selasar-loader

Peristiwa apa yang menjadi titik balik kehidupan Anda, sehingga menjadi Anda yang sekarang ini?

Last Updated Aug 16, 2017

Sayembara Selasar Babak Final

Untuk tahap selanjutnya, Anda diminta untuk menjawab 2 pertanyaan berikut:

1. “Apa alasan Anda menggunakan Platform Selasar?” 

Jawab pertanyaan no 1 dalam bentuk video. Durasi 1-2 menit, kirim video tersebut ke email halo@selasar.com

2. Peristiwa apa yang menjadi titik balik kehidupan Anda, sehingga menjadi Anda yang sekarang ini?

Vivat Selasares!

18 answers

Sort by Date | Votes
Isumi
Antusias tentang Sayembara Selasar dan memilih MacBook Pro

Saya telah melalui berbagai rangkaian peristiwa yang menarik dan unik sejak kecil. Hidup bersama Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ), yaitu adik kandung, memberikan banyak hikmah bagi saya dalam menjalani kehidupan yang kompleks. Sejak lahir, dia mengalami gangguan tumbuh kembang. Hingga beranjak dewasa, dia telah melalui banyak pengalaman dengan berderet label yaitu autisme, retardasi mental, skizofrenia dan bipolar disorder.

tbTrfoNNz3OOVpB3riUsTLt2hlleENyO.jpg

Sumber gambar:https://www.instagram.com/isumi_karina

Tapi, sayangnya baik masyarakat yang awam juga orang yang berpendidikan masih ada yang memanggil dan menganggapnya sebagai orang gila. Hal ini sering mengusik logika saya, karena menurut saya (sependapat dengan teman-teman seperjuangan di KPSI) yang lebih layak disebut orang gila adalah para koruptor yang masih merajalela.

sxvonJB9YOK-dcasKOdBbNprjIVOZL3a.jpg

Sumber gambar: https://twitter.com/kpsi_pusat/status

Stigma itu begitu melekat dalam kehidupannya, dan tentunya berpengaruh dalam kehidupan keluarga saya. Selain sakit mental, dia juga memiliki beberapa gangguan dan penyakit fisik yang lain. Jika mengingatnya, membuat saya menjadi pribadi yang harus selalu bersyukur dan rasanya ingin berbagi informasi kepada siapa saja terutama kepada caregiver lain (keluarga yang memiliki kondisi yang sama). Saya mulai sangat terbuka kepada orang lain terutama ketika bergabung di dalam komunitas konsumen kesehatan jiwa yaitu KPSI. Sejak itu, saya bersyukur bisa mengedukasi kesehatan jiwa khususnya kepada siswa saya di sekolah. Saya juga pernah turut serta mengajak mereka untuk berjuang bersama mendukung isu kesehatan jiwa meskipun hanya lewat kata-kata.

uDYp7ShsTnBsPq94Gv6zU_jj-y7WwYYl.jpg

Sumber gambar: http://www.iszumi.com

xX0WHq1WczqJm0QcODGWvzPuSMuEkMyy.jpg

Sumber gambar:https://web.facebook.com/media/

Kisah saya ini memang berawal karena memiliki adik yang istimewa. Dia yang selama ini saya anggap berkebutuhan khusus dan memiliki banyak kekurangan, ternyata saya juga demikian. Betapa satu detak jantung dan satu embusan napas di dunia ini ternyata suatu nikmat yang kadang dilupakan. Saya yakin ini adalah kuasa-Nya (Allah) yang telah membukakan mata hati dan mengingatkan saya untuk selalu hidup bersyukur dan berempati. Saya berharap akan selalu bisa mendapatkan kesempatan hidup yang bermakna dan penuh warna. Apapun kondisinya, kini saya akan terus berjuang dan mewujudkan mimpi meskipun tak sempurna. :)

#KejarMimpi
Vivat Selasares! Merdeka!

Answered Aug 17, 2017
Hari Nugroho
Medical Doctor with Addiction Medicine training

ib7DhunTKXgJDVDGEmOs9G4Rhcm0of7D.jpg

"Ingat lima perkara sebelum lima perkara, .....sehat sebelum sakit....". 

Begitulah petikan sebuah hadits agar menjaga nikmat-nikmat kemudahan sebelum datang kesempitan. Dan ternyata almarhum bapak saya, sebelas tahun yang lalu mendapat cobaan berupa sakit. Peristiwa ini membuat saya agak marah ke bapak, terlebih sakitnya berat, harus dirujuk ke rumah sakit rujukan provinsi, dan membutuhkan biaya yang tak sedikit untuk keperluan diagnostik dan treatment, yang memang cukup misterius saat ini. Kadar gula yang meninggi, gangguan fungsi hati, dengan marker hepatitis dan USG liver yang normal. Pada akhirnya ketemu penyebabnya adalah infeksi Helicobacter Pylori.

Untuk perawatan dua bulan di rumah sakit dan pemulihan setelahnya, sumber daya keluarga begitu terkuras. Tak hanya dana, namun juga waktu dan tenaga yang memaksa saya cuti dari perkuliahaan selama dua semester. Marah, tak terima, khawatir tentang masa depan, dan cemas begitu mengaduk-aduk perasaan dan pikiran saya. Bayangan kegagalan dalam studi yang sudah di tahap akhir dan tak bisa angkat sumpah profesi bersama kawan satu angkatan terus-menerus menghantui.

Inilah suatu peristiwa yang untuk pertama kalinya membuat berbagai konflik dalam keluarga, paling tidak antara saya, adik, dan ibu. Jika diingat, rasanya aneh, kok bisa sampai demikian dahsyatnya mengguncang keluarga. Dalam waktu yang sama, bapak saya juga memasuki masa purna tugas, ada sedikit gejala post power syndrome yang muncul sehingga bumbu konflik semakin mengental dan terasa.

Buat kami, kebenaran kalam Allah begitu nyata, bahwa manusia akan diuji keimanannya, diuji dengan berbagai kesulitan, dengan kurangnya harta, dengan rasa takut, dan perasaan nestapa. Beruntung kami masih ingat, jika di balik kesulitan ada kemudahan apabila semua hal tersebut dijalani dengan ikhlas dan penuh kepasrahan kepada sang Pencipta.

Bukan perkara yang mudah untuk itu, penyangkalan masih terjadi walaupun hanya terbersit dalam hati, terlebih mengenai kelanjutan studi saya yang harus mengulang beberapa rotasi klinis, dan uang saku yang tak selancar sebelumnya. Masih membekas dalam ingatan saya harus menjual majalah, souvenir berupa boneka yang bisa tumbuh tanaman, berburu job jaga pameran kesehatan dan apa pun yang bisa dikerjakan untuk menambal uang saku yang sering bolong.

Setelah beberapa waktu, drama sekolah akhirnya selesai dalam prosesi sumpah dokter. Pertama kalinya saya melihat almarhum bapak menangis, entah karena saya yang akhirnya lulus meski sempat terseok-seok atau karena kebanggan seorang anaknya menjadi dokter. Namun itu adalah momen yang begitu terkenang dalam hati saya.

Allah memang pembuat skenario yang sempurna, kepingan puzzle kehidupan saya terasa mudah setelah hari-hari yang berat terlewati. Tak lama setelah lulus, saya mendaftar di salah satu lembaga negara, meski mendaftar di detik terakhir, semua berjalan lancar, dari soal ujian yang sangat mirip dengan buku soal yang saya baca, hingga tes wawancara terasa mudah. Barangkali itulah salah satu tanda di mana di bulan berikutnya saya melihat nama saya masuk dalam daftar urutan calon pegawai yang diterima, dan perlu dicatat sama sekali tak menggunakan uang pelicin, sogokan, atau apapun istilahnya, barang sepeser.

Akhirnya karir di lembaga ini dimulai. Saya betul-betul memanfaatkan setiap ada kesempatan belajar. Tahun 2015, beasiswa Netherlands Fellowship Programme mengantarkan saya menginjakkan kaki ke Negeri van Oranje, dan Amsterdam menjadi tujuan belajar. 

Awal-awal mendaftar beasiswa, saya banyak mendapat omongan, cibiran, bahkan ejekan. Namun semua tak digubris, dengan tekad sekeras titanium dan semboyan sekali layar terkembang pantang surut ke belakang, omongan negatif tadi sirna dengan bukti nyata keberangkatan ke Universiteit van Amsterdam. Begitupula dengan tahun ini, pemerintah UK memberi kesempatan kepada saya untuk belajar di London dengan beasiswa Chevening. Lagi-lagi cibiran dan prasangka jelek berbalik. Saya tak pernah menduga keterlambatan studi akan membuat hidup saya berubah 180 derajat, namun begitulah Illahi, yang mempunyai rahasia dan membuat kita acapkali terbengong serta malu atas syak wasangka yang terbangun dalam hati.

Kita seringkali tak sabar, terburu-buru marah dan menolak atas ujian yang Allah timpakan, padahal Allah menyiapkan puzzle yang lebih baik sebagai buah atas kesabaran tersebut. Apa yang kita anggap baik belum tentu baik dihadapan sang pemberi rizki, begitupula sebaliknya apa yang kita anggap jelek, belum tentu jelek dimata illahi rabbi. Yang kita perlukan adalah kesabaran atas ujian yang sedang dilaksanakan, berbaik sangka dan senantiasa bersikap positif.

Kepada Bapak, sakitmu merupakan jalan bagi kami putra-putramu mendapatkan kemuliaan. Kesusahanmu membuat kami belajar, dan kembali bertafakur di haribaan illahi. Meski tak sempat menyaksikan keberangkatanku ke London, semua hal ini kupersembahkan sebagai wujud baktiku, menjaga nama baikmu, dan meneladani kebaikanmu. Semoga engkau diberikan rahmat, diluaskan kuburnya, diampuni segala dosa, dan dijauhkan dari segala siksa.

 

gambar via sumur-abar.blogspot.com 

Answered Aug 18, 2017
Amril Taufik Gobel
Smiling Blogger (www.daengbattala.com) , lovely husband, restless father

IOaDjqTU7_Y2Jh0-r_hGrlCVEI0U1WBg.jpg

Peristiwa yang paling berkesan dan menjadi titik balik kehidupan saya hingga saat ini adalah kelahiran anak pertama saya, Muhammad Rizky Aulia Gobel, tanggal 25 November 2002. Saya dan istri telah menanti hingga 3 tahun sejak pernikahan kami di Yogyakarta, 10 April 1999. Berbagai upaya kami lakukan baik secara medis maupun mistis untuk mendapatkan anak (kisah "perjuangan" ini saya abadikan dalam posting di blog saya berjudul "Desperate Seeking Child - An Epic Story"). 

Sampai akhirnya Allah SWT memberikan kami kepercayaan dan amanah untuk membesarkan dan mendidik anak, di bulan penuh berkah, jelang akhir Ramadhan tahun 2002. Keharuan terasa menyesak di dada hingga tanpa terasa saya meneteskan air mata saat mengumandangkan adzan pertama kali di telinga putra pertama saya itu.

