selasar-loader

Apa yang membuat Anda kecanduan media sosial seperti Facebook, Twitter, atau Instagram?

Last Updated Nov 27, 2016

Media sosial adalah keniscayaan, kehadirannya tidak bisa ditolak, kecuali pemerintah melakukan tindakan "represif" dengan memblok media sosial bikinan asing. Kenyataannya, orang kini lebih banyak menggunakan media sosial dibanding media mainstream. 

35 answers

Sort by Date | Votes
Hilman Fajrian
Founder Arkademi.com

6wEe6swhTao7ray_v0h906BQQCsxxCVF.jpg

Kebutuhan naluriah manusia untuk tahu, berekspresi, bersosialisasi, dan terhubung. Keterhubungan bukan hanya membuat kita lebih banyak tahu dan belajar lebih cepat. Tapi, bentuk baru keterhubungan ini menciptakan nilai-nilai sosial baru secara virtual yang disebut social currency (nilai sosial). Social currency lewat personal branding di media sosial inilah yang direkayasa dan dituju oleh banyak orang demi mendapatkan manfaat sosial dan ekonomi.

Media sosial juga adalah revolusi dalam demokratisasi informasi, di mana setiap orang akhirnya memiliki wadah (platform) untuk membagikan pengetahuan, pengalaman, perasaan, dan ekspresinya kepada orang banyak dalam sekup global. Evolusi dalam cara bagaimana informasi diciptakan, didistribusikan, dan dikonsumsi, memegang peranan terpenting dalam pembentukan peradaban.

Answered Dec 6, 2016
Hana Fitriani
Master candidate of Digital Marketing

Karena media sosial memang dirancang untuk membuat penggunanya kecanduan.

3PiNcWacWdsRHAGKJMgArQwSZceyRB8m.jpg

Di tempat permainan seperti Timezone, ada permainan memasukkan koin ke suatu mesin, kemudian ada bola bergulir yang nantinya secara random bola itu akan masuk ke salah satu lubang yang merepresentasikan jumlah kupon yang kita dapat. Pemain bisa mendapatkan hadiah beragam, mulai dari 1 kupon sampai 1000 kupon kalau dia dapat jackpot. Dan semua itu random. Para pemain fanatik rela mempertaruhkan uang dan koin sekian banyak hanya untuk mendapatkan sejumlah kupon tertentu.

Namun ternyata, Natasha Scull dalam risetnya menyatakan bahwa seseorang bermain seperti itu tidak dalam rangka meraih keuntungan moneter semata. Mereka tahu bahwa kemungkinan besar mereka akan pulang dengan membawa hasil yang sepadan. Yang mereka cari adalah rasa "candu" atau ketagihan yang disebut Schull sebagai machine zone.

Sayangnya, machine zone tidak hanya diciptakan pada permainan Timezone atau mesin Pachinko. Website yang kita kunjungi dan aplikasi yang kita install juga sengaja didesain untuk membuat user-nya terjebak dalam machine zone

Bagaimana machine zone dalam media sosial? Penggunaan fitur infinite scroll, personalised timeline, dan variable reward adalah contoh aplikasinya. Sama seperti permainan di Timezone, ada variabel random yang membuat seseorang akhirnya menjadi candu. Apabila seseorang diberi reward dalam ketentuan, baik secara jumlah atau waktu, yang tidak dia ketahui polanya, maka semakin besar kemungkinan dia menjadi candu. Variabel reward ini juga yang menjadi salah satu faktor penting dalam Hook Model-nya Nir Eyal, tentang bagaimana pengguna bisa tergantung dengan suatu produk tertentu.

***

Sebut saja si Susi. Dia adalah seorang mahasiswi "anak gaul Instagram". Awalnya dia membuka Instagram ketika mau update foto, biasanya sehari sekali. Dia juga membuka Instagram ketika mendapat notifikasi, kadang ada yang menyukai fotonya setiap 6 jam sekali, kadang selang 1 menit, kadang sehari tidak ada.

