selasar-loader

Mengapa zat kimia berbahaya masih digunakan sebagai bahan obat di Indonesia? Bagaimana cara menjaga eksistensi obat herbal di tengah maraknya penggunaan obat sintetik?

Last Updated Jul 23, 2017

[Sayembara Selasar]

Saat ini marak penggunaan obat kimia dibandingkan obat tradisional. Padahal obat radisional tidak kalah bagus dalam hal manfaat bagi orang-orang. Obat tradisional pun lebih dikit efek samping dibandingkan obat-obat kimia. Namun, mengapa zat kimia berbahaya masih digunakan sebagai bahan obat di indonesia? Dan jelaskan bagaimana cara menjaga eksistensi obat herbal ditengah-tengah maraknya obat sintetik.

Ketentuan:

- Hanya untuk Anagata dari Fakultas Farmasi

- Minimal 200 kata

- Diwajibkan untuk menyertakan gambar (di atas text jawaban) yang dapat mengilustrasikan pemikiran/ide/pengalaman/insight yang kamu miliki. Lebar maximal image adalah 1000px dan gambar tidak pecah

- Jangan lupa, setelah Anagata men-submit jawaban, di bawah nama ada button "edit bio topic", klik! Isi dengan keterangan Fakultas, sama seperti di bio utama. Contoh: Mahasiswa F. Farmasi UI 2017.

84 answers

Sort by Date | Votes
Aprilia Hiumawan
ordinary hooman

Zat kimia berbahaya masih digunakan sebagai bahan obat di Indonesia karena kelalaian pemerintah terhadap pengawasan pengedaran bahan maupun obat yang mengandung zat kimia berbahaya serta rendahnya kesadaran pengguna zat kimia berbahaya tersebut. Menurut saya, cara yang paling ampuh untuk menjaga eksistensi obat herbal adalah dengan membuat teknik marketing yang semenarik mungkin dan seluas-luasnya karena penurunan eksistensi obat herbal disebabkan oleh ketidaktahuan generasi muda sekarang tentang obat herbal.


Aprilia Hiumawan_Farmasi_Makutawangsa11

Answered Jul 29, 2017

1. Ditingkatkan penjagaan ketat bahan-bahan kimia apalagi yang berbahaya bagi manusia.

2. Perlunya aturan dalam memakai bahan kimia .

3. Ditingkatkan sanksi tegas terhadap oknum yang memakai bahan kimia di luar aturan atau ilegal.

Answered Jul 29, 2017
Jessica Tumonglo
Mahasiswa F. Farmasi 2017

gA_Hyu6TOHcvtT2TRuKPSdVO_suzZzpz.jpeg

Di Indonesia, sudah tidak diragukan lagi jika obat sintetis lebih populer daripada obat herbal. Hal ini karena obat sintetis lebih spesifik dan efektif khususnya pada penyakit akut, sehingga membuat masyarakat tidak mau repot lagi dengan mencari obat herbal. Masyarakat juga memiliki pemahaman yang kurang tentang bagaimana membuat dan mengonsumsi obat herbal. Jika dibandingkan dengan obat herbal, obat sintesis terkenal lebih cepat menyembuhkan penyakit dan lebih mudah ditemui di sekitar masyarakat. Namun, ada saja oknum yang menambahkan zat kimia berbahaya dalam obat sintetis. Pemerintah yang kurang tegas dalam memberantas pemakaian zat kimia berbahaya dan kurangnya pemahaman masyarakat tentang bahayanya zat kimia berbahaya dalam obat adalah alasan dari maraknya obat sintetis beredar di Indonesia.

Ada beberapa hal yang perlu dilakukan untuk menjaga eksistensi obat herbal di tengah maraknya obat sintetis di Indonesia. Cara yang pertama adalah dengan memperketat pengawasan obat oleh pemerintah dan memberi efek jera yang berat kepada pelaku. Ini perlu dilakukan agar zat kimia berbahaya tidak lagi beredar dalam obat-obatan yang dikonsumsi masyarakat Indonesia. Pemahaman lebih dalam mengenai zat kimia berbahaya dalam obat dan keuntungan memakai obat herbal juga perlu dibawakan dalam berbagai seminar dan penyuluhan di tengah masyarakat, agar masyarakat dapat lebih mengerti dan mau beralih ke obat herbal.

gambar via rehkingsherbal.com

 

Answered Jul 30, 2017

SHcmV1szmLhrn84-dLaBpTdruKRMjDic.jpg

Zat kimia berbahaya tetap digunakan karena pertama, pemerintah yang kurang teliti dalam pengawasan peredaran obat dengan campuran zat kimia yang berbahaya ini. Kedua, zat kimia yang dimasukkan sebagai bahan dari obat relatif lebih murah dari pada zat tradisional. Oleh karena itu banyak orang membeli obat yang lebih murah, hasilnya obat yang lebih murah menjadi laku dan pengedar obat yang tercampur zat kimia berbahaya ini pun semakin banyak. Ketiga, berbicara tentang lakunya obat berbahaya tersebut, beberapa masyarakat memilih obat berbahaya tersebut dengan alasan selain murah, obat yang mengandung bahan kimia lebih cepat menimbulkan efek daripada obat yang mengandung zat tradisional. Keempat, karena kurangnya pengawasan dari pemerintah, pemerintah pun menjadi tidak sadar akan adanya keberadaan dari obat berbaya tersebut. Hasilnya, pemerintah menjadi tidak tegas dengan peraturan peredaran obat berbahaya.

