya mungkin kami tidak menjadikannya masalah yang berarti meskipun kami hanya berdua dan berbeda tingkatan kelas (saat itu aku kelas 12, dan Tania kelas 11), akan tetapi seiring berjalannya waktu hal tersebut menjadi masalah yang cukup berarti. Beragam masaah lainnya pun muncul baik internal maupun eksternal yang menyebabkan beberapa kemunduran seperti outcast tidak jadi terlaksana, pelaksanaan LD yang sangat ter"downgrade", Carvedium yang terancam dibubarkan, dan lain-lain. Tetapi dari masalah itu akupun belajar untuk tetap sabar, loyal, dan berani mengatakan tidak di beberapa keputusan.

Secara keseluruhan terlepas dari apa yang telah terjadi dan telah kami perbuat, aku tetap menganggap Carvedium adalah ekskul yang PALING berkesan selama sekolah dulu, karena dengannya aku belajar untuk mengambil beberapa keputusan penting di masa depan nantinya. Semoga tulisan ini dapat menjadi pelajaran buat kita semua, khususnya untuk angkatan yang sekarang menjadi pengurus

 

Carvedium, seize the day!

-Nadhifa Trihapsoro C-12 , ditulis dengan mengingat masa lalu

Answered Nov 3, 2017
Dyah Sekar
cinta alam dan kasih sayang sesama manusia | Carve16

eo4TQ5JKF5zukXn-vLP-ucxJ4oJZPlW-.jpg

Perkenalkan, nama (panggilan) saya Dysek, angkatan Carvedium 16. Freshly de-missed dan masih ikut campur adik kelas Carvedium17 yang sedang menjabat. 

Demo ekskul menjadi tempat rendezvous saya dengan Carvedium. Melihat bendera kuning berkibar-kibar, kakak kelas berwajah galak lengkap dengan baju hitamnya, dan slayer yang nampak gagah adalah hal mengagumkan di mata anak baru yang bajunya masih kegedean. Saat itu saya sudah jatuh cinta dengan salah satu ekskul, namun Carvedium berhasil menyeret saya untuk masuk ke dalamnya. Carvedium bukan pilihan yang salah.

UHKo-3xd18xcG5pBf7540KFxvnfk-ORa.jpg

 Pertemuan pertama Carve di samping lapangan utama mempertemukan saya dengan teman-teman C16 dan para senior. Saya bertemu dengan Amanda, Abiel, Andini, Gedeprama, Rafi, dan lain-lain yang menjadi seperjuangan selama setahun. Carvedium 16 diurus oleh Kak Adi, angkatan C14, yang memperjuangkan Carve sehingga bisa ‘dicairkan’ setelah beberapa tahun dibekukan sekolah. Kak Adi adalah orang yang mengantarkan C16 untuk mencintai kegiatan alam bebas. Mengajak kami hiking ke Sukamantri, wall climbing, sampai mendaki Gunung Ciremai. Lalu ada Kak Alya C14, Kak Nana dan Kak Ilham C15, dan masih banyak lagi.

FTDD5TVuvUtqW0l7_rzAI04ZyI2vWWKC.jpg_k3gfxBEjy7BOwmH6-RIPKubRzh3l3w8.jpg    

Salah satu pengalaman tak terlupakan bersama Carve 16 adalah pendakian Gunung Papandayan. Libur UN tiba dan kami tidak mau melewatkan liburan tanpa naik gunung. Kami janjian akan naik gunung, saat itu Papandayan dan Ciremai jadi pilihan. Berawal dari 8-10 orang, berakhir menjadi 5 orang. Saya, Abiel, Manda, Dini, dan Gede berangkat dari Jakarta dengan modal nekat. Saya ingat betul persiapan dadakan saya. Pagi-pagi packing secepat mungkin, siang ikut lomba dance, kemudian meluncur ke kost di Jatiwaringin dari Sudirman dengan ojek online untuk mengambil carrier. Jam 17.00 kumpul di Masjid Al-Muhajirin, naik ojek online menuju Pool Primajasa Cililitan sambil bawa carrier besar karena hampir telat naik bus. Disitulah petualangan kami berlima dimulai.

NXB7QJloOl0hJGIgQZtlC3NFyPnoP4gd.jpg

Kami menikmati Gunung Papandayan sekaligus mengenal satu sama lain. Setuju sekali dengan pernyataan bahwa sifat asli seseorang akan ketahuan di alam bebas. Saya jadi kenal Manda dan Dini, Gede yang saat itu sangat dekat dengan saya, juga merasakan leadership Abiel. Lewat pendakian Gunung Papandayan itu, terbentuklah pengurus inti Carvedium 16. Atau lebih dikenal sebagai Brosistpala.

