selasar-loader

Kenapa duduk tahiyat akhir miring ke kiri? Padahal shafnya disuruh rapat tumit ketemu tumit.

Last Updated Aug 9, 2017

Kenapa duduk tahiyat akhir miring ke kiri? Padahal shafnya disuruh rapat tumit ketemu tumit. Di Indonesia, lazimnya kita duduk takhiyat akhir dengan cara mencondongkan badan ke kanan karena posisi duduk miring ke kiri. Hal ini menyebabkan kita harus menyediakan space lebih antara satu orang dengan orang lainnya. Padahal dalam haditsnya, salat harus rapat tumit ketemu tumit. Sependek pengalaman saya salat di luar negeri, banyak yang pada prakteknya duduk takhiyat akhir sama posenya dengan takhiyat awal.

4 answers

Sort by Date | Votes
Anonymous

Karena tidak ada anjuran untuk memiringkan kepala. Karena itu, secara sengaja memiringkan kepala ketika tasyahud akhir, termasuk kekeliruan ketika tasyahud. Berbeda jika kepala miring ini terjadi karena pengaruh posisi tubuh yang tidak simetris seimbang...

Answered Aug 11, 2017
Ndung Zakky
M Zakky Riswanto mahasisa baru fidikom(KPI), UIN syarif hidayatullah.

Kalo menurut aku nggak harus tumit ketemu tumit. Karena itu akan menyusahkan dan mengurangi kehusyuan. Dan untuk masalah kenapa duduk tahiyyat akhir itu posisinya begitu, karena itu untuk li ta'dzim kepada Allah. Dan kenpa posisi tahiyyat awal tidak seperti tahiyyat ahir, karena setelah tahiyyat awal kan harus berdiri lagi, supaya mudah berdirinya gitu.

Answered Aug 11, 2017
Duljahari Wilakamar
Orang tua yang senang belajar apa saja

Perkenankan saya dengan keterbatasan pengetahuan untuk membantu menjawab pertanyaan ini. Ini juga sebelumnya sempat menjadi pikiran saya. Maksudnya, sempat terbersit pertanyaan, kenapa duduk tahiyat awal berbeda dengan tahiyat akhir?

Sebelumnya, kita perlu mengenal dulu dua istilah terkait duduk dalam salat.

  1. Duduk iftirosy
  2. Duduk tawarruk

Duduk iftirosy adalah duduk dengan menegakkan kaki kanan dan menduduki kaki kiri. Sedangkan duduk tawarruk adalah duduk dengan menegakkan kaki kanan dan menghamparkan kaki kiri ke depan (di bawah kaki kanan), dan duduknya di atas tanah/lantai.

Sebagaimana yang sering kita lakukan, duduk iftirosy adalah duduk seperti pada tahiyat awal dan duduk antara dua sujud. Sedangkan duduk tawarruk adalah duduk seperti pada tahiyat akhir pada salat empat raka’at (seperti pada salat Zhuhur).

Artinya, duduk yang dimaksud dalam pertanyaan ini adalah duduk tawarruk.

Mengapa duduk tahiyat akhir itu menggunakan duduk tawarruk, bukan duduk iftirosy?

Dalam masalah duduk tahiyat, terdapat perselisihan pendapat di kalangan para ulama. Perselisihan tersebut adalah sebagai berikut:

Pendapat pertama, yaitu pendapat Imam Malik dan pengikutnya, ialah bahwa duduk tahiyat baik awal dan akhir adalah duduk tawarruk. Hal ini sama antara pria dan wanita.

Pendapat pertama berdasarkan dalil sebagai berikut. “Sesungguhnya sunnah ketika shalat (saat duduk) adalah engkau menegakkan kaki kananmu dan menghamparkan (kaki) kirimu.” (HR Bukhari nomor 827)

Dalil lain yang digunakan adalah hadits ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan tasyahud kepadaku di pertengahan dan di akhir shalat. Kami memperoleh dari Abdullah, ia memberitahukan pada kami bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan padanya. Ia berkata, “Jika beliau duduk di tasyahud awwal dan tasyahud akhir, beliau duduk tawarruk di atas kaki kirinya, lalu beliau membaca: …” (HR. Ahmad 1/459. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih, namun sanad riwayat ini hasan. Namun sebagian ulama melemahkan hadits ini.

Pendapat kedua, yaitu pendapat Imam Abu Hanifah dan pengikutnya, yaitu bahwa duduk tahiyat baik awal dan akhir adalah duduk iftirosy.

