selasar-loader

Mengapa sektor pertanian yang sebenarnya menjanjikan justru semakin ditinggalkan?

Last Updated Oct 10, 2017

a_iGvHc934_4UWQqvT9eYae1hd-cZ2ju.jpg

3 answers

Sort by Date | Votes
Muhammad Andika Widiansyah Putra
Agribisnis IPB 2014 | Pegiat FLP Bogor | Peserta Rumah Kepemimpinan Bogor

Ok3lQG4V2l-KicHFXjXv0qLvx1TGFHPG.jpg

Jika ditanya mengapa pertanian ditinggalkan, izinkan saya ajukan satu pertanyaan.

Kira-kira, apakah generasi muda yang ada saat ini mau untuk bekerja sebagai petani?

Sejauh ini, saya sendiri merasa yakin jika para pemuda hari ini ENGGAN untuk terjun secara langsung di dunia pertanian. Sebagian besar lebih memilih untuk bekerja di sektor keuangan, sektor jasa, sektor industri, dan kalau pun di dunia pertanian, mungkin sedikit yang akan memilih on-farm sebagai tempat mengais rejeki.

Sejauh yang saya sempat pelajari di Departemen Agribisnis IPB, dunia pertanian (dalam anggapan sebagian besar masyarakat hari ini) identik dengan kemiskinan. Tentu setiap orang tidak ingin berkutat dengan kemiskinan, apalagi sampai jatuh miskin (ketika sebelumnya kaya).

Kedua, pertanian masih dianggap amat sangat terbelakang dan tidak terperhatikan. Mengapa?

Umumnya, sektor pertanian berlokasi amat jauh dari wilayah perkotaan. Artinya, pembangunan infrastruktur (termasuk akses ke desa) rendah. Dampaknya, sektor-sektor perekonomian di perdesaan (termasuk pertanian) tidak dapat berjalan dengan maksimal. Selain itu, permasalahan-permasalahan akibat kondisi ini muncul silih berganti.

Risiko di dunia pertanian amat sangat tinggi, sedangkan return yang didapatkan (dianggap) terlalu rendah.

Kemudian, sektor pertanian dan para petani seakan tidak terperhatikan sama sekali oleh para elite politik, khususnya di jajaran eksekutif. Berbagai fenomena telah kita lihat sebelumnya di negeri ini tentang bagaimana jatuhnya harga tomat atau tentang melambungnya harga cabai di pasaran, akan tetapi pada tingkat petani, tak ada dampak berarti sama sekali dalam masalah harga. Belum lagi pukulan demi pukulan dari aktivitas impor yang dampaknya membuat harga barang mentah dari pertanian semakin morat-marit dan tak menentu.

Yang terbaru adalah kasus beras diberi HET dan kasus penutupan pabrik beras premium. Inilah satu fenomena lucu yang kita temukan. Artinya, harga komoditas ini seakan ditekan dengan alasan beras merupakan sumber makanan pokok masyarakat Indonesia.

Di sini memang ada sisi di mana konsumen dilindungi. Akan tetapi, para petani padi seakan tidak masuk dalam hitungan 'kelompok yang patut dilindungi' sama sekali. Padahal, tanpa adanya HET dan penetapan harga beras premium yang 'memang premium', para petani mendapatkan bagian yang lebih tinggi daripada harus menjual dalam bentuk gabah kepada tengkulak.

Ketiga, masih adanya anggapan bahwa petani merupakan profesi 'kasta rendah', atau jika boleh disebut 'proletar sekali'. Masih ada anggapan di tengah-tengah masyarakat bahwa menjadi PNS ataupun karyawan akan mampu memberikan penghidupan yang layak dan posisi kesejahteraan yang lebih tinggi daripada 'hanya sekedar' menjadi petani.

Adanya anggapan ini sebetulnya bukan sepenuhnya kesalahan masyarakat, akan tetapi masyarakat hanya 'terciprati' pemikiran akibat melihat kondisi yang ada, dimana para petani identik dengan kemiskinan, hidup terlalu sederhana, makan apa adanya, dan lain sebagainya.

Masih banyak lagi, sebetulnya. Meskipun demikian, kita patut bersyukur bahwa di tengah keengganan generasi muda untuk bertani, hari ini kita masih bisa makan.

Andaikata Indonesia kehilangan para petaninya (ini adalah salah satu jurnal yang sempat saya tulis di Selasar), mungkin kita akan berani saling bunuh satu sama lain hanya untuk memperebutkan makanan. Atau mungkin suatu saat nanti, kita sudah asyik mengunyah beton dan uang kertas akibat tidak adanya stok beras di pasaran atau harga beras melambung tinggi akibat kurangnya ketersediaan.

Jika mengingat ini, saya semakin yakin bahwa Indonesia memang tidak sedang baik-baik saja.

Semoga menjawab.

 

Ilustrasi via pixabay

Answered Oct 24, 2017
Heri Kurniawan
Peserta Rumah Kepemimpinan Regional 7 Makassar

Pertanian, kemiskinan, dan pedesaan sangat erat kaitannya dengan mindset pemuda untuk menjauh dari pertanian karena hal tersebutlah banyak pemuda memilih untuk profesi lain yang jauh dari pertanian pendapatan yang tidak menentu serta membutuhkan banyak tenaga untuk mengelola dan budidaya membuat pemuda enggan untuk bertani.

