selasar-loader

Negara-negara maju menggunakan energi nuklir untuk listrik, mengapa Indonesia belum melakukannya?

Last Updated Oct 9, 2017

1 answer

Sort by Date | Votes
Arcandra Tahar
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Indonesia

qUowyOdNmes4zVOc7rQ2z2NqhP3YzjJo.jpg

Saya baru saja kumpulkan semua stakeholder yang concern terhadap pembangkit listrik tenaga nuklir di Indonesia. Kita batasi energi nuklir untuk listrik, ya. Kita tidak bicara nuklir untuk yang lain.

Selama ini, kita memiliki pros and cons. Ada yang pro, ada yang kontra. Saya pikir, Selasares juga sama; ada yang pro dan kontra. Ada banyak sekali SMS dan email yang masuk, baik itu dari akademisi, masyarakat, luar negeri, maupun dari DPR. Kata DPR, “Kalau bisa, kita go nuclear!”

Sebelum mengusik emosi kita, saya minta staf Kementerian ESDM untuk mengadakan acara. Semua pihak yang concern terhadap nuklir (DPR, badan-badan pemerintah, akademisi, pelaku yang sudah mencoba membuat perusahaan pengembang tenaga nuklir, dan masyarakat) kita undang.

Di awal, saya beri pengarahan bahwa selama ini, kita berdebat di administrasi. Dalam kebijakan energi nasional (KEN), peraturan pemerintah kita menjadikan energi nuklir sebagai the last resource. Nah, ini menjadi perdebatan. Sebelum penyelenggaraan acara, saya tanya ke beberapa lembaga, "Permasalahan nuklir kita ini ada di mana, sih?"

"Permasalahan nuklir kita adalah KEN menyatakan nuklir sebagai the last resource."

"Undang-undang kita melarang penggunaan nuklir sebagai pembangkit listrik?"

"Tidak melarang, Pak."

Akhirnya dalam pengarahan, saya bilang bahwa kalau UU tidak melarang, meskipun KEN menyatakan energi nuklir sebagai last resource melalui PP, coba kita lihat apa isunya. Jangan "melarikan" isunya di administrasi. Administrasi ini kita pertimbangkan, tapi kita lebih fokus pada beberapa hal.

Yang pertama adalah teknologi. Dikatakan bahwa di Indonesia, kita punya cadangan nuklir, yaitu uranium dan torium. Ini dikatakan cadangan. Saya tanya, "Benar nggak sih, kita punya cadangan?" Bahasa Inggris cadangan itu reserve, padahal kita baru punya potensi (resource). Resource dengan reserve itu beda. Potensi adalah potensi. Apakah bisa ditambang? Belum tentu. Kita harus meningkatkan statusnya jadi reserve dulu. Ada persyaratan-persyaratan untuk menaikkan potensi resource menjadi reserve.

Untuk oil and gas, misalnya, cadangan itu dibagi-bagi menjadi

  1.  possible reserve;
  2. probable reserve; dan
  3. proven reserve.

Proven reserve pun dibagi lagi. Ada yang bisa di-develop, ada yang tidak bisa.

Saya tanya lagi, “Torium dan uranium kita apa statusnya? Reserve atau resource?” Ternyata kita baru resource.

Anggaplah kita bisa tingkatkan menjadi reserve. Pertanyaan selanjutnya, bisakah kita menambangnya? Katakanlah, bisa.

Setelah kita mendapatkan uraniumnya, apakah kita bisa langsung menggunakannya sebagai pembangkit listrik? Belum bisa. Masih ada langkah lain, yaitu pengayaan.

Nah, apakah negara kita punya semacam izin untuk pengayaan? Ini cerita lain lagi.

Nah, kalau bicara tentang pembangunan PLTN, menurut hemat saya, kemungkinan besar kita akan impor uranium.

Yang kedua, human resources. Apakah kita punya human resources? Punya. Dulu melalui program Pak Habibie, banyak mahasiswa termasuk teman saya yang dikirim ke luar negeri untuk belajar energi nuklir. Kita punya BATAN dan lain-lain. Mampukah mereka membangun PLTN? Saya confidence, yang namanya ilmu, skill, dan experience bisa didapatkan selama memiliki keinginan ke arah sana.

Selanjutnya adalah masalah kesiapan masyarakat. Ada sindrom yang bernama NIMBY (not in my backyard). Coba tanyakan pada suatu daerah, “Pak, kita akan membangun PLTN di daerah sini.” Nah, apakah masyarakat kita akan siap jika dibangun PLTN?

Ternyata ada. Bangka siap untuk PLTN. Kemarin, pemerintah daerah kita undang. Saat diundang, Wagub Bangka bilang, “Kita siap membangun PLTN di Bangka!”