Saya hendak menandai momentum berharga ini dengan sesuatu yang monumental, unforgettable, dan tentu sesuai dengan kemampuan yang saya miliki. Dan pilihan itu adalah dengan menulis di blog! Karena kesibukan yang begitu padat di kantor, saya sampai tak sempat lagi menikmati hobi yang telah saya akrabi sejak masih menjadi siswa SMA dulu. Dari berbagai percakapan bersama sejumlah kawan serta chatting di Yahoo Messenger, termasuk dengan adik angkatan saya di Teknik Mesin & Penerbitan kampus "Identitas" Unhas, Tomi Lebang yang ketika itu tengah menempuh pendidikan di Inggris, saya mendapatkan inspirasi untuk menulis di blog, sebuah sarana curhat online yang gratis, bebas sensor dan bebas biaya distribusi tetapi lebih dari itu, saya bisa menampilkan refleksi kehidupan keluarga saya secara virtual lewat media internet.

Akhirnya, berkat bimbingan Tomi dan sejumlah kawan, saya berhasil meluncurkan blog http://muhrizkyauliagobel.blogspot.co.id pada Desember 2002. Kehadiran blog ini memang diniatkan menjadi catatan perjalanan kehidupan putra pertama saya itu mulai lahir dan (mudah-mudahan) hingga dewasa kelak. Saya menulis di blog tersebut dalam perspektif "Rizky" dan menceritakan segala hal yang terjadi dengan bahasa yang ringan dan riang.

Saya menyadari, blog telah menjelma menjadi sebuah kekuatan media baru yang tangguh dan layak diperhitungkan dalam membentuk opini publik bahkan menjadi struktur yang berlawanan dengan media konvensional. Pendapat ini juga disitir oleh John Katz dalam tulisannya “Here Come the Weblogs” Mei 1999,“Blog merupakan struktur terbalik dari media konvensional yang bersifat top-down, membosankan dan arogan”. Sementara itu, Rebecca Blood, penulis buku “The Weblog Handbook: Practical Advice on Creating and Maintaining your blog” berpendapat,“Weblogs are the mavericks of the online world. Two of their greatest strengths are their ability to filter and disseminate information to a widely dispersed audience, and their position outside the mainstream of mass media”.

G9Plnc-oWUltD6TFWlOsVx4ipCr81d-F.jpg

Salah satu bukti “kedashyatan” blog dapat dilihat dari skandal yang terjadi pada National Kidney Foundation (NKF) Singapore tahun 2005 silam. Skandal penyelewangan dana LSM sosial di negeri tetangga itu mendapat sorotan tajam dari masyarakat setelah publikasi si Direktur Utama yang bergaji 600 ribu Dollar Singapore per tahun dan bepergian naik pesawat dengan kelas bisnis, padahal dana yang digunakan adalah uang hasil sumbangan masyarakat itu terkuak. Tak ayal lagi, protes, demo, yel-yel, dan caci maki dari masyarakat Singapore yang konon merupakan dua pertiga dari pendonor NKF deras mengalir. Uniknya, sebagian besar “demo” tersebut memakai sarana blog via internet sebagai medianya (saya belum dapat membayangkan apakah gerakan seperti ini kelak dapat terjadi di negeri kita yang masyarakatnya belum terlalu banyak mengenal teknologi internet, apalagi blog). Publik dari berbagai kalangan menyuarakan opini dan pendapat mereka melalui media alternatif ini sekaligus salah satu bentuk baru “gerakan bawah tanah” era digital. Dan sukses. Sang Direktur Utama serta wakilnya mengundurkan diri dari jabatannya dan langsung diadili oleh pengadilan setempat.

Harus diakui, blog sebagai salah satu bagian budaya digital memberi pengaruh besar bagi perkembangan dunia informasi dewasa ini. Merebaknya layanan blog gratis yang ditawarkan seperti dari blogger.com, wordpress.com, dan lain-lain, memberi peluang tumbuh kembang blog secara spektakuler. Ditambah lagi semakin melaju pesatnya teknologi digital terbaru serta kemudahan dan kecepatan akses internet misal melalui area hot-spot memungkinkan seseorang dapat seketika melakukan update terbaru di blog masing-masing.

Mengikuti kecenderungan yang terjadi, saya menulis blog anak sesungguhnya lebih didasari keinginan untuk berbagi informasi, ekspresi, dan juga keceriaan dari aktifitas Rizky. Seperti sebuah rumah singgah maya yang nyaman di belantara virtual yang terus tumbuh. Adapun perkembangan blog yang mengambil posisi di luar dari “mainstream” media massa seperti yang sudah diungkap oleh Rebecca Blood menjadi stimulir berharga bagi saya untuk menampilkan blog yang saya tulis menjadi lebih menarik.

Amy Jo Kim seorang konsultan dan pengarang buku “Community Building on the Web: Secret Strategies for Succesful Online Communities” , seperti dikutip dari blog Enda Nasution, menulis bahwa diperlukan beberapa syarat dasar khusus untuk menjadi seorang Blogger, yaitu kemampuan untuk mengekspresikan diri, keinginan untuk berkomunikasi dengan orang banyak dan minat pribadi pada “keterusterangan”. Saya memberi aksentuasi khusus pada kalimat terakhir Amy, karena dengan menulis blog anak saya–mau tidak mau–memberi peluang bagi pembaca untuk secara “telanjang”mengetahui lika-liku dan latar belakang kehidupan keluarga saya. Tentu saya mesti siap menempuh risiko “keterus-terangan”itu. Blog sebagai refleksi personal pembuatnya pada gilirannya–secara langsung maupun tidak–menjadi “jendela” yang membingkai ide, aktifitas keseharian, emosi, kreatifitas, harapan bahkan mimpi-mimpi sang penulis blog.

Melalui blog Rizky, saya berusaha mengartikulasikan “ketelanjangan”...(more)

Answered Aug 18, 2017
Ibnu Zubair
Menolak tua dengan rutin tertawa

qaO7GjWi-geeZ6wRthGQdyyGtSOu6j4q.jpg
Dulu, saya seorang yang ambisius, punya banyak keinginan dan merasa memiliki kepintaran diatas rata-rata. Sekalipun berangkat dari keluarga yang sederhana, tapi tabiat saya tidak mau kalah dari orang-orang kaya. Dari penampilan sampai soal makanan, selalu minta yang terbaik, dan itu biasanya dibandrol mahal untuk ukuran keluarga saya. Tapi saya tidak peduli, karena itulah keinginan saya. Kedua orang tua saya akan berusaha memenuhi tiap keinginan tersebut, karena saya terbilang anak yang berprestasi untuk ukuran di Kampung. Sebagai anak Kampung, semua perlombaan seni dan keagamaan selalu saya ikuti dan sangat jarang menderita kekalahan, kalaupun itu terjadi, pasti akibat kondisi saya yang kurang prima saat pertandingan berlangsung.

 

Efek dari mental itu, saya sulit mengalah. Kalaupun saya terpaksa kalah, karena ada kompensasi lain yang saya dapat dari kekalahan itu. Selain itu, saya menjadi dominan dan sulit mendengar masukan dan tanggapan dari orang lainnya. Tiap ada orang yang lebih hebat dari saya, akan saya hindari, karena tidak mau bersaing dengan orang tersebut. Akibatnya saya pun menjadi anak yang tertutup, dan sulit berbagai cerita dengan lainnya, karena merasa tidak perlu ditolong orang lainnya. Jangankan junior, kawan seangkatan yang hendak memberi masukan akan saya anggap sebagai rival, sehingga kawan itupun akan saya jauhi, bila perlu ditinggalkan.

Satu waktu, terjadi pemilihan pimpinan mahasiswa di Kampus. Sebagai orang yang selalu dimintai pendapat dan banyak didengar sarannya, saya menjadi salah satu calon yang paling berpeluang terpilih menjadi pemimpin. Apalagi, lawan lainnya saya rasa berada dibawah saya. Dari sisi perkawanan, teman-teman saya lebih banyak, sebaliknya lawan lainnya sepengetahuan saya sangat sedikit teman mainnya. Sehingga saya merasa perebutan pimpinan tersebut akan dengan mudah saya menangkan.

Tibalah saat pemilihan, tanpa diduga suara yang memilih saya tidak sampai seperempat dari jumlah pemilih, dan lawan saya dipilih oleh mayoritas pemilih yang berhak memilih. Saya kecewa, marah dan dendam. Saya menduga ada pengkhianatan, ini yang disebut banyak pengamat, sebagai menggunting dalam lipatan. Selepas itu semua kesombongan yang melekat pada diri saya, rontok seketika. Anak pintar, selalu juara dari kampung lunglai dan tak berdaya, rasanya ingin pulang kampung dan sembunyi dibalik ketiak Ibu. Hampir sebulan saya hilang dari peredaran di kampus. Teman-teman dan pemimpin terpilih ingin merangkul dan mengajak saya masuk dalam kabinetnya. Tapi karena saya menghilang, saya pun tidak iikutkan dalam susunan kabinetnya. Sebenarnya saya sangat ingin aktif kembali, sayang hati terlanjur terluka. Teman-teman mahasiswa lain mengira ketidakhadiran saya, sebagai bentuk protes dan sedang memproklamirkan sikap oposisi. Padahal, saya benar-benar menghilang karena bingung, kenapa ini semua bisa terjadi. Barulah setelah bulan berikutnya saya menampakkan diri di kampus, dan betapa terkejutnya saya, spanduk satu kegiatan sudah terpampang di depan pagar kampus. Dalam hati saya berkata, memang kepengurusan sudah terbentuk ?. Rupanya semuanya sudah berjalan normal, dan saya pun ditinggal tanpa jabatan apapun dalam kabinet yang dibentuk oleh pemimpin baru tersebut. Andai saya tidak egois, mungkin saya sudah menjadi orang kedua.

Suasana hati yang sudah melunak, kembali mengeras. Tak tahu harus mengadu kemana, dan pada siapa. Saya pun kembali menghilang, dan hanya berdiam diri dirumah tempat saya menumpang. Orang-orang dirumah bertanya, kenapa saya tidak kuliah, saya jawab dosennya tidak masuk.

Ini peristiwa pertama kali yang merontokkan kesombongan saya, dan boleh jadi atas peristiwa ini, saya tersadar bahwa ada banyak orang pintar lain yang lebih hebat dari saya, dan ada banyak juara-juara lainnya yang lebih jago dari saya. Sementara saya tetaplah seorang juara Kampung, yang harus beradaptasi dengan pertandingan di Kota. Atas peristiwa ini pula, saya belajar mendengar dan lebih giat membaca. Tulis menulis pun semakin rutin saya lakukan, dan yang paling fenomenal bagi saya, meminta koreksi, saran dan kritik dari orang lain mulai menjadi kebiasaan sebelum saya benar-benar berbuat atau melakukan suatu pekerjaan. Saya mulai bisa menerima bahwa saya anak kampung yang punya kesempatan menerabas kemacetan kota. Hanya itu dan tidak lebih, karena itu saya harus lebih banyak melihat kiri kanan, atas bawah untuk lebih gigih menaklukkan Jakarta.

