selasar-loader

Pengalaman traveling apa yang paling berkesan dalam hidup Anda? Mengapa?

Last Updated Dec 1, 2016

8 answers

Sort by Date | Votes
Ma Isa Lombu
Selasares Garis Keras

vyONesD39ZWDx7fBDaS7s4ODMuX9X-J8.jpg

Ini cerita saya tentang tempat yang berkesan itu.

Kondisi kereta api bertujuan Baduy dari stasiun tanah abang ke stasiun Rangkasbitung begitu berbeda ketika dibandingkan dengan keadaan kereta ekonomi AC dari Stasiun Universitas Indonesia menuju stasiun Tanah Abang.

Kondisi kereta dengan tujuan tanah Baduy itu benar-benar dapat merefleksikan kondisi hitam Indonesia saat ini. Pelecehan seksual, krimalitas, kemiskinan, ketidakdisiplinan bahkan kemelaratan menjadi hal pokok yang embodied dalam kereta rakyat Indonesia. Perjalanan yang cukup melelahkan saya pikir, dengan kondisi kereta yang kotor dan berdesak-desakan, saya terpaksa atau lebih tepatnya keadan yang memaksa saya harus berdiri selama 3 jam penuh untuk sampai ke stasiun tujuan. 

Kondisi fasilitas kereta api yang buruk dan konsisi mental kebanyakan penumpangnya yang juga ikut-ikutan buruk, seharusnya tidak lagi dirasakan oleh sebuah institusi kebangsaan yang telah merasakan kemerdekaan lebih dari setengah abad. Malu sekiranya kita membandingkan dengan akselerasi yang dilakukan oleh Singapura dan Selandia Baru dalam rangka memberadabkan diri dan bangsanya. Para pemimpin kedua negara tersebut telah berusaha keras mempersembahkan yang terbaik bagi rakyat dan tanah airnya. Meski dengan perilaku diktator Lee Kwan Yew yang berlindung dibalik slogan “The Asia Way” ataupun semangat demokrasi Ala Amerika yang ditiru oleh kebanyakan pemimpin di Selandia Baru pada saat itu.

Mendekati Tanah Seribu Larangan

Sesampainya di stasiun Rangkasbitung, rombongan kami langsung menuju terminal Aweh di salah satu sudut kota Rangkasbitung. Dibutuhkan waktu kurang lebih 20 menit untuk sampai di terminal tersebut. Hal pertama yang kami lakukan sesampainya di sana adalah dengan membeli beberapa tambahan logistik di salah satu ritel modern yang terdapat tidak jauh dari lokasi terminal. Usai berkoordinasi sana-sini, kami pun bersiap untuk menuju terminal Ciboleger sebagai tempat persinggahan terakhir sebelum akhirnya melangkahkan kaki kami menuju “tanah seribu larangan”, Baduy.

Jelas, tempat yang paling diidamkan oleh para wisatawan budaya seperti kami saat ini adalah menuju Baduy Dalam. Sebuah kawasan budaya di mana aturan adat dan kebiasaan lokal masih dijunjung tinggi. Dengan menafikan seluruh unsur kemodernan dan globalisasi yang telah menggurita di seantero negeri, masyarakat Baduy Dalam seakan menjadi duta lingkungan dan budaya bersama-sama dengan aktivis Green Peace dan masyarakat anti perdagangan bebas di Seattle yang tidak pernah lelah memperjuangkan mimpi dan idealisme mereka. Tentu dengan format yang sedikit berbeda. 

Sebelum menuju kawasan Baduy Dalam yang jauh di pelosok hutan dan bukit, kami harus singgah terlebih dahulu di kawasan masyarakat Baduy Luar. Berbeda dengan masyarakat Baduy Dalam yang menjunjung tinggi norma adat dan kemurnian, masyarakat Baduy luar hidup di antara budaya tradisional dan semangat medernisme yang dianut oleh kebanyakan masyarakat Indonesia saat ini.

Satu malam berinteraksi dengan masyarakat Baduy Luar, saya merasa bahwa mereka hidup dan berkembang dengan rasa kebimbanganan dan inkonsistensi yang sangat luar biasa. Mereka berusaha berontak akan kukungan adat dengan berusaha mengapai kemodernan dalam sekat budaya yang amat kental. Dengan kondisi “penuh kemunafikan” tersebut, maka tidak heran dalam kawasan budaya Baduy luar kita dapat menjumpai tumpukan sampah di sepanjang bantaran sungai, suara radio butut pemberian turis yang sedang melancong, bahkan sampai potongan rambut ala “Kangen Band” yang menghiasi kepala sebagian pemuda tanggung di kawasan tersebut, sebuah atribut masyarakat semi-modern yang menjangkit Indonesia saat ini.

Selama di Baduy luar, kami singgah di pondok milik orang tua kang Sadi, kenalan kami dalam perjalanan. Sebagaimana layaknya masyarakat Baduy Luar lainnya, Kang Sadi yang juga perokok ini menggunakan pakaian hitam-hitam sebagai atribut pembeda dengan “saudara budayanya” di kawasan Baduy Dalam. Selain mengunakan pakaian hitam-hitam sebagai official dress code Baduy Luar, Kang Sadi juga kerap menggunakan pakaian dengan warna dan corak yang menyimpang dari aturan adat yang ditetapkan. “maklum lah anak muda, masih suka bandel”, katanya.