Dia juga membuka Instagram untuk melihat gambar-gambar bagus dari temannya. Kadang ada yang suka mengirim gambar bagus, kadang gambarnya tidak menarik. Semakin lama Susi menggunakan Instagram, kondisi semakin tidak menentu dan makin lama dia makin sering membuka Instagram.

Setiap ada waktu luang di kereta, menunggu bis, pelajaran yang membosankan, atau antre di kasir, dia membuka Instagram untuk melihat notifikasi yang masuk atau melihat newsfeed gambar-gambar dari temannya.

Motivasinya adalah "kali aja ada yang menarik", walaupun entah hal itu kapan datangnya. Dari yang membuka Instagram setiap 6 jam sekali, sekarang setiap membuka password ponsel, Susi secara otomatis mengarahkan jarinya ke aplikasi Instagram. Susi sudah masuk ke machine zone-nya Instagram. Dalam kasus Susi, dia berharap dengan membuka Instagram dia bisa menemukan gambar bagus atau mendapat notifikasi bahwa seseorang telah berkomentar di fotonya. Dia termotivasi untuk mendapatkan random reward dan rela mempertaruhkan waktu dan fokusnya untuk membuka Instagram sesering mungkin.

Susi tidak sendiri. Penelitan di Monash Unversity menunjukkan bahwa 75% responden mengecek akun Facebook-nya hingga 5x atau lebih dalam sehari. Bahkan, ada seorang responden yang mengaku dia bisa mengecek akunnya 10x per jam, dalam 18 jam setiap harinya. Dengan timbulnya perilaku kecanduan dan waktu yang dipertaruhkan, semakin besar peluang Facebook untuk menampilkan iklan-iklan dan mempengaruhi self-control dan willpower kita.

Social media dan internet dengan segala konektivitasnya, kemudahan, dan jasanya sebenarnya tidak gratis. Mereka dengan sengaja membuat pengguna merasa ketagihan untuk menggunakan produknya. Beberapa perusahaan besar mempunyai engineer dan statistician sendiri untuk memahami perilaku user, menggunakan datanya untuk menyeret user ke dalam machine zone mereka. 

Oleh karena itu, sangat penting memahami dan berpegang teguh bahwa kita adalah user, pihak yang paling bertanggung jawab, sebagai tuan atas waktu dan teknologi yang digunakan.

 

Note: penjelasan lebih lengkap bisa lihat tulisan saya di Jurnal Selasar

 

Ilustrasi via wordpress.com

Answered Jan 5, 2017
Achmad Humaidy
Freelance Writer; Membaca, Menulis, dan Menjelajah Dunia Maya; My IG:@me_eksis

li8eApVIDZiU4T918JDAxX6smJe_XgE1.png

FB, Twitter, dan IG atau yang kita kenal sebagai media sosial merupakan produk dari era new media. Kecepatan informasi, kemudahan akses, dan penyebaran jejaring interaksi yang begitu luas menjadikan penggunanya semakin hari semakin bertambah.

#Facebook menjadi media sosial yang lengkap fiturnya. Semua orang mudah menggunakannya dan bisa menyebarkan apapun di dalamnya sehingga menjadi viral.

#Twitter menjadi media sosial yang elegan dengan batasan content yang bisa diunggah pengguna. Semua betah berlama-lama melihat timeline atau menunggu cuitan dari public figure yang mengundang beragam reaksi atas suatu sensasi yang tinggi. Keterbatasan itu yang membuat tweet-tweet bermakna langsung menjadi trending topic di Indonesia bahkan dunia.

#Instagram menjadi media sosial yang menawan dengan visual. Setiap pengguna media sosial suka difoto dan memfoto. Dengan kehadiran unsur visual, content yang dihadirkan semakin fenomenal. Didukung kecanggihan teknologi smartphone masing-masing pengguna, media sosial ini tampak berwibawa hingga menjuluki para penggunanya sebagai selebgram.

