selasar-loader

Seperti apa rasanya pergi ke luar negeri untuk pertama kali?

Last Updated Nov 29, 2016

9 answers

Sort by Date | Votes
Nurul Kania
Counting days to Winter at Beijing

Image result for PERGI KE LUAR NEGERI

Rasanya saya seperti "katak dalam tempurung". Namanya pertama kali ya pasti banyak di pikiran oh gini... oh gituuu... Tak dapat dimungkiri lain negara lain pula adab dan budayanya. Malah mungkin secara fisik saja sudah berbeda.

Ilustrasi via okezone.com

Answered Jan 3, 2017
Adrian Benn
Pengelana biasa saja

a2u9LExERgG-rBcPz4HwtZTnpxdVpO_U.jpg

Saya pertama kali ke luar negeri pada bulan Januari 2008, berkesempatan mengikuti sebuah short course di Italia dengan beasiswa. Berikut beberapa momen yang saya ingat.

  1. Saat transit di Dubai, berdiam di salah satu bandara tersibuk di dunia selama beberapa jam sambil menanti pesawat selanjutnya, saya memperhatian orang-orang yang berlalu lalang. Meski mereka jelas terlihat berbeda dengan saya, dari suku bangsa yang beragam, dengan warna kulit dan cara berpakaian yang berbeda, mereka tetaplah sama manusia. Ada keluarga dengan orang tua dan anak, ada sekelompok sahabat bepergian bersama, dan lain sebagainya.
  2. Saya berada di Italia selama musim dingin, dengan suhu berkisar antara 0 hingga 12 derajat celsius. Dibandingkan hangatnya Indonesia, saya sering mengeluh kedinginan. Tapi rupanya tidak untuk teman-teman saya saat itu yang berasal dari negara lain. Bahkan, ada yang musim dinginnya mencapai -40. Beberapa tahun kemudian, saya belajar sebuah pepatah dari teman yang yang berasal dari Swedia, "Tidak ada yang namanya cuaca buruk, yang ada hanyalah pakaian yang buruk." Jangan-jangan selama ini saya lupa bersyukur sudah dilahirkan di negara tropis yang hangat dan nyaman. Saya juga belajar bahwa manusia bertanggung jawab terhadap dirinya (dengan mempersiapkan pakaian hangat yang cukup) dan tidak pantaslah kita menyalahkan alam.
  3. Ada kesan bahwa hidup di negara maju pastilah enak. Kenyataannya, saat itu saya menemukan bahwa semua tempat memiliki masalah sosialnya masing-masing, termasuk di negara-negara Eropa.
Pada akhirnya, saya menyadari betapa kecilnya saya ini dibandingkan bumi yang sedemikian luas, dan juga bahwa setiap manusia di mana pun itu setara.
---
Foto via dokumentasi pribadi

Answered Jan 3, 2017
Habibi Yusuf
My trip tergantung SPPD (tugas perjalanan dinas dari kantor)

IPeMYN4tDpxu-2R9oJAkNOTxTEFBClY8.jpg

Saya pertama kali pergi ke luar negeri pada tahun 2012, setelah mengikuti suatu acara kantor di Batam, lalu besoknya nyebrang untuk jalan-jalan sehari. Ketika pertama memasuki negara lain, saya sempat memejamkan mata, merasakan udaranya dan lalu membuka mata untuk memandang ke semua arah. Saya seakan ingin membandingkan visualisasi dari foto/video yang selama ini terlihat dengan apa yang terlihat dalam keadaan aslinya.

Lalu saya seperti merasakan, wow, ini lho Singapura. Ini lho luar negeri. Begini tata kotanya, lalu lintasnya, orang-orang yang berlalu lalang, dan sebagainya. Semuanya jauh berbeda dengan semua yang ada di Indonesia. Meski banyak yang mirip, namun atmosfernya tetap terasa berbeda. Melihat tatapan-tatapan mata orang di sana ketika lewat, saya merasa betul-betul asing. Oh, begini toh rasanya berada di negeri orang.

Selanjutnya, saya asyik mengamati perilaku orang-orangnya dan seakan menikmati perbedaannya dengan apa yang biasa dilihat di negeri sendiri. Dari situ, saya lalu membayangkan lebih jauh lagi, yaitu bagaimana suasana sebenarnya di negara-negara lainnya, misal Jepang, Amerika, Eropa, dan lain-lain. Lalu, muncul semacam perasaan senang, puas, dan ingin terus berkeliling untuk melihat semuanya. Asyik sekali. 

