selasar-loader

Apa itu "post truth politics"?

Last Updated Nov 29, 2016

1 answer

Sort by Date | Votes
Agaton Kenshanahan
Penstudi Hubungan Internasional, Universitas Padjadjaran

XIBRzs2INsRSD0qvoVekUbliA2u8EmSg.jpg

SEJAK 'post-truth' dinobatkan sebagai word of the year 2016 oleh Kamus Oxford, kata tersebut menjadi kian populer dan dilekatkan pada berbagai bidang kehidupan. Termasuk pada kehidupan politik.

Post-truth sendiri, oleh Oxford, didefinisikan sebagai suatu yang ‘berhubungan atau menunjukkan pada hal yang mana fakta objektif tidak terlalu berpengaruh terhadap pembentukan opini publik dibanding pertimbangan emosi dan keyakinan personal.’

Kejadian post-truth ini memang lekat dalam kehidupan politik. Lekat pula hubungannya dengan era informasi dan internet saat ini. Apalagi memang, saat penobatannya, post-truth didahului oleh masifnya penggunaan kata tersebut pada dua kejadian politik besar pada tahunnya, yaitu pemungutan suara Brexit (British Exit, keluarnya Inggris dari organisasi kawasan Uni Eropa) dan pemilu AS –yang kemudian melibatkan pula kampanye besar internet, keterlibatan warganet di media sosial, dan sirkulasi informasi yang terjadi.

Kalau bicara post-truth, maka kita tidak bisa mendefinisikan kata tersebut dengan kata yang tersemat setelahnya sebagai sebuah pengertian yang saklek dan diterima banyak pihak. ‘Post-truth politics adalah ...’ mungkin menjadi format yang kurang tepat untuk memahami hakikat dan makna dari konsep tersebut. 

Sedangkan dalam post-truth sendiri, hakikat dan makna tidak ada tolok ukurnya. Semuanya bergantung pada emosi, keyakinan, agama, latar belakang, dan faktor-faktor subjektif milik individu lainnya. Argumen dan retorika yang memenangkan pendapat terpopulerlah barangkali yang bisa menentukan maknanya. Oleh karenanya, mendefinisikan post-truth politics dengan sebuah definisi bermakna menjadi tidak bermakna lagi.

Tapi agar Anda tidak kecewa –karena tidak menemukan definisi di isini- setelah membaca tulisan ini, begini saja. Kita katakan saja bahwa post-truth politics dapat dipahami sebagai politik subjektivitas, politik popularitas, dan politik tak hirau kebenaran. Tak penting apakah yang digunakan untuk mencapai tujuan adalah informasi palsu atau tak lengkap, yang penting hal tersebut bisa menyokong tujuan politik dengan memanfaatkan latar belakang subjek politik dan popularitas informasinya.

Bahkan dengan melontarkan hal-hal yang tak berarti pun bisa menjadi politik post-truth. Contohnya, apakah Anda tahu makna sebenarnya dari “Make America Great Again” yang dilontarkan Donald Trump? Atau misalnya, pahamkah Anda hakikat dari “Revolusi Mental”-nya Presiden Joko Widodo saat berkampanye? Saya yakin tidak.

Hal-hal yang substansial tidaklah penting dalam politik post-truth. Yang terpenting adalah apa yang digunakan untuk mencapai tujuan terlihat menarik di mata subjek politik lainnya.

Tidak penting dalam suatu pemerintahan Anda bekerja atau tidak, yang penting opini publik menunjukkan bahwa citra Anda baik-baik saja dan Anda terlihat bekerja.

Tidak penting apakah Anda bertindak benar atau tidak, yang penting di hadapan publik Anda terlihat bertindak benar.

Tidak penting apakah Anda korupsi atau tidak, yang penting dihadapan rakyat Anda terlihat tidak korupsi.

Oleh karenanya, dapat dianggap pula bahwa post-truth politics sebagai politik yang kolaps makna, dan saya suka memaknainya seperti ini.

***

Bacaan Suplemen:

The Collapse of Meaning in a Post-Truth World (Chi Luu, 2016)

Post-Truth Politics (Jane Suiter, 2016)

Foto: Pencalonan Donald Trump sebagai presiden menandai peristiwa penting popularitas kata post-truth di dunia via eluniverso.com

Answered Aug 15, 2017

Question Overview


2 Followers
1002 Views
Last Asked 3 years ago

Related Questions


Mengapa Hillary Clinton yang mendapatkan popular votes terbanyak tidak terpilih sebagai Presiden?

Apakah terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat akan mengubah wajah dunia?

Mengapa seseorang bisa tertarik bergabung dengan ISIS?

Mengapa seluruh periset di lembaga survei dan media Amerika Serikat gagal dalam memprediksi Hillary Clinton sebagai Presiden?

Beranikah Donald Trump mewujudkan janji-janji kampanyenya dengan mengusir imigran ilegal, mencegah Muslim masuk, dan memproteksi produksi AS dari gempuran barang komoditas Tiongkok?

Bagaimana cara Bareskrim Polri bekerja saat menentukan status kasus yang menjerat Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok?

Bagaimana sebenarnya hubungan Jokowi dengan Ahok?

Apakah aksi damai 411 ditunggangi kepentingan politik tertentu?

Seperti apa karakter pemimpin ideal yang pantas memimpin Jakarta?

Apa yang menyebabkan perilaku koruptif seperti tidak dapat dihilangkan di Indonesia?

Seperti apa kebijakan luar negeri Donald Trump terhadap pemerintahan Rodrigo Duterte?

Sejauh mana keterlibatan CIA (Central Intelligence Agency) dalam konstelasi politik Indonesia?

Adakah kemungkinan sejumlah negara bagian di Amerika Serikat memisahkan diri jadi negara berdaulat akibat kemenangan Donald Trump?

Mengapa negara-negara Islam tidak lebih mudah bersatu dibanding negara-negara Barat (Uni Eropa)?

Apakah Anugerah Nobel Perdamaian Aung San Suu Kyi masih pantas dipertahankan?

Kenapa Setya Novanto bisa menjadi Ketua DPR kembali?

Apakah Indonesia harus menerima pengungsi dari negara yang sedang berkonflik? Mengapa?

Bagaimana cara yang paling efektif untuk mengakhiri konflik Palestina dan Israel?

Bagaimana cara mengakhiri konflik antara Sunni dan Syiah?

Apa kebenaran atau prinsip yang Anda yakin benar tapi semua orang di sekeliling Anda mengatakan itu salah?

Bagaimana membuktikan bahwa Tuhan ada?

Apa dunia ini adil?

Mengapa ada gravitasi di alam semesta ini?

Jika memang hanya satu diantara tiga agama langit (Islam, Kristen dan Yahudi) yang benar, mengapa Tuhan tidak menimpakan adzab kepada ajaran yang salah seperti yang Tuhan lakukan kepada kaum Ad, Nuh, Tsamud?

Mengapa kisah-kisah Israiliat seringkali dijadikan referensi yang sahih dalam mengajarkan hikmah dalam budaya Islam?

Apa agama orang tua Muhammad SAW? Jika mereka non-Islam, apakah mereka masuk neraka?

Apakah sebagai seorang manusia biasa, para nabi juga memiliki dosa? Jika benar demikian, apa saja dosa mereka?

Bagaimana Anda dapat menjelaskan keberadaan Tuhan dan Malaikat secara ilmiah?