Di bawah ini merupakan bukti penangkapan peredaran obat berbahaya yang berada di Balareja, Banten.

Solusi bagi hal-hal tersebut dapat dilakukan dengan cara mengingatkan pemerintah betapa bahayanya obat yang mengandung zat kimia berbahaya tersebut, memberikan pendidikan bagi masyarakat sekitar tentang bahayanya obat berbahaya tersebut, memberikan hukuman yang berat bagi para pengedar obat berbahaya tersebut, dan supaya pemerintah semakin semangat dan semakin teliti dalam pemeriksaan, dilakukan berupa hadiah atau penghargaan bagi yang menemukan obat berbahaya tersebut.

 

gambar via detikone.com

Answered Jul 31, 2017

UMzmpo7FD0a8BKZvgA9wdM4sbh6zNtAT.png

Di Indonesia masih banyak ditemukannya penggunaan obat-obat berbayaha. Penggunaan obat-obat berbahaya itu bukan karena tanpa alasan. Penggunaan obat-obat berbahaya tersebut karena adanya sifat resistance dari kuman, jadi jika Anda sakit dan menggunakan obat A, maka kuman akan kebal oleh obat A dan dibutuhkan obat yg lebih kuat melawan kuman tersebut. Untuk itu, kita perlu menambahkan dosisnya, dan seperti kita tahu jika obat bertabah dosis maka semakin berbahayalah obat tersebut, maka obat yang berbahaya masih digunakan di dunia medis Indonesia.

Untuk mempertahankan eksistensi obat-obatan herbal di Indonesia ini, perlu diadakannya kampanye besar-besar oleh pihak pemerintahan Indonesia dan juga mengedukasi masyarakat dari golongan atas, golongan menengah, dan maupun golongan bawah, contohnya seperti membuat slayer atau spanduk di setiap sudut kota ataupun di setiap titik keramaian. Pemerintah juga bisa mengedukasi masyarakat agar terciptanya masyarakat Indonesia yang lebih cerdas yang dapat mengetahui bahwa obat herbal memiliki efek samping yang jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan obat sintesis yang memiliki jauh lebih banyak efek samping. Di samping itu pula, kita bisa mengedukasi masyarakat dengan obat herbal, biaya yang di keluarkan pun untuk berobat jauh lebih murah, karena obat herbal lebih ramah terhadap kantong.

Answered Jul 31, 2017

nHb2km_4Q70S-uyl01EuA2KZFoLWgxuE.jpg

Zat kimia berbahaya masih digunakan sebagai bahan obat di Indonesia, terjadi karena kurang ketatnya pengawasan pemerintah terhadap pengedaran bahan obat maupun obatnya juga karena kurangnya pengetahuan masyarakat tentang perbedaan obat herbal dan obat sintesis, yang membuat obat sintesis lebih diprioritaskan, juga karena ketidaktahuan akan bahaya zat kimia dan efek sampingnya dalam obat. Saat ini, banyak orang yang lebih memilih untuk menggunakan obat sintesis dibandingkan obat herbal karena banyak yang berpikir pengobatan dengan menggunakan obat kimia reaksinya cepat dan penyakit dapat sembuh dengan segera. Memang sekilas tampak seperti itu, namun kenyataan yang sesungguhnya justru sebaliknya.

Obat kimia sintesis umumnya tidak benar-benar menyembuhkan, tapi hanya untuk menekan gejala yang timbul saja. Lebih dari itu, ada banyak efek samping dari obat kimia sintetis, baik secara langsung maupun jangka panjang dan akan terus betambah seiring bertambahnya obat yang dikonsumsi. Sedangkan untuk obat herbal atau obat-obatan yang berbahan kimia alami, umumnya akan menekan penyebab penyakit dan menyembuhkan penyakit langsung di akar permasalahannya dan efek sampingnya jauh lebih minim pada kesehatan dan harganya pun lebih murah dari obat sintesis. Untuk menjaga eksistensi obat herbal, diperlukan penyuluhan kepada masyarakat tentang bahayanya zat kimia dalam obat sintesis dan memberi tahu bahwa obat herbal memiliki efek samping yang jauh lebih minim juga harganya lebih murah. Pemerintah juga harus memperketat pengawasan terhadap pengedaran obat dan lebih menggencarkan produk obat herbal kepada masyarakat.

 

Athyya Wulan Syafitri_1706974321_Azhiga 13

Sumber gambar : https://www.deherba.com

Answered Aug 1, 2017

B9F163gdmCdoAv-QaZlvzBNZLtsjofQG.jpg

Zat kimia berbahaya masih marak digunakan di Indonesia. Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan zat kimia berbahaya tetap digunakan. Pertama adalah kurangnya pengawasan pemerintah terhadap kandungan obat-obatan yang mengandung bahan kimia berbahaya. Banyak obat-obatan yang lolos seleksi untuk beredar di pasaran tetapi mengandung bahan kimia berbahaya. Performa pemerintah dalam menyeleksi obat-obatan yang akan diedarkan di pasaran harus ditingkatkan dan tidak begitu mudah memberikan izin edar obat-obatan yang mengandung bahan kimia berbahaya di pasaran. Kedua, pemerintah juga kurang tegas dalam menegakkan undang-undang yang mengatur larangan menggunakan bahan kimia berbahaya dalam obat sehingga tidak adanya efek jera kepada produsen obat-obatan yang mengandung bahan kimia berbahaya. Ketiga, obat dengan bahan kimia berbahaya memiliki harga yang lebih murah dan bahan-bahan untuk memproduksi obat lebih mudah ditemukan dibandingkan dengan obat tradisional. Ini adalah contoh masih maraknya obat dan kosmetik menggunakan bahan kimia berbahaya yang beredar di Gilimanuk, Bali.

