selasar-loader

Selain berdemo dengan apa lagi kita sebagai mahasiswa melakukan aksi nyata demi membela rakyat Indonesia?

Last Updated Sep 1, 2017

Selain berdemo, dengan apa lagi kita sebagai mahasiswa melakukan aksi nyata demi membela rakyat Indonesia?

7 answers

Sort by Date | Votes
Ramadhan Rizky Putra
Mahasiswa FEB UMMgl

Pertanyaan klasik yang dulu juga pernah saya tanyakan kepada senior saya dulu ketika saya masih menjadi mahasiswa baru. Lalu saya mendapat sebuah jawaban yang lebih membingungkan lagi "tergantung jalur perjuangan mana yang kamu pilih", apa maksudnya tergantung jalan perjuangan yang saya pilih?

seiring berjalannya waktu, terbuka sedikit pandangan tentang bagaimana aksi nyata demi membela rakyat Indonesia melalui tukar pikiran dengan senior-senior, teman-teman seperjuangan, dan juga orang tua. Banyak hal-hal baru dan juga menginspirasi dari tukar pikiran tersebut. namun tukar pikiran juga tidaklah cukup, membaca buku-buku yang bertema tentang keadilan dan pembelaan kaum-kaum yang dilemahkan juga sangat membantu, 

Mungkin, tidak asing di telinga teman-teman tentang kemiskinan, kebodohan, dan kemrosotan moral di tengah-tengah masyarakat Indonesia. Berdasar banyaknya saran-saran dan juga pemikiran-pemikiran baru, berdemo sudah jarang diminati oleh anak muda jaman sekarang, apalagi sekarang ada pemikiran bahwa "ah kalo berdemo nanti nilainya jelek, belum nanti ditangkap polisi, belum ini itu......" pokoknya banyak pemikiran negatif dulu untuk berdemo, eits tapi jangan underestimate dulu dengan mahasiswa tipe-tipe seperti ini, bisa jadi mereka leih baik dalam bersosialisasi dengan masyarakat.

Lalu, bagaimana cara mahasiswa berkontribusi selain berdemo? banyak, banyak sekali tergantung jalur mana yang mau dipilih, mau melalui jalur Humanis, Religi, atau Intelektual

Jika melalui jalur Humanisme, maka kita sebagai Mahasiswa dapat membela masyarakat dengan cara melaksanakan bakti sosial,  bakti sosial bisa dalam bentuk bantuan-bantuan bahan pokok masyarakat dan juga bisa dalam bentuk pengobatan gratis. cara-cara seperti ini dinilai lebih efektif di implementasikan di masyarakat karena masyarakat merasakan secara langsung manfaat-manfaat dari bansos-bansos tersebut. dan juga ini melatih sikap memanusiakan-manusia didalam diri mahasiswa yang semakin hari semakin apatis

Jika melalui Jalur Religius, maka mahasiswa perlu membangun masyarakat dari sisi religiusitas masyarakat dilingkungan tersebut. kenapa harus dibangun sisi religiusitasnya? karena semua aspek-aspek kehidupan masyarakat berdasar pada religiusitas. Maka, perlu dikuatkan religiusitas masyarakat yang ada dilingkngan tersebut, contohnya: pengajian, TPQ, dan juga menggiatkan kegiatan-kegiatan di sekitar masjid. Sehingga akan terbentuk lingkungan yang kondusif untuk menerapkan perubahan-perubahan positif di masyarakat

Jika melalui jalur Intelektual, maka mahasiswa harus mentrasnfer ilmu-ilmu yang mereka miliki dengan cara membuka kelas-kelas kecil yang isinya anak-anak yang masih perlu bimbingan belajar, membuat workshop-workshop tentang kewirausahaan dengan produk yang dapat dijual secara langsung. tentunya ini sangat mudah dilakukan di masyarakat dan sangat bermanfaat bagi masyarakat.

mungkin itu jawaban saya tentang pertanyaan anda, mohon maaf jika banyak kesalahan 

Wassalamualaikum

Answered Sep 6, 2017
Venusgazer E P
Medan - North Sumatra

Cobalah dengan bergabung dengan unit kegiatan mahasiswa (UKM) seperti Pramuka, Mapala atau Korps Suka Rela PMI. Di UKM tersebut selain ada pengetahuan dan keterampilan yang bisa diperoleh. Ada kegiatan-kegiatan nyata yang bermanfaat bagi masyarakat.

Sebagai contoh mereka sering mengadakan bakti sosial atau ikut serta dalam SAR jika terjadi bencana alam. Anggota KSR sendiri biasa dilibatkan dalam satgas-satgas lebaran yang berada di terminal, stasiun atau ikut dalam tim ambulan.

Di samping itu sering anggota dari ketiga UKM tersebut menjadi pembimbing kegiatan ekstra kurikuler di sekolah-sekolah. Ini yang banyak orang tidak ketahui.

Cuman memang untuk saat ini, beban kuliah yang padat dan berat serta biaya kuliah tinggi membuat mahasiswa lebih memilih untuk fokus pada kuliah mereka. Sehingga masyarakat menilai mahasiswa bersikap apatis.

