selasar-loader

Apa pengalaman paling bermakna dalam kehidupan Anda?

Last Updated Nov 28, 2016

11 answers

Sort by Date | Votes
Ainuen Nadhifah
Wanita oh wanita

Hasil gambar untuk hilang ketika berkema

Pengalaman tentang menghilangnya "aku". Baru saja terjadi. Kira-kira satu minggu yang lalu. Saat itu, aku mengikuti kegiatan pramuka di sekolah. Pada hari yang ditentukan akan diselenggarakan kemah di tempat dekat gunung. Pastinya, tempat berkemah jauh dari rumah. Ketika magrib, semua orang salat. Sementara aku yang sedang halangan, tidak. Aku hanya diam-diam di luar saja. Tiba-tiba ada yang menghampiriku. Menawarkan antaran ke toilet untuk aku ganti pembalut. Lalu kami berdua pun pergi. Kami meminjam toilet tetangga yang dekat dari tempat kemah.

Di dalam toilet, aku menghabiskan waktu yang lama sekali. Wanita memang seperti ini jika sudah berada di sini. Setelah selesai, kemudian ganti temanku. Menunggunya pun juga tak kalah lama dariku. Entah apa yang dia lakukan di sana. Bunyi air jatuh ke tanah terdengar sering sekali. Setelah selesai, kami pun memutuskan kembali ke perkemahan. Dalam perjalanan, banyak warga desa yang berlalu lalang. Katanya ada salah satu teman kami yang hilang. Jujur, aku tak merasa panik waktu itu. Sebab aku merasa, orang yang hilang waktu itu adalah aku.

Aku dan temanku berpandangan dalam gelapnya malam. Terlihat, keramaian dari sana. Banyak wanita yang masih mengenakan mukena berlalu lalang sambil mengarahkan senter ke sekeliling. Tak sengaja, senter mengarah ke aku. Lalu detik selanjutnya, suara tangisan pecah. Aku menghampiri mereka sambil tertawa. Ternyat benar. Orang yang hilang itu adalah aku. Aku terus menatap mereka yang menangis dengan diselingi tawa yang terdengar miris. Sementar aku sendiri masih tertawa. Dengan diiringi air mata yang ikut keluar seperti mereka.

Wajah panik mereka sangat tampak lucu sekali di mataku. Aku tak akan tahan menahan tawa saat melihat mereka mencariku dengan wajah gelisah seperti itu sambil mengarahkan senter ke semak-semak. 

Ilustrasi via kompas.com

Answered Dec 24, 2016
Florensius Marsudi
Lelaki, satu istri, satu putri. Masih belajar menulis....

90utVQNdHteO9x0dUBIDH1Vm0i3uvOqi.jpg

via hype.idntimes.com (ASAM)

Pengalaman diterima sebagai sahabat dalam hidup bersama. Sahabat saya kebanyakan muslim, hampir 96%, namun mereka menerima saya apa adanya. Kalau Natal atau Paskah, sahabat-sahabat saya pasti datang ke rumah. Begitu juga kalau lebaran, saya pasti akan ke rumah mereka satu persatu. Sahabat-sahabat saya sangat baik.

Natal tahun yang lalu, sahabat-sahabat saya itulah yang ikut mengamankan gereja, menjaga parkiran. Mereka kompak. Saat lebaran, kamilah yang ikut menjaga malam takbiran agar lancar. Itulah makna mendalam yang saya terima.

Kedua, saya berasal dari keluarga sederhana, tapi orangtua saya mengajarkan untuk berbagi. Pesan yang selalu saya ingat, bila ingin memberi, jangan menunggu kaya. Bila kau ada, berilah. Cukupkanlah dan bagilah pada mereka yang berkekurangan.

Dua pengalaman tersebut yang sangat berkesan hingga kini.

Terima kasih.

Answered Apr 15, 2017
Kartika Aprilia
Indonesian Literature, University of Indonesia.

gpd1VaNlNxDqm11-VZKP-1UruLvru93Q.jpg

Gambar via ummi-online.com (KAM)

Selama saya hidup, saya merasa bahwa banyak pengalaman yang saya lewati. Pengalaman tersebut bermacam-macam bentuknya. Namun, di benak saya, pengalaman yang paling bermakna adalah ketika saya bisa membantu orang lain dan berguna untuk orang lain.

