selasar-loader

Apakah initial team startup berhak mendapatkan saham dari startup tersebut?

Last Updated Sep 27, 2017

Apakah initial team startup berhak mendapatkan saham dari startup tersebut? Bagaimana etika pembagian saham yang baik diantara founder/co-founder?

2 answers

Sort by Date | Votes
Hilman Fajrian
Founder Arkademi.com

Y_re5B8hROV3iCUqsWPo3Z4XkpDFsy6N.jpg

Yang disebut sebagai 'tim' itu tergantung dari tahap (stage) yang sedang dijalani oleh sebuah startup. Dalam early stage, ada 2 tahap: formation stage dan validation stage. Masing-masing memiliki perbedaan dalam hal jumlah orang dalam tim maupun role masing-masing anggota tim. Rata-rata startup memberikan equity pada setiap orang dalam masa early stage ini.

Formation stage adalah ketika ide baru muncul dan tim founder dibentuk. Tim founder ini terdiri dari key founder dan co-founder. Berapa pembagian equity di antara para founders, banyak parameternya. Untuk mempermudah, silakan menggunakan equity share calculator ini >> foundrs.com.

Ada 4 tahap dalam validation stage: problem validation, product validation, market validation, dan customer validation. Karena ada kredo yang jelas bahwa MVP harus bisa dibuat sendiri oleh para founders, maka hiring baru bisa terjadi di market validation stage. Startup bukan hanya akan punya karyawan, tapi juga advisor (penasehat), yang keduanya akan diberi equity

Di sini lah diperlukan pro forma cap table yang dibuat sebagai perencanaan equity share ketika pendanaan akan masuk. Karena bersifat perencanaan, maka ia justru harus dibuat di masa-masa awal oleh para founder sebelum jumlah anggota tim bertambah. Di bawah ini adalah contoh pro forma cap table sederhana:

hc8lf8DeaZ9BaayfjtY4tyw7OlNaq7Gi.png

(sumber gambar: equatex.com)

Answered Sep 29, 2017
Ma Isa Lombu
Pendiri dan Chief Business Development Officer Selasar

Z1TVGoRBZ2ZxiY8uKa1Z2pb2LzQD3Xg9.jpg

Ya, mereka berhak karena intellectual property dan initial key role yang mereka lakukan.

Idea is cheap!

Ungkapan ini yang sering diungkapkan oleh para penggiat digital startup (company) di seluruh dunia. Mereka percaya bahwa di zaman super derasnya informasi ini, memiliki ide yang sophisticated itu bukanlah hal yang terlalu luar biasa. Namun, mengeksekusi ide (yang katanya luar biasa) tersebut menjadi sebuah karya/produk yang dapat diterima dengan baik di market adalah inti dari sebuah kesuksesan yang patut diapresiasi.

Terlebih di era VUCA (Volatile, Uncertainty, Complexity and Ambiguity) seperti sekarang ini, sukses mendirikan dan membesarkan sebuah perusahaan/produk digital/internet merupakan sebuah prestasi yang amat luar biasa. Perubahan, ketidakpastian, kompleksitas dan ambiguitas lingkungan bisnis dan persaingan usaha antarproduk teknologi menjadi tantangan terberat bagi para founders untuk benar dalam merealisasikan ide-ide mereka yang (katanya) super outstanding itu. 

Di era VUCA, tidak ada jaminan bagi sebuah produk/perusahaan untuk stay di market. Bisa jadi karena burn rate yang tinggi dan cash flow management yang tidak baik, sebuah produk yang memiliki ide super cemerlang akan layu sebelum berkembang. 

Coba saja lihat. Pada era awal kemunculan aplikasi transportasi online, banyak sekali para pemain yang masuk ke market. Tetapi pada ahirnya, kita menyaksikan beberapa saja dari mereka yang bertahan (Go-Jek, Uber dan Grab), sedangkan sisanya mati. Padahal, perlu diingat bahwa perusahaan-perusahaan yang wafat tersebut adalah perusahaan yang digawangi oleh orang-orang yang memiliki kemampuan profesional yang mumpuni, sumber dana yang cukup besar, dan tentunya potential target market yang terus bertumbuh. Namun apa daya, (kembali) produk-produk tersebut hilang dari pasaran dan menyisakan para pemain kuat yang super competitive.

Begitu juga ketika kita simak perkembangan industri e-commerce di Tanah Air. Pada tahun 2017, banyak pemodal besar dari seluruh dunia (utamanya dari Cina) seperti Alibaba dan Tencent masuk ke pasar e-commerce Indonesia. Mereka menyuntik beberapa produk e-commerce dengan dana yang super besar untuk membuat mereka tetap hidup di survival game ini. 

Dengan kondisi tersebut, jelas existing players yang berada di industri menjadi ketar ketir. Para founders perusahaan lain yang tidak disuntik oleh pemodal besar tersebut dapat dipastikan harus memutar otak dan cara agar world class venture capital lain juga hadir dan akhirnya juga memberikan suntikan dana segar untuk mereka, seperti apa yang sudah Alibaba dan Tencent sudah lakukan sebelumnya.

Dari contoh yang sudah saya sebutkan sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa untuk membuat perusahaan kita tetap hidup dan survive dari “ancaman” VUCA World seperti sekarang ini jelas bukan hal yang mudah. Untuk itulah, maka tidak heran apabila para founder yang berhasil survive dari kondisi cepat berubah yang mematikan ini akan hadir sebagai sosok pemimpin yang berkualitas, in term of vision, understanding, clarity dan juga agility, seperti yang diungkapkan oleh Bob Johansen dalam bukunya Get There Early.

