selasar-loader

Apa saja efek mengonsumsi PCC?

Last Updated Sep 18, 2017

1 answer

Sort by Date | Votes
Hari Nugroho
Suka single origin kopi Indonesia

 

Hasil gambar untuk pcc tablet

gambar via harnas.co

 

Salah satu permasalahan dalam bidang adiksi adalah adanya penyalahgunaan obat-obat resep. Dapat kita temui dalam kehidupan sehari-hari para penyalahguna obat-obat resep ini, utamanya adalah para remaja, dan umumnya mereka merupakan experimental users. Baru-baru ini di timur Indonesia, berita -yang kemudian menjadi viral- tentang penyalahgunaan salah satu obat tersebar. PCC disebutnya, singkatan dari Paracetamol, Carisprodol, dan Caffein, meski sebenarnya bukan hal yang baru, namun efek yang kemudian dialami pemakainya membuat heboh jagat dunia maya Indonesia, broadcast tulisan, gambar, dan video dengan cepat melesat ke penjuru negeri. Sebelum terkenal dengan PCC, penyalahgunaan obat yang mengandung Carisprodol telah lama terjadi, yaitu dengan penyalahgunaan obat legal yang di Indonesia dikenal dengan merek dagang Somadril dengan komposisi yang sama.

Yang menjadi pertanyaan kemudian adalah : apakah betul konsumsi PCC atau Somadril ini dapat berakibat buruk?. Prinsipnya obat jika digunakan dengan tepat, baik tepat indikasi, dosis, tepat siapa yang memberi, dan tepat siapa yang menerima, akan dirasakan manfaatnya yang dapat mengurangi atau menyembuhkan suatu penderitaan / sakit. Namun jika dikonsumsi dengan tidak tepat dan tanpa hak, maka bersiaplah akan efek samping yang terjadi, mulai dari yang ringan hingga yang paling buruk bahkan berujung pada hilangnya nyawa.

Carisprodol sendiri sebetulnya merupakan muscle relaxant , suatu pelemas otot, yang berguna untuk mereka-mereka yang mengalami gangguan musculoskeletal sehingga ototnya mengalami spasme seperti pada penyakit low back pain, multiple sclerosis dan lain sebagainya. Pada percobaan klinis penggunaan obat ini, tidak ditemukan efek samping kematian, namun dilaporkan bahwa pasien-pasien yang menggunakan obat ini ada yang mengalami efek samping berupa mengantuk (drowsiness), oleng (dizziness), dan sakit kepala. Setelah dirilis ke pasar, beberapa pasien melaporkan mengalami efek samping berupa takikardi (denyut jantung bertambah cepat), hipotensi postural, vertigo, tremor, agitasi, iritabilitas, reaksi depresi, sinkop (pingsan), ataxia (gangguan keseimbangan), insomnia, mual, muntah, bahkan kejang.

Penggunaan Carisprodol dengan obat-obat lain tentu akan meningkatkan risiko terjadinya kecanduan dan efek samping yang lebih berat, dan dapat berujung pada kematian, utamanya pengggunaan secara bersamaan dengan obat-obatan golongan benzodiazepin, opioid, anti depresan.trisiklik, maupun alkohol. Sebagaimana kasus di Kendari, kejang dan kematian dikarenakan konsumsi Carisprodol yang melebihi dosis terapi (sekitar 4 tablet) ditambah dengan penggunaan tramadol (analgesik opioid), dan triheksifenidil (anti parkinson), apalagi jika yang menggunakan adalah first time user maka risiko mengalami intoksikasi yang berakhir dengan kematian akan semakin meninggi.

Edukasi kepada khalayak untuk tidak gampang menggunakan obat-obat yang tidak jelas asal-usulnya sangatlah penting, utamanya kepada para remaja, dan harus mengajarkan kepada mereka suatu skill untuk menolak tekanan sebaya yang mengajak pada perbuatan negatif. Begitu juga dengan kebiasaan masyarakat membeli obat yang mestinya harus dengan resep dokter, harus dihentikan, agar betul-betul mendapat pengobatan yang tepat. Dan tentu saja pihak yang berwenang seperti badan POM dan kepolisian mesti berbuat ekstra dalam rangka melindungi anak bangsa dari penyalahgunaan zat.

Answered Sep 23, 2017