Tapi sesekali, sikap sombong itu terkadang muncul, mungkin watak asli memang tak bisa dihilangkan. Pada saat mulai mendapat upah, rasa angkuh datang kembali, meski dalam skala yang kecil, sampai suatu hari saya kembali bertemu dengan teman lama. Dalam pikiran saya waktu itu, teman ini secara ekonomi berada di bawah saya, artinya sekalipun dia mengajak saya, tetap biaya makan saat pertemuan saya yang menanggungnya. Semua saya menolak, tapi karena tidak enak hati saya memaksakan diri untuk menemuinya. Beruntuh jadwal upah baru satu dua hari berlalu, tabungan saya masih terbahak-bahak dalam mesin ATM, mesin uang itupun pada hari-hari itu belum mau bermaaf-maafan, mengingat saldonya masih tersedia lumayan.

Setelah bertemu di salah satu kedai makan, kami berbincang-bincang ringan dan saling bertanya kabar. Saat memesan makanan, saya agak khawatir, karena pesanan teman saya itu lumayan mahal, sekalipun saya masih sanggup membayarnya. Beruntung dengan sigap teman tadi menapik kekhawatiran saya. Nanti saya yang bayar kata teman tadi. Dan benar diakhir pertemuan dia membayar seluruh makanan yang kami santap dengan lahapnya, bahkan, dan ini yang membuat saya terkejut, dia memberi saya amplop yang berisi uang dalam jumlah lumayan untuk ukuran saya pada waktu itu. Katanya bagi-bagi rejeki.

Saya benar-benar iri sama teman itu, dia yang biasa-biasa saja dan cenderung dibawah saya, tapi secara ekonomi melesat beberapa langkah di depan saya. Saya merasa manusia tersial, karena ekonomi tidak beranjak meningkat, padahal pekerjaan dan ibadah sudah rutin dilakukan. Dari...(more)

Answered Aug 21, 2017
Mugniar
Blogger www.mugniar.com | Freelance writer

Titik balik kehidupan saya adalah ketika saya mendapatkan beberapa ujian bersamaan yang semuanya pahit, bertahun-tahun yang lalu. Saking pahitnya, saya tidak bisa menceritakan detailnya kepada publik. Hingga kini, satu per satu terselesaikan tetapi belum semuanya. 

 

_upfVSHnNrwDbeyixQI01ej6sQK-66MW.jpg

 

Dahulu saya sampai merasakan depresi, rasa percaya diri dan harga diri jatuh ke titik nadir, sakit fisik berat, bahkan hampir gila. Tapi alhamdulillah, keyakinan kepada Allah - karena rahmat Allah semata, yang kemudian membawa saya kembali bangkit secara perlahan dan menemukan kembali harga diri dan rasa percaya diri yang hilang, sewaktu saya mencoba aktif menulis sejak tahun 2011 hingga kini.

Banyak sekali manfaat menulis (terutama melalui ngeblog) yang saya rasakan. Ada beberapa prestasi, salah satunya adalah Srikandi Blogger Favorit tahun 2014 (diselenggarakan oleh Kupulan Emak Blogger). Ada juga prestise yang mengikut. Orang-orang tak memandang sebelah mata pada saya. Saya bersyukur - alhamdulillah, tidak berani berbangga. Pencapaian-pencapaian seolah membawa saya kepada tahap berikutnya dalam kehidupa saya walau itu bukan yang utama. Yang paling utama dari kegiatan menulis bukan prestasi dan prestise itu tetapi BERBAGI. Bagaimana berbagi melalui tulisan bisa sebaik-baik menebar MANFAAT yang akan menjadi bekal AMAL JARIYAH saya, bukannya sebagai penghambat saya di akhirat kelak. By the way, akhir-akhir ini saya makin menyadari, dengan semakin banyaknya saya menulis maka semakin besar pula tanggung jawab yang harus saya pikul. Kelak di akhirat saya juga harus mempertanggungjawabkan semua huruf yang sudah saya hamburkan di dunia ini, sebagaimaa orang-orang kaya mempertanggungjawabkan kekayaa mereka di hadapan Allah SWT.

Banyak sekali hikmah yang saya dapatkan dari pengalaman-pengalaman saya. Di antaranya adalah mengenai bertambahnya keyakinan kepada Sang Maha Pencipta (Allah SWT), bahwa penting mengusahakan kesabaran, keikhlasan, dan tawakal dalam mengarungi kehidupan. Saya mencoba mengungkapkannya dengan kata-kata, namun sungguh - saya tidak bisa mengungkapkan semua pengalaman saya. Yang jelas, kepahitan hidup ternyata memberikan banyak pelajaran berharga bagi saya.

 

 

Answered Aug 21, 2017
Andrian Habibi
Hidup dengan menulis karena menulis memberikan kehidupan

Menulislah, karena menulis adalah kerja-kerja keabadian. Jika kamu bukan anak raja atau pejabat, maka menulislah nasehat Pramoedya Ananta Toer

Motivasi dari sastrawan kebanggaan Indonesia ini, saya gunakan sebagai kalimat awal menjawab pertanyaan “pengalaman yang membuat saya mendapatkan posisi saat ini”. Sebelum menghubungkan judul dan penggalan nasehat Pramodya Ananta Toer dengan apa yang hendak dijawab. Saya akan memulainya dengan dramatisasi beban hidup yang telah dilalui. Walaupun, beban hidup orang lain berpotensi lebih berat daripada yang saya alami.

Kisah hidup saya sudah saya terangkan dalam jawaban atas pertanyaan https://www.selasar.com/question/8683/Siapakah-Anda-Bisakah-Anda-berbagi-inspirasi-dengan-menceritakan-perjalanan-hidup-Anda. Pada jawaban tersebut jelas berhubungan dengan jawaban atas pertanyaan ini. Kejadian yang merubah hidup saya secara umum bisa dinarasikan dengan dua kejadian. Pertama, pelatihan organisasi kemahasiswaan yang semenjak mengikuti pelatihan sampai sekarang memberikan peluang saya untuk mendapatkan pengetahuan, jaringan dan segala kesempatan.

Pelatihan tersebut bisa dikatakan titik awal perubahan hidup dan merubah jalan hidupku. Tidak pernah terbayangkan bahwa dari pelatihan selama 4 hari 5 malam tersebutlah yang mengantarkan saya sampai ke Jakarta. Pelatihan organisasi kemahasiswaan (Himpunan Mahasiswa Islam – disingkat HMI) memberikan saya semangat hidup dan berjuang. Dari orang kampung yang kuliah di kampus swasta kampung (begitu sindirian orang kota), saya bisa melaju mengarungi kehidupan dan bersaing dengan banyak mahasiswa di beberapa daerah.wPVGPPJgb8NjHB0GkHnBj1a7qxJjcd-Y.jpg

Organisasi memang bukan jalan satu-satunya untuk merubah nasib mahasiswa atau seseorang. Apalagi merubah kehidupan dari tiada menjadi ada, dari tidak berarti menjadi berarti. Akan tetapi, dalam kasus saya, organisasi menjadi salah satu tangga yang mengantarkan saya kepada keterkenalan. Dengan demikian, apabila ada mahasiswa yang memiliki kisah hidup seperti yang saya jelaskan sesuai jawaban “https://www.selasar.com/question/8683/Siapakah-Anda-Bisakah-Anda-berbagi-inspirasi-dengan-menceritakan-perjalanan-hidup-Anda?”, beraktifitas sebagai kader organisasi mampu membuka harapan menjadi kenyataan.

Kejadian kedua adalah ketika tulisan (opini) saya dimuat pertama kali di koran singgalang pada bulan januri 2014. Setelah setahun mengirimkan tulisan ke redaksi koran Singgalang, Haluan dan Padang Ekspres pada tahun 2013, baru tulisan dengan judul “Maju Tak Gentar Membela Yang Bayar” menambah sebahagian kekosongan yang mengisi 50% perubahan diri yang diberikan oleh organisasi pada kehidupanku.

Menulis dan (opini) dimuat koran menyempurnakan “pengakuan” orang lain terhadapku si anak kampung yang kuliah dikampung. Saya berubah dari anak kampungan yang di-bully sepanjang hidup menjadi orang yang disegani akibat mengurusi organisasi dan menulis. Sejak tahun 2014 sampai sekarang, saya tidak berhenti menulis dan mengirimkan ke media baik cetak maupun online.

Terkadang saya tidak perduli apakah tulisan itu dimuat atau tidak. Tugasku hanya menulis dan mengirimkannya ke email redaksi. Apabila tidak dimuat, maka blog pribadi atau media online lah muara tulisan (opini) tersebut. Perubahan drastis pun terjadi saat opini saya dimuat oleh Harian Republika, Koran tempo dan Koran Kompas. Hidupku bagaikan berputar terbalik. Semua orang mulai segan dan hormat, bahkan ada beberapa orang yang dulunya mencaci, menyindir, menghina dan mengejek memelankan suaranya apabila kami mengobrolkan sesuatu.

Os8CjepVDMU5KT5pMwpiXFdcoyh7nkbe.jpg

Sekarang saya menjadi salah satu bahagian dari Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia (PBHI) Nasional, Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP) Indonesia dan Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI). Dengan jaringan organisasi dan ditambah kebiasaan menulis membuat saya bisa dikenal oleh Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Republik Indonesia. Saya juga memiliki jaringan dengan banyak akademisi serta pegiat pemilu juga anti korupsi atas berkah mengikuti Konfrensi Nasional Hukum Tata Negara (KNHTN) yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Konstitusi (PUSaKO) Fakultas Hukum Universitas Andalas.

Dari bulan februari 2016 saya tinggal di Jakarta dan menjalankan aktifitas sebagaimana yang biasa jalani di Kabupaten Pasaman atau di Kota Padang, Provinsi Sumatera Barat. Hanya saja, apabila saya mengeluarkan siaran pers terkait isu politik dan pemilu. Tidak kurang dari 10 media (bisa lebih) yang memuat pandangan saya, walaupun saya bukan tokoh (dalam hal ini pejabat atau politisi). Saya hanya Andrian Habibi, si anak kampungan yang pendapatnya diterima publik karena perjuangan organisasi dan membiasakan diri menulis opini.

vqr2kmCiV9_C25bKABltehgWM0qolKBx.jpg

Sehingga saya bisa menyarankan kepada semua orang, siapapun dengan latar belakang apapun. Menulislah, karena dengan menulis manusia akan dianggap lebi manusia oleh orang lain. Dengan menulis, seseorang dihargai dan diingat sepanjang sejarah kehidupan manusia. Lalu, menulsi yang tulisan itu dimuat oleh media (koran) mengantarkan seseorang kepada posisi elit tanpa harus membayar orang lain dengan kesenangan duniawi.

Saya berharap pembaca bisa aktif di organisasi apapun, karena himpunan atau ikatan membawa perubahan banyak orang. Setelah berorganisasi (apapun aktifitas organisasinya), pembaca jawaban ini harus menulis. Kemudian tunggu saja perubahan pandangan sekitar anda terhadap diri anda (penulis organisatoris). Ingatlah bahwa sebahagian besar tokoh bangsa atau pahlawan di dunia merupakan orang-orang yang terhimpun dalam suatu komunitas juga membiasakan diri menuliskan pandangannya sehingga mempengaruhi zaman dan masa depannya.

Answered Aug 22, 2017
El Hakim Law
Founder Lingkar Studi Islam & Kepemimpinan (@larsik.id)

"Sebaik - baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi yang lain." 