Menuju Baduy Dalam

Esok harinya, perjalanan kami lanjutkan dengan perlengkapan jalan seadanya. Dengan medan menanjak dan relatif licin setelah hujan, terus terang saya tidak menyangka track perjalanan akan cukup menyulitkan. Sepatu kets atau sepatu track standar saya pikir menjadi hal yang wajib untuk dibawa dalam kondisi licin setelah hujan seperti ini. Kondisi track menjuju lokasi Baduy Dalam agak sedikit berbeda dengan jalur pendakian komersil pada umumnya yang sudah ”difasilitasi” dengan batu kali. Kondisi track menanjak yang kami lalui hanya berupa track tanah dengan sedikit ornamen batu kali yang tersusun absurd di tengahnya. Dengan asumsi seadanya, saya yang bersendal jepit ini memutuskan untuk berjalan tanpa alas kaki sebagai mana layaknya orang Baduy Dalam melintasi track ini untuk menghadapi jalur perjalanan yang licin setiap harinya.

Seperti halnya “tanjakan cinta” di Taman Nasional Gunung Semeru dan "tanjakan setan” di Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango, kawasan Baduy juga memiliki tanjakannya sendiri. Masyarakat dan turis lokal sering menyebutnya dengan “tanjakan 1 kilo”. Mungkin perhitungan akan jarak akumulasi tanjakan tersebut tidak begitu tepat, akan tetapi saya pikir, tanjakan 1 kilo” yang kami lewati ini cukup menguras tenaga sehingga tak jarang peluh dan keluh keluar dari salah satu organ anggota tim yang kesemuanya adalah produk peradaban modern ala kota Jakarta.

Setelah 3 jam pendakian, akhirnya kami sampai ke desa Cibeo, perkampungan tradisional pertama dalam kawasan Budaya Baduy Dalam. Selain perbedaan warna pakaian yang cukup mencolok dengan” saudara budayanya”, masyarakat Baduy Dalam – khususnya bagi para laki laki dewasa – menggunakan pakaian berwarna putih dan relatif lebih lancar berbahasa...(more)

Answered Dec 13, 2016
Kartika Aprilia
Indonesian Literature, University of Indonesia.

H_mU4HShPE4p6IVVH3LG_3_Aj5es7M0A.jpg

Saat berkunjung ke Malang.

Ketika saya pergi ke Malang, saya merasa perjalanan tersebut adalah perjalanan yang mengesankan. Saya dan teman saya menempuh perjalanan kurang lebih 18 jam dari Stasiun Pasar Senen menuju Stasiun Malang.

Kami sudah mempersiapkan makanan dan bantal tidur untuk perjalanan. Belum sampai 10 jam di kereta, makanan yang kami beli sudah habis. Kami pun merasakan menahan lapar selama kurang lebih 8 jam.  Di perjalanan, semua posisi duduk sudah dicoba. Saking lama dan lelahnya, kami sampai berdiri dan berjalan-jalan di kereta. 

Sesampainya di Malang, kami langsung melakukan perjalanan ke beberapa tempat. Ke Paralayang, Museum Angkut, Pantai Bajul Mati, dan tempat-tempat makan yang murah dan unik.

Menurut saya, perjalanan ke Malang tersebut sangat berkesan karena saya tidak menghabiskan banyak uang, namun bisa menikmati liburan bersama teman-teman dengan senang.

Suatu hari saya berharap bisa kembali ke Malang lagi dan mengeksplor tempat-tempat bagus di Malang.

Answered Apr 25, 2017
Jonathan Sadikin
Traveler, writer, foodie, lawyer...

wVtNuAtbpaImmymCpmKrfxrkBAVZKNTr.jpg

Saya pernah pergi ke banyak tempat, tapi perjalanan saya yang paling berkesan terjadi ketika saya kelas 2 SMA. Seperti tradisi di banyak sekolah di Bandung, seluruh angkatan kelas 2 SMA mengikuti program untuk pergi ke Bali, khusus untuk bersenang-senang sebelum melalui tahun yang berat.

Saya bukan anak yang penyendiri, tapi beberapa hal membuat saya menghabiskan tahun pertama SMA saya sendirian dan tanpa teman. Ketika naik kelas, saya memutuskan untuk masuk program IPS yang mayoritas berisi anak-anak yang sama sekali baru. Itu adalah salah satu pilihan terbaik yang pernah saya buat.

Singkat cerita, dalam perjalanan itu saya berbagi bus dengan banyak orang yang sama sekali tidak saya kenal. Tapi dalam hitungan jam, kami sudah tertawa terbahak-bahak seperti teman lama. Makan bersama. Main bersama. Perjalanan ke Bali yang memakan waktu lebih dari sehari semalam itu berjalan tanpa terasa. Saya diterima dengan sangat hangat dalam kelompok teman yang beberapa jam lalu tidak saya kenal dekat. Sejak saat itu, saya tidak pernah pergi.

Hidup dibentuk oleh orang-orang yang Anda temui ketika menjalaninya. Perjalanan itu mendekatkan saya pada orang-orang yang berperan penting dalam membentuk hidup saya hingga sekarang. Saya menemukan tujuh orang sahabat, jatuh cinta pada dua di antaranya, bersaing dengan dua yang lain, ikut campur dalam hubungan pribadi semua orang, diintervensi oleh semua orang, tertawa, berkelahi, saling mendukung, saling mendorong, dan tumbuh dewasa. Mereka adalah orang-orang yang sangat penting buat saya.

Lucu ketika saya menyadari bahwa saya tidak terlalu ingat perjalanan ke Bali itu sendiri. Kami pergi ke tempat yang biasa dikunjungi wisatawan. Melakukan hal yang biasa-biasa saja tapi hingga sekarang, itu adalah perjalanan paling spesial dalam hidup saya.

Saya akan memberi banyak hal untuk bisa mengulang minggu itu.