Bantuan yang saya berikan bukan semata-mata bantuan dalam hal finansial atau bentuk fisik lainnya, namun juga dalam hal ketersediaan waktu.

Saya merasa ketika orang lain, seperti orang tua, keluarga, atau teman membutuhkan saya, saya akan hadir dan menyempatkan diri. Apapun bentuk bantuannya, namun saya pikir bahwa meluangkan waktu saja sudah menjadi hal berguna bagi orang lain.

Tidak hanya itu, saya juga merasa senang ketika saya bisa membantu orang 'kurang mampu' di jalan. Meskipun tidak banyak jumlah uang atau tenaga yang saya keluarkan, namun saya merasa bahwa saya 'sedikit' membantu mereka untuk mencari nafkah.

Begitulah kira-kira pengalaman menarik yang saya alami. Pengalaman ini tentunya akan terus terjadi dalam hidup saya. That's why this experience being my favorite one.

Answered Apr 16, 2017
Christie Damayanti
Just disabled woman, architect, urban planner, author, philatelist; motivator

Pengalaman yang paling bermakna?

pdGpGvOjEIJ4Lv0zj84QIH-eQHsCNM_H.jpg

Foto via suaramerdeka.com (KAM)

Hmmm....

1. Ketika aku kembali dalam sebuah kehidupan setelah aku pernah mati karena kanker rahimku

2. Ketika anakku yang kecil sembuh dari kemungkinan akan menjadi seorang anak tuna tungu setelah sempat 4 tahun dia tidak bisa mendengar....

3. Ketika kaki kiriku patah di beberapa tempat dan jari-jari kaki kiriku mencengkeram dan terpelintir setelah aku terpelanting jatuh di proyekku dan membengkak sebesar kaki gajah serta sempat duduk di kursi roda....

4. Ketika sekarang ini sudah 7 tahun sebagai insan pascastroke dengan lumpuh 1/2 tubuh kanan dan otak kiriku pernah terendam darah 20% dan vonis secara manusia aku hanya bisa berbaring saja di sisa hidupku, tetapi sekarang aku tetap bekerja sebagai arsitek dan aktif sebagai motivator, walau dalam keterbatasan....

Answered Apr 16, 2017

Hasil gambar untuk toleransi antar umat beragama

via  2.bp.blogspot.com (SUM)

Bermakna?

Menurut saya adalah ketika saya SMP. Saat saya SMP, saya gagal lolos tes SMP negeri. Oleh karena itu, saya terpaksa dimasukkan ke dalam SMP swasta. Awalnya, karena saya Islam, keluarga saya ingin memasukkan saya ke sekolah seperti SMP Muhammadiyah. Akan tetapi, karena ada hal yang tidak bisa dihindari, seperti faktor terlalu jauh dari rumah dan terbatasnya transportasi (akses ke SMP Muhammadiyah) pada saat itu, saya akhirnya dimasukkan ke SMP sebelah rumah saya (rumah dinas), yaitu SMPK Immanuel Bandar Lampung.

Apa yang bermakna? Saya dilahirkan dari keluarga yang sangat Islam. Walaupun saya kecil lebih ateis daripada kedua saudara saya, tetapi saya masih memiliki sedikit fanatisme Islam. Awal saya dimasukkan ke sekolah itu adalah saya tidak terima. Pikiran saya ke mana-mana, dan terkadang sinis kepada mereka yang berbeda agama dengan saya. Walaupun secara luar saya ramah, tetapi saat awal masuk SMP, hati saya sering men-judge mereka sebagai "kafir" dan "ahli neraka".

Namun, pandangan itu berubah ketika saya mulai mengikuti pelajaran agama di sekolah saya tersebut. Saya melihat bahwa ajaran agama mereka tidak jauh berbeda dengan ajaran agama saya. Perlakuan mereka pun bahkan terkesan mengistimewakan saya. Setiap Jumat, ketika pukul 12.00 siang, saya diijinkan untuk salat Jum'at walaupun pada waktu itu belum jam bubar sekolah saya (jam bubar pukul 13.30). Selain itu, teman-teman saya juga selalu mengingatkan saya ketika puasa, apalagi ketika saya marah-marah. Mereka selalu bilang "Sabar, lu kan lagi puasa, nanti lu malah dapet dosa".