Answered Sep 8, 2017
Anonymous

Saya justru melihat demonstrasi sebagai aksi yang (meskipun nyata) tidak lagi memberikan dampak dalam hal membela rakyat Indonesia. Bukan berarti saya tidak mengapresiasi. Para demonstran tentu memiliki semacam jiwa altruisme yang mereka lindungi dengan teguh, meskipun mungkin ada juga motif lain di balik demonstrasi yang dilakukan.

Kegiatan paling sederhana untuk membela rakyat Indonesia sebenarnya bisa dilakukan dengan masing-masing keahlian yang mereka tekuni. Seorang mahasiswa kedokteran yang membuka layanan tensi gratis pada acara semacam car free day sudah melakukan aksi nyata. Demikian halnya dengan mahasiswa psikologi yang membuka layanan konsultasi/konseling gratis. Mahasiswa teknologi pangan bisa menciptakan sistem produksi-distribusi yang bersifat disruptive sehingga kesejahteraan petani meningkat drastis dan masyarakat bisa mendapatkan bahan pangan berkualitas sekaligus murah. Mahasiswa fasilkom bisa membuat aplikasi yang mewadahi rekan-rekannya dari berbagai disiplin ilmu tersebut. See? Banyak sekali jalan, bukan?

Saya lantas membayangkan panti asuhan yang diserbu oleh mahasiswa lintas disiplin ilmu secara rutin. Kesehatan mereka dicek oleh mahasiswa kedokteran. Kebugaran mereka dilatih oleh mahasiswa olahraga dan dirawat oleh mahasiswa ilmu gizi. Mahasiswa MIPA dan FISIP menjadi "guru bimbel" mereka. Mahasiswa FE tidak hanya membuat kolam pendanaan, tetapi juga mendirkan VC (venture capital) agar kelestarian (sustainability) panti asuhan terjaga. Anak-anak yang sedih bisa curhat ke mahasiswa psikologi. Lalu, terapkan pola ini ke panti-panti lainnya. Wow, betapa besar dampak dari kolaborasi ini bagi sebuah generasi.

Sebagian dari mahasiswa kita masih terpaku pada ide-ide besar pergerakan mahasiswa, namun mandeg pada eksekusi karena ide-ide itu tidak terkoneksi dengan keahlian akademis yang dimiliki. Ada semacam dikotomi, bahkan "adu kuat" antara IPK dan organisasi. Padahal, keduanya harus bersatu. Kolaborasi mahasiswa lintas jurusan yang didasarkan pada keahlian masing-masing disiplin ilmu bisa menjadi hal yang tidak hanya solutif, tetapi juga aplikatif.

Answered Sep 8, 2017
Maylvin Andrian
Industrial Engingeerin ITS - Rumah Kepemimpinan Surabaya

Aksi mahasiswa tetaplah dibutuhkan, sesuai dengan koridornya. Dilakukan dengan tertib dan inovatif. Aksi konkrit sekarang banyak, semua hal postif dengan tujuan meningkatkan kualitas hidup bangsa menurut saya sudah menjadi kontribusi untuk bangsa. Kondisi sekarang memang berbeda dengan 20 tahun yang lalu.  Kita melakukan controlling baik dari atas maupun bawah. Terlepas dari berbagai polemik  yang perlu diingat mahasiswa/pemuda selalu mengoreskan tinta sejarah.

Answered Sep 9, 2017
Awi Nanda Wijaksana
Rumah Kepemimpinan Regional 6 Medan

Menyampaikan aspirasi masyarakat dengan berdemo adalah hal yang baik. namun harus dilakukan dengan tertib dan sesuai aturan, jangan sampai anarkis dan menyebabkan kekacauan dan menggangu banyak orang.

Namun tahukah teman-teman ? cara yang paling efektif untuk melakukan aksi nyata demi membela rakyat Indonesia adalah dengan cara belajar yang serius, raih gelarmu,  perdalam ilmumu. Lalu berikan ilmumu ke masyarakat. Tunjukkan kontribusi !!

Answered Nov 3, 2017
Haekal Akbar
Head of HIMATEKPAL FTK-ITS 2016/2017 | Rumah Kepemimpinan Surabaya

Pertama harus didefinisikan dulu apa yang dimaksud dengan membela rakyat. Setelah itu baru dapat diturunkan bagaimana mahasiswa dapat bergerak.

dalam melakukan pergerakannya untuk membela dan meninggikan kehidupan berbangsa, pergerakan mahasiswa dapat didefinisikan ke dalam beberapa bentuk, yaitu:

Pergerakan vertikal, yaitu pergerakan yang mengarah ke pemerintah atau pemangku kebijakan. Hal ini dimaksudkan untuk mengoreksi dan memperbaiki sebuah masalah lewat jalur kritisi kebijakan yang keluar dari pemerintah. Bentuk pergerakan vertikal ini dapat dilakukan dalam bentuk aksi massa, audiensi, aksi simpatik, surat terbuka, dll

Pergerakan horizontal, yaitu pergerakan berupa tanggung jawab moral kepada masyarakat. Bentuk-bentuk pengabdian secara langsung bersentuhan kepada masyarakat menjadi bentuk pembelaan terhadap hak-hak rakyat yang tidak terakomodir langsung oleh pemerintah. Hal ini sejalan dengan tanggung jawan mahasiswa sebagai pengabdi masyarakat.