Answered Feb 14, 2017
Arti Desvira
Mahasiswi Ilmu Komunikasi

yq2DJcBo8a32M7nhPN0GJgwc1C0C0vLx.png

Karena pada dasarnya, manusia mempunya naluri ingin tahu, naluri yang dipakai untuk mencari tahu segala informasi yang menurutnya penting. Ketahuilah, media sosial menjadi ajang penyebaran informasi yang mungkin saja paling banyak dilihat dan dibaca oleh seseorang. Karena dengan sebuah hape, semua media sosial bisa dilihat di mana saja dan tanpa batas.

Fitur-fitur pada media sosialpun kini mulai berkembang. Karena hanya dengan media sosial di sebuah handphone, selain bisa mencari informasi, kita juga bisa mencari teman dan memanfaatkannya sebagai sarana hiburan. Sebagai contoh, instagram. Fitur-fitur instagram mulai dari awal muncul sampai sekarang naik dengan sangat melesat, mulai dari membuat snapgram (history), meng-upload photo, bahkan bisa live.

Jadi, wajarlah kalau para pengguna media sosial menjadi kecanduan. Selama masih batas wajar dan diaplikasikan medua itu dengan baik, menurut saya, hal itu masih bisa dimaklumi.

 

 

Answered Mar 12, 2017

RgQe2o12v6tvFFRXwwAJwVIM8_8tRy-M.jpg

Setiap kali pecandu internet merasa kewalahan, stres, depresi, kesepian atau cemas, mereka akan menggunakan sosial media untuk mencari penghiburan dan melarikan diri. Menurut Psych Guides, seperti gejala kecanduan lainnya, kecanduan sosial media dan internet timbul dalam gejala emosional dan juga fisik. Sejumlah gejala di bawah ini pada dasarnya mengisyaratkan bahwa kecanduan mungkin sedang berkembang; namun demikian, gejalanya bisa bervariasi antar orang. Apa saja?

Gejala emosional dari kecanduan media sosial:

  • Merasa bersalah
  • Gugup
  • Depresi
  • Ketidakjujuran
  • Perasaan bahagia bukan kepalang saat online
  • Tidak mampu menaati jadwal di dunia nyata
  • Tidak memiliki kepedulian terhadap waktu; tidak sadar waktu
  • Isolasi
  • Bersikap defensif
  • Menghindari melakukan kewajiban di dunia nyata
  • Mudah marah

Gejala fisik dari kecanduan media sosial:

  • Sakit kepala
  • Sakit leher/punggung
  • Kenaikan/penurunan berat badan
  • Gangguan tidur
  • Carpal tunnel syndrome
  • Penglihatan kabur atau buram; mata lelah

Answered Mar 19, 2017
Christie Damayanti
Just disabled woman, architect, urban planner, author, philatelist; motivator

G5RXc3NltaWRHzm7dtVBT9lTVFyP0ChO.jpg

via kompasiana.com (FR)

Untukku adalah menjalin pertemanan dan ekspresi diri. 

Karena aku cacat dan susah untuk bergerak. Aku bisa keliling dunia dan menyapa teman-temanku, fan, dan menjalin persahabatan lg satu genggaman.

Answered Apr 14, 2017

Bagi saya media sosial adalah gudangnya ilmu pengetahuan, informasi, dan hiburan. Media sosial juga membuat kita terhubung dengan siapa saja dari belahan bumi mana pun.

Hasil gambar untuk MEDIA SOSIAL

Gambar via seword.com

Answered May 26, 2017

WaXVWBDrCbMbbTeXTqoNGsFcoL1EXvs3.jpg

Benar, media sosial adalah sebuah keniscayaan. Oleh karena itu, menghindarinya adalah suatu kekeliruan. Apalagi di era sekarang ini, dunia menjadi tak terbatas. Nah, kita semua secara tidak sadar punya andil dalam menentukan apakah sosial media ini bermanfaat atau sebaliknya. Walau belum terlalu candu, secara pribadi, saya sering menggunakan media sosial untuk hiburan, mencari informasi, dan berjejaring. Selain itu, media sosial sangat bermanfaat bagi saya untuk menyebarkan informasi, mengeluarkan pendapat dan alternatif lainnya.