~ Pesan abadi dari lebih dari satu milenia lampau kepada seluruh jiwa insaniah

 

Titik Balik (demi titik balik)

Dahulu, saya termasuk manusia yang sangat bersemangat dan antusias dalam menjalani sesuatu terlebih bila berbicara tentang organisasi. Totalitas seakan menjadi hal yang tak terpisah dalam performa saya. Hal ini saya rasakan banyak ketika masih duduk di bangku SMA, mengingat almamater itu juga rutin dalam menyajikan program yang menuntut siswanya menjadi "aktifis" mulai dari kegiatan pengaderan siswa baru hingga pengaderan calon OSIS-MPK. Nampaknya, masuk SMA Negeri 5 Surabaya merupakan salah satu turning point terbaik saya mengingat prestasi akademik saya ketika di SD maupun SMP cenderung biasa bahkan dibawah rata - rata.

Hingga kemudian datanglah decision making moment ketika saya kelas 12 SMA. Saya yang termasuk dalam kelas khusus, karena satu kelas hanya 11 siswa, mendapat grojokan rezeki dari langit yakni melimpahnya jalur undangan (sekarang SNMPTN) hingga kami sekelas tak perlu merisaukan kemana kami akan kuliah sebagaimana kelas sebelah. Kelas IPS SMA ini begitu terhormat karena setiap siswanya hampir sudah diterima kuliah sebelum UNAS.

Salah satu hal yang paling saya ingat dan mungkin adalah turning point saya adalah ketika saya lebih memilih kuliah di Universitas Airlangga dibandingkan dengan Universitas Brawijaya atau bahkan Universitas Indonesia. Ya, saya dahulu pernah diterima (tinggal daftar ulang) di Ilmu Politik UB dan mendapat jatah jalur undangan ke UI. Namun entah kenapa (mungkin karena pertimbangan latar belakang sarjana ayah saya) saya lebih memilih Unair. Hal yang menarik adalah jatah undangan UI saya, karena saya masuk dalam peringat 5 besar kelas (dari 11 siswa, haha) saya berikan kepada salah satu kawan sekelas saya yang lebih membutuhkan (dan kemudian memang dia diterima kuliah di Kriminologi UI).

Masuk ke Unair merupakan salah satu momen yang harus saya syukuri karena ternyata saya kembali merasakan turning point yang mungkin benar - benar membalik benak saya atas diri saya sendiri.

ZBfJURU5_04SUsyAbCVR2tuQ-ETYOlIu.jpg

Menjadi Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa, menjadi representasi mahasiswa Unair ketika 2013. Ya, inilah turning point saya. Bukan karena terpilih menjadi mahasiswa no-1 ex officio namun pada bagaimana cara Allaah untuk menyadarkan hakikat dan tugas saya sebagai manusia. Khalifah fil Ardh wa Rahmatan lil 'Alamin, Pemimpin di bumi dan rahmat bagi alam semesta.

Sebagai mahasiswa yang sebelumnya lebih tertarik pada dunia kompetisi seperti lomba debat hukum, karya tulis hingga mawapres yang kemudian dipercaya menjadi pemegang organisasi intra kampus, menuntut paradigm shift yang cukup drastis dalam diri saya.

Dari seorang yang awalnya mementingkan personal interest dan competition based mindset menuju comunal interest dan collaborative based mindset bukan main susahnya. Namun semangat dan bantuan Allaah melalui nakama saya di BEM Unair baik para staf, jajaran menteri khususnya Wakil Ketua, Agus Shodikin menjadikan akselerasi paradigm shift saya sangat cepat. Program demi program yang tidak hanya kami tujukan sebagai pemanis LPJ namun benar - benar untuk menjawab kebutuhan konstituen kami, mahasiswa dan investor kami, rakyat Indonesia. Kontribusi saya melalui organisasi ini benar - benar dituntut seoptimal mungkin melalui kerja advokasi dan mediasi antar stakeholders khususnya mahasiswa yang membutuhkan. Dinamika konflik kepentingan dan golongan serta infiltrasi organ ekstra juga menjadi sarana pendewasaan kami di BEM Unair khususnya saya bahwa dunia ini tidak sesederhana membedakan hitam dengan putih. Memimpin organisasi ini adalah salah satu pengalaman dan kesempatan termahal dari Allaah untuk saya dalam menguji kedewasaan dan kemampuan berkontribusi pada sesama.

Hingga setahun berlalu, mungkin saya bukan Ketua BEM terbaik yang dimiliki Kampus terbaik di timur Indonesia. Namun melalui proses itulah mata dan hati saya benar - benar dibuka bahwa betapa beruntungnya saya menjadi manusia dan masih diberi kesempatan untuk berproses tumbuh kembang. Dan beruntungnya lagi Allaah mengutus para sahabat yang terbaik dan pas untuk membantu saya dalam menjalankan amanah di BEM KM untuk mewujudkan visi dan misi menjadi realita dan manfaat.

Ya, mungkin itulah turning point dalam hidup saya yang remarkable dan masih menjadi base point saya dalam mengambil keputusan.

Mungkin saya tidak akan mendapat kesempatan dan pelajaran yang sama seandainya saya memilih UB atau UI namun inilah rasa sayang Allaah kepada saya untuk mengingatkan hakikat hidup saya di dunia.

Komitmen (dalam meningkatkan kapasitas & kompetensi), Kolaborasi dan Kontribusi.

r0MyB5vO3xn-RQbj0iKIIXCyukMD4f-d.jpg

Tiga hal inilah yang saya dapatkan selama berproses untuk mengoptimalkan peran dan tugas saya sebagai manusia "Pemimpin di dunia dan rahmat alam semesta".

Pun selama di almamater Airlangga, saya pun melahirkan ide bahwa pada hakikatnya kebanggaan seseorang tidak boleh berhenti hanya ketika ia dinyatakan diterima di kampus tertentu. Itu masih level satu.

Level berikutnya dalam berproses di kampus adalah ketika ia mampu menjaga nama baik sekolahnya dengan prestasi individu sebut saja IPK.

Level ketiga ketika dia mampu berkontribusi untuk orang lain dalam bentuk apapun, melampaui prestasi individual. Dan level terakhirnya,

Menyelesaikan apa yang ia mulai dengan khusnul khatimah, wisuda.

NcUWLbccl_bqBhlzUjtG28kOigSs5iMx.jpg

Hal itulah yang juga saya coba terapkan dalam kehidupan pasca kampus bahwa hidup tidak melulu berhasil mencapai ini dan itu, foto sana foto disitu, kerja bergaji sekian atau segitu. Tri dharma perguruan tinggi menuntut saya tidak hanya cerdas dalam "mencari" pekerjaan melalui pendidikan dan kemampuan penelitian tetapi harus menelurkan dharma bakti pengabdian masyarakat sebagai klimaksnya. Keidupan manusia sebagaimana hakikatnya sebagai khalifah fil ardh wa rahmatan lil 'alamin melampaui prestasi diri yakni berkontribusi kepada yang lain baik makhluk hidup atau "benda mati".

Dan hingga saat ini, saya masih lebih...(more)

Answered Aug 22, 2017
Reza Firmansyah
Mathematician. Writer. Futurist. Trying to leave good marks as my legacy.

Jika harus mengambil satu saja peristiwa yang paling life-changing dalam hidup saya, rasanya aman bila saya menjawab:

"Saat saya resmi menjadi mahasiswa Universitas Indonesia".

Mengapa? Karena sejak di sana, saya:

1. Mengenal dunia baru.

Mengenal sebuah kampus yang begitu luas (320 hektar, lebih luas dari 2 negara terkecil di dunia, Vatikan dan Monaco, disatukan), penuh dengan teman baru dari berbagai latar belakang, serta staf pengajar dan pengurus kampus yang luar biasa, adalah sebuah tempat yang menawarkan banyak hal unik setiap harinya.

2. Mendapat banyak pengalaman baru.

Mendapat ilmu saat kuliah bukanlah hal yang aneh, namun yang tak kalah hebat adalah bahwa di UI terdapat banyak komunitas maupun seminar (hampir setiap minggu selalu ada seminar, di fakultas yang berbeda-beda), sehingga saya pun dapat mengasah social skill saya secara signifikan dibandingkan saat bersekolah.

3. Menjadi pribadi yang lebih dewasa dari sebelumnya

Sebelumnya, sekolah-sekolah saya biasanya dekat dari rumah. Namun kampus saya ternyata relatif jauh dari rumah (2 jam perjalanan dengan kendaraan umum), sehingga saya pernah jatuh sakit karena kelelahan dengan jarak yang begitu jauh. Saya pun secara tidak langsung belajar untuk lebih menjaga kesehatan agar tidak mudah sakit.

Kemudian, beberapa ujian hidup saat berkuliah mendorong saya untuk menambah kemampuan diri saya dengan mulai mengajar les privat untuk anak-anak SMP dan SMA, serta mencoba tinggal di kos selama beberapa bulan agar bisa belajar hidup lebih mandiri.

To sum it up, masa-masa perkuliahan yang saya tempuh tidaklah seluruhnya berisi hal-hal manis, namun saya bangga dan bersyukur sudah melewatinya, karena dengan itu semua, saya InsyaAllah menjadi pribadi yang jauh lebih baik dari diri saya bertahun-tahun lalu.

Dan semua itu bisa dikatakan bermula ketika saya resmi menjadi mahasiswa UI.

 

"What doesn't kill you, makes you stronger."

- Friedrich Wilhelm Nietzsche (1844-1900), German philosopher .

Answered Aug 24, 2017
Uli Elysabet Pardede
Karyawan Biasa, Blogger, Make-Up Addicts

"Jadikan makanan sebagai obatmu dan obat sebagai makananmu."
— Hippocrates

Berawal dari kepergian Maktua (Bibi) saya karena k*nker PD sejak September 2015. Saya memiliki ketakutan yang teramat besar, terutama bagi wanita seperti saya yang memiliki riwayat keluarga yang memiliki penyakit itu. Tetapi kejadian itu belum membuat perubahan yang berarti dalam hidup saya. Saya masih tetap dengan pola hidup saya yang bisa dikatakan baik-baik saja tidak ada yang berlebihan.

Memasuki tahun 2016, saya mulai lepas kontrol.

  • Entah kenapa saya seperti men-jadwalkan konsumsi mie instant minimal setiap hari sabtu atau minggu. Padahal sebelumnya konsumsi mie instant bisa dibilang 1x dalam 3 bulan.
  • Saya juga mulai mengkonsumsi obat ketika sakit (kadarnya masih normal), padahal sebelumnya saya hanya mengkonsumsi apel hijau jika sakit dan sakit pun bisa dikatakan 1x dalam setahun.
  • Lain lagi ketika pergi keluar rumah, saya mulai tidak menggunakan masker hanya karena takut makeup-nya luntur. Padahal sebelumnya saya selalu menggunakan masker keluar rumah.
  • Tiba-tiba jika pergi main sama teman, saya jadi membeli minuman yang ada rasanya (brand: chatime). Padahal biasanya saya selalu memilih minuman mineral untuk makanan apa pun, bahkan jika ada saya minum air ber-ph di atas 7.

