selasar-loader

[Diary #1] Bagaimana pengalaman mengajar pertamamu?

Last Updated Sep 11, 2017

i1Tk8oIa5GV9Nb3QOsUfA8-pVvMHnb1t.jpg

GM menggunakan suatu sistem pendidikan yang mengedepankan kemampuan anak dan memberikan dorongan terhadap anak agar mereka aktif, kreatif, inovatif serta berwawasan luas.

[Sayembara Selasar]

[Diary #1]

Hari pertama mengajar di SDN 2 Patuk Gunungkidul memberikan kesan yang mendalam bagi para pengajar Gadjah Mada Menginspirasi. Proses penyesuaian dibutuhkan secara cepat mendukung proses pembelajaran. Kurikulum pada semester ini mengedepankan sikap anti bullying melalui pembelajaran di dalam maupun di luar kelas. Berbagai permainan edukatif turut serta mendukung dengan beragam nilai moral.

Lantas apa pengalamanmu pada hari pertama mengajar?

Ketentuan:

- Diwajibkan untuk menyertakan gambar (di atas text jawaban) yang dapat mengilustrasikan pemikiran/ide/pengalaman/insight yang kamu miliki.

- Gunakan #Hashtag Nama Lengkap, Gadjah Mada Menginspirasi, BEMKMUGM (Contoh: #RoniDityaKusuma #GM2017 #BEMKMUGM)

- Demi kualitas jawaban yang baik, sangat disarankan menggunakan laptop/dekstop untuk menjawab setiap pertanyaan yang ada

- Bagikan setiap jawaban kamu ke sosial media yang kamu miliki (Facebook, Twitter, Line ataupun WhatsApp) agar jawaban kamu mendapat exposure yang tinggi di peer group yang kamu miliki

- Jangan lupa, setelah Kamu men-submit jawaban, di bawah nama ada button "edit bio topic", klik! Isi dengan keterangan sama seperti di bio utama, yaitu Pengajar Gadjah Mada Menginspirasi

Gadjah Mada Menginspirasi

Menginspirasi Dunia

8 answers

Sort by Date | Votes
Bella Hanabella
Pengajar Gadjah Mada Menginspirasi


utu-jxFz2TGA69jqXGW_7MZhOhDIW_1g.jpg

 

Hallo, aku mau menceritakan ya pengalaman pertamaku mengajar di Gadjah Mada Menginspirasi :)) Hari Sabtu tanggal 9 September 2017 adalah pengalaman pertamaku mengajar di SD. Aku pernah mengajar sebelumnya, tetapi mengajar anak kelompok-kelompok gitu, belom pernah mengajar langsung di SD, jadi hari itu bener-bener pengalaman pertamaku ngajar langsung di Sekolah Dasar, tepatnya di SD Patuk, Gunung Kidul. Untuk menuju ke sana harus melewati jalan yang naik turun wkwk, tapi tetep semangat lah ya kalau udah ketemu sama anak-anak di sana XD.

Oke setelah basa-basi, aku akan memulai cerita pengalaman mengajar pertamaku. Kami mulai mengajar sekitar pukul antara setengah 9 sampai 10. Kami memasuki ruang kelas 4 SD. Pengajar di kelas 4 terdiri dari 5 orang termasuk aku. Kami memulai mengajar dengan perkenalan dan ice breaking untuk membuat seru dan mencairkan suasana kelas. Kami juga memanggil nama mereka satu-satu melalui buku absen yang tersimpan di meja guru. Setelah itu, ternyata anak yang kami ajar tidak seluruhnya kelas 4. GM membagi kelompok anak yang kami ajar menjadi campuran antara anak kelas 3 dan 4. Semuanya telah beres lalu kami memulai mengajar kami kembali dengan ice breaking lalu mulai memasuki materi utama yaitu tentang BULLY. Kami juga meminta mereka yang berani untuk maju melakukan ice breaking.

Kami bertanya kepada anak-anak apakah tau tentang bully dan sebagian anak menjawab mengerti tentang Bully. Lalu kami meminta anak-anak untuk memberi contoh bully itu seperti apa dan mereka memberikan contoh bully dengan aktifnya yang membuat kami senang. Kami juga menambahkan tentang Bully beserta contohnya supaya anak-anak lebih mengerti. Kami juga melihat ada anak perempuan salah satu murid yang kami ajar duduk sendiri, teman-temannya tidak ada yang mau duduk di dekat dia. Melihat hal itu, lalu kami bertanya dengan melakukan pendekatan terhadap anak tersebut dan juga teman-temannya. Kami bertanya mengapa mereka (teman-temannya) tidak mau duduk dengan Karina (nama anaknya yang dibully). Lalu teman-temannya menjawab "Dia emang suka sendirian?" Terus kami bertanya ke Kirana "Kenapa kok kamu suka sendirian?" dia hanya menjawab "Gak papa". Ternyata anak perempuan yang duduk sendirian itu dipanggil teman-temannya dengan julukan lain atau bisa dibilang diejek gitu dengan sebutan Semarmesem (kayaknya lho ya, aku lupa). Terus kami bertanya lagi "Kamu suka gak dipanggil Semarmesem?" dia menggeleng pertanda anak tersebut tidak suka. Akhirnya pertanyaan kami beralih ke anak laki-laki yang sering mengejeknya/memanggilnya dengan sebutan Semarmesem "Kenapa kamu kok suka manggil dia pake Semarmesem?" terus anak laki-laki tersebut menajawab "Yo rapopo, kabeh yo manggil dee Semarmesem" jawabnya dengan bahasa jawa. "Kenapa kok kamu suka mengejek? Itu termasuk Bully lho" ucap kami. Anak laki-laki itu menjawab dengan bahasa jawa, intinya dia di rumah juga suka diejek/dibully dan dipanggil bukan namanya.

Oke, sekarang aku mulai memasuki ranah psikologi ya soalnya aku dari Psikologi nih angkatan 2016 jadi ngerti-ngerti sedikit deh tentang hal itu. Pada semester 2 kemaren, aku dapat Mata Kuliah Teori-Teori Kepribadian dan juga Mata Kuliah Rentang Perkembangan Manusia. Pada umur masa-masa Sekolah Dasar, anak sangat suka menirukan apa yang ia lihat. Jadi sebenarnya anak-anak usia tersebut walaupun diam, ia selalu melihat perilaku kita. Apa yang anak-anak lihat tersebut kemudian dicerna dan direkam di otak mereka lalu mereka akan menirukannya. Dalam kasus anak laki-laki yang kami ajar, hal yang dia lihat di rumah kemudian ia praktekan di sekolah. Anak tersebut menganggap apa yang ia lakukan itu tidak salah karena orang tuanya atau siapapun yang berada di rumah juga melakukan hal 'bully' tersebut. Padahal, peran pembentukan karakter anak yang paling penting adalah dari orang tua di rumah. Guru hanya menemani mereka hingga siang, selebihnya orang tua lah yang terpenting. Apalagi pada umur anak SD, orang tua adalah panutan dan idola bagi anak-anaknya.