Ilustrasi via ravelrepubliq.com

Answered Jan 4, 2017
Tigor Dalimunthe
Lelaki dan Ganteng

Pertama kali keluar negeri, kepala langsung penuh pertanyaan, yang pertama adalah "kenapa kita membuat trotoar dan gorong-gorong yang baik saja tidak pernah berhasil?".
 

Answered Jan 19, 2017
Ma Isa Lombu
Selasares Garis Keras

20lStRwsg1cDDHHXZ1ZhzvDV5uc5X78N.jpg

Pertama kali saya ke luar negeri adalah ketika saya mengikuti sebuah training dan seminar mengenai perubahan iklim (climate change) dari sebuah organisasi lingkungan dunia besutan Al Gore.

Kalau pertanyaannya adalah: Seperti apa rasanya pergi ke luar negeri untuk pertama kali? Jelas deg-degan, apalagi perjalanan yang saya lakukan kali ini adalah solo traveling dan ke Eropa. 

Jikalau hanya sekedar solo traveling mungkin wajar deg-degan, tapi mengapa pergi ke Eropa menjadi concern saya tersendiri? Jelas karena bahasa Inggris di Eropa bukanlah bahasa bersama yang banyak dikuasai masyarakatnya. Di Turki, jarang sekali ada orang yang bisa berbahasa Inggris.

Tempat dimana untuk pertama kalinya saya menginjak dataran Turki ialah di lapangan beton Istanbul Atatürk Airport yang berlokasi di Istanbul. Awalnya, karena meyakini bandara ini sebagai bandara internasional, saya yakin bahwa para petugas yang ada di sana bisa dan akrab dengan turis asing. Ternyata saya salah! Dari hampir 10 orang petugas yang saya tanya dengan menggunakan bahasa Inggris, tidak ada satu orangpun yang mengerti tentang apa yang saya bicarakan.

Di negara orang lain ini pula saya baru merasakan bahwa orang Indonesia memang ramah. Ya, ramah. 

Di Turki, orang-orang di bandaranya atau bahkan di kabin pesawat Turkish Airlines (pramugarinya) saya nilai tidak ramah. Apa indikatornya? Tidak ada senyum semerbak khas orang Indonesia. Tidak adanya senyum dan jarangnya orang yang bisa berbahasa Inggris membuat keadaan saat itu di bandara menjadi begitu kelam. Tidak jelas. Terhalang oleh kabut perbedaan budaya yang saya ekspektasikan tidak terjadi di negara seperti Turki ini.

Menariknya, kota pertama yang saya kunjungi adalah kota di mana terjadi irisan kebudayaan dan ras antara benua Eropa dan Asia. Entah mengapa, perempuan dan laki-laki yang saya lihat di Istanbul tidak ada yang jelek. Hampir kesemua pemuda pemudinya memiliki bentuk tubuh yang proporsional, kulit yang putih bersih, hidung mancung ala Eropa, dan rambut hitam ala Asia. Menakjubkan.

Kealpaan warga Turki dalam berbahasa Inggris untungnya dikompensasi oleh informasi dwi bahasa (bahasa Turki dan Inggris) dalam banyak transportasi publik yang ada di sana. Untungnya saya berada di Istanbul sebagai kota seribu museum, jadi awareness pemerintah Turki untuk memfasilitasi turis asing akan informasi yang “readable” menjadi sebuah apresiasi tersendiri dari turis asing seperti saya.

Menjadi lebih menarik kunjungan saya di sana adalah karena pada saat itu di Istanbul sedang terjadi demonstrasi besar-besaran terhadap pemerintah dari kelompok pemuda. Demonstrasi dipusatkan di Taksim Square, di tengah kota Istanbul. Para demonstran menduduki Taksim Gezi Park selama beberapa hari dengan atribut kelompoknya masing-masing.

Beruntung saya ada di sana ketika kondisi demonstrasi sedang di puncak-puncaknya. Sepulang dari acara program, dalam perjalanan menuju hostel (yang ternyata juga dihuni oleh beberapa jurnalis dari seluruh dunia), saya melihat simpul masa membesar dan terjadi bentrokan antara polisi dan demonstran. 