Pola hidup saya mungkin belum separah teman yang lain. Tapi pola seperti itu 'saja' sudah membuat tubuh saya menjadi lebih lemah dari sebelumnya. Terkadang iri dengan mereka yang bisa makan apa saja bahkan merokok dengan bebas, tapi terlihat baik-baik saja. Tapi belakangan saya mulai berpikir, betulkan mereka sehat atau hanya 'kelihatan sehat' saja?

Musuh utama saya adalah MSG.

Yap, benar sekali saya sudah mengenali tubuh saya dari dulu, bahwa MSG akan membuat badan saya gampang pegal-pegal dan susah BAB selama 3 hari. Itu sebabnya saya dari dulu mengkonsumsi mie instant hanya 1x dalam 3bulan bahkan terkadang rentang waktunya bisa lebih. Tapi  karena faktor pergaulan saya, jadi sering mengkonsumsi mie instant.

Suatu ketika iseng dengan teman memesan makaroni goreng yang lagi nge-hits di Jakarta. FYI, mecinnya banyak sekali!!! Saya memakannya 1 bungkus penuh tanpa bagi-bagi, dan ditambah lagi saya kurang minum pada hari itu. Keesokan harinya, sariawan di semua mulut saya, tenggorokan tidak enak, seluruh tubuh terasa pegal. Pada saat itu juga entah kenapa saya langsung terbayang wajah Bibi saya yang sudah tiada.

Saya gak sayang sama tubuh saya, padahal resiko penyakit itu besar akan terjadi pada saya. Sejak kejadian itu pikiran saya kalut, saya jadi sering googling 'gejala penyakit k*nker PD'. Walaupun saya masih dengan pola makan yang sama (tidak diubah sama sekali). Nasi, nasi dan nasi!!!

Saya stress. Saya mulai flashback pada masa-masa dulu. Di mana saya jarang sakit, belakangan malah menjadi 1x dalam 3bulan. Lebih parahnya lagi saya pernah sakit dan menyerah pergi ke dokter dan diberi obat segambreng (pada saat itu saya keracunan mie instant). Saya melanggar prinsip saya saat itu yang anti obat dokter apalagi obat warung.

Perubahan itu baru saja terjadi

Saya bersyukur hidup di masa sekarang yang dimana internet gampang di jangkau. Berkat googling, saya mulai belajar bagaimana mengatasi permasalahan saya ini. Penyakit datang dari stress dan pikiran. Awalnya di kala stress melanda saya memilih pergi jalan dengan teman-teman. Saya melakukan itu untuk terhindar dari stress, lebih baik saya tertawa-tawa dengan teman saya. Tak jarang junkfood menemani obrolan di saat santai, asap rokok teman saya sukses masuk ke dalam tubuh saya. Teman saya berkata bahwa merokok bisa menghilangkan stress, akibat bujuk rayu saya sukses turut merokok. Dan selama berteman dengannya saya sudah meminta rokok gratisan darinya sebanyak 2 batang.

Setelah pulang ke rumah, saya mengingat-ingat kembali apa yang saya lakukan. Burger, kentang goreng, dan 2 batang rokok!!! Ini sudah tidak benar!!! Yang awalnya saya ingin terhindar dari stress, malah makin stress ketakutan mikirin apa yang sudah masuk ke dalam tubuh saya. Dan bakalan jadi apa makanan itu di dalam tubuh saya.

Berkat ketekunan saya membaca artikel di internet dan menonton video di youtube ditambah lagi saya jadi gampang sakit. Tibalah saya pada saat-saat genting untuk mengambil keputusan  buat berubah. Dan biarlah kejadian mengisap 2 batang rokok itu hanya akan jadi kenang-kenangan karena tidak akan terulang lagi.

Saya sudah berubah!

Pikiran dan pola makan saya harus sejalan. Dengan saya pergi nongkrong dengan teman saya, bisa saja terlihat saya sudah melupakan masalah saya. Namun setelah saya sendirian tidak ada pilihan lain untuk memikirkan masalah itu lagi. Saya tidak mau mondar-mandir dalam lingkaran itu terus menerus dan lambat laun membuat tubuh saya menjadi asam karena pikiran. Soalnya penyakit itu suka datang ke dalam tubuh yang asam, saya ingin tubuh saya dalam keadaan yang basa.

Berkat ajaran dari internet dan kotbah di gereja saya memaafkan keadaan, orang atau apa pun yang membuat saya merasa tidak bahagia kala itu. Saya mensugesti diri saya bahwa memaafkan dengan tulus itu sangat menyehatkan.

Setelah saya menata pola pikir saya, mulailah saya menata pola makan saya. Saya menghindari yang instant, gluten, daging, gula dan lain sebagainya yang bisa membuat ph tubuh saya menjadi asam. Awalnya saya menemukan di youtube pola makan rawfood. Saya berpikir ini akan menjadi sangat mahal, pengeluaran saya pasti lebih besar ketimbang saat saya makan junkfood.

Tapi saat kita memiliki niat dan tekad yang bulat, Tuhan pasti menunjukkan jalan pada kita dengan cara apa pun. Saya tercengang dengan harga pisang sesisir hanya 5000 rupiah, melon bulat 10000 rupiah dan masih banyak makanan sehat lainnya yang sangat terjangkau.

Kejadian ini juga mematahkan banyak mitos yang sudah lama saya dengar bahwa makan buah di pagi hari bisa bikin sakit perut atau asam lambun naik, sebaiknya di awali makanan seperti roti atau nasi terlebih dahulu. Padahal Nabi Muhammad SAW saja makan buah terlebih dahulu sebelum makan makanan berat.

Orang-orang di...(more)

Answered Aug 24, 2017
Hilman Fajrian
Founder Arkademi.com

NQiFOu0iR_qX4EfIZrr-r85FED18EJ_i.jpg

Ketika saya percaya pada mimpi saya dan menciptakan jalan sendiri untuk mewujudkannya. Tak peduli apapun risikonya dan penilaian orang lain. Kita hanya harus menjalaninya sebagai sebuah misi dan meyakini bahwa Tuhan menciptakan kita untuk sebuah peran yang mulia dan bermanfaat bagi orang banyak.

Itu terjadi di akhir tahun 2006. Ketika saya memutuskan untuk meninggalkan karier di tempat kerja yang lama untuk mendirikan perusahaan yang baru. Saya meninggalkan terlalu banyak kenyamanan, keamanan, dan masa depan yang jelas serta terang benderang, demi sesuatu yang belum ada dan sama sekali tidak jelas.

Yang saya tinggalkan adalah sebuah karier dengan pangkat tertinggi di sebuah perusahaan media surat kabar harian nomor 1 di Kalimantan yang merupakan jaringan media terbesar di Indonesia. Usia saya 26 tahun, paling cemerlang dan paling disayang oleh para pemimpin perusahaan dan jaringan, serta dipersiapkan untuk menjadi pemimpin masa depan. Gaji saya jauh lebih dari cukup, diberi mobil dinas, memimpin lebih dari 30 staf, serta memiliki jejaring amat luas dengan orang-orang penting berkat bekerja di perusahaan ini. Saya adalah orang paling dipercaya untuk memimpin project-project baru dengan anggaran hingga miliaran, dan saya tidak pernah gagal. Bagi banyak orang, saya menjalani sebuah hidup impian bagi seorang lajang di usia 26 tahun. 

Namun tiba saatnya ketika saya menyadari bahwa saya memiliki purpose (tujuan) yang lebih besar dibanding apa yang saya miliki sekarang. Purpose yang bahkan lebih besar dari perusahaan tempat saya bekerja. Purpose yang saya miliki, sayangnya, berbeda dengan purpose perusahaan.

Setiap bangun tidur, saya bertanya kepada diri sendiri, "Apa manfaatmu bagi orang banyak? Hidup seperti apa yang kelak akan kamu jalani 10 tahun lagi? Benarkah itu hidup yang kamu inginkan?"

Purpose tersebut adalah mendirikan sebuah media surat kabar lokal yang sepenuhnya hadir atas keberpihakan kepada masyarakat, memecahkan masalah orang banyak, menjadi petunjuk, menawarkan kebijaksanaan, mengasihi yang papa, dan mengingatkan yang berkuasa.

Purpose ini saya sampaikan kepada beberapa teman yang kebetulan memiliki pandangan yang sama. Maka, kami sepakat untuk mendirikan sebuah media baru demi mewujudkan purpose kami. Namun modal finansial jelas tidak banyak dan mesti diawali dengan segala keterbatasan. Semua itu tidak masalah. Karena kami semua memiliki peran pembangun dan perintis.

Maka saya tinggalkan semua kenyamanan itu dan menyisakan banyak kekecewaan dan juga kemarahan orang-orang yang menyayangi, membina, dan menaruh harapan besar pada saya. Semua menganggap saya bodoh dan konyol, kecuali calon istri saya. Di jalan yang saya ciptakan ini, modal terbesar adalah rasa percaya pada mimpi bersama, bahwa kita hadir karena sebuah purpose yang kita yakini. Semua itu mesti saya jalani dengan gaji amat kecil, kerja sangat keras, dan hidup terpisah kota dengan wanita yang baru saja 1 bulan saya nikahi. Kenyamanan dan kesejahteraan hidup berubah 180 derajat. Namun, saya merasa hidup yang berisi karena living in purpose dan menciptakan jalan sendiri untuk mewujudkannya.

Dari waktu ke waktu, perusahaan yang kami bangun terus tumbuh sesuai ekspektasi dan berhasil meyakinkan pasar soal posisi dan purpose yang kami ambil. Bahkan kini telah memiliki 3 anak perusahaan. Padahal, para pendiri, termasuk saya, tidak pernah berencana untuk mendirikan sebuah perusahaan sebagai jalan untuk kaya raya. Namun perusahaan tetap tumbuh secara sehat sebagai sebuah entitas bisnis.

Saya akhirnya mundur dari operasional 6 tahun kemudian setelah merasa misi saya sudah selesai dalam membangun visi, misi, nilai, dan kultur dalam perusahaan sebagai sebuah tim dan keluarga. Saya menyerahkan posisi saya kepada rekan setim lainnya untuk dilanjutkan agar gerbong terus bergerak.

Pada tahun 2012, saya kembali mendirikan sebuah perusahaan, kali ini startup teknologi bernama Discover Borneo di Balikpapan. Perusahaan ini adalah pengejawantahan karakter dalam diri saya sebagai orang yang terus bergerak menemukan purpose yang lebih besar. Kali ini adalah melayani kebutuhan informasi dan komunikasi masyarakat kota saya, Balikpapan, melalui media sosial. Waktu itu kami belum mengenal istilah startup, hanya UKM saja. Namun dalam waktu singkat, perusahaan kami tumbuh menjadi perusahaan pengembang media sosial paling besar di Indonesia tengah dan Indonesia timur yang melayani lebih dari 150.000 orang dalam jejaring.

Tahun 2015, saya sendirian mendirikan startup pribadi bernama Social Lab untuk purpose lain yang saya temukan. Purpose kali ini adalah mengimplementasikan social government ke pemerintah untuk mewujudkan masyarakat yang terbuka, akuntabilitas, pelayanan publik yang lebih baik, dan kolaborasi erat antara pemerintah dan warganya sama-sama membangun daerah melalui cara-cara baru berkomunikasi. Dalam waktu kurang dari 1 tahun, saya sudah bisa melayani 3 pemerintah daerah di Kalimantan Timur dan segenap warganya dengan cara menghubungkan mereka secara langsung di media sosial sehingga terbangun bond of trust.

