selasar-loader

Bagaimana agar kita bisa umat Islam mudah berkomunikasi dengan mereka yang tidak memiliki agama/ atheis?

Last Updated Aug 2, 2017

Saya mendengar bahwa mereka yang non muslim, mereka lebih mudah untuk dapat berkomunikasi dengan para Atheis, sedangkan kita terkadang merasa kesulitan untuk mengajak para atheis untuk berkomunikasi. Apa saja langkah yang bisa kita lakukan? mohon pencerahan

2 answers

Sort by Date | Votes
Manoressy Tobias
Seorang skeptis. Banyak pikiran, banyak opini.

CY5qtyazr6FNrgRGsxywcS2P1gCjffdz.jpg

Pertama-tama, pahami dulu perspektif mereka.

Saya bukan Muslim, tapi saya pernah beberapa kali berinteraksi dengan ateis. Jadi mohon izinnya untuk membagikan perspektif yang mungkin bisa sedikit mencerahkan.

Pada satu malam di kampus saya dulu di Bandung, saya (Kristen) dan dua teman saya (Muslim) berdiskusi (dan berdebat) dengan teman kami yang ateis.

Saya tidak bisa merinci setiap topik yang kami bahas; terlalu panjang dan saya juga tidak ingat semuanya. Tapi saya ingat betul bagaimana teman kami yang ateis ini berhasil meng-counter setiap argumen yang kami lontarkan. Pengetahuan ia mengenai sejarah agama mumpuni, bung. Alquran dan Alkitab sudah ia lahap habis. Studi komparasi agama telah dilakukannya. Ia mampu meramu argumen secara logis dan didukung fakta serta bukti-bukti yang kuat.

Kami bertiga dipecundangi malam itu.

Dan kasus seperti ini..., tidak jarang.

Hal pertama yang perlu Anda ingat adalah pahami perspektif mereka dan uji setiap prasangka Anda terhadap mereka. Salah satu stereotipe paling umum terkait ateis adalah bahwa mereka ateis karena kurang pengetahuan agama.

Kenyataannya, banyak ateis yang justru lebih lengkap pengetahuan agamanya dibanding orang beragama rata-rata. Pengetahuan ini tidak terbatas pada aspek teologi, tapi juga sejarah, sosiologi, psikologi, kebudayaan, sains, dan lain-lain. Kalaupun pengetahuan agamanya "biasa saja", tapi mereka mampu meramu argumen secara matang.

Kemudian, buka pikiran Anda. Kemungkinan besar Anda akan banyak tidak setuju terhadap pandangan mereka. Santai saja. Memang begitulah dialog dalam perbedaan; tidak nyaman, tapi diperlukan. Antar sesama agama saja bisa selisih pendapat, apalagi yang berbeda agama/kepercayaan/ketidakpercayaan.

Jangan langsung koreksi, serang, atau hakimi pandangan mereka. Dengarkan dan coba analisis baik-baik. Akan jauh lebih baik kalau Anda bisa menyingkirkan segala bias atau "mematikan" perspektif Anda sementara waktu. Kalau stuck dan Anda tidak tahu bagaimana menjawabnya, bilang saja Anda akan coba cari tahu dulu, baru nanti kembali lagi kepada mereka.

Kalau tidak mau berdiskusi yang super serius sampai bawa-bawa agama atau sejarah, awali saja dengan pertanyaan-pertanyaan sederhana terkait hidup sehari-hari: bagaimana mereka mengatasi stres atau rasa takut, bagaimana mereka memandang hidup atau mendefinisikan tujuan hidup, apakah masih menjalankan tradisi/ritual lama, dan lain-lain.

Komunikasi itu sebetulnya lebih ke arah cara pandang dan bagaimana kita merespon saja.

Good luck.

-----------------------

gambar via blogspot.com

Answered Aug 15, 2017

Pertama, kita harus mendekatkan diri kepada si atheis tersebut.

Kedua, kita teliti hal apa yang disukai oleh atheis dan apa yang disukai atheis pada kita, sehingga dia mau selalu bersama kita. Kalau ada sesuatu yang membuat dia tertarik terhadap kita, hal ini sesuai dengan yang dilakukan para Walisongo dalam dakwah Islam di pulau Jawa. Konon dakwah para Walisongo dalam mengajak orang-orang Jawa yang masih mayoritas Hindu dan Budha dengan seni, yaitu seperti memukul alat tradisional seperti Bonang, Gendang, dll, sehingga masyarakat pada waktu itu tertarik dan di situlah beliau memulai dakwahnya sehingga banyak kalangan kaum Hindu dan Budha masuk Islam.

Answered Aug 15, 2017