Saya berpikir, pandangan saya telah salah selama ini terhadap mereka yang berbeda agama. Saya pikir, mereka sangat memusuhi agama saya. Ternyata, perlakuan mereka jauh dari apa yang saya pikirkan. Saya merasa lebih berada di dalam lingkungan saya sendiri (lingkungan sesama muslim). Saya sering sekali diingatkan salat, diingatkan puasa, bahkan saya sering sekali diberikan makanan untuk berbuka puasa (apalagi ketika bertamu di rumah teman-teman saya).

Pengalaman tiga tahun saya di SMP Immanuel Bandar Lampung merupakan pengalaman paling bermakna dan berharga karena sejak itu saya mulai didorong untuk mengenal agama saya. Apa benar, Islam yang saya terima selama ini melalui ajaran guru ngaji, ajaran TV, buku-buku semasa kecil saya, merupakan Islam yang sangat memusuhi agama lain? Pengalaman itu menafikan doktrin yang pernah saya terima (walaupun bukan dari keluarga saya sendiri). Apalagi, pengalaman itu membuat saya menjadi semakin haus membaca buku-buku tentang Islam. Sejak saat itu, saya mulai membuka diri, saya mulai melihat bahwa tidak semua manusia itu sama, dalam artian kelakuan mereka.

Islam yang saya dapat dari membaca buku sejak SMP pun mendukung pengalaman saya. Terlebih, di SMP saya dipertemukan dengan dua orang guru spiritual. Satunya adalah guru ngaji saya yang bernama Pak Syukron dan satu lagi imam salat rawatib Masjid Agung Bandar Lampung. Mereka mengajarkan saya bahwa pada dasarnya semua agama mengajarkan kebaikan. Mungkin, dalam pandangan Islam, ajaran mereka salah, tapi itu bukan berarti membuat kita memusuhi para penganutnya. Toh, selama ini saya sendiri sudah mengalami sendiri, ternyata mereka yang berbeda agamanya dengan saya lebih rajin mengingatkan saya untuk beribadah menurut agama saya daripada teman-teman saya yang seiman.

Singkatnya, pengalaman tiga tahun di SMP ini bermakna karena pengalaman itu yang membuat saya selalu haus untuk mengenal agama saya sendiri. Bahkan, mengenal agama lain dan ajaran lainnya (yang non-agama). Pengalaman itu yang membuat saya selalu semangat untuk menegakkan harmoni di dalam perbedaan, menegakkan Bhineka Tunggal Ika.

Answered Apr 16, 2017

Hasil gambar untuk pengalaman hidup paling bermakna

via bangprohi.files.wordpress.com (SUM) 

Selama hidup saya, pengalaman yang paling bermakna dalam kehidupan saya adalah ketika saya mengikuti acara Bakti Sosial di Pandeglang. Bakti Sosial adalah nama sebuah acara dari FIB UI yang dilaksanakan setiap tahun. Ketika itu, saya mengikuti Bakti Sosial itu yang kedua kali pada tahun 2015. Sebelumnya, ketika saya masih menjadi mahasiswa tingkat pertama, saya sudah pernah mengikuti kegiatan Bakti Sosial tetapi di Citayam. Ketika Bakti Sosial di Pandeglang, saya merasa terkesan karena itu adalah daerah terjauh yang pernah saya kunjungi untuk mengikuti kegiatan sosial.

Pengalaman itu juga bermakna bagi saya karena saya merasa sudah melakukan kegiatan bermanfaat bagi orang lain. Ketika itu, saya sebagai Deputi Kesehatan yang bertugas menjaga kesehatan panitia dan mengurus kegiatan kesehatan di daerah tersebut, yaitu kegiatan Cek Kesehatan yang diadakan untuk masyarakat di dua desa di Pandeglang. Saya lupa nama kedua desa tersebut, yang jelas kondisi air di sana sangat memprihatikan karena airnya kotor dan berasal dari sungai.

Ketika menjaga kegiatan Cekk Kesehatan, saya ngobrol dengan beberapa warga yang memang bersikap ramah kepada kami. Ketika mereka satu per satu diperiksa kesehatannya, saya melihat ada warga yang menangis karena memiliki suatu penyakit yang saya tidak tahu persis jenis penyakitnya. Apalah daya, kami hanya mengadakan Cek Kesehatan dan bukan pengobatan. 

