selasar-loader

Jika memang hanya satu diantara tiga agama langit (Islam, Kristen dan Yahudi) yang benar, mengapa Tuhan tidak menimpakan adzab kepada ajaran yang salah seperti yang Tuhan lakukan kepada kaum Ad, Nuh, Tsamud?

Last Updated Nov 30, 2016

4 answers

Sort by Date | Votes
Mortheza Mortheza
Andi Faisal Mortheza

Gq_-JoSnXChCCdcFFO4RaPiSZjHDrVwN.jpg

Menurut saya, ketiga agama langit tidak salah, hanya saling menyempurnakan, ibaratnya teknologi komputer, ada pentium 1, yang kemudian disempurnkan oleh pentium 2, kemudian disempurnakan oleh pentium 3, selanjutnya pentium 4 sampai saat ini semakin sempurna dengan teknologi Android dan iOS.

Yahudi, Kristen, dan Islam bukanlah agama yang saling menggurukan tapi saling melengkapi. Jika Musa AS menampilkan agama Yahudi dengan wajah kekuatan, Nabi Isa menampilkan Kristen dengan wajah perdamaian, maka Islam memadukan keduanya.

Terkait azab, dalam setiap kitab suci (Islam, Kristen, dan Yahudi) sudah dijelaskan bahwa azab itu turun akibat perbuatan manusia itu sendiri. Setelah era kenabian berakhir, manusia sudah berkali-kali terkena azab, yang paling tragis tentu saja perang dunia kedua yang dikenal sebagai perang terbrutal sepanjang sejarah umat manusia. Sekarang, azab sudah menimpah kawasan Timur Tengah dengan perang saudara yang sudah bertahun-tahun.

Well, merasa diri paling benar karena memeluk salah satu agama tertentu, justru berpeluang besar menurunkan azab dari Allah SWT seperti yang terjadi di kawasan Timur Tengah.

Ilustrasi via insiderindustry.com

Answered Dec 29, 2016
M Afwan Fathul Barry
antusias pada cerita

-MGIgs7AS2O5Esdpj9goktmkso2nYttl.jpg

Sebagai muslim, saya bisa saja menjawab secara sederhana: Karena Allah punya sifat Ar-Rahman, mengasihi tak hanya kepada umat Islam semata. Ia juga Maha "Semau Gue", bisa ngapain saja sesuka-Nya. Selesai. Namun, pertanyaan di atas mengingatkan saya pada pertanyaan "Mengapa ada kejahatan? Mengapa Tuhan menghadirkan kejahatan dalam kehidupan ini? Tidakkah Tuhan bisa dengan kekuasaannya memberikan yang baik-baik buat manusia? Agar tidak ada pembunuhan, pemerkosaan, atau korupsi?".

Lalu mengapa Allah swt. tidak menghapus saja ingatan manusia terhadap adanya agama selain Islam  sehingga semua manusia di bumi ini hanya mengenal satu agama? Bukankah Allah berkuasa untuk itu? Untuk menjawab itu, kita perlu memahami dua istilah: washilah dan ghoyah, sebagaimana saya tercerahkan oleh pandangan Gus Mus pada suatu ceramah.

Washilah berarti media, jalan, perantara. Sementara ghoyah berarti tujuan atau puncak akhir. Islam, Kristen, Yahudi, Buddha, Konghucu, Hindu, dan agama lain, menurut Gus Mus, adalah washilah (jalan). Sementara Tuhan adalah ghoyah, tujuan akhir kita sebagai ciptaan-Nya. Masing-masing dari kita berjalan di atas jalur masing-masing, pun pengalaman yang akan kita dapat kemudian.

Kita biasa melirik tetangga atau teman yang hidupnya lebih enak dan mapan, sementara di wilayah lain ada yang sedang kelaparan. Kita biasa melihat ada manusia di daerah lain melakukan kejahatan, sementara dalam waktu yang bersamaan kita mendapati pelaku kebaikan.

Pun kita juga melihat orang Islam kadang lebih kaya atau tampak lebih bahagia daripada orang Kristen atau Yahudi, atau penganut Yahudi yang sukses dengan bekal otak encer dan rajin dalam bekerja. Semua peristiwa itu campur aduk di atas jalan yang kita jalani.

Kita perlu memahami bahwa kita semua sedang berjalan di atas jalan yang kita lalui. Kita hanya bisa berhenti berjalan ketika kita sudah mati. Kita yang sedang berjalan tak perlu menyeret orang lain yang berjalan di atas jalan yang berbeda untuk berjalan di atas jalan yang sama dengan kita. Sebagai hamba, kita hanya perlu membuktikan kepatuhan kita pada Sang Pencipta dengan cara lemah lembut.

Urusan apakah jalan kita atau jalan orang lain akan dipasangi ranjau (azab) oleh Tuhan, itu wewenang-Nya. Apa yang terjadi pada kita adalah pengalaman-pengalaman yang Tuhan berikan. Mengapa ada dua manusia yang berusaha sama kuat tapi hasilnya berbeda, itu sudah kebijaksanaan Tuhan. Masing-masing perlu mengambil hikmah. Tak perlu mempertanyakan dan menyangsikan keadilan Tuhan, karena kita yang hidup tak pernah tahu bagaimana Tuhan memutuskan sesuatu.

Jika tak mampu memahami 'pemberian' Tuhan, bisa saja kita pindah ke washilah yang lain. Kita hanya bisa berusaha dan belajar, sambil berdoa agar selalu terjaga di atas jalan yang Tuhan ridai. Kisah kaum Ad, Nuh, dan Tsamud adalah kepingan dari banyak kepingan lain yang ada di atas jalan yang sedang kita tapaki.

Wallahu a'lam.