Pada semester 2 kemaren, aku belajar Mata Kuliah Teori-Teori Kepribadian. Perilaku menirukan apa yang dilihat ada dalam teori psikologi yaitu Teori Belajar/Learning dalam aliran Behaviorisme. Inti dalam teori tersebut menjelaskan bahwa perilaku dapat dibentuk karena hasil belajar seseorang terhadap apa yang ia lihat/observasi. Jadi, sekarang yang terpenting adalah kami para pengajar dalam waktu sedikit (yang hanya datang setiap Sabtu) harus mencontohkan perilaku yang baik di depan anak-anak, karena anak-anak umur tersebut insha allah menirukan perilaku baik kita dan sangat rentan melakukan peniruan hal-hal yang tidak baik. Maka dari itu, harus bisa memanfaatkan waktu kami sebaik mungkin saat bertemu dengan mereka karena kami mengambil peran yang sangat penting supaya anak-anak tidak terbiasa membully satu sama lain karena mungkin saja di rumah mereka sudah terbiasa terhadap hal 'bully' tersebut.

Sudah dulu ya psiko-psikonya. Aku mau lanjut cerita ngajar Sabtu kemarin. Ternyata setiap anak di kelas tersebut sebagian mempunyai sebutan/julukan yang aneh-aneh. Dulu aku waktu SD juga begitu btw :( #MalahCurhat . Julukanku/arakanku waktu SD banyak pol tak terhitung HAHA tapi aku juga suka manggil mereka dengan julukan-julukan aneh juga jadi impas. Tapi menurutku indahnya masa SD itu karena hal gitu, jadi ada cerita gitu waktu gedhe kalo pernah dijulukin dengan sebutan ini itu #JanganDitiru #AntiBullying . Tapi ya balik lagi ke individu masing-masing, banyak juga yang sakit hati karena dipanggil dengan julukan aneh ((Kalo aku sih tipe cuek dan pembalas, waktu SD dulu lho)). Oke, balik ke cerita mengajar, jadi intinya masa-masa SD itu sangat rentan dengan pembullyan ejekan atau memanggil bukan dengan namanya -_- #Pengalaman . Maka dari itu, kami para pengajar yang akan membenahi hal tersebut, aamiin. Akhirnya kami menjelaskan kalau teman yang dipanggil bukan namanya itu akan merasa sedih, sakit hati, dan sebagainya, insha allah mereka mengerti dilihat dari raut muka mereka...(more)

Answered Sep 14, 2017
Rasya Swarnasta
Hidup untuk menulis, menulis untuk hidup.

0X2fOQ6WBRXpQfbJURFV-nU_qSAZAf0C.jpg
 
"Terus, kalau kita pada nggunting, Mbak Rasya ngapain?"
"..." (saya mati kutu, lalu hening berkepanjangan)
 
Lokasi mengajar kami ada di daerah Gunungkidul, tepatnya di SD Negeri Patuk II. Saya, bersama Mbak Sinta, Mbak Gina, Mbak Yus, Mas Azis, dan Mas Kim, ditempatkan untuk mengajar kelompok kelas 5-6 SD yang totalnya ada sebelas orang.
 
Kegiatan mengajarnya dimulai pukul 10:13, diawali dengan doa, perkenalan, kemudian pengantar mengenai apa yang akan kita lakukan. Pelajaran pada minggu ini yaitu memuat scrapbook pop-up, atau buku kliping, yang akan ditempeli gambar yang sudah digunting. Maksudnya pop-up itu, begitu bukunya dibuka, maka gambar tempelannya akan berdiri. Kayak begini:
 
ze4k3sTiyurbycIR8pYCrJ2BktAxSrEa.jpg
Gambar via BestPopUpBooks.com.
 
Satu kelas dibagi menjadi empat kelompok. Saya mendampingi kelompok yang terdiri dari tiga orang, namanya Rista, Hera, dan Novi. (Mereka nggak mau jawab waktu saya tanya nama lengkapnya.) Rista ini siswi kelas 6, sementara Hera dan Novi kelas 5.
 
Saya cerita tentang salah satu anak kelompok saya, ya. Namanya Rista. Rista ini anak yang bikin saya kayak naik roller-coaster. Bisa tiba-tiba mutung (dan kalau mutung, dia nggak sekadar mutung, dia menjauhkan barang-barang yang dekat darinya sambil bilang, "Mutung, aku mutung!" seperti dunia harus tahu), tapi tiba-tiba berperan aktif sendiri.
 
Sekali, ada percakapan begini.
 
"Rista gunting bagian ini ya."
"Ya ampun, nggak mau Mbak! Itu susah, guntingku ini juga melempem. Nggak mau, aku mutung!"
"Ya, saya aja--"
"Aku aja!"

Maksudnya dia bagaimana? Saya suka beberapa kali berpikir begitu sendiri. XD Dia juga yang membuat pernyataan yang saya kutip di awal jawaban, sempat bikin saya cengo karena saya nggak nyangka kalimat tanya itu muncul. Untung akhirnya saya ditawari bagian menghias halaman sampul scrapbook mereka.

Selain itu, ada juga Hera dan Novi yang menurut saya sangat akrab, ke mana-mana mereka bareng. Mereka jago bikin kertas lipat burung dan kupu-kupu.
 
a9V9ZetNhq0DfeF-NkaUtHSmyQfbvBuF.jpg
 
Hal paling favorit bagi saya justru waktu istirahat, karena saya diajakin mereka bertiga untuk jajan tempura lima ratusan. Pas banget, di saku saya cuma ada satu keping koin kuning. :')
 
#RasyaSwarnasta #GM2017 #BEMKMUGM

Answered Sep 14, 2017
Ummu Lathifah
Pengajar Gadjah Mada Menginspirasi | Psikologi UGM 2017

Fajar hari itu berbeda. Bukan, bukan karena alam yang bertranformasi. Bukan pula karena ada fenomena aneh yang instagramable. Hanya hal kecil yang mungkin menurut orang lain tidak terlalu spesial. Sepotong cerita yang akan turut menoreh warna dalam hidup. Sesuatu yang akan kulakukan dalam rangka menggali  potensi diri yang selama ini mungkin abu-abu, karena diriku yang terlalu pengecut untuk mengakui.

