selasar-loader

Apakah memfasilitasi orang untuk riba mendapatkan dosa yang sama?

Last Updated Jul 25, 2017

DsDqXQACuTiGF7m_VGVMGoI0ayI1HIKh.jpg

2 answers

Sort by Date | Votes
Sawqi Saad El Hasan
Islamic Economist

8_a4mFKYKVuJozImEMP_lTgEwTGMhjXz.jpg

Untuk Mbak Zenia Zn yang berbahagia.

Riba adalah penambahan terhadap sesuatu yang terlarang dalam Islam karena mengandung hal-hal yang merugikan dan membahayakan pihak lain. Ada beberapa macam riba. Yang paling keras adalah riba dana pinjaman dan utang piutang. Maksudnya adalah penambahan kepada pokok utang atau pinjaman, tanpa proses transaksi jual beli antara kedua belah pihak.

Riba itu haram di mana pun dan dalam bentuk apapun. Pada pemilik modal dan orang yang meminjam utang darinya dengan bunga (baik orang yang meminjam itu miskin maupun kaya) menanggung dosa, bahkan keduanya tercela, termasuk orang yang membantu mereka dalam melakukan hal tersebut, baik itu juru tulis maupun saksi. Semuanya tercela. Hal itu didasarkan pada keterangan ayat-ayat yang menunjukkan pengharaman terhadap praktik riba. Allah ta’ala berfirman dalam surat Al Baqarah ayat 275--276 sebagai berikut.

"Orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri, melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaithan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Rabb-nya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan), dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa.” [Al-Baqarah: 275--276]

"Emas dijual dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, jelai dengan jelai, kurma dengan kurma, garam dengan garam, semisal dengan semisal, dalam jumlah yang sama dan tunai (tangan dengan tangan). Barang siapa menambah atau meminta tambahan berarti dia telah melakukan praktik riba.” [Diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab Shahihnya]

Sumber di sini

Islam telah tegas melarang riba karena dampak yang ditimbulkannya terhadap masyarakat yang sangat kuat. Riba dapat mengakibatkan hal-hal sebagai berikut.

1. Kegiatan riba akan merusak sistem pemerataan kekayaan dan menimbulkan kesenjangan menyolok antara orang kaya dan orang miskin.

Kegiatan riba mengakibatkan harta kekayaan hanya berada di tangan segelintir orang saja. Mayoritas masyarakat terpinggirkan dari perputaran uang. Ini adalah sistem keliru yang memunculkan konglomerasi terhadap segelintir orang, sementara mayoritas orang berada dalam cengkeraman kemiskinan. Kondisi seperti ini membuat makin maraknya tindakan kriminal dan pidana di tengah masyarakat. Kondisi tersebut juga diperjelas dengan sebuah teori dari Hirschman yang terkenal dengan teori Efek Tetesan Ke Bawah atau Trickle Down Effect.

Hirschman adalah seorang penganjur teori pertumbuhan tidak seimbang. Secara geografis, pertumbuhan ekonomi pasti tidak seimbang. Dalam proses pertumbuhan tidak seimbang selalu dapat dilihat bahwa kemajuan di suatu tempat (titik) menimbulkan tekanan-tekanan, ketegangan-ketegangan, dan dorongan-dorongan ke arah perkembangan pada tempat-tempat (titik-titik) berikutnya. Intinya, teori tersebut menekankan bahwa negara memberikan akses dan kemudahan bagi orang-orang terkaya di tiap negara, dengan harapan, aset kekayaan dari si kaya ini akan memberikan peluang (misal lapangan pekerjaan) bagi si miskin untuk ikut menjadi kaya.

Namun, realitanya tidak pernah seindah itu. Ternyata, saat orang pertama sudah naik atau sudah kaya, dia malah berleha-leha dan tidak membantu. Para kapitalis yang sudah diperkaya dan diberi akses oleh negara bukan membantu rakyat miskin, melainkan justru semakin sibuk memperkaya dirinya sendiri tanpa mempedulikan kaum bawah.

2. Menumbuhkan kebiasaan konsumtif sehingga masyarakat tidak bisa menabung.

Sistem kredit dengan bunga membuat orang jadi konsumtif dan tidak bisa menabung hartanya. Ini terjadi karena masyarakat melihat begitu banyak bank dan lembaga keuangan yang dapat memfasilitasi kebutuhannya, walaupun sebenarnya dia tidak punya uang. Dengan begitu, dia lupa apa kebutuhan pokoknya sekarang dan apa yang harus dia simpan untuk masa depan. Ia habiskan uangnya untuk membeli kebutuhan dengan cara kredit, sehingga utangnya menumpuk dan mengakibatkan kesulitan mengembalikannya sepanjang hidup. Hal ini juga dialami oleh salah satu anggota keluarga saya. Jadi, saya tahu betul bagaimana pola konsumtif yang berlebihan bagi si peminjam dan bagaimana proses penagihan utang saat ditagih oleh pihak bank.