Gambar via tinypic.com

Answered Apr 25, 2017

FcUgdmAhYkpSwZmwXWzKQkGb9vqOL-QZ.png

(sumber foto: instagram @nurilhudaas)

Perjuangan ke puncak Salak 1.

Pengalaman travelling yang paling berkesan bagi saya ialah ketika naik gunung. Semua pengalaman saya saat naik gunung menurut saya sangat berkesan, tapi kali ini saya akan menceritakan kesan saya pada saat mendaki Gunung Salak 1.

Salak 1 merupakan puncak pertama saya. Saya mendaki puncak Salak 1 saat SMA bersama dengan 14 orang teman angkatan saya yang sama-sama tergabung dalam kelompok penggiat alam SMA. Namun, pada saat itu kami belum resmi menjadi anggota, karena pendakian ke Salak 1 merupakan proses kami untuk dapat menjadi anggota keluarga baru dalam organisasi tersebut.

Awalnya dengan tekad yang kuat bersama dengan teman-teman yang lain, saya yakin mampu mendaki dan melewati Gunung Salak 1 ini. Namun ternyata, di awal perjalanan saja kami sudah disambut dengan jalanan yang sangat terjal menanjak. Padahal, jalanan tersebut masih aspal, menuju kaki gunung. Sampai di kaki gunung, teman saya pingsan satu orang. Seterjal itu medannya. Sehingga kami pun istirahat sebentar hingga menunggu kondisi teman saya fit untuk melanjutkan perjalanan.

Setelah melanjutkan perjalanan, tak disangka, medannya semakin berat, kini dengan alas tanah lembab dan lumpur kami harus melewati itu semua. Medan Gunung Salak memang terkenal terjal dan dikategorikan sebagai gunung basah. Ya, memang benar, tanahnya lembab, banyak sekali pohonnya rapat-rapat, lumpur, medannya terjal. Setiap melangkah itu tanjakan, dan seringkali pijakan di depan itu setinggi dada saya. Sehingga membutuhkan tenaga ekstra untuk kaki ini melangkah ke pijakan selanjutnya, dan terkadang butuh bantuan dari teman saya yang di depan atau bertumbu pada pohon-pohonan. Jalan menanjaknya 90 derajat, bukan lagi tanjakan, namun seperti tangga yang tinggi-tinggi, jalan tak beraturan, tanah basah, air, lumpur, semuanya kami lewati.

Sekitar 12 jam, saya mendaki Gunung Salak 1 hingga dapat sampai ke puncak, tanpa istirahat makan. Karena sebelumnya kami telah makan siang di bawah. Sehingga istirahat yang kami lakukan hanyalah istirahat-istirahat kecil. Dapat dibayangkan bagaimana lelahnya, jalan 12 jam dengan medan terjal 90 derajat, membawa carrier 90 liter. Rasanya di tengah sempat terpikir untuk menyerah, ingin pulang saja. Tapi turun pun sudah kepalang jauh. Sehingga saya kuatkan tekad saya untuk melanjutkan perjalanan walau dengan bersusah payah. Hingga akhirnya sampailah saya di Puncak Salak 1. Saat itu sekitar pukul 11 malam, gelap, yang dapat dilihat hanya cahaya bintang-bintang yang seolah-olah snagat dekat sekali dalam jangkauan.

Pagi harinya, luar biasa betapa indahnya lukisan Yang Maha Kuasa, terbayar sudah perjuangan saya mendaki puncak gunung dengan keindahan yang tidak akan bisa didapat di mana pun. Tidak ada kata-kata yang dapat menjelaskan keindahannya, lekukan gunung yang terlihat jelas, hijaunya tebing-tebing pohon, kawah, semuanya indah.

Pada saat turun pun saya harus melalui tebing, yang hanya bisa dilalui dengan menggunakan tali.

xnpHbNW1x1LcZmi_E7fd6TJgraK9IzyH.jpg

(sumber foto: google)

Lalu, pada saat turun sempat juga saya hampir jatuh ke jurang. Saat itu saya hanya berpegangan pada akar di batu, dan badan saya sudang menggantung, dengan bawahnya jurang. Mungkin saya saat itu keram otak atau sudah pasrah, saya juga tidak mengerti, saya hanya berteriak "tolong...tolong...." dengan suara tidak terlalu keras dan pasrah cenderung datar, ibaratnya "Alhamdulillah kalo ada yang nolong, kalo engga...".

Alhamdulillah kakak kelas saya mendengar suara saya, dan ia langsung berlari ke arah saya.

Lalu dia awalnya bingung bagaimana menarik saya ke atas, karena saya takut kalau melepas tangan saya. Akhirnya, ia menarik tas carrier yang saya gunakan. Ternyata ini manfaatnya mengapa tas carrier banyak sekali talinya. Alhamdulillah saya selamat.

Mengapa naik gunung berkesan bagi saya dibanding ke pantai atau ke tempat-tempat lainnya? Karena bagi saya, naik gunung mengajarkan saya banyak hal.

Bahwa segala sesuatu butuh proses. Apa yang diinginkan tidak dapat digapai dengan mudah, butuh perjuangan. Semakin tinggi puncaknya, semakin berat perjuangannya. Begitu pun dalam hidup. Semakin besar yang dicita-citakan, semakin besar pula usaha untuk menggapainya. Belajar untuk mengetahui limit diri sendiri, belajar percaya pada orang lain, karena di gunung kita harus mampu survive di atas kaki sendiri dan juga bekerja sama dengan teman-teman untuk dapat survive bersama-sama. Belajar juga menghargai proses. Proses itu seni, yang memberikan kepuasan tersendiri walaupun mungkin "puncak" itu tidak dapat kita raih, dan banyak yang dapat kita pelajari dari proses yang kita lalui.