Pergerakan diagonal, merupakan pergerakan dari tanggung jawab intelektualnya. Yang dimaksud di sini adalah bagaimana mahasiswa dengan intelektualitasnya dapat menghasilkan produk inovasi dan kreasi guna menyelesaikan permasalahan yang ada di masyarakat.

Masih banyak lagi bentuk pergerakan lain dari mahasiswa yang dapat dilakukan untuk membela kepentingan rakyat Indonesia. Satu hal yang perlu diingat adalah, sebagai mahasiswa kita harus tetap peka dan sadar akan kewajiban sebagai insan-insan terpelajar. Tidak hanya terpaku pada diri sendiri, tapi juga dapat hadir untuk menyelesaikan permasalahan yang ada di masyarakat.

Answered Dec 2, 2017
Irwan .
Co-Founder Komunitas Cilik Beraksi | Rumah Kepemimpinan Makassar

Ada banyak hal yang bisa kita lakukan untuk membela rakyat selain turun aksi dijalan atau berdemo. Namun demonstrasi juga bukanlah yang salah. Demonstrasi atau gerakan rakyat, merupakan hal wajar terjadi di negara-negara penganut demokrasi. Justru demokrasi tanpa demonstrasi, itu yang aneh. Mahasiswa juga identik dengan demonstrasi. Apalagi ketika suatu rezim atau pemerintahan sudah dirasa tidak baik atau melenceng dari jalannya, biasanya mahasiswa yang paling kritis dan segera melakukan demonstrasi ke jalan. Namun demontrasi juga bisa menjadi hal yang negatif jika berujung dengan kekerasan dan anarkisme. Salah satu hal yang bisa dilakukan oleh para Mahasiswa dalam membela rakyat kecil adalah, dengan merintis sebuah desa binaan yang awalnya desa itu merupakan desa yang tertinggal bisa disulap menjadi desa produktif dengan inovasi dan kreatifitas para Mahasiswa

Answered Dec 4, 2017

Question Overview


8 Followers
619 Views
Last Asked 2 years ago

Related Questions


Apakah warna jaket almamater Universitas Gadjah Mada (UGM)?

Lebih penting mana, IPK atau organisasi?

Mengapa kita harus kuliah?

Bisakah kesuksesan diraih tanpa harus kuliah?

Apa motivasi terbaik Anda untuk seseorang yang mulai jenuh kuliah?

Apa strategi terbaik untuk mendapatkan IPK tinggi tapi tetap santai dalam kuliah?

Bolehkah ikut BEM meskipun sebenarnya tidak tertarik dengan dunia pergerakan mahasiswa?

Ketika menyadari bahwa Anda salah jurusan, apa yang Anda lakukan?

Pernahkah Anda di-drop out (DO) ketika kuliah?

Apa peristiwa paling menyebalkan ketika sedang mengerjakan skripsi?

Bagaimana Anda mendapatkan IPK tertinggi sewaktu kuliah?

Apa manfaat aktif organisasi selama masa kuliah yang Anda rasakan?

Apa nasihat Anda untuk remaja kuliahan sebagai bekal menghadapi masa depannya?

Bagaimana cara masuk UI (Universitas Indonesia)?

Bagaimana cara kuliah tanpa merepotkan orang tua?

Keisengan apa yang paling kamu ingat sebagai mahasiswa?

Apa yang paling kamu sesali dari masa-masa kuliah?

Bila kamu diberikan kehidupan kedua sebagai mahasiswa, apa yang akan kamu lakukan?

Bagaimana cara mendapatkan keringanan biaya kuliah?

Bila kamu ditakdirkan bebas finansial sebelum lulus kuliah, masihkah kamu kuliah?

Adakah keterlibatan Indonesia pada Perang Dunia II?

Bagaimana sebenarnya hubungan Jokowi dengan Ahok?

Pernahkah Anda bertemu Presiden Joko Widodo?

Hal-hal apa sajakah yang harus dipenuhi agar Indonesia menjadi pemimpin budaya populer dunia?

Foto apa saja yang bisa mengubah cara pandang kita tentang Indonesia?

Apa yang Anda banggakan dari Indonesia saat bertemu masyarakat internasional?

Masakan/makanan Indonesia apa yang menurut Anda paling mungkin go international?

Mengapa bangsa Indonesia dapat sebegitu lamanya dijajah oleh Belanda?

Makanan/masakan Indonesia apa yang paling memiliki nilai sejarah tinggi?

Apa yang membuat beberapa suku di Indonesia masih tetap bertahan dengan gaya hidup tradisionalnya, misalnya Suku Badui?