3. Sistem riba membuat orang kaya enggan menginvestasikan uangnya di bisnis riil yang berguna bagi negerinya.

Dengan adanya sistem riba, pemilik modal lebih memilih menyimpan uangnya di bank untuk mendapatkan bunga yang tinggi dan membuat dirinya enggan untuk berinvestasi di bidang industri, pertanian, dan bisnis sektor riil yang sangat berguna untuk masyarakat banyak. Karena sektor riil itu sangat berisiko dan membutuhkan kerja keras dalam bisnisnya. Dengan tingginya risiko pada bisnis sektor riil, mereka justru lebih memilih deposito di bank. Tinggal duduk saja, mereka sudah dapat uang dalam jangka waktu tertentu dan berdasarkan tingkat suku bunga tertentu.

4. Riba menjadi sebab utama hilangnya berkah harta dan menjadi sebab munculnya krisis ekonomi.

Krisis ekonomi yang terjadi di beberapa negara dan bangkrutnya perusahaan besar lebih banyak disebabkan oleh sistem riba. Hal tersebut adalah dampak yang sudah dijelaskan oleh Allah. Berbeda dengan sedekah dan kebaikan untuk masyarakat sekitar yang menambah keberkahan dan akan menumbuhkan harta itu menjadi lebih banyak.

Saya pikir, cukup demikan atas penjelasan saya terhadap masalah terkait pelaku riba dan yang membantunya. Mudah-mudahan Allah senantiasa melimpahkan kesejahteraan dan keselamatan kepada kita semua agar selalu dicukupkan dalam setiap aspek kehidupan yang kita jalani. Semoga Allah swt juga melimpahkan rahmat dan hidayahNya agar...(more)

Answered Jul 27, 2017
Mhd Fadly
KPI Fak. Agama Islam UMSU, Alumni Pon-pes Ibadurrahman Stabat

Ya, sudah tentu. Ia akan mendapati dosa sebab terlibat di dalamnya. Ia memfasilitasi, artinya ia rida dan secara tidak langsung ia membenarkan praktik tersebut. Ia tidak mengingkari hal yang sudah Allah haramkan. 

Answered Aug 3, 2017

Question Overview


3 Followers
727 Views
Last Asked 2 years ago

Related Questions


Mengapa Tuhan membuat surga, padahal insentif tertinggi umat Islam adalah ridha Allah?

Apabila poligami adalah ibadah, mengapa banyak perempuan muslim yang tidak mau melakukannya?

Bagaimana cara mengakhiri konflik antara Sunni dan Syiah?

Apakah Syiah bukan Islam?

Mengapa Nabi Muhammad tidak mengizinkan Ali mempoligami Fatimah?

Apa yang dimaksud dengan bid'ah?

Apa yang dimaksud dengan munafik?

Apa yang dimaksud dengan halal?

Apa yang dimaksud dengan haram?

Apa yang dimaksud dengan mubah?

Bagaimana cara agar sebuah perusahaan dapat go public?

Apa yang dimaksud dengan IPO (Initial Public Offering)?

Apa yang diharapkan oleh seorang investor ketika mendanai sebuah perusahaan startup?

Bagaimana tips merencanakan dan mengelola keuangan untuk seorang mahasiswa?

Apa perbedaan antara aset dan liabilitas?

Apa itu pasar derivatif?

Bagaimana cara mendapatkan uang tanpa bekerja?

Apa keunggulan bank syariah dibanding bank konvensional dan apakah menabung di bank syariah lebih menguntungkan?

Apa itu Kredivo?

Apa yang dimaksud dengan Seven Days Reverse Repo Rate dan bagaimana prospek implementasinya?

Apakah hukum salat Jumat di jalan?

Mengapa Indonesia yang tidak menegakkan hukuman Qisas? Apa hukuman qisas tidak sesuai? Mengapa?

Apakah membayar utang atau bersedekah yang lebih didahulukan?

Adakah negara Islam yang mendukung operasi ganti kelamin?

Mengapa Islam yang katanya Rahmatan Lil Alamin justru berbalik 180 derajat faktanya ketika diaplikasikan di Indonesia?

Apa mungkin menafsirkan ayat Alquran menggunakan teori dari Barat?

Sejauh mana batasan marah dalam membatalkan puasa Ramadan?

Menurut ajaran agama Islam, lebih penting mana, puasa syawal atau bayar utang Ramadhan?

Bolehkah bermain valuta asing (valas) menurut syariat Islam?