selasar-loader

Bolehkah bermain valuta asing (valas) menurut syariat Islam?

Last Updated Nov 30, 2016

3 answers

Sort by Date | Votes
Izzudin Farras
Mahasiswa Ilmu Ekonomi Islam FEB UI

BERMAIN valas tidak boleh karena termasuk kedalam 3 hal yang dilarang dalam transaksi menurut syariat islam, yaitu Riba (Tambahan atau sering disebut Bunga), Maysir (Judi), dan Gharar (Ketidakjelasan).

BERDAGANG valas ada yang boleh dan ada yang tidak, tergantung jenis transaksi yang dipakai. Dapat dilihat selengkapnya dalam Fatwa DSN-MUI Nomor: 28/DSN-MUI/III/2002 ya.

Answered Jan 15, 2017
Sawqi Saad El Hasan
Islamic Economist

mdL4UQeC8DmW3e-cJG_6E2L4N4_6xLtH.jpg

Valas adalah singkatan dari valuta asing. Kita harus sepakati bersama terlebih dahulu bahwa valuta asing ialah mata uang luar negeri, seperti dolar Amerika, poundsterling Inggris, ringgit Malaysia, dan sebagainya.

Apabila terjadi perdagangan internasional, maka tiap negara membutuhkan valuta asing sebagai alat bayar luar negerinya, yang dalam dunia perdagangan disebut devisa. Misalnya, importir Indonesia memerlukan devisa untuk mengimpor barang dari luar negeri. Untuk membayar barang-barang impor tersebut, maka pihak importir membutuhkan mata uang asing.

Demikian juga misalnya, bila sebuah perusahaan di Indonesia mengekspor barang, misalnya ke Jepang, maka pertukaran mata uang asing diperlukan. Pembayaran oleh Jepang untuk perusahaan Indonesia harus dengan mata uang lokal, yaitu rupiah. Sementara, importir Jepang hanya memiliki mata uang yen.

Dalam kasus di atas, ada dua kemungkinan yang dapat ditempuh untuk memenuhi kebutuhan transaksi antara eksportir Indonesia dan importir Jepang tersebut.

Pertama, bila eksportir Indonesia menagih dalam bentuk rupiah, maka importir Jepang harus menjual yen dan membeli rupiah untuk membayar barang yang diimpor dari Indonesia. Kedua, bila eksportir Indonesia dibayar dengan mata uang yen, maka eksportir Indonesialah yang harus menukar yen itu kepada rupiah.

Dengan demikian, akan timbul penawaran dan permintaan devisa di bursa valuta asing. Dapat juga terjadi bahwa transaksi antara dua negara diselesaikan dengan menggunakan mata uang negara ketiga, misalnya dolar.

Hal ini bisa terjadi bila eksportir maupun importir tidak memiliki mata uang lokal negara masing-masing atau mata uang kedua negara itu sangat jarang diperdagangkan karena mata uangnya sangat lemah. Ini berarti mata uang yang dipergunakan itu adalah mata uang yang populer di kedua negara itu, misalnya dolar.

Kurs mata uang tersebut bisa berubah-ubah, tergantung pada situasi ekonomi negara masing-masing. Islam mengakui perubahan nilai mata uang asing dari waktu ke waktu secara sunnatullah (mekanisme pasar). Namun apabila perubahan itu terlalu tinggi, maka campur tangan pemerintah diperlukan untuk menjaga stabilitas mata uang, karena Islam menginginkan terciptanya stabilitas kurs mata uang.

Transaksi jual-beli valuta asing sebagaimana yang digambarkan di atas umumnya diselenggarakan di pasar valuta asing, money changer, bank devisa, dan perusahaan bisnis valas.

Fatwa MUI menyatakan bahwa trading valas itu halal dan boleh untuk dilakukan. Sesuai Fatwa Dewan Syariah Nasional No: 28/DSN-MUI/III/2002 tentang Jual Beli Mata Uang (Al-Sharf), MUI menyatakan bahwa transaksi valas dengan transaksi spot diperbolehkan.

Maksud dari transaksi spot adalah pertukaran tersebut harus dilakukan secara tunai. Artinya, masing-masing pihak harus menerima/menyerahkan masing-masing mata uang pada saat yang bersamaan dan juga pada waktu yang sama. Motif pertukarannya adalah untuk kegiatan bisnis sektor riil, yaitu transaksi barang dan jasa, bukan dalam rangka spekulasi. Kemudian, kita harus menghindari jual-beli bersyarat, misalnya si A setuju membelinya kembali pada tanggal tertentu di masa mendatang. Hal tersebut tidak diperbolehkan menurut syariat Islam. Transaksi berjangka harus dilakukan dengan pihak yang diyakini mampu menyediakan valuta asing yang dipertukarkan. Tidak dibenarkan menjual barang yang belum dikuasai atau dengan kata lain, tidak dibenarkan jual beli tanpa hak kepemilikan.

Dengan demikian, transaksi spot dapat dikatakan sebagai transaksi pembelian dan penjualan valuta asing (valas) untuk penyerahan pada saat itu juga secara tunai tanpa terhutang sedikitpun (over the counter) atau penyelesaiannya paling lambat dalam jangka waktu dua hari. Hukumnya adalah boleh, karena dianggap tunai. Sedangkan waktu dua hari dianggap sebagai proses penyelesaian yang tidak bisa dihindari dan merupakan transaksi internasional.

Dengan memperhatikan beberapa batasan tersebut, terdapat beberapa tingkah laku perdagangan valas yang harus diperhatikan untuk dihindari. Transaksi tersebut diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Ekonomi syariah menghindari dan melarang perdagangan tanpa penyerahan (future non delivery trading atau margin trading).

2. Ekonomi syariah melarang tegas jual beli valas untuk kepentingan spekulasi dengan mengharapkan keuntungan di masa depan.

3. Ekonomi Syariah juga melarang transaksi forward. Transaksi forward adalah transaksi pembelian dan penjualan valas yang nilainya ditetapkan pada saat sekarang dan diberlakukan untuk waktu yang akan datang, antara 2x24 jam sampai dengan satu tahun. Hukumnya adalah haram, karena harga yang digunakan adalah harga yang diperjanjikan (muwa’adah) dan penyerahannya dilakukan di kemudian hari, padahal harga pada waktu penyerahan tersebut belum tentu sama dengan nilai yang disepakati, kecuali dilakukan dalam bentuk forward agreement untuk kebutuhan yang tidak dapat dihindari.

4. Ekonomi syariah juga melarang transaksi swap. Transaksi swap adalah suatu kontrak pembelian atau penjualan valas dengan harga spot yang dikombinasikan dengan pembelian antara penjualan valas yang sama dengan harga forward. Hukumnya haram, karena mengandung unsur maisir (spekulasi).

 
 
Ilustrasi via pixabay

Answered Oct 2, 2017
Rahma Mieta
Senior Financial Planner at OneShildt | Interested in Islamic Finance

Tidak, karena dalam Islam uang itu merupakan alat tukar, bukan komoditas yang bisa diperjual belikan. Namun, jika diniatkan ditukar untuk keperluan bertransaksi tidak mengapa asalkan memenuhi syarat berikut:

1. Tunai

2. Menggunakan nilai tukar saat terjadi transaksi

 

Answered Nov 2, 2017