 

sumber gambar: bacsense.com

Answered Jun 8, 2017

Hasil gambar untuk bermain media sosial

Karena saya dan beberapa orang lainnya membutuhkan media sosial. Kebutuhan akan informasi dan hiburan membuat seseorang menjadi ketergantungan terhadap media sosial. Selain itu, mungkin ada yang merasa bahwa seseorang merasa ketergantungan terhadap media sosial karena mereka menggunakan media sosial tersebut untuk menunjukkan eksistensi dirinya. Alasan untuk menunjukkan eksistensi ini berlaku pula bagi saya namun tidak besar.

Alasan besar saya mengapa menggunakan media sosial adalah karena kebutuhan dan hiburan. Dari ketiga jenis media sosial yang disebutkan pada pertanyaan tersebut, saya menggunakan media sosial Facebook dan Instagram. Dulu sempat membuat akun Twitter namun tidak berlanjut karena ketika saya membuat akun Twitter, Twitter sudah menurun tingkat kepopulerannya dan saya juga tidak merasa adanya ketertarikan untuk meneruskan menggunakannya. 

Bisa dikatakan, media sosial yang pertama kali saya miliki dan masih saya gunakan hingga sekarang adalah Facebook. Sebagian besar, teman-teman saya yang ada di Facebook adalah teman-teman lama saya, dari SD hingga beberapa teman yang satu kampus. Sementara itu, followers saya di Instagram sebagian besar adalah teman-teman sekampus saya dan beberapa akun official, khususnya akun official drama Korea dan online shop.

Jika saya membuka Facebook, biasanya saya gunakan untuk membaca informasi aktual. Hal ini disebabkan karena menurut saya, Facebook memberikan informasi aktual yang paling cepat walaupun tak sedikit pula berita hoax yang disebarkan. Jadi, berhati-hatilah membacanya. Sementara itu, di Instagram, saya cenderung menggunakannya sebagai hiburan dan terkadang untuk menunjukkan eksistensi saya . :)

Ilustrasi via cdn2.tstatic.net

Answered Jun 8, 2017
Mugniar
Blogger www.mugniar.com | Freelance writer

jxsJbW2oUfch-kTAxQJv8AKQAd7qqbGG.jpg

Hm, kecanduan? 

Sampai saat ini saya masih berusaha supaya saya memakainya sesuai kebutuhan. Hal tersebut dikarenakan saya blogger aktif dan tergabung dalam cukup banyak komunitas blogger dan penulis di dunia maya maka saya harus sering melihat informasi terbaru di komunitas. Saya juga harus sering share link blog supaya banyak yang baca.

Di luar untuk keperluan itu, saya mungkin tidak seaktif sekarang. Di samping itu, media sosial membantu saya untuk branding supaya lebih dikenal juga. Kalau lebih dikenal, barangkali saja pembaca blog saya bisa nambah lagi.

Akan tetapi yang menarik, dengan teman-teman lama di dunia nyata, saya jadi terhubung dan merasa dekat walaupun banyak yang tinggal di luar kota dan luar negeri. Selain itu, saya bisa memperluas jejaring pertemanan dan terpelihara berkat media sosial. Teman-teman baru yang bertemu pada kegiatan yang bersesuaian jadi bisa lebih langgeng berteman dengan saya sepanjang kami terhubung di media sosial.