Purpose lain yang saya miliki di Social Lab adalah membantu institusi swasta membuat keputusan yang lebih baik dan komprehensif melalui implementasi big data. Salah satu yang saya layani adalah PT. PLN Pusat dimana layanan big data yang saya sediakan membantu level manajemen membuat keputusan lebih baik dalam hal trading komoditas energi, mengelola portofolio investasi, hingga mengetahui perkembangan terbaru dalam sektor ekonomi makro dan inovasi energi. Saya boleh berbesar hati dengan mengatakan bahwa ada peran saya dalam keputusan-keputusan terbaik yang diambil oleh PLN untuk kemaslahatan orang banyak di Indonesia.

Mulai tahun ini, saya sedang bersiap untuk menjelajahi misi yang lebih besar lagi di jalan yang berbeda.

Titik balik tahun 2006 itu menempa sebuah karakter dalam diri saya: dreamer (pemimpi), builder (pembangun), learner (pembelajar), dan risk taker (pengambil risiko). Titik balik itulah yang membentuk diri saya saat ini...(more)

Answered Aug 24, 2017
Ikhwanul Halim
Ayah, Suami, Penyair, Penulis, Pengarang, Editor, Satiris, Humoris

dtXrNoYiN8HAdd6vGzP1skax56xwrQuG.jpg

Tidak mudah untuk mengungkapkan hal ini.

Terkadang suatu peristiwa yang merupakan titik nadir kehidupan lah yang menjadi titik balik yang menjadikan kita seperti sekarang ini.

Pada hari peringatan mengenang 9 Tahun Bencana Gempa dan dan Tsunami 26 Desember 2013, dengan tiket sekali jalan saya meninggalkan kota kelahiran Banda Aceh di ujung utara pulau Sumatera dengan hati remuk. Kepercayaan saya terhadap manusia dan kemanusiaan nyaris hilang. Saya dikhianati, ditikam dari belakang dan difitnah secara keji oleh orang-orang yang saya percaya dan saya kenal dari kecil. Bukan hanya sebagai mitra bisnis, namun teman selapik seketiduran sebantal sekalang hulu, semasa sekolah dulu. Bukan sekali dua kali saya membantu mereka, baik secara finansial maupun moral. Dan bukan sekali dua kali pula saya dikhianati namun saya maafkan sebelumnya. Tapi yang terakhir sungguh keterlaluan. Mereka menghancurkan keluarga saya.

Maka saya pergi jauh hanya dengan membawa apa yang bisa diizinkan bagasi pesawat.

Perasaan saya saat itu tertuang dalam puisi berikut:

BERI SATU ALASAN

Ku tinggalkan kota yang menjadikanku makhluk pariah
Setiap sudut pesing, lorong amis, gang gelapnya tlah lunas ku jelajah
Taman mesum, pasar kumuh, komplek elit, dan rumah ibadah
Ku pudarkan dari ingatan tergundah
Wajah-wajah pemulas usus terlupakan sudah
Seluruh debumu yang melekat di nganga luka lampus musnah

Selamat tinggal Brutus....
Ciao Iago!
Tak perlu kutelan lagi upas yang kalian ramu
Simpan amal palsumu di dengki hati
Aku tak peduli

Tapi....
Jika suatu waktu ku pulang
Hanya karena dia yang menulis tangis rindu di malam hari
Renjana mengharapku, demi aku, untuk datang


Cengkareng, 26 Desember 2013

***

Pernah terbiasa berpindah mengikuti pekerjaan, saya pikir saya masih sanggup untuk menjalaninya lagi. Saya siap ‘menghilang’ sementara waktu, karena beberapa teman SMA saya di Bandung dulu yang benar-benar baik hati menawarkan pekerjaan untuk mengelola bisnis mereka di seputaran Jakarta.

Tapi takdir berkehendak lain. Bulan Februari 2014 saya mengalami kecelakaan ditabrak sepeda motor di Bandung, yang menyebabkan tulang kaki kanan saya retak. Selama masa pemulihan, saya rajin menulis puisi. Puisi-puisi saya ternyata disukai oleh teman-teman dan kemudian saya diajak bergabung di salah satu komunitas sastra.

Berangkat dari situ, saya semakin giat menulis. Bukan hanya puisi namun juga fiksi. Dan setahun kemudian sampai sekarang, sudah beberapa buku antologi puisi dan kumpulan cerpen saya terbit, selain beberapa buku keroyokan yang memuat karya-karya saya. Saya juga mulai memberi pelatihan pada workshop menulis kreatif.

Jika tak ada aral melintang, target saya untuk menerbitkan minimal 4 buku tahun ini akan tercapai.

Bukan saja berhasil keluar dari zona nyaman yang saya tempati selama puluhan tahun, bahkan di usia setengah abad, saya berhasil terlahir kembali untuk merintis karir baru yang tadinya tak terpikirkan sama sekali.

 

Sumber gambar: http://theskooloflife.com

Answered Aug 25, 2017
Syaifuddin Sayuti
Happy Holiday...

Saya tidak tahu apakah yang saya uraikan berikut adalah sebuah titik balik kehidupan yang membuat saya seperti sekarang. Tapi jujur saya katakan peristiwa ini sangat mempengaruhi alam bawah sadar saya hingga memutuskan menjadi jurnalis sebagai pilihan hidup di kemudian hari.

Peristiwa itu sudah cukup lama, saat saya duduk di kelas 4 SD, atau sekitar tahun 1981-an. Saat itu  kami siswa SD Negeri Grogol Selatan 03 Pagi, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan mengikuti kegiatan pramuka di luar sekolah, yakni perkemahan Sabtu Minggu  (Persami) di kawasan Ciledug. Untuk mencapai lokasi kami harus berjalan kaki dari kawasan Kebayoran Lama menuju kawasan yang masuk ke dalam wilayah Tangerang itu.

Jarak itu menurut saya (setelah dewasa baru sadar) cukup jauh, namun kami jalani dengan riang karena sepanjang perjalanan kami diberikan sejumlah tantangan yang mesti dilakukan oleh tiap regu.

Dari sekian tantangan ada satu yang sangat menarik perhatian saya sejak diumumkan oleh kakak pembina Pramuka. Kami diminta melakukan wawancara dengan penduduk berprofesi tertentu di sepanjang perjalanan dari sekolah menuju tempat perkemahan. Saya yang terbiasa menulis catatan harian di rumah langsung mengajukan diri untuk membuat draft wawancaranya. Sejumlah konsep wawancara saya buat dan catat dalam notes. Ada beberapa pilihan wawancara dengan profesi berbeda. Sengaja membuat beberapa agar tak kebingungan jika tak menemukan orang dengan profesi yang kami rencanakan.

Konsep wawancara dengan tukang jahitlah yang akhirnya kami gunakan. Dan seperti sudah direncanakan saya menjadi leader yang memandu teman-teman dalam melakukan wawancara tersebut. Saya catat semua jawaban narasumber dan saya lengkapi dengan pengamatan singkat yang saya lakukan. Hasil wawancara kemudian kami buat sebuah tulisan singkat.

Hasilnya mengejutkan, ternyata regu kami memperoleh poin tertinggi untuk wawancara profesi. Senang bercampur bangga. Senang karena kami mendapatkan poin  juga setelah kalah di kategori lain. Bangga karena konsep yang saya buat diapresiasi pembina pramuka.

Peristiwa kecil itu ternyata membekas dan menjadi daya dorong luar biasa bagi diri saya yang kemudian banyak berdekatan dengan dunia kepenulisan. Saat SMP saya sempat menjadi redaktur di majalah dinding. Bahkan pernah dalam satu edisi semua artikel, cerpen dan puisi adalah karya saya semua karena tak ada satupun tulisan yang masuk dari luar. Tentiunya dengan menggunakan berbagai nama samaran agar pembaca tak bosan.

Saat SMA tulisan opini saya pernah dimuat di majalah remaja HAI, dan menjadi momen tak terlupakan karena ini pertama kalinya saya memperoleh uang dari hasil menulis.

Peristiwa yang mungkin sepele bagi orang lain ternyata memiliki efek yang luar biasa bagi saya. Kepercayaan diri saya bertumbuh cukup besar untuk meraih mimpi menjadi jurnalis. Cita-cita itu saya letakkan di jajaran paling atas dibandingkan bidang profesi lainnya.

 

Dan cita-cita itu terus saya pupuk hingga dewasa. Saat teman-teman gamang memilih jurusan untuk kuliah kondisi sebaliknya dengan saya. Saya akan langsung bisa menyebut dengan bangga memilih jurusan Ilmu Jurnalistik. Usaha keras saya berbuah manis karena kemudian saya diterima di jurusan idaman di Universitas Padjadjaran, Bandung.

Saya sangat percaya saat usaha dan doa kita lakukan terus menerus, maka campur tangan Allah akan sangat besar dalam kehidupan kita. Saat kita memiliki keinginan dan kita upayakan dengan keras maka semesta raya akan mendukung dan mengarahkan pada tujuan kita. Bermimpilah sejak kecil dan pupuklah mimpimu meski kita tak pernah tahu apakah mimpi itu bakal mewujud. Jika kita yakin dengan mimpi kita maka hidup akan  mengikuti. Prinsip ini juga saya tekankan pada anak-anak saya.

Kini saya tak lagi menjadi jurnalis Tv, karena sudah memutuskan keluar dari industri setelah berkarir selama 16-an tahun. Namun saya masih berdekatan dengan dunia kepenulisan dengan menjadi content writer, konsultan dan berkecimpung di dunia pendidikan.

Answered Aug 29, 2017
Al-A'la Dzulfikar
Full Time Blogger

4rvddZrvqqiuoq59iY2ySOdvis_rOsfU.jpg

Saat SMA saya suka sekali berkirim surat kepada orang tua saya terutama ibu saya. Selain isinya meminta bekal bulanan juga berbagai cerita-cerita ala santri saat mondok di asrama. Cerita tersebut hampir mirip seperti yang dialami oleh Alif dalam Novel Negeri Lima Menara.

Menulis surat buat saya seperti melepas kerinduan kepada rumah, keluarga dan juga segarnya udara kampung halaman di Bandung. Meski terpisah ratusan kilometer, saya masih bisa mencium aroma hutan pinus di belakang rumah hanya dengan berkirim surat.

Saat itu memang sudah ada telepon rumah. Namun karena mahal, saya tak bisa berlama-lama untuk bercerita kabar di pondok kepada orang tua.

Lambat laun saya mencoba untuk menulis di sebuah buku dengan cover yang lebih tebal. Menulis catatan harian, catatan pengeluaran harian sampai dengan daftar-daftar barang-barang yang menjadi idaman saya. Salah satunya sandal gunung carvil yang akhirnya bisa terbeli setelah mengumpulkan uang THR lebaran. Namun, sandal itu ujungnya malah harus hilang saat pertama kali dipakai ketika mampir salat di Masjid Ghede Kauman.

Saat itu saya hanya menulis dan menulis hingga akhirnya saya pun merasakan yang namanya jatuh cinta. Jatuh cinta pada santriwati yang sekolahnya terpisah. Santriwati yang kerap kami temui secara sembunyi sembunyi dengan modus olahraga di Alun-Alun utara Yogyakarta sampai kumpul-kumpul asal daerah masing-masing.