Itulah pengalaman yang menurut saya paling berkesan karena saya merasa sudah melakukan sesuatu yang berguna untuk orang lain. Saya merasa menjadi seseorang yang berguna di dunia walaupun belum banyak yang bisa saya lakukan untuk orang lain. 

Answered Apr 16, 2017

Hasil gambar untuk menjadi seorang ibu

Pengalaman yang bermakna, pastinya yang pertama kali, baik itu sekolah, kerja, pindah dsb. Namun, yang paling berkesan adalah saat pertama kali menjadi seorang ibu. Rasanya amazing sekali bisa memiliki anak, dari rahim kita sendiri, menyusuinya, membuainya, dan mengajarinya. Sesuatu yang ah...tidak bisa digantikan dengan uang miliaran rupiah.

 

Gambar via cdns.klimg.com 

Answered Apr 19, 2017
Dityas N. Permana
Penonton setia Keluarga Cemara

mYnnYsHOPnpN0Y1E8loBeRrgbSoFGn4O.jpg

Berteman dengan Pacet di Hidung selama 3 Minggu

Pengalaman bermakna dalam hidup saya adalah ketika pacet masuk ke dalam hidung saya dan baru saya sadari ketika 3 minggu pacet tersebut sudah bersarang di hidung saya.

Awalnya adalah ketika saya mengikuti pelantikan penggiat alam ketika SMA ke gunung salak. Saya dan teman-teman berada di gunung salak selama 5 hari. Banyak sekali aktivitas yang kami lakukan selama masa pelantikan tersebut dari pagi hingga malam. Awalnya selama 5 hari tersebut saya tidak merasakan ada yang aneh dengan hidung saya. Sampai pada akhirnya di hari kelima kami turun gunung dan pulang ke rumah masing-masing.

Keesokan harinya saya mengalami mimisan namun hanya di hidung sebelah kiri saja yang keluar darahnya. Dan mimisan ini berlangsung terus menerus selama beberapa hari. Salah satu senior saya mengatakan bahwa saya mengalami panas dalam karena perbedaan suhu antara di gunung dan di kota. Ya, saya pikir ini mungkin hal yang wajar sehingga tidak ada kecurigaan apapun dan tidak memeriksakan keadaan saya ini ke dokter.

Selama tiga minggu tersebut yang saya rasakan adalah hidung saya suka mampet, namun saya pikir hal tersebut wajar karena saya memiliki sinusitis. Sehingga setiap pagi dan malam pasti hidung saya ini meler dan kemudian menjadi mampet.

Nah, tepat di hari ketiga minggu saya pulang dari pelantikan tersebut, sore hari, saya sedang menggunakan handphone saya. Kemudian dari layar handphone saya yang terkena cahaya itu mantul refleksi hidung saya yang tiba-tiba saja pacetnya keluar dari hidung saya namun hanya setengah badan dan langsung kembali masuk ke dalam hidung.

Pada saat itu saya langsung panik dan takut. Saya menghubungi orang tua saya untuk segera pulang. Perasaan saya saat itu sangat tidak bisa dideskripsikan. Karena saya takut dengan pacet yang ada di hidung saya namun saya tidak bisa menghindari pacet tersebut karena dia ada di dalam hidung saya. Tidak seperti takut dengan kecoa, kita bisa lari sejauh-jauhnya jika kecoa itu ada di depan mata kita atau di dekat kita.

Sehingga saya menangis dan menutup mata saya agar seolah-olah saya jauh dari pacet tersebut. Saya juga tidak mengerti mengapa saya melakukan itu, seperti anak kecil yang main petak umpet kemudian menutup matanya dan merasa dirinya tidak terlihat oleh siapapun.

Singkat cerita, orang tua saya pun pulang, berbagai cara dilakukan mulai dari merebus air daun sirih kemudian menghisap uapnya dimaksudkan agar pacet tersebut mabuk. Namun cara itu tidak berhasil.