 

sumber gambar: seword.com

Answered Jun 9, 2017

Pertama, saya anak millenial yang sudah pasti tidak pernah tidak mendengar atau tau media sosial. perbincangan media sosial terbaru akan terus terdengar. dari sini membuat saya kepo dengan hal itu, dan akhirnya aktif menggunakan

kedua, saya anak millenial yang punya teman-teman lebih banyak aktif/interaksi di media sosial, selain itu untuk keep contact dengan mereka

ketiga, media sosial sekarang udah di gunain untuk hal-hal yang penting seperti info relawan, loker, lomba, event2 termasuk acara ini, tukar pendapat, ilmu dan sebagainya yang membuat kita menjadi lebih positif ya walaupun banyak negatif nya

keempat, saya suka mendesain jadi tak jarang sosial media sebagai tempat saya mengapresiasi desain saya sendiri dengan sekedar mengupload

kelima, media sosial juga sarana untuk belajar. banyak akun instagram yang upload foto/video pembahasan soal. yang namanya anak millenial pasti bosan juuga belajar dari buku aja

keenam,saya aktif di beberapa kegiatan relawan dan komunitas jadi buat saya harus sering media sosial biar gak ketinggalan info

ketujuh, media sosial juga sebagai sarana hiburan, update mengikuti zaman. apalagi sayaa juga suka makan dan nonton, beberapa akun media sosial bisa dijadikan referensi nya.

 

qHLK-NWqQzMvu8XY8EkcR7bEu9st78so.jpg

 

kalau di bilang kecanduan sih menurut saya enggak, karna ya saya bisa membatasi porsi penggunaan media sosial dimana saya akan menggunakannya dan tidak. orang tua saya juga membatasi penggunaan saya terhadap media sosial

Answered Jun 9, 2017
Hartathy
penikmat senja & penikmat cintamu

kalau ditanya kecanduan media sosial? tentu saja jawabannya adalah TIDAK. saya bukan orang yang akan duduk seharian hanya untuk menjajal media sosial, saya memang tidak sibuk hanya mahasiswi biasa yang suka main dan tentu saja punya banyak waktu luang tapi kebanyakan waktu tersebut digunakan untuk bertemu teman-teman serta lebih banyak menghabiskan waktu dengan mereka dan bermain game serta menonton drama korea. Dalam 1 hari saya mengakses media sosial hanya 2 sampai 3 jam saja.

Answered Jun 13, 2017
Yudha Pratomo
former journalist | content writer & editor | experienced

K5Eb-qq3FovSBiD8LJRuOIIdlIydHnHF.jpg

Simple, sih, sebenarnya. Yang bikin kecanduan adalah adanya interaksi antarpengguna di dalam media sosial tersebut. Namanya juga makhluk sosial ya, inginnya bersosialisasi terus. Bahkan yang antisosial pun bisa jadi orang yang bawel saat di medsos. :D

 

sumber gambar: tmpo.co

Answered Jun 13, 2017
Resty Ine
Communication Science UNC

AqHZIVs6atqelBq-m3TxV-JoK8CZE_ke.jpg

Usia-usia saya adalah usia-usia yang sangat mementingkan eksistensi. Dan bersosial media adalah sala satu cara untuk menunjukkan eksistensi tersebut. Lagipula, media sosial seperti facebook, instagram, path, dan WA yang saya gunakan membantu meningkatkan personal branding. Media sosial dapat menimbulkan efek psikologis yang mungkin sudah sengaja dirancang sebelumnya oleh pendiri dariasing-masing jenis-jenis media sosial yang ada.

Selain untuk membentuk personal branding dan mempertahankan eksistensi, menggunakan media sosial menjadi begitu sangat sering digunakan dikarenakan adanya kebutuhan untuk bersosialisasi dengan orang-orang, bukan hanya sekedar orang-orang baru, namun juga dengan kenlan-kenalan yang jarak tempat tingganya jauh. Fitur-fitur yang disajikan dalam media sosial adalah fitur-fitur yang mampu secara psikologis memuaskan rasa ingin tahu saya tentang orang-orang yang jauh dari saya. Kebanyakan orang sekarang menggunakan media sosial sebagai sarana berbagi cerita tentang kehidupannya. Rasa ingin tahu yang tinggi ini kemudian juga mebuat saya begitu sering menggunakan media sosial. Hal terakhir yang membuat saya begitu sering menggnakan media sosial adalah karena ada beberapa mata kuliah yang mengharuskan saya untuk menggunakan salah satu dari media sosial yang ada.