Jangan lupa, bagi yang menyukai travelling ingatlah kode etik pencinta alam, yaitu

1. Jangan ambil apa pun kecuali gambar,

2. Jangan membunuh apa pun kecuali waktu,

3. Jangan meninggalkan apa pun kecuali jejak,

agar lingkungan kita tetap terjaga kelestariannya.

Answered Apr 25, 2017
Amril Taufik Gobel
Smiling Blogger (www.daengbattala.com) , lovely husband, restless father

KOuP2i-xsw0Yxxy00bR5R_ylvAF50fHW.jpg

Kenangan indah terpatri di benak saat saya kembali dari perjalanan ke Perth 3 tahun silam. Sejak keberangkatan untuk tugas kantor ke wilayah Barat Australia ini pada tanggal 25 Agustus 2013 silam, saya merasakan kegembiraan yang meluap-luap karena ini adalah kali pertama saya ke Benua Kangguru ini. Sudah lama sebenarnya saya mengidam-idamkan untuk memiliki kesempatan berkunjung ke Australia, namun saat ini baru "kesampaian" setelah saya diutus bersama 5 orang rekan lainnya untuk menghadiri training singkat dan demo aplikasi sistem ERP baru disana. 

_P_gZQGl0QdHdH_t1Zk3A_JqUnvYsPEg.jpeg

Saya tiba di Perth hari Minggu sore dengan pesawat Garuda Indonesia GA 724. Penerbangan langsung dari Jakarta yang ditempuh selama kurang lebih 4 jam menuju Perth ini rasanya tidaklah terlalu melelahkan. Mungkin karena antusiasme saya yang meningkat beberapa kali lipat mengunjungi bagian Barat benua ini plus hiburan film di atas pesawat yang tidak membosankan sehingga membuat saya begitu menikmati serta menghayati perjalanan. Cuaca sedikit mendung saat itu dan desir angin dingin bertiup sesaat setelah kami keluar dari area kedatangan Perth International Airport. Saya merapatkan jaket. Menggigil. Dalam hati, saya berharap bisa segera tiba di hotel dan segera menyeduh teh hangat. Tak lama kemudian gerimis turun membasahi area tempat kami berdiri. 

Bergegas, kami menuju ke pangkalan taksi yang terletak tak jauh dari situ. Dua kawan perempuan saya, Weny dan Erni terlihat menggigit bibir menahan dingin yang seakan mampu "menembus" jaket tebal yang kami kenakan. Suasana terasa hangat saat kami duduk di dalam taksi Alphard yang berkapasitas 7 tempat duduk ini. Setelah menyebutkan tujuan, taksi pun meluncur meninggalkan bandara menuju hotel. 

Sepanjang perjalanan menuju hotel, sang supir yang berkebangsaan India ini berkisah tentang salah satu sosok India fenomenal yang dikenalnya dan berasal dari Indonesia. "Mr.Punjabi, right? He's famous film producer in Indonesia, if I not mistake. Do you know him?" katanya antusias. Kami mengangguk-angguk setuju. Mungkin karena sebagian besar dari kami adalah penggemar sinetron-sinetron yang pernah diproduksi oleh Raam Punjabi ini :). Suasana hangat didalam taksi membuat kami terasa lebih nyaman. Dua puluh menit kemudian, akhirnya kami sampai juga di tempat kami menginap, di Fraser Suites. 

Rindu Kuliner Nusantara 

Setelah check in, saya menuju kamar 1207, kemudian mandi dan berpakaian. Saya kemudian memeriksa beberapa jaringan social media di mana saya aktif di dalamnya. Saya mendadak terkejut, saat ada DM (Direct Message) di twitter dari Abdullah Sanusi, adik sesama redaksi pengelola Surat Kabar Kampus "Identitas" UNHAS yang ternyata saat itu sedang menempuh kuliah jenjang doktoral bidang management strategy di Curtain University. "Sejam lagi saya jemput ya, Kak!" kata Doel--begitu panggilan akrabnya--dalam pesan DM-nya. Saya melonjak gembira. 

Tidak hanya karena bisa jumpa lagi dengan Doel sejak 6 tahun berlalu sejak kami pertama ketemu, namun juga saya merasa beruntung ada kawan di negeri orang yang bisa menjadi tempat bertanya tentang banyak hal di Perth. Doel memang sudah 2 tahun menempuh pendidikan di kota kecil ini dan rencananya, pada 21 September mendatang, ia akan memboyong anak dan istrinya dari Makassar. Sejam kemudian, saya menerima pesan DM lagi di Twitter bahwa Doel sudah ada di lobi hotel. Saya bergegas turun dan menemui Doel yang ketika itu datang bersama kawannya, sesama mahasiswa Indonesia.

"Apa kabar, nih, Doel? Bagaimana kuliahnya?" sapa saya hangat sambil bersalaman. 

"Baik, Kak, Alhamdulillah, saat ini sedang persiapan disertasi doktor saja. Yuk, kita makan malam!" balas Doel seraya tersenyum. Kami lalu bergegas menuju mobilnya yang diparkir tepat di seberang hotel. 

YSn85jrcngvAdyUz2ycx7oDTtfpsXAMp.jpeg

“Kita makan di Nandos Victoria Park, ya. Di pesawat, 'kan, sudah merasakan masakan Indonesia, sekarang mari coba sensasi rasa baru,” kata Doel yang mengendarai kendaraannya di jalan yang sepi. Saya melirik jam, baru pukul 19.30 dan suasana begitu lengang. 