Begitu pula dengan kebanyakan orang tua mendorong anaknya agar tidak bekerja seperti apa yang mereka kerjakan, mereka berharap anakanya lebih baik menjadi pegawai kantoran ataupun pegawai bank yang lebih menarik untuk dijalani dari pada berpanas-panasan di kebun atau sawah.

Pemuda kini dihadapkan pada masa dimana rasa peduli dengan lingkungan rendah sehingga banyak yang tidak ingin terjun dan cenderung apatis dengan alam dan keadaan sekitarnya hal tersebut didorong oleh teknologi yang kian hari makin berkembang sehingga banyak generasi saat ini malas keluar melihat dunia, begitu pula kebanyakan mahasiswa pertanian pengaruh teknologi membuat mereka enggan menjadi petani konvensional mengelola banyak lahan, praktikum lapangan sudah cukup karena cita-cita mereka adalah menjadi pegawai negeri atau pegawai kantoran.

Sangat miris mendengar hal ini, bukti generasi pertanian sudah hampir hilang. Pengembangan Sumber daya manusia peduli pertanian harus terus, tetap, dan perlu ditingkatkan melalui pendidikan dan perubahan mindset.

Answered Dec 3, 2017
Nadiyah Hidayati
Mahasiswi Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian UGM

Menurut saya pertama ialah karena orang tak faham bagaimana cara mengelolanya. Kedua karena orang bermindset bahwa pertanian hasilnya tak pasti tergantung cuaca dan nilai jualnya rendah. Ketiga orang yang terjun harus benar-benar orang yang berani mengambil resiko dan jika dilanjutkan akan masih banyak lagi yang pasti. Tapi yang paling utama penyebabnya adalah, orang tua tidak mendidik anaknya untuk menjadi petani, karena biasanya orang tua menyarankan belajar yang pinter ya nak dan kemudian jadilah dokter, insinyur, pegawai dan lain sebagainya, tapi hampir tidak ada yang menyarankan belajar yang pinter ya nak setelah itu kamu bangunlah pertanian dan angkat derajat para petani. 

Untuk memperbaikinya pertama adalah dari pendidikan. Pendidikan menjadi fondasi penting untuk membangun paradigma dan pola pikir, serta utamanya mengembangkan ilmu dan inovasi dalam menjawab tantangan zaman yang serba global dan teknologi. Dimana permasalahan dipertanian menjadi semakin rumit, seperti adanya mafia, kebijakan yang tidak berpihak pada petani, permodalan yang sulit, jumlah petani semakin berkurang dan tua, serta semakin mahalnya bibit dan sarana prasarana lainnya. Jika kita ingin pertanian dan ketahanan pangan kita kuat maka kembalilah dengan apapun profesimu untuk pertanian serta pastikan bahwa diri kita juga turut mengambil peran didalamnya.

Answered Apr 1, 2018

Question Overview


4 Followers
1026 Views
Last Asked 2 years ago

Related Questions


Bagaimana cara mengontrol kondisi pertanian yang ada di daerah-daerah, terutama pelosok?

Startup apa saja yang bergerak di bidang pertanian?

Apakah pembelajaran secara online mampu meningkatkan kapasitas kita sebagai individu?

Apakah IPK adalah segalanya?

Apakah beasiswa dan universitas luar negeri yang hanya syaratkan minimal score IELTS 6.0?

Manakah yang benar, Pancasila Lahir 1 Juni 1945 atau 18 Agustus 1945 ??

Bagaimana pengalamanmu menjalani sidang skripsi/tesis/disertasi?

Apakah penggunaan sempoa kepada anak-anak masih efektif untuk diterapkan saat ini?

Di mana tempat terbaik untuk melakukan wisata edukasi di Indonesia? Mengapa?

Apa tugas dan kesulitan saat menjadi kepala sekolah

Apakah bisa hidup sejahtera dengan menjadi petani?

Apakah ada sumber pendapatan strategis lain petani selain menjual ke tengkulak?

Bisnis apa yang bagus untuk pertanian di masa mendatang?

Mengapa ketahanan pangan di Indonesia masih rawan dan produk lokal/organik menjadi mahal?

Apa yang menarik dari Waduk Ir Sutami?

Siapa Amran Sulaiman?

Siapa Bayu Krisnamurthi?

Siapa Suswono?

Siapa Anton Apriantono?

Kenapa ada aksi menolak pembangunan pabrik semen?

Mengapa anak muda saat ini lebih suka mendirikan startup daripada bekerja di perusahaan?

Gen X, Gen Y, hingga Generasi Millenial, apakah ilmiah atau terminologi ekonomi semata ?

Apa evaluasi dan harapan Anda tentang Shafa Community?

Pemimpin Indonesia yang ideal di mata anak muda?

Siapa Roy Suryo?

Siapa Achmad Zaky Pendiri dan CEO Bukalapak?

Apa itu FLAC Jakarta?

Apa kegiatan terdekat FLAC Jakarta?

Bagaimana cara membangun bisnis sejak muda?

Apakah Anda tahu kapan akan dilaksanakan kegiatan Gerakan Pemuda Ansor dalam waktu dekat ini?