Cara kedua, Bapak saya menyuruh saya untuk merokok dan mengelarkan asapnya dari hidung, karena katanya pacet juga tidak suka dengan tembakau. Namun karena saya tidak bisa mengeluarkan asap rokok lewat hidung, akhirnya tembakau rokok itupun diseduh. Kemudian airnya di sedot menggunakan sedotan aqua, dan diteteskan ke dalam hidung saya. Seketika sayang langsung lemas, mual, perih, banyak yang saya rasakan dan itu semua tidak enak. Seperti kemasukan air ke hidung ketika berenang, namun bayangkan ini adalah air tembakau. Efeknya stelah itu seperti di gurah, segala lendir keluar dari hidung, mata dan mulut, tapi tidak si pacet.

Ke dokter THT pun tidak membuahkan hasil karena dokternya bilang itu harus dioperasi, sedangkan itu sudah malam.

Akhirnya pada dini hari, Bapak saya berinisiatif memasukan cairan propolis ke dalam hidung saya (seperti memasukan air tembakau tadi) dan itu rasanya jauh 10 kali lipat lebih sakit dna perih daripada air tembakau. Dan ternyata cara ini ampuh. Si pacet pun mabuk dan melepaskan tentakelnya di hidung saya sehingga Bapak saya dapat menarik pacet tersebut menggunakan pinset.

Ketika dikeluarkan, pacet tersbeut sudah seukuran jari kelingking dan panjang sekali. Saya tidak mengerti kenapa makhluk sebesar itu bisa bersarang di hidung saya selama 3 minggu.

Akhirnya pacet itu di awetkan oleh Ibu saya, katanya untuk kenang-kenangan.

Dan hidung saya sebelah kiri mengalami pembengkakkan di dalam karena infeksi dari luka akibat pacet tersebut.

Begitulah pengalaman paling bermakna dalam hidup saya. Agar kalian berhati-hati ketika melakukan kegiatan di alam, dan jangan menyepelekan apapun yang terjadi pada diri kalian.

Answered Apr 20, 2017
Zulfian Prasetyo
Tertarik pada gaya hidup sehat dan pernak-pernik keseharian lainnya.

V8hCbud0vHeUVS9E46PwfpNYKm2woeuz.jpg

Terlibat dalam suatu konser musik.

Ketika berusia 10 tahun, saya diikutkan sekolah untuk seleksi pemain musik sebuah konser. Waktu itu, saya adalah pemain drum tenor. Sempat pula memainkan snare drum dan pukulan seperenambelasnya yang asyik dan bass yang luar biasa berat untuk dibawa marching (saya curiga ini penyebab saya sekarang pendek!). Namun, saat diumumkan untuk mengikuti seleksi, saya belum tahu alat musik apa yang akan saya mainkan, yang jelas saat itu saya akan memainkan salah satu alat musik perkusi.

Pada sesi pertama, partitur yang harus saya mainkan dituliskan di papan tulis. Saya mencatat di buku. Jenis partiturnya khas trio (terdiri dari tiga buah tom-tom, entah ukuran berapa saja). Yang jelas, tidak ada garis-garis yang lazim disebut paranada. Hanya garis vertikal yang menjadi pemisah antartempo.

Saya ingat, kami latihan menggunakan ember. Ada tiga ember merah dengan ukuran berbeda yang saya punya sebagai tim kedua. Sementara itu, tim pertama menggunakan alat-alat yang nyaring seperti rantang sebagai pengganti snare drum (saya ingat seseorang sempat membawa velg vespa) dan tim ketiga menggunakan wadah serupa kaleng cat berukuran besar sebagai pengganti bass.

Seleksinya tidak mudah. Partiturnya luar biasa sulit bagi saya. Selepas latihan di sekolah, saya melanjutkannya dengan latihan di rumah. Kedua buah stik Avedis Zildjian yang biasa saya gunakan selalu menemani, lengkap dengan ornamen berupa lilitan lakban berwarna hitam di kedua ujungnya, seperti menyatakan kesiapannya untuk membantu saya yang beberapa kali masuk 'zona eliminasi'.

Satu per satu orang tereliminasi. Saya berusaha mempertahankan fokus dengan rutin latihan, menjalani hukum 10 ribu jam terbang Gladwell yang ketika itu saya belum tahu. Akhirnya, saya benar-benar lolos untuk mengikuti konsernya.