EsCzOMrW6asY3vJ6BNjqGVgGYOlereno.jpg

Saya naik kelas 11 dan resmi menjabat sebagai pengurus Carve. Disanalah tekanan dan gejolak mulai menimpa Carvedium. Ancaman untuk dibekukan dan tidak adanya pelatih menjadi bahan bakar agar kami terus bergerak. Belum lagi datang Carvedium 17 yang harus diurus. Akhirnya kami mendapat pelatih dari Gubawangsa yang sampai sekarang masih aktif mengajar Carvedium. Carve kembali aktif dengan banyak kegiatan dan latihan. 

ZIDMfgEkhb_Nmo9UYpaqimiZVZy2CJrJ.jpg

Puji syukur, kami juga berhasil menjalankan proker Taman Carvedium. Lahan kosong di depan warung Pakde diubah menjadi taman yang hijau. Carve akhirnya tidak jadi dibekukan dan mendapat apresiasi dari sekolah karena proker tersebut. Organisasi, bersosialisasi, berhubungan dengan orang lain, menyikapi masalah dengan bijak, konsisten, dsb. Melalui Carvedium, saya belajar hal-hal yang tidak pernah diajarkan oleh guru di kelas.

HALLn7jafbSCNE_7-fJGZueAqEHPlbc5.jpg

Dalam serentet masalah yang menimpa Carve, ada orang-orang berikut yang bergerak bersama saya. Brosistpala, pengurus inti Carvedium 16, yang hidupnya penuh dengan kumpul di KFC Kalimalang dan rapat di rumah orang. Teman kerjasama sekaligus berantem saya selama kelas 11. Ada Abiel, ketua Carve 2016-2017, yang serbatahu mengenai kegiatan alam bebas. Berwibawa dan jago bicara, juga teman berantem terbaik saya (hehe.. peace Biel). 

Jn0G7HY9oNXw5t0-F6T5YjpW0oiweP5c.jpg

Amanda yang lembut, very fond of nature and wild beings, dan kalau ketawa receh. Manda ini adalah salah satu yang paling passionate dengan Carve, ia selalu aktif kerja dan mempunyai ide-ide yang bagus untuk Carve. Manda sering memimpin dalam latihan fisik, anti capek kalau mendaki, sehingga tepat kalau dia disebut strong woman. Lalu ada Andini si Miss Galak, pengurus paling tegas se-Carvedium 16. Dini ini ahlinya hal-hal teknis seperti membuat proposal, menyusun program kerja, berkoordinasi dengan pihak sekolah, dan sebagainya. Juga jagoan komunikasi dan punya opini-opini yang teguh. Dini adalah salah satu yang paling sering mengajak rapat dan menagih tugas, di sisi lain dia orangnya super fun. 

Tak6gk3gEngOQLz_o_lHchy4M4G6u4_c.jpeg                           Wakil ketua Carve 16 dan Koordinator Seksi Gabut Carve 16

Lalu Rafi yang terlihat santai, namun ternyata tegas dan produktif juga. Gedeprama, wakil ketua Carve 2016-2017 yang juga ketua program kerja Taman Carve. Sebagai ‘bestie’, saya dan Gede sering memiliki pendapat yang sama, contohnya saat memilih ketua Carve 17. Saya juga sering minta Gede untuk mendampingi saya mengurus Carve 17, sehingga kami berdua cukup dekat dengan junior. Gede itu sering bikin panik, humoris, mageran, tetapi produktif dan konsisten dengan pekerjaannya.

O91t9lq0COcIc4HLWnAEdwSqMe_A2H7X.jpeg

Disamping penuh masalah dan perjuangan, kehidupan saya sebagai Carve 16 sangat menyenangkan. Carvedium menjadi tempat berlari jika saya lelah dengan pergaulan maupun kehidupan sekolah yang penat, walaupun orang-orang di Carve kadang bikin tambah penat. Carvedium menjadi tempat saya bisa tertawa bebas tanpa peduli tatapan sinis dari orang lain. Carvedium berisi orang-orang terbaik untuk mengenal bumi Indonesia dengan segala keindahannya.

Salah satu hal terbaik dalam masa-masa Carve saya adalah Carve 17. Saat naik kelas 11, saya selalu mendambakan adik kelas dan bisa dekat dengan mereka. Ingin sok-sok galak jadi senior, tapi juga ingin dekat dan saling cerita dengan para junior. Carvedium 17 hadir dengan wajah yang (tidak) polos, tempat saya menebar senyum terlebar saat pertemuan pertama. Carvedium 17 mulanya adalah junior yang tidak banyak omong, manis, namun sering membuat kesal karena tidak datang latihan atau menjawab group chat. Seiring berjalannya waktu, mereka menjadi manusia-manusia paling bikin marah di SMA 81.

mC3-2fEcm7iHjG2kaottzsUqxrepq2t5.jpg

Agustus 2016, Brosist dan JK, Carve 16, mengajak Carve 17 untuk mendaki ke Bumi...(more)

Answered Nov 10, 2017