Aku terdaftar menjadi volunteer dalam salah satu UKM di Universitas Gadjah Mada, yaitu Gadjah Mada Menginspirasi. Sebuah UKM yang merupakan salah satu cabang dari program kerja BEM KM UGM yang kegiatannya yaitu mengajarkan tentang pendidikan karakter kepada anak-anak SD yang berada di tempat terpencil. Hal yang cukup menarik mengingat kondisi sosial masyarakat Indonesia yang sekarang sedang dalam keadaan krisis moralitas dan juga selaras dengan program kerja yang sedang digerakkan dalam pemerintahan presiden Joko Widodo.

Udara yang dingin pada awal bulan September mengawali akhir pekan yang biasanya kuhabiskan dengan bercengkerama di pulau kapuk. Bersama motor yang tidak terlalu butut, bahkan sudah kuservis sehari sebelumnya, aku membelah jalanan kota yang dipadati beragam jenis manusia, menuju titik kumpul di food court UGM. Namun, memang sudah menjadi tabiat orang Indonesia yang seakan menganggap hal ini adalah sesuatu yang biasa, hal yang wajar. Jam karet seakan menjadi properti penting dalam setiap kegiatan dan diamini hampir sebagian besar anggota. Setelah briefing singkat dan pengecekan peralatan, kami berangkat menuju lokasi tempat kami mengabdi di wilayah Patuk, Gunung Kidul.

Kami berkonvoi dengan menggunakan motor dan mobil. Ketika sudah memasuki wilayah antara Bantul dan Gunung Kidul, jalan sudah mulai berkelak-kelok dan menanjak. Motor yang kukendarai bukanlah motor matic, jadi aku harus menyesuaikan gigi motor sehingga tertinggal dengan rombongan. Selain itu, jalananpun di padati oleh kendaraan pribadi dan truk. Meski tertinggal, aku tetap berusaha berfikir positif bahwa rombongan akan menungguku di depan dan aku juga tidak sendirian, masih ada teman satu kelompok ku yang sedang kuboncengkan. Dan benar saja, di gang menuju lokasi mengabdi, beberapa rombongan menungguku. Aku hanya cengar-cengir yang mungkin terlihat seperti orang sakit gigi lantaran aku sedang  menggunakan masker. Merasa bersalah.

Lokasi mengabdi cukup jauh dari jalan raya, dengan dikelilingi oleh kebun jagung, lapangan, pemukiman warga, dan hutan jati sejauh mata memandang. Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam, kami sampai di lokasi. SD tersebut persis seperti yang kubayangkan. Sederhana. Mirip dengan SD di dekat tempat asalku dengan ruangan yang seadanya. SD tersebut terdiri dari 6 ruang kelas, perpustakaan, gudang, mushola, kamar mandi, ruang guru, uks, lapangan upacara, dan 2 kantin yang terletak di belakang sekolah.

Saat kami memasuki wilayah sekolah, kami disambut oleh puluhan pasang mata yang menatap kami dengan penuh antusias dan rasa penasaran dengan membawa berbagai macam makanan atau mainan. Mereka seperti menganggap kami, para volunteer, seperti makluk asing. Kami berkumpul di perpustakaan untuk briefing singkat dan menyiapkan peralatan. Aku mendapat jatah mengajar di kelas satu dan dua yang telah dibagi menjadi dua kelompok, ditemani oleh kakak-kakak volunteer yang lain.

Kami memiliki nama panggung yang akan digunakan saat kami perform di kelas. Jadi, adik-adik kelas satu dan dua akan memanggil kami dengan nama tersebut supaya mudah diingat. Kami menempati ruang kelas dua yang terdiri dari meja guru, papan tulis kapur, meja dan kursi selusin, jam, foto presiden, dan berbagai macam karya siswa di bagian belakang kelas. Sederhana memang, namun hal tersebut tak membuat semangat mereka luntur. Kami mengawali kelas dengan berdoa dengan menggunakan ice breaking ‘satu jari kanan satu jari kiri’ yang ajaibnya sudah diketahui oleh adik-adik.

Kami berkenalan dengan membuat lingkaran besar sembari menyebutkan nama dan cita-cita. Disini aku merasa menjadi diriku yang lain, berwajah ceria dengan penuh senyum serta gestur yang semangat. Entah seperti sok anak kecil, mbak-mbak alay, atau sedang kerasukan. Mereka memiliki cita-cita yang beragam. Ada yang ingin menjadi polisi, tentara, penari, koki, guru, dan dokter. Aku hanya tertawa dan mengamini. Ternyata mereka memiliki cita-cita yang sama seperti saat aku duduk di bangku sekolah dasar dan berganti setiap kali masuk ke jenjang yang lebih tinggi.

Tentu tidak semua murid berkenalan sepertiku (hahaha). Ada yang sangat pemalu, hingga suaranya pun tidak terdengar, lantas hanya kuamini. Ada pula yang sok-sokan pemalu hingga malu-maluin. 

Tema mengajar pada semester ini adalah tentang anti-bullying. Karena kami mendapatkan jatah mengajar di kelas satu dan dua maka metode yang digunakan utnuk menyampaikan hal terkait dengan anti-bullying dalah dengan menggunakan permainan agar mereka tidak cepat bosan. Permainan yang kami gunakan adalah ular tangga. Namun ular tanggga tersebut sudah dimodifikasi. Cara memainkannya seperti cara bermain ular tangga biasa dengan menjalankan biduk setelah mengocok dadu. Namun, dalam permainan kali ini, setiap kali pemain mendapatkan tangga maka mereka akan naik dan harus menuliskan hal- hal yang baik di kertas lipat yang sudah ditempelkan pada nomor di atas tangga. Apabila pemain mendapatkan ular maka meraka akan turun dan menuliskan hal-hal yang buruk di kertas lipat yang berada di ekor ular.

Kelas dibagi menjadi empat kelompok dengan menggunakan ice breaking people to people, yang masing kelompok terdiri dari tiga orang  anak dan satu atau  dua kak pemandu yang akan ikut bermain. Dengan dadu yang terbuat dari karet penghapus, dan biduk yang terbuat dari sobekan kertas lipat serta bertuliskan nama masing-masing anak, maka permainan pun dimulai.