Sayang, saya terlalu takut atau mungkin bisa dibilang pengecut untuk mengutarakannya secara langsung. Lagipula, saat itu tak ada ruang dan waktu untuk PDKT selain melalui telepon dan sebuah curhat cinta di radio.

Iya, acara nyatakan cinta di radio saat itu memang sedang booming di Yogyakarta. Debarannya terasa bergetar hingga dada saat surat kita dibacakan oleh penyiar radio. Bahkan kawan saya, sebut saja Rudi, sudah menunggu ungkapan-ungkapan puitis yang dibacakan dari radio untuk merasakan bagaimana rasanya jatuh cinta. Terkadang ia pun mencatat kata-kata mutiara yang bisa ia gunakan kembali untuk berkirim surat.

Untuk mengingatnya, rasanya membuat saya malu. Tapi itulah cinta monyet yang memang rasanya sangat indah. 

Hari silih berganti akhirnya saya beranikan diri juga menyatakan cinta lewat radio. Saat itu sudah ada teknologi internet. Untuk menyewanya satu jam saja butuh ongkos Rp 6.000. Sebuah warnet persis di depan pagar sekolah.

Namun, sial nian karena pada hari surat saya dibacakan, saya tak mendengarknya secara langsung. Hanya Rudi yang berteriak girang dan berjingkrak-jingkrak mengatakan bahwa surat saya dibacakan pada malam Minggu.

Kesialan saya malah bertambah karena ternyata cinta saya bertepuk sebelah tangan. Sakit sih, tapi cuma sebentar. Namanya juga cowok, gugur satu tumbuh seribu. Pepatah yang kerap dilontarkan seorang sahabat yang jago merayu.

Satu masa akhirnya saya juga mengirimkan sebuah tulisan di majalah remaja di Yogyakarta, Kuntum. Hanya tulisan pendek dan sederhana namun diganjar dengan hadiah Kaos Dagadu yang istimewa. Senangnya bukan main. Padahal menulisnya saya lakukan di sela-sela memulihkan hati yang terluka. #eeaaaa

Ajaib! Karena ternyata menulis bisa menyembuhkan luka batin. Membuang energi negatif dan menumbuhkan kembali semangat positif untuk menatap masa depan dengan lebih baik. Dan itu saya lakukan terus menerus dengan cara menulis apapun yang ada dalam pikiran tanpa menimbang benar apa salah, baik atau buruk, bagus atau jelek, berkelas atau murahan.

Hingga akhirnya 10 tahun berlalu. Kebiasaan-kebiasaan saat SMA itulah yang membuat kecintaan pada dunia tulis menulis semakin dalam dan mampu dibuktikan melalui berbagai kompetisi menulis. 

Langkah awal untuk memasuki kembali dalam dunia tulis menulis melalui sebuah blog, membuat beberapa buku antalogi dan yang terakhir adalah mimpi menulis buku sendiri.

Saya baru menyadari bahwa titik balik kehidupan saya bermula setelah hampir 15 tahun berlalu. Saya gali kembali memori tulisan-tulisan dan perasaan saat dulu menikmati proses menulis semasa SMA. Ingatan-ingatan itulah yang menguatkan saya hingga akhirnya saya melepaskan profesi sebagai seorang pengajar di salah satu SMA Swasta di Tangerang Selatan.

Saya tinggalkan zona nyaman dan potensi sertifikasi guru yang banyak dikejar oleh sarjana baru. Saya tinggalkan beberapa posisi penting dalam dunia pendidikan demi mengejar passion saya dalam bidang menulis.

Mungkin saya terlambat menyadari namun saya masih beruntung karena masih bisa menjalin kembali benang merah kehidupan yang pernah putus pada masa lalu.

Kini, saya benar-benar menikmati kehidupan baru saya. Bertemu penulis-penulis bertalenta. Mencoba hal-hal baru yang belum pernah saya lakukan sebelumnya. 

Kini, saya benar-benar menikmati profesi sebagai seorang content marketing, seo writer sekaligus mendalami digital marketing di sebuah start up di Jakarta sembari mengelola sebuah blog kecil dan menjadi kontributor di beberapa situs lainnya.

Benar kata orang jika penulis-penulis besar, merawat cita-cita dan bakatnya sejak usia belia. Benar kata orang jika Pram, Dewi Lestari dan juga Ahmad Fuadi memiliki sebuah catatan kehidupan yang abadi sehingga menjadi mahakarya yang bisa dinikmati banyak orang. Mulanya dari kebiasaan menulis catatan harian dan disimpannya untuk dibuka kembali kelak.

Meskipun saya tak sehebat mereka, namun saya tetap berusaha memberikan konten-konten positif dan konten terbaik dengan media dan cara yang berbeda melalui konten digital. Salah satunya berbagi pengalaman dan pengetahuan di Selasar, sebuah usaha untuk menyebarkan virus literasi secara positif yang akan menjadi warisan bagi generasi penerus kelak. 

Answered Aug 29, 2017
Shendy Adam
Birokrat, pemerhati politik, pencinta sepak bola.

Meskipun orang tua saya PNS, saya sama sekali tidak pernah punya cita-cita jadi abdi negara. Mendengar cerita Ibu saya soal praktek menyimpang yang terjadi (di zamannya) saja sudah bikin malas. 

Pun setelah saya menempuh pendidikan di Jurusan Ilmu Pemerintahan UGM. Begitu lulus, saya justru mengejar mimpi saya jadi jurnalis olahraga.

Kesempatan emas tidak saya sia-siakan saat mendengar Harian Merdeka mau 'bangkit' lagi dari kematiannya yang sudah dua kali, sila cari sendiri sejarah soal Merdeka karena akan panjang kalau saya ceritakan di sini.

Gayung bersambut dengan diterimanya lamaran saya. Sempat pindah-pindah desk saat orientasi dan masa simulasi penerbitan, saya melobby supaya bisa ditugaskan di desk olahraga.

Saya sangat menikmati pekerjaan. Ibarat mengerjakan hobby tapi dibayar. Namun, periode ini ternyata berlangsung singkat. Merdeka berhenti terbit (lagi) hanya dalam waktu satu tahun.

Tidak terbayang oleh saya Merdeka akan tutup. Apalagi kalau mengingat ambisi besar dari sang pemilik, yang ceritanya saya dapatkan dari Pemred kami (Alm. Mulyana W Kusumah).

Saya tentu terpukul menerima kenyataan pahit ini. Lagi senang-senangnya menjalani pekerjaan, eh perusahaannya tutup. Sempat ada masalah dengan tunggakan gaji pula yang membuat saya agak trauma dengan perusahaan media.

Peristiwa tutupnya harian Merdeka ini sekaligus menjadi titik balik bagi saya. Saat masih galau mah mencoba peruntungan di mana, tetiba diumumkan adanya rekrutmen CPNS Pemprov DKI Jakarta. Ibu saya menyarankan agar saya mencoba.

Singkat cerita, saya lulus seleksi dan diterima sebagai CPNS. Saya ditempatkan di Biro Tata Pemerintahan, sebuah unit kerja di bawah Sekretariat Daerah. 

Sejak itu saya menyadari bahwa betapa Allah maha baik. Takdir-Nya begitu indah, hanya kita yang kadang tidak menyadari. Dulu saya sempat kecewa karena gagal masuk Komunikasi UI karena ingin jadi wartawan.

Ternyata Allah menjawab semua keinginan lewat caranya. Meski tidak kuliah di jurusan ilmu komunikasi, saya sempat mewujudkan cita-cita jadi jurnalis olahraga. Saya kemudian diberikan pekerjaan yang sesuai dengan ilmu yang saya pelajari.

Dan walau gagal masuk Komunikasi UI, ternyata saya diberi jodoh istri lulusan Komunikasi UI. Tahun 2014 Allah kasih kejutan lain, saya diterima seleksi masuk UI untuk Pascasarjana Kajian Pengembangan Perkotaan. Dua tahun berselang saya diwisuda di Balairung.

Rasanya masih seperti mimpi. Betapa baik Allah-ku, padahal saya mah apa atuh.

Dengan menuliskan kisah ini saya maksudkan bukan untuk Riya, tapi justru sebagai pengingat diri sendiri untuk tidak mendustakan nikmat yang sangat banyak. Semoga juga bisa menginspirasi teman-teman Selasares supaya jangan pernah berprasangka buruk pada Tuhanmu.

Salam.

Answered Aug 29, 2017

Saya jujur merasa kesulitan menjawab pertanyaan ini. Pertama, karena terlalu banyak peristiwa yang terjadi dalam kehidupan saya dan atau kehidupan manusia secara umum. Kedua, memperjelas batas antara titik balik dan titik dimana saya berada saat ini, hanya akan mempersempit cara kita berpikir. 

Saya meyakini bahwa hidup ini terdiri dari titik-titik tak hingga, yang selalu bergerak dalam dimensi yang rasional sampai yang paling irasional. Semuanya saling terkait dan akan terus begitu sampai kita mati. 

Kadang kita merasa jadi orang paling menyedihkan sedunia, namun seringkali Tuhan menunjukkan pada kita bahwa kesedihan itu belum ada apa-apanya dibandingkan dengan penderitaan orang lain di sekitar kita. Kadang juga kita merasa menjadi orang yang paling beruntung sedunia, namun seiring berjalannya waktu, hari baik itu pun pudar dan berganti. Hmmm, susah juga kan memilihnya.

Saya lebih percaya bahwa hidup ini bukan soal melakukan kesalahan lalu bangkit. Kita akan terus dan terus belajar, setiap harinya bahkan setiap detiknya. Bukan soal seperti apa kita dulu lalu jadi apa kita sekarang, tapi bagaimana kita menghidupi hidup.

Jika saya harus menjawab, peristiwa apa yang membuat saya menjadi seperti sekarang ini, maka saya akan bilang semuanya. Seluruh hal yang telah, pernah, atau sedang terjadi, sangatlah berarti bagi saya.

Kita semua pasti pernah mengalami saat-saat suram dalam hidup: kegagalan, masalah dalam keluarga, nggak punya duit, dimusuhin, difitnah, kesasar, salah ambil keputusan, dibenci, sakit, kehilangan orang yang dicintai, atau ditinggal mati kucing piaraan. Dari sana saya belajar bagaimana jadi lebih baik.

Kita pun pasti memiliki momen-momen bahagia: lulus kuliah, baikan setelah berantem, menang arisan, dapet pujian, diapresiasi, disayangi orang, sembuh dari sakit, ketemu orang baik, atau dikasih hadiah kucing sama teman. Dari sini saya belajar bagaimana cara bersyukur.

Semua hal-hal itu berharga dan mempengaruhi kita, disadari atau tidak.

Barangkali bagi orang lain, satu peristiwa besar bisa mengubah segalanya dalam hidup. Namun bagi saya, hal-hal sederhana dan dukungan dari orang-orang terdekat (terutama ibu) merupakan modal utama. Beliau bekerja sebagai seorang guru SD. Ibu saya selalu mendoakan dan mengharapkan saya untuk bisa berbagi tanpa pamrih, belajar tanpa bosan, dan bekerja tanpa mengeluh. Dan dari Beliau saya belajar untuk mencintai tanpa batas, menyayangi tanpa syarat, melindungi tanpa henti, memaafkan tanpa lelah, dan mengerti sepenuh hati.