Beberapa kali saya latihan dengan Elfa Secioria dan Sherina di studio. Di Pasar Festival. Di Senayan. Semakin lama, latihannya semakin intense. Ada banyak frustrasi karena kesalahan yang sama terjadi berulang-ulang, merusak keseluruhan penampilan. Kami bergabung dengan tim secara keseluruhan hingga pukul 11 malam. Ada Djaduk Feriyanto. Ada Ari Tulang. Saya juga ingat, saat itu adalah pertama kali saya makan ayam teriyaki, lalu memberikannya ke Mama untuk diadaptasi resepnya. Ini kemudian menjadi salah satu makanan buatan Mama favorit saya.

Pada satu momen latihan menjelang hari-H, saya dan teman-teman yang sedang beristirahat pergi ke supermarket untuk membeli snack. Saya (yang kesulitan bersabar untuk berjalan) berlari kembali menuju tempat latihan. Dalam momen lari, stik yang saya gunakan patah. Pelatih saya panik! Hahaha. Untung dia bawa stik cadangan. Akhirnya, saya dipinjamkan stik tersebut.

Saya lekas membeli stik baru, melabelinya dengan dua lakban tebal berwarna merah di kedua ujungnya. Ornamen ini memberi saya semangat, fokus, gairah akan kesempurnaan pukulan, sekaligus menandainya sebagai milik saya.

Hari-H tiba. Saya tampil membawakan lagu-lagu Sherina dengan alat musik yang biasa saya gunakan. Ember. Iya, 'salahkan' kreativitas Djaduk Feriyanto atas hal ini. Saya agak heran juga ketika diminta untuk menabuhnya dengan ekspresif agar enak dilihat. Lalu, ternyata para penabuh perkusi ini diharuskan untuk berlatih koreografi juga. Ini akan dibutuhkan karena kami, Sherina, dan Derby Romero akan tampil kembali untuk menutup acara dengan tarian tertentu. Ini agak ribet, apalagi posisi saya tepat berada di belakang Sherina sehingga kesalahan kecil besar kemungkinan akan terlihat. Tapi syukurlah, saya dibantu pemeran Dudung (yang saya lupa nama aslinya) yang sudah lebih dahulu menguasai gerakan. Overall, it was fun!

 

Inilah pengalaman paling bermakna dalam kehidupan saya. Saya belajar disiplin, persistensi, dan fokus. Tiga hal yang mutlak dibutuhkan seorang juara. Prosesnya luar biasa lelah (untuk seorang anak berusia 10 tahun), tapi hasilnya luar biasa memuaskan. Pada akhirnya, bekerja dengan orang-orang terbaik pada usia semuda mungkin adalah sebuah berkah bagi saya.

Oh iya, kalau tidak salah, nama konsernya adalah Konser Sehari Bersama Sherina. :)

 

Sumber gambar: 99evor.com

Answered Apr 26, 2017

Merasakan kelaparan dan kehausan pada bulan suci ramadhan.  Jadi bisa merasakan apa yang di rasakan oleh orang  yang tak berkecukupan 

Answered Aug 15, 2017
Novia Nurist Naini
Creative Writer. UGM. Turns scientific research into popular feature

Ini ceritaku KKN. 

 

6 bulan yang lalu, aku KKN. Ketika sampai di desa, kami disambut luar biasa oleh warga desa, mulai anak-anak hingga kakek-nenek keluar. Ide GR ku muncul. I may guess what they think, “manusia dari planet mana ini? Pakai gadget sana sini, muka mengkilap?”

Otakku masih terus shaking, saat mulai paham kalau tempat kita tinggal no SMS, no phone, no internet, no toilet, no bed, no water, and good bye! Temanku mengatakan,

“Puasa eksistensi, guys!”

What a statement! Haha. Apakah selama ini gila eksistensi? My head mixed with thought on myself. Selama ini aku ngapain aja coba sama internet? He is my everything. Everything.