Kelompok yang kuampu berhompimpah terlebih dahulu untuk menentukan urutan bermain. Permain pertama adalah Salwa yang ekstrovert, lalu Nadine siswa kelas satu yang pemalu, ketiga adalah...(more)

Answered Sep 15, 2017
Bella Ayu Permata
Pengajar Gadjah Mada Menginspirasi

Q16SyG6Hv7KIlLAz5jtwJEwsJ1RLFn00.jpgG-Wva0bXe6WsayH2iQij4rnQLYyhcS0h.jpgiIEnu_CE85v7KTOQX7mkCQZ_-GI1JTH0.jpg0EIt9Revlw41BYfF31_u0_-r7Dde5nAA.jpgZTAIrmXcnak1ajkr1V_7uJQZL4dUthOm.jpgpN4H3yipA8ZEb6hf-GTu4hfAv0wyNPdc.jpg

Permulaan Baru itu Bernama SD Pathuk II

 

Indonesia. Negara dengan belasan ribu pulau yang mungkin butuh waktu puluhan tahun untuk mengelilinginya. Di antara sekian banyak provinsi, kota atau kabupaten, kecamatan, dan desa atau kelurahan yang dimilikinya masih banyak yang harus kita perbaiki, tambal sana sini dengan kebersamaan. Sudah 72 tahun negeri ini merdeka, namun kemerdekaan pendidikan itu belum dapat terjamah seluruhnya. Kesenjangan yang terjadi antara pulau-pulau terluar, desa terpencil, dan kota terasa adanya bila kita berbicara tentang sekolah yang layak bagi para pelajar. Berangkat dari sini, Indonesia membutuhkan tangan-tangan orang yang ingin memberi ulurannya menuju Indonesia yang lebih baik ke depannya dan mungkin suatu berkah tersendiri ketika saya bisa memberikan sedikit kebermanfaatan dengan apa yang saya miliki ke salah satu sekolah dasar yang berada di Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

 

Selalu ada hal yang berbeda dan mengesankan setiap memulai pengalaman mengajar yang baru di tempat yang berbeda. Suasana yang berbeda dan beragam anak-anak yang istimewa membuat saya berpikir bahwa Tuhan begitu adil dengan setiap makhlukNya. Kita diciptakan dengan keunikan dan kespesialan diri masing-masing. Itulah yang pertama kali aku tekankan dalam diri ketika melihat anak-anak. Ketika anak-anak mulai bersekolah, mereka mulai bertukar pikiran. Hal-hal yang telah diajarkan di rumah sebagai bentuk pendidikan dasar dari orangtua masing-masing saling bercampur aduk dan tumpah ruah dalam hari-hari yang mereka jalani di sekolah. Satu sama lain saling menularkan pengetahuan, sikap untuk ditiru, dan segala hal tentang tutur kata. Dari sekolah itulah, lingkungan kedua setelah keluarga yang memberi banyak dampak dalam perkembangan mereka selanjutnya. Mulai dari yang paling baik sampai yang paling kurang baik. Mulai dari masalah akademik yang berkaitan dengan semua tentang pendidikan di sekolah, sosial pribadi antara diri sendiri dengan berbagai golongan yang ditemui di sekolah, karier yang tentang diri sendiri, dan masalah keluarga.

 

Terkait masalah-masalah di atas, masalah pribadi dan sosial memiliki kaitan yang erat dan vital dalam proses pembelajaran. Seperti tema yang diangkat GM Menginspirasi XVII yaitu anti-bullying.  Mengapa harus mengangkat tema itu? Menurut riset yang dilakukan oleh Plan International dengan International Center for Research on Women atau ICRW, sebanyak 84% anak muda di Indonesia berusia 12-17 tahun mengalami kekerasan di sekolah. Angka tersebut jauh lebih tinggi dari angka rata-rata di kawasan Asia yang berada pada 70%. Namun, tak semua bentuk kekerasan tersebut dikategorikan sebagai bullying. Temuan terpisah menunjukkan bahwa 40% anak muda di Indonesia mengalami bullying di sekolah, sementara 32% dari korban bullying tersebut menjadi korban kekerasan fisik (UNICEF, 2015). Yang menarik, sebanyak 72% anak muda mengaku pernah menjadi saksi dari kekerasan terhadap anak–baik kekerasan fisik, psikis, maupun seksual. Jadi, dapat diambil kesimpulan bahwa anak-anak sering mengalami kekerasan di sekolah.

 

Menurut UNICEF juga pada 2015, 1 dari 3 anak perempuan dan 1 dari 4 anak laki-laki di Indonesia mengalami kekerasan. Perbedaan tipis ini menunjukkan bahwa perempuan lebih rentan mengalami kekerasan dengan 1.799 kasus adalah pada anak perempuan. Dalam kurun waktu tahun 2011 hingga 2016, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menemukan sekitar 23 ribu kasus kekerasan fisik dan psikis terhadap anak. Namun, dari angka itu tercatat ‘hanya’ 253 kasus yang dikategorikan sebagai kasus bullying. Ini membuktikan kasus bullying masih jarang dilaporkan. Padahal sampai Juni 2017 untuk data tahun ini, Kemensos menerima data lebih banyak dibanding tahun lalu yang berarti bahwa perlahan-lahan masyarakat semakin sadar akan adanya bullying untuk dilaporkan dengan 117 kasus. Kelihatannya sedikit untuk negara terbesar keempat di dunia, karena kebanyakan tidak dilaporkan sehingga sulit untuk melacaknya. Makanya dari sekian fakta di atas menjawab mengapa diperlukan pengetahuan terkait bullying itu sendiri sedini mungkin yang bisa dimulai dari sekolah dasar, tempat pertama mereka berheterogen mengenal dunia dengan cara lebih luas.