Terima kasih.

 

Answered Aug 31, 2017
I.Hartaman C.Ht
Certified Hypnotherapist , Certified Trainer

Tidak banyak gelombang dalam kehidupan yang saya jalani,mengenyam pendidikan dasar hingga perguruan tinggi dari fasilitas negara layaknya kebanyakan rakyat negeri ini. Sesaat setelah selesai kuliah memulai karir di perusahaan BUMN  hingga akhirnya  2 tahun kemudian memutuskan hengkang dan bekerja di perusahaan swasta dengan memulai dari posisi paling bawah sebagai karyawan biasa. Kesulitan pekerjaan dan karir sejalan dengan imbalan yang diterima dalam bentuk penghasilan walaupun kebutuhan untuk memuaskan kepentingan duniawi akan selalu berlari lebih cepat meninggalkan kemampuan jauh dibelakang.

Keinginan dan impian untuk lebih baik menuntuk diri untuk terus  meningkatkan penghasilan agar dapat meraih perasaan senang dan bahagia. Dalam 10 th karir berjalan sangat lamban dan datar dengan sedikit hambatan serta gejolak yang tidak menggangu hingga terjadi suatu peristiwa yaitu skandal perusahaan yang dilakukan beberapa pimpinan sehingga menimbulkan efek ketidak percayaan disemua lini karyawan dan pemegang saham. Ada perasaan merasa dihianati, kecewa,marah emosi terpendam bercampur aduk karena posisi jabatan saya saat itu ada tengah,hal ini menjadi sorotan dan kecurigaan keterlibatan kasus tersebut.

Terlepas dari peristiwa ini menjadi momentum dengan energy yang besar, percayaan top menajemen akan loyalitas diri saya, sedikit demi sedikit terbangun dengan baik hingga bisa posisi lebih tinggi. Justru disinilah  dirasakan permasalahan sebenarnya terjadi yaitu ,tidak puas dengan kondisi  tanpa kemajuan  bahkan sampai kosongnya jabatan  langsung  diatas saya, karir tidak naik dan tidak berubah.

 Mengapa tidak bisa naik ?

Pertanyaan  ini terus menggelitik dan menggoda untuk mencoba berbagai cara agar berubah dengan mencari informasi, mengikuti seminar dan belajar dari banyak sumber  yang berujung pada kegagalan mencapai tujuan. Hanya mendapat hadiah hiburan Kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda. Tidak putus asa dengan kondisi yang ini, terus mencari dan mencari penyebabnya hingga akhirnya dipertemukan dan dicerahkan pengetahuan merubah pikiran. Inilah titik balik dimana pencarian penyelesaian masalah yang selama ini dilakukan selalu keluar diri seprti dari buku, guru, pembimbing dan banyak lagi ternyata jawabannya adalah saya harus kembali menelusuri kehidupan dan prasangka prasangka dalam pikiran diri saya sendiri. Pencarian salah arah yang melelahkan.   

Menjadi seorang hipnoterapis adalah bentuk rasa syukur saya atas rahmat yang diberikan Tuhan  memberikan kesempatan lepas dan mengankat diri saya dari belenggu masalah beberapa tahun tersebut Tranformasi diri merupakan salah satu jalan mencapai tujuan , meraih kepuasan sesuai harapan yang berujung dengan kebahagiaan dan kebahagiaan adalah sederhana.Merasakan tidur dengan nyenyak dimalam hari hanyalah harapan bagi penderita insomnia, atau terlepas dari fobia atau hal hal kecil lainnya dan ketika terlepas dari masalah sedernaha ini  akan sangat bahagia dan  dapat membantu orang mencapai hal kecil seperti ini adalah kebahagian sederhana saya.

Answered Aug 31, 2017
Venusgazer E P
A man who loves reading, writing, and sharing

Ketika muda saya tidak pernah membayangkan tinggal di rumah mengurus anak seperti apa yang biasanya menjadi tugas seorang ibu, Seperti yang harus saya lakoni dalam beberapa tahun terakhir. Dulu hidup saya selalu aktif melakukan sesuatu maupun mempelajari sesuatu terutama hal-hal baru. Entah sudah berapa banyak jenis pekerjaan yang sudah saya lakukan. Mungkin ada hubungannya dengan Shio saya, Kerbau!

Situasi memaksa saya untuk menjadi bapak rumah tangga. Awalnya saya bekerja dalam proyek-proyek pengadaan barang dan jasa di salah saru provinsi di Jawa Tengah. Di tengah jalan saya menarik diri karena bisa dibilang gagal dalam proyek yang dibilang sarat KKN itu. Persaingan begitu kejam dan kita harus menggadaikan idealisme. Padahal saya sudah meninggalkan anak dan istri selama 6 bulan di Medan.

Pulang ke Medan dengan tangan kosong. Dulu kalau ke Medan naik pesawat berganti dengan jalur darat. Beruntung tidak lama kemudian istri mendapat pekerjaan. Saya juga sempat bekerja membantu teman. Ketika anak kedua lahir akhirnya atas kesepakatan bersama, saya yang mengurus anak-anak. Tanpa kehadiran seorang pembantu sekalipun.

Sulit rasanya mempercayakan pengasuhan anak-anak kepada orang lain. Kami berpikir bahwa harus ada salah satu dari orangtua yang menjaga, mengasuh, dan mendidik anak sejak kecil. Saya melakukan apa yang semua ibu di dunia ini lakukan dalam membesarkan anak-anak.

Luar biasa rasanya. Saya bersyukur bahwa saya mempunyai waktu yang sangat banyak bersama buah hati. Walau kadang kalah orang masih memandang sebelah mata lelaki yang mengurus anak. Jujur awalnya sulit. Bukan sulit bagaimana mengurus anak, namun berkaitan dengan faktor psikologis seorang laki-laki.

Dalam kondisi seperti itu, saya berpikir apa yang bisa lakukan di rumah? Saya coba menulis dan menjadi pewarta warga di blog kroyokan. Kebetulan saya pernah kuliah jurusan komunikasi dan bahasa. Saya belum mempunyai laptop awalnya. Menulislah hanya berbekal Hp. Ternyata ada sesuatu yang lain, sesuatu yang 'memulih'kan.

Lewat lomba-lomba blog akhirnya saya bisa mengumpulkan dana untuk membeli laptop. Menulislah saya ketika anak-anak sudah tertidur. Menulis dalam kondisi cahaya minim kala itu ternyata berdampak pada gangguan penghilatan yang baru saya sadari saat ini.

Dari hasil menulis saya bisa membantu sedikit-sedikit ekonomi keluarga. Banyak hadiah yang saya terima sengaja saya alamatkan ke kantor istri. Agar dia bisa sedikit berbangga dihadapan kawan-kawannya. Melalui menulis saya juga berkesempatan ke luar negeri. Belum ilmu-ilmu dan relasi yang saya dapatkan ketika berkecimpung dalam tulis menulis.

Begitulah peristiwa yang menjadi titik balik hidup saya. Apa yang menjadi titik balik kehidupan saya tersebut mungkin sesuatu yang sepele bagi orang lain. Tetapi bagi saya itu sesuatu yang sangat luar biasa. Saya yakin itu keajaiban itu hasil karya Tuhan. Bukan semata untuk saya tetapi untuk keluarga saya.

Menjalani profesi sebagai penulis lepas ada up and down-nya. Tetapi bagaimana pun tetap harus disyukuri. Karena banyak orang malah tidak bisa melakukan apa-apa karena keterbatasan fisik, hidup dalam pengungsian, atau harus mendekam dalam penjara. 

Btw ada lagu D'Masiv yang kece banget baik musik maupun liriknya.

Vivat Selasares!

 

 

Answered Aug 31, 2017
Rizqy Amelia Zein
Ibu Rumah Tangga yang kebetulan nyambi jadi peneliti

Menjadi seorang ibu.

Peristiwa ini sebenarnya kejadian natural, yang lazim dialami oleh perempuan yang sudah menikah. Namun bagi saya, peristiwa ini spesial dan karenanya, kehidupan yang saya kenal dan outlook saya mengenai kehidupan juga ikut berubah drastis. Meskipun menjadi orang tua merupakan proses yang natural dimana banyak orang juga menghadapinya, buat saya, menjadi ibu adalah pengalaman yang paling emosional.

Saya adalah seorang introvert yang kurang nyaman ketika harus berinteraksi secara intim dengan orang lain. Harus mengikhlaskan sebagian besar ruang personal saya untuk dimasuki orang lain selama 24/7 bukan kebiasaan saya sebelumnya. Selain itu, saya punya target karir akademis yang agak ambisius dan cenderung egosentris. Oleh karena itu, tak pernah terpikir dalam benak saya bahwa saya akan menikah di usia rata-rata, apalagi mampu menjadi seorang ibu.

Sejak memutuskan menikah, saya sudah mengikhlaskan karir akademis saya. Sudah terpikir juga bahwa mengejar pendidikan sampai ke jenjang tertinggi, tak harus saya lakukan di luar negeri. Saya juga sudah mengeset target-target akademis saya yang lebih realistis dengan kondisi saya sebagai ibu rumah tangga yang bekerja. Selama kehamilan, saya melakukan diskusi-diskusi panjang dengan suami mengenai bagaimana sebaiknya rumah tangga dikelola ketika buah hati kami lahir nantinya. Saya juga berusaha menyiapkan mental saya agar lebih tangguh dalam menghadapi tantangan ala dual family career.

Persiapan itu rupanya tak banyak membantu. Ada banyak rekan kami yang mengingatkan, bahwa menjadi orangtua bukan pekerjaan mudah. Menjadi orangtua membutuhkan persistensi dan komitmen jangka panjang yang dalam perjalanannya penuh lika-liku. Saya tak menyangka mengurus seorang bayi, terutama yang baru saja lahir, rupanya menguras tenaga dan emosi. Hampir setiap malam saya terjaga, agar putri saya dapat tidur dengan tenang. Saya juga harus mengejar target menyiapkan ASI perahan, sehingga dapat memenuhi kecukupan asupan putri saya selama saya tinggal bekerja. Namun yang paling terasa emosional adalah membiarkan seseorang ‘menjajah’ alam pikiran saya selama 24/7! Sesuatu yang bahkan tak mampu dilakukan oleh siapapun, termasuk suami saya.

Menjadi seorang ibu sekaligus menempa karakter saya. Saya belajar banyak hal dan ada banyak perubahan yang terjadi pada karakter saya. Saya merasa memiliki sense of responsibility, dimana saya menyadari betul bahwa orang lain (putri saya) akan menerima konsekuensi atas pilihan-pilihan hidup yang saya ambil. Saya juga memahami arti cinta yang tak membutuhkan prasyarat dan tanpa pretensi. Lalu saya tiba-tiba memahami, mengapa Rasulullah SAW mengingatkan… “Ibumu…Ibumu…Ibumu, lalu Ayahmu.”

 

cveYnRTFnWrwgQBOulFuKw1DapGMBMab.jpg

Answered Sep 1, 2017