“Gimana bisa mereka hidup seperti ini? Jauh dari kehidupan? Tidakkah mereka butuh Google untuk bertanya ini itu? Nonton Youtube untuk tahu perkembangan Artificial Intelligence dan nonton gimana cara skyscraper dibuat pake teknologi 3D printer? Tidakkah ingin tau apa yang terjadi di London hari ini? Apa yang dilakukan Elon Musk biar kita bisa prepare pindah ke Mars? Atau belajar ilmu-ilmu baru lainnya? Tidakkah mereka ingin tahu what’s going on earth nowadays? Tidakkah itu sesuatu yang buruk ketika tidak paham apa yang dibicarakan dunia di World Economic Forum, dan bagaimana bargaining position Indonesia di diplomasi internasional? Bagaimana kita bisa memikirkan sejuta umat Indonesia ini agar sejahtera dan menjadi bagian taring dunia?

Saya mulai mencari definisi kesejahteraan. I just learn capability approach milik Amartya Sen, peraih nobel ekonomi dunia. Dia memiliki tesis bahwa kesejahteraan itu tidak memiliki standar kuantitatif, it’s based on what people think of the welfare themselves. Ketika mereka deserve kalau sejahtera itu A, then A will flows. So the question is, bagaimana cara pandang mereka tentang sejahtera? To answer this, I need to know how they think about the world, about money, hereafter, parent, ambitions, Indonesia, family, and what they really want/pursue to do. Harus banyak baca tulisan tentang “How The Poor Think” atau “Do They Really Poor (Maybe It’s The Definition of Welfare in Their Own Way?”, “What the Rural Think of the World”.

Di sisi lain, aku juga menyanggah argumenku kalau masyarakat sini miskin karena tidak mengakses internet dan terbelakang oleh perkembangan dunia, dengan asumsi bahwa “they are anti-mainstream by tidak mengikuti standar globalisasi dunia. They live their own way, tidak terpengaruh arus kalau hidup harus ini dan itu. Or maybe they really want to escape from the ideas of what I thought above. Maybe just, “Go the hell with the world, I have my own life to count

Ini definisi sederhana setidaknya yang kupelajari di KKN di Nusa Tenggara Barat 

Answered Apr 2, 2018

Question Overview


14 Followers
1530 Views
Last Asked 2 years ago

Related Questions


Apa nasihat terbaik yang pernah Anda dapatkan?

Bagaimana menjelaskan bahwa ada kemungkinan kehidupan lain selain di Bumi ini?

Apa motto hidup paling keren?

Apakah seseorang mempunyai karakter bawaan yang tidak bisa diubah?

Apa ketakutan terbesar dalam hidupmu? Mengapa?

Siapakah cinta pertama Anda?

Seberapa pentingkah olahraga bagi Anda ?

Apa yang Anda lakukan ketika mengalami kesulitan dalam menentukan pilihan?

Siapakah orang yang paling berpengaruh dalam kehidupan Anda?

Bagaimana kaitan antara genre film favorit dan budaya setiap negara?

Apa itu Mazhab Frankfurt?

Bagaimana perkembangan Mazhab Frankfurt dalam konteks budaya populer?

Apa yang dimaksud dengan Teori Fetisisme Komoditas?

Apa perbedaan antara budaya massa dan masyarakat massa?

Apakah kaitan antara budaya massa dan amerikanisasi?

Apa pendapat Anda tentang amerikanisasi dan kritik atas Teori Budaya Massa?

Bagaimana pengaruh industri budaya terhadap musik pop?

Apakah kaitan antara James Bond dan strukturalisme?

Bagaimanakah konsep hegemoni Gramsci?

Apakah merek parfum yang paling cocok untuk wanita?

Apakah perbedaan antara parfum dan cologne?

Apa yang membuat harga parfum begitu mahal?

Apakah wanita mengenakan parfum untuk menarik perhatian pria atau ada alasan lainnya?

Apa tujuan laki-laki memakai parfum?

Bagaimana cara memakai parfum yang benar?

Bagaimana cara memakai cologne yang benar?

Apakah parfum yang aromanya paling maskulin?

Apakah parfum yang aromanya paling feminin?

Parfum pria apa yang aromanya bisa diterima oleh semua orang?

Apa yang membuatmu merasa bermakna dalam hidup?

Menurut Anda, bagaimana kualitas seorang artis atau selebritis di Indonesia dari segi moral?

Siapakah diri Anda?

Apa arti nama Anda?

Siapa kamu?

Apa hasil Myers-Briggs Type Indicator-mu ?

Bagaimana kepribadian mu pada hasil tes Myers-Birggs Type Indicator?