selasar-loader

Bagaimana langkah kita untuk membantu muslim di Rohingya?

Last Updated Sep 2, 2017

Dan apa yang mesti kita lakukan agar pemerintah Indonesia dapat memaksa pemerintah Myanmar untuk menghentikan kekerasan ke muslim Rohingya?

3 answers

Sort by Date | Votes
El Hakim Law
Founder Lingkar Studi Islam & Kepemimpinan (@larsik.id)

sYAWzPvrZmKiIFUSYVO8ZM_U5k8qa-Zy.jpg

Terdapat banyak potensi pendekatan untuk membantu dalam mengurangi derita muslim Rohingya, baik secara finansial, diplomatis, represif, maupun transendental. Secara finansial, contohnya, melalui pengiriman bantuan berupa harta melalui NGO yang terpercaya dan profesional.

Support diplomatis juga bisa diusahakan melalui upaya mendesak pemerintah RI maupun dubes Myanmar untuk Indonesia agar menghentikan kekerasan sekaligus menginisasi rekonsiliasi, termasuk melakukan propaganda populis agar rakyat Indonesia bisa memahami dan mendukung perdamaian di Rohingya.

Tindakan represif tentu memerlukan siasat dan strategi yang khusus, taktis, serta bercorak gerilya dalam infiltrasinya. Pendekatan represif-revolusioner merupakan pendekatan fisik terakhir dan pamungkas jika kedua upaya sebelumnya gagal mencapai hasil yang memuaskan, yakni perdamaian bagi etnis muslim Rohingya. Hal ini hanya bisa dilakukan oleh gerakan yang memiliki kemampuan militer.

Adapun pendekatan transendental merupakan pendekatan yang harus ada di awal, di tengah dan di akhir setiap upaya sebelumnya. Doa sebagai senjata seorang yang beriman telah sedikit banyak memberikan keampuhannya dari jalan yang tak terduga-duga yang tentu syarat dan ketentuannya berlaku seperti usaha yang maksimal, ikhlas, tawakkal, hingga aspek lain yang mendukung dikabulkannya doa. Pendekatan terakhir inilah yang menjadi usaha determinan sekaligus bukti paling minimal dukungan untuk muslim Rohingya. Jika berdoa saja enggan, apa yang bisa diharapkan?

 

Ilustrasi via flickr.com

Answered Sep 3, 2017
Pepih Nugraha
Co-founder Selasar & Founder PepNews.com

IyvcLTi1rXuW7f3Rar-_jUMsjFJqc41D.jpg

Bagaimana langkah kita untuk membantu Muslim di Rohingnya? Banyak cara.

Pertama, percayakan lewat upaya pemerintah Indonesia yang aktif membela dan meringankan beban derita Muslim Rohingya di sana. Dunia Internasional mengapresiasi apa yang telah dilakukan Pemerintah Presiden Joko Widodo lewat "utusan khusus"-nya, Menlu Retno Marsudi. Sebab, di saat pemerintah Myanmar di bawah Aung San Suu Kyi menutup diri terhadap dunia luar, Myanmar masih membuka pintu lebar-lebar bagi Indonesia untuk "masuk" memberikan bantuan.

Tetapi sayang, apa yang dilakukan pemerintah secara diam-diam ini, maksudnya tidak perlu gembar-gembor, mendapat apresiasi rendah dari politikus partai politik atau anggota Dewan di Senayan. Lewat twit dan status-status di media sosial, para politikus (yang cuma "ngoceh" karena itu yang mereka bisa) bersikap nyinyir, seolah-olah tidak ada langkah apapun dari pemerintah terhadap krisis Rohingya. Mereka tutup mata, tidak tahu, atau pura-pura tutup mata dan tidak tahu?

Kedua, mendorong pemerintah Indonesia membuka pintu bagi pengungsi Rohingya jika diperlukan. Selama ini, beberapa pengungsi yang datang terlebih dahulu sebelum tragedi kemanusiaan ini mencapai puncaknya saat ini, sudah berada di Aceh. Mereka ditampung pemerintah Indonesia atas nama kemanusiaan.

Ketiga, jika bantuan fisik men-sadaqohkan tenaga sebagai sukarelawan kemanusiaan tidak bisa dilakukan karena tertutupnya negara Myanmar, maka bantuan fisik itu bisa dilakukan dengan cara membantu mengumpulkan dana kemanusiaan berupa uang maupun barang-barang yang dibutuhkan pengungsi. Kita bisa bekerja sama dengan PMI (Palang Merah Indonesia) atau sejumlah LSM yang berkhidmat pada kemanusiaan dan nasib pengungsi di seluruh dunia.

Keempat, jika bantuan dana tidak punya, tidak pula aktif menggalang dana, apalagi menjadi tenaga kemanusiaan sukarela, bantuan doa bagi kaum tertindas Muslim Rohingnya sangat diperlukan. Setidak-tidaknya doa menunjukkan simpati dan empati kita pada warga Rohingya. Selain itu, doa lebih cepat sampai di tujuan.

***

Sumber foto: BBC

Answered Sep 4, 2017
Latifa Ayu
Peserta Rumah Kepemimpinan Angkatan 8, Mahasiswa Teknik Industri UI

KkNZ42XUrFvb1rUsEFE53Kei4F_Uc8Ku.jpg

kita dapat memulainya dari diri kita sendiri dengan berbagi kebahagiaan bersama mereka :)

Answered Nov 28, 2017