 

Dari beberapa paparan di atas bisa menjadi landasan mengapa perlu ada kurikulum di sekolah tentang anti-bullying. Hal ini berusaha diwujudkan GM Menginspirasi XVII. Sabtu, 9 September 2017, minggu pertama saya mengajar. Saya ditempatkan di kelompok dua yang berisi campuran anak-anak sekolah dasar kelas satu dan dua. Bersama Kak Ulat, Kak Sanci, Kak Fifin, Kak Xanxan, Kak Sekar, Kak Filah, dan Kak Mamad, kami menjalani dua jam yang berharga bersama anak-anak. Hari itu saya membantu memimpin jalannya kelas dan dilakukan permainan ular tangga dalam kelompok berjumlah tiga dengan masing-masing anggotanya empat orang. Di mana pada setiap ada tangga, anak anak berdiskusi lalu menyebutkan perilaku baik yang mereka tahu atau pernah dilakukan, sementara pada setiap ular mereka menyebutkan perilaku yang kurang baik dilakukan maupun ditiru. Mereka sangat antusias bila dipancing dengan permainan. Ice breaking-ice breaking pun diselipkan di antaranya. Sabtu kala itu berjalan menyenangkan dan lebih bermakna. Seperti yang aku alami sebelumnya, di tengah keterbatasan yang mereka miliki (Sekolah tidak di daerah perkotaan dan fasilitas memadai namun cenderung seadanya), mereka justru malah menginspirasi saya yang sebagai seorang pengajar. Bersyukur dengan apapun yang saya dapatkan dalam hidup dan lebih memandang segala sesuatu dari perspektif lain. Terima kasih kepada semua yang hadir dan berkontribusi pada hari itu. Tanpa kalian semua, pengalaman pertama mengajar ini tidak akan semenakjubkan yang seharusnya. Oh, ya, ada kejutan yang ingin saya bagi juga. Saat berada di perpustakaan, saya menemukan suatu prakarya dari kertas lipat yang dibuat oleh Naswha (Saya belum sempat mencari...(more)

Answered Sep 16, 2017
Aldina Himmarila Muliawati
Pengajar Gadjah Mada Menginspirasi

Sabtu,9 September 2017.

Pengalaman pertama kali untuk mengajar di depan adek-adek yang berada di ruang kelas 4 SD Patuk II,Gunung Kidul,Yogyakarta. Siswa yang berada di kelas kami adalah campuran dari kelas 4 dan kelas 3. Pertama kali datang, kelas masih belum kondusif,beberapa anak berlarian dan berteriak kesana kemari. Hal tersebut menjadi sesuatu yang menantang harus diselesaikan oleh kami para pengajar di kelas tersebut. Dengan melakukan perkenalan, bernyanyi, ice breaking, dan mengenalkan materi yang dibawakan kami membuat kelas menajdi kondusif, sehingga kami dapat dengan mudah menyampaikan materi kepada adek-adek. Materi yang dibawakan adalah tentang Bullying. Adek-adek SD Patuk II khususnya yang berada dikelas 4, merasa sudah mengerti dengan baik apa itu pembulian, bagaimana pembulian itu terjadi, dan diantara mereka ada yang merasakan secara langsung pembulian tersebut, Pembulian yang mereka alami, kerap membuat mereka merasa tersingkirkan. Beberapa dari adek-adek bercerita pengalaman mereka pribadi tentang pembulian yang merasa rasakan. Kami memakai cerita Bawang Merah dan Bawang Putih dalam bentuk scrapbook yang dibuat olh adek-adek dan dibantu kami untuk menyampaikan materi kepada adek-adek dengan mudah supaya mereka mudah memahami apa yang kami sampaikan. Dalam prosesnya, adek-adek mendesain bagaimana bentuk dari potongannya, mewarnai, dan melipat sebagai hiasannya. Alhamdulillah, pertama ngajar adek-adek sudah memberikan pengalaman yang tidak akan pernah saya lupakan. Karena bisa mengajar mereka adalah cita-cita saya sejak kecil:)

#AldinaHimmarilaMuliawati #GM2017 #BEMKMUGM

Answered Sep 18, 2017
nafilah rizqy
Pengajar Gadjah Mada Menginspirasi, college student of Psychology UGM

Dia bukanlah Lintangku : tahun 2017

Vaikuntapali

Aku rela mendongakkan kepalaku dan memonyongkan bibirku beberapa senti melewati tralis jendela kamar, demi berbisik pada udara “Hei, Semesta!! Siap menakhlukan hari?”. Aku tersenyum. Hipotesisku, hari ini menyenangkan. Latar belakangnya, hari ini kembali mengajar. Ah, aku terlalu bersemangat!!

 Pagi itu sempurna, senyum puasku menutup sesi briefing bersama rekan pengajar. Bagaimana tidak, kami benar-benar seperti Sersan Keroro dan peletonnya yang sangat bergairah setelah dapat wangsit rencana dahsyat untuk menginvasi bumi. Padahal yang kusampaikan tak lebih dari teknis menginvasi otak anak-anak dengan pola pikir baru. Mungkin kami hanya terlalu bersemangat.

Ada wajah-wajah yang timbul-tenggelam sepanjang perjalanan. Usahaku me-recall nama dan wajah-wajah lugu murid SDN 2 Patuk ternyata menyenangkan juga. Jauh dari maksud mengistimewakan, tapi beberapa wajah memang menyita ruang lebih dalam ingatan. Asumsiku, mungkin karena mereka sempat mencuri perhatianku saat sesi bonding. Musa contohnya, lelaki kecil sipit kelas 1 yang berbadan agak tambun, berambut jarum dan Jawa tulen. Aneh, karena ia selalu mengingatkanku pada A Kiong, Tionghoa lugu Laskar Pelangi. Bahkan sejak pertamakali kami berbalas senyum. Musa benar-benar jelmaan A Kiong! ia selalu punya senyum lebar dan terlalu setia pada Mahar. Dan akulah si Mahar, yang selalu dibuntuti Musa sedapat mungkin.

Amelia, yang centil memang, tapi semangatnya luar biasa. Amel-lah yang paling semangat bercerita bagaimana menyenangkannya pulang sekolah. Menunggu kakaknya sampai tengah hari untuk pulang bersama, lalu menghabiskan waktu 30 menit lebih menapaki jalan cor yang sudah mulai retak  adalah rutinitas. Keningku mengkerut tanpa diminta. Aku tahu betapa jalan yang harus dilewatinya adalah jalan menanjak dan menurun khas Gunung Kidul, dan udara begitu kering saat tengah hari. Hanya yang tidak kutahui, bagaimana bisa ia bercerita dengan semangat ibu gossip, bukannya mengeluh. Dia mungkin memang bukan Lintang Laskar Pelangi, yang harus menempuh 80km untuk pulang-pergi sekolah. Jantungnya juga tidak harus beradu dengan takut karena jalannya dihadang buaya. Tapi semangat Lintang ku temukan dalam senyumnya.

Atau Vino, si bocah mata sapi. Tuhan memang Maha Adil, mata Vino ditakdirkan agak belo untuk mengimbangi pupilnya yang selalu melebar takjub, bahkan pada hal sepele. Caranya menatap dan tersenyum selalu menarik, kurang-lebih seperti Squarepants yang selalu dijanjikan surat izin mengemudi.