“Hari Sabtu dan Minggu di sini benar-benar dimanfaatkan sebagai hari keluarga. Bahkan banyak mal dan toko yang tutup. Oh ya, di sekitar Victoria Park ini, banyak rumah makan Indonesia seperti Bintang & Batavia Corner,” ujar Doel saat kami memasuki halaman Rumah Makan Nando’s.

rY8WQlF2lo-js3Hv3MYvjf9PJLCY7itd.jpeg

Kami memesan ayam panggang khas Nando’s dilengkapi dengan kentang goreng. Saya takjub melihat potongan ayam panggang yang dilumuri saus special ala Nando’s berukuran lumayan besar. Suasana dingin membuat rasa lapar saya terbit. Tak ayal, kami pun segera menghabiskan hidangan yang disajikan dengan lahap. Seperti dijelaskan di sini, Nando's adalah rangkaian rumah makan siap saji yang berasal dari Afrika Selatan yang menyajikan makanan bernuansa Portugis. Nando's menyediakan ayam goreng dengan lemon dan herbal, dengan tingkat kepedasan sedang, pedas, atau ekstra pedas yang direndam dengan saus peri-peri (dikenal sebagai Galinha à Africana). 

Selain ayam, Nando's juga menyediakan makanan lain, seperti nasi pedas, kentang goreng (dengan garam dapur, atau bumbu peri-peri), asinan, jagung bakar, couscous, roti gulung dan salad. Di Australia, Bangladesh, Kanada, Indonesia, Kuwait, Lebanon, Malaysia, Selandia Baru, Pakistan dan Inggris Raya, kebanyakan restoran dicap sebagai halal. Begitu juga dengan Nando's yang berada di negara Muslim yang juga halal. Sedangkan sebuah restoran Nando's di Afrika Selatan dicap sebagai kosher. (Savoy Kosher Nando's).

Nama Nando's berasal dari nama Fernando, nama sang pendiri Nando's, yaitu Fernando Duarte. Bersama dengan sahabatnya, Robert Brozin, mereka membeli sebuah restoran bernama Chickenland di Rosettenville, dekat Johannesburg di tahun 1987 yang merupakan restoran pertama Nando's. Nando's juga kadang disebut Nando's Chickenland. Kami sengaja memesan sajian dengan level pedas maksimal alias "Extra Hot". Alhasil, cukup lumayan melerai dingin. Kami berhasil keringatan kepedasan saat menyantap hidangan ini. :) 

Dari Nando's, saya diajak mengunjungi rumah...(more)

Answered Apr 27, 2017
Jiwo Damar Anarkie
| Community Engagement Selasar | Co-Founder FLAC Indonesia | @dijiwa

XbkzgJ0QKJgg42EcUAlefDkv8YnWeePU.jpg

Saat berziarah* gunung tertinggi di Negeri Bavaria, Jerman! Zugpitze namanya, 2900an MDPL.

***

Pertengahan Juni 2013, saya diundang mewakili FLAC Indonesia menjadi salah satu presenter dalam sebuah konferensi di Belanda. Tak ayal, terlepas dari segala persiapan konferensi itu, pikiran pertama yang langsung terbesit kala itu adalah, NAIK GUNUNG SALJU! 

Namanya naik gunung, pasti membutuhkan fisik yang prima, apalagi ini gunung salju. Fisik yang dibutuhkan harus benar-benar prima, jauh lebih prima dari gunung daerah tropis. Konsekuensinya saya harus terima segala risiko dan tantangannya. Siap? 

Saya berpikiran, jalan-jalan ke Eropa bisa kapan saja, namun naik gunung, apalagi gunung salju, tak bisa ditunda. Mumpung umur masih muda, fisik masih bertenaga, apalagi belum ada tanggungan keluarga, mengapa tak coba saja memilih perjalanan yang berbeda dari biasa orang-orang berkunjung ke benua biru sana. 

Berbeda tentunya ketika suatu waktu saya diberi kesempatan lagi ke Eropa, bersama istri, anak, dan keluarga, naik gunung boleh jadi daftar pertama yang dicoret dalam daftar kunjungan itu, ya kan? 

Lalu, mengapa perjalanan ini sangat berkesan?

1. Zugspitze, gunung salju pertama yang saya ziarahi

Selama 22 tahun hidup saya, saya hanya berkesempatan menziarahi gunung-gunung tropis khas Indonesia. Dengan mendaki gunung salju, tentu saya mendapatkan pengalaman yang berbeda yang bisa jadi cerita untuk anak cucu saya. 
wXHd9x0Jyrdnvmk5BNSEsqxrv1YnqtAX.jpg
Saya tidak sendiri mendaki gunung ini. Sesampainya saya di Belanda, saya langsung menghubungi adik kelas yang sedang berkuliah di Jerman, mengutarakan keinginan saya untuk berziarah di puncak-puncak tertinggi di Eropa. Kami bertiga, ada Arga, kawannya Arga, dan Saya. Dokumentasi kami bertiga ada di video di akhir jawaban ini. 
 
2. Perjalanan terlama dan terpanjang dari seluruh gunung yang pernah saya ziarahi
 
Zugspitze punya beberapa jalur pendakian, (dapat dilihat di sini), namun ada satu jalur yang paling memungkinkan untuk dilewati, jalur Reintal. Jalur lain yang bisa dilewati dengan berjalan kaki, misalnya Ehrwalder Alp and Gatterl dan Austrian Snow Cirque tak menawarkan pemandangan yang tak lebih baik dari Reintal di samping, jalur Austrian Snow Cirque yang secara posisi, berada di Austria. Dua jalur lainnya, Höllental (Devil’s Valley) dan Jubilee Ridge, tidak mungkin dilewati karena membutuhkan teknik cilimbing (pemanjatan) vertikal. Layaknya panjat tebing, kedua jalur ini membutuhkan harness, kernmentle, helm, carabiner, dan alat panjat lainnya. Tidak mungkin kami lakukan karena memang tidak ada alatnya pun dengan kami bukan profesional menggunakan peralatan-peralatan itu.
 