2UF51UMWZbhsye9uZop0nku2BJpvQVQA.jpg

Kesan pertama saya melihat demonstran di Turki adalah mereka tidak seradikal demonstran di Indonesia. Peralatan demonstrasi mereka lengkap, mulai dari masker gas air mata yang mahal, helm, sampai ke sepatu yang seakan jadi peralatan wajib ketika melakukan demonstrasi. Sangat berbeda dengan aksi demonstrasi di Indonesia yang hanya bermodalkan sandal jepit, batu, dan keberanian.

Penasaran akan bentrokan yang terjadi, saya nekat bersama para wartawan asing lainnya naik ke sebuah gedung yang tidak begitu tinggi untuk mendokumentasikan pertempuran sipil ala Eropa tersebut. 

Situasi semakin memanas. Semprotan water cannon kemudian diarahkan dari mobil polisi kepada satu orang pemimpin demonstrasi yang maju dari barisan dengan bendera Merah dengan foto Kemal Attaturk. Tidak selesai sampai di sana, gas air mata ditembakkan diseluruh penjuru lokasi demonstrasi. Demonstran kalang kabut dan kemudian bergerombol lagi sambil kasak-kusuk merencanakan serangan selanjutnya. Gezi Park mencekam malam itu. Semua itu saya lihat dengan sangat jelas dari ketinggian.

Esok harinya, keadaan mulai terkendali, meski terlihat bekas sampah dan sisa-sisa pertempuran sipil dimana-mana. Hari terakhir, karena keadaan mulai mencekam, program dipersingkat dan selesai lebih awal dari jadwal yang seharusnya. 

D0g3VthHQYeAJBf1Gc6sp3P2ZicD44mE.jpg

Sendiri, dengan backpack, payung transparan dan masker antigas air mata, akhirnya saya memutuskan untuk berkeliling Istanbul, mengunjungi beberapa tempat yang sudah saya rencanakan untuk kunjungi sebelumnya seperti Hagia Sophia, Blue Mosque, Grand Bazzar, dan berbagai situs sejarah lainnya. 

Menariknya, sama sekali tidak ada kengerian dan kecemasan yang menular dari Taksim Square ke tempat wisata yang saya kunjungi tersebut. Matahari bersinar cerah. Dengan menggunakan baju khas pelesiran, para wisatawan bermuka cerah dan sangat menikmati setiap eksotisme kota tua Istanbul kala itu. Berbeda dengan saya yang terlihat lusuh karena semalaman menyaksikan perang sipil di negeri orang. 

Tapi menyenangkan, koq.... :)

 

Answered Feb 10, 2017

Awkward terutama ketika mengisi form imigrasi negara lain. Hanya saja, karena perjalanan pertama saya adalah bertugas bersama rektorat, rasa serunya sedikit berkurang. Hal ini yang berbeda ketika saya ke luar Indonesia sendirian setelah itu. Terlebih, jika bahasanya berbeda 180 derajat dan tidak ada penjemput bagi kita. Serasa hilang di tengah hutan, ada manusia namun tak bisa bicara. Itulah pengalaman kedua saya ke luar negeri, menginjak negeri Jepang di malam hari.

Answered Aug 23, 2017
Sutiono Gunadi
I am a Food-Travel-Hotel writer, also interests on technology, movies, HIV/AIDS

pbXfUHX-0D9a172Vt2DFbobIA9tF3JZ3.jpg

Pergi ke luar negeri pertama kali, menurut saya, memerlukan kenekadan dan mental baja. Pengalaman pertama kali saya ke luar negeri adalah ketika mendapatkan panggilan kerja praktik di Australia Selatan, tepatnya di Adelaide. Setelah mendapatkan tiket di kantor perwakilan perusahaan yang memanggil di Jakarta, saya harus menginap semalam di Jakarta. Baru keesokan harinya pergi ke bandara Halim Perdanakusuma yang saat itu menjadi satu-satunya bandara internasional Indonesia.

Mendarat di Adelaide, saya hanya berbekal alamat dengan taksi menuju rumah yang dituju. Setiba di rumah yang dituju, saya mengikuti petunjuk yang diberikan orang di kantor perwakilan perusahaan di Jakarta agar mengambil kunci di bawah karpet yang terletak di bawah pintu. Untungnya, saya dapat masuk ke dalam rumah. Esoknya, saya baru bertemu teman engineer yang membawa saya ke lokasi kerja. Selama satu bulan, saya melaksanakan kerja praktik bersama engineer global tanpa seorang pun dari Indonesia.