Sebenarnya apa-apa yang ku ingat tentang mereka selalu menarik, tapi mungkin kisah tentang Syahdan lebih. Kisah itu bermula saat penutupan sesi bonding dengan anak-anak. Senyumku mengembang dan langkahku kecil-kecil, mengimbangi langkah anak-anak menuju gerbang sekolah. Mereka yang dijemput menghambur ke barisan orangtua yang duduk di atas kendaraan. Belum rampung tanganku melambai, mataku tertegun melihat caping bergerak-gerak dibalik tembok gerbang sekolah. Aku melangkah mendekati caping itu, dan menemukan Syahdan menghambur pada seorang wanita paruh baya bercaping. Mungkin usia wanita itu lebih muda dari persepsiku, tapi wajahnya yang lelah, baju sederhana yang sedikit sobek dibagian lengan pun di celana kotak-kotak yang dikenakannya, dan telapak kaki beralas bumi itu memang seperti menggambarkan usia paruh baya. Wanita tanpa alas kaki itu ternyata ibunda Syahdan. Beliau satu-satunya wali murid disana yang ku tahu menjemput anaknya tanpa kendaraan, dan ku temukan beliau biasa menunggu dibalik tembok itu, tidak menyatu dengan barisan wali murid berkendaraan yang lain. Senyum sahajanya menyiratkan pesan pamit, sesaat setelah sesi bincang singkat denganku. Belum jauh dari sekolah, kulihat Ibunda itu menawarkan  bantuan untuk menggendong tas Syahdan. Sungguh aku luluh! Ibunda sederhana itu menggendong tas anaknya, seakan tak rela anaknya lelah kecuali untuk belajar. Lengan cokelat terpapar ultraviolet Ibunda itu sesekali melingkar di pundak Syahdan. Manis sekali!

Seringnya aku larut dalam haru, jika mengasosiasikan hal-hal didepan mataku dengan butiran kisah tetralogi Andrea Hirata itu. Punggung Syahdan menjauh, pun imajinasiku. Syahdan dalam pikiranku kala itu, tak ubahnya Ikal yang selalu membuat ayahnya bangga bahkan dengan ranking 75-nya. Tak ada balasan lain dari rasa bangga itu, kecuali tepukan hangat dan tangan kasar yang dilingkarkan di pundak Ikal. Seandainya ayahnya mampu, pasti akan ia akan mendapatkan lebih. Mungkin Syahdan juga.

Ada satu rahasia kecil dibalik nama Syahdan. Tapi ada hal yang harus ku verifikasi, sebelum rahasia itu ditahui orang lain. Aku akan memverifikasinya dalam proses pembelajaran hari ini. My Godness! Ini sudah lebih dari setengah perjalanan, tapi aku lupa bahwa aku pelupa. Jantungku tidak mau diajak berkompromi, kulitku memanas tanda kelenjar keringat sudah siap produksi. Tapi tidak jadi. Dadu dan papan-papan ulartangga, senjata utama kami untuk menginvasi anak-anak akhirnya kudapati dalam ranselku. Walaupun pionnya tidak. Ya, hari ini kami akan saling bertarung dalam kotak-kotak ulartangga edukasi. Hipotesis keduaku, kami tidak akan lelah bermain. Tapi aku lelah bercerita sekarang. Saran, untuk diriku sendiri: teruskan naf! Esok !

Adalah permainan asli sebelum disadur menjadi ulartangga, Vaikuntapali. Disertakan disini, selain mengapresiasi beliau yang telah memberi saya pengetahuan lebih, adalah agar Anda juga bisa lebih tahu J. Tadaa! https://unik.babe.news/2a82ba/asal-usul-permainan-ular-tangga/.

Answered Sep 20, 2017
Santini Dewi Putri
Gelak Belasan Asa: Nugroho

“Perbuatan terpuji itu contohnya apa, Nugroho?”

“Memberi, Mbak.”

“Memberi apa?”

“Es krim hehe”

“Nugroho suka es krim ya?”

“Iya, Mbak.”

“Suka rasa apa, Nugroho?”

“Stroberi hehe”

            Di atas merupakan segelintir konversasi dari puluhan kata terucap. Bermula dalam suatu komunitas, sebut saja Gadjah Mada Menginspirasi (GM Menginspirasi), saya diizinkan untuk mengenal anak-anak SD Negeri Patuk 2 di Gunung Kidul. Khususnya, kelas satu dan dua. Layaknya khalayak umum sering berujar bahwa mengurus anak kecil tidak semudah membuat mereka tertawa, membentuk karakter mereka yang masih mudah terombang-ambing dengan lingkungan nyatanya jauh lebih sulit. Pun saya menantang diri sendiri menyelami kepribadian mereka sembari bernostalgia ringan.

            Pada semester kedua tahun 2017, GM Menginspirasi mengusung tema ‘Anti Bullying’ dalam setiap bahan ajar per minggunya. Sabtu pagi yang cerah di tanggal 8 September 2017 menjadi awal ikhtiar konkret kami sebagai pengajar tatkala menyusuri perjalanan selama kurang lebih satu jam. Hamparan lanskap dari Bukit Bintang yang memukau sempat menarik perhatian kami sebentar dan saya mengilhami, “Inilah yang akan menjadi pemandangan kita setiap Sabtu sampai tiga bulan ke depan.” Arkian, rentetan motor kami terus bergerak hingga tampaklah sebuah sekolah tak bertingkat dengan lapangan tanah luas di muka.

            Kala itu, jam istirahat sedang berlangsung. Ada anak-anak berlarian ke sana kemari. Ada yang melompat. Ada yang tertawa. Ada yang duduk diam sendirian di tepi lapangan. Ada. Saya cukup berdengap mengingat ini kali pertama mengajar formal.

            Lonceng manual berbunyi. Para pengajar yang sebelumnya berkumpul untuk pengarahan di ruang perpustakaan mulai berberes dan bersiap ke kelas masing-masing. Saya dan beberapa teman lain yang telah ditunjuk sebagai pengajar kelompok dua memasuki ruangan yang cukup luas. Tersedia tiga belas bangku dan enam meja membentuk huruf U yang memang ditujukan bagi tiga belas anak kami. Mula-mula, kami mengabsen mereka satu per satu. Farrel tidak dapat hadir pada minggu itu sehingga total murid berjumlah sebanyak dua belas anak. Berangkat dari doa, kegiatan mengajar perdana kami resmi dimulai.

