selasar-loader

Bagaimana rasanya botak?

Last Updated Sep 25, 2017

2 answers

Sort by Date | Votes
Syaifuddin Sayuti
Happy Holiday...

QRijGklZkWxUQliyulYzuHuN2pBnl4n4.jpg

Panas.

Saya pernah mengalami dicukur botak. Enak, sih, karena tak perlu sisiran, tak perlu shampoo-an. Tapi saat keluar rumah di siang hari, dijamin kita bakal merasa kepanasan, jauh lebih panas dari biasanya. Mentari seperti berada tepat di kulit kepala. Keringat terus bercucuran. Kepala berasa basah terus. Saputangan atau tissu yang dipegang cepat basah kuyup karena digunakan mengusap keringat terus-menerus.

Tapi, saya ingin mencoba lagi dan ingin merasakannya di negeri 4 musim.

 

Ilustrasi via pixabay

Answered Oct 2, 2017
Jiwo Damar Anarkie
| Community Engagement Selasar | Co-Founder FLAC Indonesia | @dijiwa

DxF2w_wko1zjoJF4nqMmWLzQ_duiAg7V.jpg

Be bold, be brave!

Walau saya ga botak-botak amat, hanya kalau cukur selalu bilang, "Botak baru numbuh, Bang", tapi saya tertarik untuk menjawab pertanyaan ini.

Bagi orang kita, botak dianggap ga keren. Paling tidak, itu kesan yang saya dapatkan sejak duduk di bangku sekolah dasar. Kesan itu saya dapatkan hingga menjelang lulus SMA.

Saya sendiri ga tahu sih alasan kebanyakan orang yang bilang botak itu ga keren. Kalau boleh menduga-duga, mungkin karena botak sendiri adalah style bapak-bapak. Orang dewasa! Atau mungkin juga karena gaya hidup zaman itu mengacu pada artis-artis yang kebanyakan dari mereka punya rambut yang digaya-gayain. Dulu, kita mengenal rambut belah tengah ala Pasha Ungu, atau "rambut nanas"-nya Dao Ming Shi Meteor Garden. Dengan ikut-ikutan ini, botak dianggap ga lazim sehingga dianggap suatu "pelencengan" gaya rambut, hahaha. Ini mungkin lho ya, mungkin. 

Well, apapun alasannya, sekarang ini saya ingin membahas rasanya punya kepala botak dalam arti plontos atau paling tidak, botak kita definisikan dengan rambut yang tumbuh dibawah 1 centimeter. Ini adalah alasannya.

1. Tidak panas! 

Jelas, semakin banyak rambut, semakin panas itu kulit kepala. Ya jelas, karena rambut sendiri bisa menampung keringat. Dengan banyaknya rambut, otomatis, kulit kepala menjadi panas, dan akhirnya berkeringat. Efek keringat adalah rambut menjadi bau. Nah kalau sudah seperti ini, pilih mana; rambut botak atau panjang? Hahaha.

2. Lebih hemat pengeluaran bulanan untuk beli shampoo

Betul. Begini logikanya.

Dalam satu rumah, hiduplah dua orang yang anggaplah bernama A dan B. Si A berambut panjang, sementara B berambut pendek a.k.a. botak. A dan B memiliki merek shampoo yang sama dengan ukuran yang sama pula. Anggaplah isinya 120 ml. Ketika mandi, A menggunakan 5 ml shampoo dan rutin berkeramas sehari 2 kali karena rambutnya panas sehingga kalau dibiarkan menjadi bau keringat. Belum lagi 5 ml shampoo itu digunakan untuk mengeramasi seluruh rambut. Sementara B, karena rambutnya jarang sekali bau dan jumlah penampang rambut yang lebih sedikit, penggunaan shampoonya 3 ml lebih sedikit dari A. Dari sini, sudah ketahuan kan lebih hemat yang sama? Jika si B hanya membutuhkan 1 botol shampoo ukuran 120 ml dalam sebulan, si A membutuhkan 2 sampai 3 botol shampoo ukuran 120 ml. Jika harga sebotol shampoo ukuran 120 ml Rp10 ribu, A harus mengeluarkan uang sebesar Rp20 ribu per bulan. Sementara itu, pengeluaran si B hanya Rp10 ribu. Lebih hemat mana? 

3. Efisiensi waktu

Dengan rambut yang sedikit, usapan shampoo ke rambut juga sedikit sehingga waktu yang dihabiskan untuk sekali keramas lebih efisien. Cocok untuk kita yang punya banyak agenda, haha. 

Oke, mungkin 3 (tiga) alasan itu ialah yang menurut saya paling rasional untuk mereka yang bertahan dengan rambut botaknya. Kalau kamu ada alasan lain, boleh banget untuk di-share, ya. 

 

Answered Oct 3, 2017