selasar-loader

Mengapa praktik korupsi dapat secara mudah dilakukan di Indonesia?

Last Updated Aug 4, 2017

5 answers

Sort by Date | Votes
Kenny Anderson
Mahasiswa Fakultas Teknik UI 2017

Jawabannya sangat mudah. Hal tersebut karena kurangnya kesadaran dari diri masyarakat itu sendiri. Sejak muda, anak-anak dan remaja kurang dibangun mental dan sikapnya, sehingga kepribadian untuk menghilangkan budaya korupsi itu tetap saja mengalir di masyarakat. Di sisi lain, tindakan yang kurang tegas dari pihak pemerintah pun memberikan cela bagi para pihak yang ingin melalukan korupsi. Mungkin di beberapa negara sudah dilakukan sanksi yang tegas seperti menghukum mati semua koruptor, namun di Indonesia tentu saja hal itu bertentangan dengan HAM untuk hidup, sehingga apa pun yang dilakukan masih serba salah.

Answered Aug 7, 2017

mosI_RieOXqOj2JC-Yqo1P9kX1rn0Q_L.png

Korupsi sepertinya sudah mendarah daging pada bangsa Indonesia. Korupsi itu sendiri pertama kali terjadi pada masa pemerintahan VOC dan menjadi peninggalan dari VOC yang sulit untuk dihindari. Seperti halnya korupsi yang terjadi pada masa VOC tidak jauh berbeda dengan korupsi yang melanda bangsa Indonesia saat ini. Korupsi yang terjadi di tubuh VOC dilakukan oleh pegawai VOC itu sendiri yang kemudian diikuti oleh para raja- raja hingga akhirnya sampai saat ini kasus korupsi masih sering melanda bangsa Indonesia. Kurang dan rendahnya tingkat keimanan, moral, etika, akhlak serta kesadaran diri sendiri menyebabkan seseorang mudah sekali terpengaruh dan tergoda untuk melakukan tindakan korupsi.

Lemahnya pengawasan dan kontrol terhadap kinerja aparat negara serta kebijakan-kebijakan yang diambil memberikan peluang besar untuk menyalahgunakan kekuasaan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab dengan cara melakukan korupsi. Tindakan yang kurang tegas dari pihak pemerintah dalam menangani kasus korupsi menjadikan korupsi dapat dengan mudah dilakukan di Indonesia. Dengan tidak tegasnya peraturan perundang-undangan yang ada di Indonesia menjadi sebuah kemudahan bagi para koruptor yang kemudian sewaktu-waktu mereka dapat mengulanginya kembali secara terus-menerus karena tidak ada efek jera bagi mereka yang telah melakukan tindakan korupsi tersebut. 

- Vanni Kusumaningarum-

Sumber gambar: Merdeka

Answered Aug 10, 2017
Florensius Marsudi
Lelaki, satu istri, satu putri. Masih belajar menulis....

Pertama, memang manusianya bermental korup, sekalipun sudah dicekoki dengan nasihat saleh, dijejali dengan ilmu agama apapun, tetap saja melakukan korupsi.

Kedua, kurang pengawasan dari sesama rekan sejawat, sekerja, rekan sekantor, dan selembaga. Jadi, orang dapat dengan mudah melakukan korupsi.

Ketiga, permisif. Salah satu tipologi orang Indonesia ini amat permisif, membiasakan pelanggaran yang kecil-kecil, lalu dibiarkan. Nah, jadinya pelanggaran besar. Mencuri!

Keempat, terlalu sering munafik. Melakukan segala sesuatu hanya demi dilihat, dipuja, bukan dari ketulusan hati.

Begitulah jawaban saya.

Answered Aug 18, 2017
El Hakim Law
Penikmat Politik

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi mengapa korupsi begitu mudahnya diamalkan di Indonesia,

1. Karakter

2. Sistem pendidikan

3. Lingkungan

4. Celah dalam sistem

Hal pertama dan utama yang mempengaruhi adalah karakter seseorang dalam hal ini seorang warga negara. Hal ini menjadi fundamen dan penting mengingat ketiga faktor yang lain sebenarnya berawal dari faktor satu ini. Karakter yang memiliki prinsip idealis tentu tidak akan bergeming walau faktor lain mencoba menyuapnya dengan perilaku koruptif. Vice versa, jika karakternya adalah oportunis-pragmatis maka korupsi bisa menjadi "halal" dengan alasan yang penting tujuan tercapai. Karakter memegang peran penting dalam menumbuhkembangkan atau meluluhlantakkan korupsi sebagai kultur masyarakat.