            GM Menginspirasi pada dasarnya bukan mengajarkan baca-hitung-tulis. Para guru (kami harap) sudah mengajari materi itu dari hari Senin sampai Jumat. Kami di sini berniat membangun karakter mereka agar munculnya keteraturan pribadi, sosial, dan emosi serta lebih peka dengan lingkungan sekitar. Kognitif tanpa afektif adalah hampa, bukan?

Nugroho: Anak Jawi yang Diam-Diam Hangat

            Ular tangga. Sebagian besar insan di Indonesia pasti pernah bermain permainan ini. Tanpa terkecuali Nugroho, Fajri, dan Hamut. Saya diberi kesempatan membimbing mereka dalam memainkan ular tangga biasa tidak biasa ini. Biasa karena sudah lazim. Tidak biasa karena kami sudah menaruh tempelan kertas di beberapa kotak penyusun jalur. Apabila kita mengocok dadu dan mendapat kesempatan naik, terdapat tangga kesuksesan yang membantumu memanjat. Namun, jika kurang beruntung, ada ular licik yang siap-siap membawamu turun. Berfilosofi demikian, kami menempel kertas di atas gambar tangga dan di bawah gambar ular. Seandainya salah satu dari kami jatuh ke kotak yang menghendaki kami untuk naik tangga, kami harus menulis salah satu perbuatan terpuji. Sedangkan, bila kami terjerembab pada kotak yang meminta kami turun menaiki ular, kami harus menulis perbuatan tidak terpuji.

            Sejak prolog tersingkap, Nugroho telah menarik perhatian saya di kelas. Membutuhkan kesabaran yang tidak sedikit saat menangani anak bermata bundar itu. Tangannya sulit diam dan sering jalan mengelilingi kelas. Kartu namanya yang berupa post-it kuning dirobek-robek supaya Nugroho bisa membentuk kumis kucing dan ditempelkan pada wajahnya.

            Suatu ketika, Hamut mendapat giliran untuk naik dan menulis perbuatan terpuji. Akan tetapi, Hamut belum pandai menulis. Saya pun bertanya kepada mereka, “Siapa yang mau bantu Hamut menulis?” Nugroho yang sigap menawarkan diri lalu menggantikan Hamut menulis. Tulisan tangannya tertoreh besar-besar di kertas berwarna pink. Menghasilkan jejak kata bermakna apik.

            “Giliran aku! Giliran aku!” serunya lantang seraya mengocok dadu buatan dari potongan penghapus yang tim pengajar buat.

            “Siji, loro, telu. Yah, aku turun, Mbak,” tutur Nugroho kecewa.

            “Wah, sayang sekali. Berarti Nugroho harus tulis satu perbuatan tidak terpuji. Apa hayo?”

            “Hmm, menjotos teman! Nih!” tangan kanannya berulah mengenai kepala Hamut si paling kecil. Kontan saya berucap, “Eh, tidak boleh begitu, Nugroho. Hamut itu sahabat Nugroho kan?”

            “Iya, Mbak.”

            “Berarti Nugroho sayang Hamut dong?”

            “Iya hehe”

            “Kalau sayang, coba Nugroho peluk Hamut.”

            “Siap, Mbak!” Nugroho menjawab sambil merengkuh Hamut yang terkekeh malu. Ah, rasanya saya ingin mengabadikan kebersamaan mereka. Akan tetapi, sesuai Prosedur Operasi Standar (POS) yang berlaku, kami dilarang menggunakan smartphone selama proses kegiatan mengajar.

            Tak dipungkiri, anak-anak mudah merasa bosan. Nugroho jua. Empat puluh lima menit bermain ular tangga, Nugroho sudah mulai bolak-balik ke pojok kelas. Kebetulan Hamut mencapai posisi yang paling tinggi dari kami, saya memutuskan menyelesaikan permainan dan memberi selamat kepada Hamut sebagai pemenang. Lantas, saya menghampiri Nugroho yang sedang berbaring di atas meja dan mengajak dia duduk berhimpitan bersama saya, Hamut, dan Fajri di atas dua bangku.

            Kami mengobrol sekaligus saya membahas kehidupan tiga anak lelaki ini. Punya berapa saudara? Ke sekolah naik...(more)

Answered Sep 23, 2017
Azis Jamal
Pengajar Gadjah Mada Menginspirasi

Kungfu Panda dan Frozen (Part 1)

Sabtu, 9 September 2017

Hari itu ku datang memakai motor. Saat tiba kumelihat anak-anak penuh semangat bermain bola. Begitu lincah berlari kesana kemari. Mereka seperti tidak punya rasa lelah. Dan aku berpikir bisakah aku mengajar mereka dengan baik?

Anti Bullying. Tema hari itu adalah Anti Bullying. Jikalau boleh mengutip dari Victorian Departement of Education and Early Chilhood Development ,  bullying terjadi jika seseorang atau sekelompok orang mengganggu atau mengancam keselamatan dan kesehatan seseorang baik secara fisik maupun psokologis, mengancam properti, reputasi atau penerimaan sosial seseorang serta dilakukan secara berulang dan terus menerus. Dari situ kelompok 6 mengangkat sebuah cerita di mana di situ terdapat pembulian.

Kalau kalian pernah melihat film kungfu panda kalian pasti akan tahu bahwa terjadi pembulian yang didalamnya. Po, si tokoh utama, seekor Panda yang gemuk tukang makan. Entah mengapa dia ditunjuk menjadi master kungfu. Siapa coba yang bisa menerima hal itu. Hal tersebut juga menjadi hal yang tidak dapat diterima oleh karakter lainnya. Mereka berbisik bisik dibelakang mengapa dia yang hanya seekor Panda dapat menjadi seorang master. Dia dibuli secara psikologis karena dia tidak bisa menjalani latihan-latihan berat untuk menjadi master kungfu.

Kalau kalian belum pernah melihat kungfu panda mungkin kalian tahu film frozen. Salah satu film yang ost nya terkenal bagus. Let it go. Pada film frozen ini diceritakan Elsa seorang anak kecil yang memiliki kekuatan es. Bertahun-tahun dia menyembunyikan kekuatan hingga akhirnya dia tidak bisa menyembunyikannya lagi. Siapa coba yang tidak takut dengan seseorang yang memiliki kekuatan es. Semua orang menjauhi dan menuduh dia seorang monster. Dia dijauhi, dihina dan lain lain.