Intinya adalah idea is cheap and execution is the matter. Untuk itulah, diperlukan bukan hanya sebuah konsep berpikir yang baik untuk mengatasi setiap permasalahan persaingan bisnis yang ada, tetapi juga initial key role yang berjalan efektif untuk memastikan perusahaan yang dibangun tetap survive dan akhirnya berakhir sebagai pemenang. 

Kedua faktor itulah yang akhirnya membuat para startup founders ataupun former employees layak mendapatkan saham (stock ownership) dari sebuah perusahaan.

Mari kita lihat contohnya. Kita ambil contoh Facebook sebagai social media terbesar sejagad raya. 

Ketika jawaban ini dibuat, struktur kepemilikan Facebook cukup beragam, mulai dari para founders/former employee, high level employee, Venture Capitalist, Angel Investors, Corporate investors, bahkan para "enemies". Dari komponen shareholders tersebut, jelas diketahui para founders/former employee dan juga high level employees telah mendapatkan share dari kontribusi nonfinansial mereka. Ingat, kontribusi nonfinansial! 

Lalu apa kontribusi nonfinansial yang dimaksud sehingga mereka secara de jure dan de facto bisa mendapatkan share di Facebook? Jawaban saya adalah mereka mendapatkan stock ownership karena intellectual property dan initial key role yang mereka lakukan sehingga Facebook bisa bertahan sampai sekarang dan bahkan menjadi social media terbesar di dunia. 

Di Facebook, para founders/former employees mendapat bagian mereka masing-masing seperti Zuckerberg 24%, Dustin Moskovitz 6%, Eduardo Saverin 5%, Sean Parker 4%, Adam D’Angelo 0.8%, dll. Para high level employees yang juga berjasa dalam membesarkan Facebook juga tidak ketinggalan. Mereka diapresiasi dengan stock ownership tersendiri, seperti Jeff Rothschild 0.8%, David Ebersman 0.11%, Mike Schroepfer 0.11%, Sheryl Sanberg 0.1% dan Theodore Ullyot 0.1%. 

Tidak hanya itu, para Harvard boys seperti Cam Winklevoss, Tyler Winklevoss, dan Divya Narendra yang dianggap menginspirasi lahirnya Facebook (serta dianggap Zuckerberg telah mencuri ide mereka) masing-masing mendapatkan 0.022% dari total share yang ada.

Contoh Facebook di atas adalah bukti konkret betapa intellectual property dan initial key role yang dilakukan oleh para founders dan former employees layak mendapatkan saham (stock ownership) dari sebuah perusahaan.

Answered Oct 5, 2017

Question Overview


4 Followers
655 Views
Last Asked 1 year ago

Related Questions


Bagaimana cara mendapatkan pendanaan awal sebuah startup?

Bagaimanakah struktur korporasi startup-startup di Indonesia di masa awal-awal?

Apakah perbedaan menjadi CEO Start Up dengan menjadi CEO korporasi?

Seberapa jauh Whats App merevolusi hidup Anda?

Bagaimana cara kita menilai penting atau tidaknya sebuah fitur untuk ditambahkan ke dalam platform atau produk dan cara mengukur keberhasilan fitur tersebut?

Apakah Ada tahu kegiatan terdekat yang akan dilaksanakan IMAJIKU?

Apakah Anda tahu kegiatan terdekat yang akan dilaksanakan Jagaciti.id?

Apa itu 1010dry?

Apa itu Amteklab?

Apa itu Caption?

Apa beda antara startup dan perusahaan lainnya? Mengapa istilah startup begitu naik daun?

Bagaimana cara membangun tim awal startup/perusahaan?

Apa yang menyebabkan sebuah startup digital mengalami kegagalan pada tahun pertamanya?

Apakah nama perusahaan startup terbaik di Indonesia?

Apa yang menyebabkan jumlah venture capital di Indonesia tidak sebanyak di Amerika?

Apa rahasia membangun sebuah startup digital yang sukses?

Apa yang dimaksud dengan design thinking?

Apa yang dimaksud dengan design sprint?

Mengapa design sprint digunakan untuk membuat produk digital?

Apa yang membuat Steve Jobs sukses membangun Apple?

Bagaimana proses mendirikan Bukalapak?

Siapa pengusaha paling top di Indonesia menurut Anda?

Bagaimana cara menjadi sarjana pemberi solusi di Indonesia?

Apakah seorang CEO haruslah seorang Extrovert dan pandai menjual?

Dari mana Elon Musk mendapatkan kekayaannya?

Keterampilan apa saja yang perlu dimiliki seorang entrepreneur?

Karakter apa saja yang harus dimiliki seorang pengusaha sejati?

Apakah entrepreneur itu sama dengan pedagang atau harus memiliki sebuah usaha?

Kenapa modal ventura dianggap sebelah mata sedangkan Indonesia memiliki banyak UMKM inovotif yang butuh suntikan dana?

Bagaimana rasanya menjadi seorang founder/ petinggi di suatu startup?

Apa alasan Anda menjadi pengusaha?

Mungkinkah memulai usaha di usia di atas setengah abad?

Bagaimana kunci eksekusi yang baik dalam berbisnis?

Apa yang menyebabkan orang tak kunjung kaya?