selasar-loader

Apa itu Turun Ranjang?

Last Updated Aug 1, 2017

1 answer

Sort by Date | Votes
Hamdi Alfansuri
Mahasiswa Perencanaan Wilayah dan Kota, Institut Teknologi Bandung

3cD2gtSjWLyjXWFqUoAzMARuWzQ-0FAB.jpg

Beberapa hari yang lalu, saya menemukan istilah "turun ranjang" dari cerita seorang ibu yang sebenarnya sudah lama saya kenal. Saya bertemu tiga tahun lalu dalam sebuah kegiatan, selepas itu kami sering berkomunikasi via Facebook dan kemarin baru dapat bertemu kembali. Beliau sempat menyebut istilah itu dan menanyakan, "Mengerti kan maksudnya?" Saya hanya mengangguk. Sambil memahami dari alur cerita yang beliau sampaikan, saya mulai mengerti dengan apa yang dimaksud.

Sepulang pertemuan itu, saya langsung mencoba memeriksa di mesin pencarian, "Apa itu turun ranjang?" Sebagai bagian verifikasi atas asumsi yang saya miliki. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dalam jaringan, turun ranjang didefinisikan sebagai 'mengawini saudara atau sanak istrinya karena istrinya telah meninggal'. Lebih lengkapnya saya temukan di beberapa halaman lain. Seperti jawaban Aisyah NS pada laman Yahoo Answer 8 tahun yang lalu. "Istilah turun ranjang yaitu seorang suami istri yang sebelumnya seorang saudara ipar (kakak ipar dari seorang istri atau adik ipar dari seorang suami). Penyebab turun ranjang itu karena perceraian atau bisa jadi kematian kakak perempuannya dan digantikan dengan dirinya yang menikahi suami kakaknya."

Membaca definisi tersebut, saya teringat dengan trailer film pendek berjudul "Ganti Lapiak" yang dibagikan oleh seorang teman sekitar seminggu yang lalu pada akun Line-nya. Film tersebut menceritakan tentang seorang wanita yang diminta menikahi suami dari kakaknya yang meninggal.

Sehingga, saya juga mencoba mencari tahu seputar istilah "ganti lapiak". Ternyata, istilah ini adalah padanan dari kata "turun ranjang" dalam adat Minangkabau. Ganti lapiak merupakan salah satu ragam perkawinan yang ada dalam adat Minangkabau, yakni kondisi di mana seorang laki-laki/perempuan yang pasangannya meninggal dunia dinikahkan dengan saudara (baik adik/kakak) dari pasangannya yang telah meninggal dunia.

Dalam adat Minangkabau, ragam perkawinan ini ditujukan karena beberapa hal seperti untuk menjaga hubungan silaturahmi dan kekerabatan antara dua keluarga dan agar anak dari perkawinan sebelumnya tidak merasa mendapat ayah/ibu tiri orang lain.

Mungkin fenomena "turun ranjang" itu jarang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Dari yang dapat saya simpulkan, fenomena ini lumrah di beberapa lingkungan masyarakat, misalnya masyarakat adat Minangkabau yang memiliki ikatan cukup kuat dalam hal kekeluargaan. Jadi setelah ini, kita tidak perlu heran jika bertemu dengan fenomena turun ranjang, awalnya mungkin sedikit mengherankan, tapi hal itu adalah hal yang wajar terjadi.

Hamdi Alfansuri

Bandung, 1 Agustus 2017

Referensi bacaan lainnya: satu, dua, dan tiga.

 

Sumber gambar via kaisosogarcia.blogspot.co.id

Answered Aug 1, 2017