Start dari Garmisch-Partenkirchen pukul 6, total kami membutuhkan waktu pemanjatan 14 jam di luar waktu bermalam. Panjang jalur Reintal yaitu 21 km, terpanjang dari seluruh jalur yang ada, ditambah dengan suhu yang lebih dingin dari gunung tropis, membuat kami merasa lebih cepat lelah. Rata-rata suhu saat kami berjalan di bawah 0 derajat celcius. Saya gunakan foto-foto untuk mendekripsikan perjalanan tersebut.
 b0Dm2HbhV37UNbZuh5OoXI4ieKIxY5Yg.jpg
a. Awal perjalanan kami di gunung ini adalah melewati pedesaan ala Eropa. Kurang kebih 1 jam kemudian, kami sampai di Pos Pendaftaran
 
9fQJfj2cXnsZAqy-iN_No9XlvCgH8UD8.jpg
b. Saya, setelah melewati pos pendaftaran, kami sampai pos pendaftaran pukul 07.00, pos belum buka. Kami yang seharusnya membayar 50 Euro, akhirnya tak membayar sedikit pun. Hehe
 
8Teq-7jSMIATcLuiEqEJdysV2FdD8jbq.jpg
c. Total ada lima pos di jalur Reintal yaitu PartnachKlamm, BockHütte, ReintalangerHütte, Knorrhütte, dan Puncak. Gambar di atas adalah pos PartnachKlamm, sebuah gua batu yang di dalamnya ada stalaktit dan stalagmit serta sungai kecil yang biasanya digunakan untuk kayaking.
 
Z6y3WK14P2DepgYOmsgAt1p6IGf9wpuP.jpg
d. Pos BockHütte. Tidak seperti gunung-gunung di Indonesia, pos/shelter di gunung-gunung Eropa digarap dengan apik, disertai dengan penginapan dan restoran. Tidak diperbolehkan untuk mendirikan tenda dan memasak di sana. Peziarah hanya mengeluarkan uang untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
 
vs0eoGm8_07jh1rzAPxA_3Oq7F9vgijq.jpg
iGp4KU5nf40xUVUrl5BiwcdZfbNkAdGF.jpg
e. ReintalangerHütte, pos perbatasan sebelum kita menuju trek menanjak tak berkesudahan. Foto ini diambil setelah kami menanjak sedikit. Untuk sampai pos ini, kami membutuhkan waktu 9 jam, bayangkan! 
 
yO8dwzGNXrDrVboGUxnOxeEOXV4DSQ-j.jpg
f. Nama posnya terbaca di gambar kan? Kami membutuhkan 9 jam perjalanan dari pos pendaftaran sampai pos ini. Di pos ini juga kami bermalam dengan membayar kurang lebih 60 Euro. Penginapan ini harus dibayar beberapa hari sebelumnya. Dari ReintalangerHütte ke Knorrhütte, inilah perjalanan hati sebenarnya. Ketika kami dihadapi tanjakan tak berkesudahan, ditambah kurang lebih 500 meter sebelum pos ini, kami terkena badai salju. Dinginnya sangat menusuk hati kami yang pada saat itu masih jomblo #canda. Ada rasa kami ingin pulang, tapi mau apa, perjalanan pulang justru mengulang lagi tanjakan-tanjakan itu.
 
Q88qlbPlD21B2zdiPFCmpPc1cczq4ZeE.jpg
g. Puncak! Lelah itu akhirnya terbayar! Rute dari Knorhutte sampai Puncak masih menanjak. Kami seringkali terjatuh karena sepatu gunung kami khusus untuk gunung tropis. Licinlah kami menginjak salju-salju itu. 
 
3. Rasa sakit paling sakit yang pernah saya alami selama naik gunung
Q-xLOoZzj3ZAZOqJWNoucGx9CkKKubzo.jpg
Bodohnya, tidak seperti pendaki lain, di gunung yang penuh "fasilitas" ini (setiap pos menyediakan makanan dan penginapan -red), kami menggunakan carrier besar untuk membawa bekal yang cukup lebay yang sebenarnya lebih cocok digunakan untuk tipe pendakian Himalayanan Style (rute panjang disertai fasilitas pos yang tak memadai, seperti di negara-negara Asia). Terlebih, saya juga membawa termos pemanas untuk membuat kopi, teh, dan pop mie (karena kami tahu, setiap pos gunung ini dialiri listrik 24 jam). Konsekuensinya, beban bawaan kami jadi sangat berat. Beban berat inilah yang membuat dengkul kaki kanan saya sangat-sangat terasa sakit, tidak bisa ditekuk. Bayangkan saja, 21 km kami harus membawa tas-tas besar itu yang beratnya lebih dari 10 kg. Malunya lagi, saya "dikatain" pendaki lain, apa yang kamu bawa? Untuk paralayang ya? Saya jawab, bukan, saya bawa makanan dan perbekalan lainnya. Sontak si Bule itu tertawa terbahak-bahak....(more)

Answered Apr 27, 2017

Fo-h4Fq27b2A0QXeO3KwLTJay_jhw54a.png

Mbolang di Jepang!

Selain momen itu lahir dibalik perjuangan berdarah - darah, hal itu juga membuka mata saya tentang mendewasakan diri dalam mengambil keputusan.