Dasar dari pendapat kedua adalah hadits yang diriwayatkan dari Aisyah ra. “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan tahiyyat pada setiap dua raka’at, dan beliau duduk iftirosy dengan menghamparkan kaki kirinya dan menegakkan kaki kanannya.” (HR Muslim nomor 498)

Selain itu, ada juga hadits Wail bin Hujr radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau berkata, “Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika duduk dalam shalat, beliau duduk iftirosy dengan menghamparkan kaki kirinya dan menegakkan kaki kanannya.” (HR. Ibnu Khuzaimah 1/343. Al A’zhomi mengatakan bahwa sanad riwayat ini shahih) 

“Aku tiba di Madinah. Aku berkata, “Aku benar-benar pernah melihat shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika beliau duduk yakni duduk tasyahud, beliau duduk iftirosy dengan membentangkan kaki kirinya. Ketika itu, beliau meletakkan tangan kiri di atas paha kiri. Beliau ketika itu menegakkan kaki kanannya.” (HR. Tirmidzi no. 292. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa riwayat ini shahih.

Demikian pula diriwayatkan dari Amir bin ‘Abdullah bin Zubair, dari ayahnya (‘Abdullah bin Zubair), ia berkata, "Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jika duduk pada dua raka’at, beliau duduk iftirosy dengan membentangkan kaki yang kiri, dan menegakkan kaki kanannya.” (HR Ibnu Hibban 5/270. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad riwayat ini qowi (kuat))

Pendapat ketiga, pendapat Imam Ahmad dan Ishaq. Jika tahiyatnya dua kali, maka duduknya adalah tawarruk di raka’at terakhir. Namun jika tasyahudnya cuma sekali, maka duduknya di raka’at terakhir adalah duduk iftirosy.

Pendapat keempat, pendapat Ibnu Jarir Ath Thobari. Beliau berpendapat duduk tahiyat baik dengan tawarruk maupun iftirosy, semuanya dibolehkan. Alasannya karena semuanya diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jadi boleh memilih dengan dua cara duduk tersebut. Terserah mau melakukan yang mana. Ibnu ‘Abdil Barr sendiri cenderung pada pendapat yang satu ini.

Pendapat kelima, yaitu pendapat Imam Syafi’i. Beliau membedakan antara duduk tahiyat awal dan akhir. Untuk duduk tahyat awal, beliau berpendapat seperti Imam Abu Hanifah, yaitu duduk iftirosy. Sedangkan untuk duduk tahiyat akhir, beliau berpendapat seperti Imam Malik, yaitu duduk tawarruk. Jadi menurut pendapat ini, duduk pada tahiyat akhir yang terdapat salam (baik yang salatnya dua rakaat (1 tahiyat) maupun tiga dan empat rakaat (2 tahiyat)) adalah duduk tawarruk. 

Pertanyaannya, kenapa Imam Syafi'i berpendapat demikian?

Pendapat Imam Syafi’i dan pendapat Imam Ahmad, masing-masing memiliki persamaan dan perbedaan. Persamaannya adalah kedua pendapat tersebut menggabungkan seluruh riwayat yang menjelaskan tentang kedua jenis duduk tersebut, yaitu duduk iftirosy dan juga duduk tawarruk. Sehingga semua dalil yang dijadikan alasan oleh ulama Malikiyyah dan ulama Hanafiyyah sama-sama dilakukan (diamalkan) oleh Imam Ahmad dan juga Imam Syafi’i. Mereka juga sepakat dalam hal duduk tasyahud awal, yaitu sama-sama menggunakan cara duduk iftirosy.

Sedangkan, perbedaan kedua pendapat tersebut adalah dalam menyikapi cara duduk akhir antara salat yang memiliki satu tahiyat dengan shalat yang memiliki dua tahiyat.

Jelaslah bahwa untuk menyebutkan alasan dan dalil dari pendapat Imam Ahmad dan Imam Asy Syafi’i adalah berdasarkan riwayat-riwayat yang shahih yang telah disebutkan pada dua pendapat sebelumnya. Ditambah lagi, ada hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam shahihnya dari Muhammad bin ‘Amr bin ‘Atha’ bahwa beliau pernah duduk bersama beberapa orang dari sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu, kami pun menyebutkan tentang shalatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa...(more)

Answered Mar 27, 2018
Mhd Fadly
KPI Fak. Agama Islam UMSU, Alumni Pon-pes Ibadurrahman Stabat

Pertanyaannya kurang tepat, menurut saya. Disuruhnya berdiri rapat dalam shaf itu tumit lurus ke garis shaf. Selain itu, usahakan mata kaki bertemu dengan mata kaki, minimal betis ketemu betis. Bukan tumit bertemu tumit. Itu adalah koreksi yang pertama.

Kedua, dalil itu digunakan untuk merapatkan shaf ketika kita berdiri dan untuk meluruskan shafnya, bukan untuk duduk tahiyat. Tetapi jika salatnya saja sudah rapat, insya Allah duduk pun lebih rapat.