Faktor kedua adalah pendidikan. Pendidikan yang dimaksud bukan sekedar formalitas bernama sekolah namun juga sistemnya yang termasuk pendidikan keluarga, masyarakat termasuk alternatif serta renstra dari pemerintah itu sendiri. Pendidikan yang menitik beratkan pada nilai - nilai materialistik, tujuan semu nan pragmatis bahkan hanya berfokus pada hasil tanpa didasari prinsip yang kuat akan melahirkan manusia berkarakter oportunis-pragmatis yang kehilangan ruh integritas dan prinsip ideal bagaimana seharusnya sesuatu didapatkan. Hal ini bisa dilihat secara sederhana berapa banyak pengendara melanggar markah zebra cross ketika lampu merah, menzalimi hak pengguna trotoar maupun kecurangan intelektual semacam plagiarisme, jual-beli nilai TOEFL demi wisuda maupun mencontek untuk ujian sekolah. Sistem pendidikan yang tidak idealis membuka ruang bagi korupsi menjalar dan menjadi sebuah prinsip yang laten.

Faktor ketiga adalah lingkungan. Sebagaimana ada pepatah bahwa jika seseorang bergaul dengan pandai besi, tinggal tunggu waktu bajunya terkena api atau setidaknya baunya sengit tak mengenakkan. Pun korupsi sebagai sebuah kultur bisa mempengaruhi seorang idealis sekalipun jika hegemoninya sangat kuat dan deras. Hal inilah yang menjadi prioritas bagi seseorang yang masih pemula dan baru terjun dalam dunia pemberantasan korupsi untuk bertahap dalam memilih lingkup lingkungan untuk diselamatkan. Jika masih baru tentu lebih aman dan mudah untuk menghilangkan korupsi dari diri sendiri, yang paling dekat dan mudah seperti keluarga atau komunitasnya. Tentu jikalau anak baru ini langsung terjun ke lembah hitam lingkungan yang sudah menjadikan korupsi sebagai idealismenya, yang terjadi bukan ksatria anti-korupsi ini yang mewarnai namun justru dia yang akan terwarnai. Maka langkah paling realistis sekaligus ideal untuk mengatasi korupsi adalah memulainya dari lingkungan yang paling dekat dan mudah.

Last but not least adalah celah dalam sebuah sistem. Politik, ekonomi, hukum hingga pendidikan sebagai sistem yang dilahirkan dari gagasan manusia, makhluk tempat salah, tentu tidak lepas dari celah - celah yang berpeluang untuk dijadikan ruang leverage kepentingan tertentu. Tentu pemodal sebagai pemegang kuasa atas harta memiliki advantage yang besar dalam mengemudikan kendali mau diapakan celah tersebut. Syukur - syukur jika pemodal justru berupaya menutupi celah tersebut dan pada faktanya justru pemodal yang menjadikan celah itu menjadi pengungkit kepentingan kapitalistiknya. Hal ini tentu wajar mengingat mindset pemodal sebagai entrepreneur adalah mencari peluang atau dengan kata lain mencari celah yang bisa dijadikan "uang". Hal inilah yang juga berkaitan dengan karakter pemegang kuasa baik kuasa kebijakan atau kuasa permodalan dalam memandang celah suatu sistem. Memilih menambalnya atau menyedotnya bergantung bagaimana integritas dan idealisme dari keduanya.

Pada akhirnya, korupsi sebagai kultur hegemonik yang terstruktur, masif dan laten ini memang memerlukan revolusi dari pelbagai sektor dan semuanya berawal dari diri kita sendiri, apakah masih kooperatif dengan korupsi atau benar - benar memandang korupsi seperti bangkai tikus jalanan yang melihatnya saja kita rela menjaga "kesucian" ban roda motor.

Say no to corruption!

Answered Aug 22, 2017

menurut pandangan pribadi, pertama

sudah jadi budaya, yaa karena sudah terbiasa dan dimaklumi, orang yang melakukan mungkin pura2 tak tau dampak merugikan dari praktik korupsi. dan tau klo proses hukumnya lemah.

tidak amanat dan tidak jujur. bukan hak dia sebenernya, cuma titipan dana. eh dia malah ambil sendiri walaupun banyak. (suka berinisiatif yang kaga kaga)

pengen instant (memperkaya sendiri), cincay lah bung, (tandanya pengen cepet). beberapa ada pake pelicin dikit, klo ga pake pelicin ntr gajadi jadi bung"

kurangnya transparansi, maunya ditutup tutupin, malu kali yaa

 

Answered Sep 23, 2017

Question Overview


6 Followers
921 Views
Last Asked 2 years ago

Related Questions


Mengapa Hillary Clinton yang mendapatkan popular votes terbanyak tidak terpilih sebagai Presiden?