Salah satunya ketika saya memutuskan naik ke puncak Fuji H-3 kepulangan ke Indonesia. Mengingat saya hanya sebulan di Tokyo untuk ikut kuliah singkat di musim panas, pada 2013 saya punya angan - angan membuat video dokumenter singkat berkeliling Tokyo selama 12 atau 24 jam.

Apa lacur, kamera hp saya rusak. Akhirnya niat itu saya urungkan. Namun ditengah bulan saya menerima ajakan dari salah satu senpai SMA saya yang kerja di Nagoya untuk muncak ke Fuji. Saya pun menyambut ajakan beliau untuk meet up di kaki gunung tertinggi Jepang itu. Sayangnya beliau mengurungkan keberangkatannya dan rencana indah itu batal lagi.

Setelah saya renungkan, saya berpikir momen ke Jepang ini tidak datang dua kali dalam seumur hidup. Saya juga belum pernah merasakan puncak gunung sesungguhnya selama di Indonesia. Akhirnya dengan diperkuat istikhoroh saya memutuskan untuk pergi ke gunung Fuji. Sendiri.

Berbekal googling di kampus tempat saya kuliah singkat, Meiji University, saya gali informasi yang diperlukan untuk bisa mendapat sunrise dari puncak fuji mengingat musimnya juga tepat, musim panas.

Setelah mencari tanggal dan memesan tiket bis, bismillah saya yakin bisa merasakan indahnya sunrise di negeri matahari terbit. Toh cuaca keberangkatan juga mendukung dengan tidak adanya laporan badai atau angin kencang.

Perjalanan selama dua jam saya tempuh dari Tokyo ke kaki gunung Fuji, mungkin setara dengan Surabaya - Bromo. Akhirnya saya sampai pukul 16 di sana dan langsung tancap gas bersama banyak wisatawan baik lokal maupun asing menatap puncak Fuji.

Ditengah perjalanan saya juga bertemu dengan banyak wajah - wajah familiar ala Indonesia dan saya berbarengan dengan dua anak ITB yang sedang Kerja Praktik (ngeri juga KP-nya di Jepang, dibandingkan kampus sebelah yang paling seberang pulau).

Apa daya, ditengah perjalanan ternyata Allaah menurunkan hujan untuk memandikan kami.

Perjalanan terhenti di pukul 21 dengan kami berselimut aluminium foil agar hangat. Setelah berbincang akhirnya diputuskan kedua sohib ITB saya tetap di pos tunggu tersebut alias tidak lanjut ke puncak.

Bagaimana dengan saya?

Saya kembali dengan pemikiran awal saya berangkat ke Fuji bahwa momen ini tidak datang dua kali.

Pun ada adagium lokal yang menyatakan bahwa "hanya orang bodoh yang mendaki Fuji dua kali".

Akhirnya dengan hanya berbekal mantel dari trashbag yang saya lubangi tiga untuk kepala dan tangan membalut jaket hoodie tipis merah marun yang menyelimuti tiga kaos oblong, saya terjang hujan angin dari ketinggian kira-kira 2.500-an, 200 meter lagi dari puncak. Literally tidak 200 meter mengingat jalannya yang terasering membuat jalan menjadi berlipat - lipat jauhnya. Belum lagi sepatu yang saya gunakan bukan sepatu khusus outdoor namun alas kaki stylish dengan sol rata. (Jangan pernah mencoba jika anda tidak berpengalaman dengan dunia alam bebas)

Dengan permainan tangan dan menyelipkan kaki pada batuan, saya tiba di puncak pada pukul 23 dalam keadaan basah kuyup menggigil sampai ke tulang. Beruntung ada nihon-jin baik yang berbagi sup dengan saya ditengah ramainya pendaki menghangatkan diri berkumpul dibawah pondok pemberhentian. Dan ya, hujan terus berjatuhan hingga sang fajar telah datang. Akhirnya jam 7 saya putuskan untuk turun meski hujan masih menunggu menembaki saya dengan airnya yang deras dan dinginnya yang menggigit karena bis saya berangkat pukul 15.

Meski saya tidak bisa mengabadikan momen pertama dan bersejarah saya dalam dunia pendakian karena kamera saya rusak, cukuplah diri saya sebagai saksi bahwa seseorang bertanggungjawab dan menerima hasil dari pilihannya.

Tentu saya tidak akan mengalami sensasi dingin dibawah 0 derajat dalam guyuran hujan di ketinggian melampaui Semeru jika saya mengurungkan niat untuk berangkat ketika di Tokyo atau ikut dengan sohib ITB tetap di pos pemberhentian ditengah jalan.

Ya, Fuji mengajarkan saya bahwa kitalah yang bertanggungjawab atas masa depan kita dan bukankah hal ini juga ditegaskan dalam al Quran bahwa Allaah tidak akan merubah nasib suatu kaum kecuali kaum tersebut mengubah dirinya?

Terima kasih Fuji, mungkin besok saya harus mengajak anak istri saya di jalur lain agar tidak termasuk orang bodoh ya.

Domo arigatou! Fujiyama!

NB : 

Gambar diatas adalah satu - satunya cinderamata saya dari Fuji, tongkat mendaki yang distempel di setiap pos pemberhentian termasuk pos puncak. Saya patahkan menjadi dua sebagai bentuk tidak berangkat kedua kalinya (sebagaimana sindiran pepatah Jepang) dan yang paling penting agar bisa dibawa pulang karena kepanjangan, haha.

Sekarang sudah hilang entah kemana, yang penting pengalaman yang bicara.