Pembeli harus cerdas dalam memilih obat untuk di konsumsi. Obat herbal adalah salah satu solusi untuk meminimalisasikan efek samping konsumsi obat. Untuk menjaga eksistensi obat herbal dibanding obat sintetik yaitu dengan  beberapa cara seperti memberikan penyuluhan kepada masyarakat dengan banyaknya manfaat yang ditimbulkan dengan mengonsumsi obat herbal dan tidak menimbulkan efek samping seperti obat sintetik dan produsen obat herbal harus lebih giat dalam melakukan promosi dan memiliki inovasi terbaru seperti pengemasan obat dengan menarik dan menggunakan bahan-bahan herbal lainnya agar manfaat yang ada di dalam obat semakin bertambah.

 

Sumber gambar via metrobali.com 

Answered Aug 1, 2017
Aulia Suci Pertiwi
Aulia Suci Pertiwi

Hasil gambar untuk obat herbal dan obat sintetik

Dewasa ini masyarakat milenium lebih suka mengonsumsi obat sintesis dibandingkan dengan obat tradisional. Hal ini menjadikan peluang para pembuat obat sintesis yang tidak bertanggung jawab justru menggunakan zat kimia bebahaya sebagai bahan dan mengesampingkan dampak kesehatan masyarakat. Peristiwa itu sangat memprihatinkan. Kurangnya pengawasan ketat dari BPOM dan ketidaktahuan masyarakat akan komposisi obat merupakan PR bagi kita semua.

Lalu, terjadi juga dilematis yang dialami masyarakat, pengawasan obat tradisional juga sangat minim, banyak gerai-gerai jamu tradisional justru mengoplos bahan dengan zat kimia. Solusinya, BPOM dan pemerintah harus lebih selektif dan teliti, melakukan pengecekan secara berkala sampai ke pelosok desa, melakukan penyuluhan berkala kepada masyarakat dan perangkat desa. Ke depannya, saya berharap masyarakat menjadi masyarakat yang cerdas dalam memilih obat, baik tradisional maupun sintesis.

Aulia Suci Pertiwi_1706034395_Kramawarata9

 

Ilustrasi via blogspot.com

Answered Aug 1, 2017
reza jajong78
MAN JADDA WAJADA

S5Hk8b2E4QkfHcAQ_kaEsb6nzILRvT2g.jpg

Zat kimia berbahaya masih digunakan sebagai obat di Indonesia bukan tanpa alasan.

Pertama, yaitu pengawasan dari pemerintah yang masih sangat longgar, masyarakat menganggap obat sintetik lebih praktis dan lebih mudah didapat, kemudian banyaknya masyarakat yang tidak tahu bahayanya mengonsumsi bahan kimia berbahaya yang ada di dalam obat sintetik, itu disebabkan oleh kurangnya sosialisasi dari pemerintah tentang dampak dari penggunaan obat kimia berbahaya, baik jangka waktu panjang maupun pendek. 

Cara menjaga eksistensi obat herbal di tengah-tengah maraknya obat sintetik yaitu dengan melakukan standardisasi mengikuti Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik (CPOTB), didukung dengan data keamanan dan kemanfaatan produk secara pra-klinis dan klinis akan memberikan bukti bahwa obat tradisional tersebut berkualitas dan dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Tentu dengan diiringi sosialisasi oleh pemerintah atau BPOM yang meluas, dengan cara mendatangi sekolah-sekolah atau kampus dan bisa juga melalui sosial media yang sekarang banyak digandrungi oleh masyarakat Indonesia. Dengan begitu, masyarakat jadi yakin dan banyak yang beralih kembali mengonsumsi obat tradisional/herbal.

 

Reza Fadillah Achmad_1706027710_Samudera10

 

Ilustrasi via blogspot.com

Answered Aug 1, 2017

-SzDyCBNbGm_s6LfQsJjojGmSJDzlIV2.png

Obat-obat dari bahan kimia masih banyak beredar di Indonesia karena kurang kuatnya pengawasan serta  peraturan pemerintah yang dapat membenahi mengenai masalah obat ini, sehingga tidak sedikit industri obat yang mampu meproduksi bahkan mendistribusikan obat dengan bahan kimia berbahaya ke pasar. Dari hal ini, kemudian terbukalah peluang bagi industri nakal untuk mengedarkan obat dengan bahan kimia ke pasaran guna menghasilkan keuntungan. Selain itu, kurangnya ketertarikan dan kesadaran bahwa obat herbal itu memiliki manfaat yang lebih baik dari obat dari bahan kimia pun belum banyak diketahui oleh masyarakat.