Rapatnya shaf itu ada batasan paling lebar, yaitu kurang dari 1 (satu) meter per orang atau setara dengan 50 cm. Duduk itu untuk 50 cm sangat rapat sekali itu sudah. Buktinya, waktu kita mendengarkan khatib dalam ibadah salat Jumat, jamaah masih pada duduk dah penuh tuh masjid. Ketika salat hendak dimulai, banyak ruang yang kosong di belakang. Intinya, kerapatan bukan dinilai dari tumit ke tumit. Bukan berarti jika tumit satu jamaah dan jamaah lainnya tidak bertemu, lantas dikatakan shaf salat tidak rapat. Bukan begitu.

Ketiga, mencari illat (irisan) antara shaf dan duduk tahiyat itu tidak mungkin bisa karena keduanya adalah dua gerakan yang berbeda. Namun kalau mau dijawab, saya akan analogikan seperti ini; Ketika Anda buang angin melalui dubur di depan orang banyak dengan rasa malu, kenapa wajah Anda yang ditutup ataupun memerah? Kenapa untuk kembali suci dari hadats kecil dengan wudhu setelah sebelumnya batal oleh buang angin, tidak ada gerakan mencuci dubur?

Keempat, ibadah itu sudah ada aturannya, baik gerakan maupun hukumnya. Kenapa tidak Anda tanyakan saja pada Tuhan; Ya Tuhan, kenapa kita harus salat? Kenapa salat punya rakaat? Kenapa harus rukuk? Dan sebagainya. Tentu jawaban sederhananya adalah karena ittiba’ Rasul (mengikuti rasul).

Kelima, duduk dalam salat itu ada tiga; Duduk iftirosy, duduk tawaruk dan duduk iq'a. Yang dua di awal lazimnya ialah yang seringkali dipakai oleh masyarakat Indonesia. Sementara itu, yang terakhir (duduk iq'a) adalah duduk antara dua sujud dengan cara menduduki kedua kaki dengan tumit berdiri.

 

Demikian. Mudah-mudahan menjawab.

Answered Mar 27, 2018

Question Overview


6 Followers
2184 Views
Last Asked 2 years ago

Related Questions


Mengapa Tuhan membuat surga, padahal insentif tertinggi umat Islam adalah ridha Allah?

Apabila poligami adalah ibadah, mengapa banyak perempuan muslim yang tidak mau melakukannya?

Bagaimana cara mengakhiri konflik antara Sunni dan Syiah?

Apakah Syiah bukan Islam?

Mengapa Nabi Muhammad tidak mengizinkan Ali mempoligami Fatimah?

Apa yang dimaksud dengan bid'ah?

Apa yang dimaksud dengan munafik?

Apa yang dimaksud dengan halal?

Apa yang dimaksud dengan haram?

Apa yang dimaksud dengan mubah?

Apakah hukum salat Jumat di jalan?

Mengapa Indonesia yang tidak menegakkan hukuman Qisas? Apa hukuman qisas tidak sesuai? Mengapa?

Apakah membayar utang atau bersedekah yang lebih didahulukan?

Adakah negara Islam yang mendukung operasi ganti kelamin?

Mengapa Islam yang katanya Rahmatan Lil Alamin justru berbalik 180 derajat faktanya ketika diaplikasikan di Indonesia?

Apa mungkin menafsirkan ayat Alquran menggunakan teori dari Barat?

Sejauh mana batasan marah dalam membatalkan puasa Ramadan?

Menurut ajaran agama Islam, lebih penting mana, puasa syawal atau bayar utang Ramadhan?

Bolehkah bermain valuta asing (valas) menurut syariat Islam?

Bagaimana kaitan antara genre film favorit dan budaya setiap negara?

Apa itu Mazhab Frankfurt?

Bagaimana perkembangan Mazhab Frankfurt dalam konteks budaya populer?

Apa yang dimaksud dengan Teori Fetisisme Komoditas?

Apa perbedaan antara budaya massa dan masyarakat massa?

Apakah kaitan antara budaya massa dan amerikanisasi?

Apa pendapat Anda tentang amerikanisasi dan kritik atas Teori Budaya Massa?

Bagaimana pengaruh industri budaya terhadap musik pop?

Apakah kaitan antara James Bond dan strukturalisme?

Bagaimanakah konsep hegemoni Gramsci?

Adakah keterlibatan Indonesia pada Perang Dunia II?

Bagaimana sebenarnya hubungan Jokowi dengan Ahok?

Pernahkah Anda bertemu Presiden Joko Widodo?

Hal-hal apa sajakah yang harus dipenuhi agar Indonesia menjadi pemimpin budaya populer dunia?

Foto apa saja yang bisa mengubah cara pandang kita tentang Indonesia?

Apa yang Anda banggakan dari Indonesia saat bertemu masyarakat internasional?

Masakan/makanan Indonesia apa yang menurut Anda paling mungkin go international?

Mengapa bangsa Indonesia dapat sebegitu lamanya dijajah oleh Belanda?

Makanan/masakan Indonesia apa yang paling memiliki nilai sejarah tinggi?

Apa yang membuat beberapa suku di Indonesia masih tetap bertahan dengan gaya hidup tradisionalnya, misalnya Suku Badui?