Apakah terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat akan mengubah wajah dunia?

Mengapa seseorang bisa tertarik bergabung dengan ISIS?

Mengapa seluruh periset di lembaga survei dan media Amerika Serikat gagal dalam memprediksi Hillary Clinton sebagai Presiden?

Beranikah Donald Trump mewujudkan janji-janji kampanyenya dengan mengusir imigran ilegal, mencegah Muslim masuk, dan memproteksi produksi AS dari gempuran barang komoditas Tiongkok?

Bagaimana cara Bareskrim Polri bekerja saat menentukan status kasus yang menjerat Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok?

Bagaimana sebenarnya hubungan Jokowi dengan Ahok?

Apakah aksi damai 411 ditunggangi kepentingan politik tertentu?

Seperti apa karakter pemimpin ideal yang pantas memimpin Jakarta?

Apa yang menyebabkan perilaku koruptif seperti tidak dapat dihilangkan di Indonesia?

Kasus-kasus apa saja yang berpotensi menjerat klan SBY?

Apa yang sebenarnya terjadi dengan Antasari Azhar?

Apa Anda pernah menyaksikan secara langsung transaksi yang menurut Anda adalah korupsi?

Kapan dan jika bagaimana korupsi di Indonesia akan berakhir?

Apa saja foto yang menggambarkan betapa korupnya sebuah pemerintahan?

Mengapa banyak koruptor kelas kakap mendapatkan remisi hukuman?

Budaya apa yang sekarang sudah hilang?

Apa cara yang paling efektif dan feasible untuk memberantas korupsi di Indonesia?

Benarkah sanksi terhadap koruptor di Indonesia masih lemah?

Perlukah koruptor yang terbukti menggasak uang rakyat dihukum mati?

Adakah keterlibatan Indonesia pada Perang Dunia II?

Pernahkah Anda bertemu Presiden Joko Widodo?

Hal-hal apa sajakah yang harus dipenuhi agar Indonesia menjadi pemimpin budaya populer dunia?

Foto apa saja yang bisa mengubah cara pandang kita tentang Indonesia?

Apa yang Anda banggakan dari Indonesia saat bertemu masyarakat internasional?

Masakan/makanan Indonesia apa yang menurut Anda paling mungkin go international?

Mengapa bangsa Indonesia dapat sebegitu lamanya dijajah oleh Belanda?

Makanan/masakan Indonesia apa yang paling memiliki nilai sejarah tinggi?

Apa yang membuat beberapa suku di Indonesia masih tetap bertahan dengan gaya hidup tradisionalnya, misalnya Suku Badui?

Bagaimana cara mencegah korupsi di DPR, Pak?

Jika dokter atau rumah sakit terindikasi memberikan keterangan yang salah untuk melindungi tersangka korupsi, apa langkah yang bisa diambil KPK?

Apakah "pelumas" ketika ingin naik jabatan di lembaga pemerintahan/ menjadi kepala pemerintah memang harus ada? Kalau ada, apa tindakan real dari KPK terkait isu pelumas tersebut yang pada kenyataannya masih sering terjadi?

Apakah saya ikut dipidana jika melaporkan pejabat yang meminta suap kepada saya?

Bagaimana cara KPK mencegah korupsi di DPR?

Apakah memberantas korupsi itu peristiwa penegakan hukum atau bukan? Kapan ia menjadi peristiwa hukum dan kapan ia bukan?

Mengapa definisi korupsi tidak hanya menyangkut "memperkaya diri sendiri", tapi juga "memperkaya orang lain"?

Bagaimana rasanya menjadi imam besar Masjid Istiqlal?

Sebagai imam besar masjid, bagaimana cara Bapak Nasaruddin Umar menjadi pengayom umat Islam Indonesia di tengah banyaknya ormas Islam di Indonesia?

Apakah ada program di Mesjid Istiqlal yang bertujuan agar anak-anak muda di Jakarta menjadikan Mesjid Istiqlal sebagai pusat untuk menimba ilmu tentang Islam? Jika ada lalu apa saja program tersebut?

Bagaimana tanggapan Bapak sebagai Imam ketika ada segelintir orang menautkan gerakan ISIS dengan Islam?

Bagaimana agar kita bisa umat Islam mudah berkomunikasi dengan mereka yang tidak memiliki agama/ atheis?

Bagaimanakah definisi Radikal dalam beragama?

Bagaimana pandangan Anda mengenai perkembangan Islam lewat tradisi esoteris Syekh Siti Jenar?

Bagaimana menjadi pribadi yang bisa istiqomah?

Apa arti dari beriman tetapi belum berhijrah?

Seperti apa beban menjadi seseorang yang dikenal sebagai ulama?