Sekiranya itulah beberapa alasan mengapa saya begitu sering menggunakan media sosial dalam keseharian saya.

 

sumber gambar: mubasher.info

Answered Jun 13, 2017
Marcellinus Vitus
Mahasiswa STF Driyarkara. Gemar merenung situasi politik Indonesia...

Ls0IDQvc3UCYFy-mVnTaHVnPQnmkVXns.jpg

Media sosial menjadi tempat lapang untuk berinteraksi seluas-luasnya dengan pelbagai macam orang. Kata "lapang" bisa diartikan dalam 2 bentuk. Pertama, lapang dalam arti tiadanya batas wilayah geografis, budaya, agama, suku, ras, etc. Dalam arti ini, media sosial memadatkan ruang waktu sehingga interaksi menjadi lebih mudah, cepat, dan menggapai semua.

Kedua, media sosial memungkinkan orang untuk berinteraksi secara anonim. Perlunya membuat akun bak menyusun sebuah identitas baru yg bisa sangat berbeda dari identitas di dunia kesehariannya.

Media sosial sering dikaitkan dengan dunia maya. Dunia maya bukan berarti dunia yang tidak nyata. "Dunia maya itu memiliki dampak pada dunia nyata sehingga pasti dunia maya itu nyata", ungkap Sherry Tukle dalam bukunya "Alone Together" . Oleh karena itu, dampak-dampak media sosial perlu disikapi dengan bijaksana.

Bagi saya, media sosial perlu disikapi secara bijaksana. Banyak hal positif, tetapi juga banyak hal negarif di dalamnya. Teman lama semakin didekatkan kembali tanpa perlu perjumpaan yg memakan banyak usaha dan waktu. Kendati demikian, peluang menjadi anonim serta topeng identitas baru nan palsu perlu menjadi perhatian.

 

sumber gambar: klimg.com

 

Answered Jun 14, 2017
Abdullah Azzam
Sarjana Manajemen Universitas Sebelas Maret/ Alumni Baktinusa Ank. 6

kalau kecanduan kayaknya ngga sampai tahap begitu sih.

tapi kalau memakai dan menggunakan medsos kayaknya iya. tapi dulu kayaknya ane pernah terlalu sering dan tanpa medsos kayak ane ngga bisa hidup.

di zaman awal-awal facebook dulu, saat itu pertama kalinya ane punya pacar sih (sekarang udah putus, dia udah nikah). hampir setiap hari, ane selalu login fb buat jawab pesan, komentar, minimal colek-colekan. haha.

medsos bisa jadi biang kecanduan kalau memang dia jadi source utama kita dalam melakukan atau memperoleh sesuatu. misalkan ane, ane bisa kontakan sama mantan ane ya cuman lewat fb aja. mungkin juga yang lain, seperti make instagram untuk nyari duit (endorser dan selebgram)

jadi alasan memperoleh sesuatu tadi bisa jadi sebab orang kecanduan main ig. soalnya selain itu ane belum pernah nemuin kasus orang mainan medsos cuman buat iseng-iseng aja.

pasti ada alasan baik itu hanya main game, nyari duit, hingga kasmaran. tapi kalau tanpa alasan iseng kayaknya ngga deh

jadi, jika medsos sudah menjadi sarana kita memperoleh sesuatu (popularitas, uang, cinta dan hal-hal lain) hal-hal itu bisa menjadi sebab kita kecanduan main medsos. gitu sih

Answered Jun 14, 2017
Chandra Simarmata
Analis | Kolumnis | Blogger

aSxvOeXX88f3UgrXOHywzTTI3o7NuViI.jpg

Apa yang membuat Anda kecanduan media sosial seperti Facebook, Twitter, atau Instagram?  Pertanyaan di atas sepertinya tidak terlalu cocok dengan saya. Pasalnya, saya bukanlah orang yang terlalu candu bermain media sosial (social media).