Oleh karena itu, cara agar obat herbal tetap eksis di tengah maraknya obat dari bahan kimia, yaitu dengan meningkatkan pengawasan pemerintah mengenai peredaran obat, meningkatkan kualitas sumber daya manusia agar dapat menciptakan inovasi obat herbal yang dapat menarik masyarakat untuk mengonsumsinya, serta menyebarluaskan informasi mengenai manfaat yang besar dari obat herbal pun sangat perlu dilakukan melalui sosialisasi di lingkup sekolah hingga lingkup desa, melalui promosi dan iklan di televisi, bahkan hingga penyebaran melalui media sosial yang saat ini sangat marak digunakan oleh seluruh kalangan, mulai dari anak-anak, orang muda, hingga orang tua sekalipun. Dengan begitu, semoga di masa yang akan datang, masyarakat akan lebih cerdas untuk memilih obat yang bermanfaat tanpa efek samping yang besar bagi dirinya.

Hani Nur Anisa_Farmasi_Tunggawarman16

 

Ilustrasi via wordpress.com

Answered Aug 1, 2017

Ui83kbEYeFRBB_Mgirm2D7domoDOk0pD.png

Pada zaman modern ini, banyak sekali zat-zat kimia yang digunakan sebagai bahan untuk pembuatan obat. Justru, bahan kimialah yang menjadi bahan utama dalam pembuatan obat. Pada dasarnya, bahan kimia merupakan bahan yang tidak berbahaya jika dalam pemakaiannya sesuai dengan anjuran dosis yang ditentukan. Karena, bahan kimia ini sudah melalui serangkaian uji tes, mengenai kandungan dan pemakaiannya. Obat dengan kandungan bahan kimia ini banyak sekali dikonsumsi masyarakat karena lebih cepat menyembuhkan, karena cara kerjanya pun lebih spesifik dibandingkan dengan obat tradisional. Namun, apabila obat yang mengandung bahan kimia ini tidak dikonsumsi sesuai dengan anjuran dosisnya, obat ini justru malah akan menjadi racun untuk tubuh kita.

Namun, banyak sekali oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab atas pembuatan obat tersebut. Karena ingin bersaing di dunia perdagangan, banyak sekali bahan kimia yang dicampurkan tidak sesuai dengan dosis dan akhirnya menjadi berbahaya. Hal ini juga didukung oleh kurang disiplinnya pengawasan oleh pihak BPOM sehingga banyak sekali bahan kimia berbahaya yang beredar dan hal ini juga dipengaruhi oleh faktor ketidaktahuan masyarakat.

Saat ini, obat herbal kurang eksistensinya di masyarakat karena mereka lebih memilih obat sintetik yang penyembuhannya cepat. Obat herbal di Indonesia sendiri banyak yang belum didukung oleh penelitian yang mendalam dan studi klinik yang lengkap. Agar obat herbal ini lebih disukai masyarakat, seharusnya obat herbal ini lebih dikembangkan, diteliti, dan diperdalam lagi oleh SDM yang berkualitas lalu dipromosikan kepada masyarakat dengan cara yang menarik sehingga masyarakat pun lebih merasa tertarik untuk mengonsumsi obat herbal.

Yunita Kartika Sari_1706026582_Smarandhahana 13

 

Ilustrasi via sbelen.files.wordpress.com

Answered Aug 1, 2017
Nalfi Prayogo
Life must go on,MABA Farmasi UI 2017

lMu4yiIfFgeKeODReSdS0vkwPUhH9a-t.jpg

Ditengah-tengah zaman digital ini, banyak sekali cara untuk mempromosikan barang dan itulah yang digunakan berbagai perusahaan. Salah satunya perusahaan yang bergerak dalam bidang farmasi, mereka terus mempromosikan barang mereka sehingga bisa dikatakan orang sudah hafal "iklannya".

Inilah sebab orang lebih memilih obat sintetik daripada tradisional, karena mereka terpengaruh terhadap iklan tersebut yang berpikiran bahwa sesuatu yang sudah masuk TV, itu merupakan produk yang manjur.

Mengapa masih banyak orang yang memproduksi dan memasarkan obat sintetik tersebut? Karena "demand" masyarakat yang tinggi dan meraih keuntungan dengan menggunakan demand masyarakat tersebut.

Segala yang alami itu baik, tetapi apa gunanya jika tidak menggunakannya? Itulah harusnya produsen obat tradisional harus bisa memasarkan produknya dengan baik agar masyarakat umum tidak terlalu dependent terhadap obat obatan sintetik.

Peran pemerintah juga sangat penting dalam hal ini, pemerintah bisa mengedukasi masyarakat dalam manfaat obat tradisional yang tidak kalah penting. Pemerintah bisa mengawasi beredarnya obat-obatan dan bisa meregulasi peredaran obat-obatan tersebut.

Sumber gambar: healthhyalt.com

Answered Aug 1, 2017
Salsabila Nursyifa Putri
Fakultas Farmasi UI 2017

aL8o0KR5lG6ha7AEEt7fN_hnd6ApqPsb.png

Menurut saya, alasan mengapa zat kimia berbahaya masih digunakan sebagai bahan obat di Indonesia, yaitu karena untuk mengolah obat herbal atau obat yang bahan bakunya berasal dari alam masih cukup sulit. Selain itu, obat herbal yang yang benar-benar murni berasal dari alam lebih cepat kedaluwarsanya dibandingkan obat sintetik, sehingga perlu dikeringkan agar lebih awet. Selain itu, menurut saya, zat kimia berbahaya masih digunakan sebagai bahan obat di Indonesia dikarenakan kurangnya pengawasan dari pemerintah. 

