selasar-loader

Apa bedanya peaberry dengan biji kopi lainnya?

Last Updated Jul 28, 2017

1 answer

Sort by Date | Votes
Pepih Nugraha
Mengikuti perkembangan gaya hidup setelah membaca buku Jean Baudrillard

wx_EcKgP71WgG5OxYQHaXgUH7cmrC81X.jpg

Saya mengenal "peaberry coffee" sebagai kopi lanang (laki). Dari namanya sudah ketahuan, kopi ini berkhasiat untuk menaikkan atau meninggikan vitalitas kaum pria. Saya sih tidak terlalu percaya, wong tanpa minum kopi lanang ini saja saya sudah cukup tangguh.

Meskipun tumbuh di Tanah Jawa, tetapi pertama-tama saya menikmati "peaberry coffee" saat berkunjung ke Medan, Sumatera Utara. Saat saya memilih-milih kopi terbaik di tanah ini, saya ditawari jenis kopi ini. "Rasanya beda, Pak, coba saja," kata penjaga toko beretnis Tionghoa.

Harganya memang mahal. Untuk kemasan dua ons, "peaberry coffee" dihargai Rp180K. Sebagai perbandingan, kopi Mandailing terbaik saja untuk ukuran yang sama dihargai Rp90-100K. Artinya dua kali lipat.

Saya menyeduhnya di Jakarta, sesampainya di rumah. Seperti kebiasaan saya menikmati kopi tanpa gula. Rasa "peaberry coffee" terasa kecut dan asem. Jangan-jangan nama "berry" itu merujuk pada buah-buahan yang rasanya asem. 

Dan ketahuilah, tidak seperti asamnya kehidupan, asam pada kopi justru itu yang dicari. Terasa segar di mulut maupun di kepala. Entahlah, karena sugesti atau hal lain, urusan pusing kepala bisa selesai dengan segelas kopi panas tanpa gula dan rasa asam itu adalah "gula pemanis" yang paling maknyus.

Mengutip pedagang di Kota Medan yang menawarkan dagangannya, untuk merasakan bagaimana nikmatnya kopi jenis ini, "Rasanya beda, coba saja!"

***

Answered Aug 7, 2017