Namun menurut pengamatan saya, kebanyakan orang yang benar-benar kecanduan terhadap sosial media tentu memiliki alasan dan tujuan masing-masing.
Tentu tidak mungkin seseorang mempergunakan sebuah sosial media jika tanpa tujuan. Paling tidak, dia ingin meraih manfaat dan keuntungan dari mempergunakan social media tersebut.

Jika dijabarkan lebih lanjut, ada dua hal yang membuat orang begitu candu di media sosial, antara lain:

1. ingin menunjukkan eksistensinya; dan

2. sebagai personal branding.

Kedua hal tersebut muaranya tentu adalah meraih keuntungan, baik itu material maupun immaterial.

Sama hal-nya seperti game-game yang beredar dipasaran, social media memang dirancang agar penggunanya tertarik ("kecanduan"). Kecanduan yang dimaksudkan di sini tentu tidak sama dengan orang yang sedang kecanduan narkoba. Berbagai hal yang menarik pun disajikan di dalam sosial media tersebut untuk menarik perhatian pengguna dan membuat para pengguna ogah berpindah.

Nah, itulah mungkin alasan umum yang membuat orang kecanduan media sosial.

 

Answered Jun 14, 2017
Quidora soera
saya menyukai dunia tulis menulis, terutama sastra.

dv9XTnAKrikRA3wvDc5JwBbwreNeaJAn.jpg

Namanya saja media sosial yang memiliki arti tempat/wadah untuk berinteraksi dengan banyak orang, tentu akan membuat orang kecanduan untuk mengonsumsi media sosial terutama Facebook, Twitter ataupun Instagram.

Kebutuhan manusia akan hal-hal baru ditemukan di media sosial seperti; gaya hidup, kuliner, pengetahuan, dan masih banyak lagi.

 

sumber gambar: kodokoalamedia.co.id

Answered Jun 15, 2017
Raden Mas Sony Prasetio
Fakultas Ilmu Komunikasi IISIP JAKARTA 2015

p6sUM2mJh32kR0aClTBQ4xPKpll1tA0E.jpg

Karena banyak fasilitas yang menarik ditawarkan media sosial. Contohnya seperti komunikasi yang simple dan efektif, informasi berita juga ada walaupun ada juga beberapa berita yang hoax.

 

sumber gambar: socialmediaweek.org

Answered Jun 15, 2017
Rinhardi Aldo
Kaum muda yang masih terjerat dengan dunia digital, jaringan dan pikiran hati.

5c1169f2407b409f95dd2b73f19b300b.jpg

Dibilang kecanduan tidak. Tapi mengikuti iya. Harus dikoreksi ini, sebenarnya.

Kenapa? Media sosial adalah tempat kita memahami sisi psikologis seseorang. Memang, semestinya memahami sisi ini harus secara menyeluruh. Meskipun demikian, kita bisa saja mengambil sebagiannya dari sini.

Buat saya sebagai penulis, media sosial adalah tempat menceburkan diri untuk mendapatkan informasi dan tema bahasan baru untuk dituliskan. Lebih tepat, alasan klise yang ini.

Oh ya, media mainstream sekarang berusaha makin dekat sebenarnya sama para pembacanya. Jadi bukan hanya sekedar menyebarkan informasi semata. Media sosial dan para penggunanya juga tak bisa meninggalkan media mainstream, karena para penggunanya sebagian butuh panggung buat dikenal hehehe. Selain itu, berita dan informasi yang dibagikan juga berasal dari media mainstream. Semua tak bisa saling meninggalkan satu sama lain. Hanya soal optimalisasi konten yang masih harus disempurnakan. 

sumber gambar: Pinterest

Answered Jun 18, 2017

Question Overview


and 24 more
42 Followers
3388 Views
Last Asked 3 years ago

Related Questions


Benarkah peran media mainstream semakin terdesak oleh media sosial yang kontennya diisi para netizen?