 

Ilustrasi via pixabay.com

Answered Sep 15, 2017
Hafiyyan Fikri
Traveler, Intitute of Technology Bandung

Pertama kali rasanya keluar negeri adalah seperti saat kita mendobrak pintu. Jarang sekali kita melakukanya, tapi kita selalu penasaran. Sekalinya pintu itu kita dobrak, kita menjadi merasa yakin dan berani untuk mendobrak pintu-pintu lainya.

Answered Dec 3, 2017
Muhammad Abimanyu Setyo Puji Asyhari
Pemuda Nganjuk, Mahasiswa Teknik Komputer ITS 2014, Peserta Rumah Kepemimpinan 8

Pada awalnya, saya memiliki mindset bahwa bepergian atau travelling ke luar negeri adalah hal yang susah untuk tercapai. Karena saya ingin memaksa diri, saya memutuskan untuk membuat paspor (ya walaupun belum ada rencana pasti mau ke mana dan dalam rangka apa, yang penting buat dulu dah :D).

Setelah jadi, paspor itu pun nganggur. Tak ada stempel imigrasi hampir dua tahun. Ketika saya buka paspor, batin saya, "Ya kasihan amat ya, paspor udah bikin korban beberapa ratus ribu masih kosong aja."

Nah, pada bulan September 2017 kemarin, akhirnya saya bisa jalan-jalan alias travelling ke luar negeri tapi dibungkus dengan kegiatan forum pemuda ASEAN sih (biar bisa dapet bantuan dana dari kampus, hehe). Tujuan negaranya gak jauh-jauh sih, negara tetangga, Malaysia. Last, rasanya sungguh amazing, breathtaking, wonderful lah, that was my first journey to travel in other country and I could see my beloved country, Indonesia from the outside.

Answered Mar 2, 2018

Question Overview


10 Followers
1172 Views
Last Asked 2 years ago

Related Questions


Apa destinasi wisata yang menurut Anda paling keren di Indonesia?

Apa saja tempat wisata yang belum terkenal di Indonesia, tetapi memiliki potensi yang luar biasa?

Apa tempat wisata paling menarik di Indonesia yang pernah Anda kunjungi?

Bagaimana rasanya mengunjungi pulau-pulau terluar di Indonesia?

Bagaimana cara traveling dengan biaya murah?

Apa alasan terbesar Anda melakukan travelling budaya?

Pengalaman traveling apa yang paling berkesan dalam hidup Anda? Mengapa?

Dari semua negara yang pernah Anda kunjungi, mana yang terbaik (Selain Indonesia)? Mengapa?

Dari semua makanan dari negara lain yang pernah Anda konsumsi, mana yang terbaik? Mengapa?

Negara mana yang tidak mau Anda kunjungi untuk yang kedua kali?

Gunung apa yang paling indah dan berkesan di Indonesia? Mengapa?

Apa destinasi wisata terbaik di Indonesia?

Apa yang istimewa dari Candi Borobudur sehingga banyak turis mengunjunginya?

Apa yang istimewa dari Gili Trawangan sehingga banyak turis mengunjunginya?

Apa yang istimewa dari Pulau Bali sehingga banyak turis mengunjunginya?

Apa yang istimewa dari Taman Nasional Gunung Rinjani sehingga banyak turis mengunjunginya?

Apa yang istimewa dari Danau Toba sehingga banyak turis mengunjunginya?

Apa yang istimewa dari Taman Mini Indonesia Indah (TMII) sehingga banyak turis mengunjunginya?

Apakah merek parfum yang paling cocok untuk wanita?

Apakah perbedaan antara parfum dan cologne?

Apa yang membuat harga parfum begitu mahal?

Apakah wanita mengenakan parfum untuk menarik perhatian pria atau ada alasan lainnya?

Apa tujuan laki-laki memakai parfum?

Bagaimana cara memakai parfum yang benar?

Bagaimana cara memakai cologne yang benar?

Apakah parfum yang aromanya paling maskulin?

Apakah parfum yang aromanya paling feminin?

Parfum pria apa yang aromanya bisa diterima oleh semua orang?

Apa yang membuatmu merasa bermakna dalam hidup?

Menurut Anda, bagaimana kualitas seorang artis atau selebritis di Indonesia dari segi moral?

Siapakah diri Anda?

Apa arti nama Anda?

Siapa kamu?

Apa hasil Myers-Briggs Type Indicator-mu ?

Bagaimana kepribadian mu pada hasil tes Myers-Birggs Type Indicator?