Cara untuk menjaga eksistensi obat herbal yaitu dengan memberikan sosialisasi kepada masyarakat sekitar tentang bahayanya zat kimia berbahaya yang terkandung dalam obat-obatan yang ada di Indonesia. Pemerintah setempat bisa memberikan sampel berupa obat herbal kepada masyarakat untuk mereka coba, sehingga masyarakat dapat merasakan manfaat yang mereka dapatkan dari obat herbal. Tidak hanya melakukan sosialisasi kepada masyarakat sekitar tentang bahayanya zat kimia yang terkandung dalam obat, pemerintah juga bisa menanganinya dengan membatasi impor obat sintesis dari luar yang mengandung zat kimia berbahaya serta lebih mengutamakan produksi obat herbal dari dalam negeri.

Salsabila Nursyifa Putri_1706024980_Smaradhahana-04

 

Ilustrasi via obatkolesterolku.com

Answered Aug 1, 2017
Firya Arnia Firdaus
Mahasiswi Fakultas Farmasi UI 2017

jBNoLhi_904Hs_aX7ECdhHSf1jDdNFH7.jpg

Memang harus diakui bahwa obat-obatan sintetik lebih banyak digunakan oleh masyarakat Indonesia dibanding dengan obat-obatan herbal. Berbagai merek obat sintetik yang mudah ditemui di berbagai apotek menjadi salah satu alasan mengapa masyarakat memilih untuk menggunakan obat sintetik. Selain itu, ada pula pengaruh rekomendasi teman yang memakai obat tersebut atau rekomendasi dokter. Promosi gencar-gencaran dan sudah menjadi salah satu merek ternama pun merupakan salah satu faktor. Selain itu, walaupun memiliki efek samping, reaksi obat kimia lebih cepat dibandingkan obat herbal juga menjadi alasan.

Namun, terdapat oknum-oknum yang ingin mendapat keuntungan lebih dan ingin bersaing dalam industri obat yang tidak memerhatikan hal tersebut. Memiliki niat dan realisasi yang kuat untuk menekan biaya produksi dan didukung dengan pengawasan pemerintah yang kurang, maka beredarlah obat-obat yang mengandung zat kimia berbahaya di Indonesia.

Masyarakat yang memiliki pengetahuan yang kurang mengenai zat kimia berbahaya serta manfaat obat herbal pun menjadi pemicunya. Rendahnya pengetahuan serta kurang maraknya penyuluhan pemerintah mengenai kelebihan obat herbal menjadikan obat herbal kalah eksistensi di Indonesia. Selain itu, diperlukan promosi agar masyarakat lebih mengenal manfaat dan keberadaan obat herbal yang sebenarnya lebih baik dibanding obat kimia. Melakukan penelitian tentang bahan-bahan herbal di alam yang dapat dijadikan obat pun perlu dikembangkan dan terus dilakukan inovasi-inovasi, sehingga obat herbal yang tidak memiliki efek samping dapat mudah ditemui, praktis, dan murah.

Firya Arnia Firdaus_1706023366_Kramawarata 11

 

Ilustrasi via penulis

Answered Aug 1, 2017
Meilinda Shania
Mahasiswa Fakultas Farmasi

JUSyjlefyz-mmz3llHYYro3ZUUzsEOg5.jpg

Menurut saya, zat kimia tertentu yang berbahaya memang masih sering digunakan, namun dalam dosis tertentu yang masih dalam batas aman bagi pengonsumsi obat, karena beberapa obat masih membutuhkannya. Misalnya saja dalam obat batuk masih dimasukkan narkoba dalam komposisinya namun dalam dosis tertentu, maka dari itu, tidak boleh disalahgunakan. Contoh lainnya adalah obat penghilang rasa nyeri seperti codeine, oxycodone, dan morfin. Obat-obat tersebut dapat digunakan dalam operasi sebagai penghilang rasa sakit. Obat kimia juga lebih cepat reaksinya dibandingkan obat herbal sehingga masih dibutuhkan dalam dunia medis di Indonesia.

Untuk menjaga eksistensi obat herbal diperlukan penerus. Dari zaman dahulu nenek moyang, kita sudah menggunakan obat herbal jauh sebelum obat-obatan sintetis ditemukan dan mereka juga terbukti dapat bertahan hidup dengan obat-obat tersebut. Ini berarti obat-obat herbal sangat berkhasiat. Masyarakat saat ini banyak yang menganggap obat sintetis lebih berpengaruh, sehingga mereka baru menggunakan obat herbal jika penyakit tidak dapat diatasi lagi dengan obat sintetis. Memang obat sintetis lebih cepat reaksinya, sedangkan obat herbal lebih lambat. Namun, obat herbal aman digunakan dalam jangka panjang, berbeda dengan obat sintetis yang akan berbahaya jika digunakan dalam jangka panjang. Oleh karena itu, diperlukan sosialisasi serta edukasi kepada masyarakat agar masyarakat dapat mengetahui manfaat obat-obatan herbal. Selain itu, dapat juga dimulai dari hal kecil seperti menanam apotek hidup di pekarangan rumah, sekolah, dan lingkungan sekitar. Dengan begitu, obat herbal dapat dijumpai dengan mudah dan menghemat pengeluaran.