Hari itu kelompok 6 berencana membuat scrap book yang mana di dalam terdapat pop up. Dari cerita kungfu panda dan frozen di atas kami membuat beberapa scene yang mana merupakan potongan-potongan cerita dari kedua film tersebut

(Di dalam Kelas)

"Tepuk Sintut"

"Sinta Tuti"

"Sinta Tuti"

"Sintut"

Sekilas di atas salah satu cara mendapat perhatian anak anak. Mereka senang dengan hal tersebut karena hal tersebut lucu. Oke kembali ke scrap book. Pembuatan scrap book ini dilakukan agar bisa melatih anak anak untuk berkreativas. Mereka memotong memotong gambar suatu scene menjadi bentuk yang bagus dan ditempel dalam scrap book. Ketika scrap book tersebut dibuka per halaman maka gambar tersebut akan berdiri layaknya tiga dimensi. Dalam proses pemotongan per scene kami menceritakan bagaimana cerita dari potongan scene tersebut.

Hari itu berlalu dengan cepat. Tanpa disadari pembuatan scrap book selesai maka berakhir pula kegiatan hari itu. Hari pertama yang cukup menyenangkan. Anak-anak tampak antusias untuk mengikuti kegiatan hari itu. Kegiatan hari itu memang berakhir cepat tetapi cerita kungfu panda dan frozen masih belum berakhir di sini dan akan berlanjut di minggu berikutnya. 

(bersambung)

 

 

Answered Sep 23, 2017

Question Overview


and 4 more
22 Followers
1010 Views
Last Asked 2 years ago

Related Questions


[Intermeso#1] Apa yang kamu ketahui mengenai pendidikan karakter? (Sabtu, 9 September 2017)

Seberapa penting pembangunan karakter bangsa?

Apakah peran orang tua dapat berpengaruh terhadap karakter anak?

Apa efek yang dapat ditimbulkan dari kurangnya kasih sayang orang tua terhadap anak?

Apakah karakter buruk dari seseorang dapat diubah?

Bagaimana cara agar dapat mengubah karakter buruk dari seseorang?

Bagaimana cara menghilangkan penyakit hati dari dalam diri manusia?

Bagaimana cara menyembuhkan sifat pemarah dalam diri kita?

Bagaimana cara menumbuhkan moral yang baik bagi masyarakat Indonesia?

Apakah mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan kurang cukup untuk membangun karakter siswa? Mengapa?

Apa yang dimaksud karakter Elit Rubah vs Karakter Elit Singa oleh Vilvredo Pareto?

Adakah keterlibatan Indonesia pada Perang Dunia II?

Bagaimana sebenarnya hubungan Jokowi dengan Ahok?

Pernahkah Anda bertemu Presiden Joko Widodo?

Hal-hal apa sajakah yang harus dipenuhi agar Indonesia menjadi pemimpin budaya populer dunia?

Foto apa saja yang bisa mengubah cara pandang kita tentang Indonesia?

Apa yang Anda banggakan dari Indonesia saat bertemu masyarakat internasional?

Masakan/makanan Indonesia apa yang menurut Anda paling mungkin go international?

Mengapa bangsa Indonesia dapat sebegitu lamanya dijajah oleh Belanda?

Makanan/masakan Indonesia apa yang paling memiliki nilai sejarah tinggi?

Apa yang membuat beberapa suku di Indonesia masih tetap bertahan dengan gaya hidup tradisionalnya, misalnya Suku Badui?

Apakah warna jaket almamater Universitas Gadjah Mada (UGM)?

Seperti apa rasanya kuliah di Universitas Gadjah Mada (UGM)?

Apa kekurangan Universitas Gajah Mada (UGM) menurut Anda?

Apakah pergerakan mahasiswa dapat mempengaruhi kebijakan-kebijakan pemerintah?

Apakah perbedaan dari tesis, skripsi, dan disertasi?

Jurusan apa yang paling bagus di UGM?

Di mana tempat kost cowok/laki-laki yang bersih dan murah di sekitar UGM?

Apakah Anda tahu kegiatan yang akan dilaksanakan oleh Forum Mahasiswa Jogja?

Apa jurusan di Universitas Gajah Mada yang sulit untuk didapatkan?

Mengapa UGM menjadi universitas favorit di Indonesia?

Apa motivasi dan langkah konkretmu mengabdi untuk pendidikan?

[Diary #3] Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapapun? Karena kau menulis.

Kontribusi apa yang bisa kamu berikana kepada Bangsa dan Negara ini?

Bagaimana pandanganmu terhadap aspek pendidikan di titik aksi Gerakan UI Mengajar? Adakah hal unik yang kamu temukan selama menjadi panitia/pengajar di sana?

Selama aksi Gerakan UI mengajar, bagaimana cara kalian untuk berbaur dengan masyarakat sekitar? Ceritakan pengalaman yang paling berkesan dengan masyarakat di sana!

Hal positif apa yang bisa kamu pelajari dari pengalaman 25 hari aksi Gerakan UI Mengajar?

Ceritakan pengalaman seru bersama panitia dan pengajar selama aksi Gerakan UI Mengajar!

Siapa Guru SD Favorit Anda?

Apakah skill atau keahlian paling utama yang harus dimiliki seorang guru sekolah dasar?

Pelajaran apa yang paling Anda sukai ketika SD?

Apa pelajaran yang paling Anda sukai ketika SD?

Siapa orang yang berperan penting dalam dunia pendidikan Anda?

Mengapa anak zaman sekarang banyak yang berdandan lebih tua dari umur aslinya?

Menurut Anda, sudahkah pendidikan karakter diterapkan dengan baik di tingkat Sekolah Dasar?

Sudah pantaskah sistem full day school bagi siswa SD?

Apa hal-hal menarik yang pernah kamu alami selama SD?

Di mana sekolah dasar (SD) negeri terbaik di Indonesia? Mengapa?

Mengapa GDP per kapita Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta termasuk paling rendah di Indonesia?

Apa saja tempat wisata yang mengesankan dan wajib dikunjungi di Jogja?

Mengapa Yogyakarta bikin kangen?

Apa yang membuat kota Yogyakarta demikian memikat dan berkesan buat Anda?

Apa yang membuat Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta demikian memikat dan berkesan buat Anda?

Apa keistimewaan Yogyakarta sehingga disebut Daerah Istimewa?

Bagaimana solusi untuk mengatasi permasalahan Kampung Code?

Apa saja motif batik tradisional Yogyakarta?

Siapa Mbah Maridjan?

Apa yang menarik dari Keraton Yogyakarta?