Benarkah peran media arus utama atau media mainstream semakin terdesak oleh media sosial yang kontennya diisi para netizen?

Bagaimana cara mengatasi kecanduan media sosial?

Apa yang membuat orang betah berlama-lama di suatu situs/web?

Mengapa rakyat Tiongkok bisa hidup tanpa media sosial buatan AS seperti Facebook dan Google?

Apa yang menyebabkan turunnya pamor Kaskus?

Siapakah orang Indonesia yang pertama sekali memiliki akun di Facebook?

Ada berapa grup WhatsApp yang Anda ikuti? Sesungguhnya di grup WA apa sajakah Anda aktif? Mengapa?

Apakah Kompasiana itu?

Mengapa media disebut "Pilar Keempat" dalam demokrasi?

Apa yang dimaksud "fact is sacred" dalam menulis berita?

Apa yang dimaksud "Cub Reporter"?

Apa yang disebut "Hook" dalam menulis berita?

Apa yang dimaksud "Firsthand Account" dalam meliput peristiwa?

Bagaimana membedakan antara "Firsthand Account" dan "Secondhand Account" dalam menulis berita?

Siapakah Trias Kuncahyono?

Efektifkah aksi boikot Metro TV melalui Petisi?

Model bisnis apa saja yang biasa dilakukan oleh media online?

Apakah penderita schizofrenia bisa menjadi orang yang produktif dan hidup normal bersama orang kebanyakan?

Apa pentingnya kehadiran dokter jiwa untuk masa sekarang ini?

Benarkah hati yang mengontrol perasaan itu ada? Jika ada, di manakah sebenarnya letak hati yang berbicara tentang perasaan manusia itu?

Apakah mereka yang memiliki orientasi seksual seperti lesbian, homoseksual, dan teman-temannya itu adalah orang-orang yang sehat jiwa atau sakit jiwa?

Bagaimana ciri-ciri orang yang mengidap megalomania?

Apa yang menyebabkan beberapa orang mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri?

Apa hubungan kuat antara stres dan penggunaan media sosial?

Apakah laki laki tidak boleh menangis?

Bagaimana cara menyudahi depresi berkepanjangan?

Bagaimana cara berdamai dengan masa lalu yang kelam dan penuh trauma?

Apakah kebiasaan nonton film porno dapat disembuhkan? Bagaimana caranya?

Bagaimana cara yang paling efektif untuk menyembuhkan penyakit susah tidur (Insomnia)?

Bagaimana cara mengobati gangguan jiwa karena depresi atau stres berat?

Apakah Hipnoterapi itu berbahaya? Bagaimana proses hipnosis dilakukan untuk terapi/pengobatan?

Mengapa ada orang berpikir bunuh diri?

Bisakah hipnoterapi mengungkap rahasia seseorang?

Apa ciri-ciri orang mengidap manic depressive?

Apa ciri-ciri anak down syndrome?

Apa perbedaan gaya berpikir kuno/lama dan baru dalam perspektif dunia kerja?

Apa yang dimaksud dengan growth hacker?

Apakah kehadiran seorang growth hacker penting dalam sebuah startup digital?

Apa fungsi utama seorang growth hacker?

Apa yang dimaksud dengan growth hacking?

Siapakah menurut Anda yang akan memenangkan kompetisi di Indonesia; Go-Jek, Uber, atau Grab?

Bagaimana cara melakukan usability testing untuk sebuah produk digital?

Seberapa penting usability testing dalam proses pembuatan sebuah produk digital?

Apa yang dimaksud dengan usability testing?

Apa perusahaan teknologi terbaik di Indonesia?

Mengapa banyak orang India menjadi CEO perusahaan digital internasional?