 

Ilustrasi via i.ytimg.com

Answered Aug 1, 2017

Hasil gambar untuk zat kimia obat berbahaya

Menurut saya, zat kimia berbahaya lebih sering digunakan sebagai bahan obat-obatan di Indonesia disebabkan oleh kurangnya pengawasan dari lembaga pemerintah, sehingga banyak oknum-oknum nakal yang berjualan zat kimia berbahaya tersebut  dengan bebas. Selain itu, karena kurangnya pengetahuan akan efek samping yang akan ditimbulkan oleh masyarakat, mengakibatkan banyaknya masyarakat yang berpikir bahwa mengonsumsi obat-obatan kimia memiliki khasiat yang baik dan cepat bereaksi, sehingga menimbulkan banyak oknum nakal yang menggunakan bahan kimia yang berbahaya. Selain itu, di Indonesia, masih kurang tersedianya bahan-bahan untuk pengolahan obat-obatan herbal sehingga banyak profesi kesehatan menyarankan menggunakan obat-obatan kimia.

Beberapa cara untuk menjaga eksistensi obat herbal di tengah-tengah maraknya obat yang berbahan dasar zat kimia yang berbahaya, seperti mengadakan seminar-seminar tentang bahaya efek samping dari obat-obatan kimia, manfaat dari obat-obatan herbal dari segi keamanannya, kualitasnya, dan khasiatnya. Dan di dalam seminar tersebut diharapkan disertai dengan pengujian dan hasil penelitian yang mendukung sehingga masyarakat dapat mempercayainya. Selain itu, diperlukan juga adanya kerja sama dengan profesi kesehatan yang lain, seperti dokter untuk meresepkan obat-obatan yang berbahan herbal. Untuk itu, kita harus  meningkatkan kualitas obat herbal tersebut agar bisa disetarakan kualitasnya dengan obat-obatan berbahan kimia. Untuk menjaganya, juga kita memerlukan dukungan dari lembaga pemerintah untuk lebih mengutamakan penggunaan obat-obatan berbahan herbal dibandingkan dengan obat-obatan berbahan kimia, sehingga masyarakat pun dapat lebih mudah percaya karena sudah disetujui oleh lembaga pemerintah serta keberadaan lembaga atau badan yang khusus melakukan riset dan pengembangan tanaman biofarmaka sangat diperlukan untuk menciptakan banyaknya obat-obatan herbal yang berguna bagi kesehatan. Selain itu, kita juga perlu menanam tanaman herbal untuk obat-obatan agar dapat menjaga eksistensinya di masyarakat.

 

Ilustrasi via cdn1-a.production.liputan6.static6.com

Answered Aug 1, 2017

f59CuTP36CWIvMLO2Y3cu_Pfdiz_xLFu.jpg

 

Obat herbal dan obat sintetik menjadi dua hal bertolak belakang yang sudah tidak asing lagi kita dengar. Sebagaimana yang masyarakat awam ketahui, bahwa obat herbal adalah obat yang dibuat dari bahan-bahan alami, sedangkan obat sintetik adalah obat yang dibuat dari bahan kimia. Keberadaan dua jenis obat ini berhasil membuat pro dan kontra dalam masyarakat. Ada yang beranggapan bahwa obat herbal lebih baik dan ada pula yang memilih obat sintetik untuk dikonsumsi.

 

Obat herbal dan sintetik memiliki sisi positif dan negatif tersendiri, terkhusus jika ditinjau dari bahan-bahan yang digunakan dalam proses pembuatannya. Obat sintetik dibuat dari bahan kimia. Penggunaan bahan kimia pada obat sintetik tidaklah berbahaya apabila dosis yang diberikan masih di bawah anjuran dokter dan tidak digunakan dalam jangka panjang, dan juga dapat menimbulkan reaksi yang cepat dalam proses penyembuhan. Masyarakat tentu saja menginginkan reaksi yang cepat untuk meredakan rasa sakitnya, hal tersebut membuat obat sintetik menjadi favorit masyarakat. Namun, obat sintetik tidak dapat dikonsumsi secara bebas karena tidak semua orang cocok dengan bahan kimia yang terdapat pada obat tersebut. Dengan kata lain, obat sintetik memiliki efek samping bagi penggunanya. Beralih ke obat herbal, obat yang dibuat dari bahan-bahan alami.  Banyak penelitian yang mengungkapkan kalau obat herbal adalah obat yang baik dikonsumsi karena bahan yang digunakan dalam proses pembuatannya tidak memiliki efek samping bagi orang yang mengonsumsinya. Tak hanya itu, obat herbal juga ampuh menyembuhkan penyakit, namun reaksinya di tubuh sangat lambat. Hal tersebut yang membuat obat herbal jarang dipilih oleh masyarakat.

 

Masyarakat tidak menyadari betapa lebih baiknya mereka menggunakan obat herbal daripada obat sintetik, karena menginginkan hasil yang cepat dan tidak berpikir panjang akan efek yang akan datang nantinya. Penyuluhan obat herbal di kalangan masyarakat menjadi satu hal yang penting, pemerintah atau pun lembaga kesehatan masyarakat pun dibutuhkan untuk memperingati masyarakat untuk mengonsumsi obat-obatan herbal dan menanam tanaman herbal. Tak hanya itu, industri-industri pembuatan obat herbal perlu didukung oleh pemerintah demi mempertahankan eksistensi obat herbal yang tersingkirkan oleh obat sintetik.