Answered Aug 23, 2017
Fachruqi Waris
Universitas Hasanuddin l Rumah Kepemimpinan Ang.8 Regional 7 Makassar

VIJSDmGNYpvve_gB-cX0i-DdT2zYfkdl.jpg

Pengalaman traveling paling berkesan dalam hidup saya sampai saat ini adalah "i was can pic up the 1st winter season in kyoto, Japan" wohoooo.
mengapa? sebenarnya ada banyak yang mau saya tuliskan terkait kesan-kesan saya selama disana, tapi disaat saya menuliskan jawaban ini, ada banyak pikiran yang melayang-layang dan butuh diselesaikan haha. jadi mungkin selengkapnya saya akan tulis di jurnal selesar, kenapa harus jepang? :)
.

singkat saja, selama di Jepang hal yang paling berkesan adalah bagaimana mental orang-orang Jepang dalam berkehidupan sosial. Secara general nilai-nilai kemanusian sangat dijunjung di negara ini. mulai dari kedisiplinan, etos kerja, kejujuran, toleransi, pendidikan, hingga tata krama. selain itu saya juga kagum kepada pemerintah Jepang, bagaimana mereka mampu menata kota dengan rapi, indah, bersih dan aman untuk semua kalangan dan usia. 

Answered Feb 3, 2018

Question Overview


15 Followers
1504 Views
Last Asked 2 years ago

Related Questions


Apa destinasi wisata yang menurut Anda paling keren di Indonesia?

Apa saja tempat wisata yang belum terkenal di Indonesia, tetapi memiliki potensi yang luar biasa?

Apa tempat wisata paling menarik di Indonesia yang pernah Anda kunjungi?

Bagaimana rasanya mengunjungi pulau-pulau terluar di Indonesia?

Seperti apa rasanya pergi ke luar negeri untuk pertama kali?

Bagaimana cara traveling dengan biaya murah?

Apa alasan terbesar Anda melakukan travelling budaya?

Dari semua negara yang pernah Anda kunjungi, mana yang terbaik (Selain Indonesia)? Mengapa?

Dari semua makanan dari negara lain yang pernah Anda konsumsi, mana yang terbaik? Mengapa?

Negara mana yang tidak mau Anda kunjungi untuk yang kedua kali?

Gunung apa yang paling indah dan berkesan di Indonesia? Mengapa?

Apa destinasi wisata terbaik di Indonesia?

Apa yang istimewa dari Candi Borobudur sehingga banyak turis mengunjunginya?

Apa yang istimewa dari Gili Trawangan sehingga banyak turis mengunjunginya?

Apa yang istimewa dari Pulau Bali sehingga banyak turis mengunjunginya?

Apa yang istimewa dari Taman Nasional Gunung Rinjani sehingga banyak turis mengunjunginya?

Apa yang istimewa dari Danau Toba sehingga banyak turis mengunjunginya?

Apa yang istimewa dari Taman Mini Indonesia Indah (TMII) sehingga banyak turis mengunjunginya?

Apakah merek parfum yang paling cocok untuk wanita?

Apakah perbedaan antara parfum dan cologne?

Apa yang membuat harga parfum begitu mahal?

Apakah wanita mengenakan parfum untuk menarik perhatian pria atau ada alasan lainnya?

Apa tujuan laki-laki memakai parfum?

Bagaimana cara memakai parfum yang benar?

Bagaimana cara memakai cologne yang benar?

Apakah parfum yang aromanya paling maskulin?

Apakah parfum yang aromanya paling feminin?

Parfum pria apa yang aromanya bisa diterima oleh semua orang?

Apa kenangan terindah yang Anda miliki selama hidup yang tak mungkin Anda lupakan?

Apakah Anda mempunyai kenangan khusus dengan musik atau lirik lagu tertentu sehingga sulit melupakannya?

Apa lirik lagu, jenis musik atau suara penyanyi yang mampu menghadirkan kenangan masa lalu?

Apa lagumu hari ini yang mengembalikan kenangan masa indah lalumu dan ceritakan sebabnya?

Apa cerita tak terlupakan dan mengesankan yang Anda alami dengan teman sekelas?

Apa cerita tak terlupakan dan mengesankan yang Anda alami dengan teman sepermainan?

Jika di tempatmu berada kini sedang hujan, apa kenangan terindahmu tentang hujan dan mengapa kamu suka hujan?

Jika di tempatmu berada kini sedang hujan, apa kenangan terburukmu tentang hujan dan mengapa kamu trauma hujan?

Momen masa kecil di usia berapa yang masih Anda ingat sampai sekarang?

Apa saja musik anak-anak yang Anda ketahui?

Mengapa ponsel Xiaomi bisa sangat murah?

Apa yang harus dilakukan ketika anak menghadapi bullying?

Bagaimana cara yang tepat membuat anak yang pemalu menjadi aktif di kelas?

Mengapa memetik bunga sakura di Jepang dianggap tidak sopan?

Siapa teman setiamu saat liburan?

Kenapa rumah harus ada pintu dan jendela?

Menurut Anda, adakah ganda campuran yang pantas menggantikan Owi-Butet?

Apa arti "kesembuhan" bagi anda?

Apakah skill atau keahlian paling utama yang harus dimiliki seorang guru taman kanak-kanak?

Apa kabar mahasiswa masa kini?

Apa ketakutan terbesarmu?

Apa yang pertama kali harus dilakukan oleh orang tua manakala diketahui anaknya menonton video porno?

Jika Milea adalah istrimu sekarang, apakah kamu tidak cemburu dengan kisahnya bersama Dilan?

Tempat nongkrong apa yang paling asyik di Surabaya?

Bagaimanakah Pendidikan yang paling baik?