Pertanyaan selanjutnya adalah commercial. PLTN ini mahal untuk skala kecil (ratusan megawatt). Skala ekonomisnya adalah mungkin ribuan megawatt. Kalau dibangun di Bangka, demand-nya seperti apa? Siapa yang membutuhkan? Demand Bangka hanya ratusan megawatt. Untuk itu, kita akan masukkan ke Great Java-Sumatera, misalnya. Lalu, timbul demand dari daerah lain yang juga ingin ribuan megawatt. Siapa yang akan membeli listriknya? PLN? PLN belum ada customer-nya. Siapa yang akan menanggung? Next problem-nya adalah commercial. Kalau sudah kita bangun besar, lalu belum ada offtaker-nya, siapa yang akan menanggung beban yang sudah terpasang ini? Bagaimana perbandingan harga per KwH antara renewal energy, nuklir, dan PLTU?

Ternyata dari hasil kemarin, PLTN bisa menghasilkan energi ekonomis jika dibeli seharga 9,7-13,6 sen/KwH. Mediannya sekitar 12 sen, lah. Perusahaan nuklir dari Rusia juga datang kepada saya, presentasi, dan mengatakan bahwa mereka bisa deliver listrik seharga 12 sen/KwH. Sebagai perbandingan, PLTU bisa 5-6 sen/KwH.

Mungkin Selasares bertanya, “Pak, ini kan satu bersih, satu nggak. Bagaimana keberpihakan kita kepada energi bersih?”

Perlu saya tekankan tentang option ini. Sampai kemarin, saya menghindari perdebatan dari sisi administrasi. Kita fokus pada teknologi, human resources, kesiapan masyarakat, dan commercial. Kalau yang mampu dijual adalah 12 sen sementara BPP (biaya pokok produksi) listrik kita secara rata-rata nasional adalah 7 sen, siapa yang menanggung 5 sen sisanya? Tentu lewat subsidi. Dan 5 sen itu berat.

Pada akhirnya, belum ada kata sepakat. Tetapi percayalah, dari hal-hal yang saya sebutkan tadi, kita akan carikan jalan keluarnya. Bukan Indonesia tidak ingin nuklir. Kita hanya tidak ingin membawa masalah ini menjadi masalah yang emotional. Kita ingin yang rational saja.

Lalu bagaimana dengan thorium?

yIShwVv4C9a-EXVgPNiuGHGG0fgYMLbO.jpg

Ingatlah bawa torium itu adalah limbah dari proses penambangan timah.

Berapa besar? Nah, ini kita baru punya potensi.

Apakah teknologi torium sudah proven? Belum proven. Bagi para penggerak yang pro dengan nuklir, terutama torium, saya katakan bahwa teknologi torium belum mature. Yang sudah mature baru uranium. Untuk itu, bersabarlah dulu, para Selasares yang menggebu-gebu dengan torium. Mohon bersabar. Kita cari teknologi yang pas. Kapan itu? Waktu yang akan membuktikan.

Answered Nov 13, 2017
Sponsored

Question Overview


2 Followers
639 Views
Last Asked 1 year ago

Related Questions


Seberapa kenal Anda dengan Arcandra Tahar dan apa kesan terdalam Anda mengenai beliau?

Pak Arcandra, apakah waktu Bapak masih sekolah memang bercita-cita ingin menjadi wakil menteri? Kalau bukan, apakah cita-cita Bapak sewaktu masih sekolah dulu?

Apa yang menyebabkan Bapak bisa sesukses ini? Apa pegangan hidup Bapak Arcandra hingga saat ini?

Mengapa Indonesia lebih menggantungkan diri pada energi migas daripada energi surya?

Bagaimana potensi energi terbarukan di Indonesia? Apa usaha pemerintah untuk bisa mempercepat pembangunannya?

Bagaimana rencana pemerintah terhadap East Natuna?

Apa campaign yang dilakukan oleh pemerintah agar masyarakat ikut menyukseskan pembangunan renewable energies seperti pembanguan PLTP?

Apa yang harus dilakukan masyarakat atau personil perusahaan jika mengetahui ada pihak-pihak tertentu yang berusaha menghalangi pembangunan PLTP?

Bagaimana cara menyikapi low social acceptance akibat kehadiran pihak ketiga dalam proyek PLTP? Apakah ada masukan?

Bagaimana rasanya menjadi imam besar Masjid Istiqlal?

Sebagai imam besar masjid, bagaimana cara Bapak Nasaruddin Umar menjadi pengayom umat Islam Indonesia di tengah banyaknya ormas Islam di Indonesia?

Apakah ada program di Mesjid Istiqlal yang bertujuan agar anak-anak muda di Jakarta menjadikan Mesjid Istiqlal sebagai pusat untuk menimba ilmu tentang Islam? Jika ada lalu apa saja program tersebut?

Bagaimana tanggapan Bapak sebagai Imam ketika ada segelintir orang menautkan gerakan ISIS dengan Islam?

Bagaimana agar kita bisa umat Islam mudah berkomunikasi dengan mereka yang tidak memiliki agama/ atheis?

Bagaimanakah definisi Radikal dalam beragama?

Bagaimana pandangan Anda mengenai perkembangan Islam lewat tradisi esoteris Syekh Siti Jenar?

Bagaimana menjadi pribadi yang bisa istiqomah?

Apa arti dari beriman tetapi belum berhijrah?

Seperti apa beban menjadi seseorang yang dikenal sebagai ulama?