 

Ilustrasi via cdn3.volusion.com

Answered Aug 1, 2017

W8RmnLoIG4lhg_6VKhyTV_M067ZqTv57.jpg

 

Maraknya penggunaan zat kimia berbahaya dalam pengobatan karena masyarakat awam tidak memahami efek samping bahan-bahan obat tersebut. Hal ini memudahkan para pelaku kejahatan yang ingin mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya untuk menipu masyarakat awam tersebut. Kurangnya kontrol dan pengawasan dari pemerintah juga merupakan salah satu pemicu maraknya penggunaan zat kimia berbahaya. Dari segi ekonomi, obat-obatan herbal mahal harganya dan terkadang sulit didapat. Untuk menyulingkan zat aktif yang terdapat dalam tanaman herbal membutuhkan waktu lebih lama dibanding menyintesis zat kimia yang sudah ada. Untuk mengidentifikasi tanaman herbal dan mendeteksi contaminan-nya juga sulit. Selain itu, obat herbal lebih cepat masa kedaluwarsanya. Jika masyarakat paham bahwa obat herbal bekerja holistik mungkin masyarakat akan memilih untuk menggunakan obat herbal. Tapi pada kenyataannya, karena jarangnya masyarakat untuk bertanya kepada seorang yang ahli, masyarakat lebih memilih obat kimia sintetik.

Demand dari masyarakat yang sangat tinggi memunculkan ide para peraup keuntungan untuk memakai zat kimia berbahaya dalam obat. Zat kimia berbahaya yang mempunyai ketahanan lama membuat masyarakat semakin suka menggunakan obat kimia sintetik. Jika sudah seperti ini, peran pemerintah untuk "mengiklankan" penggunaan obat herbal sangat dibutuhkan. Peran para tenaga kesehatan untuk menyosialisasikan keuntungan obat herbal juga bisa mendorong masyarakat untuk menyadari efek penggunaan obat kimia sintetik. Dengan begitu, masyarakat tidak salah dalam memilih pengobatan yang mereka butuhkan.

 

Septia Nurmala_1706034376_Jagaraga 3

 

Ilustrasi via blogspot.com

Answered Aug 2, 2017
Mutiara Naninda
Mahasiswa F. Farmasi UI 2017

uC9ALDAsbZGy-km69pWPNBabtS0FP9OM.jpg

Obat telah menjadi salah satu hal penting dalam kehidupan belakangan ini. Bahkan, bagi beberapa orang, obat menjadi salah satu kebutuhan primer yang harus dipenuhi. Dahulu, obat herbal yang terbuat dari bahan-bahan alami seperti jamu sangat diminati masyarakat dalam membantu penyembuhan penyakit. Namun, pada generasi ini, obat kimia yang terbuat dari zat kimia lebih digandrungi dibanding obat herbal karena menganggap obat kimia berefek lebih cepat dibanding obat herbal.

Penggunaan obat kimia sebenarnya sah-sah saja jika pemakaiannya tidak dalam jangka panjang atau pun dianjurkan dan di bawah pengawasan dokter. Namun, pemakaian obat kimia dalam jangka panjang dapat menyebabkan terakumulasinya zat-zat kimia dalam tubuh dan dapat menyebabkan efek samping di kemudian hari. Belakangan ini, tingginya minat masyarakat terhadap obat kimia dan keawaman masyarakat dimanfaatkan oleh industri dan oknum-oknum tak bertanggung jawab untuk membuat obat kimia yang mengandung bahan berbahaya. Hal ini juga tak lepas dari kontrol pemerintah yang masih rendah terhadap industri-industri tersebut. Untuk itu, masyarakat sekarang ini harus lebih cermat dalam memilih dan menggunakan obat kimia.

Penggunaan obat tradisional yang terbuat dari bahan alami tentunya lebih aman daripada obat kimia. Hal ini dikarenakan obat tradisional tidak menimbulkan efek samping di kemudian hari yang dapat membahayakan tubuh. Saat ini, BPOM bertanggung jawab dalam peredaran obat tradisional di masyarakat. Dan juga, pemerintah membentuk program TOGA (tanaman obat keluarga) yang mengarah pada selfcare untuk penanganan penyakit ringan yang dialami anggota keluarga. Saat ini, jamu juga masih diminati masyarakat dalam menjaga kesehatan tubuh.

Untuk itu, mari kita meminimalisasikan penggunaan obat kimia dan beralih pada obat tradisional dalam menjaga kesehatan tubuh kita.

 

Ilustrasi via blogspot.com

Answered Aug 2, 2017

aztn9GwM5SRSHolVinOtOdQzDHJLbHWJ.jpg

Zaman yang telah berubah pun telah mengubah kebiasaan kita semua. Kita sebagai manusia pasti haus akan inovasi, seperti contohnya obat sintetik. Pada zaman ini, kebanyakan orang di seluruh bagian dunia lebih cenderung memakai obat sintetik dibandingkan dengan obat herbal. Obat sintetik adalah obat yang terbuat dari bahan kimia yang berbahaya, sedangkan obat herbal terbuat dari bahan-bahan alami. 