Sumber foto: Freepik

Answered Jun 23, 2017

Karena kalau adzab itu benar adanya, maka gaada lagi tiga perpecahan agama seperti di atas. Sama halnya dengan mukjizat, kenapa mukjizat hanya bisa kita imani melalui cerita2 di atas lewat kitab suci agama masing2, coba bayangkan ketika utusan tuhan yaitu nabi datang sekarang ke bumi dan memberikan mukjizat berupa hujan, sedangkan kita bisa mengobservasi dengan akurat kemungkinan datangnya hujan adalah mendekati nol persen. Apabila mukjizat hujan terjadi, maka kita akan meragukan observasi dan meyakini kemampuan utusan tuhan, tentunya mengakhiri perpecahan dari perbedaan kepercayaan karena dengan benarnya mukjizat tersebut sangat sulit untuk memegang lagi prinsip pada observasi(science), namun sayangnya hal itu (mungkin) tidak akan terjadi. 

Answered Aug 12, 2017

Benar atau tidaknya sebuah ajaran agama tidak ditentukan oleh manusia sebagai konsumen melainkan dari Sang Produsen agama itu sendiri. Tuhan, The Supreme Being, Allaah.

Hal ini bisa diulas baik secara akal maupun dalil keagamaan agama mana yang paling make sense dan adaptif tanpa kehilangan prinsipnya dari zaman ke zaman. Namun hal ini tidak kita diskusikan disini mengingat tema utamanya adalah perihal adzab.

Adzab bisa memiliki banyak bentuk baik yang nampak maupun tidak. Sebagai contoh, bagi sebagian orang yang namanya adzab adalah kemiskinan, kesakitan atau hal - hal yang tidak enak lain. Padahal dalam perspektif yang lebih mendalam, kekayaan, kesehatan atau hal yang menyenangkan bisa menjadi adzab bagi seseorang. Ingat, adzab adalah hukuman.

Maka kehidupan yang nyaman bisa berupa adzab alias hukuman jika tidak dioptimalkan dengan baik alias disia-siakan tanpa kebermanfaatan yang berarti. Kekayaan adalah adzab atau hukuman bagi pengembannya jika hanya ditimbun yang bahkan tidak bisa menjadikannya hidup selamanya.

Ya, adzab bisa berupa berbagai bentuk termasuk "survival"nya sebuah ajaran yang "sesat" atau salah sekalipun.

Kita ingat bagaimana dialektika antara Iblis dengan Allaah terkait ulah pembangkangannya. Tidak seperti Adam yang taubat pasca berbuat salah, Iblis justru menantang Allaah dengan meminta penangguhan hidup alias hidup hampir abadi agar bisa mengajak sebanyak - banyaknya manusia dan jin untuk menjadi koleganya di neraka. Kehidupan bagi Iblis adalah adzab alias hukuman yang menjadi penjaranya karena ia tak bisa lagi menikmati hidup.

Pun dengan kaum atau ajaran lain, hukuman bagi mereka bisa jadi tidak dihilangkan begitu saja dimuka bumi melainkan dibiarkan eksis di dunia sembari menjadi pengganda hukuman mereka di akhirat.

Jadi, jangan berbangga karena hari ini masih eksis.

Answered Aug 24, 2017

Question Overview


6 Followers
1231 Views
Last Asked 3 years ago

Related Questions


Mengapa Tuhan membuat surga, padahal insentif tertinggi umat Islam adalah ridha Allah?

Apabila poligami adalah ibadah, mengapa banyak perempuan muslim yang tidak mau melakukannya?

Bagaimana cara mengakhiri konflik antara Sunni dan Syiah?

Apakah Syiah bukan Islam?

Mengapa Nabi Muhammad tidak mengizinkan Ali mempoligami Fatimah?

Apa yang dimaksud dengan bid'ah?

Apa yang dimaksud dengan munafik?

Apa yang dimaksud dengan halal?

Apa yang dimaksud dengan haram?

Apa yang dimaksud dengan mubah?

Apa kebenaran atau prinsip yang Anda yakin benar tapi semua orang di sekeliling Anda mengatakan itu salah?

Bagaimana membuktikan bahwa Tuhan ada?

Apa dunia ini adil?

Mengapa ada gravitasi di alam semesta ini?

Mengapa kisah-kisah Israiliat seringkali dijadikan referensi yang sahih dalam mengajarkan hikmah dalam budaya Islam?

Apa agama orang tua Muhammad SAW? Jika mereka non-Islam, apakah mereka masuk neraka?

Apakah sebagai seorang manusia biasa, para nabi juga memiliki dosa? Jika benar demikian, apa saja dosa mereka?

Bagaimana Anda dapat menjelaskan keberadaan Tuhan dan Malaikat secara ilmiah?

Apa sajakah pengaruh D-Day bagi Sekutu pada Perang Dunia II?

Bagaimana dampak D-Day bagi Jerman pada Perang Dunia II?

Apakah kesalahan fatal Hitler yang membuat Jerman kalah pada Perang Dunia II?

Mengapa Perang Dunia II terasa lebih populer daripada Perang Dunia I?

Pesawat paling canggih apa yang tercipta saat Perang Dunia II?

Berapa banyak korban pada Perang Dunia II?

Mengapa tentara Rumania dan Italia gagal menahan serangan Soviet di Stalingrad?

Pesawat tempur apa yang paling ditakuti saat Perang Dunia II?

Pesawat bom apa yang paling berbahaya saat Perang Dunia II?

Pesawat buatan Amerika Serikat atau Jerman yang lebih canggih pada Perang Dunia II?

Apakah Tuhan perlu dibela?

Mengapa Ibrahim meninggalkan Hajar dan Ismail sendirian di Mekah?