Obat sintetik tersendiri memang memiliki hal yang positif, tetapi ia juga memiliki hal yang negatif juga. Dengan menggunakan obat sintetik, khasiat dari obat tersebut lebih cepat terasa dibandingkan dengan obat herbal tetapi jika obat sintetik ini dikonsumsikan secara terus-menerus dan melebihi dosis, ini akan berpengaruh buruk bagi kesehatan kita. 

Menurut saya, kita harus meningkatkan eksistensi obat herbal agar masyarakat Indonesia tidak selalu terpaku dengan obat sintetik yang memakai bahan kimia berbahaya. Pemerintah dapat mengadakan seminar-seminar di seluruh daerah Indonesia, tentang perbedaan antara obat sintetik dan obat herbal. Dengan melakukan seminar itu, masyarakat Indonesia akan mengetahui baik-buruknya obat tersebut. Selain dari itu, pemerintah Indonesia juga dapat melakukan pengecekan ke apotek-apotek di Indonesia, dan jika ketahuan bahwa ada apotek yang menjual obat sintetik yang memakai bahan kimia berbahaya diharapkan pemerintah dapat mencabut izin apotek tersebut. Yang terakhir, kita sebagai masyarakat Indonesia juga harus pintar dalam memilih apa yang ingin kita masuki dalam tubuh kita. Kita harus melakukan research di internet terlebih dahulu, agar kita dapat mengetahui apa dampak positif dan negatifnya. Perubahan yang kecil jika dilakukan secara bersama-sama maka akan menjadi perubahan yang besar. 

 

Ilustrasi via akumalu.com

Answered Aug 2, 2017

Question Overview


and 73 more
91 Followers
6411 Views
Last Asked 2 years ago

Related Questions


Kapan OKK Universitas Indonesia dilaksanakan?

Apa Tagline OKK UI 2017?

Apa itu Orientasi Kehidupan Kampus UI ?

Sayembara 1 - "Jikalau Anagata diberikan sejumlah uang sebanyak Rp5.000.000, akan digunakan untuk apa uang tersebut?"

Bagaimana hasil berguru pada pendahulumu?

Bagaimana rencana preventif terbaik kesehatan masyarakat untuk Indonesia yang bebas rokok pada 20 tahun ke depan beserta tantangannya?

Seberapa penting dunia keperawatan menurut Anda?

Sebagai mahasiswa baru vokasi UI, apa alasan Kamu memilih jurusan kamu sekarang?

Menurut kamu, bagaimana peran sastra untuk turut memajukan bangsa?

Bagaimana rasanya kuliah di UI?

Mengapa kuliah di Universitas Indonesia begitu menarik dan prestisius?

Bagaimana cara masuk UI (Universitas Indonesia)?

Mengapa Depok berantakan meski ada kampus UI di sana?

Apa pengalaman paling mengesankan selama kuliah di Fasilkom UI?

Apa fakultas terbaik di UI (Universitas Indonesia)?

Apakah Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) penting untuk memperoleh pekerjaan?

Apa kelebihan kuliah di Universitas Indonesia (UI)?

Siapa Whinda Y Sabri Psikolog Sosial UI Founder SANDS Analytics?

Siapa Ruby Saputra?

Benarkah herbal bisa lebih cepat menyembuhkan kanker dibanding obat kimia?

Bagaimana cara terbaik menangani kanker?

Mengapa obat bermerek bisa mahal sekali dengan obat generik padahal bahannya sama persis?

Apa obat yang ampuh untuk mengobati penyakit stroke menurut ilmu agama Islam?

Seperti apakah efek samping steroid bagi tubuh?

Apakah obat paling aneh yang pernah Anda makan/ minum? Mengapa?

Benarkah ganja bisa menjadi obat herbal yang ampuh mengobati berbagai penyakit?

Apa obat-obatan yang wajib Anda bawa saat melakukan perjalanan?

Apa cara ampuh yang dapat dilakukan pengidap penyakit vertigo ketika sedang kambuh?

Apa khasiat yang dimiliki dari madu?

Apa yang terjadi apabila seseorang terlalu banyak mencium aroma parfum?

Apakah memakai parfum memiliki dampak buruk terhadap kesehatan?

Bahan kimia apa yang paling banyak digunakan dalam parfum?

Mengapa kita disarankan untuk tidak langsung tidur setelah makan?

Apa yang harus dilakukan untuk menjaga kestabilan berat badan?

Jika mengalami gejala sulit tidur, apa yang Anda lakukan?

Apakah minum susu dan makan apel sebelum tidur itu baik untuk kesehatan?

Apakah mengkonsumsi makanan dengan gizi seimbang lebih baik dengan memakan makanan 4 sehat 5 sempurna?

Apa dampak terlalu banyak duduk ketika bekerja bagi kesehatan?

Berapa lama batas maksimal seseorang berolahraga dalam satu hari?

Mengapa resep dokter sulit dibaca?

Apa faktor-faktor yang menyebabkan seseorang terkena disleksia?

Bagaimana cara agar bisa tetap sehat dan bersemangat meski tidur 4 jam sehari?

Bagaimana cara paling mudah untuk melatih memori bayi?

Apa itu megalomania dan bagaimana cara mendeteksinya?

Apa beda psikiater dan psikolog?

Gejala penyakit apa yang kian mewabah di Indonesia? Mengapa?

Bagaimana prosedur pertolongan pertama ketika kita terkena air keras?